Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Vol 6 Chap 3 Bahasa Indonesia

Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Vol 6 Chap 3 Bahasa Indonesia

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Volume 6 Chapter 3 Bahasa Indonesia



Pergerakan kelas-C


Pada hari yang sama setelah sekolah, atmosfer di salah satu ruang kelas dibekukan secara tidak normal.

Alasannya jelas. Perasaan mengintimidasi yang datang dari laki-laki yang duduk di podium, menghadap Kelas C.

“Melihat kembali ujian sampai sejauh ini, ada beberapa hal yang terlihat tidak wajar.”

Nama orang yang berbicara kepada kelas adalah Ryūen Kakeru. Dia merupakan pemimpin Kelas C, dan seorang diktator. Berdiri di sampingnya adalah Albert, Yamada, Ishizaki, serta murid lain yang lihai bela diri. Orang-orang bisa merasakan peringatan untuk tetap diam... jika ada seorang murid yang ingin memberontak melawan Ryūen, mereka tidak akan ragu menggunakan kekerasan.

"Kesimpulan seperti itu, tidak mungkin terjadi secara kebetulan."

Rasanya seperti dia yang berbicara sendiri, tapi ada perasaan samar bila dia sedang berbicara kepada seseorang.

"Berdasarkan apa yang terjadi di pulau tak berpenghuni, dan festival olahraga, sepertinya ada seseorang di Kelas D yang berpikiran seperti aku."

“Seseorang seperti Ryūen-kun? Aku tidak berpikir Kelas D punya orang seperti itu...”

Ishizaki tidak bisa tidak berbicara, meragukan kemungkian ada orang lain di luar sana yang sama seperti Ryūen. Hal ini karena Ryūen adalah orang yang terhormat dan menjijikkan, keberadaan yang luar biasa dan tidak bisa ditebak. Ryūen tersenyum dan menatap Ishizaki.

"Aku dulu juga berpikir seperti itu, tapi aku merasa, aku harus menghadapi kenyataan."

"Apa ini juga ada hubungannya dengan hasil ujian di pulau tak berpenghuni dan festival olahraga?"

“Benar. Tapi percayalah, aku punya berpikir tentang bagaimana pihak lain melakukan sesuatu. Dengarkan semuanya, bergeraklah, kita akan mencari dan memberikan serangan habis-habisan ke Kelas D. Aku harus mengeluarkan orang yang bekerja di balik bayang kelas D. Kesampingkan  dulu Kelas A dan Kelas B untuk saat ini.”

Hanya sedikit murid yang keberatan dengan rencana Ryūen. Bahkan jika seseorang menentangnya, tidak mungkin bisa berbicara karena kelas sudah menandatangani kontrak dengan iblis itu sendiri.

"Ryūen-san... Apa Kelas D memang punya seseorang yang bekerja di belakang layar? Seseorang selain Horikita atau Hirata?”

"Ya. Dan, orang-orang di kelas ini punya jawaban untuk membongkar identitas orang itu.”

Matanya menjauh dari Ishizaki dan sekali lagi, menatap Kelas C.

"Apa yang coba kau katakan, Ryūen?"

Dalam suasana yang berat, Ibuki berdiri di ruang kelas dengan lengan disilangkan di dadanya dan melemparkan kata-kata itu kepada Ryūen.

“Kuku. Ibuki, bisakah kau mendengarkan dengan tenang? ”

“Aku tidak punya banyak waktu luang, dan kau tidak bisa terus mengintimidasi teman sekelasmu sendiri.”

“Kau ini bermulut besar untuk seseorang yang tidak meminta izin. Bukankah kau sudah membodohi dirimu sendiri?”

"Itu..."

Di hadapan kalimat Ryuuen, Ibuki tidak punya pilihan selain memakan kata-katanya sendiri. Khususnya, kegagalannya di festival olahraga yang memalukan. Ryūen sudah mengubah susunan barisan murid agar dia bisa melawan Horikita setelah Ibuki meminta persaingan dengannya secara langsung. Hasilnya, kekalahan yang sangat sedikit. Sayang sekali, dia hampir berhasil menyusul Horikita.

Namun, Ibuki juga punya pilihan untuk melawan. Dia menurunkan lengannya dan memelototi Ryūen.

“Apa yang kau bicarakan? Waktu itu, kau juga gagal mengalahkan Horikita di festival olahraga. Apa kau berhasil mendapatkan poin pribadinya? Bukankah kau sama saja denganku? ”

"Sama sepertimu? Jangan membuat lelucon seperti itu. Strategi yang kubuat di festival olahraga itu sempurna. ”

“Dengan hasil seperti itu? Kau bahkan tidak menjelaskan apa pun kepada kami dan sekarang kau bilang ada orang lain yang berpikir sama sepertimu di kelas itu? Kau ingin kami menerimanya begitu saja?”

Semua murid di kelas ketakutan berkat bantahan yang dibuat oleh Ibuki. Mereka semua ingin mengindari singgungan Ryūen. Tapi Ryūen tidak mempedulikan mereka, dan terus menerus menunjukkan senyuman tipis.

"Apa kau tidak berpikir, tidak peduli seberapa sempurna suatu strategi, semuanya akan gagal jika seseorang membocorkannya?"





"……Membocorkannya?"

“Keberhasilan misterius Kelas D adalah karena keberadaan misterius dari ‘X’, yang berani menyeret dan memanipulasi murid Kelas C dibawah perintahku. Singkatnya, kita punya mata-mata di antara kita.”

Ada sedikit kebingungan di kelas karena ucapannya. Mata Ibuki terbuka lebar karena terkejut.

"Apa kau serius…?"

“Ini fakta. Koherensiku... tidak, sepertinya otoritas itu masih belum cukup. Sangat disayangkan.”

Ryūen tersenyum bahagia pada kenyataan bahwa ia akan terlibat bersama mata-mata.

Sebuah bencana bermunculan untuk semua orang di kelas, bukan hanya mereka yang ingin keluar dari ruangan dan menghadiri kegiatan klub.

Semua orang yang hadir mulai berdoa agar ini segera berakhir.

"Tapi, mata-mata mengganggu ini akan berakhir di sini."

Ryūen memukul podium dengan telapak tangannya dan membungkam keributan di ruangan. Adegan itu tenggelam dalam keheningan.

“Pertama-tama, aku akan bertanya terus terang. Murid yang mengkhianatiku, angkat tanganmu.”

Dia tidak ragu mengeluarkan pemberitahuannya langsung. Tentu saja, tidak ada murid yang mengangkat tangan. Beberapa murid saling memandang satu sama lain, yang ditanggapi dengan ketidaktahuan yang berpura-pura. Ada juga yang tetap diam dan menahan nafas agar tidak menarik perhatian.

"Oh benar... jika kalian bisa diatur lebih mudah, kalian tidak akan mengkhianatiku."

Kehadiran mata-mata bisa mengguncang Kelas C, tapi tidak hal ada lain selain sukacita di hati Ryūen.

“Aku tahu mata-mata itu lebih memilih bersembunyi. Jadi, kalian tidak perlu mengangkat tangan. Tidak, bukan, jangan mengangkat tanganmu. Bahkan jika sekarang kalian mempertimbangkannya, semuanya tetap tersembunyi.”

Ryūen membuat pernyataan tidak terduga pada mata-mata yang akan ditemukan cepat atau lambat.

"Apa yang kau katakan? Apa kau benar-benar memaafkan pengkhianat? "

“Kau menyebalkan, Ibuki. Jangan ganggu kesenanganku. Aku akan membunuhmu jika kau melakukan itu lagi.”

Wajah Ryūen yang tersenyum mengeras menjadi ekspresi kemarahan sesaat dan dia menatap Ibuki.

Kalimat itu sepertinya hanya lelucon, tapi pesannya serius. Ryūen tidak akan memperlakukan siapa pun berbeda hanya karena jenis kelaminnya. Selama dia menilai mereka sebagai musuh dan masih di rencananya, tidak peduli bagaimana, dia akan menyelesaikan masalah dengan tinjunya.

“Aku sudah berusaha tidak membuat masalah besar. Orang lain mungkin berpikir aku berbohong, tapi itu benar. Sederhananya, aku mengulur-ulur."

‘Bam!’ ‘Bam!’ Dia memukul podium dua kali. Suara itu menghentikan semua yang akan terjadi.

“Tapi... Mungkin itu sesuatu yang buruk. Bagaimanapun, ada pengkhianat.”

‘Bam!’ Suara ruang kelas terdengar lebih jauh. Setiap kali ini terjadi, murid penakut mulai gemetar.

“Iru berarti aku harus memainkan beberapa permainan. Tidak masalah. Bukan masalah besar. Hanya permainan konyol di mana kita akan menemukan mata-mata yang mencoba tetap tersembunyi. Untuk sebagian besar murid yang hadir, seharusnya ini tidak penting, jadi tidak ada yang perlu ditakuti. Tidak perlu waktu lama, hanya memakan waktu kurang dari 30 menit."

Ryūen mengatakan ini karena, selain untuk mata-mata, situasi ini tidak ada hubungannya dengan semua orang, jadi tidak ada alasan bagi mereka takut.

Ruangan itu penuh dengan suasana ketakutan, jadi tidak sesederhana itu. Satu-satunya yang tetap tenang dalam menghadapi Ryūen adalah Ibuki, tapi dia mulai ditelan oleh otoritas Ryūen.

“Pertama-tama, semua orang, buka kata sandi ponsel kalian dan letakkan di meja kalian. Aku akan memeriksanya sendiri. Apa ada orang bodoh yang tidak membawa ponselnya? Jika tidak, cepat bicara. Orang itulah pelakunya."

Mematuhi perintah Ryūen, para murid meletakkan ponsel mereka di meja mereka dengan cepat demi menghindari kecurigaan.

“Keputusan yang sangat bijaksana, sangat membantu.”

Ishizaki berkeliling kelas dan mengumpulkan ponsel satu demi satu. Karena dia tidak tahu ponsel siapa, dia menempelkan kertas catatan dengan nama pemilik tertulis di depannya.

Ibuki juga mengeluarkan ponsel dari sakunya. Meskipun dia tidak yakin, dia menyerahkannya kepada Ishizaki.

“Ryūen-san, ponsel semua orang sudah dikumpulkan. Ponsel kami juga.”

“Terima kasih atas kerja kerasmu. Saatnya kita melakukan penyelidikan menyeluruh. ”

"Tapi, kita harus cek yang mana... Catatan panggilan?"

“Apa orang yang mencoba tetap bersembunyi akan menggunakan panggilan!? Lihat emailnya, dan tentu saja melihat pesannya juga. Bahkan jika itu chat dengan seseorang, lihat semuanya. Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan mereka berinteraksi satu sama lain dengan nama samaran."

"Tunggu, tunggu sebentar, ada banyak pesan yang sangat pribadi di ponselku!"

Seorang gadis berteriak. Dia tidak bisa menahan teriakan.

Ketakutan informasi pribadinya dilihat sudah melampaui ketakutannya dicurigai.

“Nishino. Kau tidak mau aku melihat ponselmu?"

"Tentu saja! Walaupun itu kau Ryūen-kun, aku tidak mau!"

“Apa kau bercanda, Nishino? Kau memberikan ponselmu ke Ryūen-kun di kapal pesiar, bukan? Kenapa kau sangat khawatir sekarang?”

“Ini, ini berbeda dari yang waktu itu! Yang dia lakukan saat itu hanya melakukan pemeriksaan email dari sekolah!”

Ryūen sama sekali tidak terkejut, dan mendengarkan teriakan Nishino acuh tidak acuh. Selama ujian khusus di kapal pesiar, Ryūen mengumpulkan semua ponsel Kelas C dan mengkonfirmasi isinya. Namun, karena dia mengeluh, tidak ada hal pribadi yang diperiksa pada waktu itu. Itu hanya konfirmasi pesan yang diterima dari sekolah. Ini jenis kejadian yang sama, tapi semua situasinya berbeda. Jika itu pesan pribadi, informasi seperti yang disukai atau tidak disukai seseorang pasti akan terbaca. Sesuatu semacam itu, ingin tetap disembunyikan dari yang lain.

"Tentu saja kau tau kalau kau akan dicurigai, Nishino."

"Aku, aku akan mematuhimu, Ryūen-kun, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa diterima!"

Nishino bukanlah tipe orang yang biasanya akan mengambil posisi yang kuat, tapi dia sepertinya tidak berniat mundur.

Seolah-olah dia menyiarkan bahwa dia memiliki sesuatu yang tersembunyi yang tidak ingin dilihat.

"Nishino, apa itu kau?"

Murid di kelas mulai mencurigai Nishino.

Salah satunya, Takumi Oda,  menyuarakan keraguan mereka.

"Tidak! Aku bukan mata-mata!”

"Tapi kau menyembunyikan sesuatu dan bersikap sangat mencurigakan..."

"Aku hanya ingin melindungi privasiku!"

Ryūen tidak menunjukkan minat apa pun dalam pembicaraan yang terjadi di kelas. Dia menjangkau dan meraih salah satu ponsel di atas meja.

"Ponselmu yang ini, kan, Nishino?"

"Hei!"

Nishino pikir dia mulai melihat isinya dan mulai panik. Namun…

Ryūen menyerahkan ponsel Nishino ke Ishizaki dan mengatakan:

"Kembalikan ini ke Nishino."

“H-harus aku memeriksanya? kau tidak mengecek isinya dulu?"

"Aku sudah menyuruhmu mengembalikan ini padanya."

Ishizaki segera meminta maaf kepada Ryūen dan mengembalikan ponselnya ke Nishino.

Dalam menghadapi rangkaian kejadian ini, Nishino, serta murid lainnya terguncang.


“Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Aku menilaimu tidak bersalah, itu sebabnya aku mengembalikannya. Benar. Sudah bisa ditebak kan? Itu bukan ponsel si pengkhianat. Hanya membuang-buang waktu dan energi saja mengeceknya.”

Ryūen mengabaikan Nishino yang tercengang dan murid lainnya, dan tanpa mengubah sikapnya, dia melanjutkan:

“Jika kau tidak terima seperti Nishino, jangan ragu mengangkat tangan kalian. Tapi, bersiaplah untuk dicurigai lebih banyak daripada dia.”

Nishino tidak diperiksa ponselnya, dan dianggap 'tak bersalah', orang kedua dan ketiga tidak akan seberuntung itu. Keberatan hanya bisa disampaikan melalui pilihan: meningkatkan kecurigaan Ryūen, atau privasi.

Dalam menghadapi dua pilihan, empat gadis dan dua anak laki-laki mengangkat tangan meskipun mereka takut.

“Ada enam orang yang menentang Ryūen-san... Mata-mata itu pasti salah satunya! Dan yang terakhir mengangkat tangannya, Nomura, kau tidak berpikir menyelamatkan dirimu sendiri dengan melompat ke dalam kumpulan para pecundang, kan?”

Ryūen menunjukkan senyum suram pada kata-kata Ishizaki.

"Tidak, tidak! Aku tidak akan melakukan itu!"

Nomura menyangkal karena takut dicurigai.

"Kumpulkan ponsel mereka."

"Baik."

Ishizaki mengumpulkan enam ponsel mereka dan menyerahkannya kepada Ryūen.

"Jadi, walaupun kalian semua akan dicurigai, kau tidak ingin kami melihat apa pun?"

Mereka semua memberikan tanggapan yang berbeda, tapi mereka semua setuju dengan pernyataan ini.

"Nomura, kau mengambil waktu yang cukup lama sebelum mengangkat tanganmu, jangan bilang kau sedang menunggu kesempatan yang tepat?"

“Eh! Bukan itu…"

"Matamu melihat ke sekeliling ruangan dengan cara yang berlebihan, dan kau berkeringat."

"Apa!?"

Kepribadian Nomura awalnya lemah, dan sepertinya dia sangat tertekan sampai-sampai dia hampir pingsan.

Melihatnya keadaan seperti itu, Ryūen tertawa senang sebelum berbalik ke Ishizaki untuk memberikan perintah.

"Ishizaki, semua orang ini 'tidak bersalah', berikan ponsel mereka kembali."

Dia diperintahkan. Kejutan lain. Ryūen tidak melihat isinya dan menyuruh Ishizaki mengembalikan semua ponselnya. Tidak ada satu pun dari murid di luar Ryūen bisa memahami alasan di balik tindakan ini.

“Bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi?”

"Aku akan menjelaskannya nanti."

Ryūen tidak memberi Ibuki jawaban yang dia harapkan. Dia mengusap rambutnya dan mengambil ponselnya.

“Sedangkan ponsel lainnya, kita selidiki secara menyeluruh. Kita akan mulai dengan Ibuki."

"……Terserah apa katamu."

***

Ryūen selesai memeriksa ponsel terakhir, setelah mengecek isi semua ponsel mereka sendiri.

Semuanya memakan waktu sekitar 20 menit, dan dia menghabiskan kurang dari satu menit untuk masing-masing ponsel. Mustahil menganggap seakan dia benar-benar melewatkan semua itu. Sebagian besar murid ragu, tapi tidak satupun dari mereka berani berbicara.

Untuk mata-mata, puluhan detik lama ponsel mereka diperiksa seharusnya mekaman waktu yang sangat panjang dan penuh tekanan.

"Aku mengerti. Ternyata tidak ada informasi apa-apa di ponsel-ponsel ini.”

“Kalau begitu, Nishino atau salah satu dari 'yang tidak bersalah' ternyata adalah pengkhianat...”

"Bukan begitu..."

Kekesalan dan keraguan Ibuki tidak hilang bahkan dengan pernyataan Ryūen.

“Tapi, sebenarnya, kau tidak menemukan mata-mata apa pun, kan? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini. Apa memang ada mata-mata di sini?"

Hati Ibuki ragu. Ryūen bilang ada mata-mata, tapi apa itu hanya kebohongan yang dibuat demi menyembunyikan kegagalannya?

Ryūen percaya pada kehadiran tak terlihat yang bekerja di belakang Horikita sejak ia menerima hasil ujian khusus di pulau tak berpenghuni, tapi tidak ada bukti kuat bahwa seorang dalang 'X' benar-benar ada.

Bahkan, kelas lain sudah mulai memperhatikan gadis bernama Suzune Horikita.

“Bukti lebih kuat dari teori. Karena itu, biarkan aku secara pribadi memberi tahumu sesuatu. Aku menganggap semua orang di sini juga sudah tau.”

Ryūen memutar file audio yang dikirimkan kepadanya oleh ‘X’. Suara yang ada di rekaman adalah salah satu yang setiap muird di Kelas C sudah dengar sebelumnya. Suara Kakeru Ryūen menjelaskan strateginya untuk festival olahraga kepada teman-teman sekelasnya.

“Ini dikirim ke padaku ketika aku selangkah lagi menuju kemenangan atas Suzune yang putus asa. Berkat ini, aku bahkan tidak bisa melihat dia bersuud untukku, apalagi menerima poin apa pun. Apa kau mengerti sekarang?"

"Tunggu sebentar. Walaupun kita berasumsi bahwa kau tidak merekamnya sendiri, tapi direkam oleh mata-mata, masih ada pertanyaan aneh yang belum terjawab. Kita tidak membahas waktu yang lebih jelas tentang kapan Horikita akan bersujud untukmu. Mereka berhasil mengetahui seluruh rencana dan detail yang tidak kita bicarakan? Tidak mungkin."

Kesimpulan semacam itu masuk akal ketika mempertimbangkan rincian yang Ryūen berikan. Tidak hanya strategi mereka yang bocor, tapi waktu bertemu dengan Horikita setelah festival olahraga juga.

“Itu hanya kebetulan, murni masalah kemungkinan. Waktu terbaik baginya bergerak adalah setelah sekolah setelah festival olahraga selesai. Selain itu, aku tidak percaya pihak lain tertarik menghentikan permintaan maaf Horikita. Tidak ada yang tertulis di pesan saat mengirim file audio.”

"Apa yang sebenarnya terjadi…?"

Ryūen menganalisis pesan kosong yang ia terima yang berisi file audio.

“X, penguasa Kelas D, sangat jelas mengatakan padaku bahwa dia mengetahui strategi yang aku hasilkan dengan mengirimkanku file audio ini. Karena dia tahu rencanaku, dia bisa menghindari serangan yang aku targetkan untuk Suzune di festival olahraga. Dia seharusnya bisa mencegah Suzune dikalahkan dan dipaksa meminta maaf. Tapi, X sengaja mengabaikan lubang ini. Meski tau strategiku, aku diizinkan mengalahkan Suzune, dan tentu saja dia menderita karena ini. Suzune tidak berpikir dia akan terluka, dan hasil kompetisi Kelas D tidak membaik. Di atas semua itu, ada rasa bersalah karena sudah menyakiti orang lain. Keadaan mental suzune seharusnya berada dalam kondisi yang buruk.”

"Dengan membiarkan Ryūen menjalankan strateginya, apa dia tidak menggunakan file audio menjadi bukti yang kuat?"

Mudah dimengerti kenapa murid berkepala jamur dengan kacamata, Kaneda, memikirkan ini. Meskipun rencana membawa risiko, jika rencana tersebut gagal sepenuhnya dan tidak membawa hasil apa pun, file suara tidak akan dianggap sebagai bukti yang sah. Itu hanya akan dianggap sebagai 'rencana gagal untuk mengalahkan Horikita'.

“Pintar sekali kau, Kaneda. Selama kita menjalankan strategi, file audio punya kegunaan. Masuk akal sebagai bukti.”

“Rencana yang dibuat 'X' ini sangat brutal. Dia tau bahaya akan datang ke pasangannya, tapi dia tidak mengambil langkah untuk menghindarinya.”

"Benar. orang tipe ini tidak tertarik dengan permintaan maaf Suzune. Itulah alasan kenapa tidak ada yang ditulis dalam pesan itu. Ini mengisyaratkan, dari sudut pandangnya, dia tidak peduli dengan kesombongan atau hilangnya sikap kesombongan yang suzune punya.”

“Aku tidak mengerti. Bukankah lebih baik mencegah Horikita terluka......? ”

Murid lain mungkin setuju dengan perasaan Ibuki tentang topik itu. Sudah jelas bahwa Ryūen berniat menargetkan Horikita, jadi X seharusnya bisa menyelesaikan situasi sebelum festival olahraga dimulai. Ada pilihan yang tersedia seperti mengubah kembali tabel partisipasi, atau mengirim file audio ke Ryūen untuk menghentikannya terlebih dahulu. Jika dia melakukan itu, Horikita tidak akan terluka.

"Bagaimana jika X bermaksud mengirim file audio ke sekolah?"

Jika kau tahu rencana musuh sebelumnya, strategi ini bisa digunakan demi menyelamatkan teman sekelasmu. Tapi jika ada keuntungan untuk tidak melakukan apa pun dan dengan sengaja mengabaikan rencana tersebut, bisa jadi kau mampu melakukan pukulan besar untuk Kelas C. Jika file audio diberikan kepada sekolah setelah rencana dilakukan, Kelas C, tidak diragukan lagi menjadi yang paling menderita. Jika ketahuan bahwa dia sengaja menggunakan permainan kotor melawan Horikita, dan kemudian mencoba memeras poin sebagai biaya ganti rugi, hasil terburuknya adalah Ryūen dikeluarkan.

Tapi sekarang sudah pertengah Oktober, kemungkinan masalah ini sudah hampir lenyap sepenuhnya. Jika Kelas D mengangkat topik lama seperti itu sekarang, penyelidikan itu sendiri tidak hanya akan sangat merepotkan, Kelas C pasti mampu menghancurkan semua bukti mereka dan merencanakan pembatalan Kelas D. Jadi kenapa X melakukan sesuatu seperti itu?

“Cara bertarung yang naif ini sudah menyelamatkan kita sepenuhnya secara kebetulan. Jangan-jangan, anggap saja dia belum sepenuhnya memanfaatkan asetnya? Dia melenceng dari jalannya demi mendapatkan bukti ini, tapi kemudian mulai bertindak pasif. Jika Horikita-shi sudah membayar poin pribadi kepada Ryūen, kita menang, dan itu akan menjadi kekalahan X.”

Kaneda menganalisa situasi dan sampai pada kesimpulan ini.

Karena X telah belajar tentang strategi mereka sebelum festival olahraga, maka ia pasti memiliki kemenangan penuh selama festival.

"Itu salah. X sudah menemukan cara yang bagus untuk menggunakan bukti dengan sengaja tidak menggunakannya. Bahkan jika Suzune membayar dengan poin pribadi sebelumnya untuk menebus kesalahannya, dia bisa dengan mudah menggunakan file suara sebagai bukti untuk mengambilnya kembali. Dia bisa memasukan pesan seperti 'Jika kau tidak mengembalikan poin pribadinya, masalah ini akan kusebarkan.'”

"Maksudmu, dia tahu bagaimana menggunakan ancaman, tapi dia sengaja tidak menggunakannya?"

“Ya, dan dia bahkan mengizinkanku memaksa Suzune bersujud. Bersujud, tidak seperti poin pribadi, bukan sesuatu yang punya nilai berbentuk angka. hanya dalam bentuk fisik. Kau tidak bisa membatalkan atau membalikkannya, kan?”

Dengan kata lain, inilah yang menjadi inti dari semua itu.

Satu-satunya tujuan  X  adalah:

"Itu artinya, X menyambut baik ide bermain-main dengan Suzune."

Dia sudah menggunakan bukti berharga yang diperoleh dari mata-mata untuk tujuan itu sendiri.

"Situasi semacam ini... Aku tidak mengerti. Kelas C diselamatkan oleh X, yang bahkan tidak kita kenal.”

Ryūen berbeda dari Ibuki. Dia tahu kenapa X melakukan hal seperti itu.

"Kuku...... maksudnya, dia tidak berniat menunjukan dirinya."

Selama Ryūen menelusuri sumber file audio, X dari Kelas D akhirnya akan dipaksa menunjukkan wajahnya.

Jika Ryūen cukup putus asa, dia bahkan bisa meminta sekolah, yang mengelola semua ponsel, untuk memberinya email dan catatan panggilan, dan dia kemudian akan menyelidiki dan menemukan identitas X secara menyeluruh.

Pada saat yang sama, dia tidak terobsesi untuk naik ke Kelas A berat X. Dia tidak merasa seperti X  yang punya keinginan untuk bergerak ke atas, inilah kesimpulan yang Ryūen dapatkan.

Pada saat yang sama, dia juga sampai pada kesimpulan lain.

“Yah, kita sudah sedikit melenceng, jadi kembali ke intinya. Aku tidak yakin rencana apa yang dia gunakan, tapi kenyataannya tetap bahwa ‘X adalah seseorang yang berpikir sepertiku’, dan dia sudah menjadikan seseorang di kelas ini sebagai mata-mata untuknya. Karena jika tidak, dia tidak bisa mendapatkan file audio ini. Tapi, identitas X yang sebenarnya akan tetap tersembunyi bahkan jika kita menemukan mata-mata. Jika mata-mata tahu identitasnya, permainan ini akan berakhir saat aku menemukan mereka. Karena itu, untuk bisa melakukan pengintaian, pesan atau saling komunikasi diperlukan. Meskipun bukan tidak mungkin mereka menggunakan surat-suratan untuk berkomunikasi, metode itu akan sangat terbatas dan tidak efisien.”

“Tapi tidak ada bukti dari ponsel siapa pun. Apa kau yakin tidak melewatkan detail apa pun?"

"Tentu saja. Aku melihat ponsel sebagai masalah prinsip. Itu lilakukan hanya untuk melihat respon pelaku.”

"Hah? Kau bilang kau tahu siapa mata-mata itu jika kau hanya melihat ponselnya, kan?"

“Pikirkan baik-baik. Jika kau adalah mata-mata, apa kau akan mengambil risiko membiarkan pesan mencurigakan di ponselmu?”

“Tentu saja tidak. Makannya aku berpikir memeriksa ponsel seperti ini mebuang-buang waktu saja.”

"Benar. Jika kau memikirkannya, memeriksa ponsel kelas hanya akan membuang-buang waktu. Tidak sulit menghancurkan bukti. Bahkan jika mata-mata itu tidak berpikir menghancurkannya, X pasti akan memerintahkan mereka melakukannya. Dengan kata lain, mata-mata itu berusaha terlihat tidak bersalah dengan membiarkanku melihat ponsel mereka. Oleh karena itu, mereka yang menolak menunjukkannya padaku ponsel mereka jelas tidak bersalah, dan mata-mata itu tidak akan mengambil tindakan seperti itu.”

Karena itu, mereka yang menolak membiarkan Ryūen melihat isi ponsel mereka seperti Nishino dan yang lainnya, akan keluar dari jangkauan kecurigaannya. Jika dia bukan mata-mata, pada akhirnya tidak masalah jika mereka dicurigai. Itu adalah aksi yang mungkin hanya karena ada orang-orang yang mampu berbicara. Tentu saja, Ryūen bisa saja hanya memeriksa isi ponsel mereka untuk menghilangkan kemungkinan kecil bahwa dia salah, tapi itu hanya akan memprovokasi teman-teman sekelasnya. Taktik ini dipilih karena dia mengandalkan kekuatan untuk mendominasi kelas. Bahkan jika dia harus menanggung beberapa risiko, pada akhirnya rencananya berhasil.

Karena dia tidak melihat isi setiap ponsel dalam waktu yang lama, dia telah secara efektif memberi tahu murid Kelas C bahwa dia sama sekali tidak melihat detail kehidupan pribadi mereka. Apa yang Ryūen cari di ponsel bukanlah ada atau tidak adanya pesan yang mencurigakan, melainkan dia ingin melihat sejauh mana mata-mata itu dikuasai oleh pasangan tidak terlihat mereka, dan seberapa takut mata-mata kepada Ryuuen. Dan apa yang dia lihat dari itu...

"Aku akan bertanya pada mata-mata itu lagi."

Ryūen melihat mata dan gerakan masing-masing orang satu demi satu.

“Apa kau takut pada X yang tidak dikenal? Atau aku? Tanyakan pada dirimu mana yang benar-benar mengerikan untuk dijadikan musuh. Apa kau sudah membuat kesalahan? Ingat ketika upacara penerimaan selesai? Apa yang terjadi pada orang-orang yang menentangku? Benar, Ishizaki?"

“Y-Ya……”

Ishizaki sedikit ketakutan setelah dipanggil. Albert yang selalu dengan tenang berdiri di sisi Ryūen juga memberi sedikit reaksi. Pada awalnya, tidak ada yang menyetujui perintah Ryūen. Baik Ishizaki dan Albert awalnya memprotesnya, tapi pada akhirnya mereka menyerah pada 'kekerasan' yang dilakukan Ryūen. Ishizaki punya pengalaman bertarung yang jauh lebih banyak, sementara Albert punya kekuatan fisik yang jelas lebih unggul.

Namun pada akhirnya, kedua orang inilah yang jatuh ke tanah.

“Kekuatan terkuat di dunia adalah 'kekerasan' ketika itu sepenuhnya dilakukan. Aku tidak akan menyerah pada kekuasaan. Bahkan jika sekolah mencoba mengeluarkanku, aku pasti akan membunuh pengkhianat sebelum itu terjadi. Apa kalian mengerti maksudku? Jika aku akhirnya diusir karena pengkhianatan ini, aku akan memastikan untuk menginjak-injak hidup mata-mata ini seperti serangga.”

berbeda dari mantan ketua dewan murid Horikita atau ketua dewan murid saat ini, Nagumo yang pernah mendominasi gedung oleh raga dengan kekuasaannya.

Sebagai gantinya, Ryūen bergerak maju dalam hiruk-pikuk kekerasan.

“Aku akan menerima pengakuan dari pengkhianat sekarang, tapi ini akan menjadi kesempatan terakhirmu. Jika kau mengaku sekarang, aku berjanji tidak akan terlibat dalam pengkhianatan ini, dan bersumpah akan mencegah teman sekelasmu menuduhmu di masa depan nanti. Seperti yang kukatakan di awal, jika kau percaya dan menurutiku, aku akan memimpin kelas ini menuju Kelas A. Selama kau mengikutiku, aku akan melindungimu.”

Ryūen turun dari podium dan berdiri di depan kelas, mengamati mata teman-teman sekelasnya.

Kata-katanya memberikan perasaan bahwa itu ditujukan kepada seluruh kelas, dan bukan hanya mata-mata saja yang dipertanyakan.

"Apa kalian mengerti? Apa untungnya menyinggung perasaanku?"

Dia menatap mata teman-temannya satu per satu. Bagi Ryūen, ini adalah cara termudah untuk menemukan si pengkhianat.

Kemudian, Ryūen akhirnya berjalan ke seorang murid perempuan dan berdiri di depannya.

Tentu saja, ini bukan kebetulan. Ryūen sudah menetapkannya sebagai target sejak awal.

"Ada apa? Bisakah kau tidak melihat mataku?”

"Ah...... A-A...... Aku......"

Nafasnya tidak teraturan, dan dia memiliki wajah yang hampir menangis.

“Kuku. Itu kau, Manabe, pengkhianat Kelas C.”

Sebagian besar murid tidak membayangkan itu dalah dirinya, dan tidak bisat memahami petunjuk yang tak terduga ini.

“Jangan takut, Manabe. Kau tidak mengambil inisiatif untuk melaporkannya padaku, tapi aku tahu kau adalah mata-mata sejak awal. Raut wajahmu sudah buruk sejak awal. Tidak ada cara menyembunyikannya.”

Ryūen merapikan rambutnya di dekat telinganya dan menyentuh wajahnya. Manabe mulai gemetar seolah-olah dia terkena dingin yang ekstrem.

"Tolong. Maaf, aku minta maaf, aku---”

“Jangan khawatir, aku akan memaafkanmu. Aku akan menangani ini dengan kemurahan hati. Jadi ayo kita dengarkan. Katakan padaku sifat sebenarnya dari X yang membuatmu mengkhianatiku.”

Ryūen berbalik dari Shiho Manabe dan melirik tajam ke teman-temannya Nanami Yabu dan Saki Yamashita.
***

Setelah menahan semua orang di kelas C, Ryūen akhirnya mengizinkan sebagian besar kelas pergi.

Mereka yang tinggal di kelas dimulai dari Ryūen, Ishizaki, Kaneda, Ibuki, dan tiga pengkhianat.

"Pertanyaannya: Apa kalian tau identitas orang yang memberimu perintah?"

Manabe dan yang lainnya menyangkal pertanyaan itu dengan menggelengkan kepala mereka dari sisi ke sisi.

“Baiklah, pertanyaan selanjutnya: Apa alasanmu mengkhianati Kelas C? Jelaskan itu padaku."

"Itu..."

“Tidak ada gunanya menyembunyikannya sekarang. Jika kalian memilih menyembunyikannya, maka besok adalah hari terakhir kalian menjadi teman sekelasku dan kalian akan diperlakukan tidak lebih dari belatung.”

Dalam situasi di mana tidak ada lagi jalan keluar, Manabe memutuskan berterus terang.

“K…… Karuizawa dari Kelas D, apa kau kenal....?”

"Hanya nama dan wajahnya saja, dia pacar Hirata kan?"

"Gadis itu, dia bertingkah kuat sekarang... tapi aku percaya dia adalah korban bulli dulu."

“Oh? Lalu?"

“Rika diperlakukan dengan sangat buruk oleh Karuizawa, jadi kami berusaha membalasnya...”

Meskipun Manabe takut, dia berbicara tentang kejadian yang terjadi selama musim panas di kapal pesiar. Dari bagaimana mereka menjadi anggota kelompok yang sama dalam ujian khusus, sampai bagaimana mereka mengetahui tentang masa lalunya yang buli, bahkan aksi balas dendam dengan kekerasan yang mereka lakukan. Dia berbicarakan segalanya.

Dia juga mengatakan bahwa alasan mereka menjadi mata-mata adalah karena ancaman yang dibuat dari pihak lain dengan bukti.

Jika fakta-fakta itu bocor, mereka akan dikeluarkan tau bahkan lebih buruk. Dan, tentu saja, mereka akan mendapatkan amarah Ryūen juga. Dia bilang itu adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk menghindari hukuman baik dari sekolah maupun Ryūen.

"Benar. Kalian sangat bersenang-senang.”

"Apa kalian ini bodoh? Mereka diancam oleh seseorang yang bahkan tidak mereka kenal. Apa kalian tidak tahu jika sesuatu mungkin menjadi lebih buruk dari pada ini?”

“Jangan salahkan mereka, Ibuki. Ketika manusia terpojok, mereka berubah menjadi makhluk yang lemah.”

Ryūen memutuskan untuk memaafkan Manabe dan tidak terus-menerus menuduh mereka.

"Jadi intinya: Apa ada orang lain yang menyaksikan kejadian saat kalian menggertak Karuizawa?"

Manabe mengangguk ke pertanyaan itu dan mengucapkan nama-namanya.

"Pada saat itu, kami dilihat oleh dua murid dari Kelas D. Yukimura-kun dan Ayanokōji-kun."

Nama dua murid muncul.

“Ada foto yang dikirim untuk kami setelah itu. Foto saat kami terlibat dengan Karuizawa.”

“Jadi begitulah. Aku sudah menduga akan ada bukti karena kau sedang diancam, tapi foto yang diambil saat itu... Apa yang terjadi dengan fotonya?”

“Aku menghapusnya. Jika seseorang melihatnya... Kami akan...”

"Jadi semuanya sudah mencapai kesimpulan."

“Jadi itu jelas adalah Yukimura-shi dan Ayanokōji?”

Kata Kaneda, yang belum berbicara tentang situasinya sampai sekarang.

Dia adalah salah satu dari sedikit orang di Kelas C yang menurut Ryūen ada gunanya.

“Tunggu sebentar, Ryūen. Aku tidak tahu banyak tentang Yukimura, tapi aku tidak percaya Ayanokōji adalah orang yang mengendalikan Kelas D. Aku punya beberapa kesempatan berbicara dengannya beberapa kali, dan dia tidak menyerangku seperti orang semacam itu."


“Yukimura memang terlihat sedikit mencurigakan. Dia sepertinya cukup ahli di bidang akademik.” Ishizaki menambahkan.

“Bukankah mustahil  menyimpulan yang seperti itu? Ayanokōji selalu bersama Horikita. Selain itu, Ayanokōji sudah menyembunyikan kemampuannya berlarinya di festival olahraga. Aku pikir yang lebih mencurigakan dari keduanya adalah Ayanokoji.”

“Menurutku mereka berdua tidak ada hubungannya. Ayanokōji hanya punya kaki cepat dan Yukimura hanya punya nilai, kan? Menurutku ada lebih banyak lagi kelebihan dari dalang ini."

"Siapa lagi yang bisa melakukannya?"

“Ada beberapa orang yang sangat hebat di Kelas D. Seseorang seperti Hirata.”

"Orang itu? Aku berbicara dengannya cukup sering dan kupikir dia bukan orang yang seperti itu.”

Ryūen tersenyum sedikit pada teman-teman sekelasnya yang berbicara bebas.

Tapi pada saat berikutnya, tangannya jatuh ke meja.

"Diamlah sedikit."

Ryūen tertawa kecil saat ruangan itu langsung tertutup dalam keheningan dan teror.

"Apa aku meminta satu kata pun dari pendapatmu? Aku akan menemukan orang yang memanipulasi Kelas D dari bayang-bayang. Kalian semua hanyalah pionku untuk tujuan itu. ikan kecil harus bertindak seperti ikan kecil. Melihat faktanya, hanya Ayanokōji atau Yukimura mengambil foto. Tapi, salah satu dari mereka pasti adalah dalangnya masih tidak masuk akal. Mereka mungkin juga ada di bawah pengaruh seseorang."

T/N: ikan kecil bisa diartikan sebagai panggilan untuk orang yang lebih rendah atau orang yang tidak berguna.

Inilah masalah utamanya. Ada kemungkinan bahwa salah satu, atau keduanya, sudah mengambil foto situasi yang mereka pikir bisa berubah menjadi kelemahan Kelas C, dan kemudian meminta saran dari orang yang menjalankan berbagai hal di belakang layar.

“Tapi, Ryūen. Khususnya tentang Ayanokōji, bukankah kita harus curiga? ”

Bersiap-siap untuk menimbulkan kemarahan Ryūen, Kaneda berani memberikan beberapa masukan karena dia yakin itu perlu.

"Benar."

Mengenai Ayanokōji, dia curiga karena hubungannya dengan Suzune Horikita.

Namun, ini merupakan penyebab kecurigaan dalam dirinya sendiri.

Tidak menyenangkan bila mengambil keputusan dengan mudah seperti itu.

Gagasan bahwa laki-laki yang dekat Horikita Suzune juga adalah orang yang memanipulasi segalanya sebagai dalang Kelas D. Jika dia bermaksud menggunakan Suzune sejak awal, dia tidak akan pernah memilih taktik ini.

“Dia menyembunyikan dirinya sendiri di depan mata, ya? Tidak, aku tidak bisa membayangkan itu.”

Perasaan putus asa itu tidak menyenangkan.

"Aku akan memanfaatkannya."

Jika situasi sudah berkembang sedemikian rupa, sisanya tentu hanya tinggal satu dorongan.

Untuk membuat langkah selanjutnya, Ryūen mengirim pesan ke orang yang terdaftar di ponsel.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter