Your and My Asylum Volume 2 Chapter 5 Bahasa Indonesia

Your and My Asylum Volume 2 Chapter 5

Begitu aku kembali ke Korea, hari itu tengah hari.

Meskipun aku telah memutar baris pertama novel tertentu yang telah menerima hadiah Nobel dalam sastra, alasan kenapa aku tidak merasa lebih baik meskipun telah melakukan itu, bukan karena aku merasa bersalah karena telah menggunakan kalimat terkenal untuk itu untuk situasi yang sepele, juga bukan karena fakta bahwa prediksi pesimis, mengenai fakta hampir tidak ada orang di dunia ini yang bisa mengenali ungkapan ini, apalagi orang-orang di dunia lain, telah terlintas dalam pikiranku, dan, seperti diharapkan, bukan karena fakta aku telah menyadari kebenaran ini memang kenyataan dan bukan suatu adegan dari sebuah novel. Hanyasaja, bagaimana aku harus mengatakannya? Sebab, itu cuma canggung saja. Itu karena pakaian yang kukenakan saat ini tidak sesuai dengan ruangan tempatku berada.



Sebuah kamar kecil. Ada 3 monitor yang diletakkan di atas sebuah meja, 3 laptop ditumpuk di atas rak buku, dan di dinding, ada sebuah salib dan patung Bunda Maria tergantung di atas ilustrasi Buddha.

Tidak ada yang lain selain itu.

Tidak lebih dari apa yang aku telah tinggalkan di sini.

Ruang pribadi ini adalah kamarku.

Markasku, selama Perang 8 Tahun.

“······”.

Alih-alih berbaring di tempat tidurku, aku mengganti baterai di teleponku. Aku kemudian meregangkan tubuh dan mencari baju untuk diganti. Setelah mengambil kacamataku, mengeluarkan celana jins, kaos polar, celana dalam, dan kaus kaki, dan memasukkannya ke dalam tas belanjaan, pesan mulai terus berdatangan ke ponselku yang sekarang telah dinyalakan. Ding. Ding. Ding.Ding. Ding.

Aku memakai kacamataku.

Aku mengkonfirmasi pesannya.

〈Nak, apa kamu menginap semalaman?······ Nak, kemana kamu pergi?······ Nak, kenapa kamu tidak menjawab teleponmu?······ Ini guru sekolah kursusmu, tapi kenapa kamu tidak datang ke pelajaran hari ini?······ Hei, bukankah kita punya janji hari ini?······ Ada apa ······ Apa ada sesuatu yang terjadi?······ Apa kau berhenti ngegame?······ Nak, aku sudah memberitahu polisi. Kamu tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, kan?······ Hey, apa yang kau lakukan?······ Hubungi aku.······ Hei.······ Apa kau pergi ke suatu tempat?······ Yujin.······ Ini adalah Ryubin. Hubungi aku.······ Nak.······ Yujin.······ Nan.······ Bro, apa yang udah kau lakuin akhir-akhir ini?······ Nak.······ ······ Nak, domba yang malang. Aku tidak tahu apa cobaan yang kamu alami, tapi pastikan untuk berdoa. Tuhan hanya menganugerahkan kita ujian yang selalu bisa kita lalui. 〉

Aku mematikan telepon itu dan mengeluarkan telepon lain yang telah kujadikan sebagai nomor telepon tersendiri. Ada tiga pesan yang sampai. Mereka berasal dari kakak sepupuku, Eun Minseon, dan Saei.

Mengatur.

Pertama, seperti yang diharapkan, segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan kacamataku. Akan sangat menyenangkan jika aku memiliki ini saat aku sedang belajar membaca bahasa dunia lain. Aku mencoba meminjam kacamata Yudia, tapi kacamata itu, tidak, kacamata di dunia itu sendiri sedikit tak pasti. Jujur saja, karena agak ambigu untuk menyebut kacamata itu, mungkin akan ada hari dimana aku bisa menjelaskannya.

Kedua, meskipun aku telah menghabiskan waktu lama di dunia lain, secara mengejutkan, ternyata bahkan tidak sedikit waktupun terlewati di Bumi······ Hal seperti ini tidak mungkin. Waktu yang kuhabiskan di dunia lain adalah 5 hari di ruang bawah tanah dan 15 hari di atas tanah, jadi total 20 hari. 26 X 20 sama dengan 520 jam. Jika aku membaginya dengan 24 jam, maka itu akan membuatnya menjadi 21,6 hari. Ingatan terakhir yang kumiliki di Bumi adalah pada malam ke-10 Januari, dan melihat hari sudah siang pada hari pertama bulan Februari sekarang······ kira-kira aku dipanggil di tengah malam, maka seharusnya tidak masalah untuk mengatakan bahwa arus waktu belum terasingkan. Apalagi, seperti yang Zia katakan kepadaku, nampaknya kecepatan rotasi planet dunia itu 26 jam setiap kali roasi kayaknya benar.

Ketiga, aku absen selama 21,6 hari. Di antara panggilan tak terjawab, SMS, Kakaotalk, Tictalk, Line, mention di Twitter, pesan langsung, dan sebagainya, yang berjumlah 1278 pesan tidak terjawab, hanya ada sekitar 10 pesan yang penting. Jumlah hal yang harus kuurus adalah sekitaran itu juga. Pesan yang tersisa ——— menyikapi 421 pesan yang dikirim oleh bibiku ——— semua urusan biasa. Jika kau melihatnya seperti ini, maka aku merasa seolah-olah aku telah menjadi cukup bebas akhir-akhir ini.

Bagaimanapun, aku mengumpulkan kekuatan sekali lagi.

1 Februari, Minggu, siang hari.

Pengabdian bibiku yang setia seharusnya pergi ke gereja dan pamanku yang sedang malas pergi ke gereja seharusnya pergi memancing. Miyeong seharusnya pergi ke suatu tempat untuk bermain juga. Berkat itu, akan sangat mungkin bagiku untuk sepuasnya menggunakan internet selama beberapa jam sekaligus saat berada di dalam rumah kosong pada hari Minggu, namun aku hanya memiliki waktu sisa 26 jam saat ini. Karena itu Earl Silver Lion, aku harus mempertimbangkan fakta bahwa itu mungkin bisa ditambah-dikurang 4 jam. JJika seperti itu,maka aku tak punya waktu seharian penuh.

Selama aku tidak tahu kapan aku selanjutnya kembali, aku harus menggunakan waktu ini secara efisien.

Reunian dengan keluargaku dibelakangkan sedikit, aku harus mengurus hal-hal yang lebih mendesak⎯⎯⎯.

“Siapa di sana, kau pencuri!!”

Bang, teriakan bergema saat pintu terbuka. Begitu aku melangkah mundur, Clang! kilatan menerpa lantai. Menambahkan penyataan berlebihan, itu cukup kuat untuk mengguncang seluruh rumah, dan bahkan saat melepaskan pernyataan berlebihan itu, itu adalah serangan yang cukup kuat untuk melekukkan lantai. Sinar matahari yang terbenam di titik pendaratan menunjukkan garis besar kusam dan melingkar.

Itu adalah bat aluminium.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap mata Miyeong yang berada dalam posisi yang jelas menunjukkan bahwa dia telah memasukkan segala kekuatannya ke dalam ayunan itu.

“······.”

“······.”

Yah, tak ada yang lain selain Miyeong.

“······Apa, jadi itu kau?”

Miyeong mendecakkan lidahnya dan berbalik. Wajahnya sedikit merah. Ini juga sangat mirip Miyeong.

“Bener, fakta kau telah menuduh orang menjadi pencuri bahkan sebelum bertanya kepada mereka, pergi mendapatkan sesuatu yang digunakan untuk melumpuhkan apa yang disebut pencuri, dan sudah mengayunkan benda yang kau bawa, namun kau tetap berteriak ‘siapa disana’. Lagipula, bagi seseorang yang hampir membunuh seseorang sekarang, fakta bahwa kau lebih malu dengan kesalahpahamanmu sendiri daripada usaha pembunuhanmu sendiri juga sangat mirip dengan Miyeong.”

“Apa yang kamu gumamkan sendirian? Aku akan membunuhmu.”

Kata-kata itu juga cukup mirip Miyeong.

“Maaf.”

Aku memberinya respons sepertiku dan menyesuaikan kacamataku. Setelah itu, Miyeong dan aku mengalami masa yang biasa kami alami, berada dalam keheningan yang canggung.

Seperti biasa, Miyeong adalah orang yang bisa menghentikan kesunyian.

“Apa-apaan pakaian itu?”

“Sekarang kau bertanya?”

“AKau berada yang berada dalam keadaan aneh adalah kejadian sehari-hati. Tapi keadaanmu saat ini, bahkan jika kupertimbangkan fakta itu, hobi dorongangnnya terlalu banyak. Apa kau akhirnya menjadi gay?”

Saat ini aku masih mengenakan seragam pelayan milik Sii. Aku telah melakukan tes sementara di pakaian ini juga. Aku harus memastikan bahwa aku membawa pakaianku bersamaku saat aku kembali.

Bagaimanapun.

“Buang prasangka gay-mu itu.”

“Apa kau menceramahiku? Aku akan membunuhmu.”

Jika itu adalah yang taat seperti itu, maka akan masuk akal dia memiliki rasa jijik pada prasangka gay.

“Aku berencana untuk mengganti pakaian. AKu bakalan bisa melakukannya kalau kau pergi.”

“Bajingan. Kau bicara seolah ini rumahmu.”

“Kalau begitu aku akan ganti pakaian seperti ini.”

“Aku akan membunuhmu. Ah, hei. Kubilang aku akan membunuhmu. H-Hei! Maukah kau berhenti!? ——— ya ampun! Hei!”

Aku berhenti. Miyeong berwajah merah, yang sedang mencari tempat untuk meletakkan matanya, menggaruk bagian belakang kepalanya sebelum menghela napas panjang. Dia kemudian, alih-alih pergi, duduk di atas tempat tidurku dan menyilangkan kakinya.

Keheningan canggung lainnya.

“Kemana kau pergi?”

1. Biasanya, orang akan bertanya itu terlebih dahulu.

2. Apa kau khawatir?

3. Dunia lain.
4.
Terlepas dari pilihan apa yang kupilih, aku mungkin akan diberi tahu bahwa aku akan dibunuh. AKu dipanggil ke dunia lain dan hampir disiksa sampai mati, dan setelah kembali dari dunia lain itu, aku disalah kirakan sebagai seorang pencuri dan hampir dibunuh dengan bat aluminium. Aku juga menerima banyak ancaman pembunuhan. Meskipun itu adalah kehidupan yang sesuai denganku, itu sudah cukup untuk hari ini.

“Ada tempat yang harus kukunjungi.”

“Ah? Karena itulah aku bertanya di mana.”

“Sulit untuk mengatakannya.”

“Begitukah?”

Baik Miyeong dan aku sempat mendorong kacamata kami.

Miyeong mendecakkan lidahnya dan berbicara.

“Jadi kau kembali, kan?”

Aku menggelengkan kepala. Ekspresi Miyeong menjadi garang.

“Kalau begitu kau akan pergi lagi?”

“Ya. Aku cuma mampir sebentar. “

“Bagaimana dengan sekolah? Liburan musim dingin berakhir lusa, lho?”

“Aku akan mengatasinya sendiri.” Seperti yang kupikir, aku harus bertemu Saei. Kakak sepupuku juga. “Jangan khawatirkan itu.”

“Siapa bilang aku khawatir denganmu? Hei. aku merasa seperti aku akan mati karena ibu. Setiap kali kami makan, makanan kami menjadi dingin karena ibu terus mengatakan bahwa kami harus berdoa untukmu. Bagaimana kau akan bertanggung jawab untuk itu? Huh?”

“Beli sesuatu untuk dimakan. Ini, uang. “

“Apa yang harus kubeli dengan uang sebanyak ini? Beri aku lebih banyak. “

Aku memberinya lagi. Miyeong mengipasi dirinya dengan uang sesaat sebelum memasukkannya ke sakunya.

“Kapan kamu akan pergi?”

“Mungkin sekitar jam 2 siang besok. Apakah kau ingin makan bersama sebelum pergi?”

“Kau pikir aku gila?”

Apa perlu membenci ide itu meskipun sepupu yang tinggal di bawah atap yang sama sepertimu telah kembali setelah hilang selama 21 hari? Yah, itu bisa diharapkan saat di antara pesan yang tidak terjawab di teleponku, tak ada satupun yang dikirim oleh gadis ini. Hubunganku dengan Miyeong seperti itu.

“Oh, benar, rahasiakan ini dari orangtuamu aku ada di sini.”

“Kenapa?”

“Karena aku tak punya waktu. Jika aku tertangkap bibi, maka seharian penuh mungkin akan berlalu untuk menjelaskan keadaanku kepadanya.”

“Itu bukan ‘kenapa’ untukmu, tapi ‘kenapa aku harus melakukannya?’.”

“Karena aku memberimu uang.”

“Kau benar-benar lucu. Apa menurutmu kau bisa melakukan apapun jika punya uang?”

“Apa kau mau lagi?”

“Kubilang apa menurutmu kau bisa melakukan apa saja jika punya uang?”

“Apakah ini cukup banyak?”

“Yup, uang, itu dia.”

“Kau juga bisa menggunakan komputer.”

Miyeong, yang mengabaikanku, membuat pose kemenangan dengan tinjunya mengepal erat.

Begitu aku menatap lurus ke arahnya, dia menurunkan tinjunya dengan wajah malu.

“······Beri aku akun Steam-mu juga.”

“Tentu. Biar ku-backup dulu. “

“Vepat.”

Karena aku telah menyebutkannya, kuputuskan untuk melakukan itu terlebih dahulu. AKu mem-backup dataku dengan membagikannya ke 3 laptop. Kemudian aku meletakkan password di salah satu laptop dan meletakkannya di rak buku. Aku mengemasi 2 laptop yang tersisa. Aku juga mengemasi router nirkabel.

Seperti itu, sementara aku mengurus semua hal yang harus kulakukan di rumah dan mengemasi barang-barang yang akan kubawa, Miyeong telah masuk ke Steam dengan komputerku dan memainkan Crusader King 2. Aku selesai dengan slesai yang telah kutinggalkan di sini dan berbicara ke arah punggung Miyeong.

“Aku pergi.”

“Kay ~”

Miyeong menjawab tanpa berbalik.

······.

“Hei, Miyeong.”

“Apa?”

“Kalau kau duduk dan bermain game kelamaan, maka kau akan gemuk.”

Aku menghindari botol lotion yang dilemparkan ke arahku dan kabur ke luar.


Setelah meninggalkan seragam pelayan pada binatu, aku mengurus beberapa hal penting karena aku sudah berada di pusat kota. Aku bertemu dengan orang-orang yang dibutuhkan——— termasuk Saei⎯⎯⎯ dan meminta maaf karena tiba-tiba kehilangan kontak dengan mereka. Aku menjelaskan situasiku sambil mencampuradukkan beberapa kebohongan. Direksi Surat Kabar. Setelah aku selesai, sudah sekitar jam 6 sore.

Aku pergi belanja. Pertama aku membeli pakaian, buku setelah itu, dan kemudian aku berkeliaran di sekitar toko elektronik di Samwon. Sehubungan dengan barang elektronik, akan lebih baik jika aku pergi ke Yongsan untuk mendapatkan kepastian, tapi karena pergi jauh akan membuang waktu, aku memutuskan untukpergi ketempat yang dekat. Namun, mungkin sebaiknya aku pergi ke Yongsan. Meskipun aku bisa memperoleh semua yang kuinginkan, berkenaan dkeinginanku menghemat wakti, akhirnya aku benar-benar menderita kerugian. 9 malam.

Aku jadi lapar, jadi aku memutuskan untuk makan. Menunya Kimbap Heaven. 10 malam.

Mm.

Meskipun aku percaya bahwa aku telah bergerak agak jauh, aliran waktu seperti panah yang ditembakkan. Aku bertanya-tanya apakah ini yang dirasakan orang militer saat mereka berlibur.

Aku mengambil pakaianku dari binatu dan menonton film. 12:30 pagi.

Aku pergi ke pemandian, mandi, menggosok kulit mati dari tubuhku, lalu tidur. Aku bangun pukul 5 pagi.

Aku mandi sekali lagi dan setelah membuat tubuh dan pikiranku rapi dan teratur, aku pergi ke rumah sakit. Dewiku, cintaku

Minhee-ku.

Saat itu pukul 07.00 ketika aku meninggalkan rumah sakit.

Aku sudah makan. Menu di tempat ayam 24 jam. Setelah aku selesai makan, aku membeli 5 kotak lag. 8 pagi.

Kuperkirakan sisa sekitar 6 jam lagi. Jika kutambah-kurang 4 jam, maka tinggal 2 jam atau 10 jam lagi. Supaya aman, aku memutuskan untuk bertindak seolah-olah cuma memiliki waktu 2 jam tersisa. Aku merasa lega aku telah menyelesaikan belanjaku untuk hal-hal yang mendesak kemarin.

Aku pergi ke sebuah kafe manga bawah tanah 24 jam. Sebuah kafe manga yang hendakbangkrut. Setelah tawar menawar dengan pemilik kafe, aku pergi berbelanja sambil memprioritaskan manga yang tidak ada di perpustakaan Kastil Silver Lion dan saat ini tidak dicetak lagi namun masih dianggap sebagai karya besar. Manga yang bisa dinikmati Sii. BL yang bisa dibaca Zia. Sementara aku mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan BL, aku memutuskan untuk masuk ke XMC dan membeli sekumpulan e-book berating M. Meskipun XMC kekurangan materi dan kuno, alasan aku menggunakan XMC adalah satu dari sedikit hal yang tidak memerlukan verifikasi internet. Demikian pula, aku juga membeli beberapa game yang mungkin dimainkan Yudia. Aku juga membeli beberapa paket ramen dan menumpuknya. Sementara aku melakukannya, aku mengkonfigurasi pengaturan pada router nirkabel.

Saat itu sekitar saat itu.

Seseorang, duduk di kursi di belakangku.

Karena formasi tempat duduk di sini adalah dua sofa yang ditempatkan saling berlawanan, orang lain dan aku berada dalam keadaan di mana kami berhadapan punggung dengan sandaran sofa yang ditempatkan di antara kami.

Ada dua alasan mengapa aku merasa bahwa keputusan orang ini untuk duduk di sana istimewa. Pertama, fakta bahwa di dalam kafe manga yang benar-benar kosong, orang ini telah berusaha keras untuk duduk tepat di belakangku. Kedua, fakta aku tidak melihat orang ini masuk melalui pintu masuk.

Mereka juga tidak berada di kafe. Sebelum aku turun ke sini, satu-satunya orang yang ada di kafe ini adalah pemiliknya. Orang ini duduk di belakangku seolah-olah mereka telah menyembul entah dari mana.

Tentu saja, ini adalah Bumi modern.

Hal fantastis seperti itu tidak ada di sini.

“Aku ingat pernah bercerita sekitar 6 kali untuk menggunakan pintu masuk secara normal.”

Aku berbicara. Orang di belakangku, yang jelas-jelas menggunakan pintu kebakaran untuk memasuki kafe manga, berbicara dengan suara rendah.

“Kemana kau pergi?”

Mereka tidak menanggapi kata-kataku.

Yah, orang ini selalu seseorang yang tidak mendengarkan jika kau berbicara.

“Aku tidak merasa perlu memberi tahumu.”

“Haruskah kubuat kau merasa perlu memberitahunya?”

“Bagaimana?”

“Adik sepupumu, SMA Samwon, tingkat 2, kelas 3, nomor absen 39.”

·······

“Dan adik sepupumu saat ini berada di SMP Samwon, tingkat 2, kelas 5, nomor absen 16.”
(TLN : Yujin yang mengatakannya)

“Menggunakan keluargaku sebagai sandra, pengecutnya.”

“Dari mulut mana kau mengatakan hal itu?”

“Mulut mana? Cabulnya. “

Aku mengabaikan mereka.

Orang di belakangku sepertinya berusaha memutuskan topik pembicaraan. Lalu, “Bagaimana keadaaanmu?”

“Bagaimana apanya?”

“Apa kau pengungsi atau semacamnya? Apaan semua barang yang kau bawa? Kau bahkan punya tali yang menempel di pinggangmu. Meskipun tidak akan ada yang akan mencuri barangmu. “

“Karena dibutuhkun.”

“Bagaimanapun, kau nggak normal.”

Aku mengabaikan mereka.

Orang di belakangku berbicara.

“Nona kami belum dalam keadaan normal.”

“Begitu?”

“Nona kami adalah orang yang seharusnya menjadi raja. Kaulah yang mematahkan individu semacam itu. Kalau kau masih memiliki rasa kemanusiaan yang tersisa di dalam dirimu, maka setidaknya kau berkunjung sekali saja harusnya jadi hal biasa”

“King, kah?”

Raja, huh.

“Jadi menurutmu, raja adalah orang yang membully orang lain, membungkam orang, mengarang bukti untuk melemparkan orang ke penjara pusat pelanggaran remaja, dan mengubah seseorang menjadi sayuran, huh?”

“Itu karena masa muda. Agar kau tidak dapat memaafkan setidaknya sebanyak itu, itu karena karakter terbelakang, biadab, dan biadab yang membuat orang karismatik rusak seperti tidak lahir di negara ini. Gadis Minhee itu juga hanya———. “

“Anjing Chanmi. Kau bebas untuk mengatakan apapun yang kau mau, tapi kalau kau dengan entengnya membicarakan Minhee, maka.”

Keheningan panjang.

“Raja mereka.”

Orang yang duduk di belakangku melanjutkan.

“Ada orang———yang tidak bisa memilih rajanya.”

“Itu masalahmu.”

“Itu benar, tapi karenamu, jalan kami ke depan juga telah terblokir. Setidaknya biarkan kami mengeluh.”

“Tak masalah selama kau tidak membicarakan Minhee. Keluhan selain hal itu tidak masalah.”

Keheningan lain.

“······Aku telah mengatakannya sebelumnya, tapi masalah yang menyangkut Minhee tidak dilakukan oleh Nona kita.”

“Tentu.”

“Itu sebabnya bukan kami juga.”

“Tentu.”

“Kau tidak percaya aku, kan?”

“Tentu.”

“Aku pergi.”

Aku bisa mendengar orang di belakangku berdiri. Langkah, langkah, suara sesuatu yang dilemparkan ke meja counter bisa terdengar sebelum aku mendengar pintu masuk terbuka dan suara langkah kaki keluar melalui pintu. Mereka masuk melalui bagian belakang dan pergi melalui bagian depan. Itu adalah perilaku yang sesuai dengan orang itu.

Ini negaraku, Korea, yang mana aku telah kembali untuk pertama kalinya dalam 21 hari, namun, semua orang hanya melakukan hal-hal yang mereka mau dan aku hanya melakukan hal-hal yang aku mau.

Meskipun aku telah kembali dari lingkungan yang tak normal, sesuatu seperti tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hariku tidaklah terjadi. Bahkan aku ingin mengalami klise umum semacam itu.

Yah, bahkan kau bisa menyebutnya itu keseharianku.

······.

“Ada orang yang tidak bisa memilih rajanya, kah?”

“Ah hah ha ha, apa yang tiba-tiba kau katakan?”

“Tidak banyak.”

Aku mengangkat bahu. Kehidupan sehari-hari yang sepertiku telah berakhir, dan aku telah kembali ke kehidupan sehari-hari yang tidak normal.


“Aku mencium sesuatu yang enak.”

Kepada Earl Silver Lion yang telah mengucapkan itu, aku melempar sekotak ayam. Earl Silver LIon, melompat dan menangkapnya, berguling-guling di lantai dengan ayam yang dipegangnya erat-erat di pelukannya.

“Ayam! Ayam! Ayam Kyochon! Ah hah hah ha, yup~ BagusBagus! Ini sudah lama sekali. Kau berhasil, Tn. Yujin! Ah hah hah ha ha! ”
(TLN: Kyochon Chicken adalah nama tempat jualan)

“Itu agak dingin.”

“Untuk membedakan antara emas dan lapisan mengkilap, Kau harus menggigitnya terlebih dahulu agar bisa menemukannya. Begitu pula jika ayam ingin dibuktikan nilai sebenarnya, maka harus didinginkan terlebih dahulu.”

“Itu adalah kiasan yang masuk akal.”

Aku melepaskan tali yang menempel di pinggangku. Aku kemudian membuka tas belanja yang terhubung ke tali sekaligus, mengeluarkan ayam dan ramen terlebih dahulu sebelum menempatkannya di atas meja.

Aku menunjuk ke arah Yudia Batsand dan Zia Batsand.

“Makanlah.”

Yudia, yang melihat ke bawah ayam dengan tatapan penuh dengan keingintahuan (= Seolah-olah dia melihat seorang anak yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan), adalah orang pertama yang mendekati dan membuka sebuah kotak. Sementara dia berusaha keras untuk melakukan kontak dengan budaya dunia laina yang dikenal sebagai ayam, aku mulai mengeluarkan laptop dan hal-hal lain yang telah kubeli.

Earl Silver Lion, yang berjemur dengan senang dengan pangkal paha di mulutnya, menunjukkan ketertarikannya.

“Hm? Apa itu?”

Kepada Earl Silver Lion yang telah memintanya, aku melempar Primary Star Andromeda Tab. Earl Silver Lion, yang telah melompat dan menangkapnya, menatapnya dengan mata berkilauan.

“Hueh? Huah, nya hah ha ha ha. Hueh~ Apa ini. Ini terlihat menarik.”

“Ilmu Pengetahuan sangatlah kuat, lagian.”

“Yaaaaa. Ah hah ha ha ha. Mm. Tapi Tn. Yujin. Bukankah ini banyak mengkonsumsi listrik? Laptop dan komputer yang ditinggalkan Ahyeon, sebenarnya kami masih memilikinya. Tapi baterai mereka padam.

Seperti yang diharapkan ——— mereka memang memilikinya.

Meskipun aku telah mendengar beberapa informasi bagus, aku tidak membiarkan hal itu muncul di wajahku.

Benda-benada yang kubawa, Aku meletakaan barang-barang yang kubeli saat berkeliaran di sekitar toko elektronik ke atas meja. Laptop, komputer tablet, iPhone, iPad, router, dan, “Pengisi daya solar.” Aku mengetuk panel dengan jariku. “Ini 50 watt.”

Earl Silver Lion membuka matanya lebar-lebar.

Saat menghubungkannya ke router dan menyalakannya, aku melanjutkan.

“Sinar matahari di sini, dibandingkan dengan Bumi atau paling tidak, karena nampaknya lebih kuat dari sinar matahari di Korea. Jika kau meletakkannya di puncak menara selama hari yang cerah, maka harusnya terisi penuh dalam beberapa jam.”

Sebuah senyum muncul di mata Earl Silver Lion. Senyuman itu lebih mirip kambing daripada kucing dan lebih amfibi daripada mamalia.

“Hmm, apa itu tak mahal?”

“Jika menyangkut biaya yang diperlukan, aku tipe orang yang tidak akan menghemat uangnya.”

“Aku mengerti. Ah hah ha, kau sama denganku dalam hal itu. “

Tidak, Kau cuma orang boros dan tidak merencanakan hal ke depanBegitu aku melihat tangannya, jari kelingking dan jarinya di tangan kirinya, jari manis dan kelingkingnya bercatkan warna hitam. Jika itu yang terjadi, maka itu berarti dia memanggilku sekarang adalah penggunaan kedua. Aku tidak yakin apa yang dia panggil sebelumnya, tapi baginya untuk menggunakan panggilannya seperti ini meskipun baru awal bulan ini.

Pensiun dan pembatasan.

Mengingat permainan yang tidak lucu itu, aku menoleh ke arah penghasut utama.

“Zia?”

“Hm?”

“Kenapa kau nggak makan?”

“······Ah, mm.”

Berbeda dengan gurunya yang sedang makan ayam seolah-olah sedang mengunyah hati musuhnya, Zia, yang telah berdiri canggung sepanjang waktu, berdeham. Namun, dia tetap tidak mendekati dan mengambil sepotong ayam atau menunjukkan ketertarikannya pada hal-hal seperti laptop. Mungkin.

“Kau nggak suka ayam?”

“Tidak mungkin begitu, Yujin. Bagaimana kubilang itu padamu?”

Seperti yang kupikir, bukan itu. Ada kemungkinan bahwa ayam merupakan satu-satunya warisan budaya yang negaraku, yang telah diperlakukan dengan buruk oleh orang-orang dari dunia lain, dapat dikemukakan dengan percaya diri.

“Kalau begitu, itu berarti alih-alih kelaparan fisik, kelaparan mentalmu menjadi prioritas. Meskipun itu tidak masalah karena aku cukup memenuhi kedua keinginanmu. Ini.”

Aku mengeluarkan buku BL.

Begitu aku melakukannya, Zia dengan seketika membuang keraguannya dan menukik ke buku-buku BL seperti layaknya pria berambut bernafsu mendekati seorang gadis SMA telanjang di salah satu doujinshi erotis ——— susuatu seperti ini tidak terjadi.

Seperti yang dia lakukan sesaat yang lalu.

Dia hanya menatapku ragu-ragu.

Mm.

Itu berarti ada masalah.

“Zia. Ayo temui aku sebentar.”

Aku menunjuk ke arahnya dan menuju ke luar kantor. Earl Silver Lion mengangkat alis.

“Huu~? Kemana kau pergi? Rencana liburan sebelum pergi berlibur dan menulis laporan liburan begitu kau kembali. Sesuatu seperti itu, bukankah itu budaya fundamental pria Korea? “

“Aku masih terlalu muda untuk tahu tentang itu.”

Aku menanggapinya begitu dan meninggalkan kantor. Earl Silver Lion membuat suara ‘hmm’ dengan hidungnya, tapi memang begitu. Dia tidak mencegahku melangkah keluar.

Begitu aku berada di lorong, Zia segera keluar.

Tanpa basa-basi, aku bertanya.

“Apa ada yang terjadi?”

“······Uu.”

Zia menurunkan tatapannya.

······.

“Katakan padaku.”

Zia terus goyah.

Aku.

“Aku sudah bilang untuk bicara, pedangku.”

“⎯⎯⎯Yujin!”

Secara tak teratur⎯⎯⎯ cukup tak disangka hinggak kau tidak bisa mengatakan apapun selain itu, Zia memanggilku.

Begitu aku mendorong kacamataku, Zia Batsand menundukkan kepalanya dan melanjutkan.

“Kau berjanji di ruang bawah tanah, ‘kan? Bahwa kau akan menjagaPaduka. Kau akan bertanggung jawab. Ketika aku mendengar kata-kata itu, tahukah aku rasa di dadaku, Yujin, Yujin⎯⎯⎯ Paduka adalah orang baik. Dia adalah orang yang baik. Sedikit, sangat sedikit, sedikit, hanya, sedikit, itu keluar dari batas. Paduka, itu.”

Beberapa waktu yang lalu, ketika aku masih di Korea, Zia mengatakan hal-hal yang sangat berbeda dengan apa yang orang yang duduk di belakangku telah katakan. Zia menggigit bibir bawahnya.

“Kumohon, Yujin.”

Dia menunduk sekali lagi.

“Paduka Earl, jangan membencinya.”

Zia.

“Paduka Earl, jangan menyerah padanya.”

Zia Batsand, berbicara seperti itu.

Aku.

“Minhee.”

“Mm?”

Bukan?

Bukan itu. bukan. Ahh, tidak.

Jika itu yang terjadi.

“Miyeong.”

Respons yang membingungkan terus kembali.

Jika itu yang terjadi. Tidak——— aku telah menyadarinya di sini, tapi orang Korea lainnya tidak ada artinya. Benar, fakta bahwa Zia menunjukkan respons seperti ini.

Karena Zia sendiri juga terluka.

“Sii.”

Ada campur aduk.

Mata Zia, yang gemetar, itu terlalu gemetar.

“Sii Garno Mikatni.”

Zia mengerang dan menjatuhkan tatapannya.

Diam.

Aku berbalik.

Aku berjalan.

Aku mulai berlari setelah langkah keduaku.

Aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang. Aku mengabaikannya.

Saat itu malam. Aku berlari melewati lorong malam. Berkat lilin, bidang penglihatanku tidak terhalang. Setiap kali aku lewat, lilin goyah, dan kegelapan yang telah memenuhi lorong bergoyang seperti rumput laut yang melambai di laut malam. Bagian depanku menjadi terdistorsi. Kastil tengah malam bergantian dari terang ke gelap. Kadang-kadang, setiap kali aku melewati bagian jendela yang tidak ditutupi tirai, sesuatu yang mirip dengan batu loncatan mengalir ke tanah karena sinar bulan. Aku mengabaikan mereka. Aku berlari. Aku hanya berlari.

Lalu aku berdiri di depan kamar Sii.

Aku membuka pintu.

Suara pintu terbuka bergema dan sebuah decitan segera setelahnya. Kegelapan, kegelapan, kegelapan, di ruangan yang dipenuhi kegelapan, seorang gadis berkulit putih jernih, melipat diri dalam selimut yang melilit tubuhnya. Menuju gadis yang sangat gemetaran hingga begitu menyedihkan, aku.

Kupikir dia kecil.

Dia selalu memiliki bingkai kecil. Namun, keadaannya saat ini lebih kecil dari itu. Awalnya, kupikir itu terjadi karena dia meringkuk. Tapi dia sangat kecil sehingga tidak cukup untuk menjelaskannya. Kecil.

Tepatnya, dia dibuat kecil.

“S-Sii.”

“Ah······.”

Sii bergidik sambil meringkuk.

“Yu······jin.”

Sii menatapku sambil mengangkat kepalanya.

“Yup~~······ ehehe.”

Sii tersenyum seolah lega.

“Kau kembali······ yup, aku menunggu······ menunggu dalam waktu waktu yang lama······ ehehe······ yup······ Yujin”

Sii menyeka sudut matanya.

“Duduk, Yujin······ Mm~~! Ada apa dengan wajah itu? Kampung halaman, kau tidak melakukan perjalanan ke sana? Karena aku, ingin mendengar cerita tentang kampung halaman Yujin······ Ah, apakah kau mungkin membelikanku hadiah? Yujin······ mm, Yujin······. “

Sii memanggil namaku

“Aku······ dijebak.”

Ehehe, dia tertawa.

Sii tersenyum canggung sekali lagi.




Lengan kanan Sii, hilang.

Tepat dari di atas siku, meninggalkan penampang yang bersih, lengannya terputus.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter