Your and My Asylum volume 4 Chapter 7 Bahasa indonesia

Di gereja, aku telah mengatakan ini kepada bibiku.

Aku tahu bahwa Tuhan kita tidak akan membuang kita. Namun, jika itu masalahnya, lalu mengapa kita dibuat menjadi makhluk lemah seperti itu? Mengapa kita dibuat agar kita dapat terpikat oleh godaan kejahatan, dan mampu melakukan kejahatan? Jika Tuhan kita benar-benar baik hati, mahakuasa, dan dipenuhi dengan cinta, maka bukankah seharusnya dia menjadikan kita baik hati sejak awal?




Sepanjang milenium yang lalu, ada ratusan juta orang yang telah memikirkan pertanyaan ini dan ada ribuan juta jawaban yang telah dipersiapkan untuk ini. Jawaban bibiku terpoles dari salah satu jawaban itu.

Ada perbedaan besar antara seseorang yang tidak memiliki pilihan lain selain bersikap baik dan seseorang yang mampu bersikap baik.

Dan kemudian bibiku mengatakan hal-hal berikut:

Tuhan kita tidak ingin kita menjadi boneka. Tuhan kita sama rapuhnya dengan jumlah yang dia cintai dan hargai. Agar tidak memaksa kita menjadi baik hati, dan karena itu, mampu menjadi baik hati setiap kali kita ingin. Agar kebaikan kita tidak dipaksakan tetapi tulus. Tuhan kita telah membuatnya sehingga kita ‘mampu menjadi baik hati’.

Begitu aku mendengar kata-kata itu, aku tersesat lagi. Bukankah itu berarti Tuhan kita tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu? Itu berarti Bapa kita di Surga menghormati kita.

Kenapa kau tidak memperlakukan aku seperti dia?

Kepindahan Minhee ke sekolahku adalah sesuatu yang terjadi beberapa saat setelah pertanyaan ini muncul di benakku.


Bagian dalam kereta redup. Jendela-jendelanya kecil, dan sedikit cahaya bulan yang mengalir melewati jendela-jendela akhirnya diselimuti oleh kain-kain hitam yang menghiasi bagian dalam kereta.

Jika Earl Silver Lion, yang mengangguk sambil bersandar di bahu Zia, tidak ada di sini, maka bagian dalam kereta ini akan benar-benar ditelan kegelapan.

Dia seperti bunga bakung di lembah.

Suara gemetar bergema setiap kali roda terjebak pada sesuatu. Suara sayap mengepak saat kuda-kuda yang terlihat seperti ayam berjalan menembus kegelapan. Suara napas yang menyenangkan menembus semua suara itu dan bergema.

Sebuah suara.

“Tn. Yujin······.”

Aku segera menganggukkan kepalaku ketika aku sedang duduk di sisi berlawanan dari Earl dan mengawasinya.

“Ya.”

“Tn. Yujin, Tn. Yujin, Tn. Yujin, hic, mm, Tn. Yuujin.”

“Ya.”

Hening.

“TN. Yujin······ ahah. Tn. Yujin kita······.”

“Aku dengar.”

“Apakah kau membenci nya······?”

Zia, yang meminjamkan bahunya ke Earl, menggeliat.

Aku, tidak mengatakan apa pun sebagai balasan.

Earl membuka matanya. Dia mengangkat kepalanya dengan malas dan menatapku dengan mata berkaca-kaca saat dia berbicara.

“Jangan terlaluuuuuuu membencinya, hic. Jangan pikirkan itu sama sekali. Sudah kubilang, kan? Itu karena dia seorang nenek. Karena dia sangat tua, benar-benar······ karena dia sangat keras kepala······ si idiot itu······ sangat bodoh······.”

Seperti yang diharapkan, aku tidak mengatakan apa pun sebagai balasan.

“Ah, kenap kau tidak merespon····· aku bilang untuk tidak membencinyaaaa. Kau bilang kau itu milikku, kaaaaan? Kau bilang kau itu milikku, hic, uu, kan?.”

Kata-kata Earl akhirnya menjadi gumaman.

Saat itulah saya berbicara.

“Kau dengar?”

“Apaaaa, aku harus tidak dengar?”

Tidak mungkin itu yang terjadi.

“Aku tidak membencinya.”

“Kau tidak berbohong, kan?”

“Yeah. Pasti ada kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman endasmu······ Ah hah hah hah, serius······ Gigit semua Dua Belas Jari, nenek itu······.”

Earl Silver Lion meletakkan tangannya di atas kepalanya. Zia menarik napas panjang.



“Paduka, jika Anda dengar······ maka beberapa tindakan harus dilakukan,”

“Tindakan? Omong kosong apa ini. Ziaa, Ziaa, dengan lubang apa kau mendengarkan kata-kata Tn. Yujin? Aku merasa kau tidak mendengarkan dengan telingamu, ah, sial. Aku——— tidak bisa, uu, kubilang aku tidak bisa. Aku tidak bisa, melakukan apapuuuuun.”

“Tapi······.”

“Tapi, apa? Apaan? Haruskah aku memanggil gurumu dan memarahinya? Tanya, tanyaaaaa dia kenapa dia membunuh seseorang di kotaku dan tidak mengatakan satu hal pun kepadaku? Haruskah aku mengeksekusi si nenek? Haruskah aku memenjarakannya? Menempatkannya dalam masa percobaan? Haruskah aku mengatakan padanya untuk berhenti datang? Aku, aku akan terlihat aneeeeeh. Aku marah, aku, aku memarahi orang sebanyak itu, dan aku bahkan mengubah wakil kapten penjaga, untuk kebenaran menjadi ini, aku akan terlihat buruk. Hah? K-Kampret.”

“Paduka!”

Zia berteriak dengan kuat. Azure Rose Knight berdehem dan mengatur kata-katanya dalam bahasa dunia ini.

“Sebagai salah satu Pengawal Kerajaan Anda, saya sadar akan hal itu. Otoritas penguasa lebih penting daripada yang lain. Namun, otoritas itu tidak datang dari mengenakan pakaian elegan dan memegang tongkat dengan permata yang tertanam di dalamnya. Mereka yang meletakkan pakaian mereka dan membuatnya agar kaki pelayan mereka tidak dikotori, dan mereka yang membakar tongkat mereka untuk mencegah tangan pelayan mereka membeku adalah penguasa sejati. Kekuatan untuk memerintah adalah sesuatu yang berasal dari pengakuan dan kekaguman terhadap subjek seseorang. Sebagai seorang ksatria, aku sadar akan hal ini.”

“Ah hah ha, apa ini? Itu, kalimat itu, mm, dari mana kau mengambil kalimat itu?”

“Saya baru saja mendapat beberapa motif dari sana-sini.”

“Sepertinya itulah. Apa kau yakin bahwa itu adalah ‘penguasa sejati’ dan bukan ‘seorang psiko sejati’? Hei anak-anak, lu, lumpur? Lumpur, yup, berhati-hatilah untuk tidak melangkah di dalamnya, mengapa kau memberikan s-strip show ketika kau hanya bisa mengatakan satu kalimat itu? Tidak dapat dimengerti dan aku tidak tahu kenapa kau membakar tongkat dengan permata yang tertanam di dalamnya. Ah hah hah ha, mhm, tidak bisakah kau menjual permata itu dan membelikan mereka segunung kayu bakar?”

“Settingnya adalah bahwa semua bawahan Anda tuli sehingga mereka tidak dapat mendengarkan perintah. Anda juga tidak bisa menjual permata.”

“Baiklah. Settingnya cukup, ah ha, ketat. Aku masih tidak mengerti kenapa kau akan membakar tongkat.”

“Sebenarnya, permata itu berlian dan, seperti yang Anda ketahui, berlian adalah batu bara bertekanan tinggi.”

“Terima kasih atas pelajaran kimianya. Tapi tetap saja, huu, ayo pilih arah tempatmu menyimpan berlian. Aha, uh······ sihir api? Mari kita memilih salah satunya.”

“Mantra Anda menggila saat Anda mengucapkan mantra api, menyebabkan Dewa Kuno yang tertidur di dasar lautan untuk terbangun. Anda kemudian sampai pada kesadaran bahwa permata yang tertanam pada tongkat itu terpesona dengan mantra yang bisa menyegel Dewa Kuno. Satu-satunya cara untuk mengaktifkan mantra adalah membakar seluruh tongkat bersama dengan permata. O petualang pemberani, apa yang akan engkau lakukan?”

“Aku menaikkan bendera putih ke otoritas DM dan membakar tongkat dengan permata yang tertanam di dalamnya.”

“Seperti itu, dengan kehendak bebas Anda sendiri, Anda memutuskan untuk membuat tongkat berlian menyala. Perdamaian telah kembali ke dunia. Kesetiaan bawahan Anda telah meningkat.”

Earl tertawa kecil sambil menekan tangannya ke dahinya. Zia, yang telah mengatakan semua ini, tidak tertawa.

Earl tidak tertawa lama.

“Tn. Yujin······.”

“Ya?”

“Kau salah tentang satu hal.”

Aku sudah menunggu.

“Kau dan Sophna. Bahkan jika kalian berada dalam skala, tentu saja, aku tidak akan mengadukan Sophna, tetapi meskipun demikian, aku juga tidak akan memotongmu. Saya tidak akan mengorbankanmu. Karena, itu sudah berlalu. Yup, tahap itu sudah, berlalu······.”

Dengan cara tertentu, kata-kata itu bisa terdengar meratapi.

“Jadi jangan khawatir. Aku tidak akan memperlakukan barang milikku dengan sembarangan, ah hah, seperti itu. Aku tidak akan memperlakukamu sembarangan······ kota sialan ini juga, bahkan sekarang, aku tidak bisa membuangnya······”

Aku menghitung sampai lima di dalam kepalaku. Aku kemudian menghitung mundur dari lima.

Aku berbicara.

“Aku ingin mempercayaimu.”

Sambil memegangi dadaku dan menatap matanya yang tampak seolah-olah aku tidak dapat mengatasi alkohol, aku berbicara.

“Earl Silver Lion, aku juga sedih. Itu menyakitkan.······Itu sulit. Aku ingin mempercayaimu······. Kenyataan bahwa kau menyayangiku, Earl, kenyataan bahwa kau tidak akan membuangku, aku ingin percaya itu lebih dari orang lain. Aku benar-benar ingin mempercayaimu sekarang.”

“Percayalah kepadaku.”

“Buat aku percaya padamu.”

Earl menatapku.

Aku melihat ke arah Earl.

“Aku ingin berbicara dengan Sophna.······ Izinkan aku untuk melakukannya. Aku tidak peduli apakah itu sesuatu yang sudah terjadi. Beri dia perintah yang jelas, sehingga Sophna tidak bisa membunuhku······ ” Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “······ Minta ini padanya.”

Earl Silver Lion mengangkat kepalanya dan menatap atap kereta. Kereta itu tidak bergetar lagi. Kami, pada titik tertentu, tiba di kastil.

“Baiklah.”

Earl menyebarkan kedua tangannya setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menatap pemanggilan terakhir yang tersedia untuknya bulan ini sebelum mengepalkan tinjunya.

“Baiklah ayo.”

Ucap Earl Silver Lion.


Ketika Earl, Zia, dan aku memasuki ruangan, Sophna sedang membaca buku. Begitu dia mengangkat kepalanya, ekspresinya berubah seperti daun yang layu.

“Mii, kamu sudah mabuk lagi······ Seperti yang saya pikirkan, saya seharusnya ikut. Tunggu sebentar, saya akan segera membuat obat untuk menyingkirkan mabukmu. Duduk di sana dan———.”

“Ah ha, halo Sophna~ Uu, haah! Nona Kepala Pengikuuuut kita~! Ehehehe, huu······.”

Earl Silver Lion berputar dengan senyum lebar di wajahnya sebelum bergegas ke pelukan Sophna. Sophna secara naluri memeluknya. Sophna memiliki ekspresi setengah terkejut dan setengah bermasalah di wajahnya saat dia menepuk Earl Silver Silver yang menggosoknya.

“Kamu benar-benar mabuk. Zia, apakah kamu hanya menonton disampingnya? Apakah kamu tidak mempertimbangkan ide bahwa kamu harus membantu di saat seperti ini?”

Zia tidak menjawab. Earl mengusap Sophna tepat ketika dia akan menaikkan alisnya.

“Araa? Jangan maraaaah. Aku, hic, mhm, Aku! Ingin minum, jadi aku minum, hu, Nona Kepala Pengikut······ nenek, mm······ bau rumput······ ah hah hah ha, mm······.”

“Disana disana. Itu benar, ini nenekmu. Nenek ada di sini. Sudah berapa tahun sejak terakhir saya memelukmu seperti ini? Jujur, tunggu. Sesungguhnya······ jika kamu tertidur seperti ini maka perutmu akan sakit, jadi tunggu sebentar sementara aku,”

“Tapi kenapa kau melakukannya?”

Keheningan singkat.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kenapa, kau mencoba membunuh Tn. Yujin?”

Sophna membuka mulutnya. Hanya sesaat. Dia kemudian segera berbalik untuk melihatku dan tersenyum.

“Astaga. Apakah kamu mengadukan saya? Sementara di hadapan alkohol pada saat itu? Tampaknya kamu bahkan tidak memiliki jumlah kebanggaan yang terkecil sekalipun.”

Bahu Earl Silver Lion bergetar halus. Zia juga menggigit bibir bawahnya.

Earl Silver Lion berbicara.

“Jadi itu benar.”

“Itu benar, saya memarahinya sedikit. Mii, tidak peduli bagaimana saya melihatnya, orang ini terlalu mencurigakan. Itu sebabnya———”

“Itu sebabnya,” suara Earl Silver Lion menjadi tidak teratur. “Itu sebabnya, kau mencoba membunuh Yn. Yujin.”

“Saya melakukannya demi kamu. Sebagai permulaan, tenangkan dirimu. Sadarlah dan, ah!”

Sophna mengeluarkan suara kaget.  Earl Silver Lion memeluknya erat, sangat erat.

“Se———karang, sekarang, sadar, ah hah, haa······, apa kau menyuruhku, sa, sadar? Ah hah ha, mm, Sophna, Sophnaa······ Kenapa? Kenapa kau melakukan sesuatu seperti itu······.”

“Tunggu, Mii, ada masalah apa? Sudah saya bilang, orang ini mencurigakan. Itu sebabnya, saya,”

“Dia, milikkuuuuuuu. Tn. Yujin adalah, ah ha, milikku, yang kupanggil, tetapi kenapa kau, Sophna, sepanjang waktu, sepanjang waktu, nenek, sial, orang-orang di kota ini, kata-kataku, kenapa kalian semua tidak mendengarkan———sialan, sialan. Ah······.”

Sophina yang panik itu berbicara lantang.

“Mii! Tenang!”

Earl Silver Lion juga berbicara lebih keras.

“Apa kau pikir aku bisa tenang!? Kastil······ di kastil saya! Beraninya kau mengucapkan kata-kata itu ketika kau membawa potongan-potongan sampah itu ke kastilku!”

Sophna membeku.

“Potongan-potongan sampah?”

“Ah ha, ah———Aku mengerti. Potongan sampah, bukan potongan sampah, kan? Dengan mengirim orang-orang yang mengenakan topeng potongan sampah itu······.”

Sophna mulai benar-benar panik.

“Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Mii.”

“Ah hah ha ha ha, kamu tidak tahu? Bagaimana bisa kamu tidak tahuuuuu, ketika kamu mengakuinya barusan!? Beberapa detik yang lalu, sedetik lalu———kau mengakuinya, tapi kau mencoba pura-pura tidak tahu? Sekarang juga? Dalam situasi ini? Ah hah ha ha ha ha ha! Apa, ya? Apa ini? Meskipun, barusan, kau mengakui fakta bahwa kau mencoba membunuh Tuan Yujin.”

Sophna menarik napas dengan tajam. Dia memelototiku. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, aku merasa seolah-olah beberapa juta pikiran saling bertabrakan seperti kilat di luar mata hijaunya.

Aku mundur selangkah dan menundukkan kepala. Zia melangkah di depanku seolah-olah dia bermaksud untuk melindungiku. Sophna mengatupkan rahangnya.

“Tenang! Aku, wanita ini benar-benar tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Paduka, Earl, sepertinya ada kesalahpahaman.”

Tidak hanya suaranya putus asa, tapi itu juga berdampak. Namun, dampak itu tidak bisa mencapai Earl sekarang. Dengan suara yang benar-benar retak karena alkohol di dalam sistemnya, Earl berbicara.

“Kepala Pengikut······ Kepala Pengikut, mm, A-aku mencoba untuk tidak marah, tahu?Tapi, taaaapi, sekarang. Apa kau mencoba berbohong?”

“Itu bukan kebohongan! Tunggu, jangan bilang.” Sepertinya dia akhirnya memahami situasi saat Sophna terkesiap. “Jangan bilang———apakah kamu, mencurigai wanita ini sebagai pelaku di balik insiden Gongshik?”

Zia melangkah maju seolah dia tidak tahan lagi untuk melihat ini.

“Apa kau tidak mengakuinya!?”

“Itu kesalahpahaman! Aku······ aku bermaksud!”

“Bahwa kau mencoba membunuh Yujin———”

“Itu benar, dengan tanganku! Tapi dengan Gongshik!? Insiden penyerangan? Saya melakukan itu? Apakah kamu mengatakan bahwa saya adalah orang yang menyebabkan itu? Mengapa, untuk alasan apa saya melakukan hal seperti itu!? Untuk alasan apa kamu percaya bahwa saya telah melakukan hal semacam itu!? Apakah bocah itu mengatakan begitu!?”

Darah mulai bergegas ke kepala Sophna sekarang. Dengan wajah yang terbakar seperti warna daun jatuh, dia berbalik ke arahku tiba-tiba, menghasilkan gemerisik yang terdengar seolah-olah angin kencang bertiup ke beberapa cabang.

“Beraninya kamu mencoba menjebakku! Hah! Kamu orang dunia lain yang entah darimana. Paduka! Zia! Pria seperti tiga belas jari ini mencoba untuk menjebak wanita ini dan······.”

“Yujin bahkan tidak mengatakan satu hal pun!”

Sophna ragu-ragu. Zia menggeretakkan giginya.

“Yujin tidak pernah mengatakan satu hal buruk tentangmu, Nona Sophna! Jika ada, dia berusaha melindungimu, Nona Sophna!”

“Lindungi, apa, tidak, lalu mengapa kamu meragukan wanita ini······?”

“Borg Edentras adalah orang yang memberi kami petunjuk ini!”

Ekspresi Sophna jatuh ke dalam kepanikan. Saat dia terus mencari bolak-balik antara aku, Zia, aku lagi, dan Zia lagi, dia akhirnya jatuh ke dalam keadaan kacau.

“Borg? Si Lunar Scorpion?······Mengapa? Aku, tidak, tunggu, tetap saja! ” Sophna dengan cepat menenangkan dirinya dan berbicara dalam bahasa Korea sekali lagi. “Kalian———berdua datang ke hadapan saya karena percaya kata-kata pencuri? Saya? Kalian mencoba untuk menyerang saya?”

Itu benar-benar cepat. Dia lebih cepat daripada Borg dalam hal menenangkan diri.

Terlalu cepat.

Dia seharusnya melakukan serangan terhadapku sedikit lagi. Dia seharusnya mengetahui fakta bahwa ‘situasinya mencurigakan’ dan jatuh dengan itu. Dia telah kehilangan targetnya karena ini. Dia berakhir secara sembrono mengarahkan anak panah ke arah Borg, menyerang keduanya di sini karena mempercayainya, membangun permusuhan yang tidak perlu dia bangun, dan melemparkan bahan bakar ke dalam situasi yang sudah dipanaskan······ aku tidak memberinya saran ini.

Aku mengatakan sesuatu yang lain sebagai gantinya.

“Aku juga setuju dengan Sophna. Jika kau memikirkannya lagi, bukankah itu aneh?”

Sophna menjadi tercengang menanggapi dukunganku. Dia kemungkinan besar tidak bisa memahami situasinya sama sekali sekarang.

“Apa yang kau katakan, Yujin?”

Zia menatapku dengan mata sedih dan menanyakan itu. Aku menggelengkan kepala.

“Kau bilang bahwa Sophna yang mengirim Ariya padaku, kan? Aku bisa hidup melalui insiden itu karena Ariya telah datang. Jika pelaku dibalik serangan itu adalah Sophna, maka itu tidak akan konsisten. Itu sebabnya,”

“Ariya Orgit!”

“Ya, Paduka, Earl.”

Ariya, yang sedang standby di luar ruangan, masuk. Earl berbalik untuk menatapnya dengan tatapan menusuk.

“Apa yang Sophna katakan ketika dia mengirimmu, kepada Tn. Yujin?”

Ariya menundukkan kepalanya dengan 45 derajat.

“Saya diberitahu untuk mengamatinya.”

“Kenapa?”

“Saya tidak diberitahu alasannya.”

“Lalu kenapa kau membantu Tn. Yujin ketika kau seharusnya terus mengamati? Buanglah sesuatu seperti ‘tugas seorang pelayan dan beri aku penjelasan yang akurat.”

“Kebetulan, itu karena Nona Zia telah memberitahuku sesuatu pada hari itu. Fakta bahwa aku bisa mempertahankan hidupku setelah melakukan kejahatan itu pada hari itu adalah karena Sir Yujin telah memohon kepada Paduka Earl.”

Earl Silver Lion menatapku. Suaranya berangsur menjadi lebih cepat.

“Apa kau tidak mengerti, Tn. Yujin? Ariya menyelamatkanmu hanya kebetulan. Bagaimanapun, Kepala Pengikut kita kemungkinan besar tidak seperti itu. Dari semua orang, haa, dari semua orang, apa kau tidak penasaran kenapa Alshi-lah yang ditikam? Alshi, kekasih Ariya.”

Meskipun banyak tanggapan datang ke kepalaku, mereka semua hal yang tidak boleh aku katakan.

Aku memegang manik-manikku dengan kuat dan berbicara.

“Itu lompatan logika yang berlebihan. Earl, dari apa yang bisa kulihat······.”

“Tn. Yujin. Aku tahu bahwa kau mencoba untuk mencegah hal ini, aha, untuk menjadi lebih besar. Itu mengagumkan, tapi, tapi, kau tahuuu? Kau perlu memikirkan waktu dan tempat atau kau akan dipaku.”

Aku menutup mulutku.  Earl Silver Lion berbalik menghadap wajah Sophna.

Sophna sekarang benar-benar bingung.

“Apa······ Apaan, omong kosong ini?”

The Earl tidak memberi Sophna kesempatan untuk menggeliat.

“Aha, ya. Itu tidak masuk akal. Tapi kau tahu, Sophna, bagaimana?”

“Apa?”

“Bagaimana kau datang pada waktu yang tepat seperti ini?”

“Itu······. Itu karena saya telah memberi Ariya sebuah Truth Evoker, setelah melihat bahwa Truth Evoker telah berubah, itulah mengapa······.”

“Ah ha, ah hah hah ha ha, waa, wow, Sophna, Sophnaaa······, bagimu untuk bahkan——— surat wasiat terakhir, lambang Mage Tower, meskipun kau tahu······.Meskipun kau tahu itu, Sophna, kau.”

Earl tidak menangis. Dia juga tidak berair mata. Sudut matanya bahkan tidak menjadi merah. Mirip dengan saat ketika dia mencoba mengeksekusiku, dia hanya menggertakkan giginya dan bergumam dengan nada berbisa di suaranya. Sophna memandang Earl seperti bunga matahari yang tertutupi bahan kimia. Pada saat itu.

Itu kemungkinan besar bukan karena logika.

Kepala Sophna berubah sedikit. Kearahku. Dia menatapku.

“Kamu.”

Sophna Radgrinkle berbicara begitu dia melihat ke mataku.

“Itu adalah kamu······ Kamu.” Sophna yang bergumam mengayunkan tongkatnya. “Abu-abu, Distorsi, Tumbuhan Merambat!”

Ruang kosong dihadapan Sophna hancur seperti kaca.

Sebua kegelapan hitam gulita terungkap. Sebuah kegelapan mendidih melonjak seperti tentakel.

“Great Rending Slash······!”

Zia, yang berdiri di depanku, memotong kegelapan dengan cahaya pedangnya. I······! Mantra menghilang begitu saja. Sophna berteriak.

“Apa yang kamu lakukan!?”

“Saya yang seharusnya menanyakan itu, Nona Sophna! Untuk Anda melakukan sesuatu seperti itu di hadapan Paduka Earl······!”

“Saat ini, bocah itu sedang mencoba menjebak wanita ini. Semua ini adalah······! Benih, Meluas, Meledak!”

Sekali lagi, Zia memotong mantera yang telah dilemparkan oleh Sophna. Bang······! Objek seperti benih, yang telah terlempar, bertabrakan dengan dinding dan meledak. Ruangan itu bergetar dan buku yang telah dibaca Sophna jatuh ke lantai dan terbuka lebar. Kalimat yang disorot ditampilkan.

Angry peope are not always wise.
(TLN: Ini emang dari sananya bahasa inggris)

Zia bergegas maju untuk menekan Sophna. Sophna menggeretakkan rahangnya dan berjuang. Sementara ini terjadi, meja bergetar dan akhirnya membalik.

Dan kemudian, seolah-olah itu adalah takdir, sesuatu bergulir dari meja.

Earl Silver Lion meliriknya. Baik mata Zia dan Sophna terkunci di tempat itu juga.

Earl Silver Lion berbicara.

“Sophnaa?”

Sophna tidak menjawab. Drap, drap, suara langkah kaki beresonansi dan Earl Silver Lion segera berhenti untuk mengambil item.

“Apa ini?”

Itu adalah———belati aneh dan topeng.

Mereka tampak persis seperti ketika ditemukan ketika Alshi ditikam.

Belati dan topeng Gongshik.

Earl Silver Lion melirik mereka sejenak sebelum beralih ke Sophna.

“Sophna?”

“Saya,”

Sophna tersentak. Satu tetes air mata menetes dari matanya. ‘Saya,’ katanya, ‘Saya tidak menempatkan mereka,’ sebelum dia bisa mengatakan lebih dari ini, Earl Silver Lion berbicara lebih dulu.

“Kenapa ini di sini?”

“Wanita ini tidak menempatkan mereka di sana!”

Earl Silver Lion memiringkan kepalanya. Suara mendidih datang dari mulut Sophna. Guuh, guuh, dia menelan kemarahan dan kebenciannya beberapa kali, membiarkan satu air mata jatuh, dan memegang tongkatnya dengan erat.

“Ini jebakan!”

Ujung tongkatnya mengarah ke arahku.

“Bocah itu! Bocah itu yang melakukannya!”

“Sophnaaa.”

“Han Yujin······!!”

Cahaya putih terbang ke arahku pada saat yang sama dia mengeluarkan teriakan mengerikan itu.

“Bahkan, sedikit saja kebohongan tidak akan diampuni! Bukankah kamu yang menaruh ini di sini!?”

“Aku tidak meletakkannya di sana.”

Cahaya putih yang melilitku tidak berubah dari warna putih mereka.

“Apa,” Sophna menggertakkan giginya dan melanjutkan, “apakah benda ini berhubungan denganmu!?”

“Tidak.”

Cahaya masih putih.

“Kalau begitu, maka.” Sophna tersandung dengan kata-katanya. Ekspresinya, lidah, tatapan, dan mulutnya kusut seperti sulur. “Jika itu masalahnya, maka…”

Ada suara tamparan.

Sophna terjatuh. Darah mengalir dari sudut mulutnya. Ada tanda merah di pipinya yang berbintik-bintik.

Earl Silver Lion telah menyerangnya.

“Paduka······.”

“Sial,”

The Earl menggertakkan giginya.

“Sial! Kenapa kau bertingkah sangat memalukan!?”

“Wanita ini····· Paduka, wanita ini benar-benar tidak······!”

“Penjaga!”

“Wan! Apakah Anda memanggil, wan, Paduka Earl?”

Saat itu tengah malam. Skala gangguan yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian orang. Tentu saja, meskipun begitu, alasan mengapa Roroa dapat segera tiba dengan penjaga adalah karena fakta bahwa aku telah memberitahunya untuk bersiap sebelumnya, tetapi mulai dari Earl Silver Lion, orang lain di sini tampaknya tidak peduli tentang fakta ini.

“Bawa dia!”

Earl Silver Lion berteriak sambil menunjuk Sophna yang terjatuh. Para penjaga saling memandang dengan tatapan terkejut di wajah mereka, tetapi Roroa buru-buru memasuki bentuk terhunus dan menahan Sophna. Zia menghunus pedangnya dan membantu dengan tatapan tak enak di wajahnya.

Sophna hanya bisa menenangkan diri setelah dia benar-benar terikat. Sophna memandang sekeliling dengan hampa sebelum berbalik ke arahku. Dia berteriak.

“Paduka······! Kamu harus bunuh bocah itu!”

Tidak ada martabat atau ketenangan. Sophna memutar tubuhnya seperti binatang yang dirantai.

“Lepaskan aku! Roroa! Roroa, wanita ini tahu bahwa kamu juga telah menempel dekat dengan bocah itu······! Bocah itu, “ dalam bahasa Korea, “Mii, saya! Saya selalu bekerja demi dirimu!”

“Tolong.”

Setetes darah menyentuh lantai.

“Tolong,······.”

Earl Silver Lion mengangkat kepalanya sambil mengatupkan rahangnya······ Dia menatap Sophna.

“Sekali ini saja, dengarkan apa yang saya katakan······.”

Keheningan seperti kematian menimpa kami.

“Sadar······.”

Ucap Sophna.

“Setelah kamu sadar······ di pagi hari, pada waktu itu, mari kita bicara.”

Earl tidak menjawab. Sophna mengikuti Roroa sambil menundukkan kepalanya.  Earl Silver Lion memperhatikannya pergi······ dan meraih dadanya.

Dia memiringkan kepalanya.

“Uuk······.”

“Paduka.”

Zia mendukung Earl. The Earl mencoba mendorong Zia tetapi akhirnya dipeluk sebagai gantinya.

“Zia······ Zia. Ah haa, Zia······.”

“Ya, Paduka. Zia Batsand, ada di sini.”

“Aku akan tidur······ Aku ingin tidur. Kamar Tidur······ Zia······.”

Zia mengangguk dan mengangkat Earl ke punggungnya. Dia kemudian berbalik untuk melihatku dan Ariya. Ruangan itu berantakan dan penduduk kastil bergumam di pintu.

“Aku akan mengurusnya.”

Zia mengangguk menanggapi kata-kataku.

“Terima kasih.”

Zia pergi, hanya menyisakan aku dan Ariya.

“Fair Grace······.”

Ariya memanggilku. Aku mengangguk.

“Ya.”

Masih ada banyak telinga di luar ruangan. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Ariya.

“Panggil semua orang. Kita mendekati akhir.”

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter