Your and My Asylum Volume 1 chapter 4 Bahasa Indonesia

‘Sang Putri Kematian’, Cha Minhee adalah gadis yang sangat cocok dijuluki ‘SIswa Pindahan Menyala-Nyala’. ‘Ey, Apaan ini?’, ia membuat gangguan saat hari pertama ia dipindahkan di sini. ‘Ah, Aku pengen hisup tenang, tapi siapapun boss kelas ini, sinilah, Kalian gerombolan tolol idiot.’. Alasanya adalah aku. ‘Bajingan-bajingan ini. Apa lu nggak bisa ngelakuin hal yang lebih baik? Duduk-duduk dan ngebully anak menyedihkan. Aku akan perbaiki kepla busuk kalian, bersiaplah, ngerti!?’, sebelum waktu makan siang berakhir di hari pertamanya di sisni, ia telah meanklukan seluruh kelas kami. ‘Bahkan nggank gigit, kalian cuma pandai meenggerakkan bibir kalian.’. Pemandangan saat ia mengotori tangannya sementara mendapati sekumpulan anak-anak berjatuhan sebagai latar belakangnya, AKu mengingat pemandangan itu benar-benar cantik.



‘Dan siapa kau?’

Minhee kecewa denganku juga. ‘Kau jadi orang dewasa muda, tapi apa kau tidak punya tempramen? Persetan lu seperti sesuatu kayak gitu karna seseorang menyuruhmu megitu? Kau gila?’. AKu tidak ingat bagiamana kau membalasnya. Tidak ada yang perlu dikatakan, Aku mukin mengatakan sesuatu yang menyedihkan yang bahkan tidak perlu dijelaskan karena Minhee menatapku dengan ekspresi di wajahnya yang menunjukkan seolah-olah ia melihat ke arah seseorang yang menyedihkan. Dan begitulah, pada hari itu, tidak, mulai saat Minhee di situ, seolah-olah keberadaanku tidak ada-satu satunya hal yang aku ingat hanyalah Minhee, rupa Minhee, dan suara Minhee.

‘Aku, aku bakalan membelikanmu sesuatu yang enak.’

Kata-kata itulah yang Minhee katakan.

‘Berhentilah citu. Apa kau berbuat kejahatan atau apalah? Apa itu salah?’

Aroma Minhee.

‘Ahahaha! Apa kau selalu tertarik dengan ini? Aku benar-benar nggak tau.’

Kenangan yang dibuat bersama Minhee.

‘Gue berani taruhan kalian nyoba lakuin hal sama lagi. Teman harusnya bergaul, benar? Kalian berandalan.’

Meskipun saat ituChanmi berada di kelas yang berbeda, tak mungkin ia akan tinggal diam setelah mendengar kabar ini dari orang lain. Sebuah serangan balik, menggunakan orang-orang. Akan tetapi, Cha Minhee benar-benar terlalu kuat untuk sesuatu yang seperti itu bisa berhasil. ‘Apa kalian main-main ama gue, hah? Datang sini. Gue bakal ngurusin kalian semua dengan sekejap.’. Satu-satu hal yang masih tersisa di sisi jalan adalah orang-orang yang tergeletak.

‘Apa lu bosnya?’

Minhee tidaklah lambat dalam mengerti situasinya. Tidaklah terlalu lama sebelum ia berdiri di depan boss terakhir, Chanmi.

‘Untuk orang dengan wajah lembut begitu. Lu cukup jahat, ya?’

Aku ingan wajah Chanmi saat itu, juga. Wajah yang mana aku tidak pernah sangka akan ia buat. Minhee menyerang wajah Chanmi dengan cukup kuat untuk membuat suara tamparan kuat.

‘TUrunkan matamu, kau hama.’

Chanmi tidaklah patuh. Malah sebaliknya, ia menyerang pipi Minhee sebagai balasan. Plak! Minhee membalas lagi. Plak! Pada akhirnya, karena serangan yang diberikan Chanmi, yang menggertakkan gigi, pertarungan sesungguhnya telah dimulai. ‘Oh jadi kau tahu bagaimana melakukan ini, huh? Oke, sinilah.’. Itu, seperti Ragnarok yang mampu menghancurkan seluruh kelas kami menjadi abu, secara harfiah perang antar Dewa. Kalau ada orang yang berkemampuan seni bela diri hadir pada saat itu, maka mereka pasti tahu teknik apa saja yang dihunakan Chanmi, dan apa yang Minhee lakukan untuk menyerang balik, tapi sayangnya, pada saat itu aku tidak punya pengetahuan semacam itu. Dari tinju ke judu, ke capoeira, ke taekkyeon, dan menjadi perkelahian acak yang ceroboh, aku bisa katakan bahwa paertarungannya muncul layaknya sebuah kemewahan, pertarungan tanpa aturan, kejuaraan seni bela diri yang dicampur-campur.
(TLN : Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Taekkyeon adalah sebuah seni bela diri tradisional yang berasal dari Korea. Taekkyeon yang mempunyai gerakan seperti orang menari dianggap sebagai cikal bakal beladiri taekwondo moderen serta merupakan salah satu olahraga yang tertua di Korea. )

‘Bahkan nggak ngelawan.’

Dan pertarungannya, berakhir dengan kemenangan Minhee. Bertentangan dari yang ia katakan, Minhee juga terluka di seluruh tubuhnya. Terlepas dari hal itu, kemenangan adalah kemenangan.

Sekolah berubah.

Dia adalah putri terpandang konglomerat Joo Group, gadis jenius, gadis yang disommbongkan sebagai yang paling elegan, paling cantik, paling cerdas, dan paling kuat oleh sekolah. Anak itu, dikalahkan, menjadi bubur. Ia dikalahkan oleh siswa pindahan penunggak yang datang dari pedalaman.

Uang mulai bergerak. Hasil pertarungan diedit, ditolak, dikecilkan, dan dibesar-besarkan. Uang, uang, uang bergerak dari sana sini. Sebuah rencana yang dirancang oleh sosok yang punya wewenang kuat. Polisi akhirnya dipanggil. Jebakan amat rumit dan menyeluruh, mengatakan bahwa dia harus pergi ke penjara remaja bukannya ke Pusat Penahanan Pemuda.

Aku tidak bisa melihatnya pergi.

Pertama dan terpenting, aku tidak bisa membiarkan Minhee, Dewiku, gadis yang rambutnya berkibar layaknya api saat dihembus angin, pergi. Itu tidaklah mungkin.

Aku bergerak. Aku, yang tidak melakukan apapun selain dipukuli selama empat tahunn berturut-turut dan dihina, berherak. Bukan untuk diriku, tapi dalam tujuan menyelamatkan seorang gadis.

Aku hancurkan,

‘Kau······.’

rencana mereka.

Itu mudah saja. Tak peduli seberapa banyak dan wewenang dituangkan dalam rencana bereka, itu hanyalah teks tak berdasar yang dibangun dari nol. Itu adalah kebenaran yang disamarkan. Meskipun muncul dengan kuat diperukaan, senar longgar masihlah ada. Aku tidak menyia-nyiakan pembukaan itu dan menikamkan pedang logika yang dibuat dari informasi ke dalam celah itu. Kebohongan dihancurkan.

‘Kupikir aku berhutang padamu sekang······.’

Wangi Minhee.

‘Persetan? Pergilah, kalian hama.’

Joo Chanmi mengalami kerugian fisik, dan ditambah lagi, ia merasakan kerugian mental juga. Akan tetapi aku, dan mungkin Mingee juga, tak tertarik padanya lagi. Sesuatu seperti konglomerat Joo Group atau gadis ajaib, siapa lagi yang peduli?

Hubungan anatra Minhi dan aku semakin dalam. ‘Gereja? Janganlah pergi ke tempat begituan dan sebaliknya datanglah ketempatku! RUmah kita adalah candi, kuil. Aku akan berikan lu beberapa kue beras, rasanya enak.’ Aku mau bermain. ‘Permisi, Aku pacar Yujin.’ Ia datang bermain. ‘Yujin, tidakkah kepalamu benar-benar bagus? Kepalaku mengerikan, jadi aku khawatir.’ Ke arah gadis yang khawatir dengan peringkatnya. ‘Kau akan mengajariku!? Itu tak masalah, ya ampun. Abaikan saja. Aku ukan jenis yang mau belajar, omong-omong······.’, si gadis mengeluh dan menolak tawaranku. ‘A-Aku biang abaikan! Ah, ya ampun······ o-oke, aku ngerti. Aku hanya perlu melakukannya, benar? Seriusan······ kelemahan ini.’ Kami belajar. ‘Kau, jangan bialng, kau sebenernya mikirin sesuatu yang cabul?’. Minhee.

‘Ini······uh, untukmu untuk memikirkanku dimanapun aku nggak ada.’

Aku menerima tasbih.

Minhee. Aah. Minhee.

Kalau ini sejenis game ataupun novel romansa, maka mungkin saja berakhir di sini. Akan tetapi, itu bukanlah akhir dari kenyataan. Ada hal lain yang bergerak di balik layar. Chanmu, yang kami telah rusak sekali, telah melakukan sesuatu, meskipun aku tidak yakin apa sesuatu itu. Bagaimanapun juga, suatu hari, puluhan puluhan penyerang tak dikenal muncul di depan kami saat perjalanan pulang.

Aku masih ingat pertarungan yang terjadi. Beberapa orang dewasa menuju kami dan melancarkan tinju mereka. Mereka tidak berbelas kasih karena kami masih anak-anak, dan mereka tidak toleran hanya karena ia seorang gadis. Jika dua jatuh, maka tiga datang. Jika tiga jatuh, maka empat datang. Untuk senjatanya, mereka punya pipa logam, rantai, pisau, dan bahkan senapan. Meskipun kekuatannya melebihi akal sehat, pada akhirnya, ia tidaklah lebih dari gadis 14 tahun. Meskipun Minhee mampu bertarung dengan baik, dia hanyalah gadis 14 tahun.

Minhee jatuh.

Kekeraasan berlanjut menimpanya.

Kekerasan fisik. Kekerasan, yang gadis tidak akan mungkin bisa tanggung.

Alasan kenapa aku didak mampu untuk menyaksikan apapun setelah itu karena aku kehilangan kesadaran.

Waktu-waktu bahagia. Aku yang percaya bahwa aku bisa membantunya dengan otakku. Aku yang percaya bahwa aku bisa melindunginya. Akan tetapi, Aku, lemah. Aku, tidak bisa, melindungi, apapun.

Aku, masih menyedihkan.

Sehari terlewati, dan di rumah sakit, di depan kadis yang kehilangan kesadarannya, aku menangis. Maafkan aku. Maafkan aku tidak bisa melindungimu. Meskipun mengetahui aku tidak punya hak untuk mengangis, air mata terus saja keluar. Maaf······ Maaf. Jika bukan karenaku, maka kau tidak harus mengalami kekacauan ini. Aku ini apa? Aku hanyalah sampah. Karena sampah sepertiku. Aku bisa tersiksa sendirian seperti ini sampai akhir dunia, tapi Minhee tidak akan kembali kalau aku melakukan itu. Dia tidak akan kembali.

Satu-satunya hal yang tersisa

adalah penyesalan yang sudah tak punya tempat untuk dituju

dan tasbih yang diberikan padaku.

‘Tenanglah.’ Rasanya seolah-olah mengengar kata-kata itu. ‘Tenanglah, aku.’ Perkataan itu menekankan sesuatu yang sepele seperti pusaran emosi. Pikiran-pikiranku menjadi lebih kuat semakin kuat saat aku memegang biji tasbih. ‘Apa ini hal terbaik yang bisa kulakukan?’ Tekan. ‘Apakah menangis, menangis, dan menyiksa diri sendiri adalah jalan untukmu mengembalikannya?’ Itu dibidikkan padaku yang ada dalam jalur berbeda. ‘Berdiri.’ Aku berdiri, ‘Tidakkah kepalamu, benar-benar bagus?’.

Aah, itu benar! Aku mungkin telah melarikan diri dari kenyataan untuk meneus dosa yang tak dapat dipat diperbaiki dan agar tidak gila! Tidak, aku mungkin sudah gilak dari saat itu, di saat itu! Pai itu tidaklah masalah······ Aku punya tujuan······ Aku harus memperbaiki semua hal yang salah······ Aku benar-benar percaya itu.

Itu hanyalah sesaat, bahwa aku menjadi tegas untuk melawan balik. Dan dengan demikian, AKu memasuki paruh kedua ‘Perang 8 Tahun’.


Hari ke empat, aku merangkum semuanya yang terjadi sampai sekarang.



Pertama, aku diculik orang nggak waras dai dunia lain.

Kedua, aku sudah menghindari situasi mengancam nyawa beberapa kali melalui ketenangan dan analisis.

Ketiga, aku masih saja tidak bisa melihat adanya harapan untuk bertahan hidup.


Dan akhirnya,

“Paduka!!”

“Beriiiiikan kesiiiiiniiii, ZIa, Batsaaaaand!! Apa kau gila!?”

“Paduka, Saya mohon anda tenang! Kemalikan martabat anda!”

“Martabat? Maaartabat!? Ah, berikan saja padakuuuu, Zia. Ceeeepaatlah. Sekarang!”

“Saya tidak akan membiarkan anda pergi sampai anda tenang! Meskipun anda menyalahkanku!”

Ini terjadi tiba-tiba, tapi aku sekarang dalam situasi mengancam nyawa.

Di ruang penyiksaan, aku sekarang mendapati kepalaku menempel di sebuah guillotinealat pemenggal kepala dan menunggu mata pisaunya jatuh. Tali yang menempel di mata pisaunya berada di tangan Earl untus sesaat, tapi sekarang sudah diambil Zia. Zia berbisara.

“Paduka. Saya mohon pada anda, mohon jelaskan apa yang terjadi dengan tenang dan berurutan. Tidakkah apa-apa banyinya untuk menerima kesmpatan?”

“Kesempatan? Ah hah ha. Itu lucu. Zia Batsand. Dia makhluk dunia lain, kau tahu? Tak makaslah kapan dan kenapa dia mati, benar? Sekarang rendahkan tali itu. Ini perintah Earl!”

“Saya tidak bisa menerima, perintah semacam itu!”

“Aku tidak bilang kau menerimanya. Aku bilang lakukan!!”

Earl kemudian memasukkan tangannya ke kantong mantelnya dan mengeluarkan kalung. Diikuti setelahnya, tapa memberikan Zia kesempatan untuk bergeming, earl memanggilnya. Poof······! ia muncul tepat di depan earl. Tentu, tali yang Zia pegang bergerak dengannya. Aku ingin tahu apakah itu karena masih dalam jarak panjang tali, tidaklah mungkin seluruh guillotine bergerak juga. Talila masih tertahan dengan kencang.

Gedebuk! Earl menendang ZIa dalam keadaan itu. Zia kehilangan sikapnya, dan sesaat setelah itu, earl membatalkan pemanggilannya dan Zia berakhir dengan melepaskan tali. Ah, itu sedikit masalah. Alasan kenapa masalah karena talinya tersambung dengan guillotine······ suara mata pisau turun······.

“Kurosu– Extro······!!”

Cling······!! Mata pisau yang menurun dan guillotine terbelah hanya dengan seperti itu. Brak······!! Ketika aku mendongak, aku bisa melihat Zia roboh dalam postur yang mana ia mengayunkan pedangnya. Aku ingin tahu apakah tubuhnya kaku karena ia bernapas kasar sementara tidak menggerakkan satubung otot, sementara itu, cahaya putih membungkus pedang yang ia genggam. Setelah beberapa saat, cahayanya tersebar. Earl menggertakkan giginya.

“Zia. Kau······ bersiap akan konsekwensinya, benaaar···?”

Zia BAtsand mendecakkan lidahnya.

“Kalau aku perlu, maka ia, aku sudah siap, Tapi Earl, Kau harus duluan.”

“Beri alasannya, kumohon.”

Ini adalah sesuatu yang aku katakan. Meskipun aku selamat dari bahaya kematian, aku masih terjebak di lubah guillotine. Leherku sakit karena pengaruh rusaknya guillotine.

“Alaaasan? Ha. APa sesuatu seperti itu dibutuhkan? Kau binatang penyiksaan yang aku panggil karena aku ingin membunuhmu. Aku bilang aku ingin membunuhmy yang berada di situasi itu. Itu saaaaajaaa.”

Dia benar aku tidak bisa memberikan bantahan. Akan tetapi, kalau aku tidak mengatakan apapun, maka aku akan mati, jadi ayo gunakan otakku.

‘Tapi kau setidaknya bisa berikan aku alasannya, ‘kan?’ Tidak, dia hanya akan jadi lebih marah. ‘Heeey. Itu ngaak akan baik bagi kesehatanmu kalau kau mengamuk.’ Ini akan menghasilkan hasil yang sama. Itu tdiaklah lebih daripada menjadi memalukan. ‘Ada alasan kenapa aku tidak harus mati.’ Aku tidak menanyaimuuuuu! Aku mungkin akan mati setelah menerima jawaban singkat, ‘kan?

Ah, bagiku yan ada di situasi diamana aku akan langsung gimunuh kalau aku membuat pilihan yang salah, bahkan game sampah ada batasannya. Bagaimanapun juga, Aku sekarang ini ambil bagian dalam game sampah itu. Meskipun aku hanya menafsirkan hal itu dari suasanyanya, tapi ada batasan waktu untuk ini juga.

Aku angkat bicara.

“Eaaaaaaaaaaaarl······!!”

Kenyataan aku tidak pernah mengangkat suaraku sekalipun sampai sekarang pada semua situasi seperti ini. Penggunaan strategis. Earl of The Silver Lion, dan bahkan Zia yang melihat ke arah eal, tersentak.

Hening.

“A-Apa itu······.”

Ear berbicara setelah susah payah menampakkan giginya. Lagipula, itu setelah ia telah ditekan oleh kekuatanku dan ZIa berjalan ke sisiku.

“Katakan padku Earl.”

“·········, ······, ·····················, ······, ·········-.”

“Membunuhku, kau bisa lakukan setelahnya, ‘kan? AKu ingin mendengar alasannya. Apa itu?”

Earl of the Silver Lion–gadis yang menarik bagunya kembali, mengeluarkan desahan.

“I-Itu karena itu.”, dai bicara sambil menghindari maraku. “Itu, hal yang kau katakan padaku untuk dilakukan.”

“Hal apa? Persidangan maid?”

“Sebelum itu! Itu, hal untuk mengancam Fedchants······ Aku membicarakan itu.”

“Ada apa dengan itu? APa masalah terjadi?”

Meskipun nampaknya Earl hampir marah lagi, kemudian setelahnya, ia mengeluarkan desahan panjang lainnya. Ia kemudian duduk dan mulai memberikanku detailnya.

Kalau aku atur bicaranya yang bertele-tele yang mana berisi dengan penuh tanda tanya dan segala macam simbol “

“Jadi, kau bermaksud memberitahuku mereka mengetahui kau memalsukan dokumen-dokumen itu?”

“Itu benar! D-Dan, ide itu. Kaulah orang yang memberikannya padaku. Karena itu menganggu jadinya sekarang terungkap, Aku memberitahumu untuk bertanggung jawab dengan mati.”

Zia berdiri.

“Paduka! TIdak peduli benerapa bayak anda memperhatikannya, itu tidaklah benar. Terutama, sugesti yang Yujin berikan hanyalah opini. Orang yang menjalankan rencana itu adalah Paduka Earl. Tanggung jawabnya ada di tangan Paduka. Keluhan semacam itu tidaklah bisa dilakukan!”

“Itu bukanlah waktu membuat candaaaan buruk!!”
(TLN : ‘PAduka’ ditulis sama seperti ‘dipecat’ dalam bahasa Korea)

“Ehem, saya mohon maaf. Saya pikir ini waktu yang bagus, bagaimanapun, faktanya masihlah berdiri. Kau sudah menyadari ini, ‘kan, Paduka?”

“Aku tidak tahu! Kenapa aku, uu, tahu sesuatu seperti itu? Sesuatu seperti itu······ aah. Omoooong-omooong, pembicaraannya selesai sekarang, benar? Sekarang, Zia, dengan pedang itu, makhluk dunia lain itu—.”

“Bagaimana bisa ketahuan?”

“Makhluk dunia lain itu-.”

“Tidak akan mungkin itu bisa ditangkap. Jadi bagaimana? Kau bilang itu akan baik-baik saja kemarin. Apa yang merubahnya dan di mana terjadi? Earl, beritahu aku.”

Bibir Earl memutih. Ia terlalu banyak menggigitnya.

Aku menunggu.

Ear- Earl of The Silver Lion, bicara.

“Pertama, aku tidak punya kemampuan untuk membuat dokumen palsu yang meyakinkan.”

“Mm.”

“Kedua, meski begitu, aku tidak mau menyuruh pengikutku untuk melakukannya. Alasannya karena.”

“Kau tidak mempercayai mereka. Kau kemungkinan besar percaya informasi itu akan diteruskan ke Fedchants saat kau menyuruh seseorang untuk memalsukan dokumennya. Itulah kenapa kau tidak memerintahkan pengikutmu. Apa yang terjadi selanjutnya?”

“······, ······ada tempat yang disebut, Black Dragon Street. Itu adalah salah satu dari dua belas faksi dan kelompok salah satu Ahli Sihir Langit mendukung mereka . itu adalah tempat di mana hamsir setiap pencurian, aktivitas ilegal, perangkap, pemalsuan, mucikari, dan prostitusi adalah bagian dari tempat itu. Aku memanggil seorang professional dari sana dan meminta mereka memalsukan dokumen-dokumennya.”

“Tapi professional itu berhubungan dengan Fedchants?”

“Tidak. Permintaan tertulis dan kwitansi yang aku sampaikan ke Black Dragon Street melewati mereka terlebih dahulu.”

AKu mengerutkan keningku. Apa yang dia bilang?

“Tunggu. Lalu kau mau bilang bahwa kelompok Black Dragon Street atau apalah itu bekerja sama dengan Fedchants?”

“Itu mungkin saja tidak, AKu menanyakan orang-orang Black Dragon Stresst. Apa mereka main-main denganku. Apa mereka berniat menjadikan Earl of Silver Lion sebagai musuh. Saat aku melakukannya, mereka memberitahuku ini/ eksekutif senior mengkhianati mereka dan kabur. Dan segala halnya, mereka buat menjadi sekumpulan kertas sebelum pergi. Diantara dokumen-dokumen yang dikumpulkan, kertas-kertas yang berhubungan dengan Earl of The Silver Lion adalah salah satunya. Itu yang mereka bilang.”

“Lalu kau bisa membuat Black Dragon Street bertanggung jawab.”

“Tentu saja! AKan tetapi, membuat mereka bertanggung jawab atau sesuatu yang sudah terjadi, adalah dua hal yang terpisah. Fedchant menunjukkan kengerian mereka sekaraang. Menanyakan apa yang aku kaan lakukan untuk meletakkan mereka dalam jebakan. Tentu saja, itu adalah kebenaran yang aku buat. Bagaimanapun jugs, mereka semakin menjadi-jadi.”

“APa permintaan mereka?”

“Prosedur transaksi normal. Jalankan penghancuran. Permintamaafan secara poitik. Kemudian mengakomodasi Fedchants.”

“Mereka kelewat kuat, huh.”

“Karena mereka organisasi bersekala begitu. JUga benar, bahwa mereka menunjukkan banyak kelemahan juga.”

“Kau dalam keadaan sulit······ Hm. Untuk saat itu, serahkan padaku. Ayo pikirkan ini sama-sama.”

Earl mengepalkan tinjunya. Zia bergerak cepat-cepat dan melepaskanku dari kekangan. Meskipun Earl menggerakkan bibirnya seolah-olah akan mengatakan sesuatu, pada akhinya, Earl tidaklah mampu mengutarakan satu katapun. Aku bicara sementara merasakan tanda yang tersisa di leherku.

“Untuk sekarang, tiga metode untuk mengurus situasi ini ada si pikrian.”

“Tiga?”

“Mm. Salah Satu metode adalah memotong ekormu. Membuat kambing hitam dan ubah kesalahn ke arah mereka. Mereka akan melakukan sesuai keinginan mereka dan kau tidak tahu apa-apa.”

“Itu ide yang menggoda.”

“Berhentilah bilang menggodanya. Apa kau berencana membuat musuh lagi? Kau itu tuan yang bahkan tidak punya popularitas.”

“Kemarin, Aku adalah tuan yang menerima tepuk tangan!”

“Saat kau membuat kambing hitam, tepuk tangan itu akan······.”

“Ya ya ya. Itu akan jadi ludah dan diludahkan kearahku, aku mengerti. Aku sangat mengerti, oke?”

“Kau hanya ingin mengatakannya?”

“Aku hanya ingin mengatakannya.”

“KAta-kata aitu pastinya cukup membutakan.”
(TLN : Baris Yujin dan Eark katakan bisa juga dibaca sebagai ‘Kata-kata yang hanya memandang ke arah matahari.’)

Earl dan Aku, menatap Zia. Kami berbalik satu sama lain.

“Dan kedua?”

“Penyangkalan. Kau tidak pernah memperkerjakan orang dari organisasi manapun dan menerima serta menulis permintaan mereka berdua palsu.”

“Haaa? Kalau sesuatu seperti itu memungkinkan······.”

“Lalu kau sudah akan selesai melakukannya. Itu benar. Jadi kenapa nggak kau lakukan?”

“Karena pembayarannya dibuat dengan cek yang ditandatangani di bawah nama Rumah Earl.”

“Apa kau idiot······!?”

Ini bantahan yang dibenarkan. Akan tetapi, Earl tidak mengalah di sana.

“Ah sialan, apa kau pikir aku yang melakukannya!? Kau pikir aku cukup tolol untuk secara pribadi keluar masuk dari sarang beberapa pencuriiiiii!? Tentu saja! Sudah jelas aku menyuruh tangan kananku melakukan iiiituuuu!!”

Earl dan aku, menatap Zia.

Zia dengan patuh menunduk dan menundukkan kepala.

“Maafkan aku.”

Tunggu, Zia, apa kau orang yang meletakkan argumen ‘Orang yang menjalankan rencana itu adalah Paduka Earl. Tanggung jawabnya ada di tangan Paduka’ barusan, meski telah melakukan itu······?

“Uhm, Paduka, bagaimana meminta Mage Tower untuk menengahi situasinya?”

“Mage Tower!? Maaaaaaage Tower!? Untuk orang, yang paling tahu tentang apa yang dilakukan bajingan sialan itu padku, mau mengatakan omong kosoooooong semacam ituuuuu······!?”

“Mereka bilang mengetahui kapan harus menurunkan kepala akan menghasilkan hasil yang besar. Kalau Mage Tower menengahinya, maka dipastikan.”

““Ah hah ha ha ha······ GiaGiaGia, Gia.Berhentilah ngomongin omong kosongnya. Kambing hitam. Rencana kambing hitam benar-benar menggoda, kau tahu, Zia? Nah, itu sesuatu yang Tn. Yujin, orang yang kau selamatkan, usulkan. Memotong ekor kadal. Membuat kambing hitam. Dan siapaaa yang akan jadi kambing hitam ittttt?”

“Paduka······ kita menghabisakan waktu bersama-sama, seperti saudara······,.”

“Saudara!? Saaaaaudaraaa!? Aku ingat punya sudara nyampah dan saudara gila, tapi aku tidak ingat punya saudara bodoh!!”

“Itu benar. Aku saudara cerdas.”

“Elakan bagus······!?”

“Ditambah lagi, aku juga cantik dan kuat.”

“Kau mengatakan itu sambil menggembungkan dadamu······!?”

“COntohnya, skill yang saya gunakan untuk mengiris guillotine tadi, itu dalah satu Twelve World SkillSkill Dua Belas Dunia yang juga diketahui sebagai Great Rending Slice. Skill luar biasa yang mengabaikan kepadatan target dan mengiris target itu!”

“Itu terdengar keren······!?”

AKu memutuskan untuk menekankan bagian itu. Aku sudah menyadari kenyataan pasangan tuan dan hamba, yang bergelombang sama, jauh sebelum menyaksikan adegan ini.

“Apa maksudmu meminta Mage Tower untuk menengahinya?”

“Ygh. Kau lebih baik nggak usah mikirin itu. NggakMungkinNggakMungkinNggakMungkinNggakMungkin.”

“Beritahu aku. Aku perlu mengingat metode yang dipilih.”

Earl menatapku seolah-olah membenciku, tidak, mungkin lebih baik menghilangkan ‘seolah-olah’nya. Bagaimanapun juga ia membalas.

“Seperti yang dikatakan. Kalau aku meminta arbitrasi, maka Mage Tower akan menengahi situasiku dengan Fedchants. Karena aku secara sepihak mengalami kerugian, mereka mungkin akan membuatku menjadi condong dalam beberapa hal ke arah Fedchants. Seperti berakhir dengan menyetujui kontrak tanah.”

“Dan sebagai imbalannya, kau akan berhutang pada Mage Tower?”

“Yeess. Aku punya tebakan kasar apa yang akan mereka minta, tapi bagaimanapun juga, aku nggak mau. Sesuatu seperti plihan semacam itu.”

Ada tampilan konstan akan kekhawatiran di wajah Zia.

“Tapi, Paduka. Anda tidak ingin menurunkan kepala anda pada Fedchants, ‘kan?”

“Meskipun orang cenderung melakukannya, AKu akan jadi orang yang melakukannya. Zia, ini bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”

“Paduka······“

“Meskipun mungkin ini terjadi karena beberapa orang dungu, aku akan jadi orang yang merendaaahkan, kepalaku.”

“Nah sekarang ini, AKu mendapatkan hasrat tiba-tiba untuk menjilat dengan penuh nafsu bagian belakaang lutut Paduka······.”

“Zia, apa kau tahu kau kadang melemparkan pembukaan yang sulit untukku melakukan tsukkomi?”

Bahkan orang ini menggunakan kata tsukkomi daripada sanggahan······.

Yah, lagipula orang yang mengajari mereka······.

“Bisakah kau tidak melakukan apapun tentang cek itu?”

“Yaaa. Itu sudah keluar. Kalau aku mau mengubhnya, maka aku perlu bergerak kesana sini, tapi aku tidak punya wewenang semacam itu.”

“Oke. Lalu metode ketiga. Pura-puralah mengeluarkan tindakan baikmu.”

“TIndakan baik?”

“Akui itu, dan nyatakan alasan dibaliknya juga. Aku ikut campur karena mereka mencoba mengambil tanah wargamu yang melawan kehendak mereka.”

Earl mengerutkan lisnya. Ia memiliki tampilan orang, yang tidak tahu apa yang akan dikatakan, pada wajahnya.

Aku menguraikan lagi untuknya.

“Kau bilang kau akan membuat Black Dragon Street bertanggung jawab, benar?”

Aku menguraikannya agak lebih dalam karena ia masih tampak tidak mengerti.

“Kau katakan dokumen-dokumen, yang dimiliki Fedchant, di cap dengan segel yang dicuri, benar?”

“Yah, ya. Meskipun itu hanya asumsiku.”

“Ada sesuatu yang mudah di dunia ini. Pedagang dengan pedagang lainnya membuat Fredchants. Apoteker dengan Apoteker lainnya membuat Alchemy Fortress. Pencuri dengan pencuri lainnya membuat Black Dragon Stresst. Itu adalah kenyataan mereka semua berkumpul bersama membuat hal-halyang mudah. Lalu, tindakan mencuri segel dan men-cap-nya di kontrak, siapa yang bisa melakukannya? Fendchants kemungkinan besar tidak melakukannya sendirian. Mereka mungkin membuat permintaan ke suatu tempat.”

“·········, ···············, ···············, ·········, ······, ······························.”

“Tentu saja, orang-rang di Fedchants kemungkinan besar tidak menginggalkan jejak ketika mereka membuat transaksi. Bagaimanapun juga, permintaan tertulis dan pembayaran akan tetap ada. Sekumpulan komisi permintaan untuk mereka mencuri segel dokumen-dokumen yang berhubungan dan mencapnya. Kalau mereka punya itu, meskipun tidak ada bukti, itu agak jelas terlihat.”

“T-Tapi, Tn. Yujin. Tidak punya bukti, adalah masalah besarnya, kau tahu, Tn. Yujin?”

“Itulah kenapa jangan pergi terllu jauh. Kau batalkan pembayarannya dan juga buka jalan untuk Fedchants jadi mereka bisa menyatakan bahwa mereka korban juga. Sebgai balasannya, kau hancurkan apapun permintaan menyedihkan yang mereka punya. Tidakkahitu cukup?”

Earl of the Silver Lion melihatku dengan mulutnya yang sedikit menganga lagi.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Mengatur informasi berurutan untuk mencapai pemecahannya sedikit lebih sulit saat ini, dan······ Ah, Garis-garis kasarnya sudah kelihatan sekarang, ‘kan? Cari tahu ssanya sendiri. Terlepas dari apa yang ia dengar dari dalam pikiranku atau tidak, Earl of the Silver Lion berteriak menyedihkan.

“······T-T-Tapi. Hguu, t-t-tapi. B-Bagaimana kalau nggak ada satuuupun? Permintaan tertulis itu. Bagaimana kalau mereka tidak punya satupun yang sisaaa? Ditambah lagi, yang paling utama······ kemungkinan besar Fedchants tidak membuat permintaan kepada Black Dragon Street, bahkan aku juga berpikir itu 90%, tidak 99% mereka tidak memintanya······.”

“Itulah kenapa sangat penting meminta pertanggungjawaban Black Dragon Street. Kalau tidak ada, maka mintalah mereka mebuatkan yang palsunya. Merekalah yang membuat kesalahan konyol. Kau punya kepercayaan di bidang bisnis juga, benar? Kau—untuk saat ini saja, bisa meminjam kekuatan Black Dragon Street sebanyak yang kau mau.”

“Uh, mmm······.”

“Kalau dirangkum. Terima bukti permintaan ilegal Fedchant dari Black Dragon Street. Kalau mereka bilang tidak ada hal ilegal yang tersisa, maka buatlah Black Dragon Street untuk membuatkannya. Selama asat itu, kau jangang membuat asap terlalu sering mengarah ke Fedchants. Buatlah keragauan pada publik. Cukup susun pernyataan, ‘AKu bertindak karena ini’, sebagai dasar awalmu. Selesai.”

Earl menjatuhkan bahunya. Ia kelihatan seperti phanter kelelahan, yang berbaring di luar saat pertengahan musim panas, karena caranya menunjukkan atring jambil menggigit lidahnya.

“Dan juga.”

Aku berbicara.

“Apa alasan ‘sebenarnya’ kau mau membunuhku?”

Earl mengeluarkan suara ‘ack’.

ZIa membeku.

Hening.

“A-Apa yang kau bicarakan? Aku bilang tadi. Karena usulan yang kau buat gagal. Dan kemudian aku jadi terhanggu. Semata-mata karena alasan itu, aku mencoba membunuhmu, karena kau makhluk dunia lain, kau tidak punya hak, dan aku, semacam orang—.”

“Itu cuma alasan. Aku nggak ngomongin alasan pura-puar.” Aku menatap luruh ke arahnya. “Aku bertanya alasan sejatimu.”

“Ada satu.”

Itu tidak melompat ke kesimpulannya.

Kebenarannya adalah ketika kau membaca koleksi tulisan gadis ini, aku bisa mendapai perasaan ketika ZIa menguraikan masa lalu Earl.

Earl of Silver Lion menggigit bibirnya······ hening.

“Uuh······ uuuh······.”

Itu tidak lama.

“Uh, uuu······ Aaaaaaaaaaah······!!”

Earl, tidak menangis. Ia cuma melototiku sambil menggertakkan fifinya sekuat yang ia bisa.

“Sial······ Sial······!! Kau! KAu, kau······!!”

Kau.

“membuat, ku, aneh······!?”

Hening.

“AKu tidak dilukai oleh apapun, dan Aku, tidak merasakan sakit dati apapun. Sesuatu membuat ruwet, entah apa itu, seolah aku merasakannya. Karena AKu, sudah, uu, uuuuughuuuuuh.”

Kau kau sudah— rusak.

Kau kau percaya itu.

“Aku monster tak berperasaan. Cukup bagus kau aku hanyalah itu. Aku membunuh makhluk dunia lain seolah-olah tidak ada apa-apa dan aku tidak memikirkan orangorang. Karena aku hanyalah Earl. Itu benar. Karena aku Earl, aku mengurusi sesuatu semauku. Kalau aku menerima tekanan maka aku kan memanggil makhluk dunia lain dan menyiksa mereka-membunuh mereka. Aku menginjak-injak, dan menginjak-injak, dan menginjak-injak, dan menginjak-injak mereka. Pada akhirnya, tidak satupun bagian dari pikiran mereka tersisa, aku mengeluarkan sumsum bereka dan memainkannya juga. Aku bekarja cukup memadai, bekerja untuk didak dikeluarkan. Itu daia. Hidup seperti itu, dan mati seperti itu. Kalau aku memikirkn kematianku tidaklah adil, maka aku akan membuat seluruh dunia sekan seperjalananku dan mati bersama, itulah hidupku. Keberadaan diriku. Seperti itu, tapi.”

Seharusnya, menjadi seperti itu.

“Aku tidak mengharapkan apapun lagi, dan aku percaya bahwa aku tidak akan bisa kembali lagi dan sekarang ini······.”

Kalau kau hidup seperti itu— maka kau tidak lama lagi,

lebih dari itu, benar-benar

tidak ada.

Meskipun kau bisa saja mampu untuk tidak kehilangan apapun.

“Kau, untuk, ku.”

Earl of the Silver Lion, memegang kepalanya. Cincin putih dan gelang yang dikatakan tersambung dengan tulang-tulangnya, manifestasi dari resolusinya yang tidak akan pernah di ambil lagi— dikubur, ke dalam rambutnya.

“Memberikanku sakit kepala······ kau masih saja······ bicara padaku······ membingungkanku······ karena kau melakukan itu······!!”

“Kau ingin menghancurkanku.”

“Itu, benaaaaar······! Tanpa meningglakan······ satupun jejak······ tidak, bahkan tanpa adanya penyiksaan······ cuku, cukup secepatnya, secepat mungkin.”

“Itulah kenapa guillotine, huh? Kau mudah dibaca.”

“Uuh······ aauuuuuu······.”

AKu akan katakan sekali lagi, Earl tidaklah menangis. Sudut matanya bahkan tidak memerah. Ia hanya menatapku, sementara memegangi kepalanya. Pupil perak itu yang memiliki tatapan tajam, yang mana memang seperti karnivora ganas, ‘SInga PerakSilver Lion’.

AKan tetapi, mata-mata tersebut, aku sederhanya senang melihatnya.

AKu menyambut kedua mata tersebut.

Dan sebaliknya, rasanya aku akan menangis.

“Makasih.”

Earl membeku. Aku biacara padanya. Adu dengan tenang memberitahukannya kebenaran yang mungkin bisa saja menjadi sebuah kutukan.

“Kau akhirnya, melihatkuku.”

Hasil dari kerja kerasku.

“Diriku yang ada di depanmu.”

Hasilnya hanyalah ini.”

“Diriku yang masih hidup.”

Akhirnya, bagimu— Aku, tidak lagi makhluk dunia lain yang kau tidak bisa berikan empati.

“Sebagai manusia.”

Aku mencantumkan pada dirinya kenyataan bahwa diriku ‘manusia’ hidup lain yang dapat menarik empati.



Dan hasil dari hari ke empat.

Earl of the Silver Lion menatapku tanpa kata untuk waktu yang lama. Dan kemudian,

Gedebuk······!


Aku tidak berteriak. Jujur saja, seberapa banyak luka yang bisa ia berikan kalau dia menendang lutut dengan kaki kecil miliknya itu? Gedemuk! Gedebuk! Tidak, maksudku, karena aku yang ditendang masihlah merasa sakit, tapi······ Buk! Itu tidaklah terlalu menyakitkan, tapi······ Buk! Gedebuk! Uh, tidak.

Akan tetappi, sebelum aku bisa menghentikan tindakannya, Earl menghentikan tindakanya sendiri. Kemudian ia menjulurkan lidahnya dan berbalik dengan cukup cepat sampai-sampai membuat suara woosh—.

“Hmph! Menyedihkannya.” Dia menarik mantelnya dan meluruskannya. “AKu akan tidur!”

Dia kemudian menyeret Zia bersamanya. Bukannya membatalkan pemanggilannya, ia menginggalakan jeruji besi dengan masih terbuka yang mengarah ke tangga dengan kuncinya.

“P-Paduka. Apa anda tidak menguncinya?”

“Tap apa! Aku punya kemampuanku, jadi sesuatu semacam palang, aku tidak perlu—— Bukan begitu? AKu hampir mencapai batas pemanggilanku, dan aku juga merasa terlalu malas untuk menguncinya!”
(TLN : Flag berkibar lol)

“Paduka——.”

Aku kemudian melihat tuan dan hambanya pergi ke lantai atas tanpa mengunci palangnya sama sekala dengan senyuman pahit.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter