Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku chapter 9.2 Bahasa indonesia

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku chapter 9.2 Bahasa indonesia

 Novel The Legendary Rebuilding of a World by a Realist Demon King chapter  9.2 Bahasa indonesia




Secangkir Teh Setelah Pertempuran


============================================================


Aku meminta saran padanya.



“Itu rencana yang bagus. Tetapi kita tidak memiliki cukup bahan untuk membangun tembok dengan batu yang bagus. ”



"Kurasa tidak. Kita hanya perlu menggali. "



"Ya. Anda dapat mensummon skeleton engineers dan meminta mereka menggali. "



"Aku akan melakukan itu."



Jadi aku melemparkan beberapa tulang dan beliung ke dalam botol Klein dan summon, skeleton engineers.

Beliung



Para pekerja tanpa ekspresi mengambil beliung dan sekop mereka lalu mulai menggali parit di sekitar kastil Ashtaroth.



Orc yang ada juga akan membantu mereka.



Para Orc kelihatannya tidak antusias dengan hal ini pada awalnya, tetapi mereka dengan cepat menawarkan bantuan mereka setelah Eve memberi mereka perintah, sambil tersenyum dengan manis.



Dia menanganinya dengan baik.



"Kerja bagus."



Aku memujinya, dan dia membungkuk dengan penuh terima kasih.

Tapi kemudian dia melanjutkan dengan cara yang sama.



"Berbicara tentang pekerjaan yang bagus, Saya juga harus memuji perintah anda di medan perang tuan. Mungkinkah tuan juga seorang jenderal dalam kehidupan tuan yang sebelumnya ? "





"Aku tak tau? Aku tidak ingat banyak. Aku merasa seolah-olah aku adalah putra kedua dari bangsawan kecil. Aku hanya memiliki ingatan yang samar-samar pada penelitian ku tentang dunia lain yang terbuang sia-sia. ”



"Jadi anda tidak punya pengalaman bertarung...?"



"Aku tidak percaya." {Eve}



“Mungkin itu adalah bakat alami anda. Jadi ini pertarungan pertama anda tuan. Mungking saja komandan besar seperti Anda akan terus tumbuh menjadi yang terhebat. " {Eve}



"Kamu melebih-lebihkan. selain itu, aku jauh lebih tertarik pada lima menit berikutnya, daripada masa depan yang jauh. "



"Lima menit berikutnya?"



"Ya. Aku membayangkan seorang pelayan cantik yang  sedang menuangkan secangkir teh yang lezat kepada ku. Aku belum minum teh mu sejak kembali dari ladang. Bukan hanya tubuh ku, tetapi aku juga perlu menyegarkan pikiran ku. "



Mendengar kata-kata ini, Wajah Eve tiba-tiba memerah, dan dia berkata, "Baiklah, kalau begitu saya akan membuatkannya untuk tuan," lalu dia pergi.





Lima menit kemudian, dia kembali dengan teh Darjeeling yang harum.



Seperti yang telah ku katakan bahwa aku haus, dia menuangkan secangkir yang hangat. Aku meminumnya semuanya sekali tengguk dan menghelakan nafas dengan nikmat.




============
============

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter