Monster no Goshujin-sama chapter 2 bahasa indonesia

Monster no Goshujin-sama chapter 2 bahasa indonesia

NOVEL MONSTER TAMER CHAPTER 2 BAHASA INDONESIA



Siswa yang dipindakan ke dunia lain


Sekitar sebulan yang lalu, Aku—Majima Takahiro—telah dipindahkan ke dunia lain bersama dengan siswa dan staf SMA yang lainnya,  SMA Prefektur XX No.1
  
                    
Tepat setelah tiba-tiba dipukul oleh rasa keracunan selama di kelas, kami mendapati diri kami dikelilingi oleh pemandangan yang yang tidak kami kenal.
                      
Sebuah hutan yang lebat. Udara yang lembab.
  
                    
Itu jelas bukanlah tempat yang berada di Jepang.
  
                    
Sejujurnya, aku bingung. Tidak bisa memhami situasi, aku hanya bisa berkeliaran dalam kebingungan.
                      
Tak lama kemduian, para guru dan beberapa siswa mulai mengumpulkan para siswa yang kebingungan.
  
                    
Salah satu guru mengatakan bahwa ia akan pergi untuk memeriksa keadaan, dan menghilang ke dalam hutan.

                    
Itu adalah tindakan yang heroik.
                    
Dia pasti adalah guru yang baik dengan penuh rasa tanggung jawab. Namun sayangnya, karena dia bertanggung jawab atas kelas yang berbeda, aku tidak tahu namanya.
                      
Tepat setelah teriakan pada saat-saat terkahirnya terdengar, sesuatu telah terjadi.
                      
Apa yang membuat kita meringkuk dalam ketakutan yang mengerikan ini adalah munculnya monster seperti kadal yang panjangnya sekitar lima meter yang berjalan tegak di depan kami—naga.
                    
Dalam mulutnya, naga sedang memegangi mayat guru yang telah pergi untuk memeriksa keadaan.
  
                    
Para siswa menjadi panik.
                      
Di tengah kekacauan itu, aku terdorong ke samping oleh seseorang dan jatuh ke tanah. Aku rasa, aku benar-benar beruntung telah terhindar dari luka yang serius, meskipun terinjak beberapa kali dan berteriak dengan keras. Selain itu, aku juga beruntung berada di tempat yang jauh dari naga itu.
                    
Aku melihat siswa, yang tidak sepertiku, yang cukup tidak beruntung untuk di makan satu demi satu oleh naga. Jika ini terus berlanjut, aku juga akan segera dimakan. Segala sesuatu pada pandanganku menjadi gelap karena putus asa.
  
                    
Aku pikir itu adalah orang ketiga.
  
                    
Seorang siswa laki-laki telah terpojok oleh naga.
  
                    
Karena aku jatuh dan tidak bisa melarikan diri, akhirnya aku hanya melihat keadaan berbahaya yang dialaminya.
                    
Ia tidak mampu berdiri, dan naga berusaha untuk memakan bagian atas tubuhnya.
                   
"Hi-hiyaaaaaaaaaaa—!!"

                    
Dia mungkin tidak berpikir tentang apapun.
                    
Siswa itu berjuang sekeras yang ia bisa, memukul-mukul dengan kedua lengannya.

                    
Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata.

                    
Dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
  
                    
Pada saat berikutnya, wajah naga itu terhempas.
                    
Kejadian itu seperti sebuah lelucon. Bahkan, orang yang paling terkejut mungkin adalah siswa itu sendiri yang telah benar-benar membunuh naga.
                    
Dan dengan begitu, kami mampu mengatasi ancaman pertama kami. dengan kekuatan yang diberikan kepada kami—kemampuan cheat.
  
                    
***

                    
Aku ingin tahu apakah kau pernah membaca suatu kisah tentang dikirim ke dunia lain?
                    
Itu sangat disayangkan, tapi aku belum.
                    
Namun, menurut pembicaraanku dengan seorang teman baikku, "Siswa dari Jepang dikirim ke dunia sepeti fantasi" itulah tema yang sepertinya populer di kalangan anak muda.

Meskipun jika kau benar-benar mengalaminya sendiri, itu bukanlah apa-apa melainkan sebuah kemalangan.
  
Tapi kenapa cerita dengan genre tersebut menjadi populer? Ketika aku pertama kali mendengar tentang hal itu, aku benar-benar tidak bisa mengerti.

Tidakkah kau juga setuju?
  
Kami lahir dan dibesarkan di Jepang yang sangat baik dan juga damai, dan sebagai siswa tanpa kekuatan khusus, di dunia lain di mana pedang dan sihir ada, keberadaan kami hanyalah sebagai makanan. Bahkan jika kau pergi ke dunia lain, kau mungkin tidak bisa berperan aktif di dalamnya. Paling-paling, kau hanya akan bisa hidup dengan bersembunyi. Namun, itu tidak akan membuat plot yang baik.
  
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan dariku adalah sesuatu yang disebut dengan 'Kemampun cheat'
  
"Cheat," pada awalnya adalah sebuah kata yang artinya 'mengelabui' atau 'menipu' tapi di Jepang itu sekarang digunakan sebagai istilah game dalam permanian seperti game online, di mana alat modding digunakan untuk melakukan sesuatu yang normalnya tidak mungkin.
  
TL Note : Modding = sebuah alat yang digunakan untk memodifikasi konten dari game untuk membuatnya beroperasi dengan cara yang berbeda dari versi aslinya. Yang suka main game pasti tau lah.
  
Itu adalah semacam pola dalam cerita di mana orang-orang yang direinkarnasi atau dikirim ke dunia lain memiliki kekuatan kuat yang melawan akal sehat. Mungkin karena itulah mengapa kekuatan yang diperoleh tersebut juga disebut dengan 'cheat'.
  
Meski mungkin seperti itu, aku masih tidak bisa memahami mentalitas sahabatku yang mengatakan, "Bagi kita telah datang ke dunia ini, itu wajar untuk diberkahi dengan kekuatan cheat"
  
Pokoknya, kami benar-benar telah mendapatkan kekuatan misterius. Satu orang mampu menghancurkan tanah hanya dengan menggunakan tangan kosong saja, dan yang lainnya mempunyai kekuatan yang tak bisa dijelaskan, yang disebut dengan sihir. Anehnya, mereka sepertinya tahu secara alami bagaimana cara menggunakan kekuatan mereka, dan mengendalikannya secara alami seperti bernapas.
  
Kemudian, tanpa mempertimbangkan lebih lanjut, kami memanggilnya 'kemampuan cheat'
  
Berkat kemampuan cheat, sebuah dunia di mana kami biasanya tidak akan bisa melakukan apa-apa karena adanya monster, sekarang bisa hidup dengan mudah.
  
Kami membuat tempat tinggal sementara, agar bisa terhindar dari ancaman monster.
  
Namun, tidak semua orang diberkati dengan kemampuan cheat. Kebanyakan, hanya sepertiga yang mempunyai kemampuan cheat—sekitar 300 orang.
  
Mereka yang mempunyai kemampuan cheat pergi ke hutan untuk berburu dan melindungi tempat tinggal sementara. Karena mereka melakukan penjelajahan di hutan, kami memberi mereka nama 'Kelompok Pengintai'.
  
Mereka yang tanpa kemampuan cheat terlibat dengan pekerjaan untuk membuat tempat tinggal sementara. Berbeda dengan 'Kelompok Pengintai.' Mereka disebut sebagai 'Kelompok Penjaga'. Kami menamai tempat berlindung kami: 'Koloni'
  
Ngomong-ngomong, aku tidak memiliki kemampuan cheat, dan temanku yang otakku, yang mengajariku tentang kemampuan cheat juga tidak memilikinya. Ada orang-orang yang memiliki kemampuan cheat dan juga tidak. Mungkin ada beberapa teori di balik itu, tapi sayangnya, aku tidak mengetahui alasan tersebut.
  
Tepatnya, sepertinya telah ada beberapa peningkatan dalam kekuatan fisik dan hal-hal yang lainnya, untuk 700 orang tersisa, mereka kurang berarti; bukan pada tingakatan untuk bisa diakatakan kemampuan cheat. Aku juga merasa sedikit tidak nyaman dengan tubuhku, tapi itu mungkin hanya khayalan atau perasaan stress yang berasal dari kekacauan ini.
  
Seminggu kemudian...
  
Meskipun ada beberapa korban tambahan, para siswa yang telah dipindahkan ke dunia lain telah dapat mengalami gaya hidup yang agak stabil.
  
Pada saat itu, sesuatu seperti sistem pemerintahan, dijalankan oleh salah satu bagian dari siswa, dan mulai berjalan.
  
Karena ada hampir 1.000 orang, keberadaan sistem untuk menyatukan mereka benar-benar sangat diperlukan.
  
Setelah melakukan itu, hal berikutnya yang ada di dalam pikiran kami adalah mencari tahu dunia seperti apa dunia ini. Pada tahap ini, tidak ada yang percaya bahwa ini adalah dunia asli lagi.
  
Jika kita bertanya pada mereka yang memiliki kemampuan cheat untuk mengajari kami mengendalikan sihir, kami mungkin bisa belajar bagaimana menggunakan sihir.
  
Tentu saja, hanya mereka yang sudah memiliki kemampuan cheat yang diberi kesempatan untuk belajar sihir. Mereka harus berjuang untuk mata pencaharian kita, dan sebagai salah satu kemungkinan yang diharapkan—tidak punya waktu luang untuk mengajarkan sihir bagi kami dari kelompok penjaga yang tinggal di tempat tinggal sementara yang dibuat dari semua jenis pohon yang ditebang.

Bagaimanapun juga, kami sedang mencari pengetahuan tentang dunia ini.
  
Apakah ada manusia seperti kami di sini?
  
Jika ada, bagaimana kami bisa melarikan diri dari hutan ini untuk menemui mereka?
  
Dengan begitu, Unit Ekspedisi Pertama dibentuk. Tujuan mereka adalah untuk melarikan diri dari hutan ini. Mengingat kembali itu, aku tidak bisa merasakan rasa ironi pada nama itu.

Satu minggu setelah Unit Ekspedisi pergi, tempat tinggal sementara—koloni—hancur.
  
Beberapa orang dengan kemampuan cheat telah melakukan kudeta.

Desakan dari dunia mereka sebelumnya ke tengah hutan dunia lain di mana hukum tidak ada, sulit bagi para siswa untuk mempertahankan moral mereka. Itu bahkan lebih dari mereka yang memperoleh sesuatu seperti kemampuan cheat. Kekuatan yang mengendalikan orang menjadi gila. Masa muda yang menyesatkan orang-orang, mungkin hal semacam itu.

Mengincar ketidakadaannya Unit Ekspedisi Pertama, sekelompok yang ambisius, kelompok pemberontak, berkumpul dan melakukan kudeta. Sebuah pertempuran yang hebat terjadi antara siswa yang mencoba untuk menjaga ketertiban dan siswa dari kelompok pemberontak.
  
Kemampuan cheat adalah kekuatan yang dapat dengan mudah membunuh bahkan naga sekalipun. Karena konflik antara mereka yang memegang kekuatan seperti itu, siswa tanpa kemampuan cheat, termasuk aku sendiri, hanya bisa berlari, mencoba untuk melarikan diri.
  
Itu masih akan bagus jika mereka hanya berlari, untuk mencoba melarikan diri.

Itu tidak hanya sebagian dari orang-orang dengan kemampuan cheat yang yang telah kehilangan alasan. Bahkan para siswa tanpa kemampuan cheat juga telah melakukan kekerasan.

Di tengah-tengah itu, aku diserang oleh sesama siswa dari kelompok penjaga. Jika aku harus mengatakan apa yang salah, aku pikir itu hanya nasib buruk. Ada orang lain sepertiku, yang juga merupakan korban dari keributan itu.
  
Tidak ada yang datang untuk membantu.
  
Aku rasa tidak ada yang memiliki waktu luang untuk melakukan sesuatu seperti itu. Semua orang putus asa untuk bertahan hidup. Itu adalah pemikiran yang logis.
  
Namun, perasaanku adalah hal yang berbeda. Melihat banyak siswa yang diserang, namun pura-pura tidak melihat dan terus melarikan diri, melukai hatiku sampai hancur.
  
Satu-satunya alasanku bertahan adalah karena aku beruntung.

Saat itu, pertarungan antara pengguna kemampuan cheat mulai memuncak, dan semua orang terkena gelombang kejut yang dihasilkan.
  
Para siswa yang melakukan kekerasan terhadapku semuanya berubah menjadi abu hitam.
  
Hanya aku, yang telah jatuh ke tanah, yang selamat.
  
Itu semua tentang keberuntungan. Tidak ada yang aneh tentang mati atau terbunuh.
  
Saat aku mengakui ini, hatiku terluka terasa seolah-olah telah menjadi sangat kosong.
  
Memaksa tubuhku yang terluka dan terus melarikan diri ke kedalaman hutan, dan berkeliaran di dalam hutan selama beberapa hari.
  
Kemudian, pagi ini, aku menemukan sebuah gua dan berlindung di sana.
  
Meskipun aku telah menemukan tempat untuk berlindung, aku, yang nyaris lolos, tidak bisa berbuat apa-apa untuk selanjutnya. Setelah semuanya, ada banyak monster yang merajalela di hutan ini, dan tanpa kemampuan cheat atau alat bertarung, aku tidak dapat meninggalkan gua.
  
Jika kau benar-benar ingin bertahan hidup, mungkin aku harus mengambil risiko dan mencari orang-orang yang bisa aku percayai.
  
Namun, di tengah-tengah kebingungan itu, aku tidak bisa melakukannya. Tidak, bahkan jika bukan karena situasi seperti itu, di mana kau tidak tahu apa yang akan terjadi pada menit berikutnya, aku pikir itu tidak mungkin bagiku, sebagai aku yang sekarang, untuk membuat pilihan seperti itu.
  
Aku tidak bisa percaya lagi pada manusia.
  
Manusia hanyalah sampah.
  
Keyakinan itu mungkin sudah satu-satunya hal yang aku peroleh setelah datang ke dunia ini.
  
Atau mungkin aku sudah kehilangan sesuatu yang penting sebagai orang.








Bagiamanapun juga, itu sudah tidak penting untukku, karena aku mungkin akan mati.


===========
===========

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter