Monster no Goshujin-sama chapter 6 bahasa indonesia

Monster no Goshujin-sama chapter 6 bahasa indonesia

NOVEL MONSTER TAMER CHAPTER 6 BAHASA INDONESIA



Hubungan di malam yang sunyi





Malam begitu sunyi di sekitar pondok.
  
                    
Hanya ada satu tempat tidur kecil di dalam pondok.
  

Sekarang, ada seorang siswi yang sedang tidur di atasnya, yang namanya tidak aku ketahui.
  
                    
Tidak ada tanda bahwa dia akan segera terbangun, setelah pingsan dari trauma fisik dan mental yang hebat.
  
Dengan demikian, aku berada di dalam. Tidur di sofa pada tubuh Lily yang diubah.
  
Ngomong-ngomong, Rose tidak ada di dalam pondok karena aku telah memintanya untuk berjaga di luar.
                      
Malam ini begitu tenang.
  

Aku dengan tatapan kosong memandang ke sekitar pondok saat tenggelam dalam kegelapan. Aku bingung dengan kejadian baru-baru ini, dan aku tidak berpikir tentang sesuatu yang khusus.
  
Setelah beberapa waktu berlalu....
  
"Tidak bisa tidur?"
                      
Sebuah pertanyaan datang dari belakang.
                      
Merasakan perasaan perbuhan pada sandaran, Lily menggerakan tubuhnya. Tubuh slime-nya seperti gel yang berisi dengan tekstrur karet.
  
Dia mengkonversi zat keras ke sesuatu yang lembut.
                      
Tidak ada pertanyaan tentang hal itu; itu secara pasti adalah tubuh seorang gadis.
  
".... Itu hebat!"
                    
Tubuh slime Lily berada di bawahku, menjagaku agar tetap nyaman dari dingin, lantai keras, namun dia telah memeluk dada dan leherku dengan tangannya yang halus. Artinya, dia telah bermetamorfosis hanya pada bagian dari tubuhnya saja.

Sementara aku pikir itu sangat hebat, aku juga ingin tahu kenapa dia melakukan hal-hal yang merepotkan seperti ini.
                      
Dengan ekspresi yang tak baik di wajahku, aku memutar sedikit memutar leherku, pipiku menyentuh pipi Mizushima Miho—wajah manusia yang Lily tiru.
  
Kemampuannya untuk meniru Miho tampak begitu asli, bahkan rasa sentuh dari rambut pirangnya yang halus juga sama.
                      
Kesenangan dan kegembiraan berlari dengan liar dalam diriku.
                      
Serta beberapa pikiran buruk.
                      
Sentuhannya begitu nyaman.
                      
Ini adalah pertama kalinya aku mengalami situasi ini, setelah tiga hari terakhir diisi dengan kesepian dan keputusasaan, yang tak tertandingi untuk sisa hidupku.
                      
Bahkan dari tubuh seorang slime. Aku merasa aman dan nyaman. Kemudian, mengubah tubuh ke seorang gadis, itu bukan sesuatu yang bisa aku tahan.
                      
Aku tidak bermaksud berpikiran kotor.
                      
Aku pikir aku hanya ingin memeluknya.
                      
Mungkin, aku sedang dalam keadaan yang sulit sekarang. Itu semua berawal ketika aku membunuh orang malam itu. Kestabilan hidupku yang beradab sangat terguncang. Itu diperlukan ketika putus asa untuk melupakan beberapa hal.
                      
Dalam waktu sebulan, semuanya telah berubah, dan sekarang aku sedang mencoba untuk mengambil kendali dari sikap asliku yang seperti anak nakal....
  
                    
Dalam keinginan untuk melindungi beberapa jalan hidupku, aku berpikir untuk menjauhkannya.
  

"Hentikan!"
                      
Daripada pemikiranku, aku malah mengizinkan perasaanku untuk mengambil kendali.
                      
Mayat Mizushima Miho sekarang menjadi bagian dari Lily.
                      
Lily mampu meniru penampilan Miho, penampilan seorang gadis yang diperkosa dan dibunuh.

Aku tidak ingin menodai tubuhnya. Aku tidak akan melakukannya.
  
"Kenapa?"

Perasaan di bagian belakangku hilang dan bagian tubuhku turun kembali.
  
Namun, Lily menangkapku dengan tubuh slime-nya.
  
"Master......"
  

Di antara kakiku, aku bisa melihat tubuh bagian atas Miho yang telanjang. Lily kemudin menggerakan bentuk manusianya dan merangkak ke atas lututku, melewati tanganku, dan dadaku. Di depan mataku dua buah gundukan yang besar bergoyang.
  
Tidak ada yang bisa menyalahkanku untuk apa yang mungkin aku lakukan karena aku tidak memulai apa-apa.... mungkin. Tidak, itu salah, apa yang mungkin sedang aku lakukan adalah keinginan yang disebabkan oleh naluri. Begitu bodohnya.
  
"Saya ingin menyembuhkan anda master. Ne, master"
  
"Aku bilang, hentikan!"
  
Bertentangan dengan kenikmatan yang dialami tubuhku, hatiku penuh dengan ketidaknyamanan dan kegelisahan.
  
"Aku tidak akan menodai tubuh itu"
  
Awalnya, aku bahkan seharusnya tidak melihat pada tubuhnya yang telanjang. Itulah yang aku pikir.
  
 "Hentikan!"
  
Aku mengatakan kata-kata terakhir yang dicampur dengan suara memerintah. Sekarang, akankah Lily mematuhinya dan menarik diri dari perintahku.
  
Setidaknya dia seharusnya menurut.
  
Nafas dari monster terasa samar-samar..... dari seorang gadis di telingaku, dan itu menggairahkanku.
  
"Master yang malang. Apakah anda menyalahkan diri sendiri?"
  
Wajahku diselimuti sentuhan yang lembut. Lily telah meletakkan dadanya pada kepalaku.
  
"Saya, saya ingin membantu anda master. Saya paham bahwa master telah terluka. Untuk anak ini.... bagi saya, anda telah terluka"
  
"...Lily?"
  
Ada sesuatu yang aneh. Saat aku memikirkan ini. Lily melanjutkannya.
  
 "Saya ingin mendedikasikan diri saya untuk 'orang' ini yang anda percayai. Ini adalah keinginan yang rendah hati dari 'tubuh' ini. Jika itu akan membantu 'orang' yang penting bagi anda, maka dengan senang hati saya akan membantu. Master, hal yang paling penting untuk 'saya' sekarang, adalah anda. Maksud saya, karena saya adalah keluarga anda"
  
Lily yang tersipu mengatakan kata-kata itu dengan cara yang hampir membingungkan.
  
Ini akan memaksa mataku terbuka.

".... Ahh"
  
Lily menatapku dengan penuh cinta saat ia menahanku pada dadanya.
  
Di depanku adalah Lily. Tidak, Mizushima Miho. Tapi, penyesalan dia, keinginan terakhirnya untuk dipeluk, itu pasti adalah Lily, perasaan ini hanya diketahui olehku melalui hubungan kami yang dibuat oleh kemampuanku.

Kenapa?
  
Emosi yang telah mati seharusnya tidak mempengaruhi Lily.
  
Lily hanya mengambil ingatan untuk direkam. Untuk mempengaruhinya, Lily harus menyaringnya.
  
Luapan itu......
  
.... Sial, jadi seperti itu.
  
Tidak ada hubungannya tentang hal itu sekarang.
  
Itu terjadi karena salahku.









  
Dia menyatakan ini dengan cinta yang tergesa-gesa, seperti gadis yang penuh gairah.
  

            "..."
  

Aku ingin tahu apa yang harus aku lakukan.
  
Aku bertanggung jawab atas hasil akhir dari Mizushima Miho. Lily adalah keluargaku, dia adalah bagian dari tanggung jawabku juga.
  
Aku harus memeluknya. Namun, itu akan keluar dari rasa tanggung jawab, ketimbang dari apapun yang lainnya.
  
.... ini berbeda.
  
Aku melihat ke belakang, ke matanya.
  

 "Master..."
  

Bulu mati gadis itu gemetar dalam kesedihan, cemas menunggu jawabanku.
  
Saat aku melihatnya, dia telah berubah bentuk menjadi Miho tapi hanya setengah tubuh saja dari kepala sampai perut dan di bagian bawahnya masih dalam bentuk slime. Bahkan dalam situasi yang gila ini, tubuhnya terlihat begitu indah, anggota tubuhnya yang feminim terlihat menggairahkan.... dia benar-benar perempuan.
  
Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan. Terlepas dari orang lain, ini adalah apa yang aku rasakan untuk menjadi kenyataan.
  


"..."
  

Mungkin ini adalah keputusan yang salah. Mungkin bahkan ini adalah tindakan yang tak pantas. Mungkin, situasi ini tidak normal karena adanya monster.
  
Bahkan dengan pertimbangan ini, sesuatu perlu dilakukan. Aku harus menghadapinya. Perasaan ini harus dikibarkan.
  
Aku akan melakukan apa yang diinginkan hatiku.
  
".... Aku akan menyayangimu"
  
Aku mengakhiri sumpahku pada bibirnya saat aku menciumnya.
  
***
  
Setelah semua itu, dengan wajahnya dihadapanku, aku sangat senang.
  
Tentu saja, Lily menungguku bangun dengan senyuman yang lembut di wajahnya. Sekarang, saat aku menatapnya, aku tidak lagi mengenalinya sebagai Mizushima Miho, tapi sebagai Lily.
  
Aku merasa penyesalan terakhir Miho memudar dari Lily, dan meski menyedihkan, dia sekarang terus maju.
  

Orang yang ada di hadapanku adalah Lily. Itulah yang telah aku putuskan.
  
"Selamat pagi, Lily"
  
Tidak berpura-pura kejadian semalam tidak terjadi, jadi aku memeluk dan menciumnya.
  
Seperti biasa, tubuh utamanya adalah slime, yang juga tempat tidurku, dan pada saat yang sama, dari luar tubuh utama dia 'tumbuh' menjadi bentuk humanoid. Situasi aneh ini akan menjadi kebiasaan baru.
  

"Selamat pagi, master"
  

 "Selamat pagi.... Rose juga, selamat pagi"
  

Aku menyapanya dengan canggung, Rose telah kembali ke pondok tanpa aku sadari, dan membungkuk ke arahku dengan wajah tanpa ekspresi.
  
Saat ini aku telanjang, merangkul Lily yang telanjang. Rupanya, saat kami berciuman tadi, kami tidak menyadari kehadiran Rose. Dia tetap dalam posisi membungkuk.
  
.... Ini sangat canggung. Aku merasa seperti anak laki-laki yang telah mengalami berbagi tempat tidur dengan ibunya. Anakku sekarang sudah lemah; sayang sekali.
  
Sayang sekali aku tidak sempat mendapat pelayanan pagi.
  
Setelah aku mengusap tubuhku dengan kain basah, aku berpakaian dan keluar dari pondok. Aku membiarkan pintu terbuka untuk membuat udara masuk. Akan memalukan jika orang mencium bau dari sex.
  
Setelah semua yang dikatakan selesai, perasaan Lily mendekap di dada dan masih terasa di lenganku; lembut, perasaan lembut dari Lily masih tetap terasa.
  
Secara kebetulan, kemarin, dia mengenakan seragam sekolah, dan sekarang dia memakai jersey. Sepertinya pakaian yang dipakai siswa laki-laki yang mati kemarin telah digunakan kembali. Meskipun ada keraguan karena sumber pakaian tersebut, setelah dicuci secara menyeluruh, seharusnya tidak ada masalah yang berkaitan dengan kesehatan.
  
Yang tersisa adalah perasaan yang tidak menyenangkan. Bagaimanapun juga, kita sangat membutuhkan pakaian cadangan, sampai kita bisa mendapatkan sumbernya.
  
Kami kembali ke pondok setelah keluar sebentar. Gadis di tempat tidur masih belum terbangun.
  
Kalau begitu, aku harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku harus menyiapkan barang untuk Rose. Peralatan di dalam pondok bisa dicopoti menjadi kayu untuk mempersiapkan perlengkapan.
  
Tujuan utama kami belum berubah. Sambil tetap bersembunyi, aku perlu menjadi lebih kuat. Aku perlu meningkatkan jumlah monster dalam keluargaku, dan dengan melakukan ini, keselamatanku akan meningkat. Apalagi, karena sebagian besar kekuatanku berasal dari kekuatan keluargaku, menaklukan monster harus menjadi prioritas utama.
  
Masalahnya, adalah bahwa aku telah mengambil seorang gadis yang perlu dilindungi.
  
Berpikir tentang kemampuanku, menjinakan monster, perlu bagiku untuk berhadapan dengan monster untuk bisa menggunakan kemampuanku. Sampai sekarang, Rose dan Lily sudah menjelajah sementara aku sedang tinggal di belakang. Jika ini berlanjut, aku tidak bisa menambah keluargaku.
  
Dalam tujuan untuk meningkatkan keluargaku, aku harus berani untuk keluar.
  
Tapi, ada juga seorang gadis di pondok ini. Dia akan membutuhkan seseorang untuk menjaganya.
  
Kekuatanku terletak pada Lily dan Rose, tanpa mereka aku lemah. Jika kita terpisah, kekuatan kita akan melemah. Aku bisa meninggalkan Rose di sini dan pergi dengan Lily, tapi itu akan berbahaya.
  
Ada juga pilihan untuk meninggalkannya, tapi aku tidak bisa melakukannya. Situasi saat ini mengingatkanku pada diriku yang lemah.
  
Aku pernah membutuhkan bantuan, jadi untuk meninggalkannya itu terlalu kejam. Jika aku meninggalkannya, aku akan menjadi seperti orang-orang yang meninggalkanku, dan seperti anak laki-laki hina yang telah menyerangnya.
  
Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak akan bisa hidup sendirian.
  
Jika bisa, aku harus berpisah dengannya nanti, tapi untuk saat ini.....
  
Gadis itu bergerak saat aku sedang memikirkan situasi kita.
  
Dia perlahan bangun, saat aku melihat, dia perlahan menjadi sadar.
  

"Kau sudah bangun"
  
Aku duduk agak jauh di atas sebuah batang kayu yang telah dibuat kembali sebagai kursi.
  
Siswa perempuan yang masih muda itu kecil. Dia kemungkinan lebih muda dariku, mungkin dia anak kelas satu. Kucir yang tergantung di bahunya membuatnya tampak lebih muda. Bahkan dibandingkan dengan perempuan lain yang seusianya, dia terlihat lebih muda dan cantik.
  

Namun, saat otaknya mulai bekerja, dia ingat, dan ekspresinya menjadi gelap. Itu, tentu saja, seperti yang diharapkan.
  
"Siapa...... seseorang yang telah menyelamatkanku, apakah itu kau?"
  
Dia lebih tenang dari perkiraanku. Mengingat ingatan yang buruk pada ingatannya, kupikir dia akan terbangun sambil berteriak dan panik begitu melihat wajahku. Pertanyaannya yang tenang terlihat seperti agak anti klimaks.
  
Setelah aku memperkenalkan diri, dia memperkenalkan dirinya sebagai 'Kato Mana,' dan seperti yang diharapkan, dia adalah siswi kelas satu, satu tingkat di bawahku.
  
Setelah perkenalan, dia menundukkan kepalanya dan membungkuk padaku.
  
"Itu..... terima kasih, karena telah menolongku"
  
"Jangan terlalu dipikirkan"
  
Sebenarnya, dalam arti tertentu, aku bahkan tidak bermaksud untuk menolongnya.
  
Awalnya, aku hanya ingin membalaskan dendam Mizushima Miho dengan membunuh murid-murid yang memperkosa dan membunuhnya, dan tidak tahu bahwa Kato Mana berada di tempat ini.
  

Berkata begitu, aku  benar-benar tidak bermaksud untuk menolongnya, dia hanya bertahan hidup melalui apa yang terjadi. Dia beruntung—meski aku ragu untuk mengatakan hal semacam itu untuk mempertimbangkan perasaannya.
  
"Syukurlah Kato-san selamat"
  
"Ya, terima kasih"
  
Dia membungkuk kepadaku.
  
"Jika kau mau, ada beberapa air di sini yang bisa kau gunakan untuk membersihkan tubuhmu. Aku akan pergi keluar sebentar"
  
 "Apa maksudmu, kau mau pergi kemana?"
  
Kato-san bertanya dengan cemas.
  
"Jangan khawatir, aku punya kekuatan untuk menjinakan monster. Jika kau bisa melihat Rose dan Lily yang ada di sana, kau akan mengerti apa yang aku maksud. Sebenarnya...."
  
Untuk itu, aku menjelaskan keadaan saat ini. Bahwa aku akan membantunya, tapi aku juga perlu mengumpulkan kekuatan, dan untuk itu, aku harus pergi keluar dan menjelajahi hutan. Aku juga mengatakan kepadanya bahwa aku akan meminta Rose untuk menjaganya, untuk sementara.
  
Aku tidak menyebutkan bahwa Lily adalah monster, karena dia masih dalam bentuk humanoidnya. Aku tidak yakin bagaimana dia akan menanggapinya.
  
Sementara aku melindungi Kato-san, aku tidak terlalu percaya pada orang lain. Aku tidak berniat untuk sepenuhnya berbohong kepadanya sepanjang waktu, karena ada kemungkinan dia benar-benr mengenal Mizushima Miho saat dia masih hidup.
  
Lily menempel erat padaku, dan dia juga memanggilku 'master.' Aku pikir Kato-san mungkin akan bertanya tentang itu, tapi bukan itu masalahnya, dan dia tetap diam.
  
Ada hal lain yang mengganggunya.
  
"Dengan kata lain..... aku hanya sebagai barang tambahan"
  
"Kedengarannya buruk, bukan seperti itu. Aku ingin hidup dengan damai, tapi aku juga tidak ingin kau tersakiti. Oleh karena itu, aku akan membawamu ke tempat yang aman"
  
Bagiku, inilah yang paling bisa aku lakukan. Bahkan aku tidak memiliki banyak ruang untuk kesalahan. Sebaiknya tujuan ini diberitahukan terlebih dahulu. Tidak ada gunanya untunk menenangkan masa lalunya.
  
Namun, Kato-san menggelengkan kepalanya.
  
"Aku senang kau merasa seperti itu, tapi.... ada hal lain yang ingin aku tanyakan kepadamu"
              
"Tanyakan?"
  
"Aku ingin kau..... membawaku bersamamu ke hutan"
  
Aku menatap Kato-san dengan heran.
              
"Apakah itu, tidak mungkin?"
  
"..."
  
Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Sambil melirik ke arahnya, aku mencoba menilai keadaan mentalnya.
  
Apa yang sebenarnya dia pikirkan.
  
Permintaan yang tidak biasa, adalah apa yang aku pikirkan tentang pertanyaannya yang tiba-tiba.
  
Tidak memiliki tenaga untuk mencoba sesuatu akan lebih buruk dari ini, yang mana itu hanyalah ide yang buruk.

..... yah, aku seharusnya tidak terlalu memikirkannya.
  
Selain itu, tawaran ini cocok untukku, karena aku tidak ingin membagi keluargaku dan membuat Rose terpisah dariku untuk menjaganya.
  
"Tolong untuk mempertimbangkannya"
  
Kato-san membungkukkan kepalanya ke arahku.
  
Tidak ada alasan untuk menolaknya, 'kan?
  
"Aku mengerti, tapi jangan terlalu memaksakan diri"
  
"Terima kasih banyak!"
  
Aku berakhir dengan menuruti keinginannya.
  
Kato-san menurunkan kepalanya sekali lagi kepadaku, dan saat dia perlahan mengangkat kepalanya, dia sepertinya sedikit tersenyum.
  

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter