A History of the Lioncourt War chapter 2 part 1 bahasa indonesia

A History of the Lioncourt War chapter 2 part 1 bahasa indonesia

Tanaka Tadashi(41) Kenkokuki 'Chuuse yoroppa-fu nante kitsu sugiru!' chapter 2 part 1




Selamat tinggal, Tanaka

==========================================




Beberapa hari berlalu.



Aku telah menyadarinya dalam berbagai hal, sejak awal. Ini bukan Jepang. ini mungkin bahkan bukan periode waktu yang sama.

Aku hampir tidak percaya bahwa perjalanan waktu ini terjadi, tetapi aku tidak punya banyak pilihan ketika kebenaran ada di depan ku terjadi.



Tidak masalah jika ini adalah pedesaan, Tapi tidak masuk akal bahwa tidak ada satu pun perangkat elektronik di sini.

Dan bahkan jika ini adalah semacam komunitas aneh yang dengan sengaja hidup dengan alam dan jauh dari peradaban, Kamu akan berpikir bahwa mereka tidak memikirkan kebutuhan hidup. Tetapi mereka tidak melakukannya.



Dan para raksasa.



Ternyata itu justru sebaliknya.

Hanya aku yang sangat kecil.



Aku saat ini dalam bentuk seorang anak.



... Bisakah kamu mempercayainya? Aku tidak bisa.

Aku berada di tubuh seorang anak asing ... mungkin tujuh atau delapan?



Rambut dan warna mata ku hitam, ini membuat ku tidak terlalu kaget, tetapi wajah ku masih terlihat sangat barat.

Dan aku rupanya dipanggil Balian.



Dan aku pikir pria dan wanita itu adalah orang tua ku ... yah, aku tidak bisa mendapatkan konfirmasi karena bahasa, jadi kalian harus memaafkan ku jika aku salah.



Tetapi setelah itu, mereka mengira bahwa aku telah kehilangan ingatan, dan aku diperlakukan seolah-olah aku sakit.



Seorang dokter datang dan menyuruh ku minum obat, dan sekali itu terbukti tidak efektif, kami mengunjungi sebuah gereja dan menerima doa serta ritual pemurnian dan apa yang mereka bisa.

Pendeta atau apa pun lelaki tua itu, menyiramkan air ke tubuhku dan menaburkan semacam dupa, tetapi tidak ada yang berhasil.



Untuk sesaat, aku berpikir bahwa mereka akan mencoba mengusir setan dari ku, tetapi itu tidak akan terjadi.



Tapi sungguh, apa ini?



Aku pikir itu mungkin transmigrasi, tetapi apakah itu benar-benar dimulai di tengah masa kanak-kanak?

Dan jika aku bisa bereinkarnasi menjadi orang di masa lalu, apa yang terjadi pada Balian yang ada di masa ini sekarang?



Aku tidak merasa ingin melakukan apa pun selama beberapa hari terakhir, dan aku hanya berguling-guling di tempat tidur ku yang bau.



Berapa lama keadaan ini akan berlanjut?

Mungkin Balian yang asli akan terbangun suatu hari, dan aku akan pergi.



Memikirkannya seperti itu, aku memiliki sedikit kemauan untuk melakukan apa pun.

Tadashi Tanaka sudah mati.

Apa hak ku untuk ikut campur dengan kehidupan orang lain ...



Ketika ibu Balian menatapku dengan cemas, aku mengingat kata-kata yang pernah dikatakan kakekku kepadaku.





'Kamu tidak harus mengejar masa lalu, masa depan tidak akan menunggu. Hiduplah dengan kuat dan di masa sekarang. '



Jika aku ingat dengan benar, itu adalah kata-kata Buddha.

Ketika aku dibesarkan di sebuah kuil, aku mendengar banyak kata seperti itu sebagai seorang anak.



... Hidup di masa sekarang, ya? Itu adalah kata-kata bijak ...



Dipenjara oleh apa yang sudah lama berlalu atau masa depan yang belum terjadi ... itu benar-benar tidak ada gunanya.


Sekarang setelah kupikir-pikir, aku mungkin telah berubah menjadi kegagalan tanpa harapan dan akan tetap seperti itu, hanya berguling-guling di tempat tidur, bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.



Aku berterima kasih kepada kakek ku.



... Kakek, terima kasih ... Maaf karena telah begitu keras untuk tidak ingin mewarisi kuil.



Aku meminta maaf kepadanya di hati ku, dan perlahan-lahan menyatukan tangan ku.



Aku sudah mati. Tetapi untuk sekarang, aku akan melakukan apa yang ku bisa ... Butuh waktu empat hari untuk mencapai kesimpulan itu, tapi aku yakin itu bisa diabaikan.



Tetap saja, aku tidak berpikir itu adalah waktu yang terbuang.

Waktu itu penting bagi ku untuk menerima kenyataan yang ada di depan ku.



Aku bukan Tanaka, aku Balian, dan ini tanah tempat ku akan tinggal.



...



Bagaimanapun, penting bagi ku untuk memahami situasi ku sebelum melakukan sesuatu.

Ketika aku mulai memeriksa sekeliling ku sekali lagi, aku menyadari betapa tidak nyamannya tempat tinggal ini.



Kami memiliki sup encer, menjijikkan dan roti hitam dua kali sehari untuk makan ... Yah, itu mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa aku dianggap sakit, tetapi tampaknya makanannya agak buruk di sini.



Adapun toilet, kamu hanya memasukkannya ke dalam pot tanah tanpa glasir.

{Glasir = Keramik kaca}

Sanitasi yang suram. Mereka membersihkan diri dengan air, tetapi tidak ada bak mandi.

{Sanitasi = pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya}


Tentu saja, tidak ada yang mencuci tangan atau menggosok gigi.



Tidak ada gas di dapur, jadi mereka memasak dengan kayu bakar.

Aku memang melihat panci besi, jadi kami setidaknya di zaman besi.

Tetap saja, tidak ada cerobong asap di dapur, dan tempat itu sering penuh dengan asap.



Kota itu dipenuhi dengan rumah-rumah sederhana yang dibangun dengan batu, dengan beberapa memiliki atap jerami, dan sebagian besar adalah rumah berlantai satu. Rumah Balian adalah rumah bertingkat satu juga.



Orang-orang yang berjalan di jalanan mengenakan wol atau kapas.

Aku pernah melihat orang membawa pedang dan busur, tetapi tidak ada senjata api.

Ada juga tipe bangsawan yang mengendarai kuda.



Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter