Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku chapter 30 Bahasa indonesia

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku chapter 30 Bahasa indonesia

 Novel The Legendary Rebuilding of a World by a Realist Demon King chapter 30 part 1 Bahasa indonesia


Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku chapter 25.2 Bahasa indonesia


Kematian Sahabat yang setia


============================================================


Kami membiarkan pasukan Dwarf  melarikan diri sementara kami bertiga menahan musuh.

Aku tidak tahu apakah keberuntungan akan bersama kita atau tidak.



Namun, Sharltar tidak berniat membiarkan para Dwarf pergi, dan ia segera mengirim lebih banyak pasukannya untuk membanjiri daerah itu.


Pada titik ini, kami hanya perlu menyalakan bahan peledak, tetapi itu tidak akan mudah.



Musuh kami dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang kuharapkan, dan menyalakan bahan peledak yang dibagi menjadi dua tempat yang terpisah pada saat yang sama akan menjadi sulit.


Aku yakin bahwa kita harus melakukan sesuatu tentang jumlah zombie di sini terlebih dahulu.



"Aku tidak pernah berharap ada begitu banyak seperti ini."


Gerutuku.


“Dia pasti membawa orang-orang dari desa tetangga dan bahkan pelancong juga. Karena, tidak semua dari zombie ini yang berasal dari rakyatku. ”



Gottlieb berspekulasi.



“Tentunya tidak. Jika begitu dia akan dibenci oleh manusia. Apa yang akan dipikirkan oleh negara tetangga? "



Kata Jeanne dengan terkejut.



“Namun, kamu bisa melihatnya sendiri. Ada zombie manusia. "



Memang, ada zombie manusia. Mereka berjalan ke arah kami dengan mata kosong dan menyerang.



Aku menghindari satu dari mereka dan kemudian mendorongkan tinjuku yang sudah ditingkatkan dengan sihir ke wajahnya. Lalu kepalanya melayang.



“Yah, aku tidak terlalu peduli apa yang mungkin dia pikirkan. Mungkin kita bisa memberi tahu manusia tentang hal ini dan mendorong mereka untuk mengirim pasukan untuk melawannya. Namun, rencana tersebut membutuhkan lebih banyak waktu. Kita harus melarikan diri dari sini hidup-hidup. "



"Aku setuju!"



Saint dengan rambut emasn berkata sambil mengayunkan pedangnya.

Dengan setiap ayunan, lima zombie akan jatuh.



"Aku mengerti!"



Kata Dwarf tua dengan kacamata. Battleaxe-nya akan mengubah iblis kecil menjadi daging cincang.



Keduanya sangat bisa diandalkan.

Aku memiliki niat untuk mengikuti mereka, dan mulai mengucapkan mantra. Namun, sesuatu menghentikan ku.

Sebuah sihir terbang ke arahku dari jauh.

Itu adalah massa energi.

Sihir ini adalah sejenis bolt energi yang disebut magic arrow.

Panah itu tebal dan tajam.

Seketika aku mengetahui bahwa orang yang melakukan ini bukanlah Penyihir biasa.

Jumlah sihir, niat untuk membunuh, dan semuanya melewati batas kewajaran.


Aku hampir tidak terkejut ketika aku melihat siapa orang itu.

Itu dia.

Iblis yang menyerang tanah air Dwarf dan mengubahnya menjadi subyek percobaannya.

Dia telah melangkah ke garis depan.

Sekarang, tidak ada alasan untuk menunggu untuk menyalakan bom.

Setelah aku memikirkan ini, aku memotong zombie di depanku dan memberi isyarat kepada Jeanne.



Lalu aku mengirim pesan telepati ke Gottlieb saat dia menghancurkan iblis sampai mati.



'... Kalian berdua bisa mundur.'



Mereka berdua tampak terkejut akan hal ini.



Itu sudah menjadi bagian dari rencana selama ini, tetapi kami belum memperkirakan bahwa akan ada banyak monster ini.



Maka Saint Jeanne tidak menghentikan pembantaiannya terhadap zombie. Tampaknya dia memutuskan untuk tetap tinggal sampai akhir.

Dia tidak akan meninggalkanku di sini sendirian.

Tentu saja itu baik, tetapi aku masih harus meminta Gottlieb untuk mengurus masalah ini.



'Gottlieb. Tolong lemparkan gadis itu ke terowongan pelarian. '



"Dimengerti."



Gottlieb mengambil kerah kerah baju Jeanne dan melemparkannya ke terowongan.

Kemudian dia menggunakan kapaknya sendiri untuk memotong tali yang berada di atas pintu masuk terowongan.

Batu yang di atasnya pun jatuh, dan terowongan itu tertutup.

Aku bisa mendengar suara Jeanne dari sisi lain batu-batu itu.



"Maou. Ini tidak adil. Aku akan bertarung denganmu sampai akhir. Tuhan tidak akan memaafkanku jika sesuatu terjadi padamu. "



Dia berteriak, tapi suaranya kecil.

Itu bukti betapa tebalnya dinding batu-batu itu. Dan itu menyusahkan karena satu alasan.



“Ketua Gottlieb. Kamu telah menutup pintu masuk. Lalu bagaimana caramu melarikan diri sekarang? "



// Part 2 >//



Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter