Rokka no Yuusha Vol 1 Chapter 1-2 Bahasa indonesia

Rokka no Yuusha Vol 1 Chapter 1-2 Bahasa indonesia

Light Novel Rokka no Yuusha volume 1  Chapter 1-2 Bahasa indonesia





Keberangkatan dan dua pertemuan - Bagian kedua 






Seribu tahun yang lalu, satu entitas jahat muncul di benua itu. 



Manusia tidak tahu banyak tentang keberadaannya. Dari mana asalnya, mengapa itu lahir? Apa yang dipikirkannya, apa yang ingin dilakukannya? Atau apakah dia memiliki kemauan atau pikiran ? Manusia bahkan tidak tahu apakah itu makhluk hidup atau bukan. Yang mereka tahu adalah bahwa itu tiba-tiba muncul tanpa tanda apapun. 



Hanya beberapa orang yang selamat yang berhadapan dengan  makhluk itu. Menurut kesaksian mereka, entitas itu tingginya sekitar sepuluh meter. Dan mereka mengatakan tubuhnya tidak memiliki bentuk yang ditetapkan, seperti lumpur hidup yang bergerak. Memuntahkan racun dari tubuhnya, dan asam dari tentakelnya melarutkan semua yang disentuhnya ketika ia mulai menyerang umat manusia. Namun makhluk itu tidak mau memakan manusia, juga tidak ingin menyiksa, mereka hanya bertujuan membunuh manusia. Dan ketika bagian-bagian tubuhnya terpotong, bagian-bagian itu menjadi hidup, menjadi mahluk lain sebagai pengikutnya, yang akan membunuh lebih banyak orang. 



Makhluk itu tidak memiliki nama, lagipula tidak perlu memberikannya. Tidak ada yang serupa dengan itu di dunia ini. 



Jadi entitas jahat itu hanya disebut Majin. 



Pada saat itu, benua itu diperintah oleh The great immortal empire Rohane. Tetapi meskipun mengumpulkan semua pasukan mereka untuk pertempuran, bahkan mereka tidak bisa mengalahkan Majin. 

Bangsa-bangsa dihancurkan, keluarga kerajaan mati, dan kota-kota serta desa-desa lenyap terbakar. Orang-orang putus asa dan menerima bahwa mereka ditakdirkan untuk dimusnahkan. Tetapi kemudian dari suatu tempat, Datang seorang saint.



Saint itu menghadap Majin dengan satu tangkai bunga sebagai senjatanya. Meskipun dia perempuan, dia adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang bisa melawan Majin. Itu adalah pertempuran yang sangat panjang, tetapi akhirnya Saint mendorong Majin ke sudut terluar barat dan mengalahkannya. 



Tetapi ketika Saint kembali, dia berkata bahwa Majin tidak mati dan suatu hari itu akan bangun dari tidurnya dan mungkin mengubah dunia menjadi neraka. Saint kemudian meramalkan bahwa ketika Majin terbangun, enam pahlawan yang mewarisi kekuatannya akan muncul. Mereka harus mengirim Majin kembali ke kedalam tidurnya dengan cara apa pun. 



Pada tubuh keenam prajurit yang dipilih akan muncul lambang dalam bentuk bunga dengan enam kelopak. Dan karena fakta itu, orang-orang memanggil Pahlawan Enam Bunga {Rokka no Yuusha}. 



Di masa lalu, Majin terbangun dari tidurnya dua kali. Namun kedua kali seperti yang diperkirakan keenam prajurit muncul dan menyegelnya. 

Ada satu syarat untuk dipilih sebagai salah satu Pahlawan Enam Bunga. Para calon yang diseleksi harus memperlihatkan kekuatan mereka di kuil-kuil yang dikhususkan untuk dewi takdir, yang dibangun oleh Saint yang memegang setangkai bunga. Ada 30 tempat seperti itu di benua itu dan jumlah orang yang datang untuk menunjukkan kekuatan mereka dengan mudah melebihi 10.000. 

{ Secara harfiah: tempat suci }


Ketika Majin terbangun, yang terkuat di antara mereka akan menerima lambang Enam Bunga. Untuk seorang pejuang, itu adalah kehormatan terbesar untuk dipilih dan setiap prajurit bermimpi terpilih sebagai salah satu dari enam. tidak terkecuali Adlet 



Waktu kebangkitan Majin dikatakan sudah dekat, tanda-tanda yang telah terlihat selama bertahun-tahun. Paling lambat itu akan terjadi dalam setahun terakhir, tetapi paling awal itu bisa terjadi besok. 



"... Apakah kamu merenungkan tindakanmu? Apakah kamu sekarang berpikir bahwa kamu melakukan sesuatu yang salah?" 



Sudah tiga hari sejak semifinal dan Adlet dipenjara karena melarang aturan serius. Di depan jeruji sel berdiri perdana menteri menatap Adlet dengan ekspresi masam, seolah-olah dia menelan mangga muda. 



Adlet terluka parah. Kepala, bahu, dan kedua kakinya terbalut perban, sementara lengan kanannya di gips. Namun itu sudah diduga karena tidak mungkin dia bisa bertahan setelah diserang oleh banyak orang .  



Adlet duduk di tempat tidur yang dingin dan menghadap ke perdana menteri. "Aku seharusnya mengatakan ini sebelumnya, tetapi aku memang ingin secara resmi memasuki turnamen.  



Namun, entah itu karena aturan atau sesuatu, aku tidak diizinkan masuk tidak peduli apa yang aku lakukan, "{ Adlet }. 



Turnamen sebelum dewi memiliki aturan dan senjata yang bisa digunakan seseorang dibatasi. Bahkan strategi seperti serangan tipuan atau serangan mendadak dilarang. Tetapi Adlet tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu. 



"Seperti yang kamu ketahui, aku adalah orang terkuat di dunia, tetapi aturan itu adalah satu-satunya hal yang menimbulkan masalah bagi ku. Jadi karena itu, aku menyadari itu tidak dapat membantu dan aku membiarkan diri ku mengabaikannya. " 



"Apa tujuanmu?" 



"Seharusnya tidak usah dikatakan. Tujuanku adalah untuk dipilih sebagai salah satu Pahlawan Enam Bunga." 



"Apakah kamu mengatakan Enam Bunga? Kamu? Apakah kamu mengatakan seseorang seperti kamu layak mendapat kehormatan menjadi salah satu dari Pahalawan enam bunga?" 



"Aku akan dipilih. Sudah diputuskan. Bagaimanapun, aku adalah orang terkuat di dunia." 




Adlet tertawa dan perdana menteri menggedor jeruji sel. Orang tua ini tidak memiliki kontrol diri. 



"... Kalau begitu, kamu belum mencerminkan tindakanmu sama sekali." 



"Aku merenung. Sungguh. Penjaga kehormatan dan penjaga arena .... Aku memikirkan semua cedera yang kuberikan pada mereka." 



"Bagaimana perasaanmu tentang semua kekacauan yang kamu sebabkan di arena suci?" 



"Aku tidak peduli tentang itu," kata Adlet, menyebabkan perdana menteri menarik pedangnya. 



Dia kemudian mencoba untuk menghancurkan kunci, dan penjaganya dengan mati-matian berusaha menghentikannya. 



"Dengar, aku menolak untuk menerima ini lagi. Aku pasti akan menggantungmu. Kamu harus ingat itu!" 

Para prajurit berhasil menenangkan perdana menteri dan bersama-sama mereka meninggalkan daerah itu di depan sel penjara. Adlet kemudian berbaring di tempat tidur dan mengangkat bahu sambil memikirkan atas semua masalahnya. 



Dia ingat pertarungan yang dia alami tiga hari yang lalu dengan ksatria tua dan tentara bayaran kuato. Keduanya sangat kuat. Jika salah satu taktiknya salah maka Adlet mungkin akan menjadi orang yang dikalahkan. 



Meskipun demikian, ia mampu menang. Bahkan jika pertarungannya kasar, dia masih bisa menang. Itu adalah bukti yang cukup bahwa dia adalah yang terkuat di dunia. 



"... Tetap saja, ada satu hal yang aku sesali," gumam Adlet sambil berguling di tempat tidur. Itu adalah putri Nashetania. 



Nashetania Louie Piena Augustra. Putri pertama dari negara kaya Piena. Meskipun darah bangsawannya bukan berarti bahwa dia adalah pewaris yang paling berhak atas takhta, dia juga pejuang terkuat Piena. Sebagai Saint yang menerima kekuatan dari dewa pedang, aku mendengar bahwa dia dapat membuat pedang dari udara sesuka hati. 



Nashetania telah memenangkan turnamen sebelumnya dan telah diputuskan bahwa pemenang pertandingan yang diganggu Adlet akan melawannya di final. 



Adlet ingin mencoba dan melawannya. Dan jika dia tidak bisa, maka paling tidak dia ingin mencoba dan melihat wajahnya. 

 Ketika dia mengalahkan ksatria tua dan tentara bayaran, dia bertanya-tanya apakah ada kemungkinan bahwa dia akan muncul, tetapi pada akhirnya dia tidak. 



Yah, sama sekali tidak masalah, pikirnya, sambil  menghela nafas . 



"Ah, akhirnya aku menemukanmu," kata seseorang yang berdiri di depan jeruji sel.  



"…Kamu siapa?" 



Dia adalah gadis cantik berambut pirang. Dan seolah-olah hanya menatapnya membuat kita tenang, dia menunjukkan senyum yang indah. Dia mengenakan pakaian pelayan hitam, tapi itu sama sekali tidak cocok untuknya. Pakaian pelayan cocok untuk gadis-gadis yang terlihat lebih polos. 



" Adlet, kan?  Maaf, tetapi bisakah kamu datang ke sini?" gadis itu memanggil adlet berulang kali dengan tangannya. 



Bingung, Adlet duduk dan berbalik ke bar. Saat dia mendekat ke gadis itu, bau apel manis menyentuh hidungnya. Karena itu adalah sesuatu yang tidak pernah dia cium sebelumnya, dia pikir aroma itu memikatnya. 



"Tolong jabat tanganku." Tanpa diduga, gadis itu memasukkan tangannya ke jeruji. 



"Hah?" 



"Aku benar-benar minta maaf atas gangguan yang tiba-tiba, tapi aku sempat untuk melihat pertarunganmu tiga hari yang lalu. Aku sangat tersentuh dengan penampilanmu sehingga sekarang aku menjadi penggemarmu." 



".... Hah? .... Hah?" Dengan aroma gadis itu yang melarutkan pikirannya, kata tak berarti itu adalah satu-satunya hal yang bisa dia tanggapi. 

                                                   

"Tolong jabat tanganku. Jabat tangan." 



Adlet melakukan apa yang di inginkan gadis itu dan dengan ringan meraih tangan gadis itu yang terulur. 



Kemudian ketika gadis itu meremas tangannya sebagai balasan, dia berkata, "Tuan Adlet, kamu sangat gugup. Apakah ini mungkin pertama kalinya kamu meraih tangan seorang gadis?"  

Gadis itu kemudian menutup mulutnya dan tertawa yang menggoda. Sebagai tanggapan, Adlet melepaskan tangannya dengan terburu-buru. 



"Wha, apa yang kamu katakan. Aku tenang. Aku sudah berpegangan tangan berkali-kali." 



Dia terkikik. "Tapi wajahmu sangat merah." 



Saat dia tertawa, Adlet merasa aroma apel semakin kuat. Dia kemudian memalingkan wajahnya yang memerah darinya dan menutupi pipinya. 

"Apakah kamu buruk dalam berhubungan dengan wanita, meskipun kamu begitu kuat?" 



"Katakan apa yang kamu mau, tapi Adlet Maia adalah orang terkuat di dunia. Terkuat di dunia tidak buruk dalam hal apa pun." 



"... Aku senang aku datang. Kamu benar-benar menarik," kata gadis itu sambil tersenyum. "Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu Adlet. Jadi, maukah kamu memberitahuku tentang dirimu?" 



Adlet mengangguk. Gadis beraroma apel memiliki senyum nakal. Kalau dipikir-pikir, aku belum mendengar namanya, pikir Adlet tiba-tiba. 



Adlet Maia akan berusia delapan belas tahun tahun ini. Kampung halamannya berada di sebuah negara kecil yang terletak di daerah terpencil di barat. Itu disebut Woro, negara danau putih. Karena keadaan tertentu ia meninggalkan desanya ketika berusia sepuluh tahun. Dia tidak punya kekasih atau teman. Dan karena dia masih sangat muda, dia tidak memiliki keluarga di seluruh dunia. 



Untuk waktu yang lama ia dikurung di pegunungan bersama gurunya, berlatih siang dan malam untuk bisa mengalahkan Majin. Dia memoles keterampilan pedangnya, melatih tubuhnya, dan mempelajari cara menggunakan dan membuat masing-masing senjata rahasianya. 



Gaya bertarung unik yang ia kenakan adalah hasil dari menggabungkan permainan pedangnya dengan berbagai senjata rahasia yang dapat ia gunakan. 



Dia bukan milik tempat mana pun dan dia tidak mengikuti perintah siapa pun. Dia hanya terus berlatih sebagai pejuang mandiri dengan satu-satunya tujuan mengalahkan Majin. Itu adalah sejarah Adlet. Orang yang hidup dengan pedang, yang biasanya ciri para ksatria atau tentara bayaran. Jadi jika mereka pergi berperang, mereka akan mendapatkan uang dan ketenaran. Namun, Adlet tidak tertarik pada hal-hal itu. Tujuannya adalah memerangi Majin; itu dia. Hanya ada beberapa pejuang sejati yang tidak terkekang seperti dia di seluruh benua. 



Setelah menyelesaikan pelatihan panjangnya, ia turun gunung dan mencoba memasuki turnamen pertempuran Piena untuk memastikan bahwa ia adalah yang terkuat di dunia. Dan itu semua yang dia katakan pada gadis itu. 


Gadis beraroma apel itu dengan antusias mendengarkan cerita Adlet. Tapi dia tidak tahu persis apa yang menurutnya menarik. 



"... dan karena itu aku pergi ke turnamen, untuk menunjukkan pada dewi takdir bahwa aku benar-benar orang terkuat di dunia. Aku minta maaf. Aku menyadari bahwa sebagian besar ceritaku itu membosankan." 



Dengan kata-kata itu, Adlet mengakhiri ceritanya dan gadis beraroma apel menanggapi dengan tepuk tangan. Awalnya dia merasa canggung, tetapi lambat laun dia terbiasa berbicara. Dan pada akhirnya memiliki gadis cantik mendengarkan ceritanya sebenarnya membuatnya bahagia. 



"Itu menarik. Aku senang aku mendorong diriku untuk datang menemuimu. Entah bagaimana aku merasa seperti aku pernah mendengar ungkapan" terkuat di dunia "cukup untuk bertahan seumur hidup." 

"Betul." 'Yang terkuat di dunia' adalah ungkapan favorit Adlet. Setiap kali dia berbicara tentang dirinya, dia benar-benar menambahkannya ke dalam percakapan. 



"Ini fakta kuat bahwa aku adalah yang terkuat di dunia, jadi aku berencana untuk berani mengatakannya kapan pun aku bisa." 



"... tapi apakah tidak apa-apa hanya menyebut dirimu yang terkuat? Apakah kamu bahkan telah mengalahkan putri Nashetania?" Gadis itu mengucapkan kata-kata dengan nada provokasi, tetapi Adlet tidak memperhatikan tantangannya. 



"Dia sangat kuat. Tapi aku lebih kuat." 



"Masih ada banyak orang kuat di dunia." 



"Tentu saja, tapi aku tidak percaya ada orang yang lebih kuat dariku." 



"... Tuan Adlet, apa dasar mu untuk mempercayainya?" 



"Aku tahu bahwa aku yang terkuat di dunia. Itu saja." 



"Itu dia?" 



"Aku tahu. Dewi takdir tahu. Sedangkan sisanya, Majin dan orang-orang di dunia, aku hanya harus menunjukkan kepada mereka." 



"Benarkah? Itu kepercayaan diri yang luar biasa." 



"Ini bukan kepercayaan diri. Itu fakta yang jelas." 



Gadis itu tersenyum, tetapi pada saat yang sama dia tampak bingung bagaimana dia harus menjawab. Yah, kebingungan mungkin tidak bisa dihindari, pikir Adlet. Ini adalah pertama kalinya gadis itu bertemu dengan pria terkuat di dunia. 



"Ngomong-ngomong, apakah tidak apa-apa jika aku mengajukan satu pertanyaan lagi?" 

"Tentu, ada apa?" 



"Sebentar lagi aku ingin keluar dari penjara ini. Apakah kamu punya metode yang bagus?" 



"Kamu ingin meninggalkan tempat ini? Untuk apa?" 



Gadis ini punya nyali, pikir Adlet, setelah mengharapkan respons yang sedikit berbeda. 



Adlet memberi tahu gadis itu bagaimana perdana menteri Piena menuntut hukuman matinya. Adlet berada di penjara tidak bisa membantu, tetapi eksekusi adalah masalah. Gadis itu kemudian menyentuh dagunya sambil berpikir. 



"Aku pikir tidak apa-apa. Tuan Perdana Menteri marah, tetapi aku tidak berpikir dia akan bertindak sejauh itu sampai melalkukan eksekusi. Apa yang kamu lakukan bukanlah alasan bagi seseorang untuk mati." 



"Apakah itu benar? Maka tidak masalah." 



Adlet merasa lega karena dalam kondisinya saat ini akan agak sulit untuk keluar dari penjara. 



"Apa yang terjadi di turnamen setelah itu? Apakah itu dihentikan?" 



"Tidak. Tindakanmu ... tidak dihitung. Kemarin mereka mengadakan pertandingan lagi dan Kuato tentara bayaran akhirnya memenangkan semi-final dengan perbandingan yang sangat sempit. Kemudian Nashetania benar-benar mengalahkannya di final." 



Apakah dia hanya berpidato pada putri tanpa kehormatan, atau hanya imajinasiku saja? 



"Itu tidak terduga. Apakah tentara bayaran benar-benar menang? Aku pikir orang tua itu memiliki sedikit keunggulan dari pada tentara bayaran itu." 



"Tampaknya ketika kamu melempar Tuan Batwal, kamu melukai bahunya." 



"Mungkin karena kesalahan itu dia jadi mudah dikalahkan." 



Setelah itu Adlet dan gadis itu mengobrol ringan, diam, mengobrol. Mereka berbicara tentang bagaimana orang terlalu takut untuk berdiri ketika mereka melihat royalti Piena dan masalah dengan tingginya harga barang. Gadis itu jujur ​​sehingga berbicara dengannya mudah. Dan berbincang sendiri itu mengasyikkan. 



"Ah." Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi serius, seolah-olah dia baru saja mengingat sesuatu. "Aku lupa ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan ini bukan kesempatan untuk obrolan kosong." 



"Ada apa? Kamu kelihatan kesal." 



Gadis itu menarik napas, dan kemudian berbisik bertanya, "Pernahkah kamu mendengar tentang pembunuh Pahlawan enam Bunga?" 



"Apa itu?" 



"Ada seorang ksatria dari negara buah kuning dengan nama Matola Wichita. Pernahkah kamu mendengar tentang dia?" 



"Ah, aku tahu namanya." 

Di dunia ada banyak gosip tentang siapa yang akan dipilih sebagai salah satu pahlawan. Namun, di antara gosip itu ada nama yang dia dengar berulang kali. Itu adalah nama anak ajaib yang dikatakan sebagai pemanah terbesar di dunia. 



"Pernahkah kamu mendengar tentang Asley, Santo Es dari Foudelka, bangsa pasir emas?" 



Adlet mengangguk. Mereka berdua nama-nama prajurit terkenal. 



"Apa yang terjadi?" 



"... Mereka dibunuh. Penjahatnya tidak diketahui." 



"Mungkinkah itu Kyoma?" 


"Mungkin." 



Makhluk hidup yang melayani Majin disebut kyoma dan mereka sedang mempersiapkan kebangkitan Majin, diam-diam merencanakan untuk menyergap dan membunuh enam pahlawan. Mereka disembunyikan di seluruh benua, melakukan berbagai skema. Ditambah lagi mereka akan membunuh siapa pun yang tampaknya akan dipilih sebagai salah satu dari Pahlawan enam Bunga. 



"... hal-hal seperti Kyoma bukanlah makhluk yang dapat dengan mudah dikalahkan. Bagaimana kamu bisa mengalahkan mereka?" 



"Aku tidak tahu." 



"Itu menyusahkan." 



"Adlet, aku pikir mungkin lebih baik jika kamu tetap di sini. Ke mana pun kamu pergi, bahayanya tidak akan berubah, tetapi setidaknya penjara itu berada di bawah penjagaan ketat yang berat." 



"Itu benar. Kalau begitu, aku akan tetap tinggal sampai lukaku sembuh." 



Seolah-olah dia sudah selesai memberitahunya apa yang harus dia lakukan, gadis itu dengan gugup mengalihkan pandangannya. 



"Maaf. Aku harus pergi, tapi aku merasa aku akan membuatmu marah dengan pergi. Yah, kamu sudah marah, tapi kamu akan lebih marah." 



"Aku tidak peduli. Pergi." 



Dia dengan cepat mengangguk ke atas dan ke bawah, tetapi ketika dia mulai pergi, Adlet menahannya. 

"Jika kamu bertemu sang putri, katakan padanya ini untukku. Dia pasti akan dipilih sebagai salah satu dari enam juga. Jadi katakan padanya aku menantikan hari dimana kita bisa bertarung bersama. ” 

"... hah?" Gadis itu membuka mulutnya dengan linglung. Lalu entah kenapa dia mulai terkikik. 

"Apa itu?"  (adlet)

"Tidak ada apa-apa, maaf. Aku akan memberitahunya untukmu. Jika aku bertemu dengannya itu adalah ... " 

Gadis itu mulai berjalan pergi, lalu berbalik dan menjulurkan lidahnya.  

"Bapak. Adlet. Kamu benar-benar idiot. ” 

Dia berpikir untuk menanyakan kembali apa maksudnya, tapi dia sudah pergi. Jadi untuk sementara waktu Adlet merenungkan apa yang dikatakannya, tetapi menyadari bahwa dia tidak bisa mengetahuinya, dia memutuskan untuk melupakannya. 

Adlet berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit, memikirkan pembunuh Pahlawan enam bunga.  

"... Pembunuh Pahlawan enam bunga ya? Aku mungkin harus bertarung dengan mereka setelah aku terpilih. ” 

Kemarin Adlet telah menampilkan ekspresi optimis yang cerah. Tapi sekarang, matanya penuh dengan kemarahan . 

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter