Your and My Asylum volume 3 chapter 8 Bahasa Indonesia

Your and My Asylum volume 3 chapter 8 

Dunia ini kejam.

Semua kata-kata itu kejam. Sesuatu seperti dunia yang lembut hanya ada di dalam karya kreatif, dan bahkan secara bertahap tumbuh menjadi lebih kecil jumlahnya. Kemungkinan besar karena orang secara bertahap kehilangan impian mereka. Aku juga. Keajaiban disebut keajaiban karena tidak terjadi dan harapan disebut harapan karena tidak pernah tercapai. Hal-hal tidak membuahkan hasil hanya karena kau menginginkan hal itu terjadi. Kau tidak dapat secara positif mengatakan bahwa suatu hari nanti kau akan diberi hasil setelah kau cukup lama berusaha. Dunia ini sangat kejam.



Aku berpikir seperti itu.

Aku percaya itulah yang terjadi.

Itu sebabnya, ketika sebuah keajaiban benar-benar terjadi, aku dalam keadaan linglung. Bukan keajaiban yang kudapatkan melalui kerja keras, atau harapan yang setidaknya memiliki realisme, tapi jenis harapan yang paling tidak bertanggung jawab. Sejak keajaiban itu tiba-tiba muncul dalam bentuk siswa pindahan, putri yang berapi-api, dewiku, Chanmi, aku tidak punya pilihan lain selain linglung.

Namun, fakta itu tidak membuatku menjadi beriman pada The Secret yang merupakan bestseller. Ada banyak hal kejam yang terjadi setelah itu juga. Secara pribadi aku telah melakukan beberapa hal yang paling kejam di antara mereka. Bagaimnapun, itu akhirnya menjadi semacam wahyu bagiku. Meskipun dunia ini pastinya kejam, itu tidak sekejam seperti yang kuduga. Meskipun kita pasti penuh dengan masalah, kita berhasil memperbaiki masalah tersebut. Jadi, tidak perlu membuang semua harapanmu. Bahkan jika sakit berkali-kali atau kau merasa seolah-olah kau akan mati, kau harus bertahan.

Aku berpikir seperti itu.

Aku percaya itulah yang terjadi.

Karena kita bukan binatang. Karena itulah harapan yang sangat, kesombongan yang sangat, itulah sumber dari semua penderitaan itu, dan pemikiran bahwa ‘semuanya tidak bisa berlanjut seperti ini’ yang membuat kita manusianya manusia, juga akan terus terjadi.

Akar dari kemartabatan ada di Neraka. Namun, berkat Neraka itulah kita bisa melihat Surga.


“Itu berbahaya.”

Ariya langsung berbicara saat Roroa meninggalkan ruangan.

“Fair Grace, itu benar-benar berbahaya. Sampah semacam itu······ monster itu, bisakah kau mempercayainya?”

“Di antara orang-orang yang pernah kutemui sejak aku datang ke dunia ini, dia adalah tipe orang yang paling tidak bisa dipercaya. Aku akan mengekangnya sebanyak mungkin untuk membatasi kebebasannya dan berjaga-jaga agar dia tidak dapat melakukan sesuatu yang tolol.”

“Itu tidak cukup······ kita harus membunuhnya.”

Aku meletakkan tanganku di mulut Ariya.

“Seharusnya kau tidak sembarangan berbicara tentang mengambil nyawa orang lain.”

“······Fair Grace.”

“Aku tahu. Kau mungkin khawatir dengan Alshi. Tidak apa-apa. Bahkan kalau situasi yang lebih buruk terjadi, setidaknya aku akan melindungi Alshi.”

Ariya menekankan tangannya ke dahinya. Sudut kepalanya, agak miring 27 derajat.

“Alshi, si idiot itu······. Tapi Fair Grace······ Alshi bukan satu-satunya yang kukhawatirkan.”

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Aku juga sangat sedikit khawatir dengan Sii juga.”

Ekspresi Sii yang tercengang itu agak menarik untuk dilihat.

“Tentu saja berbahaya bagi Sii dan aku. Tapi kita harus menanggungnya. Kalau kita bisa mengendalikan para penjaga hanya dengan risiko yang banyak ini, maka inilah sisi murahnya.”

Sii mengangguk juga. Dia pasti merasakan rasa sakit karena melakukan tindakan itu karena dia mengerang dan memegangi lengannya. Ariya menyokongnya dengan panik dan aku,

“Yujin······?”

Sambil menundukkan kepalaku, berbicara.

“Maafkan saya, Nona Sii. Seharusnya saya mempersiapkannya lebih baik.”

“Eh, tidak masalah······ Aku benar-benar baik-baik saja. Bahkan sebelum aku tertangkap, aku sudah berencana melakukan ini jika sesuatu seperti tadi mungkin terjadi.”

Berencana.

“Mm~~ Yujin, kau sudah bilang sebelumnya kan? Kalau dipikir-pikir. Kalau seseorang di sini mungkin menjadi sandera, maka pasti itu aku karena akulah satu-satunya yang sudah terluka.”

Sii terkikik.

······.

“Inilah kenapa aku tidak punya pilihan lain selain berharap.”

“Mm······? Apa maksudmu?”

Aku menjawabnya dengan mencium punggung tangannya.

Pipi Sii mulai memerah. Ariya dengan ringan berdehem.

“Mm, bagaimanapun juga······ Fair Grace, dan Sii. Kenapa? Kenaoa kalian benar-benar menanggung beban berbahaya seperti itu dan mendapatkan tangan para penjaga······. Ketika kau memberi tahu Roroa bahwa kau akan mengubah kota dan merehabilitasi Paduka Earl······.”

“Mm~~······ Yujin, haruskah kita memberikan jawabannya?”

“Kita harus memberikannya. Ariya berada di kapal yang sama dengan kita sekarang. “ Aku kembali menatap Ariya dan berbicara. “Seperti yang kau dengar, aku akan merehabilitasi Earl.”

Aku kemudian menjelaskan.

“Semua yang telah dia lakukan sampai sekarang. Kami akan membuatnya memasukkan semua dosa-dosa itu ke hatinya. Kami akan membuatnya memohon agar dia tidak melakukannya lagi. Kami akan membuat dia memberikan permintaan maaf yang tulus dan menebus semua kejahatan yang dia lakukan sepanjang hidupnya. Untuk melakukan itu, kami bermaksud menanggung beban berbahaya ini.”

“······.” Ariya melihat bolak-balik antara aku dan Sii. “······Begitukah.”

“Ya. Apalagi, karena kau mendengar tentang rencana kami sekarang, aku ingin kalau kau bekerja sama dengan kami. Begitu Alshi bangun, jelaskan semuanya padanya. Kita juga akan mencocokkan cerita kita mengenai penyerang. Kita akan memulai dengan hal-hal seperti itu.”

Aku percaya bahwa dia tidak akan menolak. Bukan hanya karena kebaikan yang telah kulakukan untuknya. Bukan juga karena dalih merehabilitasi Earl Silver Lion. Seperti yang dikatakan Roroa, kami sudah membuat dia menyaksikan kami melakukan kesepakatan rahasia dengan Roroa. Seperti kami telah mengingatkannya lebih dari apapun selama pertukaran itu, kekasihnya, kehidupan Alshi ada di sepanjang kalimat di sini.

Mentalitas kakitangan dan kekuatan wajib yang tak ada bandingannya dengan apa yang dia rasakan saat menonton sesuatu seperti kamera tersembunyi. Ariya mengkhianati kami dalam situasi seperti ini, paling tidak, aku percaya hal itu tidak akan terjadi.

Namun, Ariya tidak bisa menganggukkan kepalanya dengan mudah dan malah ragu-ragu.

“Tetapi aku······.”

Begitu Ariya menggumamkannya, pintu yang tertutup berayun terbuka dan bayangan memasuki ruangan.

Itu adalah bayangan panjang.

Baunya seperti rumput basah. Sebelum lampu latar bahkan bisa memudar, Ariya adalah orang pertama yang mengucapkan nama pemilik bayangan.

“Nona Sophna······”.

“N-Nona Sophna! Selamat datang.”

“Tetaplah duduk.”

Sophna menghentikan Ariya dan Sii, yang keduanya hendak berdiri, dengan tongkatnya dan mendekati kami. Sekali lagi, sosoknya mengingatkanku pada pohon dedalu. Ada senyum ceria yang menempel di bibirnya.

“Kuhuhu. Kamu sama seperti yang saya dengar. Agar kamu tidak panik atas kedatangan saya dan juga bersenang-senang untuk menguji saya.”
(TLN : Sophna dalam bahasa korea bicaranya sopan)

“Dan kau berbeda dari apa yang kudengar. Mereka bilang kau itu seorang hikikomori jadi aku punya bayangan gelap darimu di kepalaku.”

“Jika saya melakukannya, maka apakah saya tidak tumpang tindih dengan Yudia?”

“Apakah kau tidak diizinkan untuk tumpang tindih?”

“Ahyeon telah mengklaim bahwa memang begitu.”

Aku menutup mulutku. Dengan tatapan yang terasa seperti pohon pinus yang tumbuh di puncak gunung dan menatap cakrawala, Sophna berbicara.

“Cara bicara saya, Mii, dan Zia di Korea kemungkinan besar untuk tujuan itu. Saat belajar bahasa baru, berarti kamu bisa menjadi karakter baru dalam genre baru. Jika memungkinkan, akan lebih baik jika itu tidak tumpang tindih, adalah apa yang dia katakan kepada kami.”

Ini adalah sesuatu yang pernah kudengar dari Earl sebelumnya.

Daripada itu, Mii——— mungkin itu Earl.

Sii, Mii······ Tidak, itu bukan selera penamaan yang tidak bisa kupahami, tapi······.

“Ahyeon mungkin sudah pergi, tapi keinginannya tetap dipertahankan. Bahkan ketika Mawar Biru Langit dan saya mengajar anak haram dari tuan muda, Brown Lion, bahasa Korea, kami menekankan pada menciptakan semacam karakter. Di Korea, ini disebut sebagai ‘dia mungkin telah pergi, tapi saya tidak mengirimnya’ kan?”

“Akhirnya, aku bertemu seseorang yang tertarik dengan literatur normal.”

“Mau bagaimana lagi tetapi saya memiliki preferensi terhadap puisi. Bagaimanapun juga, karena kamu tidak menunjukkan banyak keterkejutan, apakah kamu mengharapkan kedatangan saya?”

“Tentu saja tidak. Aku tidak pernah membayangkan bahwa kau akan segera datang kesini. Namun, aku melihatmu keluar dari ruanganmu.”

Aku melirik Ariya.

“Aku telah mendengar istilah ‘orang yang tidak dapat diprediksi’.”

Sophna tertawa dengan ‘kahaha’ begitu dia mendengar bahwa setidaknya aku mempersiapkan diriku untuk menemuinya. Dia lalu berjalan perlahan ke arahku.

“Jadi,” Sophna mendorong ujung tongkatnya ke daguku. “Bisakah kamu memprediksi alasan mengapa saya berada di sini?”

“Kemungkinan besar akan menunjukkan pertimbanganmy padaku.”

“Bingo.” Sophna berpaling ke arah Ariya. “Meskipun saya mengirim Ariya dengan tujuan untuk mengawasi kamu, seperti yang saya duga, keputusan terakhir harus dibuat sendiri.”

Ariya tidak bisa mengerti bahasa Korea. Namun, kemungkinan besar dia bisa menebak apa kata Sophna saat dia menoleh untuk melihatnya. Setelah melihat rasa bersalah itu menyebar di wajah Ariya beberapa saat, aku berbicara.

“Apakah aku lulus?”

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”

Sophna membalasnya dengan segera. Tidak diragukan lagi bahwa dia telah banyak merenungkan ini sebelumnya dalam persiapan untuk menanggapi pertanyaan ini. Dan, seperti yang diharapkan, aku juga telah banyak merenungkan ini sebelumnya dalam persiapan untuk menanggapi respon ini.

“Fakta bahwa kau datang ke sini untuk menemuiku,” aku memulai. “Karena kau merasa tidak masalah meninggalkanku di sisi Earl, kan?”

“Huu, begitu? Tepatnya, itu alasan yang berlawanan.”

“Sebaliknya?”

“Itu benar. Jika kamu pernah hidup selama hidup saya, maka kamu akan menyaksikan banyak kejadian dimana bekas luka dibuka kembali setelah seseorang yang tidak perlu terlibat saat hal itu bisa saja ditinggalkan sendirian. Seperti surat tertentu, dan baru-baru ini, ah, ya, seperti obat untuk ibu sendiri.”

Baik Sii dan Ariya menarik kepala mereka. Mata Sophna, yang pernah melirik kedua gadis itu sekali, menjadi redup seperti seekor kodok.

“Jadi, nak Korea. Saya mulai memiliki kepercayaan yang sama terhadapmu juga. Fakta bahwa kamu berkeliling di istana ini dengan bebas······ Bagaimana saya harus mengatakannya?”

Hancurlah entah di mana . Mari. Kau memberiku nasihat penting. Hancurlah entah di mana. Namun, aku tetap tidak bisa mendengarkan saran itu.

“Apa itu?”

“Hm, pikirkan seperti ini. Kamu adalah zat asing. Sebuah zat asing dari dunia lain.”

Setiap kali dia mengucapkan ungkapan ‘zat asing’, Sophna mengucapkannya dengan cara yang terdengar seolah-olah buah yang masak telah jatuh dan jatuh ke lantai.

“Seseorang seperti itu ada di sebelah Mii dan Mawar Biru Langit. Apalagi mereka blak-blakan dan membuat faksi sendiri. Di mata sepuh seperti saya, hm, itu tidak terlalu menyenangkan. Siapa tahu pengaruh negatif macam apa yang akan kamu dapatkan pada mereka.”

“Kau bilang Ahyeon juga seperti itu.”

“Itu benar. Kamu juga bukan Ahyeon. Jika saya menambahkan sesuatu yang lain, maka saat Ahyeon ada di sini, saya memainkan peran sebagai batu besar untuk jangka waktu yang cukup lama. Kuhuhu. Kamu harus sadar karena kamu melihatnya sendiri, tapi Paduka itu sudah sedeng, jadi bukankah seharusnya seseorang menganggapnya sebagai orang yang skeptis?”

Saat Sophna berbicara, dia menambah kekuatan pada tongkat yang menekan daguku. Kepalaku didorong mundur dan seperti bulan sabit yang menjulang di atas pohon tua pada hari yang berkabut, matanya bersinar terang di dalam kegelapan yang kabur.



“Karena itulah, Yujin.”

Setelah memanggil namaku, Sophna berbicara.

“Saya akan bertanya, mengapa saya tidak membunuhmu———”

Dia memiringkan kepalanya dengan cara yang terasa seperti alang-alang yang bengkok yang ditiup angin sepoi-sepoi.

“Dan, setelah menyimpulkan stabilitas itu telah kembali ke Kastil Silver Lion ini, kembali ke ruang penelitian saya dengan ketenangan pikiran?”

Suara terengah-engah. Suara itu berasal dari Sii. Ariya tanpa kata-kata. Aku juga tidak bisa memastikan ekspresinya. Kekuatan yang diberikan Sophna pada tongkatnya semakin kuat. Aku tidak diizinkan melakukan apapun selain melihat wajah Sophna dan itu juga menjadi sangat melelahkan.

“Fakta bahwa kau mengatakan ini,” aku berbicara. “Berarti kau masih ragu-ragu.”

“Kamu benar. Seharusnya saya tidak membuat keputusan terburu-buru. Ariya Orgit.”

Ariya langsung tersentak, kumpulan cahaya meledak dari ujung tangan Sophna dan membungkus Ariya.

“Bahkan kebohongan sedikit pun tidak akan dimaafkan.”

Setelah menyatakannya, Sophna melanjutkan.

“Aku akan menanyaimu dengan nama pohon yang paling kuno, menurut pengamatanmu, anak laki-laki ini, apa individu yang dikenal sebagai Yujin seorang eksistensi tak berbahaya tanpa kedengkian sama sekali? Dengan kata lain, apa kau yakin bahwa dia adalah eksistensi yang tidak akan merugikan Paduka Earl Silver Lion?”

“Nona Sophna! Itu······ “.

Sophna bahkan tidak bertindak seolah-olah telah mendengar teriakan Sii.

“Jawab aku. Aku akan menghitung mundur dari 3. 3.”

Baik itu Sii dan Ariya melakukan kontak mata.

“2.”

Ariya menatapku.

“1.”

Dan akhirnya, Ariya Orgit membuka mulutnya.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter