Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Vol 6 Chap 2 Bahasa Indonesia

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Volume 6 Chapter 2 Bahasa Indonesia


Kertas Undian


Suatu hari, suasana berat menggantung di kelas.

Bukan berarti atmosfer itu negatif, tapi cukup tegang.

Yang pertama merasakan ini adalah guru Kelas D, Chabashira Sae.

"Silahkan Duduk. Kalian semua sepertinya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. ”

Begitu dia masuk ke ruang kelas, suasana menjadi lebih berat dan dengan cepat menjadi dingin.

Melihat perbedaan suasana kelas jika dibandingkan dengan sesaat yang lalu, Chabashira-sensei tidak bisa menyembunyikan keheranannya.

“Semua orang terlihat sedikit serius. Kalian sama sekali tidak seperti murid dari Kelas D. ”

"Karena hari ini pengumuman hasil ujian tengah semester, kan?"

Ike berbicara, ada sedikit ekspresi gugup di wajahnya. Chabashira-sensei menjawab dengan senyuman licik.

"Benar. Kau akan dikeluarkan segera setelah kau tidak lulus ujian tengah semester atau ujian akhirmu. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, jadi kalian semua harus tetap mengingatnya. Hal yang wajar jika kalian menjadi gugup atau kesal, tapi tidak satupun dari kalian yang menunjukkan tanda-tanda itu. Aku senang melihat kalian semua tumbuh dewasa. ”

Chabashira-sensei menganggap ini sebagai sikap yang baru, lebih percaya diri memang terpuji. Namun, kami hanya siap secara psikologis, nilai ujian tidak akan sebagus tekat kami.

Chabashira-sensei sengaja mengatakan ini pada kami, tentu saja.

“Terlepas dari rasa percaya diri kalian, hasil dari kegagalan kalian, kalian akan dikeluarkan. Sekarang, aku akan membagi hasil ujian tengah semester kali ini. Pastikan nama dan nilai kalian tidak tertukar. ”

Justru karena teguran ini serius, maka sebenarnya guru sedang memperingatkan kami. Jika seseorang tidak mendapatkan nilai mereka dan membuat kericuhan, sekolah tidak akan ragu untuk menggunakan tindakan kasar dengan banyak bukti dari kamera yang dipasang di setiap ruang kelas.

“Tentu saja kalian bisa melihat semua nilai tesnya.”

"Ya, itulah salah satu aturan di sekolah ini."

Terlepas dari kemauan murid untuk mengertahui informasi pribadi mereka yang ditampilkan, sekolah juga memposting semua nilai murid di Kelas D melalui papan tulis. Tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Hasilnya selalu diberitahu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sama seperti tabel kinerja milik salesman yang diposting untuk seluruh perusahaan, itu menggolongkan orang-orang berperingkat tertinggi hingga orang-orang berperingkat terendah.

Pada saat seperti ini, mereka yang memiliki nilai sangat bagus dan sangat jelek akan menjadi orang yang mencolok. Mereka yang tertinggal akan merasa cukup tersiksa dan menjadi sasaran pembulian dan penghinaan dari lingkungan mereka.

“Kalian bisa mengukur nilai kelulusan rata-rata untuk semua mata pelajaran dimulai dari 40 poin atau lebih. Mereka yang tidak memenuhi standar nilai ini akan dikeluarkan. ”

Batas nilai untuk lulus ujian pada dasarnya sama dengan batas nilai yang digunakan untuk ujian sebelumnya, tetapi situasi yang ini sedikit berbeda.

“Nilai yang diumumkan mulai sekarang juga akan mencerminkan hasil kalian di festival olahraga. Mereka yang meraih nilai tinggi dan melakukan berbagai keberhasilan selama festival akan berpotensi mencapai nilai 100. Dengan kata lain,  nilai ini akan dianggap sebagai nilai maksimum. ”

Sepuluh murid yang mendapatkan hasil terburuk selama festival olahraga harus dikurangi 10 poin pada ujian tengah semester mereka. Kelas D Sotomura memiliki kinerja terburuk di seluruh kelas, jadi dia adalah salah satu dari orang-orang yang harus mendapatkan nilai 10 poin lebih tinggi dari yang dibutuhkan murid lainnya.

Meskipun begitu, murid yang tidak menerima hukuman seperti Ike dan Sudo masih memiliki ekspresi yang sangat kaku. Suatu sistem di mana putus sekolah akan segera didapatkan hanya karena satu tanda gagal memberikan beban berat bagi semua murid baik secara fisik maupun mental.

Para murid terlihat gugup melihat hasil tes yang perlahan-lahan ditulis di papan tulis.

Namun, tetangga sebelahku, Horikita, tidak terburu-buru melihat nilai.

“Whoa whoa whoa! Tidak mungkin!"

Peringkat hasil dimulai dengan nilai terendah. Dengan kata lain, Sudō, yang muncul di posisi terakhir saat ujian tengah semester dan ujian akhir semester pertama adalah dugaan semua orang yang sudah dipikirkan pasti muncul di posisi terakhir. Namun, nama pertama yang ditulis adalah Haruki Yamauchi beserta nilainya dalam berbagai mata pelajaran. Berikutnya adalah Ike Kanji, diikuti oleh Inogashira, Satō, dan Sotomura. Penempatan Sotomura biasanya lebih tinggi, tetapi peringkat yang lebih rendah mungkin diakibatkan oleh hukuman yang diberikan saat festival olahraga.

"Apa! Aku di bawah? Serius?"

Beruntung dia mendapatkan nilai lebih dari 40 poin dalam setiap mata pelajaran. Dengan yang terendah 43 poin dalam bahasa Inggris. nilai rata-ratanya hampir 50 poin. Yamauchi ketakutan setengah mati ketika dia melihat betapa dekatnya dia dengan ketentuan nilai. Dia berkeringat dingin di bagian wajah dan lehernya.

Yang mengejutkanku, nilainya Sudo. Hingga hari ini, ia secara konsisten ditempatkan di bagian paling bawah kelas. Namun, ujian kali ini, ia naik 12 tingkat. Jika mempertimbangkan poin yang didapatnya dari festival olahraga, sudah jelas kenapa bisa seperti itu. Terbukti dari semua ekspresi terkejut teman-teman sekelas kami. Nilai rata-ratanya adalah 57 poin.

“Aku memecahkan rekor pribadiku sekaligus! Lihat? Hampir 60 poin! ”

Begitu Sudō menerima hasilnya, dia mulai berteriak dan berdiri, menari dengan gembira.

“Jangan terlalu berisik hanya karena peringkat nilai itu. Kau melakukan yang lebih baik hanya karena festival olahraga. Jika kau bertanya padaku, sistem ini benar-benar bermasalah. ”

"Hm, yah..."

Sudo dengan tenang kembali ke tempat duduknya, terlihat putus asa berkat kata-kata kasar Horikita.

Dia seperti anjing yang setia. Menanggapi perintah tuannya dengan cepat dan melaksanakannya.

"Sudō bahkan mencetak rata-rata 57 poin... Kelompok belajar sepertinya berhasil."

Bahkan dalam pelajaran terburuknya, bahasa Inggris, Sudō berhasil mencetak 52 poin.

Aku dengar Horikita mengajari Sudō dan yang lainnya sekali lagi untuk ujian tengah semester ini. Aku tidak diajak bergabung untuk mengajari mereka, tapi itu bisa dimaklumi. Dari sudut pandang murid lain, aku seharusnya tidak terlihat seperti individu yang sangat cerdas. Selain itu, Horikita sendiri ragu-ragu tentang kemampuan akademisku.

“Pengaruh kelompok belajar memang sangat besar. Jika kalian tidak siap menghadapi ujian formal, kalian akan gagal. Namun, kali ini keberhasilannya mungkin karena faktor lain. Ujian tengah semester itu sendiri terdiri dari pertanyaan yang lebih sederhana, yang tidak terlalu menyakitkan. ”

"Mungkin benar."

Ujian tengah semester ini, tidak diragukan lagi, sedikit lebih mudah daripada ujian biasanya. Meskipun ada beberapa pertanyaan yang terlihat salah tempat. Aku benar-benar ragu  kalau sekolah sudah membuat kesalahan. Karena ini, kelompok belajar berada dalam posisi yang cukup aman setelah ujian berakhir, jadi jelas bahwa Horikita tidak akan cemas. Sebaliknya, Yamauchi, yang ada di posisi terakhir, sepertinya tidak mampu menyembunyikan ketidakterimaannya karena sudah kalah dari Sudou dengan selisih yang sangat besar. Meskipun Yamauchi dan Sudo sama-sama menerima ajaran Horikita untuk ujian tengah semester, Sudō telah belajar dengan giat bersama Horikita bahkan selama liburannya. Kekuatan cinta itu menakutkan. Sedikit demi sedikit, kemampuan akademis Sudo mulai membaik.

“Rata-ratamu 64 poin. Biasa sekali. Sudah waktunya kau menghasilkan sesuatu yang nyata. ” Kata Horikita

"Aku sudah melakukan yang terbaik." Aku menjawab seperti itu.

Karena aku biasanya ditempatkan di sekitar 50 poin, jika aku tiba-tiba mencetak 100 poin, aku akan terlibat dalam sejumlah masalah.

Tinggal melakukannya secara perlahan dan pasti.

Setelah mengatakan itu, seharusnya tidak masalah bagiku untuk menaikkan nilaiku lebih tinggi di lain waktu, mengingat melompat Sudō yang dibuatnya. 

"Aku tahu kau bermain licik di sini, tidak mungkin lagi mendengarkan dan mempercayai apa pun yang kau katakan."

"Aku tidak yakin apa kau pernah mendengarkanku.”

"Kau benar."

Dan dia sejujurnya setuju denganku...

Yang dikatakan: karena soal ujian tengah semester cukup sederhana, sejumlah besar nilai sempurna menyusun nama-nama di posisi akhir. Kelas lain pasti juga mendapat nilai yang sangat tinggi dalam ujian.

“Jumlah orang yang dikeluarka karena ujian tengah semester ini adalah nol, seperti yang kalian lihat. Kalian semua lulus ujian tanpa ada masalah. ”

Chabashira-sensei memuji para murid dengan terus terang. Sepertinya tidak perlu mengkritik kami. Sikapnya sangat sopan.

"Tentu saja! Aku menantikan poin pribadi bulan depan, Sensei! ”

Dengan siku di atas meja, Sudō yang gembira berbicara blak-blakan.

Chabashira-sensei membiarkan sikapnya dan mengabaikannya, tanpa banyak senyum.

“Ya, meskipun kerugian yang kalian alami selama festival olahraga, kalian semua pasti menantikan sejumlah poin pribadi di bulan November. Dalam tiga tahun sejak kedatanganku di sekolah ini, aku belum pernah melihat Kelas D berhasil mempertahankan keutuhan jumlah muridnya, tapi kalian sudah melakukannya. Kalian pasti sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik."

Chabashira-sensei memuji kami. Sampai hari ini, dia tidak pernah menunjukkan sikap yang seperti ini di kelas. Karena ini, banyak murid yang sangat ragu menerima maksud tersembunyi dari situasi langka ini.

"Rasanya canggung saat dipuji."

Orang-orang yang jarang dipuji sepertinya lebih malu ketika mereka menerimanya.

Horikita, bagaimanapun, tidak menunjukkan tanda-tanda tenang. Memang benar tidak ada yang gagal dalam ujian, tetapi Horikita tahu bahwa Chabashira-sensei bukanlah tipe orang yang akan mengakhiri pembicaraan dengan pujian.

Semakin Chabashira-sensei melepaskan sikap lembut ini, semakin menakutkan situasinya.

Rambut ponytailnya berayun lembut saat suara langkah kaki mulai berdetak.

Sensei berjalan dan perlahan mulai melewati di antara deretan meja.

Ketika Chabashira-sensei tiba di kursi Ike, dia berhenti dan berkata:

“Kau lulus ujian tanpa masalah. Aku akan bertanya lagi, apa pendapatmu tentang sekolah ini? Aku ingin mendengar apa yang kau katakan. ”

“Ini... Ini sekolah yang bagus. Aku bisa mendapatkan banyak uang saku jika semuanya berjalan dengan baik. Makanan dan semuanya lezat dan kamarnya bagus. ”

"Lalu," lanjutnya, menghitung dengan jari-jarinya.

"Ada game yang dijual, film dan karaoke, dan gadis-gadis imut..."

Hanya poin terakhir yang tidak ada hubungannya dengan sekolah itu sendiri.

"Hm... apa aku berbicara sesuatu yang salah?"

Ike terlihat menjadi semakin stres saat dia berdiri di sana dalam keheningan. Dia melihat ke arah Chabashira-sensei seolah meminta instruksi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Tidak, dari sudut pandang seorang muird, sekolah ini tidak diragukan lagi adalah sekolah yang hebat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai seorang guru, aku juga merasa sekolah ini memberikan banyak manfaat yang tak terbayangkan bagi para muridnya. Semuanya terasa tidak masuk akal ”

Sensei mulai bergerak lagi, melewati tempat duduk di ujung barisan, dan kemudian menjangkau ke sisiku.

Suasananya seperti: di mana guru akan muncul dan mengajukan kalimat: Angkat tangan kalian.

Tolong jangan berhenti di mejaku.

Untungnya, harapanku menjadi kenyataan ketika Chabashira-sensei berhenti di depan meja Hirata.

"Hirata, apa kau sudah terbiasa dengan sekolah ini?"

"Ya. Aku punya banyak teman dan aku menjalani kehidupan sekolahku dengan sangat memuaskan. ”

Hirata memberikan jawaban yang handal dan kuat.

"Kau berisiko dikeluarkan jika kau membuat satu kesalahan, apa kau tidak kesal?"

"Aku akan menyelesaikan ini bersama seluruh kelas."

Hirata, yang selalu memikirkan teman-teman sekelasnya, berdiri teguh dengan pendiriannya.

Setelah mengelilingi  kelas, Chabashira-sensei kembali ke depan.

Dia sepertinya mencoba mengkonfirmasi sesuatu, dan aku tidak begitu mengerti apa itu.

Dia mungkin ingin tahu lebih banyak tentang semangat dan suasana kelas. Apa itu untuk melihat apakah kami mampu menangani ujian yang belum datang?

“Seperti yang kalian tau, akan ada kuis delapan mata pelajaran minggu depan sebagai bagian dari ujian akhir semester kedua. Aku pikir beberapa dari kalian sudah mulai belajar untuk ujian, tapi aku akan memberitahu kalian lagi. ”

“Eh !? Kami baru saja menyelesaikan ujian tengah semester. Ada ujian lain?"

Cuaca mulai dingin, dan murid yang tidak pintar belajar akan mulai mengalami jadwal yang terlalu padat. Akan ada rentetan ujian dalam waktu dekat dan murid tidak akan bisa melarikan diri. Khususnya, jaraknya di antara ujian semester kedua terlalu singkat.

"Masih ada satu minggu lagi dan aku belum mendengar apa-apa tentang itu!"Ike berteriak. 

Tapi para guru dari setiap mata pelajaran selalu memberi tahu kami tentang kuis kecil yang akan datang ini. Aku tidak bisa berbuat apa pun selain mendesah pada ketidaktahuannya.

“Bilang kalau kau belum pernah mendengarnya tidak akan mengubah apapun, aku ingin memberitahumu sebaliknya, tapi aku tidak bisa. Apapun itu, jangan terlalu khawatir, Ike-kun. ”

Chabashira-sensei tersenyum seolah dia memperluas bantuannya untuk kelas. Namun, semua orang tahu; lebih baik jangan berpikir bahwa itu murni karena kebaikan semata.

“Benarkah, sensei? Kau membuatku khawatir. "

Chabashira-sensei mengalihkan pandangannya dari Ike dan melanjutkan:
“Pertama-tama, kuis akan mencangkup 100 pertanyaan dengan total 100 poin, tetapi isinya akan berada pada level yang sama dengan murid SMP kelas ketiga. Artinya, kuis ini berfungsi sebagai sarana bagi kami untuk mengonfirmasi apakah kalian masih mengingat dasar-dasarnya. Selain itu, seperti ujian-ujian semester pertama, kuis ini tidak akan mempengaruhi nilai kalian. Bahkan jika kalian mendapatkan nilai nol atau 100, itu tidak masalah. Itu akan digunakan semata-mata untuk menentukan kemampuanmu saat ini. ”

“Oh! Ini ujian palsu! Itu luar biasa! ”

"Namun! Aku akan memberi tahu kalian terlebih dahulu, hasil kuis tentu tidak ada gunanya. Kenapa? Itu karena hasil kuis ini akan berdampak besar terhadap ujian akhirmu selanjutnya. ”

Haruskah aku katakan kalau itu jelas adalah masalah atau sesuatu?

Sudah lama sejak festival olahraga selesai. Tentu saja proyek selanjutnya akan segera dimulai.

"Berdampak? Tolong jelaskan dengan cara yang bisa kami pahami. ”

Aku mengerti kenapa Sudo meminta penjelasan, tapi tidak ada gunanya melakukannya. Chabashira-sensei sengaja memberikan informasi sedemikian rupa dengan maksud menyebabkan ketidaknyamanan. Kemungkinan dia menunda menjelaskan semuanya kepada kami sampai pada saatnya.

“Kalau saja aku bisa membuatmu mengerti sedikit lebih baik, Sudō. Sekolah sudah memutuskan bahwa hasil kuis ini akan digunakan sebagai dasar bagimu untuk berpasangan dengan orang lain di kelas. ”

"Pasangan?"

Hirata mempertanyakan kata yang paling tidak seharusnya.

"Benar. Pasangan yang dibuat dari kuis ini akan dipakai untuk menyelesaikan ujian akhir semester bersama-sama. Akan ada delapan mata pelajaran ujian akhir, masing-masing dengan 50 pertanyaan, dengan total 400 pertanyaan. Ada dua cara yang menentukan kegagalan dalam ujian akhir semester nanti. Cara pertama sangat mirip dengan apa yang sudah kalian semua alami. Semua mata pelajaran memiliki standar minimum 60 poin. Jika nilai akhir yang didapat pasangamu pada satu pelajaran di bawah 60 poin, maka kedua anggota pasangan akan dikeluarkan. Batas 60 poin ini adalah nilai gabungan dari kedua anggota. Sebagai contoh, jika Ike dan Hirata adalah pasangan, walaupun Ike mendapat nilai nol pada satu mata pelajaran, selama Hirata mendapat 60, tidak ada dari keduanya yang akan dikeluarkan. ”
T/N: 60 poin adalah hasil dari masing-masing nilai terendah 30 poin. Karena anggota pasangan nanti hanya dua orang, 30 + 30 = 60 poin. Maka, bagaimanapun caranya, satu kelompok harus dapat 60 poin.

Suara guncangan bocor keluar dari salah satu murid. Sepertinya, selama kau mendapatkan pasangan yang bisa diandalkan, ini akan menjadi ujian yang cukup mudah.

Namun,  apa cara kedua yang menentukan kegagalan ujian akhir semester?

Chabashira-sensei mengabaikan reaksi murid dan menjelaskan cara lain yang menentukan kegagalan ujian akhir.

“Tolak ukur baru yang harus kalian atasi demi menghindari drop out adalah total nilai keseluruhan. Walau kalian selalu mendapatkan nilai di atas 30 poin di semua delapan mata pelajaran, jika keseluruhan poin total kalian di bawah standar, kedua anggota akan dikeluarkan. ”
“Untuk persyaratan itu, apa total nilai keseluruhan juga dihitung berpasangan?”

"Benar. Total nilai keseluruhan akan didasarkan pada nilai total pasangan. Sekolah belum menemukan angka pasti total nilai yang akan diperlukan, tapi di tahun-tahun sebelumnya total nilai yang dibutuhkan sekitar 700.”

Berbagi nasib yang sama, yang berarti bahwa setiap pasangan akan berbagi poin dan keduanya akan dikeluarkan?

Membutuhkan 700 poin berarti - Karena dua orang mengerjakan hingga enam belas total mata pelajaran, rata-rata minimum untuk setiap mata pelajaran seharusnya sekitar 43,75.

Bahkan murid dengan keunggulan akademik yang diakui, seperti Horikita atau Yukimura, resiko tergantung pada siapa mereka harus bekerjasama.

"Kau bilang sekolah belum memilih angka pasti, kenapa begitu?"

“Jangan terlalu terburu-buru, Hirata. aku akan menjelaskan kriteria kelulusannya nanti. Ujian akhir semester nanti akan berlangsung selama dua hari, di mana kalian akan mengambil empat ujian per hari. Aku akan memberi tahu kalian urutan mata pelajarannya nanti. Jika ada ketidakhadiran karena sakit, sekolah akan berusaha membenarkan ketidakhadirannya. Jika dikonfirmasi bahwa murid yang sakit tidak memiliki alternatif lain agar bisa hadir,  murid akan diberikan nilai asal-asalan dari nilai yang diperoleh kuis. Namun, jika alasan ketidakhadiran tidak memuaskan, murid yang tidak hadir akan diberi nilai nol, jadi harap perhatikan. ”

Dengan kata lain, ini adalah kuis yang benar-benar tidak bisa dihindari. Bahkan sesuatu seperti kondisi fisik juga merupakan sesuatu yang ingin diatur oleh sekolah.

“Aku terkejut, kalian mulai terlihat sedikit mirip dengan murid yang sebenarnya di sekolah ini. Jika ini adalah awal tahun, kau pasti akan menjerit dan menangis ketika mendengar persyaratan ujian ini. ”

"... Aku sudah terbiasa, kami harus melakukan semua hal sampai saat ini."

Ike merespon dengan tegas. Meskipun sangat kecil, seseorang bisa melihat kepercayaan diri dalam tindakannya.

“Pernyataan yang sangat percaya diri, Ike-kun. Mungkin ada beberapa dari kalian yang merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, aku akan memberi kalian semua nasihat. Kalian semua baru saja melewati semester pertama di tahun pertama kalian, lebih baik untuk tidak berpikir bahwa kalian telah menguasai segalanya tentang sekolah ini. Di masa depan, kalian akan diminta untuk lulus ujian yang tak terhitung jumlahnya yang jauh lebih melelahkan daripada yang satu ini. ”

“Tolong, jangan mengatakan hal yang mengerikan, sensei.” Kata salah satu gadis itu dengan takut.

“Ini fakta. Misalnya, di masa lalu, ujian khusus ini, umumnya dikenal sebagai 'Paper Shuffle', satu atau dua kelompok murid yang dikeluarkan sekolah selalu muncul. Sebagian besar dari mereka cenderung berasal dari murid Kelas D. Ini jelas bukan ancaman. Aku hanya membicarakan fakta. ”

Masih ada beberapa orang yang optimis sampai titik ini, ketika sekarang kelas diselimuti atmosfer ketegangan.

Ujian khusus baru akan datang. Tapi apa itu 'Paper Shuffle'?”

“Pasangan yang jatuh di bawah standar, tanpa terkecuali, akan dikeluarkan. Jika kalian berpikir kata-kataku hanyalah ancaman, kalian bebas bertanya kepada senior. Kalian pasti sudah mulai membuat koneksi longgar dengan mereka sekarang. ”

Namun, meskipun isi dari ujian itu terlihat begitu suram, bukankah aneh kalau hanya ada satu atau dua kelompok murid yang dikeluarkan di tahun-tahun sebelumnya? Tergantung pada kelompoknya, ujian bisa berubah menjadi malapetaka.
Dengan kata lain, begitulah adanya.

“Aku akan menentukan hukuman untuk ujian formal. Meskipun seharusnya tidak perlu dikatakan, kecurangan dilarang. Orang yang berbuat curang akan segera didiskualifikasi dan dikeluarkan dari sekolah bersama dengan rekan mereka. Ini tidak terbatas pada ujian ini saja, tetapi juga berlaku untuk semua ujian tengah semester dan ujian akhir. ”

Kecurangan setara dengan drop out. Pada pandangan pertama, ini mungkin terlihat seperti hukuman yang sangat keras. Jika ini SMA biasa, hukumannya, paling tidak, mendapatkan nilai nol pada ujian akhir, atau peringatan dan skorsing. Namun, karena kegagalan ujian akan segera membuatmu dikeluarkan, tidak bisa disangkal bilakecurangan akan ditangani dengan cara yang sama. Signifikansi dari peringatan khusus ini adalah untuk mencegah murid berbuat kesalahan yang mengkhawatirkan dan inisiatif untuk mencontek.

Aku ingin menganggap bahwa inilah cara Chabashira-sensei memberi saran.

Namun, kunci untuk ujian ini adalah ujian sistem berpasangan.

"Aku akan memberitahu kalian tentang pasangan kalian ketika hasil kuis sudah keluar."

Setelah aku mendengar ucapan itu, aku segera memegang pensilku. Orang-orang yang duduk di sebelahku menyambar pensil mereka pada waktu yang hampir bersamaan, dan kelas mulai mencatat hasil tengah semester yang ditulis di papan tulis.

Aku menyempitkan mata ke wajah Chabashira dan mengembalikan pensil itu ke mejaku.

Aku segera merasa, tindakanku ini sangat kurang ajar.

“Setelah kuis? Jika kami mendapatkan orang berperingkat terendah, bukankah kami akan berada dalam masalah besar? ”

"Hei! Dipermalukan oleh Ken! Aku akan sungguh-sungguh belajar dan membalikkan situasi ini kembali kepadamu! ”

“Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak ingin kau lakukan. Kami berdua tahu kalau kau hanya berbicara besar di sini. Tentu saja aku akan belajar lebih giat. ”

Yamauchi menyatakan keengganan dalam hatinya dan dia membungkuk di mejanya. Meskipun mulut Sudo buruk, selama Horikita ada di sana, dia sepertinya bersedia untuk terus belajar tanpa henti, dan untuk alasan itu kata-katanya sedikit meyakinkan.

Yah, yang penting, sekolah tidak memberi tahu kami bagaimana pasangan kami akan diputuskan. Artinya, jika kami diberi tahu, kami mungkin bisa melakukan sesuatu sekarang yang akan memengaruhi siapa pasangan kami. Tidak diragukan lagi, beberapa murid yang pernah mengikuti ujian khusus dan ujian tertulis pasti sudah menyadari hal ini sekarang, termasuk Horikita yang sedang menulis sesuatu di sampingku.

“Satu hal lagi. Ujian akhir ini akan memaksa kalian memikirkan tes ini sebagai level yang berbeda. ”

"Satu lagi ... Bolehkah aku bertanya apa lagi yang belum kau sampaikan kepada kami?"

Hirata akhirnya menanyakan pertanyaan yang kami semua pikirkan.

"Benar. Pertama-tama, kalian akan diminta memikirkan dan membuatkan soal-soal ujian akhir kalian sendiri. Pertanyaan yang kalian tulis kemudian akan diberikan ke salah satu dari tiga kelas lainnya. Ini artinya, kalian harus meluncurkan 'serangan' terhadap salah satu kelas lain. Kelas yang mendapatkan soal dari kalian harus 'bertahan' dari serangan kalian. Kelas pemenang akan mendapat poin langsung dari kelas yang kalah. Kelas yang kalah harus membayar total 50 poin. ”

Dengan kata lain, kelompok kami harus mempertahankan standar kegagalan untuk mendapatkan nilai di atas 60 dalam setiap mata pelajaran, serta melampaui standar total nilai sekitar 700 poin. Dan bahkan, sebagai kelas kami harus mencapai nilai keseluruhan yang lebih tinggi dari total nilai kelas musuh.

“Apa mungkin lebih banyak atau lebih sedikit poin bisa didapat atau menghilang dalam beberapa gabungan? Katakan saja Kelas A menyerang Kelas B dan Kelas D menyerang Kelas A. Jika Kelas A berhasil menyerang dan bertahan, mereka akan mendapatkan total 100 poin kan? Tapi jika Kelas A menyerang Kelas D dan Kelas D menyerang Kelas A, akan ada peluang tidak ada poin untuk dibagi, bukankah begitu? ”

“Ada aturan yang jelas tentang ini. Poin Kelas yang dipertaruhkan akan diatur sementara menjadi 100 bukannya 50 jika menjadi pertandingan langsung seperti itu, jadi jangan khawatir. Selain itu, kejadiannya langka, tapi jika nilai total pada akhirnya sama, hasilnya akan menjadi seri dan tidak akan ada perubahan dalam jumlah poin. ”

“Terserah kami membuat dan mengajukan pertanyaan ke murid kelas lain… Aku belum pernah mendengar hal semacam itu. Bagaimana ini bisa terjadi? Jika kami membuat pertanyaan, mustahil bisa dijawab oleh murid lain, bukankah itu akan menjadi ujian yang sangat sulit, bukan tidak mungkin untuk semua orang? ”

"Ya! Seperti pertanyaan tentang hal yang tidak dipelajari atau khayalan, lalu pertanyaan jebakan! Ah, itu tidak mungkin! ”

Ike dan murid lainnya mulai mengangkat tangan mereka tak berdaya.

“Tentu saja, itu pasti akan berakhir seperti itu jika semuanya diserahkan kepada murid. Untuk alasan ini, pertanyaan yang kalian buat akan diperiksa secara ketat dan diputuskan oleh para guru. Jika ada soal yang berada di luar cakupan materi, atau tidak bisa dijawab dengan apa yang disediakan, kami akan meminta kalian mengubah pertanyaan. Melalui sistem revisi pertanyaan yang tidak bisa diterima secara konstan, kami akan memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang digunakan pada ujian sepenuhnya merupakan permainan yang adil. Karena ini, seharusnya tidak akan menjadi situasi yang kalian khawatirkan. Ike-kun, apa ini masuk akal untukmu? ”

"Yah, nyaris ..."

Dia mudah dibujuk, tapi tidak sesederhana itu.

"Membuat 400 pertanyaan ... jadwal yang cukup padat."

Ada sekitar satu bulan lagi sampai ujian dimulai. Satu orang yang membuat pertanyaan harus membuat sepuluh hingga lima belas pertanyaan setiap hari. Memiliki jumlah orang yang lebih banyak membuat pertanyaan bersama akan lebih mudah, tetapi kualitas keseluruhan pertanyaan akan lebih rendah. Sekolah sepertinya siap menyisihkan waktu bagi murid untuk membuat pertanyaan mereka sendiri, tetapi masalah yang kau buat mungkin perlu direvisi lagi. Setelah kau memperhitungkan "kekurangan" Kelas D, bulan depan mulai terlihat cukup suram. Hirata sepertinya memahami hal ini juga, ekspresinya muncul sebagai salah satu dari seseorang yang kewalahan.

“Jika pertanyaan dan jawaban tidak selesai tepat waktu, langkah-langkah bantuan akan dilaksanakan untuk kalian. Pertanyaan pra-siap kami sendiri akan digunakan pada saat batas akhir. Namun, perlu diketahui, lebih baik kalian mempertimbangkan kesulitan seperti apa pertanyaan yang disiapkan oleh sekolah. ”

Tindakan-tindakan pertolongan yang disebut itu terdengar bagus, tapi pada dasarnya itu seperti mengakui kekalahan.

Selain pekerjaan akademis mereka sendiri, para pemimpin kelas juga harus memikirkan dan menghasilkan pertanyaan yang harus diberikan kepada kelas-kelas lain. Ini terasa seperti ujian yang sangat sulit.

“Ketika saatnya kalian membuat pertanyaan kalian, kalian bebas bertanya kepada murid lain, mencari di internet, berkonsultasi dengan guru kalian, atau memutuskan di antara kalian sendiri. Tidak ada batasan aspek. Selama itu adalah pertanyaan yang diizinkan sekolah, kami tidak peduli dengan isinya. ”

“Kami harus membuat pertanyaan untuk ujian akhir ... Bagaimana jika tidak ada kelas lain yang memutuskan untuk menyerang salah satu kelas? Bukannya itu akan menjadi masalah? "

“Itu benar. Kalian mungkin penasaran tentang bagaimana menentukan kelas mana yang ingin kalian serang, tapi metode untuk menentukannya mudah dimengerti. Seorang murid hanya perlu mencalonkan kelas yang diinginkan dan aku akan melaporkannya ke atasan. Dan ketika lebih dari satu kelas menominasikan penyerangan kelas yang sama, sekolah akan memanggil perwakilan kelas untuk diundi. Sebaliknya, jika tidak ada yang sama, akan ditentukan bahwa kelas yang dinominasikan yang akan menjadi kelas yang kalian buatkan pertanyaan. Aku akan menerima nominasi kalian sehari sebelum tes yang diadakan minggu depan. Kalian harus berpikir hati-hati tentang kelas mana yang akan kalian serang sebelum waktu itu tiba. ”

Ujian yang seharusnya tentang membuktikan pengetahuanmu... Apa benar-benar menjadi pertarungan satu lawan satu antara kelas lain?

Dengan cara ini, mekanisme yang kompleks dilibatkan, sebagai tambahan untuk pertanyaan tentang berapa total nilai untuk setiap pasangan yang akan ditetapkan.

"Itulah instruksi tentang kuis dan ujian akhir. Sisanya pikirkanlah."

Chabashira-sensei menyimpulkannya dengan cara ini, dan dengan itu, pelajaran hari ini sudah berakhir.

***

“Aku akan memulai rapat, Ayanokōji-kun. Bisakah kau memanggil Hirata-kun ke sini untukku? ”

Horikita berdiri dan mengatakan ini segera setelah ujian khusus diumumkan.

"Aku mengerti."

Aku menjawab secara singkat, lalu mendekati Hirata. Horikita mendatangi Sudō pada saat bersamaan. Sampai sekarang, Kelas D secara perlahan mulai menerima ketertarikan dari kelas-kelas lain.

Sudah ada perubahan untukku juga.

Aku mampu bertahan di belakang layar sebelumnya, tapi sekarang aku mencolokan diriku sendiri dengan berlari di perlombaan estafet di festival olahraga. Tidak diragukan lagi, aku akan menarik perhatian Ryūen atau Ichinose ketika mereka mencari sosok di belakang Horikita.

Jadi, apa yang harus aku lakukan?

Jauhkan jarakku dari Horikita? Tiba-tiba menjauh darinya jelas akan menimbulkan kecurigaan.

Jadi, haruskah aku menunggu seperti biasa sampai situasinya berlalu? Selama aku berada di sekitar Horikita, aku pasti akan dicurigai.

Aku pikir pada akhirnya tidak akan ada perubahan meskipun aku melakukan sesuatu.

Di sisi lain, mungkin sebaiknya aku mengabaikan pikiranku yang sebenarnya, atau mungkin aku sedang menafsirkan secara berlebihan tindakanku sendiri.

Kemudian, aku berencana kembali di saat-saat seperti awal tahun.

Horikita hanya berteman dengan beberapa saja sejauh ini, jadi ada banyak situasi di mana terlibat dengannya pasti tidak bisa dihindari. Namun, semuanya pasti akan berubah di masa depan nanti. Dimulai dengan Sudō, kontaknya dengan orang-orang seperti Hirata dan Karuizawa secara bertahap meningkat.

Dan ketika itu terjadi, aku perlahan-lahan bisa memudar ke belakang layar.

Aku ingin mendapatkan hubungan yang lebih baik dengannya, tapi aku tidak berniat berada dalam belas kasihan Chabashira-sensei.

Jika mereka bisa menangani kelasnya sendiri, bebanku secara alami pasti akan berkurang.

Begitulah caraku melihatnya. Chabashira-sensei seharusnya tidak terlalu tergantung padaku agar Kelas D bisa naik. Secara logis, ia harus puas dengan murid yang mau mengerjakan tugas itu.

Lalu, kenapa dia tidak ragu-ragu mengancamku agar bisa mencapai Kelas A, aku tidak tertarik dengan niat Chabashira-sensei.

Namun, sekarang bukan saatnya melepaskan Horikita.

Jika aku angkat tangan di sini, Kelas D akan lepas kendali dan bahkan berpotensi runtuh. Aku akan mengumpulkan orang-orang di sekitar Horikita sebelum aku secara perlahan memudar.

Yang penting adalah prosedur, diikuti dengan persiapan dan hasil.

"Sepertinya, dia akan datang nanti."

Aku memanggil Hirata, yang sedang berbicara dengan teman sekelas, dan kemudian kembali ke tempat dudukku.

"Hal yang sama juga"

Sudo pergi ke kamar mandi. Dia adalah orang pertama yang keluar dari pintu.

"Jadi, apa yang harus kita pikirkan tentang ujian ini?"

Horikita bertanya sebelum waktunya yang lain mulai berkumpul.

"Kita tinggal mendengarkan kata-kata Chabashira-sensei saja. Ini pasti akan menjadi ujian yang lebih sulit daripada yang sebelumnya. Standar yang harus kita penuhi supaya tidak gagal sebenarnya mudah, tapi kalau tujuan kita sebenarnya mengalahkan kelas lain, total nilai kita harus tinggi. Ditambah lagi, sulitnya sistem berpasangan. Tambahkan juga fakta kalau kelas lain membuatkan soal untuk kita, dan kita bisa membayangkan kalau tingkat kesulitan ini pasti berlipat ganda. Pasti sangat sulit kalau kita melawan kelas yang membuat pertanyaannya lebih sulit daripada yang seharusnya. Tergantung bagaimana pertanyaannya, kalau jawabannya sama, tingkat tanggapan juga bisa langsung berubah. ”

"Ya... kali ini bukan hanya tentang membaca strategi, ini juga tentang menguji kemampuan kita membuat soal."

Tidak mungkin bisa maju dalam ujian ini jika kami hanya mengajar murid yang khawatir gagal, seperti yang kami lakukan dengan ujian tengah semester. Idealnya kami akan berusaha memahami kelemahan kelas lain, tapi terlihat meragukan jika mereka membiarkan kami tahu.

Tapi, ada banyak hal yang harus kami lakukan,  sama seperti apa yang harus kami lakukan saat ujian tengah semester.

Dalam artian, ujian ini bisa dianggap lebih mudah ketimbang ujian khusus selama musim panas. Sama seperti festival olahraga yang menguji kekuatan fisik kelas, ujian ini bisa dikatakan sebagai ujian yang menguji pengetahuan akademis kelas.

"Jika kau bisa melakukan sesuatu, kau harus melakukannya. Lagi pula, kita sudah diberi petunjuk."

"Yah, aku tahu."

Horikita menjawab dengan tenang melanjutkan:
"Kau selalu memperhatikan apa yang orang lain katakan dan lakukan. Sekolah ini suka menyembunyikan petunjuk dalam segala hal yang mereka katakan kepada kita. Chabashira-sense bilang kalau kuis ini tidak akan mempengaruhi nilai kita. Itu bisa menjadi kunci yang bisa kita ambil. Total jumlah nilai kegagalan juga belum ditentukan, dan siapa yang akan menjadi rekan kita akan ditentukan setelah kuis berakhir.”

Aku tidak bisa menahan senyuman di hadapan pemahaman yang sempurna dan menyenangkan ini.

Segera setelah itu, Hirata, yang dipanggil, datang menemui kami.

"Terima kasih sudah menunggu. kita akan mendiskusikan rencana ujian akhir, kan? ”

Dia kemudian memanggil Karuizawa. Karuizawa menatap kami dengan kesal, tapi akhirnya menanggapi permintaannya dan mendekati Horikita.

"Aku minta maaf, aku pikir akan lebih baik jika kita membahas ini segera."

Pada awal tahun sekolah, siapa pun akan terkejut mendengar Horikita bertanya pada semua orang, tapi sekarang karena Horikita bertindak sebagai perwakilan kelas, para murid mulai memakluminya secara alami.

"Jika kau tidak keberatan, aku ingin cepat mulainya."

"Apa, di sini? Aku keberatan. Karena kita hanya berbicara, kita harus pergi ke Pallet. Ya kan, Yōsuke?"

Karuizawa menggenggam lengan Hirata dan menariknya untuk menunjukkan kehadirannya. Ketika aku pertama kali bertemu Karuizawa, dia sering melakukan hal-hal seperti ini dan bertindak seperti bocah manja.

Pallet, omong-omong, adalah sebuah kafe di sekolah. tempat yang ramai dimana banyak murid perempuan berkumpul selama istirahat makan siang dan setelah sekolah. Ketika aku melihat Karuizawa, mata kami bertemu sebentar. Aku tidak ingat pernah berbicara tentang masalahnya, tapi Karuizawa dengan cepat terlepas tangan Hirata, meskipun dia tetap terlihat jengkel.

"Kita tidak tahu di mana mata musuh berada, tapi ... baiklah."

Akan lebih mudah bagi Horikita untuk bergerak bersama kelompok daripada menentang Karuizawa di sini. Meskipun Horikita sendiri tidak tau diri, ini bagian dari dirinya yang telah tumbuh.

"Apa aku boleh bergabung dengan kalian?"

Orang yang mengatakan itu adalah teman sekelas kami - Kushida Kikyō.

"Apa kalian keberatan...?"

"Aku tidak keberatan. Kushida-san tahu segalanya tentang kelas. Mempertimbangkan jenis ujian akhir, aku ingin mendengar pendapat semua orang tentang masalah ini terlebih dahulu."

Posisi Karuizawa adalah orang yang tidak keberatan, dan menjawab lebih dulu. Jadi, apa yang akan dilakukan Horikita?

"Tentu saja, Kushida-san. Aku akan meneleponmu cepat atau lambat."

Horikita langsung setuju, seolah dia setuju dengan Karuizawa untuk menghindari masalah.

"Bisakah kalian bertiga pergi ke sana duluan? Aku akan menyelesaikan urusanku di sini dan menyusul."

Ketiganya setuju tanpa ada keberatan khusus, dan pergi ke kafe.

"Apa tidak masalah membiarkannya bergabung dengan kita?"

Kushida adalah kekuatan tempur yang berharga milik Kelas D, tetapi hubungannya dengan Horikita rumit. Meskipun rinciannya hanya diketahui oleh mereka berdua, sulit menjamin bahwa Kushida tidak akan mencoba menghalangi apa yang akan kami lakukan.

Selain itu, Kelas D mengalami krisis selama festival olahraga karena pengkhianatan Kushida.

"Bukankah aneh menolak di saat seperti itu?"

Itu benar. Apa Horikita benar-benar menerima ini?

"Maaf membuatmu menunggu, Suzune."

"Jangan khawatir. Tempat diskusi sudah berubah. Mereka menunggu kita di Pallet."

"Oh, jadi uh. Maafkan aku, apa aku bisa pergi ke klub sebentar? Aku baru ingat kalau seniorku memintaku hadir. Kurasa itu akan berakhir dalam dua puluh atau tiga puluh menit."

"Aku tidak keberatan. Datang dan temui aku secepatnya setelah kau selesai.”

Sudo tersenyum, meraih ranselnya dan bergegas keluar dari kelas.

Saat dia terlambat datang ke diskusi, Horikita mengambil tasnya. Aku memutuskan pergi juga.

"Kalau begitu aku pulang. Semoga beruntung dengan semuanya."

"Tunggu sebentar. Kau juga ikut. Sebagai perantara antara Hirata-kun dan Karuizawa-san, kau sangat dibutuhkan. Aku tidak terlalu terbiasa dengan mereka sekarang."

"... Tentu saja akan seperti itu. Meskipun kau bilang kau tidak terbiasa, aku pikir kau bisa mengontrol kelas dengan lancar sampai batas tertentu. Selain itu, ujian akhir adalah dasar dari kuis yang akan datang ini. Kau juga sudah menangani kelompok belajar ujian tengah semester tanpa bantuanku. "

Faktanya, dia menangani seluruh situasi itu atas kemauannya sendiri. Kuis ini hanya satu langkah berbeda dari itu.

"Jika kau hanya melihat poin itu, ya seperti itulah. Tapi jika Kushida ada di sana, itu cerita yang berbeda. Ini pengecualian. Dan aku punya sesuatu untukku beritahu padamu terlebih dahulu. Apa aku boleh setidaknya memintamu berpartisipasi dalam diskusi hari ini? Atau, apa kau tidak tertarik dengan apa yang dia rencanakan? "

Pernyataan itu sangat licik. Kejujuran adalah cara terbaik untuk menjawab sesuatu seperti ini.

"Bohong kalau aku bilang tidak tertarik."

Dia memperlakukan semua orang di kelas sama, jadi kenapa dia sangat membenci Horikita?

Bagiku, itu sesuatu yang sangat membingungkan. Aku sedikit tertarik dengan situasi ini.

"Jika kau menerimanya dan menghadiri diskusi hari ini, aku akan memberitahumu." Horikita menegaskan. Dia sepertinya punya alasan untuk mengungkitnya saat ini.

"Sejujurnya, aku tidak ingin membuat masalah tentang masa lalunya, tapi kupikir aku harus memberitahumu terlebih dahulu, jadi biarkan aku memberitahu. Karena aku pikir hasilnya akan berguna untukku."


"Kupikir kau tidak akan memberitahuku tentang Kushida."

"Atas dasar kau berpikir seperti itu?"

"Kau belum mengatakan apapun tentang Kushida sejauh ini, kan? Mungkin lebih baik menganggap kalau aku tidak bisa membayangkanmu terlibat dalam hubungan yang kurang baik. Kapan kau bermusuhan dengan Kushida?"

Aku mempertajam mata untuk memastikan ekspresi Horikita. Dia lebih kaku dari yang kukira.

"Aku tidak bisa memberitahumu di sini. Apa kau mengerti?"

Meskipun tidak ada yang memperhatikan pembicaraan kami, ada banyak mata dan telinga di kelas.

"... Aku mengerti. Aaku akan menemanimu."

Aku menantikan cerita yang layak dari upaya ini.

Setelah kami keluar dari koridor dan melewati kerumunan, Horikita berbisik:

“Dari mana kau ingin aku memulainya?”

"Dari awal. Karena yang kutahu, kalian berdua tidak punya hubungan yang baik satu sama lain."

Dan sisi gelap Kushida, aku ingin tahu lebih banyak tentang itu. Tapi, aku sengaja tidak menyebutkan hal ini karena aku tidak tahu apa yang Horikita tahu atau rencanakan untuk dikatakan.

"Biarkan aku memberitahumu dulu, aku tidak tahu banyak tentang Kushida Kikyō. Di mana pertama kali kau dan Kushida-san bertemu?"

Dia mungkin ingin memastikan. Biarkan aku membalas dengan serius:

"Di bus."

"Itu benar. Sama sepertimu, pertama kali aku melihat Kushida-san juga di bus saat hari penerimaan."

Aku ingat sekarang. Ada seorang wanita tua yang harus berdiri karena tidak ada kursi yang kosong. Kushida mengulurkan tangan ke wanita tua itu dan mencoba membuat penumpang lain menyerah. Itu adalah perbuatan baik dalam dirinya sendiri, kebaikan yang tidak akan dicela oleh siapa pun. Tapi sayangnya, aku ingat tidak ada yang memutuskan untuk menyerahkan tempat duduk mereka sampai Kushida melakukan sedikit usaha untuk meyakinkan seseorang agar menyerah. Aku juga tidak punya niat memberikan tempat dudukku, jadi keseluruhan situasi memiliki kesan yang abadi untukku.

"Itulah kenapa dia mulai membenci... tapi, menurut kejadian itu, tidak diragukan lagi jika Kōenji, yang menolak menyerahkan kursinya setelah debatan langsung, akan menjadi target yang jauh lebih baik untuk dibenci daripada seseorang yang hanya menonton. Tidak masuk akal jika dia ikut membenciku jika itulah alasannya. ”

Aku tidak bermaksud mengatakan kalau Kushida menyukaiku, tapi dia hanya menunjukkan permusuhan yang sangat kuat terhadap Horikita.

"Aku tidak mengenal Kushida-san saat itu. Tidak, aku tidak ingat persis."

"Apa itu berarti kau dan Kushida sebenarnya sudah berinteraksi sebelum kalian bertemu di bus?"

"Dia dan aku berasal dari SMP yang sama. Sekolah itu ada di provinsi yang berbeda, dan ini adalah SMA yang sangat istimewa. Dia mungkin tidak pernah menyangka akan ada orang-orang dari tempat yang sama dengannya."

"Aku mengerti."

Ketika aku mendengar ini, itu sudah memecahkan misteri besar. Sebelum aku bertemu mereka, ikatan antara Horikita dan Kushida sudah dimulai.


Dalam hal ini, aku paham kalau aku tidak bisa mengerti sebelum mendengar ini.

"Aku memikirkan ini setelah kami membuat kelompok belajar di semester pertama. SMP ku adalah sekolah besar dengan lebih dari seribu murid, dan aku tidak ingat pernah berada di kelas yang sama dengan Kushida-san."

Aku sama sekali tidak terkejut mengetahui bahwa Horikita juga seperti ini di masa SMPnya
.
Dia seharusnya tidak punya teman, menghabiskan setiap hari dengan tenang dan memanjakan dirinya sendiri di sekolahnya.

"Murid seperti apa Kushida waktu SMP?"

Kami tidak langsung ke Pallet. Karena kami menilai bahwa pembicaraan itu mungkin memakan waktu lama, kami berjalan keliling sekolah sebentar. Semakin jauh dari kafe, semakin sedikit orang di daerah tersebut.

"Siapa yang tahu. Seperti yang baru saja kukatakan, dia dan aku tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Tapi, aku bisa mengatakan kalau dia sama populernya seperti di sini, kurang lebih. Dulu, dia menjadi pusat perhatian dari kelasnya di semua jenis kegiatan saat itu, dia orang yang terkenal, yang baik kepada semua orang dan selalu meninggalkan kesan yang baik. Aku tidak berpikir kalau dia pernah mencalonkan diri sebagai dewan murid, dia pasti diajak bergabung"

Jika dia memang memegang suatu jabatan, Horikita mungkin ingat kalau mereka pernah sekelas. Memang, Kushida yang kukenal tidak pernah memegang jabatan sama sekali.

Mungkin, seperti yang dikatakan Horikita, kepribadian sempurna yang ditunjukkan Kushida di SMP sama seperti di SMA. Keduanya sepertinya mengambil jalan yang sama, tetapi sebenarnya tidak. Aku tidak bisa memecahkan misteri kenapa Kushida begitu benci dengan Horikita. Jawaban mungkin masih tersembunyi di balik pembicaraan selanjutnya.

"Menurutku dia tidak membencimu karena dia tidak bisa menjadi temanmu."


Bukan hanya pertanyaan apakah dia mampu membuat seratus teman atau tidak. Bahkan jika itu Kushida, tidak ada yang mampu berteman dengan seluruh murid di sekolah.

"Yah, kuncinya ada pada apa yang akan aku katakan selanjutnya. Tapi kau harus ingat, ini hanya rumor. Kebenaran pastinya sendiri hanya Kushida-san saja yang tahu."

Horikita langsung ke intinya dan mulai berbicara serius.

"Sesuatu terjadi saat kelulusan semakin mendekat menjelang akhir Februari di mana kelas menjadi kacau."

"bukan flu, kan?"

"Rumor itu langsung sampai padaku. kabarnya, ada seorang gadis yang menyebabkan kekacauan di kelas, dan kelas itu tidak pernah kembali ke kondisi semula sampai aku lulus."

"Aku tidak perlu bertanya siapa gadis itu, kan?"

"Dia adalah Kushida-san. Tapi aku tidak tahu bagaimana detailnya sampai kelas itu menyentuh titik kehancuran. Aku khawatir sekolah juga menyembunyikan berita itu. Jika kebenarannya dipublikasi, kualitas sekolah akan menurun. Dan, kemungkinan akan berdampak pada proses pendidikan dan sistem staf. Meski begitu, sekolah tetap tidak bisa memadamkan api. Rumor mulai menyebar di kalangan murid berdasarkan semua jenis dugaan."

"Apa kau ingat sesuatu, walaupun itu hanya rumor?"

Aku ingin tahu seperti apa situasi itu. Horikita berbicara seolah mengingat masa lalu.

"Begitu insiden itu beredar, beberapa murid dari kelasku membicarakannya. Mereka bilang kelas lain benar-benar hancur, papan tulis dan mejanya ditutupi coretan-coretan tuduhan."
T/N: Coretan berbentuk seni cat pilox. Tuduhan bisa juga mengandung cacian.

"Mencoret-coret tulisan tuduhan ... Apa mungkin Kushida sedang diganggu?"

“Aku tidak tahu, terlalu banyak rumor. Misalnya seseorang dari kelas melakukan bullying, atau dia yang mengintimidasi seseorang di kelasnya sendiri. Aku juga ingat ada romor tentang tindakan kekerasan yang berat, tapi masih tidak jelas. ”

Singkatnya, ada banyak rumor yang beredar.

"Tapi aku langsung berhenti mendengar rumor itu. Jadi, tidak mungkin membicarakannya lagi. Ada kelas yang dibubarkan, tapi semuanya diperlakukan seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi."

Pasti ada semacam tekanan dari luar.

"Bagaimanapun juga, jika informasinya terbatas, kau tidak akan tahu kalau memang Kushida lah yang menjadi penyebab kekecauan kelas. Aku ragu pada saat itu kau sangat tertarik dengan sesuatu seperti ini."

"Benar. Saat itu aku hanya fokus pada ujian masuk sekolah ini. Aku percaya diri dengan kemampuan akademisku yang dibutuhkan untuk ujian, jadi aku tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi. ”

Seperti yang kuduga. Bahkan jika peringkat sekolahnya turun, dia masih cukup percaya diri dengan kemampuan masuknya.

Suatu peristiwa, yang diduga disebabkan oleh Kushida, telah menyebabkan kekacauan kelas. Aku yakin itu masalah serius yang akan berdampak pada pendidikan atau sistem staf. Aku tidak bisa membayangkan Kushida yang aku kenal sekarang melakukan sesuatu seperti ini. Jika rumor itu detail, masih bisa dimengerti kalau dia tidak bisa menghindari siapa pun yang tahu kebenarannya. Jika ini beredar, aku tidak ragu bila posisi Kushida saat ini di sekolah akan segera berakhir.

"Jika kita memikirkannya: insiden yang disebabkan Kushida ini, kita tidak tahu secara pasti apa yang terjadi. Tapi Kushida sendiri tidak tahu kalau kau sebenarnya tidak tahu secara detail apa yang terjadi. Dia pasti berpikir kau yang berasal dari SMP yang sama, pasti tahu detailnya sampai batas tertentu. Apa itu benar? ”

"Sebenarnya, dia tidak sepenuhnya salah karena aku tahu dia bertanggung jawab atas insiden itu."

Dia menghela nafas. Aku mulai melihat dalam kondisi apa Horikita sekarang.

Singkatnya, kesalahpahaman dan permusuhan satu sisi Kushida lah yang menjadi penyebab semua ini. Bagi Kushida, menjaga masa lalunya tetap menjadi rahasia adalah hal yang cukup penting baginya sehingga dia bersedia melakukan semua upaya ini untuk menyembunyikan itu sepenuhnya.

Bahkan jika Horikita mengatakan dia tidak tahu tentang kejadian itu, Kushida tidak akan percaya padanya. Bagi Kushida, berapa banyak yang Horikita tahu mungkin tidaklah penting. Fakta bahwa kami berbicara tentang ini sejak awal adalah bukti bahwa Horikita tahu tentang masa lalunya. Ini sangat rumit.

"aku tidak mengerti."

"Apa kau mengacu pada isi dari insiden itu?"

"Yah, itu semua masih misteri, dan itu bahkan tidak terdengar menyenangkan. Apa kau pikir itu logis saat kelas yang tidak punya masalah tiba-tiba hancur?"

Horikita menggelengkan kepalanya.

“Kushida adalah pemicunya, yang berarti dia mungkin adalah penyebab hancurnya kelas itu sendiri. Seberapa seriusnya kelakuan murid sampai-sampai menyebabkan itu semua?"


Jika itu hanya masalah bullying, masih tidak akan bisa menyebabkan kejadian sebesar itu. Jika itu masalahnya, paling-paling hanya mampu mengeluarkan satu atau dua orang dari kelas.

"Aku juga berpikir seperti itu. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan apa yang dilakukannya sampai-sampai menyebabkan sesuatu seperti itu."

Bahkan jika aku ingin Kelas D hancur saat in juga, tidak akan semudah itu.

"Senjata yang kuat mampu menghancurkan kelas."

"Ya..."

Senjata-senjata yang dimaksud di sini bukan murni secara fisik dalam maknanya, tetapi juga mencakup berbagai metode.

"Jika kau ingin menghancurkan kelas, taktik apa yang akan kau gunakan?" Horikita bertanya.

"Aku minta maaf menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain, tapi aku merasa ini akan membawa kita ke kesimpulan lebih cepat. Apa kau tahu senjata apa terkuat di dunia? Coba kita batasi pertanyaannnya berdasarkan apa yang bisa dimanipulasi oleh Kushida. Pikirkan tentang itu. ”

"Rasanya aku sudah bilang sebelumnya. Munurutku 'kekerasan' adalah senjata yang paling kuat yang dimiliki seseorang. Sejujurnya, 'kekerasan' memiliki intensitas yang unik. Tidak peduli seberapa pintar seorang sarjana atau bahkan seorang politisi sekalipun, pada akhirnya, mereka akan menghadapi kekerasan yang hebat. Selama kondisi memungkinkan, bukan tidak mungkin menghancurkan kelas, karena itu hanya masalah mengirim semua orang ke rumah sakit. "

Meskipun berbahaya, contoh Horikita tidak salah. Kelas akhirnya akan hancur.

"Ya, aku tidak membantah kalau kekerasan adalah salah satu senjata terkuat. tapi, tidak mungkin Kushida bisa membuat semuanya menjadi orang  yang putus asa dengan menggunakan kekerasan. Itu akan menjadi hal yang sangat luar biasa.”

Jika Kushida datang ke sekolah dan berkeliling ke mana-mana sambil membawa gergaji senso, sekolah tidak akan tinggal diam. Itu pasti akan menyebabkan banyak drama dan kontroversi di TV.

"Bagaimana jika ada hal lain yang tidak kalah hebat dengan tindak kekerasan atau malah lebih hebat dari itu?"

“Apa kau memikirkan sesuatu? Bagaimana cara dia menghancurkan kelas? ”

“Kalau dipikirkan, jika terserah padaku bagaimana caraku melakukannya, mungkin....”

"Tunggu sebentar."

Horikita menyelaku, dia berpikir sekali lagi dan berkata:
"Aku mau bilang 'kekuasaan', tapi itu sulit diterapkan di kehidupan sekolah..."

Meskipun dia memikirkan jawabannya, dia sepertinya tidak percaya diri.

“Kekuasaan adalah sesuatu yang sangat hebat jika bisa dilakukan, kecuali dalam kasus ini. Bahkan presiden di sekolah ini tidak bisa melakukannya. Tidak ada cara menghancurkan kelas dengan menggunakan kekuasaan."

“Lalu apa? Alat yang bisa dimanipulasi dan digunakan seseorang sebagai senjata untuk menghancurkan seluruh kelas. ”

“Ini tidak terbatas pada Kushida saja, senjata yang bisa dimanipulasi oleh siapa pun? Jawabannya adalah 'kebohongan'. Manusia adalah pendusta, siapa pun bisa melakukan manipulasi dengan kebohongan. Tapi tergantung pada waktu dan tempatnya, kebohongan bahkan memiliki kekuatan untuk melahap kekerasan. ”

Statistik jelas menunjukkan bahwa seseorang akan melakukan kebohongan dua atau tiga kali sehari. Sepintas kelihatannya mustahil, tapi definisi kebohongan itu luas. "Aku hanya lelah", "Aku kedinginan", "Aku tidak mengecek email" dan "Tidak masalah". Semua jenis kata mengandung kebohongan.

"Kebohongan ... ya, mungkin benar."

Kebohongan itu kuat. Kebohongan bahkan bisa membunuh seseorang.

“Baiklah, kalau begitu, aku akan mempercepat ini. Sebagai contoh, dengan asumsi bahwa kau menggunakan senjata terkuatmu: 'kekerasan' dan 'kebohongan', apa kau bisa menghancurkan Kelas D? Coba pikirkan. ” Horikita bertanya

“Aku tidak akan mengatakan kalau itu sama sekali tidak mungkin, tapi aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti. Coba bayangkan, bahkan jika kau harus mengandalkan kekerasan saat bertarung, ada beberapa orang yang aku rasa akan sulit dikalahkan. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan kalau aku bisa mengalahkan Sudō atau Kōenji dalam pertarungan jujur ​​dengan tangan kosongku. Di atas itu, ada orang-orang seperti kau yang kekuatannya tidak pasti. Bahkan jika senjata sudah dipersiapkan sebelumnya, atau aku berusaha menyerang diam-diam, jika yang lain menggunakan strategi sendiri, itu cerita yang berbeda. Sangat  mustahil memastikannya. ”

Horikita sepertinya menganggap ini lebih serius daripada yang aku pikirkan, dan dia berjuang untuk mencari tahu cara terbaik yang bisa dia lakukan.


“Kesimpulan itu benar. Kekerasan bisa digunakan oleh siapa saja, tapi kondisinya cukup rumit. ”

“Setelah mengatakan itu, aku juga tidak akan bisa mengendalikannya sepenuhnya walaupun aku harus berbohong. Selain itu, ada banyak murid di kelas yang menganggap lebih baik menjadi pembohong daripada menjadi kasar, jadi tidak ada jalan lain. Gaya bertarung itu juga bukan gayaku. ”

Horikita mencoba beberapa pemikiran, tetapi sepertinya tidak mampu memberikan jawaban.

“Jika kita membatasi situasinya dengan menggunakan salah satu taktik, aku tidak berpikir Kushida mampu melakukan kekerasan. Dengan kata lain, akan masuk akal jika dia menggunakan kebohongan untuk menghancurkan kelas.” Kataku

"Ya…"

"Tapi, apa dia bisa melakukan itu?"

“Aku tidak tahu. Kemungkinannya tidak mustahil, tapi itu pasti tidak mungkin untukku. ”

Tidak sulit mojokan satu orang. Tapi jika itu seluruh kelas, itu cerita yang berbeda.

“Apa Kushida bisa memanipulasi kekerasan atau kebohongan yang bahkan tidak bisa kita bayangkan? Atau-" Aku terpotong.

Apakah Kushida memiliki senjata kuat yang bukan miliknya juga?

Aku tidak tahu senjata apa yang Kushida gunakan, tapi dia punya peluang tinggi untuk menghancurkan kelas kami. Jika Kushida juga adalah korban dari hancurnya kelas, dia tidak akan bermusuhan dengan Horikita.

“Kushida-san mengatakan kepadaku kalau dia akan mengusir orang-orang yang tahu tentang masa lalunya tidak peduli bagaimana. Jika perlu, dia bersedia membentuk aliansi dengan murid seperti Katsuragi-kun, Sakayanagi-san, atau Ichinose-san untuk mendesakku ke situasi yang merugikan. Faktanya, dia sudah bergandengan tangan dengan Ryūen-kun untuk mencoba menjebakku. Selama aku berada di sekolah ini, bahkan jika Kelas D berada dalam situasi yang buruk, dia tidak akan melunakkan serangannya padaku.”

“Ini sangat sulit. Itu artinya dia sudah membuat keputusan untuk menghancurkan kelas demi menyembunyikan masa lalunya. ”

"Tidak ada yang meragukan tentang itu."

Karena dia sudah membuat pernyataan untuk Horikita, akan menjadi yang terbaik menganggap serius ancamannya.

Setelah membuat pernyataan perang terhadap Horikita, Kushida diminta mengambil bagian dalam diskusi dengan Horikita dan Hirata. Secara publik, sepertinya dia ingin membantu dengan pengaruh yang dia miliki di kelas, tapi di belakang layar dia terlibat dalam tindakan permusuhan... Artinya, kemungkinan dia menjadi mata-mata cukup tinggi. Namun, bahkan jika ada kemungkinan memata-matai, kita tidak bisa begitu saja menolak Kushida. Kushida sudah membuat banyak kepercayaan di Kelas D, jadi jika dia tiba-tiba diperlakukan seperti orang luar, itu bisa memancing rasa ketidakpercayaan dari orang-orang di sekitarnya kepada kami.

"Biarkan aku memastikan satu hal, Horikita. Apa yang akan kau lakukan tentang Kushida?"

"Apa yang akan aku lakukan? Aku hanya punya beberapa pilihan yang bisa dipilih sejak awal. Aku bisa memaksa Kushida dan bilang 'Aku tidak tahu detail masa lalumu,' atau aku bisa bilang 'Aku tidak akan pernah membicarakan masa lalumu kepada siapa pun,' dan berharap dia menerimanya. ”

"Tidak semudah itu. Kushida akan terus menyimpan keraguannya tidak peduli bagaimana, dan ada kemungkinan kalau dia ketahuan menyebabkan kelas di SMPnya hancur, sudah cukup menjadi alasan untuk menganggapmu sebagai musuhnya. ”

Horikita meminta saran seperti ini, dan Kushida harus sepenuhnya sadar akan hal itu.

Dengan itu dalam pikiran, tidak mengherankan bahwa aku akan menjadi orang yang termasuk dalam daftar orang-orang yang ingin dia keluarkan dari sekolah ...

coba kita biarkan saja hal ini untuk sekarang.

"Tidak ada cara lain selain berbicara dengannya, kan?" Kata Horikita

"Aku setuju. Ini hanya masalah diskusi dan meminta bantuan. Seperti yang kau katakan, membuatnya menerimanya dari lubuk hatinya adalah satu-satunya solusi. ”

Bahkan jika dia terpaksa menerimanya pada awalnya, Kushida akhirnya akan dengan gigih menolaknya jika dia belum benar-benar menerima Horikita.

"Kalau begitu jangan memikirkannya lagi."

“Aku mendengar apa yang kau katakan, dan aku pikir aku telah sampai pada kesimpulan tentang apa yang harus dilakukan di sini. Untuk mencapai Kelas A, mungkin harus membuat keputusan sulit: menyerah mencoba membujuk Kushida. ”

Setelah aku mengatakan ini, Horikita menatapku dengan ekspresi marah.

"Maksudmu ... Membuat Kushida-san dikeluarkan dari sekolah?"

Aku tidak menyangkalnya, dan mengangguk diam-diam. Dasar-dasar taktis untuk menyerang sebelum musuhmu menyerang.

Horikita tidak keberatan, meskipun menunjukkan ekspresi jijik di wajahnya.

“Aku tidak berharap kau akan mengusulkan sesuatu seperti membuat dia dikeluarkan. Ketika aku menyerah dan membiarkan Sudō-kun gagal ujian tengah semester dan putus sekolah, bukankah kau yang meyakinkanku untuk melakukan hal yang sebaliknya? Tapi aku mengerti. Aku mengerti, meski mungkin lebih mudah membiarkan mereka gagal, kita akan mengorbankan kekuatan yang akan mereka berikan untuk kelas nantinya. Sejujurnya, jika aku menyerah pada Sudō-kun saat itu, pada akhirnya, hasil festival olahraga akan menjadi lebih suram. Ditambah, kau bisa melihat peningkatan yang Sudō-kun lakukan selama ujian tengah semester. Apa aku salah?"

Jadi Horikita, yang menemukan teman-teman tidak berguna dan tumbuh subur dalam kesendirian sudah berhasil berubah sebanyak ini? Horikita sudah berhenti hidup di dalam dunianya sendiri dan perubahan mendadak itu membuatku terkejut. Meskipun perubahannya bagus, tanggapannya tidak masuk akal. Horikita tidak selalu menjadi yang terbaik dalam dialog yang bersahabat, jadi aku meragukan seberapa nyatanya dia yang ingin mencoba dan meyakinkan Kushida. Meskipun aku ingin memujinya setelah melihat hasil Sudō, tapi situasi yang dihadapi sekarang sangat berbeda.

"Situasi ini tidak sama dengan mengajar orang belajar demi menghindari drop out sekolah. Sejujurnya, aku tidak berpikir alasan di balik tindakan Kushida adalah kebencian sepihak. Aku setuju dengan pendapatmu: akan lebih baik jika kita tidak perlu mengambil langkah-langkah seperti ini, dan aku senang melihat cara berpikirmu yang sudah berubah, tetapi situasi ini berbeda. Selama kau berada di sekolah ini, Kushida akan tetap melakukannya. Dengan cara ini, kerjasama Kelas D dan aturan sistem sekolah itu sendiri akan hancur. Jika kau tidak melakukan sesuatu tentang itu sekarang, apa kau yakin kau tidak akan menyesal nantinya? ”

Menanggapi pendapatku, Horikita sama sekali tidak goyah.

Sebaliknya, sikapnya menyangkut masalah ini menjadi semakin memadat. Alisnya naik dengan cepat.

“Dia sangat ahli. Tidak diragukan lagi kalau dia punya kemampuan membuat orang lain bekerja sama, tapi dia juga cukup pintar mengamati kemampuan orang lain. Jika dia bersedia bekerja sama dengan kita, dia akan menjadi tambahan yang sangat kuat untuk Kelas D. ”

Aku tidak akan menyangkal hal itu. Jika Kushida dengan jujur ​​bekerja untuk Kelas D yang lebih baik, dia memang sangat bisa diandalkan.

Tapi, apa itu benar-benar mungkin?

“Menghadapi masalahnya adalah tanggung jawabku. Aku tidak bisa begitu saja membiarkannya. Aku akan terus berbicara dengannya dan aku akan memastikan dia mengerti. ”

Apa dia memilih jalan kesengsaraan? Horikita secara serius berniat menghadapi Kushida demi kelas. Sudah jelas tidak ada yang peduli apa yang akan aku katakan, tidak ada yang bisa mengubah pikirannya ini.

“Aku mengerti. Jika kau sudah berbicara sebanyak itu, aku dengan senang hati berdiri dan menonton. ”

Jika kau menunjukkan kepadaku tekat tegas dengan matamu, Aku juga ingin percaya pada kemungkinan kalian bisa berteman.

Aku penasaran, apa dia bisa mengubah Kushida menjadi teman, seperti yang dia lakukan pada Sudō.

“Aku tidak meminta bantuanmu menyelesaikan masalah ini. Ini bukan urusanmu.”

"Ya, itu sama sekali bukan sesuatu yang harus aku campuri."

Kami sudah berbicara lama sekali, dan hampir membuat putaran penuh di sekitar sekolah. Kami harus cepat pergi ke area Pallet.

"Aku sudah memberitahumu tentang Kushida-san karena aku tahu kau tidak akan mengatakan apapun tentang hal itu kepada siapa pun, dan karena aku pikir kau akan mengerti dan setuju denganku."

"Aku menyesal aku tidak bisa memenuhi harapanmu."

Meskipun dia hanya menyatakan pendapatnya yang penting, kami akhirnya tidak saling setuju.

“Sekarang, aku sudah memberimu informasi yang berharga, apa kau bisa menjawab pertanyaanku?”

"Pertanyaan apa?"

Horikita berhenti dan menatapku dengan ketegasan yang sama seperti sebelumnya. Sepertinya, terlepas dari masalah Kushida, dia punya hal lain yang ingin dia diskusikan.

"Setelah festival olahraga ... Apa yang kau lakukan pada Ryūen-kun?"

"Apa yang aku lakukan?"

Ditanyakan pertanyaan ini ... Horikita adalah orang yang berurusan dengan sebagian besar rencana Ryūen. Aku tidak tahu persis apa yang Ryūen lakukan selama festival olahraga.

Jika situasi berjalan seperti yang aku pikirkan, hanya ada satu jawaban yang bisa aku berikan kepadanya.

“Aku hanya mengotak-atik apa yang terjadi di akhir. Aku menggagalkan rencana Ryūen”

“Maksudmu, kau merekam pembicaraan Ryūen dan yang lainnya dari Kelas C?”

Aku menjawabnya dengan mengangguk ringan.

“Merekaman pertemuan strategi kelas lain bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Bagaimana kau bisa melakukannya? Ryūen-kun bilang ada mata-mata, tapi kau tidak punya hubungan yang cukup dalam dengan seseorang yang akan mengkhianati Kelas C, kan? ”

Tentu saja, Horikita tidak akan tahu tentang insiden di kapal pesiar antara Karuizawa dan Kelas C Manabe.

"Aku menggunakan segala cara yang aku punya. Mendapatkan file audio itu hanya dengan melatih salah satu dari mereka."

"Ada yang lain. Aku marah karena kau membantuku, itu artinya kau bertindak berdasarkan anggapan kalau aku pasti gagal. Tapi, kurasa itu memang berubah seperti yang kau harapkan, jadi aku tidak mendebatkannya. Selain itu, aku tidak boleh mencampuri urusanmu, jadi aku tidak bisa menuntut jawabanmu. Ini situasi yang rumit ... Jika kau tidak melakukan sesuatu, aku akan ... Terima kasih. "

"Terlalu terbelit-belit, terima kasih."

Aku pikir aku akan dikritik habis-habisan, aku tidak menduga dia akhirnya mengucapkan terima kasih.

"Aku sudah berjanji bekerja sama denganmu sampai batas tertentu, jadi setidaknya aku akan melakukan itu."

“Meskipun aku pikir ini mungkin bantuan yang tidak perlu, tapi apa tidak masalah membuat gerakan yang sangat mencolok? Karena insiden ini, Ryūen-kun sekarang pasti sepenuhnya yakin kalau kau adalah orang di balik layar Kelas D. Secara logis, kau masih menjadi kandidat dalam daftarnya. Aku pikir hari-hari damai yang sangat kau sukai akan berada dalam bahaya. ”

Horikita benar. Situasinya tidak seperti yang aku harapkan.

Namun keinginan itu sulit dibayangkan sekarang. Chabashira-sensei samar-samar telah membesarkan laki-laki itu, ditambah ada Sakayanagi yang tahu masa laluku. Pada akhirnya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Di masa depan, keberadaan Horikita bisa dijadikan kartu truf.

Singkatnya, aku sudah putus asa mencari apa yang harus ku lakukan demi menstabilkan hidupku yang  bergerak maju.

Horikita menunggu jawabanku dengan tatapan: Bagaimana menurutmu?

"Oh ya ... tunggu."

“Kau berpikir terlalu lama, bahkan tidak bisa menjawab. Aku mulai kehilangan pemahamanku tentang mu. ”

"Kau memang tidak mengenalku sejak awal."

"Itu benar."

Bagaimanapun, Horikita tidak punya waktu luang untuk berkonsentrasi pada Ryūen atau aku.

Jika dia tidak berurusan dengan racun yang Kushida sembunyikan di dalam Kelas D, tidak akan ada gunanya memikirkan hal lain.

***

“Mou- Apa yang kalian lakukan? Kalian terlambat. Bagaimana kalau minta maaf? ”

Setelah kami sampai di Pallet, Karuizawa menatap Horikita dan langsung   mengeluh.

“Kita akan segera mulai. Lagipula, Hirata-kun punya kegiatan klub. ”

“Wow, mengabaikan aku. Persis seperti Horikita-san. ”

Horikita mengabaikan permintaan Karuizawa untuk minta maaf dan duduk di kursinya.

"Dan kau masih tidak meminta maaf sama sekali."

Dengan kami berdua yang sekarang sudah hadir, kelompok di meja terdiri dari Hirata, Karuizawa, Kushida, dan Sudo.

Memang benar, tidak ada banyak waktu yang tersisa sampai kegiatan klub dimulai.

Sudah sekitar 3:50 sore. Kegiatan klub dimulai sekitar pukul 4:30. Yang paling cemas dari kami semua seharusnya Hirata sebagai anggota klub sepakbola, tapi dia sangat tenang dan mempertahankan senyumnya. Dia sepertinya menantikan rapat ini, mata cerahnya bersinar terang.

Setelah Horikita mengambil tempat duduknya, bahkan tanpa memesan minuman, dia berbicara kepada kelompok:
“Baiklah, ayo kita mulai dengan kuis yang akan dilakukan.”

“Haruskah kita mengkhawatirkannya? Semua ujian ini dilaksanakan satu demi satu. Itu sudah jadi  beban belajar untuk kita semua. Untungnya sekolah bilang kalau hasil kuis itu tidak akan berpengaruh terhadap kelas kita. ”

Ujian tengah semester, kuis, dan kemudian akhir semester. Badai belajar ini pasti akan menjadi tekanan yang tak tertahankan bagi murid yang tidak punya keahlian belajar yang bagus.

“Yah, aku tidak bermaksud memaksa orang-orang belajar demi kuis ini. Tapi aku tidak berpikir sekolah menyuruh kita melakukan kuis ini murni hanya untuk melihat tingkat akademik murid. Kita baru saja selesai, dan lulus ujian tengah semester. ”

"Bukannya karena pertanyaan ujian tengah semester ini sangat sederhana?"

“Jadi maksudmu kuis itu akan sangat sulit? Itu justru tidak efisien. ”

Jika mereka membuat kuis ini sangat sulit, hal itu akan menghilangkan tujuan ujian tengah semester. Akan mirip seperti menaruh kereta di depan kuda.

“Dengan kata lain, kuis itu sendiri bermakna, ya kan? Apa sekolah punya tujuan di luar melihat kemampuan akademis kita? ”

"Tunggu apa? Apa maksudmu, Yōsuke-kun? ”

Meskipun dia tidak menunjukkan minat yang besar pada komentar Horikita, Karuizawa menjadi terpicu setelah Hirata mulai menunjukkan perhatiannya.

“Jika tujuan kuis tidak untuk mengukur kemampuan akademis kita, hanya ada satu alasan lain. Hasil kuis akan menjadi dasar pembentukan kelompok. Hanya itu kemungkinannya. ”

Sudō membuat ekspresi serius saat dia mendengarkan diskusi Hirata dan Horikita.

"Apa kau mengerti, Sudō?"

"... Hampir."

Sepertinya pemahamannya tentang situasi itu terlihat sedikit meragukan. Mereka melanjutkan diskusi.

“Pasti ada proses penentuan pasangan yang disembunyikan. Dengan kata lain, selama kita mengetahui prosesnya, kita bisa mendapatkan keuntungan saat ujian akhir. ”

"Apa maksudnya, Ayanokōji?” Sudo berbisik padaku dengan tenang.

Dia tidak meminta Horikita secara langsung untuk memastikan agar dia tidak mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung.

"Itu artinya, berhasil di kuis adalah syarat pertama untuk lulus ujian akhir."

"Ah! Itulah yang aku pikir juga. "

Mata Sudo bersinar terang. Dia menyebarkan kebohongan yang tidak bisa dia sembunyikan.

Penafsiran Horikita tidak diragukan lagi benar. Kuis tentu saja menentukan dengan siapa kau akan dicocokan dengan seseorang. Ini berarti, pasti ada sistem seleksi yang bisa kita pelajari lebih dulu.

Sekolah berjanji akan menjelaskannya kepada murid sehingga mereka tidak berakhir dengan membuat keputusan yang rumit dan aneh.

Seperti bagaimana Horikita mengerti situasinya, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain memperhatikan.

“Seperti mencocokkan orang dengan nilai yang sama, sesuatu seperti itu?”

Karuizawa memahami situasinya dengan baik dan dengan santai mengusulkan sebuah pemikiran.

"Atau mencocokkan orang yang menjawab sama untuk setiap pertanyaan?"

Sudō mendengar ini dan dengan putus asa melatih kepalanya untuk memberikan masukannya sendiri.


"Tidak ada kemungkinan yang bisa dibantah karena tidak ada cara yang bisa kita ketahui dengan pasti."

Hirata terlihat memiliki beberapa keraguan tentang respon Horikita. Senyum di wajahnya menghilang dan berubah menjadi ekspresi serius.

"Aku paham garis besar situasi ini secara umum, tapi aku punya beberapa keraguan tentang proses seleksinya."

“Apa? Tidak peduli apa yang akan kau katakan, aku akan senang mendengar pendapatmu. ”

Horikita meminta Hirata membagi pemikirannya tentang masalah ini dengan tatapan hangat.

“Untuk mengetahui kebenaran di balik sesuatu seperti mekanisme seleksi, aku merasa jika kita berkonsultasi dengan murid senior, kita bisa mendapatkan jawabannya dengan cepat. Jika ujian ini pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan aturannya masih sama cukup tinggi. Bukankah itu yang para guru coba sembunyikan? ”

Kushida mendengarkan dalam keheningan selama ini, tapi setelah mendengar ini, dia membalas dengan kata-kata persetujuan.

“Aku juga sedikit penasaran tentang itu. Aku pikir mereka bersedia memberi tahuku jika mereka adalah teman baikku. ”

Jika aturannya sederhana, aman-aman saja memberi tahu kami sejak awal. Karena kami tidak mendapatkan penjelasan apa pun, kemungkinan besar tidak ada aturan untuk melakukan hal ini, atau aturannya justru memang rumit. Inilah apa yang mereka coba katakan.

“Seperti yang diharapkan dari Yōsuke-kun! Benar!"

Horikita menatap Karuizawa saat dia menghujani Hirata dengan pujian sebelum melipat tangannya dalam renungan.

“Aku tidak tau pasti apa ide Hirata itu benar, tapi sekolah mungkin tidak akan membuat permusuhan hanya karena mencoba mempelajari lebih lanjut tentang aturan. Aku pikir, mereka akan menganggapnya sebagai cara bagi para murid untuk mencari tau tentang mereka. ”

“Apa yang kau katakan Suzune? Tolong jelaskan dengan jelas. "

Sudo berpikir keras sampai kepalanya berasap, dan dia akhirnya bertanya.


“Dengan kata lain, tidak hanya menemukan aturan, ujian yang sebenarnya dimulai setelah kita memastikannya? Jika itu masalahnya, semuanya bisa hancur jika kita tidak mempelajari aturannya. ”

Hirata membayangkan hasil terburuk, bahwa setengah kelas akan dikeluar sekaligus.

“Aku pikir itulah inti ujian ini. Meskipun hanya hipotetis, tapi seperti yang Hirata-kun katakan, jika kita tidak menebak proses seleksi pasangan untuk ujian akhir, hal itu bisa mengarah pada hasil yang menghancurkan. Tapi, terlepas dari apakah dia melakukannya sebagai kebaikan, Chabashira-sensei mengatakan kepada kita kalau ini adalah pertama kalinya Kelas D tidak putus sekolah tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, hanya satu atau dua kelompok yang keluar karena ujian ini. Tidakkah kau pikir ada sesuatu yang mencurigakan tentang itu? ”

"Tidak, aku tidak mengerti sama sekali."

Sudō akhirnya menyerah dan menabrakan dahinya ke meja.

“Aku sudah memahami situasinya. Horikita-san, yang ingin kau katakan adalah: 'Tidak ada ancaman serius di ujian akhir bahkan jika kita tidak menebak aturan untuk pemilihan anggota kelompok', kan? ”

"Benar."

"Bolehkah aku bertanya tentang alasanmu?"

Karuizawa bertanya pada Horikita dengan sikap percaya diri.

"Ujian akhir ini akan dilakukan secara berpasangan, dan nilai rata-rata setiap kelas sama terlepas dari siapa pasangan kita. Mengingat ujian akhir yang dibuat oleh murid lain akan sangat sulit, jika kita tidak mencari tau aturannya, satu-satunya pilihan kita adalah mengikuti saja alur ujiannya. Jika itu terjadi, hasilnya akan negatif, kan? ”

"Ya. Aku pikir sangat gawat jika dua murid yang hampir tidak lulus dipasangkan satu sama lain. ”

"Karena kita takut dengan hasil itu, kita hanya perlu mencari tahu bagaimana cara pasangannya diputuskan, kan?"

"Benar. Kita harus tahu aturannya terlebih dahulu. Kemudian, seperti yang Hirata-kun katakan, kita harus mengerjakan kuis dengan tujuan menghindari skenario terburuk dari kegagalan murid yang akan berpasangan bersama-sama. Namun, Chabashira-sensei bilang, pada tahun-tahun sebelumnya hanya ada satu atau dua kelompok murid yang dikeluarkan karena ujian ini. Hanya satu atau dua, apa ini tidak terlalu sedikit? Misalkan, murid di kelas kita dikelompokkan dengan cara yang merugikan, hampir 10 murid kemungkinan akan dipaksa keluar. ”

"…Aku mengerti. Seperti itulah."

“Hei Yōsuke-kun. Apa maksud semua ini? Aku sedikit bingung. ”

“Baiklah, hm ... Bagaimana aku menjelaskannya? Jadi, untuk menjelaskan ini dengan benar, lupakan tentang mencoba memahami cara menyeleksi kuis. Misalkan, kita begitu saja menerima kuis ini sekarang, menurutmu apa yang akan terjadi? ”

“Ah, bukankah itu gawat? Jika murid dengan otak yang bodoh di pasangan dengan yang bodoh juga, jumlah orang yang akan dikeluarkan akan sangat banyak. ”

"Aku pikir juga begitu. Namun, tahun-tahun sebelumnya, hanya satu atau dua kelompok yang keluar dari Kelas D karena ujian ini.”
"Bukankah itu aneh?"

Sudo sepertinya sudah memahami ini.

"Ini cukup jelas membuktikan bahwa aturannya adalah sesuatu seperti: 'anggota kelompok harus diatur menjadi komposisi yang seimbang'. Dengan kata lain, 'bukti' dari keberadaan aturan itu. ”

Melalui pembicaraan yang mendalam secara bertahap tentang masalah ini, kami akhirnya mendapatkan 'bukti' aturan kuis.

“Jawaban yang kita peroleh dari semua pertimbangan ini, 'nilai tinggi akan dipasangkan dengan nilai rendah'. Aku tidak bisa membayangkan sesuatu selain itu. Misalnya aku mendapat nilai tertinggi di kuis dengan nilai 100, dan nilai Sudō yang paling rendah dengan nol poin, maka, kita akan dipasangkan bersama karena nilai kita selisih sangat jauh. Dengan begitu, kita bisa menghitung hasil tes yang paling seimbang dibandingkan dengan kelas yang lain. ”

Karuizawa mengerti, tapi masalah baru muncul.

"Jadi begitulah ... Tapi, bukankah itu berarti murid yang mendekati nilai rata-rata berisiko lebih tinggi?"

“Ya, semakin mendekati nilai rata-rata kelas, semakin berbahaya ujian ini untuk mereka.”

Murid dengan nilai rendah dan nilai tinggi akan dikelompokkan bersama, tetapi orang-orang yang di tengah akan berakhir dengan seseorang dengan tingkat kepintaran yang sama.

Pada saat yang sama, tingkat kesulitan ujian akhir dipastikan tinggi.

Semuanya mungkin berakhir dengan mencoba mencari tahu bagaimana cara mengukur kemampuan akademis kelas secara akurat.

Berunding dengan murid dan menyiapkan tindakan pencegahan sebelumnya juga bisa membantu memecahkan masalah ini.

“Jika kita mengkonfirmasi aturannya dengan beberapa murid senior, dan kita mendapatkan jawaban yang sama dari mereka semua, maka masalah pertama ini dengan sistem kelompok terselesaikan. Ini juga berarti kita bisa mulai memikirkan tahap selanjutnya. Hirata-kun, Kushida-san, bisakah aku mengandalkan kalian untuk mengkonfirmasi hal ini dengan senior? ”

"Tentu saja bisa."

"Aku juga akan menanyai senior di klub sepak bola."

Dua hal sudah disetujui. Kami bisa melihat strategi mulai terbentuk demi menghadapi ujian.

"Aku juga mau bertanyaan."

"Katakan saja."

Bahkan dalam menghadapi keraguan Karuizawa, Horikita tidak menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan.

"Karena murid kelas dibagi menjadi pasangan, apa yang akan terjadi jika jumlah kelas tidak sesuai?"

“Meskipun pertanyaan itu menarik, tapi itu tidak penting. Pada saat pendaftaran, jumlah murid di semua kelas dari A sampai D sama. Karena belum ada pengeluaran murid sejauh ini, tidak akan ada dampak apa pun. Namun, meskipun ini hanya spekulasi, jika ada pengeluaran sebelumnya, mungkin situasinya akan menjadi sulit. ”

“Aku penasaran, apa itu benar. Sayang sekali jika menjadi rugi karena alasan seperti itu. ”


Sepertinya Kushida berpikir bahwa sekolah punya alternatif yang lebih halus.

“Jumlah orang yang terdaftar di setiap kelas pada awal tahun benar-benar sama bahkan jika seseorang keluar karena keadaan yang tidak terduga, kelaslah yang harus bertanggung jawab. ”

Ketika ujian pulau di tak berpenghuni dan festival olahraga, sekolah memberlakukan hukuman berat pada mereka yang tidak berpartisipasi. Ini memberi kesan bahwa ada kemungkinan besar bahwa apa yang dikatakannya itu benar. Jika bahkan ada satu yang berhenti sekolah, ada potensi kerugian yang besar dalam ujian yang akan datang. Horikita mungkin sudah sadar seberapa pentingnya menyelamatkan Sudō.

"Apa ini menjawab pertanyaanmu?"

“Yah, begitulah. Sia-sia saja mencoba memahaminya sejak awal. ”

Pertanyaan-pertanyaan kecil Karuizawa dijawab dan semua orang beralih ke sesi berikutnya.

“Selama kita mengkonfirmasi tujuan kuis, kita bisa melanjutkannya ke masalah berikutnya. tapi, inilah pertanyaan yang menggangguku ... Kelas mana yang kita pilih untuk diserang? Jawabanku sederhana. Tidak ada pilihan selain Kelas C.”

Sebelum mendengarkan pendapat orang lain, Horikita pertama kali memberikan keputusan dan mulai menguraikan keputusannya sendiri.

“Tak perlu dikatakan lagi, alasannya karena kemampuan akademis mereka. Satu-satunya aspek Kelas C kalah dari Kelas A dan Kelas B adalah kemampuan akademik. Jika kita melihat bagaimana poin-poin kelas  berubah sampai sejauh ini, seharusnya sudah jelas, kan?”

Sebagai ide dasar, itu benar. Sangat ceroboh jika menantang kelas dengan bakat akademis yang tinggi. Namun, meski tahu itu, Hirata memberikan masukannya:

“Aku setuju denganmu, Horikita-san. tapi, Kelas A dan Kelas B pasti akan berpikir seperti ini juga. Jika beberapa kelas memutuskan bahwa Kelas C adalah target yang paling mudah, kita mungkin akan menderita dalam situasi yang buruk. Sesuatu seperti ini menjadi salah satu hasil yang terlintas dalam pikiran...”

Hirata menuliskan situasi imajinasi di buku catatannya.

Kelas A menominasikan Kelas D → Tidak ada konflik dengan kelas lain → Target adalah Kelas D.
Kelas B menominasikan Kelas C → Memenangkan undian → Sasaran adalah Kelas C.
Kelas C menominasikan Kelas B → Tidak ada konflik dengan kelas lain → Target adalah Kelas B
Kelas D menominasikan Kelas C → Kalah undian → Standar target ke Kelas A.

"Meskipun ini hanya hasil yang paling terburuk, seperti inilah seharusnya."

“Wow, hasil ini mengerikan. Ditargetkan oleh Kelas A dan kemudian kalah undian karena menyerang Kelas C. Aku merasa seperti tidak ada cara kita bisa menang. ”

“Ya, tidak ada alasan bagi setiap kelas untuk tidak menargetkan Kelas C. Tapi kita tidak punya alasan untuk takut memilih mereka. Apa kita harus mengambil langkah demi mengurangi kemungkinan kalah? ”

Horikita menganjurkan untuk mencalonkan Kelas C meskipun risiko kalah undian.

“Apa ada perbedaan nyata dalam kemampuan akademik antara Kelas A dan Kelas B? Aku juga ingin tahu seberapa berbedanya kita dibandingkan dengan Kelas C. ”

Aku mencoba membuang pertanyaan yang sangat sederhana.

“Tidak salah lagi jika Kelas A adalah yang terbaik, tapi aku tidak berpikir bahwa mereka berada pada level mereka sendiri. Ada jarak yang cukup besar antara Kelas B dan Kelas C ... aku akan menyelidiki hal ini. ”

Kami memahami kemampuan akademik Kelas D, tapi kami tidak tahu secara spesifik tentang kelas lain.

Dulu sekolah belum memberi tahu kami tentang hal ini. Satu-satunya hal yang paling kami ketahui adalah peningkatan poin kelas. Tetapi kami tidak bisa membuat keputusan yang jelas tentang kemampuan akademik mereka dengan itu saja. Dari sudut pandang itu, mungkin  karena sekolah berencana mengadakan ujian seperti ini. Jumlah poin kelas bukan sepenuhnya simbol jarak level akademis. Jika ternyata Kelas B lebih baik daripada Kelas A, kami mungkin akan melihat hasil yang sangat menyakitkan.

Setelah mengatakan itu, aku diam-diam melihat laki-laki yang duduk di sebelah Horikita.

Hampir pada saat yang sama, Horikita mulai berbicara kepada laki-laki itu.

“Kau sangat pendiam, Sudō-kun. Biasanya kau akan mengeluh. "

“Topik ini tidak pada tingkat yang bisa aku pahami. Jika aku mengeluh, bukankah aku akan mengganggu kalian? ”

Setelah Sudo mengatakan ini, kami semua menahan nafas dan terdiam.

"Apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? "

"Aku hanya merespon apa yang sudah kau katakan begitu saja, jadi aku terkejut ... Apa pendapatmu tentang situasi ini?"

Dia mungkin mengharapkan Sudo untuk menyela di tengah dan mengganggu pembicaraan karena kebingungan.

Dalam menghadapi kedewasaan Sudo, ekspresi Horikita berubah dari keterkejutan menjadi kelembutan.

 “Satu hal yang bisa aku katakan, kita harus mengalahkan lawan kita satu per satu, bukan? Kita tidak bisa langsung menjadi Kelas A, jadi menyerang kelas yang paling dekat dengan kita, Kelas C, adalah pilihan yang jelas dan bisa dimengerti. ”

"Benar. Menargetkan Kelas C memang akan membantu kita mendapatkan hasil tercepat. Jika kita menang dalam total nilai melawan mereka, perbedaan antara Kelas C dan kita akan menyusut secara dramatis. ”

“Aku bisa mengerti itu, tapi lebih baik jika Kelas A menyerang Kelas C, kan? Kelas A pasti akan mendapatkan total nilai yang lebih tinggi daripada mereka, sehingga Kelas C pasti akan kehilangan poin. Bukankah itu jauh lebih bagus? ”

“Tergantung tujuan kita dengan ujian ini. Tapi secara umum, fakta bahwa Kelas C adalah targetnya masih sama. Anggap saja, baik kita atau salah satu dari kelas lain akan mengalahkan Kelas C. ”

Jika tujuan akhirnya adalah untuk mengurangi total poin Kelas C, mungkin lebih baik membiarkan Kelas A atau Kelas B menyerang mereka yang memiliki peluang sukses yang lebih baik. Namun, Kelas D juga ingin menang dan meningkatkan poin mereka. Agar hal itu terjadi, akan lebih baik melawan yang lebih lemah. Jika kami menghindari Kelas C, itu artinya kami harus mengalahkan musuh yang lebih kuat. Alasan mengapa rencana Horikita untuk menyerang Kelas C bisa  diandalkan adalah karena itu yang paling mudah untuk mengalahkan musuh yang paling lemah.

“Setelah semua pertimbangan ini, semua orang sepertinya setuju dengan usulan Horikita-san. AKuakan mengikuti usulan ini juga. ”

Karena tujuanku adalah untuk menghindari sesuatu yang rumit, aku hanya menyarankan berbagai kemungkinan untuk diskusi.

"Terima kasih. Rasanya kita bisa beralih ke langkah selanjutnya. ”

Meskipun satu atau dua anggukan, semua orang sampai pada kesimpulan yang sama.

Kami bubar setelah jam 4 sore, Hirata dan Sudo pergi untuk berpartisipasi dalam kegiatan klub mereka. Karuizawa mengikuti Hirata ke lapangan. Satu-satunya yang tertinggal adalah Horikita dan aku sendiri, serta Kushida.

"Jadi, aku akan pergi dan bertanya pada senior kita tentang aturan kuis yang akan datang dan melaporkannya."

"Terima kasih."

Kushida tidak mengatakan apa-apa lagi dan pergi seperti yang diharapkan.

"Apa yang akan kau lakukan, Ayanokōji-kun?"

“Seharusnya tidak ada masalah jika aku menyerahkan semuanya padamu dan Hirata. Sejujurnya, perkembangan ini hampir sempurna dan ditangani tanpa cela. Kau punya  keyakinan dalam rencanamu, kan? ”

"Ya, sejauh ini. Tapi untuk mengikuti ujian akhir ini, kita harus mampu mengatasinya. ”

"Ya. Singkatnya, jika seluruh kelas tidak berupaya meningkatkan kemampuan akademis mereka untuk maju, tidak akan ada harapan. Namun, dengan kata lain, ujian pasti mudah dilalui jika semua orang meningkatkan kemampuan akademis mereka sampai batas tertentu. Jika perlu, aku bisa menyesuaikan nilaiku dan bekerja sama dengan siapa pun sesuai dengan keinginanmu. ”

"Bisakah aku mengandalkan otakmu?"

“Jika hanya itu yang dibutuhkan, jika perlu, aku juga  bisa menghadiri sesi belajar, tapi aku tidak akan bertanggung jawab atas bimbingan apa pun. ”

"Karena kau berniat bertindak sebagai murid yang sepenuhnya tidak berguna."

"Aku hanya meninggalkan fakta seperti apa adanya."

Ini adalah tempat yang tepat untuk berkompromi di antara kami berdua. Setidaknya, aku pikir begitu, tapi Horikita telah membuktikan bahwa dirinya tidak akan bekerja dengan cara biasa.

"Biarkan aku memikirkannya. Biar bagaimanapun , kau juga anggota Kelas D, aku ingin memberimu peran yang sesuai. Demi semua orang. "

"...... Aku akan mempertimbangkannya."

Aku melakukan yang terbaik demi menghindari topik tersebut.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter