Your and My Asylum volume 3 chapter 3 Bahasa Indonesia

Your and My Asylum volume 3 chapter 3


Kau harus tahu bertarung. Jika kau tidak tahu, maka kau harus berpikir. Jika kau tidak bisa berpikir, maka kau harus merasakannya. Jika kau tidak bisa merasakannya, maka kau tidak punya pilihan lain selain berharap semoga kau beruntung. Namun, sesuatu seperti keberuntungan tidak ada, dan bahkan jika itu terjadi, keberuntungan itu tidak akan menguntungkanmu. Jika kau tidak memiliki pilihan lain selain mengharapkan kejadian yang beruntung, maka kau hanya bisa bergantung pada belas kasihan.



Setidaknya ada sedikit belas kasihan. Jika tetap hidup, maka itu bisa dikelola. Jika aku menggunakan Korea sebagai contoh, maka dari sekitar lima puluh juta warga negara, mayoritas mereka semua memiliki uang atau metode untuk mengurus makanan mereka pada hari itu. Mereka bisa bertahan. Dengan penuh pengampunan ironisnya.

Dengan kejam.

Saat kau mengantisipasi sesuatu yang lebih dari ‘terus hidup’ dari ‘tetap hidup’ adalah saat perjuangan dimulai. Hidup menjadi sulit, jalannya berubah sengit, dan dunia menjadi medan pertempuran. Seperti biasa, Kau kembali ke premis ‘kau harus tahu bertarung’. Akar dari kemartabatan ada di dalam Neraka.

Proses Ariya bergabung dengan kami sebenarnya sangat berat. Keesokan harinya, dia tiba-tiba menanyakan ini padaku.

“Bagaimana aku harus menghubungimu?”

“Panggil saja aku Yujin.”

“Aku tidak bisa sembarangan mengucapkan nama penyelamatku.”

“Kalau begitu tambahkan Tn. di depan.”

“Kedengarannya tidak sopan.”

“Kalau begitu tambahkan Sir di depan.”

“Kedengarannya tidak tulus.”

Mm.

“Katakan saja apa yang ingin kau panggil aku.”

“Sebanyak hutangku padamu, kuyakin yang pantas hanya memanggilmu sebagai Fair Grace (? ?).”

“Kalau begitu lakukan.”

Meski aku sudah mengatakan itu, Ariya hanya menatapku.

Aku menyadari apa masalahnya.

“Panggil aku Fair Grace.”

Aku mengatakan itu, tapi Ariya terus menatapku.

Aku———untuk saat ini——— menyadari apa masalahnya.

“Rujuk aku sebagai Fair Grace. Itu perintah.”

Ariya menunduk seolah-olah dia menyarungkan pedang.

“Ya, Fair Grace.”

Kalau sebanyak ini, maka mungkin bukan masalah besar. Kalau percakapan ini tidak terjadi di tengah ruang makan, sementara berada di depan mata waspada semua pelayan lainnya. Fakta kami sedang makan saat berada di dalam celah di mana gadis-gadis saling berbisik satu sama lain adalah sesuatu yang biasa aku dan Ariya tidak peduli sama sekali, namun sepertinya Sii merasa seolah-olah dia jatuh ke lubang yang penuh dengan lipan.

Begitu ada sedikit orang, Sii dengan kasar menunjukkan tidak adanya kesadaran Ariya.

“AAriya! Barusan apa yang kau lakukan!? Hm?······ A-Aku, meksudku······ uhm, mm~~ se-semua orang······ menonton······ sesuatu seperti itu sedikit······ bukankah itu buruk······ itulah yang kupikir······.”

Alasan kenapa suara Sii menjadi lebih tenang saat dia terus berbicara adalah karena dia telah menyusut begitu dia menerima tatapan Ariya. Ariya berbicara dengan dingin.

“Tolong jangan berasumsi aku sepertimu, Sii. Aku tidak melakukannya tanpa berpikir. Masalah panggilan adalah sesuatu yang harus kita hadapi di suatu hari. Selanjutnya, aku tidak ingin membalas kebaikan Fair Grace sambil waspada. Jadi, karena fakta aku memegang Fair Grace dalam hal ini adalah sesuatu yang suatu hari nanti akan ditampakkan, kupikir akan lebih baik mengatasinya lebih cepat, jadi karena itulah aku telah melakukannya.”

“T-tapi, meski begitu······ Mm······, ······, itu tidak masuk akal. Kalau kau benar-benar ingin melakukan itu, maka sebaiknya kau beri tahu Yujin terlebih dahulu! Tidak ada alasan bagimu mengatakannya secara terbuka seperti itu! Hanya saja kau memiliki kesadaran yang menyedihkan! Dasar kau benjolan otot!”

Alasan kenapa suara Sii menjadi lebih keras saat dia terus berbicara adalah karena dia tersembunyi di belakangku. Ariya menatap Sii, yang dengan berani meneriakinya sambil hanya mencondongkan kepalanya dari belakangku, seolah dia menyedihkan sebelum berbicara.

“Lakukan apa yang kau mau. Bagaimanapun, kata-katamu tidak berarti bagiku.”

“Lalu apa yang akan Yujin katakan? Yujin, bagaimana menurutmu? Kau jelas di sisiku, kan!? Katakan padanya dia sedang repot-repot!”

Aku tidak mengulangi kampanye persahabatan yang telah kulakukan pada keduanya.

“Ariya, kau benar. Selain itu, aku juga berterima kasih atas deklarasi terbuka kau akan membantuku terlepas dari apa yang dipikirkan orang lain.”

“Ya, Fair Grace.”

“Tapi itu sedikit buru-buru. Lain kali, beritahu aku dulu.”

“······ Apakah itu perintah?”

“Yeah.”

“Mengerti.”

Ariya menunduk.

Kalau kau melihatnya dari sudut ini, maka kau tidak bisa benar-benar mengatakan Ariya telah menimbulkan masalah. Ariya tidak bertindak tanpa berpikir dan kalau aku mengajukan sesuatu, maka dia akan mendengarkan dengan patuh. Kalau Sii tidak memikirkan hal-hal, maka sebagian besar masalah yang terjadi adalah hal-hal yang tidak dapat dianggap sebagai masalah.

Hal yang terjadi setelah kejadian ruang makan adalah contohnya.

“Ariya, apa yang kau bawa?”

“Barangku.”

Ariya berbicara setelah meletakkan tas ransel yang dibawanya. Sii mengernyitkan alisnya.

“Yeah. Aku punya mata juga. Yang ingin kuketahui kenapa kau meletakkannya di sini.”

Kami berada di kamar Sii.

“Alasan yang sama kenapa kau meninggalkan kamar sakit dan kenapa kau mengikuti Fair Grace sekitar meskipun kau masih tidak dapat melakukan apapun karena lenganmu. Tidak diketahui apa akan ada serangan lain atau tidak, jadi aku tidak bisa meninggalkan Fair Grace sendirian.”

Tampaknya seekor kucing menggigit lidah Sii. Kalau kau membaca kata-kata Ariya sedikit, maka kau akan tahu aku selalu membawa Sii bersamaku sekarang karena alasan yang sama. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.

“Selain itu, juga untuk berjaga-jaga agar bisa mencegah kau membuat Fair Grace melakukan hal seperti itu lagi.”

Aku tengah memijat paha Sii. Sii hendak mendengus tapi dia menjadi takut tatapan Ariya, jadi dia akhirnya menarik kakinya kembali. Aku hampir mematahkab leherku berkat itu, tapi, bagaimanapun juga, aku berbicara.

“Apa tidak masalah kau tinggal di sini?”

“Aku menerima persetujuan Nona Sophna.”

“Ah, apa dia keluar dari ruangannya?”

“Tidak, dia masih di labnya. Karena dia masih makan, kapan pun kami berurusan dengan Nona Sophna, kita berkomunikasi dengannya dengan menulis memo, memasukkannya ke keranjang makanannya, dan mengantarnya ke dia. Kami menerima jawaban saat kami pergi untuk mengambil keranjang makanan kosong.”

“Metode percakapan gaya hikikomori yang asli. Hm······ yah, terserah. “ Aku berpikir sejenak. “Kalau begitu kukira itu berarti tidak akan ada masalah kalau kau tinggal disi———eub.”

Kata-kataku terputus. Sii telah menarik kakinya lagi dan mencekikku dengan kakinya.

“Bagaimana mungkin tidak masalah!? Ini kamarku!”

“Kurasa, tentu saja, sempit.”

“Bukan itu masalahnya!” Sii berteriak dan kemudian beralih ke bahasa Korea.”Yujin, pikirkan. Ruangan ini kecil. Apalagi kau tidak akan bisa melayaniku lagi. Sesuatu seperti itu, Yujin si masokis, tidak mau begitu, kan?”

“Nona Sii, Anda mengklaim bukan itu masalahnya tapi bukan hanya ruangan ini kecil, hal pertama yang Anda sebutkan tapi jika saya benar-benar seorang masokis, maka Anda tidak menganggap saya benar-benar akan menikmati seseorang yang mengawasi saya saat saya melayani Anda? Tentu saja, karena saya bukan masokis, semua spekulasi mengenai hal ini tidak ada gunanya.”

“Yah, Yujin mungkin akan senang, tapi jika gadis itu secara fisik mencegah hal itu terjadi, maka aku tidak dapat berbuat apa-apa! Aku lemah.”

“Saya percaya kekuatan Sii berada di pihak yang kuat.”

“Yeah, itu benar! Tapi bukan itu masalahnya. Gadis itu memiliki teknik. Dengan teknik itu, dia melengkapi kekuatannya yang lebih lemah dariku······ Tidak, ini juga bukan masalah! Aku, sendirian!”

“Anda tidak sendiri.”

Aku berbicara.

“Saya di sini.”

Sii menunduk menatapku sejenak. Wajahnya menjadi diwarnai warna merah tua seperti ladang yang terbakar. Gadis itu, yang tubuhnya menjadi sangat merah bahkan kakinya yang dililitkan di leherku terasa panas, mengalihkan pandangannya dariku.

“Sungguh, terkadang Yujin kadang-kadang mengatakan hal yang sangat lucu.”

Sementara Sii dan aku mengobrol ini, Ariya telah melempar barang Sii ke lorong. Sii menyadari ini sedetik lebih lambat dan berteriak panik.

“Apa yang kau lakukan!?”

“Pembersihan.” Ariya, yang telah membuang kira-kira segalanya, menghampiri kami. “Sii, Fair Grace. Aku harus memindahkan tempat tidur juga, tolong bangun.”

Aku melakukan seperti yang diberitahu. Sii duduk dengan kaki disilangkan, membuatnya tampak seolah-olah dia tidak berniat untuk pindah dari tempatnya, tapi dia langsung menjadi ketakutan oleh tatapan Ariya dan membungkus dirinya di selimutnya, mengubah dirinya menjadi pupa lagi. Bagaimanapun, dia masih tidak menjauh dari tempat tidurnya.

“Aku tidak akan bergerak! Di mana tepatnya harus dibersihkan?”

“Sudah berapa lama sejak kau mencuci seprai?”

Pupa selimut itu berkedut.

“Udaranya juga pengap. Sudahkah kau memasukkan udara ke kamarmu dengan benar? Kamar ini tidak memiliki jendela. Itu karena kau gadis bau yangcuma mentoleransi apa yang tejadi.”

Pupa selimut menggeliat dan berkedut.

“Berapa banyak rambut yang ada di lan———.”

Ariya berhenti di tengah kalimat. Pupa selimut itu menggeliat dan merangkak turun dari tempat tidur. Ariya menghela napas dan berbalik ke arahku.

“Fair Grace juga. Tidakkah lebih baik kalau kau membersihkan ruangan ini sementara Sii masih berada di dalam kamar sakit? Kudengar mulai dari pembersihan, kau mengkhususkan diri pada setiap jenis pekerjaan rumah tangga.”

“Tidak sopan kalau sewenang-wenang membersihkan kamar seorang gadis, bukan?”

Sepertinya seekor kucing menggigit lidah Ariya saat ini. Sii memiringkan kepalanya.

“Yujin, kadang-kadang kau mengatakan hal waras tapi kadang lucu.”

“Meski tidak menyenangkan bila setuju denganmu, mau bagaimna lagi. Namun, karena aku akan tinggal di sini, aku akan memainkan peranku sebagai orang kasar.”

Ariya mengangkat tempat tidur dan meletakkannya di luar. Setelah itu, dia membawa sekantong peralatan pembersih dan mulai membersihkan debu dan menyeka seluruh ruangan. Aku membantu juga. Sii, yang membantu dengan lengannya yang tidak terluka, merajuk sepanjang waktu, tapi setelah melihat hal-hal yang diambil Ariya dari tas ranselnya, dia menjadi lebih cerah.

“Seprai dan selimut baru!”

“Kalau begitu tidak msalah tinggal bersama sekarang?”

Sii menggigit bibirnya sebelum cepat berbalik.

“Uu······ karena aku melihat wajah Yujin!”

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu karena dia melihat seprai dan selimut baru.

Ariya mengangkat bahunya dan membungkuskan selimut baru di atas kasur. Sii dengan ragu membantunya.

Seperti yang kau bisa tahu dari situasi ini, Ariya lebih perhatian daripada yang kuharapkan. Kapan pun terjadi perkelahian di antara mereka berdua, Sii biasanya disalahkan. Sii juga tidak berkepribadian baik, tapi karena dia tidak nakal sampai tidak tersentuh, dia membiasakan diri dengan bagaimana merawat dirinya sendiri.

Seperti biasa, kami bertiga akhirnya tinggal bersama. Kehidupan berdebar-debar hidup bersama dua gadis di satu ruangan yang Cuma beberapa meter persegi ——— Tentu saja, sesuatu seperti itu tidak terjadi.

“Kulihat Fair Grace bujangan.”

“Jelas. Yujin memuaskan semua hasrat seksualnya yang menyimpang saat melayaniku.”

Bukan itu masalahnya.

Seperti yang kukatakan, aku percaya aku tidak akan tertarik pada orang lain selain Minhee.

Kecuali, pada saat situasiku terasa seolah jumlah gadis yang tinggal bersamaku akan meningkat menjadi tiga, aku merasa hatiku akan jatuh karena alasan yang sama sekali berbeda.

“Ariya.”

“Ya, Fair Grace.”

“Ada orang yang mengintip ruangan ini sejak kau pindah ke sini.”

Tepatnya, itu Alshi. Pelayan tipe seniman bela diri lainnya yang bersamaku saat di area pengeringan cucian. Pacar Ariya, dan ······.

Ariya menekankan tangannya ke dahinya.

“Aku akan mengirimnya kembali.”

“Tidak. Bagaimana kalau tinggal bersama dia juga?”

Kalau Ariya sedikit kaget dengan tanggapanku, maka Sii sangat bingung.

“Yujin! Berapa banyak orang yang ingin kau bawa ke kamarku!?”

“Ini akan sempit, tapi saya percaya meningkatnya jumlah teman kita adalah sesuatu yang harus disambut. Saya sudah mengatakannya sebelumnya, tapi semakin banyak rekan kerja kita, semakin banyak pilihan yang akan tersedia bagi kita.”

Karena ini sesuatu yang harus kusampaikan pada Ariya juga, aku berbicara dalam bahasa dunia ini. Sii menjadi merah dan berteriak.

“Walaupun demikian! Bukan berarti kamarku semacam salon! Seandainya saja jumlah gadis meningkat di tempat kecil ini, maka itu sedikit······ meski Yujin punya gadis di Korea······ Tidak, lebih dari itu!”

Ariya menjadi bingung, sesuatu yang jarang terjadi, dan melambaikan tangannya.

“Itu akan sulit.”

“Karena kamarnya kecil? Atau karena kau tidak ingin menempatkan gadis itu, yang sangat kau sayangi, dekat gadis yang tidak kau sukai?”

“Keduanya benar.” Ariya mengabaikan alis Sii yang naik. “Alshi, bagaimana aku harus mengatakannya······ Dia sedang merenungkan sesuatu sekarang.”

Merenungkan sesuatu, kah?

Ada satu hal yang terlintas dalam pikiranku.

“Selanjutnya, aku mungkin kehilangan ketenangan. Bagaimanapun, aku tidak menjalani kehidupan jomblo seperti Fair Grace.”

Bagi gadis ini, siapa yang bahkan tidur sambil juga menjaga sudut tubuh yang sempurna, mengatakan sesuatu seperti itu, rasanya agak ironis.

“Meskipun aku tidak berpikir aku menjalani kehidupan jomblo, apakah itu benar-benar alasannya?”

“Itu. Kalau aku tidur bersama Alshi di ruangan yang sekecil ini, maka kemungkinan besar aku tidak bisa mengendalikan diri.”

Ini menjadi penjelasan yang memiliki selera yang sangat hidup. Sii mengernyitkan alisnya.

“Sungguh, aku tidak mengerti. Kenapa orang dengan jenis kelamin yang sama ·····? Kalian bahkan tidak punya anak. ”
(TLN : Beneran Yuri,)

“Aku tidak bermaksud membuatmu mengerti. Bagaimanapun, kubilang ini akan menggangguku. Hanya ini, meski Fair Grace memerintahkanku, ini sesuatu yang sulit bagiku untuk taat.”

Ariya menarik kalimat seolah tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Bahkan aku pun tak punya keinginan untuk melewati batas itu.

Paling tidak, tidak sekarang.

Untungnya, seperti kejadian ini, semua kekacauan yang terjadi setelah Ariya bergabung dengan kami adalah segala hal yang bisa ditahan. Begitu situasi kami telah diatur dengan baik, aku mulai membuat pergerakanku.


“Inilah yang aya bicarakan sebelumnya.”

Aku mengangkat USB. Sii melengkungkan tubuhnya sedikit.

“Yujin, seperti yang kupikir, bukankah ini berbahaya?”

“Lebih berbahaya untuk tidak melakukan apapun. Kita diserang karena alasan yang tidak diketahui, Anda tahu? Kita beruntung bisa bertahan berkat Ariya. “ Aku berpaling ke arah penyelamat kami. “Jika kita tidak diselamatkan, maka sesuatu yang mengerikan akan terjadi.”

Sii mengerang.

“Itu benar, tapi, tapi······ maksudku, bukankah baik kalau menyerahkannya kepada Paduka Earl? Kau memberinya laporan, kan? Para penjaga pasti bergerak.”

“Para penjaga tidak bisa dipercaya.”

Aku berbicara dengan tegas

“Tingkat peradaban dunia ini biasa-biasa saja. Apalagi saat Nona Sii dijebak, mereka tidak melakukan apapun dan membiarkan Earl melakukan hukumannya yang tidak sah.”

“Yujin ······”

Sii menatapku dengan lengan di depan dadanya. Namun, Ariya memiringkan kepalanya.

“Fair Grace, apa kau tidak terlalu meremehkan mereka? Para penjaga Kota Naga Air sebenarnya lebih kompeten dari yang mungkin kau pikirkan. “ 
(TLN : Dalam bahasa dunia ini ‘Kota Naga Air’ dan dalam bahasa korea atau monolog Yujin jadi ‘Kota Kurungan’.)

“Mm ~ ~ Tentu saja, mereka cukup kompeten untuk menangkap seseorang yang mencoba mencuri perhiasan ibu Paduka di tengah malam.”

“Sii, secara spasmodis setiap kali seseorang memberikan pendapat berlawanan dari pendapat Fair Grace sendiri akan membuatmu menyusahkan dirinya. Karena kau tidak akan mengerti meski aku mengatakan hal ini kepadamu, aku akan meminjam kepalamu sebentar.”

“Hugyaaaah!”

“Melanjutkan dari tempat yang kutinggalkan, Fair Grace. Ada orang kompeten di dalam penjaga. Sebagai pemercaya Dewa Kesetaraan, Gainu Warmon, ada orang yang telah menyelesaikan berlusin kasus. Aku juga mengatakan hal ini saat kau pertama kali memberi tahuku ringkasan rencanamu, tapi karena individu itu ada di sana, aku tidak dapat menyetujui metode ini.”

Ariya berkata dan memberi isyarat pada USB di tanganku dengan dagunya. Dia tidak menunjuk dengan tangannya karena dia menekan kedua tinjunya ke dahi Sii. Aku menghentikannya dengan meraih kedua pergelangan tangannya sebelum berbicara.

“Biar aku meluruskan ini. Para penjaga Kota Naga Air lebih kompeten dari apa yang kupikirkan dan alasannya adalah karena mereka memiliki seorang jenius. Alasan kenapa kau mengatakan ini karena kalau ini mungkin ditemukan oleh para penjaga, maka kau khawatir aku akan berada dalam masalah.”

“Bagaimanapun caranya, aku bisa lolos dengan pura-pura tak peduli dan aku tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada Sii, tapi masih ada hutang yang harus kubayar kembali, Fair Grace.”

“Aku sangat bersyukur atas perhatianmu, tapi kesan orang lain terhadapku sudah paling rendah. Bukan hanya aku orang dunia lain, tapi aku juga mainan Earl. Aku pergi melawan pelayan yang memimpin faksi terbesar di antara para pelayan. Aku juga memilih berdiri di sisi Sii. Bahkan kalau satu atau dua hal ditambahkan ke daftar ini, kalau aku mengatakannya dalam istilah dunia ini, berarti itu menambahkan satu sampai dua belas. Itu sebabnya kau tidak perlu khawatir. Jujur saja,”

Aku memperbaiki posisi kacamataku dan melanjutkan.

“Aku, sudah terbiasa dengan tipe perasaan ini dan ini mudah ditangani.”

Sii dan Ariya melirik satu sama lain. Aku berbicara saat menghubungkan iPad-ku ke USB.

“Aku akan memainkannya.”

Aku kemudian mengeluarkan earphone nirkabel tunggal yang dimaksudkan untuk hanya satu telinga dan sepasang earphone yang dihubungkan oleh kabel. Aku memberikan mereka berdua earphone yang terhubung, masing-masing memberi mereka satu earphone.

“Tunggu, Yujin! Aku ingin mendengarkan bersama Yujin!”

“Aku mohon maaf, Fair Grace, tapi duduk berdampingan dengan Sii dan berbagi ini secara fisiologis sulit bagiku. Kalau itu perintah, maka aku akan mendengarkannya.”

Aku mengabaikan keluhan mereka dan menekan tombol putar. Meski mereka tampak tidak senang, akhirnya mereka bisa mendengarkan earphone.

Kami kemudian menonton rekaman video yang mulai diputar di layar tablet.

< Aah, sungguh. Berapa lama lagi kita harus bekerja seperti ini? Seri, apa kau juga tidak berpikir begitu? >

< Ya, tapi ini masih di sisi yang mudah sekarang ······ Kita punya tamu terkemuka yang dijadwalkan tiba satu demi satu bulan depan dan bulan berikutnya >

<Putri terhormat Earl Cat dan pangeran Orange Hawk akan datang, kan······? Sungguh, aku bersyukur Mari dan orang itu······ Yujin menangani pekerjaan dengan sangat baik. >

< Woof! Jangan puji orang itu! >

< Kina, kenapa kau tidak menyukai pria itu? Dia jujur saja ??bekerja dengan baik, kan? >

< Woof······. Orang itu datang dari dunia lain, kan? Itu sebabnya ········ >

Itu adalah kamera tersembunyi. Ini adalah sesuatu  yang telah kuatur saat aku juga terbiasa dengan kehidupan sehari-hariku di sini. Aku telah menginstal semua barang elektronik, yang telah kubawa dari perjalanan terakhirku ke Korea, di seluruh kastil. Aku telah mengumpulkan data hari ini sebelumnya dan sekarang akan memainkannya. Ariya tampak seolah takjub.

“Sihir dunia Fair Grace······ apa kau bilang ini yang disebut kamera tersembunyi? Aku mendengar penjelasannya, tapi ini mengejutkan.”

“Ini biasa terjadi di duniaku.”

“Meski begitu, ini masih menakjubkan, Fair Grace. Kecuali, hal yang masih belum bisa kupahami adalah bagaimana sebenarnya menonton pelayan mengubah penyelidikan kita terkait penyerang.”

Aku menyesuaikan kacamataku.

“Mengumpulkan informasi. Karena ada potongan informasi yang hanya bisa dikumpulkan seperti ini.”

“Apa itu masalahnya?”

“Ya. Sekarang kalau kau akan membuat alasan, aku sibuk memperbarui lembar karakter dan diagram hubungan.”

Meski Ariya tampak seolah masih bingung, dia mengangguk. Sii sudah menatap layar seolah matanya diserap ke dalamnya. Sebagai permulaan, ruang ganti.

<Aku lelah ~! Ini semua salah Nona Sophna! Sejak dia menutup dirinya sendiri dalam······>

< Shh! Apa yang akan kau lakukan kalau seseorang mendengarmu!? Kau bakalan jafi menjadi daging kelinci, lho! >

< Uuuuuuu ······· >

Ruang resepsi.

<Hei, apa aku benar-benar harus membersihkan basement? Maksudku, aku kalah pertandingan Dua Belas Jari, tapi ······. Maksudku, Sii meninggalkan kamar sakit hari ini, kan? Kita juga bisa membuat Yujin itu melakukannya·······. >

<Pecundang ~ nggak bisa ngeluh ~.>

<Entah benci Sii atau benci diri sendiri karena tidak bisa bekerja sebaik Yujin. Cepat dan bersihkan. >

<Ya ampun ········.>

Ruang makan.

<Bukankah tampaknya makanan menjadi lebih enak akhir-akhir ini? >

<Raya pasti bekerja lebih keras! >

<Tidak, bukan itu, itu hanya karena Yujin menangani masakan lebih sering akhir-akhir ini ·······>

<Aresa, kau benar-benar kejam pafa Raya. >

<Disesalkan untukku juga, tapi kebenaran ya kebenaran>

<······Aku cuma minta untuk memastikan, tapi apa kalian berdua benar-benar berkencan?>

Dan.

“Fair Grace, apakah kita benar-benar harus menonton tempat seperti ini juga?”

Ariya menyuarakan ketidaksetujuannya sekali lagi. Sii dengan ragu mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya sejak video tersembunyi mulai diputar dan menatapku.

“Uhm, Yujin. Aku tidak mau setuju dengan Ariya, tapi lokasi ini, uh, ini kamar mandi, kan? Hal-hal seperti ini yang membuatmu tampak seperti orang mesum.”

Aku mendorong kacamataku.

“Kamar mandi itu tempat di mana hal-hal penting banyak dibicarakan. Ini area di mana kau akhirnya bisa bersantai secara mental dan fisik. Kembali ke duniaku, ada saat dimana jutawan real estate segera ditangkap setelah mengatakan suatu skandal saat berada di kamar mandi mereka sendiri.”

“Mm ~~ yeah. Yujin mungkin tahu lebih banyak tentang hal-hal teoretis. Tapi Yujin, pikirkanlah. Yujin berbagi earphone dengan dua gadis lain sekarang. Kau juga menonton diam-diam video dari kamar mandi. Pria macam ini, Yujin akan nyebut apa mereka?”

Orang mesum

“Bagaimanapun, sepertinya Mari telah tiba.”

“Ah! Yujin, shh! Aku tidak bisa melewatkan ini! Fufu, ufufu, ufufufufufu······ Untuk seseroang yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi saat bekeliling, aku pasti akan menonton dengan jelas penampilan macam apa yang akan kau tampilan!”

Gadis ini juga orang mesum, jadi dia tidak punya rasa malu. Meskipun Ariya tidak mengenal bahasa Korea, sepertinya dia pasti sudah memahami situasi ini hanya dengan intonasi karena dia melihat Sii seolah dia menyedihkan.

“Maafkan aku, Fair Grace, tapi seperti yang kuuga, inilah satu-satunya usaha yang menurutku tidak bisa kuikuti. Kecuali kau memerintahaknku, maka mau bagaimna lagi.”

“Kalau kau akan mundur sekarang, maka beri aku earphone yang lain! Pastikan menutup matamu juga!”

“Lepas. Fair Grace belum memberiku jawaban, kan? Aku tidak ingin melakukannya, tapi kalau itu perintah Fair Grace, maka aku harus melakukannya untuk membayar kebaikannya. Kalau itu perintah, itu. Sampai batas tertentu.”

Ucap Ariya dan menatapku dengan mata yang seolah seolah mengharapkan sesuatu.

Dengan kata lain, gadis ini juga orang mesum.

“Itu perintah.”

“Kalau begitu mau bagaimna lagi.”

Ariya mendorong earphone dengan kuat ke telinganya. Tak lama kemudian, berkonsentrasi sementara juga dengan kuat menelan air liurnya yang mesum dan kedua orang mesum yang diam-diam berkonsentrasi menunjukkan ekspresi kecewa. Padahal tingkat kekecewaan masing-masing berbeda.

“Mm ~ ~ dia tidak melakukan apa-apa.”

“Tampaknya dia datang ke sini untuk beristirahat saja.”

Seperti yang mereka nyatakan, Mari dalam video hanya duduk di toilet duduk dengan mata terpejam.

“Bolos kerja seperti ini, dia benar-benar yang terburuk. Meskipun mulutnya berbusa setiap kali aku beristirahat sedikit.”

“Dia layak beristirahat seperti ini. Memang benar Mari banyak bekerja, kan?”

“Yujin lebih banyak kerja!”

“Ya, dan alasan kenapa Fair Grace banayk bekerja adalah karena dia menggantikan pekerjaanmu.”

“Uu ······. Aku tahu itu meski kau tidak mengatakannya padaku. Aku mencoba cepat-cepat sembuh······.”

“Memang sebuah masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tekad seseorang itu sendiri.”

Percakapan kedua orang mesum ini anehnya menjadi hangat. Mungkin sesuatu yang mirip dengan mentalitas kaki tangan yang berasal dari menonton video tidak sah bersama-sama.

Potong.

“Ah, Raya muncul berikutnya.”

“Dia memegang makanan ringan.”

<Uuu, kenapa saat aku membuatnya, hasilnya tidak seperti orang itu·····?>

Potong.

“Itu Nona Ashya. Dia cuma merokok. Kurasa dia ada di sini untuk bolos kerja seperti Mari. Meski begitu, berbeda dengan Mari, dia seseorang yang biasanya tidak bekerja.”

“Dia berkecil hati sejak Nona Sophna menutup diri.”

“Yeah. Dia pemimpin faksi yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, dia kemungkinan besar salah satu dari empat orang yang menjebakku······.”

Potong.

“Itu Kina. Aku selalu penasaran bagaimana dia duduk di toilet dengan tinggi tubuhnya itu, aha, dia memasuki keadaann terhunusnya dan———.”

Potong.

“Berbeda dengan kesan jinak yang diberikan Seri, dia ternyata———”

Potong.

Waktu mengalir seperti itu untuk sementara waktu. Begitu sampai di dekat akhir video, Sii menghela napas puas. (AKu juga tidak yakin bagaimana mungkin dia berkontradiksi dengan dirinya sendiri seperti itu.)

“Mm ~ ~ Tidak ada yang spesial hari ini juga.”

“Sepertinya begitu. aku tidak punya pilihan lain selain menonton karena itu perintah Fair Grace, jadi sangat sulit bagiku······.”

“Ssst.”

Aku menutup mulut mereka. Di video, seseorang telah membuka pintu kamar mandi dan masuk. Ariya membuka matanya lebar-lebar.

Orang yang masuk kamar mandi adalah pacar Ariya, Alshi. Dia sedang ditampilkan di layar.


Ariya meletakkan tangannya di atas iPad.

“Baiklah. Sepertinya begitu.”

“Apa yang kau lakukan!?”

Sii meraih pergelangan tangannya. Ariya memutar pergelangan tangannya dan memutar tubuhnya, segera membuat Sii mengerang pelang.

“Gyaack!”

“Ariya, tetaplah moderat.” Kataku. “Pastikan kau terutama tidak menyentuh lengannya yang lain.”

“Aku sama sekali tidak akan menyentuh lengan itu, Fair Grace. Namun, kita tidak harus melihat lebih jauh dari ini. Ini tidak benar.”

Sikapnya cukup kuat untuk mengingatkanku akan keadilan di Mahkamah Agung. Sii mengeluh.

“Kau bertindak berbeda dibandingkan dengan orang mesum yang kenikmatan saat menggunakan perintah sebagai dalih beberapa saat lalu.”

“Masih ada kemurahan hari yang harus kubayar pada Fair Grace, jadi aku bisa melakukan cukup banyak tugas bahkan jika melanggar undang-undang atau melawan hati nuraniku sendiri. Namun, aku tidak bisa melakukan perintah yang bisa membahayakan Alshi.”

“Membahayakan!? Bahaya macam apa yang akan diterima Alshi!? Bukan seperti dia akan rusak hanya karena kita melihatnya sedikit!”

Sii memberikan alasan klise yang sesuai dengan pengintip.

“Apa kita tidak akan menyerang privasi Alshi?”

Sungguh, itu adalah kata-kata yang tidak kuharapkan untuk kudengar dari orang mesum yang dengan senang hati menonton video tersebut saat menggunakan perintahku sebagai alasan beberapa saat lalu.

“Siapa yang akan menilai itu juga disebut invasi? Alshi tidak tahu apa-apa, kan? Mungkinkah ada sesuatu seperti invasi privasi atau apa pun bila lawan tidak tahu?”

Percakapan menjadi pembicaraan tingkat tinggi yang mempertanyakan apakah tindakan tersebut dapat diprediksikan sebagai kejahatan atau tidak jika orang yang terlibat secara langsung tidak menerima kerugian mental apapun karena mereka tidak tahu.

“Bukankah langit, bumi, dan kita tahu?”

Topiknya melonjak sampai ke tingkat filsafat Oriental.

“Kalau begitu, yang harus kita lakukan itu menutup mulut. Seperti yang kita lakukan untuk orang lain yang terekam sampai sekarang.”

Pada saat itulah percakapan mereka menyerupai sesuatu yang akan dibahas oleh malaikat agung Angiris saat menatap ke tempat-tempat suci.

<······Kenapa, berakhir seperti ini>

Ariya tersentak. Itu suara Alshi. Dia telah membiarkan pemutaran video terlalu lama. Namun, alih-alih melihat pemandangan yang akan terjadi seperti masalah di kamar mandi, pemandangan Alshi berjongkok sambil meletakkan tangannya di keningnya sedang titampilkan.

<Uu ·······.>

Dia disiksa oleh sesuatu. Meskipun kau tidak benar-benar perlu memiliki hubungan khusus dengan orang lain untuk bersimpati dengan mereka, hal itu cenderung membantu. Ariya bergumam sambil melihat ke layar.

“Alshi.”

Dengan memanfaatkan saat ini ketika kekuatan di bahu Ariya telah lenyap, Sii melepaskan cengkeraman Ariya dan berdiri. Syukurlah, bertentangan dengan kekhawatiranku, Sii tidak membuat ucapan sarkastik terhadap Ariya yang sedang menderita karena rasa sakit pacarnya.

“Mm ······,” Sii berbicara dengan nada hati-hati. “Ariya, kenapa Alshi seperti itu? Apa ada yang terjadi?”

Sebelum Ariya bisa mengatakan apapun sebagai tanggapan, sebuah perubahan terjadi dalam video tersebut. Seseorang telah membuka pintu ke tempat Alshi berada dan masuk.

Kecil,

seorang gadis yang sangat kecil

Telinga anjing terkulai yang tampak seperti batting kapas yang telah digunakan untuk jangka waktu yang panjang. Tubuhnya pendek yang bahkan tidak mencapai ketinggian 1 meter. Dia Taring Pedang seperti Kina. Rambutnya berantakan dan gigi yang diproyeksikan membuatnya mengeluarkan getaran tomboy dan fakta kancing pada seragam yang dililitkan di sekeliling tubuhnya yang kecil itu tidak sejajar memberi kesan dia kikuk.

“Itu Nona Roroa······ sang penjaga. Tapi kenapa dia di tempat Alshi······.”

Sii berhenti di tengah kalimat dan menutup mulutnya. Penjaga Taring Pedang yang dikenal sebagai Roroa tiba-tiba melompat ke pelukan Alshi.

“Eck.”

Sii bingung dan melihat bolak-balik antara iPad dan Ariya. Meski wajah Ariya kosong karena emosi, pembuluh darah di punggung tangannya menjadi lebih tebal.

Dalam video tersebut, Alshi dan Roroa saling berpelukan dan saling bergesekan. Kami tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan baik karena mereka berdua berbisik. Segera setelah itu, seolah-olah baterai telah mati, video terputus tanpa ada peringatan.

Sii dengan ragu berbalik menatap Ariya.

“Uhm ······ Ariya, barusan······.”

“Jangan bilang apa-apa.”

Ucap Ariya. Respon itu membuat Sii menjadi marah.

“Apa maksudmu jangan bilang apa-apa!? Ini, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu selingkuh, kan?”

“Alshi tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Hanya itu yang kau pikirkan! Tapi kesampingkan delusimu! Ini jelas selungkah! Bahkan jika kau mengabaikan fakta mereka berdua perempuan, bahkan menjadi ras yang berbeda······ dan dengan Nona Roroa itu!”

“Itu pernyataan yang agak lucu, Sii. Kalau kau mempertimbangkan fakta bahwa ibumu setengah kelereng, itu.”

“J-jangan banwa-bawa ibuku ke sini!”

“Kalau begitu sebaiknya jangan seret pacarku ke sini!”

Ariya langsung meneriakinya sambil menunjukkan agitasi yang jarang sekali ditunjukkannya, bunyi decakan terdengar bergema dan pintu telah terbuka.

Cahaya dari lampu dan setting matahari terbenam bercampur, membentuk aliran darah merah seperti kilau ke dalam ruangan. Aku meraih iPad bersamaan saat Sii dan Ariya berhenti dan berbalik untuk melihat ke pintu. Siapa pun orang itu, mereka pasti merasakan atmosfer yang ramai, saat kaki kecil mereka berhenti memasuki ruangan.

“Wan······ kalian sibuk sekarang?”

Kecil,

seorang gadis yang sangat kecil

Taring Pedang yang mengenakan seragam Penjaga Perak ——— gadis yang berada di pelukan Alshi dalam video yang kami tonton beberpa saat lalu, Roroa menatap kami dengan wajah bingung.


Aku akan mengatur situasi saat ini.


Pertama, kami mengumpulkan informasi dari kamera tersembunyi.
Kedua, orang yang ditampilkan di video tersebut beberapa saat lalu telah mengunjungi ruangan ini tanpa pemberitahuan.


Pengorganisasian selesai. Ini sesuatu yang sering terjadi selama Perang 8 Tahun. Sementara dengan terampil membalik-balik iPad dan mematikannya, aku berbicara.

“Hai. Aku Yujin. Ini di sini adalah ······.”

“Wan! Nona Sii Mikatni dan Nona Ariya Orgit. Aku sadar, wan.”

Sambil menanggapi dengan pengucapan yang membiarkan orang lain tahu dia memiliki lidah pendek, Roroa terkikik. Dia kemudian menyebarkan telinga anjing terkulainya yang melorot ke luar secara luas dan menatapku.

“Aku juga mengenalmu, wan. Sir Yujin! Orang dunia lain yang dipanggil Paduka Earl! Aku mendengarmu dari Abria, wan.”

Abria Mikatni. Kakak perempuan Sii.

“Apakah kalian teman?”

“Ya. Selanjutnya, Rumah Mikatni memproduksi senjata untuk Penjaga Silver Lion, wan. Kalau mereka juga ahli dalam menjahit, maka mereka bahkan akan menghasilkan seragam kami, tapi sangat disesalkan. Bukankah begitu, wan, Nona Sii?”

Sii tertawa mengelak. Roroa tersenyum lebar sebelum membungkukkan kepalanya ke arahku.

“Oh, benar. Sir Yujin, aku juga ingin meminta maaf kepadamu, wan. Keluargaku telah merepotkan Anda.”

“Kina?”

“Ya. Kepribadian gadis itu selalu seperti landak berduri beracun······.”

“Tidak apa-apa. Dia menggemaskan.”

“Wan! Kalau begitu, itu melegakan, wan!”

Roroa mengangkat kedua telinganya dan menyeringai dengan crah. Aku bergeser ke samping dan memberinya tempat untuk duduk di kasur.

“Jangan hanya berdiri di sana dan duduklah. Aka minta maaf atas kamar sempitnya.”

“Wan! Tidak masalah, tidak masalah. Seperti yang bisa kaulihat, wan, aku kecil!”

Roroa menyelam ke kasur. Dia hendak berbalik dan duduk, tapi dia berhenti sejenak dan mengayunkan kedua tangan dan kakinya yang kecil.

“Hoeeeeeh!? I-Ini sangat lembut, halus, dan juga beraroma bagus!? Apa kau mungkin······?”

“Ya. Belam lama sejak kami membawa seprai baru.”

“Ho-ho, begitu-begitu. Hmhm, hmm, huu, hua······, ini jelas dicuci dengan air dari basement lantai 2 di Menara Tengah dan dikeringkan dengan sinar matahari musim dingin······. Aroma bersih ini membuat orang merasa seperti menjadi lebih sehat namun aroma yang muncul dari kasur di bawah seprai······ karena aroma wangi yang berbau seperti rumput yang diinjak dengan tetesan susu yang ditekan······ ini tidak monoton.”

“A-Apa yang kau maksud dengan rumput yang diinjak dengan tetesan susu!?”

Sii memerah dan mengeluh. Telinga Roroa naik sejenak sebelum dia dengan tenang meletakkan kedua tangannya di atas pangkuannya dan duduk.

“Fueh······Maafkan aku, wan. Tanpa sadar aku keaasyikan, lamban. Hanya saja hidungku tajam······.”

“T-T-Tidak, yang penting adalah······. Memiliki aroma itu·····.”

“Tepatnya, baunya seperti juga sudah disegel selama dua hari, wan. Fuah······ ah, aku ingin menciumnya lagi, wan.”

“Uu ······”.

Sii membalikkan bahunya dengan ekspresi malu di wajahnya. Baunya tidak seburuk itu sehingga dia tidak harus khawatir tentang hal itu.

“Apa kau mau minum?”

“Wan, apa tidak masalah? Aku akan merasa menyesal kalau aku membuatmu pergi jauh-jauh ke ruang makan ······.”

“Tidak masalah. Ada satu di sini.”

Aku memberinya sebuah botol. Setelah meneguk seteguk, mata Roroa berkilauan.

“Waan! Es teh Lipton! Sudah lama sekali, wan!”

Mm?

“Kau tahu tentang minuman ini?”

“Ya ~ Pernah Ahyeon memberiku satu. Wan! Aku tidak berpikir aku akan bisa minum ini lagi! Hoeeh, beruntungnya hari ini!”

Gadis bertelinga anjing itu mengisap botol sambil memegangnya dengan kedua tangannya. Aku menunggunya selesai minum sebelum berbicara.

“Jadi, apa yang membawa penjaga datang tiba-tiba?”

“Untuk mendengar dari saksi, wan. Kudengar kau diserang kemarin, wan.”

Aku telah memasuki topik utama tanpa peringatan, tapi sepertinya dia bisa segera menanggapi.

“Kau datang sekarang? Secara pribadi?”

“Ya. Biasanya, kami seharusnya datang begitu perintah diberikan, tapi selama ini, bahkan penjaga kami sibuk dengan segala macam hal······. Aku hampir tidak bisa, wan, meluangkan waktu sekarang. Aku tidak ingin membuat kalian datang dan pergi karena sudah sangat terlambat, jadi aku datang secara pribadi. Kalau kau tidak sibuk, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan, wan?”

Dia tidak hanya memahami maksud sebenarnya yang tersembunyi di balik pertanyaanku yang tidak koheren, tapi dia menjelaskan situasinya sendiri selama proses itu dan juga melangkah lebih jauh dan meneruskan pembicaraan. Kesan pertamanya yang tomboi, sangat berbeda dibanding cara dia berbicara. Tidak diragukan lagi ‘orang yang kompeten di antara para penjaga’ adalah gadis ini.

“Sudah hampir waktunya bagiku untuk pergi memberikan laporan rutinku ke Earl.”

“Tidak butuh waktu lama.”

“Yah, kalau kau bilang begitu.”

“Yeap. Kalau begitu tunggu sebentar, wan. “ 
(TLN: Diucapkan ‘Yeh-ap’)

Roroa menyemprotkan cahaya hijau ke udara.

Awalnya, terlihat mirip dengan partikel cair yang akan disemprotkan dari botol semprot. Tidak lama kemudian partikel-partikel itu berkumpul dan membentuk garis, bentuk, dan gambar. Fenomena hologram hidup sekarang mengapung di tengah ruangan gelap ini. Aku mengenali bentuk itu menjadi jenis daftar.

“Sihir?”

“Ini adalah berkah suci. Mayoritas dari kami ‘pemuja Giant Molars’ mengatur data kami seperti ini. Sekarang······ Sir Yujin?”

“Kau bisa memanggilku Yujin.”

“Oke, Yujin. Wan. Bisakah kau memberi penjelasan situasi pada saat kau diserang, wan?”

Aku melakukannya. Saat itu 2 orang memakai seragam pelayan, mereka membuka pintu yang terkunci dan masuk ke dalam ruangan, mereka dilengkapi topeng aneh dan belati eksentrik, walaupun aku mencoba melawan mereka, tidak mungkin bagiku, kami bisa tetap aman berkat penampilan Ariya. Roroa, yang mengatur informasi dengan menggerakkan jarinya yang kecil dan menyentuh hologram yang mengambang di udara, mengepakkan telinganya.

“Sii. Ariya. Bagaimana kalian berdua? Dari semua informasi yang disebutkan, wan, apa ada sesuatu yang salah atau perlu diperbaiki?”

“Tidak, tidak ada.”

“·······”

Jawab Sii hati-hati sementara Ariya hanya melotot pada Roroa. Roroa mengangkat satu telinga dan berpaling untuk melihat Ariya.

“Ariya, adakah sesuatu yang ingin kau katakan, wan?”

Ariya tidak menanggapi. Diam.

Sebelum keheningan canggung bisa berlangsung lebih lama, aku berbicara.

“Hanya itu yang bisa kami katakan. Apa yang kau pikirkan?”

Kalau ini Korea, maka mereka tidak akan memberitahu korban tentang penyelidikan tersebut, tapi ini dunia lain.

“Mereka mungkin orang dari luar atau dalam, wan. Ini sudah jelas. Kalau au mempertimbangkan fakta mereka bisa secara akurat menentukan kamar sakit Nona Sii, fakta mereka mengenakan seragam pelayan, dan fakta mereka tidak bertemu seseorang saat pergi dan melarikan diri dari kamar, maka kemungkinan  tinggi itu yang terakhir. Selanjutnya, fakta mereka menyerang kastil ini dan menyebabkan keributan berarti mereka entah tidak tahu tempat mereka atau mereka yang terampil, wan. Karena mereka dilawan Nona Ariya, ada kemungkinan besar itu yang pertama. Karena itu, kalau aku mengatur informasi yang kupunya sekarang, maka.”

Roroa menekan sebuah tombol pada hologram. Simbol dua belas jari berputar sebentar sebelum segera menampilkan layar hasil.

“Entah orang gila di dalam tidak takut pada Paduka Earl atau orang luar yang berdiri dalam posisi yang bisa mendapatkan informasi dari orang dalam semacam itu. Meskipun mereka teliti selama tahap perencanaan, mereka adalah tipe orang yang sembrono ketika harus benar-benar melaksanakan rencananya. Sekitar 7 dari 12.”

Tentu, seperti yang Ariya katakan, tampaknya aku meremehkan para penjaga dunia ini ——— dan tingkat peradaban ini.

“Itu logis. Kupikir kau akan menggunakan metode penyelidikan yang sedikit lebih menggunakan sihir.”

Roroa menampakkan gerahamnya saat dia tertawa.

“Wan! Kudengar mereka melakukannya di tempat-tempat seperti Rumah Earl Cat, wan. Tapi kami cuma punya beberapa penyihir di sini dan inilah satu-satunya berkah suci yang bisa kugunakan. Tidak peduli siapa mereka dan di mana mereka berada, mereka pada akhirnya akan melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang ada. Yah, metode yang paling seperti sihir dan pasti adalah dengan mengambil sesuatu seperti rambut pelayan bertopeng, kirimkan ke Paduka Earl, dan mintalah dia untuk memanggil mereka, tapi······.”

“AKu memberitahu Earl sebelumnya saat aku memberinya laporan rutin, tapi tidak ada apa-apa.”

“Ya. Topeng yang menutupi seluruh kepala mereka. Sarung tangan panjang, tu berarti mereka dipersiapkan pada kemampuan Paduka. Itu sebabnya kubilang mereka teliti saat sampai pada tahap perencanaan.”

Roroa menampilkan wajah cemas, menunjukkan dia khawatir apakah kami akan mengambil kata-katanya saat dia menyalahkan kami, korbannya, atau tidak. Aku mengangkat bahu untuk meyakinkannya bukan itu masalahnya.

“Dan yang lainnya 5 dari 12?”

“Lemah! Dimulai dari kemungkinan kau telah berbohong pada kemungkinan mereka pembunuh bayaran yang bisa menggunakan sihir tak kasat mata, karena hal-hal ini tidak bisa ditempatkan di dalam Dua Belas Jari, tidak ada gunanya cari ribut tentang mereka, wan.”

“Kami tidak bohong!”

Sii berteriak. Roroa melipat telinganya.

“Waan. Tentu saja, aku sadar. Maksudku, ada banyak hal yang harus dipikirkan kalau kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk akal itu. Itulah sebabnya, sambal mengabaikan kebodohan itu, Aku berniat merencanakan penyelidikan sambil menempatkan kemungkinan tertinggi yang telah disebutkan sebelumnya, mengenai karakteristik para penjahat, sebagai subjek utama, wan. Aku percaya aku memiliki sesuatu untuk dibagikan dengan kalian semua, wan, pada saat kalian menghitung jumlah hari sesuai dengan jumlah jari di kedua tangan Anda.”

Aku tidak bisa menemukan sesuatu untuk dikritik bahkan dalamnya dia menyampaikan semuanya. Roroa menebarkan hologram sebelum memegangi botol itu dengan kedua tangannya lagi dan meminum Es Teh Lipton. Dia menggembungkan pipinya seperti sepasang roti uap dan menunjukkan ekspresi puas di wajahnya.

“Wan. Sangat enak······. Aroma merembes ini. Seperti yang kupikir, aku sangat menyukai makanan dari bumi, wan. Apa kau mungkin punya alkohol? Aku sebenarnya suka makgeolli.”

“Maaf. Aku masih siswa.········· Orang Korea yang datang sebelumku. Apa kau kenal tentang Ahyeon dengan baik?”

“Wan! Dia cuma seseorang yang kusuka dengan satu sisi! Apa dia mungkin seseorang yang kau kenal?”

“Aku cuma dengar namanya.”

Aku melanjutkan

“Kudengar dia orang Korea yang sudah lama berada di sini, dia berada di sini sekitar 4 tahun, dan dia telah mengajarkan bahasa Korea kepada Earl dan Zia, dan selama proses itu, mereka menjadi sangat dekat. Mereka berdua tidak akan memberi tahuku lebih dari ini, jadi aku juga tidak bisa bertanya kepada mereka tentang dia.”

“Wan. Aku mengetti······. Mm? Tapi meski begitu.”

“Apa kami memberikan gambaran yang sama? Aku pernah mendengar beberapa orang mengatakannya dengan santai.”

“Rambut hitam dan mata hitammu sama saja.”

Itu karena kami berdua orang Korea.

“KAu juga mengeluarkan aroma yang sama.”

Seperti yang diharapkan, aku harus mandi hari ini.

“Waan ~ tapi kau pasti sedikit berbeda.”

Roroa tertawa sementara telinganya terangkat.

Aku.

“Orang macam apa dia?”

“Dia adalah orang yang mengeluarkan ucapan bagus, wan. Dia orang baik. Waan. Sungguh, tanpa prasangka pun, dia individu yang menyayangiku dan Kina.”

Bukan itu yang kutanya. Begitu pikiran itu terlintas dalam pikiranku, Roroa meneyruput teh es teh Lipton dan terkikik.

“Tentu saja, kau mungkin tidak meminta potongan kesan semacam ini, kan? Yujin. Kalau kau menginginkan jawaban tertentu, maka kau perlu terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang tepat.”

Aku tidak yakin dia penjaga ketika Ahyeon masih ada, dan ada juga kemungkinan banyak waktu berlalu karena dia melampaui usia yang disebut sebagai ‘gadis’.

“Apa dia laki-laki?” 
(TLN : Sampai sekarang Ahyoen diasumsikan kelaminnya netral. Hanya saja monolog Yujin menganggap dia laki-laki karena Ahyeon masuk militer.)

“Wan. Ya.”

“Berapa umurnya?”

“Waan······ sebenarnya, mirip dengan bagaimana sulitnya manusia mengetahui usia Taring Pedang, kami memiliki masa sulit untuk mengetahui usia manusia juga. Bahkan Yujin orang dunia lain. Bagaimanapun, dia berjenggot, berkacamata, sepertinya penglihatannya buruk, dan tubuhnya sangat kurus sehingga rasanya seperti kaau aku menggigitnya, bahkan tulang-tulangnya pun akan robek.”

Seorang pria lemah, huh. Karena aku menduga dia seseorang yang pernah bertugas di militer, aku berpemikiran dia bisa jadi menjadi orang tua.

“Dibilangnya apa yang dia lakukan di Korea?”

“Dia bilang dia guru. Wan. Dia mengajar anak-anak. Dia bilang dia bahkan menghasilkan banyak uang. Tapi di sisi lain, dia bilang dia mulai merasa bosan dengan gaya hidupnya, jadi kudengar sejak dia dipanggil, dia membuang segalanya dan memutuskan untuk tinggal di sini.”

“Jadi dia memiliki kepribadian yang tidak bisa bertanggung jawab.”

“Hehe. Tapi kupikir itu cuma alasan.”

Roroa memejamkan mata seakan mengenang masa lalu.

“Itulah yang dia katakan, tapi sebenarnya dia individu yang tidak bisa melihat-lihat hal-hal yang menyimpang. Dia menyingkirkan banyak kebiasaan dan tuduhan buruk, wan. Kau bahkan bisa bilang berkat dialah Taring Pedang sepertiku mampu menjadi bagian dari para penjaga. Sampai saat itu, mereka bilang itu hanya mungkin terjadi kalau orang yang bersangkutan memiliki kemampuan yang mengesankan atau kalau mereka berada di tempat-tempat seperti Dua Belas Cabang Duniawi.”

Diskriminasi ras.

‘Ini bukan diskriminasi tapi pembagian.’ Aku pernah mendengar ungkapan rasis stereotip ini sebelumnya dan aku sadar rasisme ada di sini. Namun, sepertinya hal itu lebih buruk dari yang kubayangkan. Meski ada seorang pria dari dunia lain yang telah mengubahnya. Sebuah fantasi reformasi dunia lain yang seolah-olah berasal dari manga.

Dan fantasi itu······.

“Si Ahyeon itu, apa yang terjadi padanya pada akhirnya?”

“Aku tidak yakin, wan.”

Roroa membuat wajah minta maaf.

“Ketika Paduka Earl diculik, aku masih yang terendah dari posisi terendah dalam hal peringkat. Kecuali, aku ingat pada saat itu, setiap anggota kordia Merza (Menerjemahkan ······ Dua belas panah? Peluru? Aku akan menerjemahkannya sebagai Dua Belas Peluru) lenyap satu per satu. Ahyeon adalah salah satu dari orang-orang itu.”

Seperti yang kupikir, itu sekitar waktu penculikan.

Tunggu.

Dua belas peluru?

“Mungkinkah ada 11 orang lain yang juga berdiri di posisi yang sama dengan Ahyeon?”

“Wan?”

Roroa mengangkat telinganya. Meski kau melihatku dengan mata yang merasa seolah-olah mereka bertanya ‘Kau tidak tahu?’, Apa yang harus kulakukan?

“Aku baru saja mendengar nama Ahyeon. Apakah 11 orang lain juga orang Korea?”

“Waan. Tidak. Ahyeon satu-satunya orang Korea, wan. Karena jumlah dunia yang Paduka Earl bisa ikut campuri itu 12, ada satu orang dari setiap dunia, sehingga totalnya 12 orang. Rasanya seperti sekelompok penjaga elit yang terdiri dari orang-orang dunia lain.”

Pengaturan seperti chuunibyou telah  muncul tiba-tiba.

Kalau kau mempertimbangkan usia Earl saat itu, maka itu akan menjadi shounibyou.
(TLN: Chuuni pada dasarnya SMP tahun ke 2 (kelas 8), dan shouni itu SD tahun ke 2. Chuugakusei = SMP, Shougakusei = SD)

“Mereka disebut Dua Belas Peluru, tapi anggota reguler hanya Ahyeon dan beberapa lainnya, wan. Para anggota jarang berkumpul bersama. Tapi selama kejadian langka saat mereka melakukannya, sungguh menakjubkan! Waan! Bukankah begitu, Nona Ariya? Tidakkah kau ingat juga?”

Meskipun shounibyou telah memulainya, tampaknya dilakukan oleh orang dewasa juga. Bahkan Ariya, yang tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak Roroa muncul, menunjukkan respons terhadap kata-kata itu.

“Itu menakjubkan. Aku ingat bahkan ayahku tidak menyembunyikan kekagumannya setiap kali Dua Belas Peluru berkumpul.”

“Wahaha, yup. Dia benar-benar menikmatinya. Pada hari-hari Dua Belas Peluru berkumpul, para penjaga bersama-sama,lho? Dia akan selalu minum alkohol dari gelas tinggi dan berkata ‘Kau lihat, mereka, kan!? Tujuanku adalah orang-orang itu! Kita harus melampaui mereka!’. Orang kasar itu akan mengatakan hal-hal kekanak-kanakan seperti itu.”

Ekspresi Ariya sedikit rileks. Roroa menyeruput lagi Es Teh Lipton dan membuat wajah yang tampak seolah-olah dia memandang ke kejauhan.

“Meski begitu, seperti yang kuduga, aku paling menyukai Ahyeon, wan.D ia tidak tahu cara bertarung. Tubuhnya lemah. Dia kurang latihan. Seperti itu, dia orang yang sangat mengerikan dalam aktivitas fisik, tapi aku tergila-gila padanya. Meski begitu, karena itulah Kina merasa seolah-olah dia kakaknya dicuri darinya, jadi dia selalu mengatakan kekesalannya······ tapi aku masih merindukan hari-hari itu.”

Aku ingat sesuatu begitu aku melihat matanya yang lembut.

“Apa alasan mengapa Kina geram padaku karena itu?”

“Wan······ anak itu idiot. Dia pikir aku akan berakhir seperti itu lagi.······Jujur saja, akan menjadi kebohongan kalau aku mengatakan aku tidak punya beberapa harapan. Kubilang kau itu mirip dia.”

Gadis Taring Pedang menatapku dengan pupil yang mirip dengan warna bulu coklat beruang teddy.

“Kau benar-benar berbeda dari Ahyeon.”

Hening.

“Pastinya.”

Aku berbicara.

“Bagaimanapun, aku orang yang berbeda.”

“Itu benar, kan? Sudah pasti, tapi ada beberapa orang di dunia ini yang tidak bisa memikirkan pemikiran yang jelas itu, wan.”

Setelah mengatakan itu, Roroa menurunkan dirinya dari kasur.

“Aku akan pergi sekarang, wan. Sudah menjadi selambat ini. Terima kasih atas kerja samamu dan aku mohon maaf karena telah menghabiskan begitu banyak waktumu, wan.”

“Baiklah. Sampai jumpa lagi.”

“Yeap!”

Roroa berputar-putar dan melipat salah satu telinganya sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah seperti berlari.


Aku menyalakan iPad dan mencatat semua informasi yang kudapatkan dari percakapan yang telah terjadi barusn.

Karena aku bisa mengetahui tipe orang seperti apa Roroa, aku memutuskan untuk mendorong informasi mengenai penyerang tersebut ke belakang. Aku mengetik semuanya, memberi prioritas pada hubungan Roroa, Ahyeon, dan Dua Belas Peluru. Ada beberapa hal yang harus kuverifikasi.

“Ariya. Bisakah aku menanyakan beberapa hal?”

“Aku?”

“Yeah. Kalau aku mengajukan pertanyaan yang sulit di jawab, maka kau tidak perlu menjawabnya. Apa ayahmu penjaga?”

“Dia wakil kapten.”

Ariya menurunkan matanya.

“Pemegang gelar Pure Black Fist Knight. Dia juga anggota Penjaga Kerajaan Brown Lion.”

“Penjaga Kerajaan Brown Lion dan bukan Penjaga Kerajaan Silber Lion ······ Ah, sekitar waktu earl sebelumnya?”

“Ya. Namun, dia meninggal dunia sebelum banyak waktu berlalu setelah orang terhormat······ setelah earl saat ini disulik. Ibuku juga menjadi sakit-sakitan sekitar waktu itu. Aku tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan apa yang sedang kulakukan saat itu dan mencari pekerjaan. Untungnya, aku bisa bekerja sebagai pelayan berkat pertimbangan Nona Sophna.”

“Mm ~~ Hei.”

Saat itulah Sii dengan ragu membuka mulutnya. Ariya mengabaikannya dan menatapku.

“Fair Grace. Apa kau punya pertanyaan lagi?”

Aku mendapat persetujuan Sii setelah meliriknya dan mengajukan pertanyaan lain.

“Apa kau bertemu dengan Alshi untuk pertama kalinya saat bekerja sebagai pelayan?”

“·······”

“Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, tapi kau tidak perlu menjawabkalau teralalu menyulitkan.”

“Tidak, tidak terlalu······. Aku hanya bertanya-tanya kenapa kau penasaran dengan hal itu. Kami sudah mengenal satu sama lain sebelumnya, tapi kami tidak menjadi semakin dekat sampai aku mulai bekerja sebagai pelayan. Sebagai senior di atasku, dia banyak membantuku ketika aku mencoba untuk terbiasa dengan pekerjaan di sini sebagai pelayan.”

“Hei, tunggu!”

Sii mengangkat suaranya. Ariya berbalik menghadap Sii dengan mata jengkel.

“Ada apa, Sii?”

“Ah, mm ~~ Kau tahu sejak kita berbicara tentang Alshi. Hal yang kita lihat di video. Bukankah seharusnya kita mengatakan sesuatu tentang hal itu? Kenapa dia dan Alshi saling bergesekan di kamar mandi?”

“Kau, apa kau tidak dengar saat aku menyuruhmu untuk tidak menyeret pacarku ke dalam ini?”

“A-Aku tidak menyeretnya! Hanya saja situasinya ······ “.

“Dan apa yang kau maksud dengan ‘katakan sesuatu’? Bagaimana kau berencana untuk mengatakan sesuatu? ‘Kita menonton video yang diambil dari kamera tersembunyi dan melihatnya’?”

Suara Ariya sedingin udara saat fajar. Wajah Sii juga merah seolah disentuh oleh fajar yang dingin.

“Kita hanya perlu memikirkan bagaimana kita akan bertanya! Hanya saja fakta kita melewatinya tanpa mengatakan satu hal pun······ i-itu bukan sesuatu yang bisa kutanyakan, dan itu topik yang sulit bahkan untuk Yujin berkata sesuatu tentang······.”

“Itu tidak perlu.”

“Tapi······”

“Aku bilang itu tidak dibutuhkan. Selanjutnya, aku mengatakan ini untuk ketiga kalinya sekarang, tapi ini bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”

Ariya mengucapkannya dengan nada kesal tercampur dalam kata-katanya. Sii tidak mundur dan berteriak dengan wajah tegang.

“Yujin! Katakan sesuatu padanya!”

Kau akan memberikan tongkatnya kuntukku dalam waktu ini sambil membuat wajah itu?

Tidak, Sii untukmu······.

“Nona Sii, semuanya akan jadi jelek jika Anda mencoba berada di antara pasangan.”

“Kalau begitu kau harus membuatnya tidak jelek! Yup ~~! Buatlah cepat!”

“Jika oposisi menolak, maka hal itu tidak akan berjalan sesuai rencana.Lagipula······. ” Tidak, ini bukan saat yang tepat. “Bagaimanapun, tidak perlu khawatir dengan ini, Nona Sii.”

“Tapi······.”

“Ya, benar. Nona Sii telah mengalami banyak hal hari ini. Ariya, kau juga. Karena masih ada beberapa waktu tersisa sebelum aku harus memberikan laporan rutinku, beristirahatlah dan nikmati seprai dan selimut baru.”

“Ya, Fair Grace.”

Jawab Ariya. Sii menutup mulutnya dengan wajah tidak senang. Wajahnya mengatakan dia tidak salah dan dia belum mengerti, tapi karena aku telah mengatakan hal ini, dia akan menahannya sebentar.

Dengan kata lain, ekspresinya berarti dia tidak akan bertahan lama, tapi tidak masalah. Kemungkinan besar dia tidak akan benar-benar menyebabkan kejadian dan tidak lama lagi, mulai dari kejadian penyerang, masalah mendesak akan mulai terbungkus. Itulah prediksiku.

Mm, prediksi punya kecenderungan untuk tidak jadi sesuai sasaran.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter