Your and My Asylum volume 4 Chapter 1 Bahasa indonesia

Your and My Asylum volume 4 Chapter 1

Aku mengatur situasi saat ini.

Pertama, Sophna menekan tongkatnya ke tenggorokanku.

Kedua, alasan di balik ini adalah karena dia menduga bahwa aku akan membahayakan Earl.

Akhirnya, Sophna menanyai mata-mata yang telah dia tetapkan padaku, Ariya, atas putusan tersebut.





Ariya berbicara.

“Tidak.”

Dia kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Yujin······, dia tidak berbahaya bagi Paduka Earl. Jikapun ada, Yujin bertindak demi Paduka Earl.”

Cahaya yang melilit tubuh Ariya tetap putih. Tanggapan ini pasti berada di luar dugaannya saat Sophna menyipitkan matanya.

“Selama laporanmu sebelumnya, apa kau tidak mengatakan bahwa ada banyak hal tentang dia yang mencurigakan? Misalnya, kejadian yang terjadi di puncak kastil.”

“Itu salah paham.”

Ariya menanggapi dengan tegas. Cahaya menyala masih putih.

Sophna menutup satu mata dan tampak seperti sedang berpikir. Tekanan yang datang dari tongkatnya juga mereda. Keheningan panjang. Akhirnya, cahaya yang melilit tubuh Ariya terburai seperti butiran salju.

Sophna menarik tongkatnya dan mundur selangkah. Mata yang menyerupai bidang sepi dan tenang menunduk menatapku.

“Saya akan mengawasimu.”

Kepala pengikut Earl berbicara dengan suara yang terdengar seperti cabang yang bergetar karena angin musim dingin.

“Karena banyak waktu telah berlalu, kemungkinan besar ini tidak bisa dilihat hanya sebagai keinginan Mii. Mungkin masih ada harapan meski pengalaman mengerikan yang dia alami. Meski saya senang dengan fakta ini, saya tidak senang dengan kemampuan belajar itu. Sebagai guru dari murid yang bodoh itu, saya berniat untuk mengawasimu sebagai gantinya. Secara menyeluruh dan tabah. Jadi, jika saya yakin bahwa kamu akan membahayakan Mii, istana ini, dan kota ini······!”
(TLN : Shopna memakai bahasa baku kalau berbicara dalam bahasa Korea)

Aku menahan keinginan untuk batuk. Aku juga tidak menggosok leherku.

Aku berbicara sambil mengabaikan rasa sakit yang masih melintas di leherku.

“Lakukan apa yang kau mau.”

Sophna menoleh dan tertawa. Dingin.

Saat itulah.

“Nona Sophna······”.

Sii, yang telah mendekati kami tanpa kusadari, sekarang berdiri di antara diriku dan Sophna. Meskipun dia sangat ketakutan dan gemetar saat ini, Sii menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tegas di wajahnya.Senyuman di wajah Sophna, yang menyerupai tanaman beracun, layu.

Saudara tiri dari penguasa kota dan kepala pengikut saling berpandangan seperti itu untuk sesaat.

Orang pertama yang memalingkan muka adalah Sophna.

“Saya akan mengawasi.”

Itu adalah kata-kata terakhirnya. Mirip dengan kemunculannya, kepergiannya juga mendadak.


Sepertinya kekuatan di kaki Sii telah meninggalkannya saat Sophna segera pergi karena dia segera terhuyung. Dia lalu buru-buru meraih leherku.

“Yujin, apa kau baik-baik saja!? Apa lehermu tidak sakit!?”

“Malah lebih sakit sekarang. Saya merasa mungkin akan hancur jadi saya akan berterima kasih kalau Anda melepaskan saya.”

“Ah maaf. Aku nggak sadar barusan.······Dan Yujin tidak sopan! Mhm~~! Aku mengkhawatirkanmy tapi responmu begitu!”

Sii mengendurkan cengkeramannya saat dia mengeluh. Aku melirik Sii dan mengucapkan terima kasih padanya sebelum aku berbalik menghadap Ariya.

“Udah kuduga, kau mendatangi kami karena Sophna telah mengirimmu.”

“······Aku minta maaf.”

Ariya menurunkan kepalanya dengan sudut 30 derajat. Sii meletus.

“Dasar penghianat! Kau datang kepada kami supaya kau bisa memata-matai Yujin yang telah menyelamatkan hidupmu! Meskipun begitu, apa yang kau maksud dengan ‘Aku di sini untuk melunasi hutangku’!?”

Kepala Ariya semakin mnunduk dan sekarang berada pada sudut 67,5 derajat. Aku meraih bahu Sii.

“Kau melakukannya dengan baik.”

“······Apakah kau mengatakan itu, untukku, Fair Grace?”

“Kau bisa memberi jawaban yang bagus kepada Sophna barusan. Aku hidup berkatmu.”

Ariya tidak bisa mengangkat kepalanya. Meskipun dia tidak punya pilihan lain selain menjawab seperti itu karena dia berada di kapal yang sama dengan kami dan nyawa Alshi, bahkan jika itu diungkapkan, kemungkinan besar hal lain tidak dapat diperoleh selain kepuasan yang hina.

Sebagai gantinya, aku teringat akan cahaya bersinar yang melilit tubuh Ariya. Selanjutnya, aku juga mengingat kata-kata yang telah diucapkan Roroa saat kami membahas sihir pikiran.

“Cahaya itu, apa itu seperti semacam mantra pendeteksi kebohongan?”

“Tepatnya, itu adalah mantra yang bisa mendeteksi kapan seseorang merasa tak tenang atau gelisah.”

Begitulah masalahnya, berarti mantra itu tidak akan bisa memilih kebohongannya selama jawaban seseorang mengandung tingkat kebenaran tertentu kepada mereka. Tentu, jawaban yang Ariya berikan mengandung kebenaran yang masuk akal. Pada akhirnya, ‘merehabilitasi’ berarti kami mencoba menjadikan Earl sebagai orang yang lebih baik. ‘Itu bukan kebohongan’ adalah klise yang jelas, tapi jawaban jelas semacam itu berhasil pada semacam mantra yang jelas ini.

Melihatnya lagi, ini berarti Sophna juga sadar bahwa mantranya bisa dilanggar dengan metode semacam ini. Kemungkinan besar karena alasan inilah dia telah menyatakan bahwa dia akan mengawasiku dan menolak untuk menyingkirkan kecurigaannya.

Namun, jika dia benar-benar bermaksud untuk mengawasiku, maka dia seharusnya berpura-pura percaya pada hasil mantranya. Tidak, sebelum itu, dia seharusnya tidak memasuki ruangan ini dan membuat kehadirannya diketahui. Sophna Radgrinkle, Kepala Pengikut Rumah Earl Lion adalah individu yang lebih lemah dari yang kuduga.

Tapi.

Meski akan mudah sampai pada kesimpulan ini.

Alih-alih melakukannya.

“Bisakah kau memberi tahuku orang macam apa Sophna itu?”

Ariya mengangguk sambil tatapannya masih menunduk.

Dulu, fondasi dimana kota ini berada saat ini ada dalam keadaan di mana terdapat banyak celah yang tersebar di dalamnya. Kadang-kadang, celah-celah itu akan bertambah jumlahnya, tumbuh lebih lebar, menjadi lebih dalam, dan memuntahkan lahar. Wajar saja, makhluk biasa tidak mampu hidup di wilayah seperti ini, dan seiring berlalunya waktu, sumber daya mineral terus menumpuk di tanah dan daerah sekitarnya.

Begitu seekor naga air mendarat di tanah yang mudah menguap ini, Kekuatan Naga-nya menciptakan sebuah Sangkar Naga yang akhirnya menenangkan bumi yang mengamuk.

Perintah perintis resmi diberikan. Itu adalah sebuah dekrit yang menyatakan bahwa siapa pun yang membunuh naga itu, tanpa pertanyaan, diberi status mulia dan diizinkan untuk menguasai tanah seluas itu. Daerah kekuasaan baru. Earl baru. Tergoda oleh dua penghargaan ini, baik perintis dan petualang tidak berlisensi yang berada di sekitar kawasan tersebut menuju ke tanah ini. Setelah melakukan serangan untuk jangka waktu yang lama, mereka akhirnya berhasil menerobos Sangkar Naga dan menciptakan perkemahan di atas sarang naga.

Ada satu orang yang sangat menonjol. Dia adalah seorang wanita. Dia memiliki rambut pirang kusut yang acak-acakan dan menyerupai surai singa, dan karena kemampuannya dalam seni bela diri dan sihir, dia adalah seorang individu yang telah menerima gelar ‘Golden Lion’ selama masa kecilnya. Meskipun dia adalah seorang wanita yang tak tertandingi dan seorang hooligan yang sangat kejam, sebaliknya, dia adalah orang yang membangkitkan pesona yang menarik perhatian orang.

Golden Lion memiliki 7 orang pengikut. Sementara salah satu dari mereka adalah seorang pejuang, mereka juga adalah pandai besi yang kompeten, dan yang lainnya adalah penyihir, mereka juga seorang penjahit yang kompeten. Pengikut lain adalah penyihir dan juga seorang pendidik yang kompeten, dan ada juga pengikut yang seorang pejuang dan ahli hukum yang kompeten. Yang lainnya adalah bajingan dan apoteker yang kompeten sementara yang lain adalah seorang pejuang dan pedagang yang kompeten. Pengikut terakhir, seperti yang diharapkan, adalah seorang tukang kebun kompeten sebagai penyihir.

Mikatni, Naricpitor, Shyobel, Orgit, Edentras, Cepabil, dan Radgrinkle.

Karena orang-orang ini adalah kaki tangan Golden Lion, begitu Golden Lion memenggal kepala naga air dan memperoleh kontrol atas daerah, mereka menjadi 7 rumah tangga yang bertindak sebagai pilar untuk mendukungnya.

Banyak hal terjadi seiring tahun-tahun berlalu. Keluarga Mikatni dan Naricpitor dengan selamat menjadi tokoh masyarakat kota. Rumah tangga Shyobel runtuh setelah 50 tahun yang kemudian mengakibatkan penggabungannya dengan keluarga Naricpitor, dan baru-baru ini, rumah tangga Orgit juga berakhir dalam keadaan yang sama. Rumah tangga Edentras mulai runtuh sejak dini. Cepabil, yang dulunya adalah anak haram dari Rumah Earl Cat, kembali ke rumah asalnya setelah dia diterima sebagai putri resmi karena pengakuan yang dia terima. Dan Radgrinkle menjadi pengikut yang membantu keluarga Earl.

Di antara mereka, Sophna adalah bagian dari garis keturunan Radgrinkle. Lebih tepatnya, dia sama persis dengan Radgrinkle sebagai punggawa Golden Lion. Melalui ‘kenaikan’, dia berhasil menyingkirkan batas umurnya sendiri.

Bahkan setelah tuan dan teman dekatnya semuanya meninggal, dia terus hidup. Untuk menjaga keluarga tuannya dan melindunginya, dia menjadi kepala pengikut dan juga sekalian sebagai pemimpin Penjaga Kerajaan. Menurut keadaan kora, dia juga sebagai kapten penjaga dan, untuk secara pribadi mendidik garis keturunan Rumah Earl Lion, dia juga akan melaksanakan peran sebagai tutor eksklusif. Karena Sophna sendiri adalah penyihir, dia juga penyihir eksklusif keluarga Earl. Satu-satunya peran penting yang tidak dia tangani saat mengurus Rumah Earl Lion adalah peran pengasuh. Ariya Orgit menyatakan bahwa jika Sophna mampu menghasilkan ASI, maka dia juga akan mengambil peran itu.

“Itu cerita yang luar biasa.”

Itulah tanggapanku.

“Umurnya dan Yudia yang sama jadi masuk akal sekarang. Aku juga mengerti bagaimana dia bisa melakukan begitu banyak peran meski menutup dirinya di kamarnya.”

“Mm. Lebih tepatnya, dia mulai menutup diri di kamarnya setelah Paduka Earl diculik. Sebelum itu, dia akan datang secara teratur.”

Aku merasa seolah-olah pernah mendengar kabar gembira ini dari rekaman yang aku kumpulkan melalui kamera tersembunyi. ‘Sejak dia menutup diri’, adalah kata-kata yang tepat. Dengan kata lain, ini berarti ada pelayan yang bisa mengingat saat Sophna tidak menutup diri di kamarnya.

Ada banyak pikiran yang tersebar di kepalaku, tapi terlepas dari semua ini, hanya ada satu kesimpulan.

“Sepertinya aku tidak akan bisa menghindari konflik dengannya.”

Sii menatapku ragu-ragu.

“Dengan Nona Sophna?”

“Ya. Pengikut lama dengan kecenderungan konservatif adalah ancaman paling berbahaya bagi saya dalam keadaan saya saat ini.”
(TLN: Sekali lagi aku ingatkan, Yujin bakal make bahasa sopan/baku waktu bicara dengan Sii)

Jumlah kepercayaan, pengalaman, dan otoritas yang dia kumpulkan saat dia melayani keluarga earl selama lebih dari satu abad kemungkinan besar pada tingkat yang tidak ada bandingannya dengan jumlah kecil yang aku miliki. Fakta bahwa dia bisa memanggil Earl dengan namanya membuktikan fakta ini. Bahkan kekuatannya pun, tidak mungkin mantra yang dia tampilkan sampai saat ini adalah semua yang bisa dia lakukan karena dia salah satu penyihir yang ikut membunuh naga.

“Meski begitu, ini juga bisa dilihat sebagai peluang. Sebagai permulaan, timing-nya tidak buruk. Sementara Sophna menutup dirinya di kamarnya, saya bisa memperluas jangkauan saya di atas para penjaga dan meningkatkan kesan Earl kepada saya dengan jumlah yang cukup banyak. Lagipula, jika saya bisa melakukan sesuatu tentang dia, itu berarti saya bisa benar-benar membangun posisi saya di istana ini.”

“Bagaimana kau akan melakukannya?”

Ariya bertanya dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Aku mengatur kacamataku.

“Tidak peduli dengan siapa kau berurusan, selalu ada 4 pendekatan yang berbeda. Buat kesepakatan dengan mereka, patuhi mereka, kalahkan mereka, atau singkirkan mereka.”

“Menyingkirkannya sepertinya bukan seperti pilihan bagi kita saat ini.”

“Kesulitannya akan terlalu tinggi. Mematuhi dia juga bukan pilihan bagi kita. Kita harus menekankan untuk membuat kesepakatan dengannya atau memenangkannya. Jika kita ingin menyelesaikan salah satu dari ini, maka kita harus menyingkirkan kelemahan kita sendiri saat kita menyelidiki keberadaannya. Masalah yang paling mendesak adalah yang pertama. Saat ini kita memiliki kelemahan yang dikenal sebagai realitas insiden penyerangan.”

Selain itu, ini adalah kelemahan yang sangat penting. Aku mengajukan pertanyaan kepada Ariya yang masih menundukkan kepalanya.

“Ceritakan semua yang telah kau laporkan kepada Sophna sampai sekarang.”

“Ya! Jangan tinggalkan satu detail pun dan bilangkan semuanya!”

Sii terengah. Ariya melakukannya dengan kepala tertunduk.

Pengamatan dimulai pada awal bulan ini. Dia akan melapor kepada Sophna sesuatu penting yang akan terjadi saat mengawasiku dari kejauhan. Laporan biasanya diberikan melalui keranjang, tapi ada juga metode lain. Ariya mengatakan kepadaku bahwa dia akan membicarakan metode ini setelah penjelasannya. Sii menunjukkan wajah yang tidak senang, tapi dia segera berkonsentrasi pada sisa cerita Ariya.

Meski pengamatan berlanjut, ada batas untuk apa yang bisa dicapai dengan tetap menjaga jarak. Sophna pasti juga menyadari hal ini karena dia kemudian memutuskan untuk tetap memerintahakan Ariya mendekatiku. Sophna telah memerintahkan Ariya untuk mengambil alasan mengapa dia bisa hidup bersama denganku. Dia tahu bahwa aku akan menjadi waspada jika Ariya mendekatiku karena perintahnya.

Jika kau hanya mempertimbangkan hasilnya, ini adalah langkah yang selalu dilakukan Sophna.

Ariya dikirim dalam sebuah tugas dan bertemu Zia di arena. Dia kemudian bertanya apakah dia bisa ditugaskan sebagai pelayan eksklusifku. Melalui pengamatannya, dia menyadari fakta bahwa aku berhubungan baik dengan Zia, jadi jika dia ingin mendekatiku, yang statusnya adalah seorang pengawal, dia yakin akan lebih alami jika dia melakukannya saat berada di bawah perintah Zia.

Pada saat itu, Ariya dengan tulus menyelidikiku. Alasan di balik ini adalah karena dia percaya bahwa Sophna telah melakukan sesuatu di balik layar untuk menyelamatkannya, yang telah melakukan pencurian, dari kematian. Namun, saat dia pergi menemui Zia untuk mencari alasan untuk hidup bersama denganku, dan saat dia membesarkan nama Sophna, Zia menduga situasinya dan mengucapkan kata-kata itu, kepada Sophna, sama sekali tidak perlu.

“Saat itulah aku mengetahui bahwa Fair Grace-lah yang telah menyelamatkanku.”

Sejak saat itu, berbagai hal berjalan dengan cara yang lebih kompleks. Meskipun dia dalam keadaan panik setelah mendengar rinciannya, Ariya menyaksikan aku diserang oleh pelayan bertopeng begitu dia sampai di kamar kami setelah menerima persetujuan Zia. Dia segera melompat masuk dan menyelamatkan kami. Setelah itu, dia mulai tinggal denganku seperti yang dia inginkan, bagaimanapun, dia tidak dapat mengamatiku dengan benar seperti sebelumnya dan dia juga tidak dapat memberikan laporan yang tepat.

“Aku tidak dapat berbuat hal-hal yang tidak menguntungkan bagi orang yang telah menyelamatkan hidupku. Terlebih, karena Alshi bercampur dengan para penyerang, aku jelas juga tidak bisa memberikan laporan yang tepat mengenai hal itu.”

Setelah mengatakan itu, Ariya segera mengoreksi dirinya.

“······Tidak, itu hanya alasan. Aku hanya bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Itulah sebabnya aku terus memberikan laporan yang kabur dengan alasan bahwa aku akan menunda masalah ini sampai aku mendapat sebuah kesimpulan.”

Seperti yang aku harapkan, jika kau murni mempertimbangkan hasilnya, maka ini yang akhirnya menjadi keberuntungan bagi kami. Kamera tersembunyi dan saat-saat Sii dan aku sesekali menunjukkan perilaku mencurigakan tidak dilaporkan ke Sophna. Jika hal ini dilaporkan, maka tidak akan berakhir dengan gertakan.

“Bukankah itu melegakan, Yujin?”

Sii berbicara sambil sedikit menggigil. Aku mengangguk dan kembali menatap Ariya.

“Ceritakan tentang ‘metode laporan lainnya’.”

Ariya mengeluarkan sebuah batang yang memancarkan cahaya abu-abu dan memberikannya kepadaku.

“Ini disebut Pembangkit Kebenaran (Trebet ‘wez, 情 棍) .”

Ada permata perak yang tertanam di salah satu ujung tongkat.

“Istilah mudahnya, batang ini dipikat secara permanen dengan mantra yang serupa dengan yang digunakan Nona Sophna padaku sebelumnya. Bila bagian batang dengan permata dipegang, batangnya memiliki khasiat yang membuatnya bergeser dalam warna dan suhu sesuai mood sang pemegang. Tidak peduli berapa kali kau mematahkan batangnya, sekali seseorang menggunakannya, perubahan akan merata di sepanjang batang yang merupakan bagian dari tubuh utama.”

Oleh karena itu, jika terjadi krisis, maka pergantian mood pemegang juga akan ditransmisikan ke bagian lain dari batang yang mungkin dimiliki orang lain. Jadi saat kejadian Alshi ditikam, Sophna kemungkinan besar cepat muncul karena barang ini.

“Bisakah aku mencoba memegangnya?”

Ariya dengan rela menyerahkan Pembangkit Kebenaran kepadaku. Batang itu memancarkan cahaya abu-abu lembut, tapi rodanya mulai bersinar dengan cepat saat berada di tanganku.

Ariya tampak terkejut.

“Fair Grace, apa kau gembira saat ini?”

“Tidak.”

“Begitukah? Tapi ini jelas warna kegembiraan······.”

“Aku tidak gembira.”

Aku memberikan Pembangkit Kebenaran ke Sii. Batangnya menjadi merah-panas begitu berada di tangannya. Panas dari kawah yang bisa membuat sepatu meleleh, warna lahar yang sangat menjilat pada pergelangan kaki para korbannya.

Bahkan pada kenyataannya, bagian dalam ruangan menjadi panas dan lembab. Itu juga mempengaruhi suhu sebenarnya. Aroma terbakar yang kurasakan saat aku bisa cium ketika Alshi telah ditikam dan fakta bahwa tubuh Ariya lebih panas dari biasanya pada saat itu bukan hanya imajinasiku dan kemungkinan besar disebabkan oleh Pembangkit Kebenaran ini.

Aku mengambil Pembangkit Kebenaran dari Sii dan mengembalikannya ke Ariya. Batang yang menjadi panas sampai-sampai bisa melepuhkan kulitku dengan cepat mendingin dan menjadi putih begitu berada di tanganku sebelum kemudian kembali ke warna abu-abu kusam saat kembali ke tangan Ariya.

“Satu-satunya yang ditransmisikan melalui ini adalah mood pemegang, kan?”

“Ya. Begitulah.”

“Ini dan mantra pendeteksian kebenaran itu berada pada tingkat yang sama dengan detektor kebohongan di duniaku. Terus simpan. Katakanlah kau tidak pernah menunjukkan ini kepada kami dan bahwa kau masih bertindak sebagai mata-mata.”

“Apakah Fair Grace berpikir bahwa Nona Sophna akan terus mempercayaiku?”

Aku teringat akan tingkah laku Sophna.

“Tidak juga. Bukankah Sophna menyadari bahwa kau telah dimenangkan olehku? Dia mungkin akan tahu bahwa kau terus bertindak sebagai mata-mata tapi di bawah perintahku. Bagaimanapun, aku hanya anak kecil. Dan aku harus benar-benar menjadi anak kecil di mata Sophna. Dia kemungkinan besar akan melihatku sebagai anak yang sedang merencanakan sesuatu yang jelas. Akan sangat bagus jika dia menurunkan penjaganya seperti itu, tapi taka pa walau tidak begitu. Yang penting adalah kita meningkatkan jumlah kartu yang bisa kita gunakan.”

Ariya mengangguk dan melanjutkan.

“Menyelesaikan masalah. Menerima permintaan maaf dari Earl dan merehabilitasi dia. Sementara kita berusaha membangun pengaruh yang cukup untuk mencapai hal ini, kita juga akan melakukan perbuatan berjasa. Sampai saat itu, kita tidak bisa membiarkan rencana kita terungkap. Untuk melakukannya, kita harus membuat kesepakatan dengan Sophna atau memenangkannya. Untuk alasan yang sama, hal yang paling penting saat ini adalah menjelaskan segala hal kepada Alshi dan mendapat kepastian darinya. Untuk melakukan itu, ketika Alshi bangun, kita harus berada di sisinya sebelum Sophna.”

Untungnya, kami bisa menyelesaikan bagian terakhir itu dengan mudah. Itu karena tidak ada yang aneh dari kekasih Alshi, Ariya, berada di sisinya. Tidak ada yang aneh dari Wakil Kapten penjaga, Roroa, berada di sana juga. Terlebih, tidak ada yang aneh tentang aku dan Sii, orang-orang yang pertama kali menemukan Alshi saat berada dalam keadaan kritisnya, dipanggil oleh Roroa.

Begitu sampai di kamar setelah dipimpin oleh Roroa, kami telah tiba tak lama setelah Ariya selesai menjelaskan situasinya dengan Alshi. Ariya menundukkan kepalanya seolah-olah dia merasa malu. Alshi juga melakukan hal yang sama, tapi dia segera mengangkat kepalanya dan menepuk kepala Ariya.

“Kau benar-benar idiot.······Yah aku juga idiot sih.”

Ariya membuat wajah menangis saat dia membiarkan dirinya dihibur oleh tangan Alshi di kepalanya. Itu juga pada sudut 16,7 derajat yang acak-acakan. Begitulah, persekutuan dua sejoli menempati ruangan untuk sesaat. Orang-orang terhormat akhirnya akan menutup mulut mereka, dan inilah saat dimana akan tepat untuk melakukannya.

“Serius. Jika kau berbicara dengan benar saat aku memanggilmu sebelumnya, hal-hal tidak akan berakhir seperti ini.”

Adalah Sii Garno Mikatni yang telah berbicara selama ini dan di kamar ini.

“Benar, itu benar, wan. Aku bilang begitu sebelumnya, tapi kalian berdua perlu saling berbicara.”

Roroa juga bukan orang penurut. Apalagi dibanding Sii, tingkat aggro Roroa lebih tinggi. Ariya mengertakkan gigi dan, juga, Alshi membuat wajah tegas.

“Bagi orang yang telah menggunakanku, melecehkan Ariya, dan menusukku dengan pisau, kau bisa berbicara dengan baik.”

“Wan? Apa sesuatu seperti itu terjadi, wan? Bukannya kita tidak setuju bahwa ‘itu tidak pernah terjadi, dan tidak pernah terjadi sejak awal’? Aku merasa seperti jika tidak begitu, maka kita semua, termasuk kalian berdua, akan berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan, bukankah begitu, wan?”

“Kau,······.”

“Lemah! Mohon kerja samanya.”

Roroa berbicara dengan nada segar. Ariya dan Alshi menatapnya tajam.

Sii juga membuat wajah.

“Kau benar-benar bersilat lidah dengan baik dalam situasi seperti ini. Tidakkah seharusnya kau menjadi orang yang paling menahan diri sekarang?”

Alih-alih mengatakan bahwa dia mengulurkan sebuah tangan pada apa yang Sii katakan sebelumnya, Roroa membuat wajah serius.

“Wan. Nona Sii, biar kuberikan nasihat yang baik, wan. Pengekangan diri adalah sesuatu yang kau lakukan saat seseorang lebih kuat dari pada dirimu adalah kejengkelan, wan. Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat orang lemah berbisik di antara mereka sendiri, wan.”

“Apa kau menyebut kita lemah?”

“Apa kau tidak lemah, wan?”

Ariya berdiri dengan marah. Dengan jelas aku bisa melihat pembuluh darah di punggung tangannya dimana tulang-tulangnya menonjol. Alshi meraih tangan itu.

“Ariya, berhenti.”

Aku merasakan hal ini sebelumnya, tapi seperti yang aku harapkan, gadis ini sudah dewasa.

“Aku akan melakukannya.”

Lupakan.

“Berhenti.”

Pada akhirnya, aku harus berbicara.

“Nona Sii, hal yang sama berlaku untuk komentar pertama dan komentar Anda sekarang, tapi Anda tidak perlu mengucapkan kata-kata semacam itu dengan waktu itu. Roroa, kau juga, kenapa kau memprovokasi mereka juga? Bukankah kau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak menguntungkanmu.”

“Wan. Tidakkah keduanya tahu tentang keadaanku sekarang, wan? Tidak apa-apa jika aku bebas mengungkapkan jati diriku? Aku sudah lama berada di udara yang tidak berdosa sehingga sebaiknya aku mengurangi stres, benar, wan? Juga, aku tidak suka pasangan, wan.”

“Nah, itu sepertimu. Poin terakhir tidak masalah. Bagaimanapun, hentikan. Ini perintah.”

Roroa mengibaskan telinganya. Aku berbalik menghadap Alshi dan Ariya.

“Aku tidak akan memberitahumu kalian untuk melupakan segala hal yang telah dilakukan padamu. Meski aku melakukannya, aku ragu kalian berdua akan melupakannya. Kau ditangkap, kau hampir terbunuh, dan kekasihmu hampir dibunuh. Kalian telah mengalami berbagai hal buruk. Aku mengerti.”

Ini adalah kebenaran. Mereka pasti merasakan ketulusanku saat pernapasan kedua pelayan tipe seniman bela diri itu tenang.

Lanjutku.

“Terlepas dari semua itu, kita berada di kapal yang sama sekarang. Jika kau mencoba untuk mendorong satu orang dari kapal, maka kita akan berakhir tenggelam bersama. Ini mungkin hal terakhir yang kalian inginkan.”

Ariya menundukkan kepalanya.

“Kau benar, Fair Grace. Tetapi, aku.”

“Aku tahu. Kubilang aku mengerti.”

Aku berdiri di belakang Roroa, meletakkan tanganku di bawah ketiaknya, dan mengangkatnya. Roroa mulai menggerakkan anggota tubuhnya dengan panik.

“Wan!? Apa yang kau lakukan, wan!?”

“Ayo menyesuaikan skala.”

Alshi memiringkan kepalanya.

“Apa maksudmu?”

“Pertama, kerusakan yang tidak bisa disembuhkan memang dilarang. Kedua, penghinaan publik dilarang. Ketiga, menyakiti orang yang terkait dengannya, misalnya, seseorang seperti Kina, dilarang. Alasan untuk pembatasan pertama dan kedua adalah karena, pada akhirnya, kalian berdua tidak mati dan hal-hal yang telah kalian alami dan telah dilakukan belum terungkap di luar. Pembatasan terakhir adalah karena aku berharap kalian berdua akan lebih baik dari dia.”

Namun, jika kalian mengecualikan ketiga hal ini, lanjutku.

“Kalian berdua bisa melakukan apapun yang kalian inginkan padanya sampai kemarahan kalian hilang.”

Ariya dan Alshi saling lirik sebelum mendekatiku.

“Bisakah kami benar-benar melakukan apapun yang kami inginkan?”

“Kau mengatakan itu, dengan sugguh-sungguh, kan?”

“Selama kalian melakukannya di depanku.”

Penghukuman mati tanpa pemeriksaan hanya di lingkungan yang terkendali. Ini adalah peraturan yang aku bangun sejak Perang 8 Tahun.

Roroa berteriak panik.

“A-Apa menurutmu aku akan membiarkan ini terjadi dengan damai, wan!?”

“Harus.”

Aku menyesuaikan kacamataku dengan ujung kepala Roroa dan berbisik ke telinganya yang terkulai.

“Itu adalah perintah.”

“Wan······! Aku······!”

Aku menyerahkan Roroa ke Ariya dan Alshi. Roroa diangkat oleh Ariya dan suaranya teredam saat Alshi mulai menutupi mulutnya.

Aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan menghibur mereka setengah hati. Tugas ‘menstabilkan keseimbangan psikologis’ ini penting. Ini tidak seperti Ariya dan Sii dimana mereka sama sekali tidak akur. Jika aku tidak menangani ini dengan benar, jika aku tidak dapat meleburkan dendam yang mereka sembunyikan, maka ini pasti akan buruk. Meskipun aku bisa menyelesaikan berbagai hal tidak peduli berapa kali mereka terjadi selama Perang 8 Tahun, yang memungkinkan hal itu terjadi sekarang dalam situasi saat ini berarti setiap orang di sini harus kehilangan nyawa setelah beberapa kali melakukan penyiksaan yang memanas.

Jika Anda memikirkannya seperti itu, maka Anda bisa mempertimbangkan keadaan yang saat ini terjadi pada Roroa sebagai suntikan vaksinasi.

Mm.

“Kalian ingat bahwa kerusakan yang tidak bisa disembuhkan itu dilarang?”

“Ya, Fair Grace. Kami tahu.”

“Tidak, perlu dikhawatirkan. Kami tahu di mana setiap titik tekanan, di tubuh Taring Pedang.

“Wan! Waan······! Kahak······!”

“Tunggu sebentar, bukankah barusan itu organ internal······?”

“Tidak meledak.”

Yah, kemungkinan besar tidak meledak karena dia mengatakan tidak melakukannya, dan itu benar-benar tidak boleh meledak karena Alshi juga menganggukkan kepalanya, tapi adegan ini terasa brutal karena perbedaan ketinggian mereka.

“Kurasa aku harus menyiapkan obat.”

Sii menanggapi kata-kata yang aku gumamkan secara tidak sengaja.

“Yujin, kau baik sekali.”

Tidak.

Itu hal terakhir yang harus kau katakana······.


Alshi membuktikan kata-katanya. Meskipun Roroa, yang benar-benar dipukul seperti seekor anjing, memar di sekujur tubuhnya dan wajahnya akan berubah setiap kali dia melangkah, bagaimanapun juga, tidak ada luka parah. Sii kagum.

“Sungguh teknik yang mengesankan.”

“Wan······, kenapa kau tersentuh oleh hal seperti itu?”

Roroa menggeram. Suaranya terdengar seolah masih menderita sakit, tapi sepertinya dia tidak berkecil hati. Dia menatap Ariya dan Alshi dengan mata tajam. Aku meraih kepalanya dan membalikkannya ke arahku.

“Lihatlah aku dengan tatapan seperti itu. Akulah yang membuat mereka melakukannya.”

Roroa ragu sesaat sebelum melakukannya. Aku menerima tatapannya dengan benar.

Adalah saat yang singkat untuk diam sebelum dia kemudian mengalihkan kepalanya.

Aku menepuk kepalanya sebelum mengangkat kepala ke wajah Ariya dan Alshi.

“Apa kalian puas?”

“Kami agak puas. Kami masih belum bisa memaafkannya.”

“Aku tidak akan meminta yang tidak mungkin. Tidak ada masalah dengan kerja sama, kan?”

“Untuk saat ini, ya.”

“Kalau begitu tidak apa-apa.”

Aku berbicara dengan nada sederhana, tapi aku tahu bahwa sebenarnya, hal-hal semacam ini tidak berjalan dengan mudah. Mereka butuh lebih banyak waktu dan motivasi. Bagaimanapun, aku setidaknya bisa memadamkan api yang mendesak.

“Ayo kita lakukan yang terbaik mulai sekarang.”

Meskipun aku telah memadamkan api yang sangat mendesak.

“Wan······. Kalau begitu mohon kerjasama kalian, wan.”

Roroa berbicara sambil tersenyum dingin.

“Kami itu satu.”

“kalau begitu, kerjasamamu.”

Baik Ariya dan Alshi merespon dengan senyum dingin di wajah mereka.

“Mm~~······. Yujin, apa rasanya seperti ini saat menghadapi kelakuanku dan Ariya?”

Sii, yang terjebak di tengah, melingkarkan lengan di bahunya saat berada di retakan tatapan dingin.

Mm.

“Untuk saat ini, keadaan akan lebih sulit dari sebelumnya.”

Aku hanya menjawabnya seperti itu.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter