Your and My Asylum volume 4 Chapter 11 Bahasa indonesia

Aku menjalani kehidupan di mana aku menerima cukup banyak cinta. Meskipun mayoritas dari cinta itu adalah peluru cinta tanpa tujuan, meskipun begitu, ada cinta yang sebenarnya tercampur dengan baik.



Itu adalah cinta yang tak dipaksakan. Dengan demikian, itu adalah cinta yang bisa kuterima.

Mirip dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita, itu adalah cinta sejati yang mengumpulkan rasa hormat dan pertimbangan.

Tuhan-ku.

Dewi-ku.

Minhee-ku.

Mirip dengan pengembara di padang gurun yang diselimuti oleh lampu, aku diselimuti oleh cinta itu. Bahkan setelah api padam, bara api masih ada di dalam diriku.

Aku menerima cinta. Sungguh, aku hidup dengan sangat menerima cinta.

Oleh karena itu, begitu aku membuka mata, dunia itu, dan bahkan dunia lain ini, adalah tempat-tempat yang berlimpah dengan cinta, dan aku telah menerima cukup banyak cinta yang tak layak bahkan sampai sekarang.

Aku ingin membalas cinta itu.

Itu kemungkinan besar tidak akan menjadi tugas yang mudah.

Aku tidak memiliki kemampuan yang sama seperti yang dimiliki Minhee. Tidak peduli seberapa banyak aku mencoba mengikuti jejaknya, aku tidak secerah, semembara, atau secantik seperti Minhee. Jika Minhee bisa mengendalikan api, maka yang bisa kutinggalkan hanyalah sisa-sisa yang membusuk. Pada akhirnya, aku tahu bahwa aku tidak terlalu jauh dari tipe orang yang mendorong cinta pada diri mereka sendiri dan menyebutnya cinta.

Kadang-kadang, keraguan itu akan menjadi sejenis es dan menyerangku. Pada saat itu, di kamar rumah sakit, tangisan ciutan jalak, pengalaman yang kumiliki saat dikubur di bawah abu membuatku takut. Apakah aku melakukan hal dengan benar sekarang? Apakah aku melakukan yang terbaik untuk, setidaknya, seperti Minhee, mirip dengan Minhee?

Aku meletakkan tanganku di dada sambil merasakan dinginnya. Sambil mencicipi rasa abu pahit dan tajam, aku menguburnya di dada. Minhee. Dewi-ku. Cintaku. Baraku. Apakah engkau ada disana? Apakah cinta yang aku tuangkan untuk dirimu ada di sini? Apakah sisa dirimu di sana ada di tempat yang kutuju?

Demi dirimu.


Esok hari pun tiba.

“Uu, kepalaku······ Masih pagi dan aku sudah sekarat······. Untuk seorang ksatria wanita, dengkurannya parah kali······.”

Earl berjalan keluar dari kamarnya sambil terseok-seok. Dia pasti terombang-ambing dan terbalik-balik selama tidurnya karena rambutnya yang seperti singa seperti bahkan lebih berantakan lagi. Sepertinya dia mengalami sakit kepala parah saat dia menyipitkan matanya sambil memegangi kepalanya.

Mata itu langsung terbuka saat mereka menyesuaikan diri dengan sinar matahari.

“······Apa ini?”

Bahkan untuknya, ini adalah situasi dimana dia hanya bisa menanyakan itu. Karena seketika dia bangun dan keluar dari kamarnya, Sophna dan aku berlutut berdampingan di depannya.

“Eh······ Uh. Tidak, tunggu, ini normal untuk Yujin, tapi Sophna? Apa ini?”

Earl sekarang membuka matanya dengan sangat terkejut.

Sophna menggelengkan kepalanya dengan hormat.

“Saya mohon maaf.”

“Uh······.”

“Wanita tua ini salah. Mii, nenek ini melakukan kesalahan······ Saya telah menjadi pikun setelah hidup begitu lama. Sesuatu seperti ini tidak akan terjadi lagi. Saya juga akan melakukan yang terbaik untuk bergaul dengan Yujin.”

Earl terus membuka dan menutup mulutnya. Dia kemudian berbalik untuk melihatku.

Aku berbicara lebih dulu.

“Aku berbaikan dengannya.”

Earl berkedut.

“Dia berkata bahwa dia ingin memohon maaf padamu. Itu sebabnya aku membawanya ke sini. Maaf. Ini adalah sesuatu yang telah kulakukan secara sewenang-wenang, jadi jika kau ingin mengecam seseorang, maka aku akan menghargai jika kau hanya menghukumku.”

“Tidak, Mii. Wanita tua ini keras kepala. Karena saya merasa tidak enak, karena saya menyesal······ karena saya sadar saya sedang berpikiran sempit······ saya mohon maaf, Mii······.”

Sophna melihat ke arah Earl sambil meneteskan air mata.

“Bisakah Anda tidak memaafkan saya kali ini······?”

Wajah Earl menyala.

“Hmm.”

Dia tersenyum lebar.

“Haaamng~! Tentu saja!”

Earl melesat maju dan bergegas menuju Sophna. Seperti kucing yang memeluk perak, dia memeluk Sophna dan berguling-guling.

“Ah ha ha ha! Ya! Yaaaa! Aku akan memaafkanmuuu! Bagaimanapun, ini Sophna!  Sophna yang telah mengganti popokku!”

“Saya mohon maaf.”

Sophna memegang Earl dengan erat dan mengatakan itu.

“Tidak apa-apa~! Mhm mhm, tidak apa-apa kalau kau sudah bertobat! Semuanya akan baik-baik saja kalau kau mendengarkanku dengan baik mulai sekarang!”

“Saya benar-benar mohon maaf.”

“Aku bilang tidak apa-apa~! Ah hah hah hah ha! Sophna! Nenek! Kepala Pengikutku!”

“Sungguh, saya benar-benar mohon maaf······. Mii. Saya mohon maaf kepada Anda······.”

Bahkan sebelumnya. Sekarangpun.

Dan bahkan mulai sekarang.

“Saya benar-benar mohon maaf······.”

Sophna memohon maaf kepada Earl lagi dan lagi sambil menangis.

Aku mengatur kacamataku, dan memperhatikan mereka.


Dengan begitu, insiden itu berakhir dengan catatan bagus. Earl merasa puas, dan selama Earl puas, Zia juga puas.

Meskipun demikian, aku sibuk mencoba untuk mengurus akibatnya sementara waktu. Melalui Sophna, ketika aku akhirnya bisa menjangkaukan tanganku menuju tempat-tempat di kastil yang sebelumnya tidak bisa, aku juga mengadakan pertemuan rahasia dengan Borg. Akhirnya, mirip dengan bagaimana aku melakukannya pada bulan sebelumnya, setelah akhir Februari tiba, aku melanjutkan perjalanan kembali ke Korea.

Kemungkinan besar akan ada hari di mana aku akan dapat membicarakan hal ini.

Februari, yang diisi dengan naik turun, berakhir seperti itu.

Pada hari pertama bulan Maret, Lady Dansoomyo tiba.


Gadis itu semerah darah oraang suci.

Pupil matanya merah, bingkai kacamatanya merah, bibirnya merah, dan bahkan topi yang dikenakannya dan pakaian yang dia kenakan juga merah. Itu bukan warna merah tua yang ganas seperti mata Sii. Cahaya merah yang benar-benar tenang, tetapi kadang-kadang melonjak tanpa suara. Seperti boneka china dengan lubang menembus mata yang juga terdapat lilin menyala yang terbuat dari minyak paus sperma, dia memiliki warna merah yang memiliki keanggunan dan martabat.

“Dilema yang orang-orang rumah tanggaku dapat dipersempit menjadi satu hal.”

Dia tinggi. Satu kepala lebih tinggi dariku. Kira-kira antara 180 dan 190 sentimeter. Jika kau memasukkan mahkota topinya, maka dia dengan mudah mencapai lebih dari 2 meter. Alisnya tebal, bentuk matanya sedikit miring ke bawah sehingga, bersama dengan penampilannya yang lembut, tato bara di dekat mata kirinya meninggalkan kesan abadi.

“Apa yang harus kau lakukan agar tidak mati?”

Sambil meregangkan jari-jarinya yang memiliki cat merah cerah di atasnya, 10 jari rampingnya panjang seperti kaki laba-laba, dia berbicara.

“Ada jawaban untuk pertanyaan ini. Dan di sana juga ada proses yang harus dilalui secara alami untuk mendapatkan jawaban itu. Langkah pertama yang harus kau lalui adalah disambiguasi dari pertanyaan itu. Dengan kata lain, kau harus tahu dengan pasti apa yang sedang kau kejar dan rintangan apa yang akan kau jalani dalam proses pencarianmu. Kau harus secara akurat memahami makna di balik rintangan itu. Jadi, jika kau ingin menghindari kematian, maka kau harus mencari tahu apa sebenarnya kematian itu.”

Dia menoleh. Cahaya yang bersinar di kacamatanya menyembunyikan pupilnya.

“Apakah kau akan mati jika kau dipotong? Apakah kau akan mati jika kau ditikam? Apakah kau akan mati jika kau diserang? Berapa banyak yang bisa dipotong? Bagaimana kau harus ditikam? Jika kau diserang apa?  pedang? Tombak? Palu? Sekarang, ada satu orang yang sehat, dan bahagia di sini. Mereka memiliki pasangan, anak, dan teman. Mari kita ambil semuanya dari mereka dan buat mereka menjadi individu yang alami. Mari bereksperimen pada mereka dengan menyingkirkan setiap variabel kuantitatif yang mereka miliki dan mengubahnya menjadi orang yang benar-benar telanjang. Mari kita menyakiti mereka. Tidak masalah apa alat atau sarana yang kau gunakan. Jika bahaya terus menumpuk seperti itu, maka orang itu suatu hari akan mencapai kehancurannya. Ya. Orang-orang, mati setelah disusak untuk sementara waktu. Seperti itu, kita bisa memahami pemicu kematian sekali lagi.”

Dia menoleh ke belakang dan memperbaiki kacamatanya.

“Dan pertanyaan lain terbentuk. Seberapa besar kerugian yang harus dialami seseorang sebelum mereka mati?”

Dia menggenggam tangannya di belakang punggungnya.

“Tentu saja, keberadaannya jelas adalah perbedaan individual. Namun, jika kau meningkatkan jumlah sampel, maka kemungkinan itu menjadi standar. Aljabar. Kekuatan statistik. Untuk itu, aku akhirnya mendefinisikan beberapa konsep baru. Pertama, melihat ‘bahaya’ sebagai ‘kerusakan’. Pertama, untuk secara aritmatik menyatakan sejauh mana seseorang mendekati kematian setelah mengallami ‘kerusakan’, aku memperkenalkan konsep ‘HP’, yang merupakan istilah lain untuk ‘kekuatan hidup’. Pertama, kematian pada dasarnya adalah keadaan yang telah menerima kerusakan karena tidak lagi mampu mempertahankan dirimu, dengan kata lain, kau dapat mengatakan bahwa mereka berada dalam keadaan di mana HP = 0. Melalui ini, aku bisa mendekati kematian dari sudut pandang yang sepenuhnya aritmatika. Bahkan aku harus mengakui bahwa ideku sendiri inovatif.”

Uhihi, dia tertawa kecil sambil melilitkan bibirnya seperti kucing.

“Seorang gadis berusia 20 tahunan. HP rata-rata 10. Pisau. Tusukan dengan seluruh kekuatan seseorang menyebabkan 5 kerusakan, diikuti oleh kerusakan terus menerus 1~ 2 dari pendarahan. Seorang pria berusia 30 tahunan. HP rata-rata adalah 15. Palu dan paku. Setiap paku berakibat 1 kerusakan dan 1 kerusakan terus menerus. Oh benar, terlepas dari senjata dan targetnya, jika titik vital mereka diserang, maka serangan kritis dinilai dengan cara yang terpisah. Kerusakan tambahan. Ada grafik dan buku aturan di sini, jadi gunakan itu sebagai referensi.”

Dia tersenyum malu ketika dia memberi kami pandangan sekilas.

“Aku minta maaf karena menyampaikan hal ini begitu kita bertemu, tetapi aku hanya ingin memberi tahumu tentang hal ini sesegera mungkin. Silver Lion, kau pintar jadi kau pasti bisa langsung mengerti, kan? Ehehe, Silver Lion. Kau tahu······.”

Setelah mendorong dua gadis dengan kalung di leher mereka, dia mengeluarkan gergaji ukir dan palu.

“Ayo, bermain dengan ini.”

Matanya yang berwarna senja memancarkan kilau yang tanpa batas.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter