Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e vol 6 Chapt 1 Bahasa Indonesia

Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e vol 6 Chapt 1 Bahasa Indonesia

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e volume 6 Chapter 1Bahasa Indonesia




Berubahnya kelas D


Setelah festival olahraga berakhir di pertengahan Oktober, saat musim yang mulai mendingin.

Sekolah mengadakan pemilihan umum untuk memutuskan siapa yang akan bertanggung jawab atas dewan murid berikutnya. Segera setelah pemilihan selesai, sekolah mengadakan upacara pelantikan dewan murid. Itu merupakan acara berskala besar yang mengumpulkan murid dari seluruh angkatan sekolah ke ruang olahraga. Namun, bagi sebagian besar murid tahun pertama, itu adalah pengalaman yang sangat bagus. Mereka mengantuk, tetapi mereka berusaha untuk tetap diam dan memperlambat napas mereka sehingga para guru dan senior tidak akan memperhatikan mereka.

"Sekarang, inilah sepatah kata akhir dari presiden dewan murid, Horikita."

Setelah pembicaraan dari moderator, Horikita Manabu perlahan-lahan mendekati mikrofon di atas panggung.

Jika itu adalah Horikita yang sebelumnya (yang lebih muda yang aku maksud) hanya dengan melihat kakaknya di atas panggung, mungkin akan membuatnya takut. Tapi sekarang, saat dia memperhatikan proses pengunduran jabatan kakaknya, dia menatapnya dengan tatapan tegas.

"Saya merasa bangga dan bersyukur karena mampu memimpin murid selama hampir dua tahun. Terima kasih banyak."

Setelah pernyataan singkatnya, kakak Horikita pelan-pelan mundur dan kembali ke posisi semula.

Tidak ada kata-kata yang menggerakan di dalam pidatonya. Bisa dikatakan bahwa itu adalah pernyataan yang serius dan berdedikasi.

Namun, bukan berarti upacara pelantikan akan berakhir hanya dengan ini.

Anggota dewan murid di atas panggung yang bersamanya berdiri tegap, tidak mematahkan postur mereka yang kuat.

"Presiden dewan murid Horikita telah bekerja sangat keras untuk kalian semua. Sekarang,  sambutlah presiden dewan murid yang baru, murid tahun kedua Kelas A, Miyabi Nagumo."

Miyabi Nagumo, presiden dewan murid yang baru, berjalan ke depan dan berdiri di depan mikrofon.

Di antara anggota dewan murid yang dengan hangat mengawasi dia di atas panggung, sosok Ichinose bisa terlihat.

"Saya, Miyabi Nagumo dari tahun kedua kelas  A. Presiden Horikita, saya sangat menghargai bimbingan Anda yang ketat dan baik sejauh ini. Saya merasa terhormat dan ingin menghormati Anda. Saya bersyukur karena dapat menemani presiden legendaris yang telah memainkan salah satu peran kepemimpinan terbesar dalam sejarah sekolah ini. "

Dengan itu, dia membungkuk dalam ke arah kakak Horikita, dan kemudian kembali menghadap para murid.

"Biarkan saya perkenalkan diri lagi. Nama saya adalah Miyabi Nagumo. Saya akan menjadi presiden dewan murid selanjutnya di SMA Koudo Ikusei ini. Mohon bantuannya."

Sangat berbeda dari sikap yang aku lihat di festival olahraga. Nagumo sangat sopan dan lembut. Ekspresi dan sikapnya yang dia pegang selama akhir lomba estafet menghilang sepenuhnya. Tapi aku merasa seperti kami yang hanya memperlihatkan topeng saja.

Nagumo tersenyum tipis dan kecil hingga suasana berubah tenang.

"Saya akan langsung ke intinya. Pertama-tama, saya berjanji akan mengubah syarat dan metode pendaftaran dan pelantikan dewan murid serta praktek pemilihan umumnya. Ini artinya,  mengubah tanggal pemilihan umum murid dari Desember sampai Oktober. Perubahan ini akan menjadi upaya untuk generasi baru bagi dewan murid dan saya menilai bahwa itu akan terjadi ketika dewan murid yang baru akan bergerak menuju era baru. Saya akan mengubah masa jabatan presiden dan para anggota dari syarat dan menjadi masa jabatan yang tidak terbatas sehingga mereka dapat melayani sampai mereka lulus. Pada saat yang sama, saya akan menghapuskan syarat jumlah anggota dewan murid. Dengan kata lain, selama dia adalah orang yang sangat baik dan dibutuhkan, mereka dapat menjadi salah satu anggota dewan murid setiap saat terlepas dari jumlah tempat yang tersedia. Jika seseorang dinilai tidak layak untuk menjabat, saya akan membuat sistem suara mayoritas pada pertemuan untuk mengeluarkan mereka dari posisi mereka. Sebagai titik awal, izinkan saya membuat pemberitahuan kepada para murid, guru, dan mantan presiden dewan murid yang berkumpul di sini. Sistem sekolah masa depan... saya akan menghancurkan semua yang telah dipertahankan oleh dewan muird sebelumnya demi sekolah."

Dia berbicara begitu kuat, terlihat memusnahkan semua hasil kerja keraas mantan presiden dewan murid yang berdiri di belakangnya.

"Awalnya saya ingin menerapkan sistem baru ini segera, tapi sayangnya, saya tidak bisa melakukan itu. Ini karena presiden dewan murid yang baru akan terikat dengan berbagai macam kendala pada saat pertama kali menjabat."

Nagumo melirik Horikita, mantan presiden dewan murid, dan kemudian kembali ke murid.

"Saya berjanji, akan ada revolusi besar dalam waktu dekat. Murid dengan kekuatan akan naik ke atas dan mereka yang tidak memiliki kekuatan akan jatuh ke bawah. Saya akan mengubah sekolah ini menjadi meritokrasi nyata, jadi, silahkan tunjukkan apa yang kalian semua bisa dilakukan. "
T/N: Meritokrasi, adalah penghargaan/bayaran/imbalan yang diberikan.

Ruang olahraga segera bungkam oleh deklarasinya, tetapi hampir semua murid mulai berteriak gembira dan menjadi ribut. Mungkin ada pertempuran antara tahun kedua dan tahun ketiga yang tidak kami ketahui. Itu adalah acara yang membuatku merasa seperti itu.

***

Salah satu acara tersebut berakhir, dan setelah sekolah pada hari tertentu, sekarang sedang pertengahan semester dua.

Lingkunganku mulai berubah sedikit demi sedikit. Kelas D yang melewati pulau tak berpenghuni dan festival olahraga yang berantakan, tetapi kami mulai memiliki kerja sama sebagai sebuah kelas. Perkumpulan teman kecil setiap orang berangsur-angsur mulai melebar, dan orang-orang yang berpikir bahwa mereka tidak bisa bersosialisasi menjadi lebih baik dalam menangani satu sama lain.

Sikap semua orang terhadap kelas juga meningkat secara signifikan. Di masa lalu, Kelas D punya masalah dengan murid yang datang terlambat, tidur di kelas, berbicara selama pelajaran, dan melakukan semua jenis pelanggaran. Dalam hal ini, terutama Sudōu menunjukkan perubahan.

Setelah festival olahraga, meskipun jumlah hari sejak saat itu relatif singkat, jelas sekali bahwa sikapya terhadap sekolah sudah meningkat. Kadang-kadang dia terlihat sedikit mengantuk di kelas, tapi itu mungkin karena dampak dari latihannya yang berat di klub bola basket. Bahkan jika dia tertidur, dia selalu meluangkan waktu untuk menulis catatan. Karena itu penting baginya untuk mendapatkan pelajaran demi Horikita dan masa depan kelas. Mungkin perhatiannya selama kelas memiliki dampak dalam sesuatu juga.

Sikap kasar yang dia miliki bersama teman-temannya, Ike dan Yamauchi, menjadi lebih lembut.

Dia tidak ingin pendapat Horikita yang dicintainya tentang dirinya semakin memburuk dengan membiarkan dia menyaksikan hal yang memalukan. Aku pikir, sebagian besar inilah yang memotivasi dia untuk berubah.

Singkatnya, Sudo tumbuh dengan baik dan dia mulai mendapatkan reputasi yang lebih baik di antara teman-teman sekelasnya.

Pada saat yang sama, ada perubahan, tidak hanya terjadi pada reputasi Sudō, tapi pada diriku juga.

Apa itu hal yang baik atau buruk, bagaimanapun, sulit untuk dikatakan.

"Apa kau sendirian?"

Saat aku memikirkan situasi, aku ditegur oleh orang di samping tempat dudukku.

"Memangnya kenapa kalau sendirian?"

Tetangga sebelahku, Horikita, sepertinya tertawa kecil. Aku menatapnya dengan tatapan kosong.

"Teman tersayangmu, Ike-kun dan Yamauchi-kun. Mereka jadi lebih sering mengajakmu."

"Benarkah?"

Faktanya, dia cenderung selalu menunjukan secara ekstrem bagian buruk dari kepribadiannya.

"Ara, maaf. Saat makan siang, kau terlihat sendirian. Sepulang sekolah, kau juga sendirian."

Kami menyaksikan Ike dan Yamauchi meninggalkan ruang kelas bersama Professor. Apa mereka akan pergi ke Keyaki Mall bersama?

Aku pikir aku terlihat setenang Sang Buddha, tapi Horikita sepertinya sudah tahu semuanya.

Benar. Ini akan menjadi bagian dari perubahan dalam reputasiku sendiri. Setelah festival olahraga, aku sudah tidak lagi diajak oleh dua orang yang paling dekat denganku. Tidak, itu lebih seperti mereka yang benar-benar mengabaikanku.

"Tidak mungkin. Mereka pikir kau adalah orang yang setara dengan mereka, sekelompok murid tidak berguna, kau dibagian itu. Tapi, ternyata kau sebenarnya menyembunyikan banyak kekuatan fisik yang tinggi dari mereka."

“Kekuatan fisik yang tinggi? Kakiku hanya sedikit lebih cepat, itu saja.”

"Tapi gerak kakimu cepat - terutama untuk seorang murid. Ini sangat cepat. Selain itu, mereka mungkin juga mulai memperhatikan kejadian aneh lainnya. Mereka mungkin memperhatikan pengukuran genggaman tanganmu yang lebih tinggi dari rata-rata, benarkan? Orang-orang memiliki kecenderungan dasar untuk membenci orang lain karena mereka bersikap baik, dan situasimu sekarang, bahwa kau sudah menyembunyikan keunggulanmu."

Aku tahu hal seperti itu, tidak perlu dikatakan lagi. Namun, aku juga harus mengakui bahwa aku tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang rata-rata. Bahwa aku percaya, aku "hanya berlari sedikit lebih cepat" adalah yang sebenarnya terjadi.

"Nikmatilah kehidupan menyendirimu."

Horikita memberikan tatapan merendahkan sebelum meninggalkan ruang kelas, rambut panjangnya berkibar.

Meskipun sendirian, cara memerintahnya, setidaknya sedikit sopan.

Aku melihatnya pergi, dan saat ini, Karuizawa, yang masih di kelas, melirikku dengan mata yang tak terlukiskan. Tatapan kami baru saja bertemu, tetapi dia secara alami memalingkan wajah seolah-olah dia tidak berniat mencariku secara khusus. Jelas ada niat di balik tatapannya, tapi tanpa mengatakan apa-apa, dia mengikuti Horikita keluar dari kelas. Panjang roknya yang berkibar jauh lebih banyak daripada murid lainnya. Seakan mencoba bertahan hidup di dunia yang kesalahannya hanya satu atau dua sentimeter.

"Bagaimana dia... yah, tidak masalah."

"Hei, hei, Ayanokōji-kun."

Ketika aku berpikir tentang apa yang harus aku lakukan, seorang pengunjung yang tak terduga muncul di sampingku.

Dia adalah tipe perempuan seksi yang sama dengan Karuizawa. Satō... Aku tidak ingat siapa nama depannya. Dia adalah perempuan yang sangat baik yang berteman dengan Ike dan Yamauchi di grup chat mereka di masa lalu. Aku juga ikut di grup chat mereka, tapi kami hampir tidak punya kepentingan yang sama.

Meskipun dia teman sekelas, dia adalah salah satu yang hampir tidak pernah aku ajak bicara.

Dia seorang perempuan yang ingin dekat dengan anak laki-laki dan merasa populer seperti Kushida diantara murid perempuan, tapi dia tidak populer di antara lawan jenis.

Ike mengatakan bahwa dia terlihat sangat jahat dan harus terbiasa dengan laki-laki, jadi Ike menolaknya. Benar-benar hati yang rumit.

Menyangkut waktu kedatangan itu, dia mungkin sudah menungguku sampai sendirian.

Satō melihat sekeliling ruangan dengan gugup.

"Ada apa?"

Dalam menghadapi situasi yang aneh, aku hanya bisa mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Em... Ini sedikit..."

Dia tidak membuat dirinya cukup jelas. Sayangnya, aku tidak bisa berspekulasi tentang kalimat itu. Terlalu sedikit informasi tentang murid bernama Satō.

"Bagaimana aku mengatakannya, ya? Apa aku boleh meminjam waktumu? Aku punya sesuatu yang mau aku katakan."

Ini sedikit aneh. Aku sedikit memperketat kewaspadaanku, tapi aku tidak cukup berani menolak tawaran. Lebih mudah mengumpulkan keberanian yang cukup untuk menerima daripada mengumpulkan keberanian untuk menolak.

"Di sini sedikit tidak nyaman. Kau keberatan kalau kita pergi ke tempat lain?"

Sebelum aku menjawab, Satō terlihat sudah memprediksi bahwa aku tidak akan menolak, dan menawarkan tempat lain. Aku mematuhinya dan mengikuti di belakangnya.

"Ah..."

Saat aku ingin meninggalkan kelas, Sakura membuat suara seolah mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dan dia akhirnya berbalik.

Kami keluar dari lorong ke koridor penghubung ruang olahraga. Untuk sisa waktu setelah makan siang, itu akan penuh sesak karena murid yang bermain dan berlatih di ruang olahraga akan menggunakan koridor ini untuk berpindah tempat. Tapi sekarang, semua orang mungkin masih makan siang, jadi ini adalah salah satu daerah yang paling sedikit orangnya. Mungkin inilah tempat yang ideal untuk membicarakan sesuatu.

Sepertinya Satō tidak terlalu ingin bertemu dengan orang lain. Dia berhenti dan kemudian berbalik.






"Aku akan menanyakanmu sesuatu yang sedikit aneh... Ayanokōji-kun, apa ada seseorang yang saat ini bersamamu?"

"Er, apa maksudnya?"

"Yah ... secara garis besar, itu artinya pacar... bagaimana?"

Jika aku ditanya, apa aku harus memilih di antara "ya" atau "tidak"? Aku tidak akan punya kelebihan untuk menjawab apa pun selain "tidak."

Mengatakan hal seperti itu seakan menekankan seberapa tidak populernya aku, dan meskipun aku merasa enggan untuk melakukannya, tidak ada gunanya berbohong, jadi aku menjawabnya dengan jujur.

"Tidak..."

"Hmm, aku mengerti... Bisakah aku menganggap seolah-olah kau sedang mencari pacar?"

Dia tidak memandang remeh, juga tidak mengasihani, tapi malah menunjukkan senyum kecil yang bahagia.

Pada titik ini, aku mulai mengerti bagaimana keadaannya.

Apa ini jebakan dengan tujuan menjebakku? Aku waspada, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang yang bersembunyi di dekatnya. Tentu saja, kami belum diikuti sejak keluar dari kelas.

Jadi, apa Sato sendirilah, atau temannya, sepertinya, berpikir bahwa aku adalah pacar yang baik. Kenapa tiba-tiba di saat seperti ini?

Apa ini ada hubungannya dengan bagaimana Horikita mampu menyimpulkan bahwa aku memiliki kemampuan fisik yang tinggi?

"Jika kau mau memulai dengan hanya sebatas teman baik ... apa kau akan bertukar nomor telepon denganku?"

Sepertinya, itu bukan temannya yang meminta, Satō sendirilah yang tertarik.

Tidak pernah terpikir olehku hari dimana permintaan seorang perempuan benar-benar akan datang.

Ini seperti langkah awal sebelum ditembak.

"Bagaimanapun, aku mengerti."

Aku tidak bisa menemukan alasan untuk menolak permintaannya bertukar nomor telepon.

Menjalin hubungan akan menjadi masalah waktu dan garis masa depan. Untuk sekarang, aku hanya diminta untuk bertukar nomor telepon.

"Baiklah."

Ponsel menunjukkan halaman pendaftaran kontak yang telah selesai. Menambah jumlah kontak anak perempuan adalah hal yang paling menyenangkan.

Setelah interaksi singkat ini dengan Satō, ada ketenangan yang aneh di atmosfer.

"Aku akan menanyakan hal yang sedikit canggung. Kenapa kau tiba-tiba meminta nomor teleponku?"

Satō tersipu sedikit, dan tidak membuka matanya.

"Bertanya kenapa... Selama festival olahraga... Bisakah aku bilang kalau kau sangat keren? Apa aku bisa bilang kalau kau begitu dekat, tapi aku sama sekali tidak memperhatikanmu? Menganggap laki-laki terbaik di kelas adalah Hirata-kun, tapi dia pacarnnya Karuizawa-san, jadi itu tidak mungkin.”

Ketika dia selesai mengatakan ini, dia membuka matanya dan menatapku, dan dengan menjadi canggung menyesuaikan apa yang dia katakan.

"Ah... aku tidak berpikir kalau kau lebih buruk dari Hirata-kun. Sejujurnya, setelah aku melihat lebih dekat, kau terlihat lebih tampan daripada Hirata-kun. Kau juga terlihat sangat bisa diandalkan dan lembut ... Itu saja!"

Mungkin perasaan malu sudah membengkak dari dalam dirinya, karena aku tidak bisa mendengar bagian terakhir dengan sangat baik, dan Satō pergi seperti angin. Pikiranku tidak bisa mengikuti apa yang terjadi dengannya, jadi aku hanya berdiri diam.

Aku berada dalam situasi tak terduga di tempat yang tak terduga dengan orang yang tak terduga. Meskipun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, aku tidak berharap ini benar-benar terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berpikir negatif atau positif tentang Satō, hanya menganggapnya sebagai teman sekelas biasa. Apa ini berarti, sesuatu yang benar untuk dilakukan adalah menolak pengakuannya?

Tidak, dia tidak bilang dia ingin bersamaku atau dia menyukaiku. Aku hanya ditanya tentang status hubunganku dan dimintai nomor kontak. Bahkan jika aku mengasumsikan niatnya sedikit, aku hanya diminta untuk berteman dengannya dan bertukar kontak. Jika aku menolak pengakuannya, mungkin dia akan meludahiku, Berkata bahwa aku salah paham. Itu akan sangat memalukan.

Menjadi pengamat saat ditembak atau menembak lebih baik, tapi ketika kau sendirilah yang menjadi target salah satu dari mereka, itu hanya akan merepotkan. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Sakura sebelum ditembak oleh Yamauchi.

Ketika aku kembali ke kelas, merenungkan tentang situasi yang rumit, aku berjalan menuju Katsuragi dan Yahiko dari Kelas A.

Aku berpikir bahwa aku tidak perlu bicara, tetapi Katsuragi berhenti dan berkata pada Yahiko:

"Aku minta maaf, pergilah. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Ayanokōji-kun."

Yahiko menjadi waspada, tapi karena itu perintah dari Katsuragi, dia segera mengangguk dan pergi.

"Horikita sepertinya tidak bersamamu."

"Kami tidak selalu bersama."

Apa yang harus aku katakan? Dibandingkan berbicara dengan perempuan, berbicara dengan anak laki-laki sangat mudah.

Mempertimbangkan ini, aku merasa seperti orang bodoh karena berjuang untuk mendapatkan teman.

"Benar juga. Sejujurnya, aku terkejut melihat perlombaan estafet di festival olahraga sebelumnya. Itu mungkin sesuatu yang tidak diharapkan orang lain di sekolah."

Topik pembicaraan tentu saja akan menjadi seperti ini. Aku tidak terkejut sama sekali, dan berkata acuh tak acuh:

"Maksudmu, Kelas D juga tidak tertipu?" Kataku.
T/N: Tidak mengerti apa maksud hubungan pertanyaan ini dengan pernyataan Katsuragi (゚ペ)

"Tidak masalah, tapi sebagian besar murid Kelas D terlihat terkejut juga. Selama reaksi mereka bukan sebuah tindakan, sepertinya hanya ada beberapa orang saja yang tahu seberapa cepat kau bisa berlari."


Katsuragi pintar... Dia sangat teliti mengamati lingkungannya dengan baik dalam keributan itu.

Kebanyakan orang hanya akan memperhatikan diriku sendiri dan presiden dewan murid. Dia tidak hanya memperhatikan kelasnya sendiri, tetapi juga mengamati kelas-kelas lain dengan teliti.

"Kau bebas membayangkan apa yang akan kau lakukan, tapi aku tidak akan mengatakan apa-apa." Aku berbicara.

"Tidak masalah. Aku tidak berusaha mendapatkan apa pun darimu."

"Jika kelas bermusuhan, bukankah kau menginginkan informasi sebanyak yang kau bisa? Atau, dari sudut pandang Kelas A, apa kau tidak melihat Kelas D sebagai musuhmu?"

Katsuragi memberikan ekspresi sedikit kesal dan mengambil beberapa langkah ke depan, berhenti di jendela. Tatapannya bergeser ke arah luar.

"Aku sedang bekerja terlalu keras menghadapi segala macam masalah rumit yang sedang terjadi saat ini. Aku tidak punya kelebihan untuk memata-matai kelas-kelas lain." sambungku.

"Tapi kau menyuruh Horikita mengawasi Ryuuen." 

Aku hanya memberitahukan informasi yang aku tahu kepada Katsuragi.

"Orang itu selalu bergerak mengabaikan cerminannya demi menang. Dia melakukan apa pun untuk menjadi yang terbaik, bahkan jika dia harus memanfaatkan sesuatu seperti intimidasi dan kekerasan."

Namun, Katsuragi seharusnya tidak hanya merasa lelah dengan Ryuuen. Akan lebih baik jika memberitahu bahwa dia harus waspada dengan Sakayanagi yang bersembunyi di Kelas A. Meskipun begitu, aku sengaja tidak mengungkitnya.

Sakayanagi adalah murid yang tahu masa laluku dan penuh misteri. Jika aku tidak menangani situasi ini dengan hati-hati, aku akan digigit oleh ular.

"Intimidasi dan kekerasan? Itu pasti berbahaya jika sekolah tahu."

"Dia tipe orang yang akan melakukan sesuatu semacam itu dengan terampil dan diam-diam. Tolong terus desak Horikita untuk tidak memandang rendah dia. Meskipun ini semua mungkin terlihat seolah-olah aku sedang membantu musuh dan membuatmu waspada, Ryuuen adalah musuh Kelas A, Kelas B, dan Kelas D. "

Memang benar bahwa Kelas C secara aktif berjuang melawan semua kelas. Namun, ada bukti bahwa Katsuragi dan Ryuuen sebelumnya sudah bekerja sama. Aku tidak yakin apa aku bisa mempercayainya tanpa syarat.

Saat aku memikirkan ini, Katsuragi terlihat merasakan ketidakpercayaanku.

"Kau tidak percaya padaku?"

Karena keprihatinannya, aku memutuskan untuk menggali lebih dalam apa yang dia ketahui.

"Sejujurnya, aku tidak percaya sepenuhnya padamu. Sulit bagiku untuk memutuskan apakah aku akan memberi tahu Horikita tentang apa yang kau katakan. Aku tidak bisa memberi tahu sumbernya, tapi ada rumor kalau kau bekerjasama dengan Ryuuen. Apa ini hanya sekedar rumor? "

"... Di mana kau mendengar itu? Tidak ... Tidak perlu beritahu."

Katsuragi sepertinya sudah mendapat jawaban. Dia tidak kehilangan ketenangannya dan melanjutkan:

"Aku menyesal sekarang. Meskipun itu perasaan yang sesaat dan tidak ada kebebasan, seharusnya aku tidak mengambil risiko dan melibatkan diri dengan dia. Itulah kenapa aku ingin kau menanggapi nasihat ini. Jika kau terlibat dengan orang itu , kau akan terpuruk. "

Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi Katsuragi seharusnya sudah mengalaminya sendiri. Kejujuran kata-katanya tidak bisa menjamin, tapi permintaannya masih bisa dijelaskan sebagai bujukan.

"Aku tahu sejak awal ada risiko bergabung dengan orang itu."

"Lalu, apa hasil yang didapat setelah kau menggabungkan kekuatan melawannya?"

Katsuragi tertawa sendiri.

Aku pikir itu tidak penting, tapi tidak ada ketenangan di wajah Katsuragi. Dia seharusnya tidak cemas atau kecewa dengan pertanyaanku, jadi aku memutuskan untuk menggali lebih jauh.

"Aku tahu kau sedang berusaha menghentikan Ryuuen, tapi masalah itu seharusnya menjadi milik Kelas A dan Kelas B. Aku melihat poin kelas yang diumumkan di awal Oktober."

Katsuragi menutup mulutnya, sepertinya dia tidak peduli dengan masalah itu.

Setelah berakhirnya ujian di pulau tak berpenghuni, poin Kelas A poin meningkat menjadi 1.124 poin. Itu adalah situasi yang positif bagi mereka pada awalnya, tetapi ada pengurangan poin yang signifikan selama ujian khusus kedua dan festival olahraga, menjadikan Kelas A 874 poin. Sebaliknya, Kelas B tidak terlalu jauh di belakang, duduk di 753 poin. Selain memulai pada level yang sama, selang tersebut merupakan jarak terdekat antar kelas manapun saat ini. Untuk melengkapi ini, Kelas C ada di 542 poin, sementara Kelas D 262 poin.

"Aku hanya bisa mengakui bahwa ini bukan situasi yang sangat bagus untuk Kelas A. Aku dibodohi oleh struktur sekolah. Ketidakmampuanku memahami dengan sempurna sistem poin kelas juga merupakan salah satu faktornya."

Dia tidak menyebut nama Sakayanagi dengan sembarangan.

Disamping Sakayanagi, seperti yang dikatakan Katsuragi, bahwa sekolah memiliki sistem poin yang menyesatkan.

Sistem ini terlihat sederhana, tapi tak disangka, ada banyak hal yang sulit dimengerti dan poin yang tidak jelas, dipakai dan dihapus.

Dalam kelas balik, seharusnya mudah dikenali. Segera setelah penerimaan murid baru, sekolah melakukan peninjauan ketat atas keterlambatan, ketidakhadiran, dan sikap kelas. Bahkan, Kelas D, kami sangat terpengaruh hingga kami kehilangan semua poin kelas yang baru kami mulai sekaligus, pengalaman itu masih segar dalam ingatanku.

Namun sekarang, sikap kelas dan sebagainya tidak mencerminkan kenaikan atau penurunan poin sampai sebanyak itu.

Tentu saja, murid di semua kelas mulai menanggap kelas dengan serius, tapi aku tidak yakin,  pengurangan hukuman sudah benar-benar menghilang.

Sekarang aku memikirkannya, mungkin, itulah “Ujian Khusus" yang sebenarnya.

"Aku lahir di pedesaan dan masuk SMP di sana. Tempat ini sangat berbeda dari kehidupan SMA yang selalu aku bayangkan."

Setelah Katsuragi mengatakannya, dia sedikit frustrasi.

"Meskipun kita semua tahu, sekolah ini adalah tempat yang tidak bisa dimengerti dan sangat rumit. Aku baru-baru ini merasakannya lagi. Murid di kelas yang sama harus ramah satu sama lain dan seharusnya tidak pernah bermusuhan satu sama lain."

Tidak ada keraguan bahwa ini berbeda dari kehidupan sekolah yang normal. Sekolah sudah menciptakan sistem yang dirancang dengan baik yang tidak mendorong murid untuk berteman dengan murid dari kelas lain. Bisa juga dikatakan bahwa sekolah dibangun berdasarkan persaingan. Tergantung situasinya, akan ada kasus-kasus di mana kebencian bersama pada akhirnya mengarah ke sebuah konflik. Inilah jenis sekolah yang kami masuki.

Dengan cara yang sama, sistem seperti ini menyebabkan kerjasama kelas meningkat secara signifikan.

Yah, apakah kerjasama kelas ini ada untuk kelas lain selain Kelas B juga masih meragukan.

Kelas D sudah memiliki sejumlah tindakan individu yang bertentangan dengan konsep kerjasama, Kelas C secara efektif menjalankan sistem kediktatoran, dan Kelas A terbagi di antara dua faksi yang bersaing untuk merebut kekuasaan secara habis-habisan. Keseluruhan, topik kerjasama adalah situasi yang sulit bagi sebagian besar murid tahun pertama.

"Apa kau tidak ragu, Ayanokōji-kun?"

"Jujur, sama sekali tidak. Hal itu tidak mempengaruhi pendapatku tentang seberapa baik atau buruknya sekolah ini. Jika tujuan untuk membidik dan mempertahankan posisi Kelas A dikesampingkan, ini jelas merupakan sekolah yang menawan dan bagus. Hanya dengan sedikit kerja keras, murid tidak perlu khawatir tentang sesuatu seperti makanan dan pakaian. Kita bahkan mendapatkan uang untuk dibelanjakan karena poin dibayarkan oleh sekolah. Segala sesuatu di sekolah ini benar-benar disiapkan dengan matang dan dipikirkan dengan baik. "

Ini adalah pemikiran yang dibagikan oleh semua murid yang tinggal di sekolah ini. Selama kami tidak ingin hidup seperti dewa, tidak akan ada yang menolak lingkungan seperti ini sekarang. Katsuragi tidak bisa membantah hal ini.

"Aku setuju. Jika ada sesuatu yang tidak dipuasi, sudah pasti lingkungannya yang terlalu sempurna. Aku tidak berpikir bahwa inilah cara yang harus ditempuh murid SMA. Murid di sekolah ini tidak akan bisa lulus dari ujian yang sangat sulit atau apa pun itu... Semuanya tidak masuk akal. Bagaimanapun, tolong beri tahu Horikita tentang ancaman yang ditimbulkan Ryuuen.”

Aku disarankan oleh laki-laki pendiam dan berjanji bahwa aku akan memberitahukan ini kepada Horikita.

Faktanya, Ryuuen sudah meluncurkan serangan kuat ke Kelas D dalam upayanya untuk mengalahkan kami.

“Kau hanya ingin hidup tenang juga? Kekhawatiran sepertinya tidak pernah berakhir ... untuk kita berdua. ”

Aku hanya bisa bergumam.

***

Malam itu, ketika aku sedang bersantai di kamarku, Karuizawa menelepon. Kami sudah bertukar nomor kontak sebelumnya, tapi aku masih sedikit terkejut mendengarnya untuk pertama kali.

"Aku punya pertanyaan."

Setelah menjawab telepon dan meletakkannya di telingaku, Karuizawa segera mengatakan hal tersebut.

"Jika aku bisa menjawab, seharusnya tidak masalah."

"Kau ditembak Satō, kan?"

Aku terdiam pada pertanyaan tak terduga. Bagaimana dia bisa tahu?

"Aku akan mulai dengan mengatakan bahwa ada banyak perempuan di kelas yang sudah tau berita ini."

"Seberapa cepat jaringan berita kalian menyebarkan informasi ini? Lebih cepat daripada Internet. Siapa sumber informasinya?"

"Apa maksudmu siapa? Sumbernya Satō sendiri. Aku diberitahu sebelumnya bahwa dia berencana menembakmu hari ini."

Apa itu semacam perdagangan atau sesuatu? Tidak, itu tidak benar ...

"Itulah kenapa kau menatapku hari ini?"

"... Apa kau benar-benar memperhatikannya?"

"Siapa yang menembak siapa itu tidak ada yang akan peduli, kan? Kenapa dia memeberitahu sesuatu semacam itu ke semua orang?"

"Karena perempuan memang seperti itu. Akan lebih sulit berhubungan satu sama lain setelah itu terjadi."

Apa seperti itulah caramu menandai orang lain sebagai milikmu?

Anak laki-laki punya fenomena serupa, jadi itu tidak terduga...

Meski begitu, ada sesuatu yang tidak aku mengerti.

"Jika ada banyak persaingan untuk orang yang sama ... Bukankah lebih baik jika kau tidak membuat pengumuman ke perempuan lain karena hasilnya akan sama saja?"

"Ini benar-benar berbeda. Sangat menjengkelkan jika kau tiba-tiba bilang kalau  kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Membiarkan orang lain tahu sebelumnya menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Terlepas dari itu, aku mau menanyakan jawaban apa yang kau berikan kepadanya."

Tidak, sangat canggung saat ditanyakan sesuatu semacam itu.

"Apapun jawabanku, itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Tidak masalah.... tapi kau tidak bisa mengatakan kalau itu tidak ada hubungannya denganku. Kau mengancamku dan membuatku melakukan banyak hal untukmu, aku bisa saja ketahuan. Jaringan informasi perempuan itu sangat luas. Jika rumor menyebar, itu akan membuatku gelisah. Resikoku akan meningkat dan akhirnya terlibat dalam masalah. Apak kau mengerti? ”

Dengan kata lain, ketika Satō dan aku berbicara, ada kemungkinan bahwa informasi tentang Karuizawa akan bocor dan berisikonya meningkat. Atau, aku mungkin hanya akan peduli dengan Satō, dan lalai melindungi Karuizawa. Melalui beberapa sistem logika yang aneh, dia berhasil memikirkan hal semacam ini. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, jelas dia terlalu memikirkan hal ini.

Terdengar masuk akal, tapi benar-benar bukan logika yang bagus. Penampilan, kata-kata, dan tindakan Karuizawa tidak sama dengan pemikiran teoretis yang akan dia ambil secara diam-diam. Kali ini dia sedikit memaksakannya terlalu banyak.

"Tidak perlu khawatir."

"Apa itu berarti kau berencana menerima pengakuannya?"

"Aku tidak bilang seperti itu, kan?"

"Kau bilang jangan khawatir. Karena kau tidak benar-benar menyangkalnya, Ah... entah bagaimana, aku pikir aku bisa menebakmu, benarkan? Memanfaatkan pengakuan itu, kau mungkin hanya memikirkan sesuatu yang mesum, kan? Laki-laki adalah makhluk yang seperti itu. "

Pemikiran-pemikiannya melonjak dengan cara yang berlebihan. Ini seperti orang tua yang merasa sangat bangga dengan anak mereka yang menang juara satu dalam event olahraga, yang mereka bicarakan kepada orang tua yang lain bahwa anak mereka suatu saat pasti akan menjadi atlet Olimpiade.

"Bahkan jika manusia adalah makhluk yang seperti itu, setidaknya untuk saat ini, aku tidak punya perasaan seperti itu."

"Buktikan. Jelaskan padaku alasan penolakanmu."

"Buktikan? Itu bahkan bukan pengakuan. Dia hanya bilang dia ingin berteman dan kami tukaran nomor telepon."

"…Aku mengerti. Ternyata seperti itu. ”

Kenapa aku harus mengatakan hal semacam itu pada Karuizawa? Sangat memalukan.

"Ini bukan masalah menerima. Semuanya berakhir dengan saling bertukaran nomor telepon."

"Hmm ...... Kalau begitu, sampai di sini saja."

Sikap Karuizawa sangat egois.

Karena aku yang mengangkat teleponnya, akulah yang harus menyelesaikan masalah ini.

"Aku ingin menanyakanmu sesuatu sekarang. Kau tidak pernah berinteraksi dengan tiga murid perempuan dari Kelas C itu sejak di kapal, kan?"

"... Ya, benar. Setidaknya untuk sekarang."

Nada suaranya menurun satu atau dua notasi. Untuk Karuizawa, ini adalah peristiwa  yang tidak ingin dia beritahu.

"Aku pikir aku sudah mengambil tindakan pencegahan yang tepat, tapi jika terjadi sesuatu, kau harus segera memberi tahuku. Bahkan jika kau sudah diancam dengan keras untuk tetap diam, selama kau memberi tahuku, aku akan segera menyelesaikan masalah itu. ”

Karuizawa dengan jelas menahan napasnya di telepon. Apa kata-kataku terlalu kuat?

"...... Aku tahu. Apa lagi yang harus aku katakan? Jika aku tidak berguna untukmu, itu akan sangat merepotkan untukku..."

Agar bisa bertahan di sekolah ini, Karuizawa harus mempertahankan statusnya saat ini, apapun yang terjadi.

Untuk melakukan ini, dia pertama-tama harus mentiadakan semua orang yang mengetahui kebenaran tentang dirinya.

Namun, mustahil bagi murid dari Kelas C untuk memahami seluruh situasinya sejak awal. Masalahnya terletak pada Ryuuen yang bekerja di belakang mereka. Bergantung pada situasinya, aku mungkin malah harus menyerangnya.

Tidak, aku takut peluang itu hampir mendekat.

"Jadi, kembali ke topik Satō, apa yang mau kau lakukan? Karena kau bertukar nomor telepon, ada kemungkinan sesuatu akan naik ke level berikutnya, kan?"

"Aku akan mengambil sikap diam pada yang satu itu. Setidaknya, aku tidak tahu apa-apa tentang Satō ... Aku mungkin tidak akan pernah dihubungi olehnya."

"Jadi, jika Satō tidak bisa bertahan lebih dari ini, apa kau akan mengucekannya?"

"Apa maksudmu dengan mencuekkan? Kami baru saja tukaran nomor. Secara pribadi, aku tidak berpikir aku akan mulai menghubunginya."

Aku tidak punya keberanian mengajaknya berkencan, dan aku tidak yakin kalau aku mampu menggerakkan situasi ke depan menuju ke pengakuan.

"Ya, Aku mengerti. Jadi, seperti itu."

Terdengar sedikit puas, Karuizawa bersiap mematikan panggilan.

"Karuizawa."

"Apa?"

Aku pikir mungkin aku tidak akan tepat waktu, tapi setelah memanggilnya, teleponnya tidak jadi ditutup.

"Pastikan kau menghapus catatan panggilan telepon kita dari ponselmu."

"Aku sudah melakukan itu sejak lama. Aku bahkan menghapus pesan-pesamu."

"Syukurlah."

Bahkan tanpa perintah, Karuizawa sepertinya melakukan pekerjaan dengan baik.

"Kalau hanya itu saja, aku akan menutup teleponya."

"Ya."

Aku menambahkan kata-kata ini untuk mengakhiri pembicaraan kami dan menutup panggilan.

Sejujurnya, aku khawatir apa aku  harus mengatakan satu hal lagi atau tidak, tapi aku menyerah.

Aku menilai bahwa: jika kami mendiskusikan asumsi kami sekarang, itu hanya akan menjadi beban untuk Karuizawa.

Bahkan jika saatnya tiba, jika itu Karuizawa, setidaknya dia harus bisa menghadapi hal itu.

Sepertinya, aku harus segera melakukan sesuatu.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter