Your and My Asylum volume 3 chapter 5 Bahasa Indonesia

Your and My Asylum volume 3 chapter 5

Ada saat dimana aku memiliki harapan seperti ini.

Adanya kemungkinan itu karena aku tidak berusaha cukup keras. Ada kemungkinan segalanya bisa berubah jika aku sudah berusaha sedikit lebih baik. Ada kemungkinan aku tidak akan dibully lagi. Ada kemungkinan paman dan bibiku tidak akan bertengkar lagi. Ada kemungkinan Miyeong tidak akan membenciku. Seperti biasa, ada kemungkinan kami bisa menjadi keluarga yang layak suatu hari nanti. Jika diusahakan. Jika aku benar-benar bekerja cukup keras.



Ada saat dimana aku memiliki harapan seperti ini.

Ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti, seluruh malapetaka ini akan berakhir. Ada kemungkinan ayahku suatu hari nanti bisa hidup kembali. Ada kemungkinan bahwa aku bisa menemukan tas dengan seratus juta won di dalamnya saat berjalan-jalan. Ada kemungkinan Chanmi secara ajaib menerima wahyu dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah dia lakukan padaku. Ada kemungkinan bahwa Miyeong suatu hari nanti bisa berdiri di depan geng Chanmi dan menyatakan ‘Aku tidak akan membiarkanmu melecehkan kakak sepupuku lagi’. Jika aku beruntung. Jika ada hari keberuntungan itu datang kepadaku.

Dengan pikiran lurus yang tak tertandingi, jika saja seorang siswa pindahan, yang tidak terhalang oleh berbagai rintangan, suatu hari akan tiba.

Ada saat dimana aku memiliki harapan yang tidak bertanggung jawab ini.


Menekan kemampuanmu untuk melampiaskan emosimu adalah hal yang menyakitkan untuk dilakukan. Apalagi jika emosi tersebut adalah kemarahan.

Tidak peduli seberapa banyak keuntungan yang bisa kau dapatkan dalam jangka panjang dengan menekan emosimu, tidak peduli berapa banyak kau bisa menghitungnya, itu tidak akan mengurangi rasa sakitmu. Apalagi kalau kau mencoba menarik diri dan tertawa saat berada di depan orang yang mencoba mengabaikan keberadaanmu. Itu menyakitkan bagi seseorang karena sulit bagi siapapun untuk membayangkan orang tersebut, yang biasanya tidak pernah melakukan hal seperti itu, benar-benar akan melakukannya. Karena aku sangat menyadari fakta ini, aku memutuskan untuk memuji Sii.

“Nona Sii, Anda sudah melakukannya dengan sangat baik tadi.”

“Yujin, kita dapat kelemahannya! Kalau itu Black Dragon Street, maka itulah pencurinya. Bagaimana dia bisa memanggil orang-orang semacam itu di sini dan berbagi percakapan rahasia dengan mereka!? Kita harus segera menyebarkan ini dan membuat Paduka······.”

Aku memujinya terlalu cepat. Aku melihat sekilas sekeliling kami———kami berada di kamar Sii bersama Ariya——— mengecek keamanan kami, dan berbicara.

“Tolong tenanglah. Meskipun saya memiliki pemikiran yang sama saat memanggil Borg, tidak peduli seberapa banyak yang saya pikirkan, ini bukanlah kasus besar. Itu tidak bisa digunakan untuk mengancam dan juga tidak bisa digunakan untuk melakukan pertukaran dengannya.”

“Mm ~ ~ gitu ya? Tapi Paduka bilang merahasiakannya.”

“Karena ini bisa menjadi sangat sedikit mengganggu. Bagi Earl, itu akan setingkat digigit serangga. Dibandingkan dengan itu, jika berita tentang ini menyebar, maka, walaupun kita juga digigit serangga yang sama, serangga itu kemungkinan kemungkinan besar mirip kumbang yang seukuran kepalan tangan. Dia bukan orang yang akan memaafkan orang yang mencoba melakukan pertarungan dengan otoritasnya.”

“Tapi Yujin selalu berkata seolah-olah kau mencoba memprovokasinya. Kau bahkan berbicara secara informal. Jujur saja, setiap kali aku melihatmu melakukan itu, jantungku berdebar.”

“Ada triknya.” aku beralih untuk berbicara dalam bahasa dunia ini.”daripada itu, hal yang lebih penting saat ini adalah penyidikan pada Sky Eater———Gongshik (? ?, Burst Irradiater)”

Seperti yang bisa kau ketahui dari huruf Cina dan nama bahasa Inggris gaya chuunibyou, itu adalah nama yang dibuat Earl Silver Lion namun sangat sesuai untuk mereka. Sii membuat suara berpikir yang terdengar.

“Paduka bilang untuk membantu para penjaga······ Apa kau akan pergi sekarang?”

“Ya. Berkat Earl, saya juga bisa mengumpulkan potongan puzzle yang hilang.”

“Puzzle?”

“Saya akan segera menjelaskannya. Tunggu sebentar. Biarkan saya mempersiapkannya sedikit.”

Aku berbicara sambil melihat iPad-ku. Sii menyandarkan kepalanya ke arahku dari samping dan memiringkan kepalanya.

“Apa yang kau maksud dengan menyiapkan······ ah, lembar karakter. Apa kau memperbaharuinya?”

“Ya. Kita juga bertemu Borg kali ini. Hal semacam ini tidak bisa ditunda dan harus dilakukan sesegera mungkin. Saya sudah hampir selesai. Sekarang, lihat ini.”

Aku menunjukkan layar yang telah muncul di iPad ke Sii.

“······ Garis aneh?”

“Itu spektrogram.” Aku melanjutkan setelah beralih ke bahasa dunia ini.  “Setiap orang memiliki suara yang berbeda, kan? Itu karena bentuk akord vokal setiap orang berbeda. Dengan kata lain, kita bisa menganalisa sebuah suara dan membuat asumsi siapa pemilik suara itu. Ini adalah salah satu teknologi dari duniaku.”

“Mm ~ ~ itu luar biasa.”

Sii menatap layar dengan mata terisi penuh dengan rasa ingin tahu. Ariya juga melirik sedikit ke layar iPad.

“Untuk menganalisa sebuah suara dan mengubahnya menjadi bentuk yang bisa terlihat. Sangat menarik. Jadi, suara siapa yang kita lihat sekarang?”

“Gongshik. Suara pelayang bertopeng yang berdiri di depan.”

Ariya sedikit kaget, tapi Sii sangat kaget.

“Eck !? M-mana? Bagaimana!?”

“Apa menurut Anda tidak akan ada kamera tersembunyi di tempat kita tinggal?”

Hening.

“Terus, juga······ hal yang······ aku, katakana pada Yujin······ saat itu?”

“Hal apa?”

“Hal······ yang······ berkaitan dengan pangeran. Video.”

“Saya punya.”

Sii menjadi merah dan mulai memukul bahuku.

“Mm ~! Uu ~~! Uuuuuuu ~~ !!”

“Itu menyakitkan.”

“Tapi! Tapiiii ······!”

Aku mengerti perasaannya, tapi itu benar-benar menyakitkan. Kekuatan Sii sangat kuat. Meski demikian, kalau aku mengatakan sesuatu seperti ‘Haruskah saya menghapusnya?’, Maka wajahku mungkin akan terpental. Karena itulah aku tetap diam. Jujur saja, seseorang yang akhirnya memvideo pengakuan seorang gadis dan memutuskan untuk menyimpan videonya, memang layak dipukul.

Untungnya, Ariya telah meraih pergelangan tangan Sii sebelum bahuku bisa terkilir.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tenanglah. Sepertinya ada sesuatu yang berhubungan denganmu telah direkam, tapi bukankah kau cuma mengatakan hal-hal yang memalukan?”

“Tidak, Bukan itu! Dan bahkan jika aku melakukannya! Aku! Juga seorang gadis!”

“Fair Grace, apa itu berarti kau bisa mencari tahu siapa orang itu hanya dengan analisis suara?”

“Jangan abaikan aku ~!”

Sii bergelantungan ke Ariya dengan wajah menangis dan mengguncangnya. Aku mengangguk.

“Ya. Selama aku punya cukup sampel, aku bisa tahu apakah mereka pelakunya atau bukan dengan akurasi 100%.”

Kata-kata itu jauh dari kebenaran. Bahkan sebuah spektrogram yang telah dianalisis di National Institute of Scientific Investigation, saat menggunakan peralatan terhebat di negara dan oleh periset terbaik, masih akan berakhir tidak lebih jadi bukti tak langsung. Kau tidak bisa menuntut seseorang hanya dengan ini dan tidak akan dipilih sebagai bukti formal bahkan di pengadilan. Apalagi, biarpun aku bisa membuat spektogram dengan aplikasi jelek ini, tidak mungkin aku menentukan siapa pemilik suara itu dengan akurasi 100%.

Akan tetapi——— tidak perlu kusampaikan kedua fakta ini.

Apalagi sekarang, aku tidak perlu menceritakannya pada mereka selebihnya.

“Begitukah······.”

Ariya mulai berpikir dengan tangan menempel di mulutnya. Sii akhirnya bisa mendapatkan kembali ketenangannya dan dia membusungkan dadanya.

“Kalau begitu itu berarti sudah berakhir, kan !? Jadi siapa itu? Apa itu benar-benar orang dari dalam kastil? Pelayan?”

“Belum. Saya perlu mengumpulkan lebih banyak sampel untuk memastikannya. Pelayan di belakang juga tidak mengucapkan satu kalimat pun.”

“Mm ~ ~ aku mengerti. Lalu kenapa kau melihatnya sekarang?”

“Saya hanya mengkonfirmasinya. Aku harus menunjukkan ini pada para penjaga saat aku mendatangi mereka.”

Aku berbicara sambil mengemasi iPad dan beberapa peralatan elektronik. Sii melirik lengannya yang dulu pernah terpotong sebelum menatapku ragu-ragu.

“Apa kau berencana pergi sekarang? Sudah larut malam ini······.”

Karena kami telah berakhir dalam situasi ini saat aku memberikan laporan rutinku ke Earl, jadinya sekarang tengah malam. Aku mengangkat bahu.

“Yah, kita bisa bolos dari pekerjaan pelayan besok dengan ini. Nona Sii akan pergi bersama saya.”

“Eck !? T-Tapi, dia tidak mengatakan apapun tentangku······”.

“Nona Sii juga salah satu orang yang diserang dan Earl sendiri mengatakan bahwa ini penting, jadi ada alasan yang bagus. Saya sudah mengatakannya sebelumnya, tapi saya tidak akan meninggalkan Anda sendirian sampai lengan itu benar-benar sembuh.”

“Yujin ······”

Wajah Sii menjadi merah. Ariya menutup mata.

“Fakta bahwa kau telah mengatakan semua itu dalam bahasa dunia ini harusnya itu berarti aku akan pergi bersamamu.”

“Ya. Kau berkaitan dengan kejadian itu juga dan kau juga pengawal kami. Kami akan dalam lindungamu.”

“Tidak masalah bagiku, namun, Fair Grace, jika kau berniat pergi ke para penjaga secepatnya, bolehkah aku pergi agak telat? Ada sesuatu yang harus kukatakan pada Alshi.”

“Tentu. Sudah larut jadinya kau bisa beristirahat hari ini. Aku harus perhatian pada pasangan.”

Wajah Ariya menjadi merah terang. Dia mengalihkan pandangannya dengan sudut 33 derajat ke samping.

Sii menggembungkan pipinya.

“Cemanapun, aku nggak mengerti. Ariya, aku berkata ini untuk berjaga-jaga, tapi kalau kau meletakkan satu jari padaku, maka aku akan menjerit.”

Ariya memiringkan kepalanya ke sudut 15 derajat.

“Kau pasti gila, Sii. Walaupun cuma kita gadis yang tersisa di dunia ini, tidak, di seluruh 12 dunia, aku sama sekali tidak berniat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan  seksual terhadapmu. Kalaupun ada, kaulah yang mencoba bermain api dengan menyuruhku melakukan sesuatu seperti menjilati kakimu. Karena itu, jangan pernah menempelkan kaki putihmu ke arahku. Atau aku akan membuatnya sampai kau menjerit.”

“Yujin! Perintah Ariya untuk menjilat jari kaki putihku! Sekarang ini!”

“Mari kita pergi. Nona Sii, menuju ke markas para penjaga. Ariya, kita jumpa lagi nanti.”

“Mengerti.”

Ariya Orgit merespon. Sii mengikutiku dengan pipi yang digembungkan.


Ada dua garis yang diregangkan dengan kastil Silver Lion sebagai pusatnya. Jalur air dan benteng. Di antara keduanya, sementara benteng tersebut memainkan peran sebagai penjaga pintu yang melindungi Kota Kurungan dari musuh asing, benteng itu juga berperan sebagai penjara pelindung yang mencegah warga bergerak bebas di luar kota. Kegunaannya sebagai penjara pelindung juga memiliki peran dalam membagi struktur internal kota. Dari benteng dalam yang mengelilingi Kastil Silver Lion, sebuah benteng terbentang dan dihubungkan dengan benteng luar yang mengelilingi seluruh Kota Kurungan, membagi kota seperti kue keju.

Para penjaga Kota Kurungan memonopoli benteng ini, yang terbentang seperti jaring laba-laba, sebagai jalur pergerakan. Dengan alasan itu, dan juga dengan alasan kuno untuk melindungi penguasa kota, markas besar mereka harus berada di Menara Bintang Kastil Silver Lion. Selanjutnya, mereka juga melindungi area pengeringan dan generator yang kubawa.

“Cres! Apakah kru shift berikutnya tidak ada di sini !?”

“Masih tersisa 5 jam lagi, sir!”

“Pimpinan Agripa, ada laporan bahwa perkelahian dimulai di area bisnis ······.”

“Sialan, lagi? Hei, bukankah kita ke sana sejam yang lalu? Tapi mereka berkelahi lagi?”

Seperti yang dikatakan Roroa barusan, meski sudah sampai larut malam, kantor administrasi markas para penjaga tidak ada bedanya dengan zona perang. Mereka pasti sudah menerima pemberitahuan sebelumnya karena saat para penjaga melihat kami, mereka menunjuk ke arah kamar wakil kapten. Dengan hati-hati aku mengamati fakta bahwa mayoritas penjaga masih muda.

“Tsk, bagaimanapun, ini jadi aneh. Walaupun seekor anjing sudah menjadi asisten komisaris······.”

“Kau idiot, jangan katakana itu saat orang lain bisa mendengarmu.”

Aku juga mendengar tentang keluhan semacam ini.

Ketika kami memasuki ruang wakil kapten, kami bisa melihat Ryungste mengistirahatkan tubuh bagian atasnya di mejanya sementara lengannya melingkari kepalanya.

“Mm? Ah, kau ······ Erse, tidak, kau putri angkat Sir Mercè . Dan orang di sebelahmu apanya Paduka Earl ya, uh·······”.

“Tolong panggil saya Yujin.”

“Bicaralah dengan nyaman. Ini agak tidak menyenangkan saat orang yang berbicara secara informal dengan Paduka berbicara dengan sopan kepada orang sepertiku.”

Aku tidak punya alasan untuk menolaknya.

“Baiklah.”

“Ehem. Roroa saat ini absen karena dia biang dia ada urusan untuk dilakukan, tapi seharusnya dia segera kembali. Sambil kita menunggu······ haruskah aku menyeduh teh?”

“Aku akan menerima kemurahan hati itu.”

Orang tertib dengan wajah lancang menyiapkan secangkir teh untuk semua orang.

Hanya ada suara teh yang diseruput di ruang wakil kapten untuk sementara waktu. Ryungste tidak tahan lagi dan membuat wajah bermasalah.

“Uhm, Sir Yujin. Tentang kejadian ini, aku sudah, eh, benar-benar mempercayakannya kepada Roroa······ Kami juga benar-benar sibuk akhir-akhir ini.Tentu saja, karena aku atasannya, aku telah menerima laporan dasarnya, namun tetap saja, seperti yang kuduga, kalau kami benar-benar memenuhi perintah Earl, maka aku tidak bisa bertidak canggung seolah aku·····”.

“Aku mengerti. Aku akan berbicara dengan Roroa tentang hal itu begitu dia ada di sini. Bisa kau ceritakan sedikit tentang dia?”

Seperti bagaimana biasanya perasaan orang saat topik itu berubah menjadi sesuatu yang bisa mereka bicarakan dengan baik, ketegangan Ryungste mereda.

“Dia gadis yang baik. Dia tulus dan pandai. Karena betapa tak berdayanya dia, orang tua ini mungkin akan berakhir sebelum waktunya, tapi······.”

“Seperti yang kau bilang, mungkin seperti itu karena dia tulus.”

“Haa, tentu saja. Dia tidak berbahaya oleh tembakan jauh. Itu sesuatu yang secara alami terjadi saat semua yang dia inginkan hanyalah bekerja keras.”

“Tapi kalau dia asisten komisaris, berarti dia langsung berada di bawahmu kan? Meski begitu, aku merasa dia agak muda. Apa dia juga bisa naik pangkat dengan cepat karena ketulusannya? Atau apakah karena dia itu Taring Pedang jadi dia sepertinya masih muda tapi sebenarnya dia sudah tua?”

“Itu karena prestasinya, prestasinya. Meskipun hampir setiap penjaga, kecuali diriku sendiri, adalah orang-orang muda, Roroa adalah orang yang paling menonjol dari mereka semua.”

“Sepertinya ada beberapa orangyang cemburu juga.”

Wajah Ryungste jadi sedikit merah.

“Ehem. Ada beberapa orang yang menilai orang lain cuma dengan melihat ras mereka. Orang-orang memalukan itu. Meskipun saat Sir Ahyeon ada di sini······. Karena keterampilan mereka kurang, mereka mencari cara apa pun yang mereka bisa untuk menjatuhkannya. Tapi sebenarnya sudah lebih tenang akhir-akhir ini. Roroa sangat unggul. Terimakasih padanya, ini juga mudah bagiku·····.”

“Dia pasti berbakat. Dia menerima gelar ksatria dari pangeran, kan? Itu mengesankan.”

Ryungste menjadi tegang sekali lagi.

“Uh, mm······ itu, sedikit. Tentu saja, Sir Yujin pasti pernah dengar dari Paduka juga, dan aku juga menyetujuinya sepenuhnya, tapi······.”

“Tidak apa-apa. Bicaralah dengan nyaman. Aku tidak berusaha membujukmu atau apalah.”

“Mm, oke······ mm. Itu sedikit, jujur saja, memang benar apa yang dia lakukan itu buru-buru. Dia tidak diragukan lagi berperan sebagai penjaga Rumah Tangga Earl, namun dia menerima gelar mulia dari orang lain. Walau itu dari Pangeran Orange Hawk, sebenarnya, terutama karena dia cuma pelamar dan bukan tunangan Paduka, dia harusnya sadar kepribadian Paduka, sungguh······.”

Meskipun Ryungste berpikir sepanjang garis ini, maka itu berarti bahwa ini adalah akal sehat di dunia ini. Yah, meski dengan akal sehatku sendiri, aku mengerti bahwa ini adalah kasus yang akan mengecewakan Earl.

Tapi, kalau begitu, maka.

“Bilanglah Roroa itu tidak bijaksana. Menurutmu, kenapa Orange Hawk?” Karena dia anggota keluarga kerajaan, sebaiknya menambahkan kehormatan. “Pangeran Sir Orange Hawk memberikan kepadanya gelar kesatria? Menurutmu apa.”

“Huu, sejujurnya, dia kemungkinan besar melakukannya tanpa banyak pertimbangan. Terakhir kali dia mengunjungi Mage Tower, kudengar dia memberikan beberapa wanita biasa gelar kehormatan. Hanya karena dia merasa seperti itu. Tentu saja, itu wewenangnya sebagai Pangeran Ketiga, dan karena gadis biasa itu anggota Mage Tower, itu berarti dia berbakat. Namun, perilaku seperti itu, uhm, beban julukan tersebut. Bagaimana kuharus mengatakannya ya·····.”

“Membuat mereka merasa murahan?”

“Ya, kalau aku mengatakannya dengan kata-kata umum. Karena itulah aku merasa kasihan pada Roroa. Kalau dia bermaksud ngantri, maka dia seharusnya memilih tempat yang lebih baik. Dia beneran tidak bijaksana. Dia benar-benar Taring Pedang.”

“Apa ada masalah dengan rasku?”

Ryungste tersedak. Kami berpaling ke arah pintu dan melihat Roroa berdiri di sana.

“Ah, kau di sini Roroa. Ehem, tidak, yah······ kami Cuma bicara ini itu dan semacam itu······”

“······Wan” Roroa menggelengkan kepalanya. “Wakil kapten, tidak masalah kalau kau membicarakanku di belakangku, tapi tentang rasku.”

“Ah, kubilang kami cuma bicara ini itu dan hal semacam itu muncul. Aku tidak berbicara buruk tentang hal itu······ Tidak, kalaupun ada, kubilang bahwa orang-orang yang menilai orang lain dari ras mereka adalah orang yang memalukan······ Bagaimanapun, tentang barusan, kenapa kau bisa sangat bertahan padahal di depan Paduka? Kau bisa saja bilang bahwa maafkan aku, aku akan memperbaiki caraku. Hanya saja kenapa kau mencoba membuat orang tua ini berakhirmati sebelum waktunya, hm?”

Pada suara mengerang yang unik untuk orang tua, Roroa menghela napas.

“Wakil kapten, aku tidak tidak berniat membuatm berakhir sebelum waktumu, wan. Aku cuma······.”

“Benar, kemungkinan besar kau melakukannya untuk orang-orang. Itu yang kau lakukan, kan? Itu———uh, dibilang apa ya, ajaran agamamu itu. Namun, bisakah kau tidak hanya berusaha untuk orang-orang tapi juga untukku? Tolong, jangan biarkan cucuku tumbuh dewasa tanpa mengenal wajah kakeknya sendiri. Apa kau tidak bisa menunjukkan setidaknya pertimbangan itu? Kita sudah lama bekerja sama, kan?”

Roroa memegangi keningnya saat dia berbalik ke arah kami.

“Para tamu sedang menunggu, wan. Aku akan keluar, wan.”

“Baiklah. Tidak, tunggu. Akan lebih baik kalau aku yang pergi. Aku sudah mau keluar. Aku harus menemui Sir Zaho dari Rumah Naricpitor dan ketua Skylight Wind. Ini adalah pertemuan bisnis resmi yang penting. Aku berencana nggak kerja saat di sana, jadi kau bisa gunakan meja dan kursi di sini sesukamu.”

Ryungste mengeluarkan sebuah topi dan memakainya dengan kuat di kepalanya sebelum meninggalkan ruangan. Roroa secara alami menutup pintu ruang wakil kapten dan duduk di kursi yang Ryungste duduki beberapa saat lalu.

“Maafkan aku karena telah menunjukkan pemandangan yang memalukan seperti itu, wan. Yujin, dan kau juga, Nona Sii.”

“Tidak, tidak masalah!”

Ucap Sii sambil menggelengkan kepalanya. Roroa tertawa sedikit sebelum mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Sii. Itu adalah kancing.

“Eh ······”.

Sii tampak bingung saat mengangkat kancing itu. Roroa, yang hendak berpaling ke arahku sambil tersenyum, melihat benda itu dan dengan cepat menjadi memerah.

“Mm? A-aah. Bukan itu, ini. Ini.”

Roroa mengembalikan kancingnya dan memberikan Sii permen. Sii dengan penuh rasa terima kasih menerima permen itu dan memecahnya menjadi dua dengan kekuatannya sebelum memberiku sepotong. Aku mengambil kedua potongan itu, membungkusnya dengan vinil, dan menyimpannya.

“Makanan ringannya nanti.”

“Eck ~~.”

Sii membuat wajah cemberut. Roroa menggaruk rambutnya yang acak-acakan.

“Auu ······ Bagaimanapun, maafkan aku, wan. Akhir-akhir ini aku belum bisa tidur nyenyak.”

“Karena pekerjaanmu?”

“Ya ······ Aku sudah sibuk, dengan ini itu. Wan. Terima kasih banyak telah mendukungku di kantor.”

“Jangan pikirin. Yang kulakukan cuma berkata yang sebenarnya, bukan? Jadi, apa yang harus kubantu? Aku cukup pandai dalam hal seperti ini. Bulan lalu penipuan real estate yang dilakukan oleh Fedchant dan awal bulan ini tuduhan palsu terhadap Sii.”

Roroa mengedipkan mata beberapa kali sebelum telinganya terangkat.

“Kasus Fedchant! Apa kau orang yang memecahkannya !?”

“Tidak, Earl memecahkannya. Yang kulakukan cuma membantu. Mirip dengan bagaimana aku akan membantumu.”

“Oke······ mm, baiklah. Aku mengerti, wan······ Pasti, tidak, seperti yang kuduga, memang seperti itu.”

Roroa menganggukkan kepala beberapa kali sebelum menatapku dengan wajah penuh kekaguman.

“Itu meyakinkan, wan. Tentu, memang benar kami kekurangan tangan di sini, wan. Kalau kau punya kemampuan yang cukup mampu untuk menyelesaikannya, tidak, membantu menyelesaikan kasus Fedchant, kalau begitu, seharusnya akulah yang meminta bantuanmu. Maafkan aku karena telah mengatakan hal-hal sombong seperti itu di kantor tadi.”

“Tidak masalah. Ayo kita sampai di pokok utamanya.”

“Ya. ······Wan, tapi kasus ini······ semua yang kukatakan di kantor mencakup semua investigasi yang telah pihak kami lakukan sejauh ini······”

Roroa jatuh ke dalam pemikiran yang mendalam.

“Terus sebagai permulaan, aku akan membantumu dengan sesuatu yang sederhana. Lepaskan mantelmu.”

Hening.

“Wan!? M-maaf!? Apa!?”

“Yujin! Apa yang tiba-tiba kau bilang!?”

Aku menjawab mereka dengan mengambil alat jahit dari tasku. Roroa, yang melambaikan tangannya, dan Sii, yang berteriak tepat di sebelhku, keduanya tenang begitu melihatnya. Namun, alih-alih melepas mantelnya untukku, Roroa melingkarkan lengannya di bahunya dan menatapku dengan tatapan samar.

“Eh, tapi kenapa tiba-tiba gitu, wan ·······kudengar rumornya kau pandai menjahit, tapi ·······.”

“Itu membantuku berpikir.”

“Uhm, Akum au tanya, tapi apa kau tidak······ berpikiran aneh, wan?”

“Yujin mungkin tidak punya pikiran seperti itu! Rasmu juga berbeda······ Mm ~~ nggak mungkin! Padahal aku tidak bisa mengatakannya dengan percaya diri!”

Sii berteriak dengan suara yang tidak percaya diri. Roroa dengan hati-hati melepaskan mantelnya dan menyerahkannya padaku. Dia benar-benar bertubuh anak kecil. Puting yang tampak seperti ekstrak bunga sakura yang dijatuhkan dalam susu. Kecuali, ada bulu tumbuh dalam satu garis dari bagian tengah dadanya ke pusarnya.

“·······”

Saat aku menatapnya, Roroa jadi memerah dan menutupi garis bulu itu. Melihat dia tidak menutupi putingnya, apa itu berarti rasnya menganggap area bulu itu sebagai bagian tubuh mereka yang lebih memalukan? Setelah melepaskan kancing yang dalam keadaan zigzag, aku berbicara sambil menjahit kembali kancingnya dalam satu garis lurus.

“Mantel ini tidak hancur, kan? Pakaian yang dikenakan Kina juga seperti itu. Ini sepertinya tidak robek walaupun setelah kau bertransformasi.”

“Wan, tidak malsah. Itu terbuat dari lapisan sihir, wan. Walau melebar sedikit, seperti ini, Cuma kancingnya yang tidak sejajar.”

Kalau begitu. Aku mulai menjahit tanpa ragu.

“Terakhir kali, kau bilang bisa jadi 1 orang dalam dan 1 orang luar, kan?”

“Wan, ya.”

“Bagaimana menurutmu sekarang?”

“Wan ······ Bukankah pencuri itu bilang mereka memasuki kota 2 minggu yang lalu? Karena itu, kupikir mereka berdua orang luar.”

“Kalau begitu, lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan seragam pelayan? Aku tidak yakin dengan pakaian dalamnya, tapi kalau pakaian hilang, maka keributan akan terjadi di antara para pelayan.”

“Belum ada laporan yang diajukan ke penjaga. Apa keributan semacam itu tidak terjadi di antara para pelayan?”

“Tidak.”

“Wan. Itu berarti mereka bisa meniru seragam itu atau mereka mungkin telah mencuri dari Rumah Naricpitor, keluarga yang menyediakan pakaian pada katil ini. Pemotong pakaian juga bisa disuap······. Aku harus mengkonfirmasi ini nanti.”

“Sepertinya para penyerang itu benar-benar berusaha melakukan ini.”

“Persis. Wan. Terlebih lagi, fakta bahwa organisasi yang bekerja sekeras ini dipekerjakan itu berarti atasan mereka juga harus berupaya keras dalam usaha mereka, wan. Yujin. Apa kau mungkin telah melakukan sesuatu yang membuatmu mendapatkan dendam dari seseorang?

“Aku telah melakukan banyak hal. Tulang anjing yang entah dari dunia mana bertindak arogan di sebelah tuan kota. Selanjutnya, Sii dibully oleh pelayan lainnya. Seperti itu, ada banyak hal yang membuat kami menerima permusuhan orang lain. Mungkin tidak ada orang yang menyukai kami.”

“Mm, dan Nona Ariya······?”

“Kami punya sedikit koneksi.”

“Begitukah······ Mm, aku mengerti······.”

Sekali lagi, Roroa tampak seolah-olah sedang memahami sesuatu. Aku berbicara.

“Bagaimana denganmu? Apa ada yang terjadi antara kau dan Ariya?”

Roroa menunjukkan wajah bingung.

“Wan······ tidak ada yang spesifik. Ada waktu dimana Ariya mencuri······ dan bahwa akulah yang menangkapnya, wan.”

Aku telah memprediksi hal ini dan saat aku mengetahui bahwa gadis ini adalah kakak Kina, aku punya perasaan yang hampir pasti.

Namun, aku bereaksi padanya seolah-olah aku tidak pernah merasakan kemungkinan itu sebelumnya di kepalaku.

“Heeh, kau yang melakukannya?”

“Ya ······ Apa kau nggak tahu?”

“Meski kudengar Ariya telah melakukan hal seperti itu, aku tidak tahu penjaga mana yang menangkapnya. Kau melakukan sesuatu yang luar biasa.”

“······Aku penasaran apa yang kau maksud dengan luar biasa.”

“Kau menangkap rekan adikmu, kan? Biasanya, orang tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.”

Roroa membuat wajah yang rumit.

“Bahkan seandainya dia bukan rekan kerja adikmu, bagi kami penjaga, semua pelayan itu seperti adik kami, wan. Atasan yang bisa kau lihat kalau kau berjalan di sistem seperti itu. Apalagi······!”

“Dia putri atasanmu.”

Hening.

“Ya———, itu benar, wan.”

“Apa kau tidak berpikiran Ariya akan merasa dikhianati? Sudah menyedihkan saat dia bekerja sebagai pelayan sejak rumahnya hancur berantakan, tapi kalau orang yang dulu jadi bawahan ayahnya adalah orang yang menangkapnya. Apalagi, menangkapnya untuk sesuatu yang harus dia lakukan karena ibunya sakit.”

“Seseorang harus mematuhi peraturan, wan.”

Suara itu rendah tapi tegas. Mirip dengan saat dia tidak mundur saat dia menyatakan bahwa berkat Ahyeon dia bisa mengenakan seragam penjaganya sambil berdiri di hadapan Earl Silver Lion. Aku bisa tahu bahwa gadis penjaga ini, yang mirip anjing, memiliki bakat yang sulit ditemukan di tempat lain.

Aku mendorong topik itu sedikit lebih jauh.

“Tentu saja, seseorang harus mematuhi peraturan. Tapi ada orang yang percaya bahwa mereka tidak harus menjadi orang-orang yang harus mematuhi peraturan. Selain itu, orang-orang tersebut melakukannya bukan karena mereka menghormati hukum dan ketertiban, namun karena khawatir dengan melakukannya, hal itu akan menyakiti orang-orang di sekitar mereka. Apa kau tidak pernah khawatir apakah adikmu akan dibully atau tidak oleh pelayan lainnya?”

“Ini pasti sama di duniamu juga. Secara teoretis, kalau sesuatu yang kulakukan membahayakan adikku, maka itu tidak akan benar. Wan. Dia biasanya dipuja jadi ada saat dimana aku percaya itu tidak masalah, wan. Juga kuberpikir dengan melalaikannya, akan lebih berbahaya lagi. Pada akhirnya, alasan kenapa Kina bisa menghindari pembullyan sebagian besar berkat bantuan Mari.”

Mari itu. Jadi kau bilang bahwa dia baik kepada siapapun selama itu bukan Sii?

Haruskah aku mendorongnya sedikit lebih jauh lagi?

“Kalau kau sangat teliti dalam konsep hukum dan ketertiban, maka kau seharusnya menghentikan Earl awal bulan ini. Sii dijebak dan lengannya terpotong, lho?”

Sii menundukkan kepala. Roroa tampak seperti malu.

“Kejadian itu······ bisa saja terjadi, wan. Walaupun kami melakukan ini itu, Paduka Earl punya otoritas penuh kota ini. Bahkan penjaga kami pun tidak bisa berbuat banyak bila menyangkut masalah politik di ketinggian itu······ tapi biasanya Paduka mengikuti peraturan······.”

“Maaf, sudah kasar. Itu benar, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa ditolong. Tapi melihat kau menyebutnya sebagai masalah politik, kau pasti sadar akan situasi Sii.”

“Ya······ sudah kubilang sebelumnya, tapi Abria adalah temanku, wan. Itu sebabnya aku tahu. Meskipun demikian, tidak ada hal khusus yang bisa kulakukan bahkan jika aku menyadarinya, dan aku tidak bisa dengan semberono membicarakannya······. Aku juga dengan tegas mengetahui bahwa tidak ada yang baik bisa datang dengan menjulurkan kepalamu ke politik lagi selama insiden gelar kesatria, wan.”

Ada penyangkalan diri tercampur ke dalam kata-kata itu. Aku tidak mengatakan apapun.

Itu tampak seperti merupakan respons yang benar. Roroa mengibaskan telinganya.

“Kurasa aku tahu kenapa kau menanyakan ini padaku, wan. Apa menurutmu kau jadi targer karena situasi Nona Sii?

Seperti yang kuharapkan, kepalanya bekerja dengan cepat.

“Aku cuma berpikir itu akan menjadi ide bagus menempatkan itu di garis kemungkinan. Orang-orang Gongshik itu dikatakan menargetkan bangsawan sebagai sasaran, kan?”

“Itu benar······. Tapi apa keuntungan yang bisa didapatkan dengan melukai Nona Sii, wan? Nona Sii tidak bisa menerima pengakuan, wan. Karena itulah dia bukan seorang bangsawan dan juga dia adalah tokoh terkemuka, wan. Dia hanyalah putri angkat seorang pemimpin masyarakat dan tidak lebih.”

“Bagaimana kalau mereka ingin mengirim pesan? Mengirimkan pesan dengan menyerang orang yang berhubungan di dalam kastil Earl······.”

“Itu hipotesis persuasif, wan. Kalau kau mengecualikan fakta bahwa Paduka Earl telah secara pribadi memerintahkan agar lengan kerabat sedarahnya itu dipotong awal bulan ini, wan.”

“Itu persuasif meski kau tidak mengecualikan itu. Dibandingkan dengan saat Earl melakukannya sendiri, maknanya akan berbeda bila ada orang lain yang melakukannya.”

“Mm, itu tidak buruk, tapi bagaimana kalau bersandar pada ide seseorang dengan kesetiaan yang berlebihan, wan?”

“Supaya setia, mereka menetapkan untuk menerima kemarahan dan menyerang Sii······ sementara mereka berada di sana, mereka memutuskan untuk berurusan dengan orang dunia lain yang anehnya mendapat kemurahan hati Earl······ Hm. Siapa yang melakukan itu?”

“Nona Sophna adalah orang yang konservatif.”

“Heeh, apa kau mencurigai atasanmu?”

“Wan ······ Aku cuma memberikan kemungkinan.”

“T-Tunggu sebentar!”

Sii berteriak panik.

“Aku tidak dapat mengikuti percakapan ini······ di mana······ jadi kau bilang akulah targernya······?”

“Kau dan Yujin-lah targetnya, wan.”

“Itu tidak ······”.

Sii berhenti di tengah kalimatnya. Dia pasti sudah mengingat saat kubilang kepadanya untuk tidak terperangkap pada pemikiran bahwa ada sesuatu yang ‘tidak mungkin’.

Dia berpikir sejenak sebelum menawarkan pendapat dari sudut pandang yang berbeda.

“Mungkin gitu, hubungannya dengan Paduka itu sedikit······ dan fakta bahwa kau bahkan menyebutkan nama Nona Sophna sudah terlalu jauh. Kalaupun ada, aku, mm······ aku putri angkat sir Mercè Mikatni, kan? Aku juga aadik angkat direktur industry pertambangan. Bagaimana dengan bagian itu?”

Roroa menepuk bibirnya.

“Tentu, itu adalah identitas yang diketahui semua orang di kastil, wan. Namun, bukankah sudah lama sejak Sir Mercè terbaring di tempat tidur, wan? Dia juga tidak punya kepribadian yang bisa membuat orang lain menaruh dendam terhadapnya. Lagipula, kalau memang begitu, maka bukankah mereka mengincar  langsung Abria daripada berputar-putar seperti ini, wan? Kalau mereka melakukannya, maka mereka tidak perlu mengambil risiko memasuki Kastil Silver Lion.”

“M-Mm······ itu menang······ begitu······.”

Sii menjadi putus asa. Aku menepuk pundaknya dan meyakinkannya.

“Bagaimanapun, itu poin yang bagus.”

“B-Benarkah?”

“AKu setuju, wan. Sudut pandang yang berbeda selalu membantu, wan.”  Roroa berbicara. “Mengesampingkan kemungkinan serangan tersebut ditujukan pada Nona Sii. Yujin, apa tidak ada kemungkinan serangan itu ditujukan padamu, wan?”

“Seperti yang kubilang, itu bisa jadi pesan yang ditujukan untuk Earl———.”

“Tidak. Kubilang itu itu bisa saja merupakan serangan yang semata-mata ditujukan padamu, wan. Apa tidak ada kemungkinan dendam yang kau buat di duniamu sebelumnya telah membawamu ke dunia ini, wan?”

Aku berhenti sejenak.

Itu benar-benar sebuah kemungkinan yang tidak kupertimbangkan.

“Ada legenda lama yang berjalan seperti ini, wan. Dahulu kala, para Fedchants menyembah Dewa, Dewa Tinggi Iyanko Niyaon. Utusan dari dewa itu telah turun dan menaklukkan sebuah kota, wan. Kota itu diperintah berdasarkan komandemen Iyanko Niyaon. Komandemen Iyanko Niyaon yang disebutkan di sini mengacu pada pepatah ‘Apapun bisa dibeli dengan uang’, wan——— Orang tua berusia seratus tahun bisa kembali ke tubuh remaja mereka dengan uang, wan. Seorang amatir yang belum pernah memegang pedang sebelumnya bisa mulai menggunakan keterampilan berpedang asalkan mereka membayar uangnya, wan. Bahkan orang mati pun bisa dihidupkan kembali selama kau membayar jumlah uang yang sesuai, wan.  Meskipun beberapa mungkin seperti ini, itu menjadi berantakan bagi sebagian besar orang lain, wan. Masalahnya adalah bahwa utusan Iyanko Niyaon akan baik-baik saja kalau mereka bermain seperti itu hanya di dalam kota mereka sendiri, tapi mereka memutuskan untuk memperluas pengaruh mereka, wan.”

Roroa melanjutkan.

“Tentu saja, dunia tidak menutup mata terhadap hal itu, wan. Dua Belas Penyihir Langit pada masa itu ——— itdak termasuk orang-orang yang telah menyetujui kota tersebut ——— dipanggil bersama dan bahkan para pangeran pertama keluarga kerajaan dari Kerajaan Dua Belas Cabang Duniawi telah memutuskan untuk memindahkan jari-jari berat mereka, wan. Namun, hal yang lebih berkesan di atas segalanya adalah upacara pemanggilan yang dilakukan oleh kelompok agama lain, wan. Sejumlah utusan yang tak terhitung jumlahnya dipanggil, wan. Utusan Dewa yang kuikuti, Dewa Kesetaraan Gainu Warmon, termasuk di antara mereka juga. Itulah logika karena oposisi adalah utusan dewa, mereka hanya bisa diperangi oleh utusan dewa lainnya, wan.”

“Seorang utusan Dewa hanya bisa ditangani oleh utusan Dewa lainnya······.”

“Meskipun ada berbagai teori mengenai hal itu, yang menarik adalah fakta bahwa di antara para utusan yang dipanggil, ada lagi utusan Iyanko Niyaon yang dipanggil oleh sebuah sekte yang juga memuja Iyanko Niyaon, tapi arah penyembahan mereka berbeda, wan. Kau mungkin sudah bisa menebaknya sekarang, tapi utusan lain dari Iyanko Niyaon telah melakukan peran yang paling penting, wan.”

Dia melanjutkan.

“Insiden lama ini dikenal sebagai ‘Perang Besar Kucing Hitam dan Putih’, wan. Meskipun ada sejumlah hal yang disarankan, di antaranya, ada implikasi mereka bahkan kembali ke dunia mereka, kedua utusan Iyanko Niyaon sudah hampir dalam keadaan sebagai musuh bebuyutan. Bahkan para utusan yang dipanggil memiliki lintasan jalan hidup yang mereka ikuti, prestasi yang telah mereka capai, hasil yang telah mereka dapatkan.”

Roroa kemudian menyimpulkan.

“Dan musuh yang mereka buat. Bagaimana denganmu, Yujin, wan?”

Tentu saja, aku juga punya lintasan yang pernah kujalani. Ada prestasi yang telah kucapai. Ada hasil yang kutumpuk.

Dan aku punya musuh.

Ketegangan———masa lalu. Bagaimanapun tiu, itu adalah pertanyaan yang apakah aku bisa menyimpannya sebagai bentuk lampau atau tidak. Meski sudah seperti orang mati saat ini, Joo Chanmi masihlah Joo Chanmi. Selanjutnya, termasuk orang yang duduk di belakangku di kafe manga, dia masih memiliki banyak pengikut. Saei bilang bahwa aku bertindak neurotic······.

“······Kecuali Earl Silver Lion, apa ada cara lain untuk orang-orang di dunia ini memanggil orang-orang dari dunia lain?”

“Aku bukan penyihir jadi aku tidak tahu, tapi······ kau dengar aku menceritakan legenda para utusan dewa yang dipanggil, kan? Di satu sisi, kemampuan Paduka Earl membuatnya seolah-olah dia menunggang seekor kuda di dunia yang mana orang-orangnya hanya bisa berjalan dan berlari, wan. Meski demikian, kalau orang-orang tertentu menganggap dibutuhkan, wan, maka mereka bahkan akan berjalan sampai ke ujung dunia. Wan.Tentu saja, kepraktisan yang berasal dari kebutuhan dan apakah seseorang bisa memikul sumber daya yang dibutuhkan selama proses itu atau tidak, adalah masalah yang benar-benar terpisah, tapi untungnya, aku sadar adanya kelompok yang mampu memenuhi kedua kondisi tersebut. . Sejujurnya, orang-orang yang pernah berada di sini di wilayah ini sejak Earl sebelumnya masih ada, semuanya sadar.”

Mage Tower.

“Yujin, yang akan kukatakan sekarang juga tidak lebih dari satu kemungkinan, wan. Tolong jangan dengarkan itu dengan penuh perhatian. Apa tidak ada kemungkinan bahwa dari duniamu, musuhmu, melalui sebuah organisasi yang tidak takut untuk memusuhi Earl Silver Lion, dipanggil melalui proses pemanggilan yang benr-benar berbeda, wan? Jadi, adakah kemungkinan bahwa pihak lain menilai bahwa kau, orang yang berasl dari dunia yang sama seperti mereka, akan menjadi penghalang, jadi mereka meminta organisasi yang memanggil mereka untuk mengontrak kelompok yang sesuai, misalnya Gongshik, untuk memusnahkanmu? Wan. Sebenarnya, kalau kau melihat lagi insiden besar manapun, maka kau akan menyadari bahwa sebagian besar berawal karena alasan yang sepele, wan. Dalam peluang satu banding sepuluh ribu, apa kemungkinan serangan ini benar-benar sebuah perang kecil yang diwakilkan, antar orang dunia lain itu tidak ada, wan?”


Keheningan telah menetap di atas kami. Roroa menatapku dengan wajah penasaran dan Sii memperhatikanku sambil menahan napas. Aku······.

“Kurasa kau punya imajinasi yang kaya.”

Aku pertama kali memecahkan keheningan dengan itu. Roroa mengibaskan telinganya.

“Diskusi jadi lebih sederhana kalau situasi ekstrem diperkenalkan, wan. Juga, walaupun kuakui bahwa skala ide itu agak besar, kalau kau menghabiskan waktumu sebagai penjaga untuk sementara waktu, kau akhirnya menyaksikan banyak kejadian yang tidak bisa dipercaya. Sebelumnya, ketika aku dikirim ke Wilayah Bongshin, aku tersesat dan berakhir di sebuah desa pionir tak berizin, wan. Agar orang-orang di desa itu bisa bertahan, mereka harus membentuk kontrak dengan monster, wan. Mereka dikenal sebagai Weken’ villeta (Menerjemahkan······ asumskan sebagai ‘Belitan yang lambat’) . Karena mereka tidak bisa berkembang biak dengan jenis mereka sendiri, mereka adalah monster yang membutuhkan rahim dari ras lain, wan. Meskipun mereka menyebutnya rahim, mereka tidak memerlukan rahim wanita yang sebenarnya. Tidak apa-apa selama mereka punya bagian dalam tubuh, wan.”

“······Jadi?”

“Orang-orang di desa pionir tak berizin itu itu menyediakan perkembangbiakan monster dengan lansia di desa mereka.”

Roroa melipat telinganya dan merengek sejenak sebelum melanjutkan.

“Mereka mengikat lansia, yang telah kehilangan semua gigi mereka dan menderita penyakit kronis, di pusat desa dan membuat mereka bertindak sebagai rahim buatan sehingga mereka bisa mengandung anak-anak monster itu. Wan······ Ini sangat menjijikkan dan ekstrem, tapi dalam posisi mereka, ini adalah solusi yang sangat masuk akal, wan. Kau tidak bisa terjebak oleh pemikiran ‘itu tidak mungkin’.”

“Aku setuju dengan itu, tapi tetap saja, cemana bilangnya ya······ Masa laluku tidak menarik. Tidak hanya biasa, tapi juga kekanak-kanakan. Aku kehilangan orang tuaku ketika aku masih kecil dan aku terus saja bersekolah setelah itu. Aku bukan makhluk yang punya dunia di bawah komandonya dan, kemudian, bahkan jika aku bisa, aku tidak akan bisa jadi orang seperti itu. Musuhku dan aku sama seperti itu. Kalau kau menimbang kami berdua, maka itu berarti kami orang yang membosankan.”

“Mirip bagaimana menjadi sesuatu karena kau ingin dibatasi oleh sejumlah orang tertentu, ada kasus di mana orang menjadi sesuatu meskipun tidak menginginkannya, wan.”

“Ya. AKu juga tidak akan menyangkalnya. Namun, karena masa laluku adalah cerita yang tidak menarik, dan mau itu musuhku dan aku adalah individu yang membosankan, ada alasan yang berbeda kenapa mereka tidak terkait dengan kejadian ini.”

Roroa memiringkan kepalanya.

“Kenapa kau berpikir begitu, wan?”

“Yah, mari kita sampingkan motifnya sejenak. Kita hampir sampai pada puncak diskusi kita jadi mari kita bicara tentang metode yang substantif. Lihat ini.”

Aku mengeluarkan iPadku. Roroa menunjukkan keingintahuannya.

“Wan, apa ini alat dari duniamu?”

“Ya. Waktu Ahyeon berada di sini······ mungkin ada saat itu juga tapi kemungkinan besar belum populer. Ini alat yang mudah digunakan dan bisa melakukan banyak hal, tapi juga bisa melakukan hal ini.”

Aku kemudian memberikan ringkasan singkat tentang spectrogram yang telah kubicarakan sebelum datang ke sini. Ekspresi Roroa berubah jadi hati-hati.

“Teknologi dunia lain ini bisa menganalisa suara, apa 100% akurat, wan?”

Itu pertanyaan yang sama persis seperti yang Ariya tanyakan.

“Ini 100% akurat.”

Aku memberinya jawaban yang sama dengan yang kuberikan pada Ariya.

“Tapi bukankah kau bilang suara mereka diubah, wan? Apa bisa dilakukan pada suara yang berubah itu, wan?”

“Itu mungkin.”

Sambil menatap Sii, yang karena alasan tertentu mendengus dengan bangga, dari sudut mataku, aku mengetuk-ngetuk iPad. Seperti yang diharapkan, Roroa berpikir dalam dan menepuk pipinya dengan jarinya. Dia lalu bertanya.

“Video saat kau diserang, kau bilang kau merekamnya kan? Bisa kutonton sekali, wan?”

“Yeah, tunggu sebentar.”

Aku mencari video saat kami diserang dan menekan tombol putar.

Video dimulai. Karena posisi di mana kamera dipasang, itu adalah sudut sari bawah ke atas yang membuatnya terasa seolah-olah anak kecillah yang merekamnya. Tidak masalah berapa kamera tersembunyi berkembang, masih ada batasan untuk hal-hal. Kualitas gambar dan kualitas rekamannya tidak begitu mengesankan. Namun, sebaliknya, hal itu membangkitkan rasa realisme yang khas yang mirip dengan film-film rekaman.

Roroa, yang telah menonton dengan wajah serius, diam-diam berbicara begitu video sampai ke bagian di mana pelayan di depan ditendang mundur dan bertabrakan di ambang pintu dengan mahkota kepalanya.

“Jadi, apakah kau tahu siapa mereka?

“Belum.”

“Kenapa begitu? Tidakkah kau bilang itu 100% akurat, wan?”

“Aku masih kekurangan sesuatu. Aku bisa mengetahuinya begitu aku mendapatkannya.”

“Apa yang kurang?”

“Kata-kata yang persis sama seperti rekaman dalam video. Kalau aku bisa merekamnya dan membandingkan kedua rekaman itu, maka aku bisa membedakan siapa pemilik suara itu.”

Aku menatap lurus ke arah Roroa.

“Karena itulah aku inginmemintamu. Manfaatkan penjaga dan kumpulkan semua orang yang bekerja di kastil ini di satu tempt. Lalu buat mereka mengatakan kalimat yang sama saat berada di depanku.”

“······Bukannya kesimpulan mereka bukan orang dalam sudah diusulkan?”

“Itu tidak 100% pasti, kan? Itu sebabnya.”

Keheningan panjang mengalir di antara kami. Roroa menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Untuk sekarang, saat ini sudah larut malam, wan. Tidak bisakah kita melakukan ini besok, wan?”

“Baiklah, ayo lakukan itu. Ini mantelmu.”

Aku selesai menjahit. Roroa menerima seragamnya dan tampak seperti kagum.

“Menakjubkan, wan ······ kancingnya jadi lurus.”

Setelah mengenakan seragamnya, kancing-kancingnya berada dalam garis yang sempurna sekarang, dia memberikan aura profesional. Kekuatan garis dan sudut sangatlah bagus.

“Kalau kancingnnya tidak sejajar lagi, maka datanglah padaku mulai sekarang. Aku bahkan akan mencucinya dan menyetrikanya.”

“Ah, Kau tidak perlu······ Sejujurnya, aku bisa saja menyerahkanny pada bawahanku······ Ah, mm, Yujin, tapi, masalahnya kalau pemilik suara tidak ada yang sama dengan orang-orang kastil······.”

“Kalau begitu itu berarti mereka orang luar. Paling tidak, orang yang bicara itu orang luar. Pada saat itu, aku harus mulai mempertimbangkan kemungkinan ini jadi dorongan tentang orang dunia lain seperti yang kau sebutkan tadi.”

“Paling banyak, itu hanya kemungkinan lain, jadi jangan terlalu pikirkan······.”

“Tidak akan. Yah, coba pikirkan itu setelah kita melakukan ini.”

“Ya, kalau begitu sampai ketemu besok, wan.”


Setelah meninggalkan markas para penjaga, kami mulai berjalan.

Sudah larut malam. Bulan yang mengambang menyebarkan sinar terang di langit tanpa awan. Meskipun, moodku yang sebenarnya saat berjalan melalui cahaya itu adalah hitam seperti saat aku masih berada di basement.

“Yujin, kenapa kau membuat wajah itu?”

Sii menatapku dengan lengan di belakang punggungnya.

“Saya hanya merasa sedikit tertekan.”

“Mm ~~? Udaranya, bersih. Cobalah tarik napas dalam-dalam. Hoo-ha, hoo-ha.”

Lucunya.

“Wajah apaan itu!? Sungguh, kasarnya. Saat kita kembali, kau akan memijat kakiku sampai aku tertidur!”

“Ya ya.”

“Uu, nggak ikhlas······ tapi sebenarnya, kenapa kau membuat wajah itu? Kita masih terus maju, kan?”

Aku memilih kata-kataku sebentar.

“Kemajuan itulah masalah sebenarnya.”

“Apa maksudmu?”

“Nona Sii, apa yang menurut Anda akan terjadi begitu kejadian ini teratasi? Katakanlah bahwa kita menemukan pelaku dan menangkap mereka. Apa yang Anda pikir akan terjadi selanjutnya?”

“Hm? Baiklah, jelas······ ah.”

Sii mengernyitkan alisnya.

“Yujin, jangan bilang kau khawatir dengan mereka. Kau khawatir Paduka akan menangkap, menyiksa, dan kemudian mengeksekusi mwewka? Tentu saja, dia akan menyiksanya sebelum mengeksekusinya.” Sii dengan hati-hati melihat sekeliling dan berbisik setelah memastikan bahwa tidak ada tanda keberadaan di dekat kami. “Cuma itu yang dia tahu cara melakukannya. Dia bahkan tidak bisa melakukannya dengan benar pada saat itu. Tapi itulah konsekuensi alami dari apa yang dilakukan orang-orang itu. Tidak peduli seberapa baiknya kau, kurasa itu bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan Yujin.”

“Begitukah menurut Anda?”

“Yup. Karena orang-orang itu, menyerangku. Dan mereka juga menyerang Yujin! Kalau Yujin tidak berada di sampingku dan aku hanya duduk di sana tanpa sadar, kalau Ariya tidak muncul. Terlepas dari apa pun hal buruk yang ingin mereka lakukan, mereka pasti bebas melakukan apapun. Kalau aku mempertimbangkan fakta itu, maka hukuman apa pun yang mereka terima itu murah bagiku. Aku tidak cukup baik untuk mengkhawatirkan musuh.”

Kata-katanya tegas.

Aku merasa lega juga. Dalam hal itu, kurasa aku tidak perlu khawatir pendapat kami bertabrakan. Aky juga tidak cukup baik untuk mengkhawatirkan musuh.

Tidak.

Aku, tidak baik dalam hal apapun.

“Aku memikirkan sesuatu yang sedikit berbeda.”

“Apa?”

“Apa yang paling kita butuhkan saat ini?”

Sii berpikir sejenak sejenak······ matanya segera menjadi lebar.

“Jangan bilang ke aku. Orang-orang bertopeng yang menyerang kita, begitu kau menemukan identitas mereka, kau berencana untuk mengancam mereka dan menjadikan mereka rekan kita?”

Sudah 1 minggu sejak aku memberitahu Sii untuk berpikir sendiri. Aku sedikit kagum. Meski kadang-kadang ada kejadian di mana emosinya mendahului dirinya, kepalanya sama sekali tidak buruk.

“Itu kemungkinan di satu kategori.”

“Itu ceroboh! Mereka itu orang-orang yang melakukan tindakan berbahaya semacam itu. Tidak mungkin kita bisa menjinakkannya. Kalau semuanya berjalan buruk, maka kitalah yang akan dimakan. Lagipula, kalau kita tertangkap oleh Paduka······ kupikir, bukankah lebih baik melakukan perbuatan berjasa dengan menangkap para penjahat dan mengantar mereka?”

“Bagian negatif persis seperti yang telah Nona Sii jelaskan, namun saya ingin mengevaluasi perspektif positifnya. Sebagai permulaan, kenyataan bahwa mereka sama sekali tidak takut pada Earl atau, paling tidak, mereka mampu menekan rasa takut itu. Jadi, sesuai dengan itu, fakta kedua adalah bahwa mereka akan bisa melawan Earl bersama kita nanti. Dan ketiga.”

Aku membuka satu jari.

“Fakta bahwa kita akan menyelamatkan hidup mereka.”

Sii menatap kosong ke jariku yang terbuka.

“Orang-orang itu juga harus bisa diberitahukan bahwa Earl lebih marah daripada yang dibayangkan saat ini. Jika kita memegang rahasia itu, maka mereka tidak punya pilihan selain mematuhi kita tanpa syarat.”

“Mematuhi tanpa syarat ······.”

Sii menggumamkan kata-kata itu seolah-olah membiarkannya mengalir. Karena harga dirinya yang rendah dan sadismenya meluap dari itu, ide untuk membuat mereka mengikuti kami pasti terdengar menakjubkan baginya.

Namun, alih-alih merespons dengan anggukan, dia mengucapkan kata-kata ini.

“Mm ~~ ······ Tapi Yujin. Itu belum semua, kan?”

Ini sedikit———tidak, ini benar-benar tak terduga.

“Meskipun semua yang kau bilang sekarang mungkin benar, walaupun mungkin itulah sebabnya kau mengatakannya dengan tulus, dan walaupun cuma hal-hal itu saja sudah cukup untuk benar-benar menggodaku, tetap saja, Yujin. Seperti yang kupikir, itu bukan satu-satunya alasan, kan?”

“Menurut Anda mengapa begitu?”

“Yah, tentu saja, itu karena, pada akhirnya, Yujin akan pergi dan mengatakan ‘ada batas untuk membuat seseorang patuh saat ancaman digunakan’.”

Sebanyak yang kupikir aku bisa menggenggam Sii, Sii juga bisa menggenggamku. Setiap orang mampu tumbuh dan, dibandingkan dengan sebelumnya, mereka akan menjadi mampu menempatkan hal yang berbeda ke dalam garis pandang mereka saat mereka melakukannya. Ini adalah sesuatu yang telah kualami selama Perang 8 Tahun, dan meski sudah jelas, itu juga sedikit memalukan.

Dan itu juga merupakan kesempatan yang menggembirakan.

“Seperti yang diharapkan, jika ada pilihan di mana tidak seorangpun harus mati, maka arah itu akan lebih baik.”

Dengan lengan di belakang punggungnya, Sii terkikik.

“Mm ~~ itu benar. Seperti dugaanku, Yujin itu baik.”

Seperti kukatakan, bukan itu masalahnya. Entah kenapa aku tidak bisa mengucapkan kata-kata itu dengan keras, jadi aku Cuma membetulkan kacamataku.


Seperti itu, kami kembali ke kamar Sii. Aroma Sii yang telah direndam ke dalam kamar menyambut kami. Sejak kami pindah ke kamar Sii, meski salah satu hal yang Ariya lakukan adalah menghapus aroma itu, usaha itu menyebabkan bau tubuh Sii beralih ke Ariya, sesuatu yang tidak diinginkan kedua belah pihak. Rasanya sangat berat sehingga Ariya saat itu akan memeluk lututnya di sudut kamar.

Alasan kenapa aku menyebutkan hal ini bukan hanya karena aku diingatkan akan hal itu saat aroma tubuh Sii menyambut kami, tapi karena Ariya saat ini melakukan pose yang sama di sudut kamar yang sama persis. Sii memiringkan kepalanya.

“Ariya, apa yang kau lakukan?”

“······Aku tidak punya alasan untuk memberitahumu.”

“Ah, terserah! Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi lakukan apa yang kau mau! Aku tidak akan peduli apa~bagaimanapun juga!”

Apa yang terjadi dengan pertumbuhan yang dia tunjukkan tadi?

“Kau bilang akan bertemu dengan Alshi? Apa ada yang terjadi?”

“Ini tidak berhubungannya dengan Fair Grace.”

“Yeah. Aku tidak bermaksud meletakkan kepalaku ke urusan pasangan.” Aku kemudian dengan santai melemparkan pertanyaan kepadanya. “Kau bertemu dengannya, kan?”

Ariya menghela napas.

“Tidak, dia tidak membukakan pintu untukku······.”

Mm.

Maka itu berarti ada sedikit masalah disini.

“Bangun.”

“······Apakah kau, mengacu padaku?”

“Yeah. Itu perintah. Juga, ayo kita pergi ke kamar Alshi bersama. Ini juga perintah.”

“······Fair Grace, apa yang kau———?”

“Ini demi Alshi. Akan kujelaskan nanti. Ayo pergi.”

Ariya membuka matanya lebar-lebar. Aku berbalik menuju Sii.

“Nona Sii juga. Kita akan segera pergi.”

“Mm? Apa······.” Sii, yang duduk di tempat tidurnya dan tengah melepas sepatunya, menatapku. “Mm ~~ oke. Ayo pergi.”

Sii melepas sepatunya kembali dan bangkit. Aku meninggalkan ruangan. Ariya masih terlihat sangat bingung, tapi akhirnya dia mengikutinya.

Tak lama sebelum kami menyeberangi lorong dan berdiri di depan sebuah kamar yang berada di lantai bawah kamar kami. Itu adalah kamar 2 orang yang dulunya digunakan oleh Alshi dan Ariya, tapi sekarang Ariya sudah pindah bersama kami, Alshi menggunakan ruangan ini sendiri.

Aku mengetuk pintu.

Tidak ada reaksi.

“Fair Grace, tepatnya kenapa······ apa yang kau maksud saat berkata bahwa ini demi Alshi?”

Aku menghantaman tinjuku ke pintu dengan keras.

Tidak ada reaksi.

“Fair Grace!? tengah malam sekarang! Alshi mungkin tidur———.”

“Nona Sii, tolong hancurkan.”

Kataku sambil menunjuk ke arah pintu.

Ariya sesaat menunjukkan ekspresi yang membuatnya jelas bahwa dia tidak mengerti, tapi Sii langsung mengangguk. Dengan lengannya yang belum diputus, Sii mengulurkan tangan kirinya dan meraih kenop pintu. Pada saat yang sama pembuluh darah di tangannya bisa dilihat, kenop pintu hancur.

“Apa yang kau······!”

Ariya, yang mulai berteriak karena terkejut, kehilangan suaranya di saat berikutnya karena syok yang lebih besar lagi.

Melewati pintu yang hancur, ada seorang gadis kecil yang roboh. Dia berada dalam keadaan di mana rambutnya yang panjang dan hitam seperti ebonykayu hitam, yang sampai ke pinggangnya, tergeletak di atas kasur. Cahaya bulan yang redup yang mengalir masuk melalui jendela yang pecah, bersinar di atas tubuh kecil itu. Rasanya seolah-olah dia jatuh ke dalam bayangan.

Ke dalam bayangan merah.

Sebuah belati menikam dada Alshi. Darah mengalir menyebar di atas kasur.

“Alshi!”

Ariya berteriak dan berlari maju. Aku membawa Sii, yang telah membeku karena terkejut, ke dalam kamar juga. Aku memasuki kamar dan memeriksa sekitarnya. 1) Jendela rusak 2) Alshi telah ditikam di dada 3) Ini belum lama sejak ditikam 4) Belati yang menikamnya sama dengan belati yang dimiliki pelayan bertopeng 5 ) Sebuah topeng ditempatkan di sampingnya 6) Selembar kertas dan pulpen diletakkan di sampingnya 7) Dan Alshi ······.

“Alshi!” Ariya mencengkeram bahu Alshi dan mengguncangnya. “Alshi ······!

gambar 1

Uhuk. Suara batuk kecil keluar dari tenggorokan Alshi. Dia masih hidup. Kekasih Ariya, pelayan tipe seniman bela diri kecil belum mati.

Itu melegakan. Untuk saat ini, aku meraih tangan Ariya dan menghentikannya.

“Jangan goyang dia. Letakkan dia seperti itu. Teruslah berbicara di telinganya. Ini perintah. Nona Sii, kemarilah dan tekan bagian di bawah luka. Jangan terlalu kuat melakukannya. Jika kekuatan maksimal Anda adalah 10, maka gunakan sekitar 3 atau 4 dari kekuatan maksimal Anda. Cepat.”

Kedua gadis yang kebingungan tersebut mulai melakukan apa yang telah kukatakan. Aku meletakkan tangan di bahu Ariya.Tubuhnya telah menjadi sangat panas sehingga rasanya tanganku akan terbakar. Sampai-sampai hampir terasa seolah aku bisa mencium bau terbakar. Sementara aku menenangkannya, aku meraih tangan Sii dan menyesuaikan kekuatannya dengan jumlah yang tepat. Aku kemudian memindahkan pandanganku ke arah selembar kertas di sampingnya. Meski ditulis dalam bahasa dunia ini dan tulisan tangannya berantakan, aku langsung bisa membacanya saat berkonsentrasi.

Saat aku selesai membacanya, aku mendengar suara seseorang dari lorong.

“Apaan semua keributan barusan!? Itu sangat bising sambai saya tidak bisa ti······.”

Itu adalah suara Mari.

“Mari! Bawa handuk bersih!”

“Ha? Kenapa saya harus mendengarkan······”

Mari memasuki ruangan dan membeku. Aku berteriak pada Mari.

“Kumohon! Handuk bersih dan sesuatu untuk mengikatnya. Sesuatu yang panjang. Pastikan keduanya bersih!”

Keragu-raguannya, hanya berlangsung sesaat. Mari mengangguk sebelum berbalik dan lari. Suara gumaman dari lorong menjadi lebih keras. Kami telah membuat banyak kebisingan di tempat yang merupakan bagian dari asrama pelayan. Tidak mungkin tidak sepi.

Pikir. Pikirkan ini.

Tak lama kemudian, aku berteriak.

“Raya! Rebus air! Kina! Bawa jarum dan benang dan bersihkan mereka di air itu! Seri! Bawa tiga orang lainnya ke sini dan bersihkan ruangan ini. Aresa! Kejar Mari dan bawa handuk dan barang lain darinya dan suruh Mari untuk pergi dan memanggil Earl ke sini. Katakan padanya bahwa Alshi ditikam, katakan dia tidak usah menggunakan panggilannya, dan datang ke sini supaya kita bisa membicarakannya. Kumohon!”

Gumaman yang tidak memiliki arah beberapa saat segera menjadi tertib. Seperti yang telah kuinstruksikan kepada mereka, Seri dan pelayan lainnya tersentak sejenak saat mereka memasuki kamar, namun akhirnya mereka melakukan permintaanku untuk mengatur ruangan.

“Alshi, Alshi, Alshi, Alshi, Alshi······.”

Ariya menangis saat bibirnya diletakkan di dekat telinga Alshi. Sii, yang memegang luka dan menghentikan pendarahan, berbalik ke arah Ariya.

“Ariya ······ Jangan khawatir. Tidak apa-apa.”

“Tapi, tapi······.”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ya kan, Yujin? Ini akan baik-baik saja····· kan?”

“Tidak apa-apa.”

Meski tidak baik, aku akan membuatnya begitu. Sii mengikuti responku dengan anggukan.

“Kau mendengarnya. Bahkan Yujin bilang tidak apa-apa. Kalau Yujin bilang tidak apa-apa, maka tidak apa-apa. Kamu tahu kan fakta bahwa Yujin cerdas. Kau pernah dengar bagaimana dia mendapatkan lenganku, kan? Itu sebabnya, Ariya······.”

“Ya, oke······.”

Ariya mendengus. Sii tidak mengatakan apa-apa lagi dan menepuk pundaknya.

Saat itu sekitar Kina sudah memasuki ruangan.

“Guk! Yujin, ini handuk yang kau minta dan ini tidak masalah, kan? Stoking yang dicuci ······ Kyaak, Al-shi—!”

“Terima kasih. Seri! Terimalah semua darinya dan serahkan padaku. Kina, bisakah kau diam-diam meninggalkan kamar?”

Kina pasti juga memperhatikan bahwa tubuhnya, yang secara instingtif memasuki keadaan terhunusnya, menempati terlalu banyak ruang di kamar, karena dia dengan patuh keluar. Seri membawa handuk dan stoking seperti yang kuminta.

“Apa kau akan mengeluarkannya······?”

“Aku tidak bisa. Lihatlah bentuknya. Seorang profesionallah yang melepasnya. Aku akan memperbaiki letaknya.”

Jarum dan benang segera tiba. Dengan tujuan menghentikan pendarahan, Aku melakukan pertolongan pertama sambil menggunakan semua pengetahuan medis yang kumiliki.

Saat itulah Mari datang bersama Earl. Tepatnya, Zia datang sambil memberi tumpangan pada Earl tunggangan punggung babi.

“Yujin! Siapa yang ditikam !? Apa yang terjadi!?”

“Zia ······”.

Pedangku. Aku tidak berpikir akan sesenang ini saat mendengar suaranya. Namun, bukan waktunya untuk merasa nyaman.

“Earl.” Seolah menanggapi panggilanku, Earl turun dari punggung Zia. “Obat-obatan······ Alchemy Fortress. Apa saja, panggil seseorang yang bisa merawat luka ini.”

Bahkan Earl yang terhormat pun tidak meminta penjelasan saat berada dalam situasi ini.  Earl Silver Lion mengeluarkan sebotol obat dari saku roknya.

“Ini. Hal yang digunakan pada lenganmu tadi. Ini akan menangani sebagian besar luka-luka. Sehubungan dengan dokter, tunggu sebentar. Biar kupikirkan. Seseorang yang tepat———.”

“Aku harus melihat.”

Itu adalah suara yang kudengar untuk pertama kalinya.

Suara itu juga diucapkan dalam bahasa Korea.

Zia berhenti. Tatapan Sii menjadi kacau juga. Pelayan mulai bergumam satu sama lain. Aku berbalik ke arah tempat suara itu berasal dan melihat seorang wanita berdiri di sana dengan tongkat di tangannya.

Aku bisa menebak siapa wanita ini.

“Sophna.”

Penyihir eksklusif Rumah Earl Silver Lion dan kepala pengikut, Sophna mengangguk. Rambut hijau kekuningan yang mengalir sampai ke pinggangnya melambai sedikit saat kepalanya bergerak.

Dia mirip pohon dedalugandarusa.

Dia tinggi. Dia tampak seperti tingginya sepertiku. Rambut hijau kekuningannya yang panjang dan mengalir memiliki kehadiran yang berbeda seperti rumput laut yang melambai di dasar dasar laut yang gelap dan dalam. Dia tidak terlihat sehat. Tubuhnya kurus dan di wajahnya, yang seputih kulit pohon, ada banyak bintik-bintik. Namun, aku bisa merasakan keanggunan dari pupil hijau kekuningan dan retakan perak yang ada di tengahnya.

Earl berbicara.

“Sudah lama sekali, Sophna.”

“Ya, Mii. Sudah satu setengah bulan. Sebaiknya kita simpan salam untuk nanti. Berikan aku botolnya. Nyonya ini harus merawat lukanya.”

Seperti yang kuharapkan, meskipun tampaknya wanita ini juga punya kesenjangan yang besar antara cara dia berbicara bahasa dunia ini dan cara dia berbicara bahasa Korea, itu tidak penting sekarang. Setelah menerima botol obat dari Earl, Sophna mendekati kami. Dia kemudian menyentuh pegangan belati yang ditikam ke dada Alshi dengan ujung tongkatnya.

Akar yang menjulur dari tongkatnya mencengkeram pegangan belati. Itu terus berlanjut sampai ke bawah dan akar melilit mata pisau dan daerah yang ditikam. Meskipun seharusnya terlihat seolah-olah tongkatnya berakar, pergerakan akar lebih seperti air yang mengalir, dan kenyataannya, lebih cepat dari itu dan tidak membuka lukanya. Tak lama kemudian, Sophna menuang obat ke atasnya. Begitu dia membacakan mantra, daun hijau kekuningan tumbuh dari akar dan mengubah akarnya menjadi tanaman merambat.

Sophna mengetuk pegangan belati sekali lagi dengan tongkatnya. Belati itu perlahan didorong keluar dari dalam. Meski mata belatinya yang melengkung aneh itu basah kuyup oleh darah, namun tak setetes darapun mengalir setelah itu dikeluarkan.

Alshi terbatuk.

“Alshi!”

Ariya berteriak. Sophna memukul kepalanya dengan tongkatnya.

“Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan berteriak.” Dia melanjutkan setelah beralih ke bahasa Korea. “Mii, maukah kamu menceritakan apa yang terjadi di sini?”

Earl Silver Lion mengerenyitkan alisnya.

“Aku juga ingin tahu itu. Apa Alshi baik-baik saja? Dia tidak terlihat baik-baik saja. Juga, Sophna, bagaimana kau bisa tahu tentang ini dan datang ke sini?”

“HArusnya tidak apa-apa. Namun, tampaknya kutukan yang keji ditempatkan di belati. Jika terlihat butuh waktu, maka itu mungkin karena proses menetralisir kutukan tersebut. Dan, sehubungan dengan kenapa saya disini, Mii. Itu karena saya sebenarnya bukan wanita tua dengan demensia. Apakah atidak masalah jika saya sedikit menoleh ke anak ini?”

“Lanjutkan. Sekarang, penjelasan tentang situasi ini······ Ariya berada dalam keadaan itu dan aku tidak bisa menyerahkan ini ke tangan putri angkat Mikatni. Tn. Yujin. Masalah yang mendesak telah teratasi. Ceritakan apa yang terjadi di sini.”

“Karena semua orang harus mendengarnya, aku akan berbicara seperti ini. Ariya bilang bahwa Alshi tidak akan melihatnya sehingga kami datang dengan kelompok tiga orang. Ariya tampak sangat cemas sampai-sampai merasa dia tidak bisa tidur nyenyak. Aku mengetuk pintu dan aku mendengar suara seseorang yang melarikan diri. Karena itulah kami menghancurkan pintu dan masuk.”

“Suara seseorang yang melarikan diri?” Zia melihat keluar dari jendela yang pecah. “······Halaman. Paduka, haruskah saya melakukan pencarian?”

“Tidak. Zia, kau harus tinggal di sini dan melindungiku. Pencarian dan investigasi harus———.”

“Ada sesuatu yang terjadi, wan?”

Sebuah suara baru, tapi suara yang juga kukenal. Itu adalah Roroa. Suara Earl Silver Lion tercampur dengan rasa jengkel.

“Kau agak cepat ke sini, Roroa. Apakah kau cuma bertanya apa yang terjadi? Pelayan yang telah pergi untuk memanggil penjaga seharusnya memberimu penjelasan kasarnya.”

“Maafkan saya, wan, Paduka. Saya tidak datang ke sini karena saya dipanggil, wan. Untuk memenuhi instruksi yang Yujin di sana telah berikan······ darah !? Bahkan Nona Sophna ada di sini !? Wan······ hanya······ Saya akan segeram mengumpulkan para penjaga, wan!”

“Instruksi Yujin? Instruksi apa yang kau bicarakan?”

“Mengumpulkan orang-orang di kastil besok untuk penyelidikan······ itu sebabnya saya akan memberitahukan semua pelayan tentang hal ini malam ini, wan! Paduka, Nona Kepala Penjaga. Jadi bisakah saya mengumpulkan pra penjaga······?”

“Lakukanlah.”

Karena dia adalah Kepala Pengikut, dia itu juga Kepala Penjaga,  Sophna, yang rupanya memiliki banyak julukan penting, memberi izin kepada Roroa. Roroa segera berbalik dan berlari cepat. Earl Silver Lion, yang melihat punggung Roroa saat dia pergi, mendecakkan lidahnya begitu Roroa menghilang di tikungan sebelum berbalik ke arahku.

“Tn. Yujin, jadi······ aku ingin dengar penjelasan situasi ini. Bukan detailnya, tapi penjelasannya.”

“Topeng, belati, dan apa yang tertulis di selembar kertas ini, lihatlah mereka.”

Zia mengambil barang-barang yang kusebutkan dan menyerahkannya ke Earl. Earl Silver Lion membaca apa yang tertulis di selembar kertas dengan alisnya yang berkerut. Berikut ini tertulis di selembar kertas:

Dan, di bagian paling bawah halaman, ada gambar segel Mage Tower.

Earl Silver Lion meremas kertas itu.

“Ah hah ha. Apa ini? Hm? Tn. Yujin, apa ini?”

Aku memilih kata-kataku dengan saksama.

“Aku percaya kemungkinan besar itu upaya untuk membuang penyelidikan kami.”

“Tentu saja! Bajingan Mage Tower itu, beraninya mereka main-main seperti ini!”

Sekali lagi, aku memilih kata-kataku dengan saksama.

“Ada kemungkinan itu bukan Mage Tower.”

“Bagaimana bisa bukan !? Lihatlah segel ini!”

Untuk terakhir kalinya, aku memilih kata-kataku dengan saksama.

“Itu digambar dengan pena. Selama tidak dicap secara formal———.”

“Yeah, mereka bisa mencoba begitu! Sialan! Karena cuma digambar oleh beberapa orang dari hanya Tuhan yang tahu dimana, tidak bisa digunakan sebagai bukti terhadap mereka ——— Betapa beraninya mereka! Berani-beraninya mereka memainkan trik seperti ini!”

“Mii.” Sophna berbalik ke Earl Silver Lion.”Tenang dan———.”

“Diam! Terutama kau!”

Sophna menutup mulutnya. Sambil memamerkan giginya, Earl Silver Lion meremas selembar kertas itu dan melemparkannya sebelum berbalik.

“Aku akan pergi, Sophna. Karena kau di sini, selesaikan kasus ini sebagai kepala penjaga. Paling tidak, tunjukkan kemajuan. Apakah kau mengerti?”

“······Maafkan saya, Mii. Bahkan sekarang, saya tidak bisa tinggal lama di sini. Keadaan sumber air pusat———.”

“Bajingan! Aaaaah, terserah. Jadi kau bilang kau Cuma bisa membantah sialan. Maaf mengganggumu meskipun kau sangat sibuk. Kalau Alshi mati, maka aku akan membunuhmu. Sampai jumpa.”

Aku berbalik menghadap Sii dan Ariya. Aku menatap Alshi. Aku kemudian bertemu mata dengan Sophna. Pupil hijau. Berada di dalam pupil-pupil tersebut, garis perak ditujukan padaku seperti pedang. Para penjaga yang dikumpulkan oleh Roroa akan segera datang dan para pelayan dalam keadaan kebingungan. Ada banyak kebingungan. Untuk menangani variabel ini, aku harus tetap di sini.

Namun, mata Earl Silver Lion seperti magma yang naik dari gunung es.

“Earl.”

“Aang? Apa itu?”

“Bawa aku bersamamu. Ada sesuatu yang harus kulaporkan.”

Aku mengucapkan kata-kata itu.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter