Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5.Chapter 5 part 4

Light Novel Classroom elite Bahasa Indonesia Vol 5. Chapter 5 part 4



Murid tahun pertama, tanpa ada waktu untuk beristirahat, siap untuk pertandingan yang berikutnya: tarik tambang. Sementara itu, permainan lempar bola untuk murid perempuan tahun pertama juga terus berlangsung. Pertandingan tim yang melelahkan terus berlanjut. Awalnya aku tidak terlalu memerhatikan,  tapi ternyata cukup sulit melakukan sesuatu.

"Menurutmu seberapa besar celah yang akan terjadi...?"

"Aku tidak tahu. Pertandingan baru saja dimulai, tidak ada gunanya memikirkannya"

"Itu benar tapi... kekalahan adalah kekalahan, mereka selangkah lebih maju dari kita, kan?"

Mungkin dia tidak tahan dengan fakta bahwa dia kalah sejak Sudou dengan  gelisah menyaksikan pertandingan gadis-gadis itu.

"Akan lebih baik jika gadis-gadis itu bisa menang..."

Tidak jelas karena melihatnya dari kejauhan, hasil dari permainan lempar bola sulit untuk dilihat. Aku pikir itu hanya mengadu karena sepertinya pertandingan ini cukup seri.

Kemudian, ketika pertandingan berakhir, guru yang bertanggung jawab menghitung poin satu demi satu sambil melempar bola.

"Totalnya 54, Tim Merah menang"

Terima kasih kepada para gadis, hasil mengecewakan dari pertandingan menangkap bendera anak laki-laki terbayar.

Kelegaan yang kami rasakan pada pengumuman itu hanya bersifat sementara ketika wasit memanggil kami dan mulai menjelaskan tentang tarik tambang kepada kami.

"Baiklah, ayo.....!"

"Apa punggungmu baik-baik saja, Ken?"

"Tubuhku lebih kuat dari yang lain. Lagipula, tidak ada yang bisa kulakukan bahkan jika itu menyakitkan."

Bahkan saat kami khawatir dengannya, Sudou berdiri dengan semangat. Aturan untuk tarik tambang sangat sederhana dan hampir sama dengan menangkap bendera.

"Jika kita bisa membuat bayarannya dengan tarik tambang, maka kita bisa menangani perlombaan tim ini. Selain itu, jika dengan tarik tambang, maka tidak akan ada kontak langsung selama pertandingan, jadi pihak lain juga akan dipaksa untuk bersaing menggunakan kekuatan mereka sendiri. Seharusnya tidak akan ada perkelahian yang tidak masuk akal di sini"

Hirata, yang selalu mengkhawatirkan Sudou dan sekelilingnya, menegurnya seperti itu. Sudou mengangguk sebagai jawaban.

"Kurasa begitu... itu sebabnya kita tidak boleh kalah"

Kekuatan vs kekuatan. Kecerdasan vs kecerdasan. Sekarang, sisi mana yang akan terbukti hebat? Ketika keempat kelas berkumpul di tengah tanah yang terbagi menjadi dua, mereka terbagi di antara sisi kiri dan kanan. Saat Katsuragi mendatangi Hirata, dia diam-diam berbisik kepadanya.

"Seperti yang kita diskusikan, kita akan menggunakan strategi kita untuk mengalahkan mereka dalam satu serangan. Mengerti?"

"Ya. Aku mengerti. Semua orang sudah mendapatkan posisi"

Di bawah kepemimpinan kedua orang itu, perkumpulan D dan A sudah memikirkan strategi seperti yang dilakukannya selama menangkap bendera. Saat Hirata memberikan instruksi, Kelas D secara bersamaan menyebar dan mengambil posisi.

Strategi itu sendiri sangat sederhana dan terdiri dari 'berbaris berdasarkan tinggian badan kami'. Dengan melakukannya, kami bisa seragam dan teratur mengeluarkan kekuatan kami dengan baik ke tali.

Tentu saja ini akan diperhatikan oleh tim lawan juga, tetapi jika perkumpulan B dan C mencoba meniru kami, mereka tidak akan bisa berbaris berdasarkan urutan tinggi dengan waktu yang singkat.

Namun, masalah muncul di perkumpulan D dan A sebelum semua itu. Bertentangan dengan Kelas D, yang berusaha berbaris seperti itu, hampir setengah dari anak laki-laki di Kelas A tidak bergerak sama sekali.

"Hei, Katsuragi-kun. Aku lebih suka jika kau tidak dengan sombong mengambil alih selamanya..."

Suara seperti itu bisa didengar tanpa harus menoleh.

"..... apa maksudmu, Hashimoto?"

Murid bernama Hashimoto maju selangkah. Dia seorang laki-laki yang tinggi, seorang penyendiri dengan rambut panjangnya disembunyikan di bagian belakang kepalanya. Dia memiliki ekspresi lembut di wajah tetapi matanya adalah mata seseorang yang mengejek lawannya.

"Persis seperti kedengarannya. Bukankah itu salahmu kalau Kelas A saat ini mengulur-ulur? Apa kau bisa mengatakan dengan pasti bahwa strategi ini akan membuat kami menang?"

Seorang murid muncul secara langsung dan menentang pemimpin, Katsuragi.

Dari status kewaspadaan Katsuragi, aku ragu murid yang bernama Hashimoto ini bertindak sendirian. Tapi... timing-nya aneh. Sementara sekutu kami fokus kepada Katsuragi dan Hashimoto, aku melihat kembali ke arah tenda kami dan mencari Sakayanagi.

Sakayanagi, yang mengamati kami sejak awal sebagai pengunjung, memiliki senyum kecil di wajahnya. Bahkan dari kejauhan, dia bisa melihat anak-anak itu sedang bertengkar.

Tapi fakta bahwa dia masih tersenyum, itu hanya bisa berarti satu hal. Bahwa yang menciptakan situasi ini bukanlah Hashimoto, melainkan Sakayanagi. Aku bertanya-tanya, jebakan macam apa yang akan ia lakukan, tetapi itu bukan untuk kelas lain, melainkan untuk Kelas A.

Aku penasaran, apa itu berarti bahwa dia hanya berniat menghancurkan Katsuragi, penentangannya. Tapi ini sangat tidak efisien. Ini menakutkan dalam arti yang berbeda dari Ryuuen.

"Jadi, apa yang akan terjadi, Katsuragi-kun? Apa kita bisa menang dengan strategi ini?"

Meskipun dikhianati rekan-rekannya, tanpa terlempar ke dalam kekacauan, Katsuragi menjawab itu.
"Kita mengganggu murid-murid dari Kelas D. Kita harus melanjutkan pertandingan dengan tenang"

"Itu bukan jawaban..."

Katsuragi mencoba menenangkan mereka tetapi sekitar setengah dari murid yang mengikuti jejak Hashimoto tidak patuh.

"Katsuragi-san sudah banyak menyuruh kalian untuk melakukannya, jadi cepatlah! Jangan memberi kami tindakan yang memalukan ini!"

Di tengah-tengah itu, Yahiko dari faksi Katsuragi mengangkat suaranya ke arah faksi Sakayanagi dan secara paksa menyerahkan tali ke salah satu anak laki-laki.

"Aku tidak berniat menyangkal keraguan yang kalian rasakan terhadap kepemimpinanku. Tetapi jika kita kalah di sini karena pertengkaran kita yang sia-sia, sebelum sesuatu seperti kerja sama dan kehebatan muncul, kesalahan akan jatuh kepada Sakayanagi, kalian tidak keberatan kalau seperti itu? "

"Kau tidak menyadari apa pun, kan, Katsuragi-kun?"

Hashimoto tertawa kecil. Ketika guru yang berperan sebagai wasit mendekati kami, seolah-olah memperingatkan kami karena keterlambatan kami, Hashimoto mencengkeram tali seolah dia sudah siap di posisi yang ditentukan.

"Lalu, haruskah kita melakukannya? Aku akan kesal jika kita membuat mereka berpikir jika kita kurang bekerja sama seperti yang kau katakan"
Untuk saat ini, perang saudara di Kelas A sepertinya sudah mendidih dan kami pun pergi ke posisi masing-masing.

"Mereka kelompok yang buas, orang-orang di Kelas A itu"

"Aku sangat khawatir. Mereka mungkin hanya sekelompok kutu buku."

Bahkan bagi Sudou, yang baru saja menonton, ketidaknormalan dari konflik Kelas A sudah menjadi pusat perhatian.  Ngomong-ngomong, kedua kelas kami bercampur dan berbaris berdasarkan urutan tinggi kami.

Lalu akhirnya, Sudou, yang memiliki keyakinan mutlak pada kekuatannya, ditempatkan jauh di belakang.

Di sisi lain, karena perkumpulan B dan C tidak bekerja sama, mereka akhirnya membagi pasukan mereka  berdasarkan kelas mereka. 

Kelas B mengambil alih tali di depan, tetapi dibandingkan dengan perkumpulan D dan A yang berbaris berdasarkan tinggi dengan urutan menurun dari depan, mereka sudah menggunakan strategi yang sepenuhnya berlawanan. Tapi karena Kelas C berbaris secara acak, mulai dari tengah, jauh tersendiri. 

Di akhir barisan, Berdasarkan kelayakan, murid yang tinggi memegang tali tapi ... Aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa itu merupakan kekonyolan.

"Heh, Kelas B yang membiarkan yang besar di depan, mereka sama sekali tidak mengerti"

"Tidak, itu tidak selalu terjadi. Ketika menarik talinya, sangat menguntungkan jika dari posisi yang tertinggi"

Karena kerjasama antara dua kelas tidak mungkin, Kelas B malah bertujuan untuk mengamankan keuntungan mereka sendiri saat memegang tali.

"Meskipun begitu, tidak mengubah fakta bahwa kita masih punya keuntungan yang tinggi. Ayo kita lakukan, semuanya!"

Sudou meneriakkan itu dan bersama dengan sinyal yang menandai awal pertandingan, kami masing-masing menarik tali.

"Hoa! Hoa!”

Kemudian, dengan teriakan yang seperti rutinitas, perkumpulan D dan A yang mencapai sebuah kerja sama, satu sama lain menarik tali dengan penuh semangat. Sepertinya kami sudah mencapai keseimbangan, tetapi setelah beberapa detik, aliran berubah dan mendukung kami dalam sekejap.

"Oraoraoraora! Mudah, mudah!"

Tidak lama, bersama dengan sinyal, kemenangan kumpulan D dan A itu tersampaikan.

"Baiklah! Apa kau melihat itu!? Ladeni mereka!"

Sudou berulang kali berteriak. Sebagai hasil, Kelas B menghadapi Kelas C dengan ketidakpuasan yang mencolok.

"Hei... sangat gawat jika kita tidak bekerja sama. Orang-orang itu sangat kuat"

Mewakili kelasnya, Shibata menegur Ryuuen tetapi Ryuuen bahkan tidak peduli dengannya.

"Baiklah cerewet, saatnya mengatur ulang. Berbaris mulai dengan yang terkecil di depan."

Ryuuen memberi perintah kepada Kelas C yang kacau dan menyuruh mereka berbaris dengan murid terpendek di depan dan secara bertahap menyesuaikannya sehingga murid itu bertambah tinggi. Lebih tepatnya bentuk busur.

Sepertinya mereka tidak punya niat untuk mempertimbangkan pendapat Kelas B, hanya melakukan apa yang mereka inginkan.

Setelah Shibata menggelengkan kepalanya karena kesal, dia mendorong rekan-rekannya di Kelas B dan menggenggam talinya.

"Orang-orang itu mabuk. Dengan strategi seperti itu, mereka tidak mungkin menang"

"Kita tidak bisa mengatakan itu dengan pasti. Semua orang, jangan lengah. Putaran berikutnya tidak akan berjalan seperti sebelumnya"

Katsuragi menyarankan murid lain, termasuk Sudou.

"Memangnya kenapa? Itu mudah. ​​Bukan berarti mereka berbaris dengan menurunkan tinggi badan seperti kita"

Ike menggenggam tali ketika dia dengan sembarangan membuat situasi menjadi santai. Katsuragi mencoba untuk terus berbicara, tetapi waktu istirahat berakhir dan persiapan sedang dilakukan untuk melanjutkan pertandingan.

Dengan begitu, putaran kedua pun dimulai.

"Hoa! Hoa!"

Kumpulan D dan A menarik teli seperti yang mereka lakukan di babak pertama. Namun, menghadapi kekuatan yang jelas berbeda dari sebelumnya, mereka mulai kehilangan pijakan sedikit demi sedikit.

Bahkan ketika mereka menarik dan menarik, posisi mereka tidak berubah dan perasaan cemas mulai mendekat.

"Hei, jauh lebih baik jika kalian bertahan. Jika kita kalah, aku akan membunuhmu"

Bersamaan dengan peringatan dari Ryuuen, kekuatan kuat diterapkan ke tali dan sisi kami terseret.

Tidak mungkin kekuatan mereka melonjak hanya dengan satu perintah saja.

Itu berarti ada sesuatu dengan bentuk seperti busur yang diatur Ryuuen yang mempengaruhi transferan kekuatan.

"Guuh! sakitnya, itu sakit!"

Jeritan bangkit dari Ike dan yang lain yang memegang tali dari belakang.

Aku juga kebetulan menarik tanpa menyerah, tapi seperti yang aku pikirkan, perlawanan sangat berbeda dari sebelumnya. Cukup banyak pertarungan yang sengit dari tarik tambang.

Aku bertanya-tanya, apa itu perbedaan piskologi yang membawa kesimpulan dari pertandingan?

Kumpulan D dan A, ditarik sedikit demi sedikit dan akhirnya dikalahkan.

Hanya karena mereka mendominasi putaran pertama, ada kata-kata kasar yang datang dari para murid yang percaya bahwa penyebab kekalahan mereka di putaran kedua datang dari dalam kelompok.

"Kenapa berbeda dari sebelumnya !? Apa ada seseorang yang menahan diri?"

Mereka mencoba mencari pelaku di antara satu sama lain. Melihat situasinya, Katsuragi segera menindaklanjuti.

"Tenang. Penyebab kekalahan kita mungkin hanya karena pihak lain menggunakan formasi yang bagus. Tentu saja, juga merupakan fakta bahwa ada murid di antara kita yang mengambil putaran kedua sudah menerimanya. Mereka mengerti jika kerja sama tim lawan itu hancur, mereka masih mampu melakukan perlawanan. Fokus, rebut dan bersamaan dengan itu, tolong cek posisi kalian sekali lagi. Kemudian, ketika menarik tali, ingatlah untuk melakukannya di sudut "

Katsuragi menyetel kembali semua orang setelah membagikan saran akurat dan teguran. Dia melakukan yang terbaik yang dia bisa dalam waktu singkat yang dia miliki. Di sisi lain, seperti tim lawan, meskipun mereka tidak bisa mencapai kerja sama antara dua kelas, masing-masing kelas secara individu bersatu. Ada Kelas B yang berfokus pada tarik tambang dan Kelas C, yang siaga di belakang mereka. Tetapi jika Ryuuen memberikan perintahnya, maka para murid itu pasti akan bangkit.

"Ah~ benar, kalian melakukannya dengan baik. Kita hanya harus melakukan hal yang sama lagi sekali lagi. Ayo kita hajar potongan-potongan sampah yang berpikir bahwa merekalah yang akan memenangkan bosnya"

Aku pikir aku harus mengatakan jika itu mengesankan bahwa tanpa ada teknik tarik tampang tertentu yang disampaikan kepada kami, sebagai kelas kami masih bisa menghasilkan hasil yang baik.

Ketika kedua pihak siap, pertandingan ketiga dan terakhir dimulai.

Teriakan kembali untuk ketiga kalinya.

"Hoa! Hoa! Tarik!"

Sama seperti putaran kedua, hasilnya tidak segera diputuskan. Bendera putih bergoyang di garis tengah tanpa bergerak.

"Terus lakukan, semuanya. Kita pasti memenangkan tarik tambang ini!"

Seakan bertindak serentak dengan teriakan Sudou dari belakang, semua orang bekerja sama untuk menarik tali.

"Hoa! Hoa!"

Tidak peduli seberapa kuat sisi yang lain, kemenangan atau kekalahan tidak ditentukan murni oleh kekuatan ketika di tarik tambang. Bendera putih mulai sedikit condong ke sisi D dan A.

"Jangan menyerah! Sekali lagi tarik! Tariiiikk!"

Itu merupakan usaha terakhir dari Sudou. Mengakhiri dengan cara yang tidak terduga. Seharusnya pertarungan hampir seimbang, tetapi perlawanan yang kami hadapi sampai sekarang melonggar sampai pada tingkat yang luar biasa dan tubuh semua orang jatuh ke belakang.

Pertandingan berakhir bersama kami yang tidak mampu menghentikan momentum kami sendiri dan terjatuh satu demi satu.

Tidak cukup memahami apa yang sudah terjadi, dimulai dengan Sudou, sebagian besar murid mulai menunjukkan kemarahan mereka sementara masih terjatuh. Dilihat dari hasilnya, jelas bahwa situasi ini disebabkan oleh lawan kami yang melepaskan tali.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau bercanda?"

Mungkin situasi ini juga tidak terduga untuk Kelas B, karena beberapa murid mereka juga jatuh.

Akhirnya, perhatian diarahkan kepada kelas yang tidak terjatuh..... perhatian diarahkan kepada Ryuuen dan kelompoknya.

"Aku memutuskan untuk beristirahat karena aku pikir kami tidak bisa menang"

Sepertinya, mendekati akhir, Ryuuen dan seluruh Kelas C melepaskan tali sekaligus.

"Bagus, mengambil kemenangan yang seperti sampah. Sangat menyenangkan melihatmu merendahkan diri"

Bahkan saat dia kalah dalam pertandingan, Ryuuen tertawa sambil terlihat seperti dia menikmati pertandingan lebih dari yang lain.

"Dasar bajingan!"

Jika kau sendiri yang melihat situasi ini, kau tidak akan bisa membedakan mana yang menjadi pemenang di sini.

Ketika Sudou, yang berada di baris belakang berdiri, dia mencoba menyerang mereka karena dia marah dengan insiden tangkap bendera. Namun Katsuragi, yang berada di depannya, dengan panik meraih lengannya untuk menghentikannya.

"Hentikan, Sudou. Ini juga bagian dari strategi Ryuuen, tujuannya adalah untuk memprovokasi kita dan membuat kita menyia-nyiakan stamina kita. Selain itu, dengan menghasut kekerasan, dia mungkin bertujuan untuk menang dengan permainan yang curang"

"Tapi!"

"Tentu saja, apa yang mereka lakukan tidak jujur, tapi juga tidak melanggar aturan"

Katsuragi dengan terampil mengendalikan Sudou yang lepas kendali.

Jadi dia di Kelas A tidak tanpa alasan. Mungkin dia sudah menilai bahwa provokasi lebih lanjut tidak akan memberikan hasil apa pun, karena Ryuuen memunggungi kami.

"Baiklah. Cepat bangun, bodoh"

Kelas C langsung bangkit kembali. Kelas B mungkin juga ingin mengeluh.

"Sepertinya kita beruntung. Karena kita tidak harus bekerja sama dengan Kelas C"

Katsuragi berkata demikian seolah-olah dia lega dan menepuk Sudou di pundaknya.

"Kita menang, tapi aku tidak merasa senang, sial"

Aku bisa mengerti perasaan Sudou yang mengomel. Kami akhirnya memenangkan pertandingan tim, tetapi karena trik licik Ryuuen, semuanya terendam.

Meskipun ingin merayakannya, perasaan suram menggantung di atas kami. Meskipun mereka kalah, bukan berarti mereka tidak mendapatkan apapun dari kejatuhan mereka. Tarik tambang berakhir dan kami kembali ke tenda kami sendiri.

Dalam perjalanan kembali, Katsuragi mendatangi Hirata dan diam-diam membisikkan permintaan maaf padanya.

"Maaf tentang tadi. Ini salahku karena tidak bisa mengendalikan kelasku"

"Tidak perlu khawatir tentang itu. Aku pikir kami juga. Kami lengah selama putaran kedua. Benarkan?"

Hirata mencari pendapat yang sama dariku dan jadi aku mengangguk.

"Kelas A juga. Secara mengejutkan itu sulit, kan?"

".....ya"

Sepertinya dia tidak ingin membahasnya secara detail, karena Katsuragi tidak menyangkalnya tetapi juga tidak berbicara lebih jauh tentang hal itu. Satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa ia terlihat berada di tempat yang cukup sulit.

Sementara itu, Sudou dan yang lainnya mengalihkan pikiran mereka ke pertandingan berikutnya.

"Selanjutnya adalah lomba rintangan. Aku akan menghajar siapa saja yang mendapatkan hasil yang mengecewakan"

"Ugeh. Kenapa kita harus dihajar ~?"

"Itu karena aku adalah pemimpin. Itu berarti aku harus menendang setiap bokong orang lemah. Ini sangat sulit"

Aku tidak berpikir  jika ada yang menginginkan pemimpin seperti itu tetapi kau tidak bisa menolak Sudou yang keras seperti itu.

"Aku akan menanyakan ini untuk jaga-jaga sebagai masukan tapi ..... sampai mana kau akan menganggap itu mengecewakan?"

"Bukankah sudah jelas? Aku tidak akan menerima apapun selain kemenangan"

"Kajamnya...!"

***

"Hah, hah .... aku melakukan yang terbaik dan aku masih di posisi ke-6! A- apa Ken selesai dengan pertandingannya? Fuu"

Ike bernafas saat ia jatuh berlutut. Dia mungkin takut dengan sudut pandang Sudou.

"Aku tidak mengira dia akan mendapatkan sesuatu seperti posisi ke-4 benarkan?"

Bukannya aku tidak mengerti keinginan yang mengharapkan sesuatu seperti itu. Jika Sudou tidak menang, dia pasti tidak akan menghukum yang lain juga. Sudou, yang hasilnya ingin mereka ketahui, akan mendapatkan gilirannya dalam lomba rintangan terakhir.

"Posisi ke berapa yang kau dapatkan, Ayanokouji? Apa itu posisi hukuman mati?"

"Aku baru saja mendapatkan posisi ketiga"

"Geh. Serius? Selamat dari daftar pemain?”

Pergi bersama dengan lelucon Sudou sepanjang waktu...  Sejak awal, mendapatkan hukuman sepertinya akan merepotkan. Aku mencoba memasukkan sedikit usaha.

"Sepertinya Sudou-kun akan melawan Shibata-kun"

"Ahh, kelihatannya seperti itu"

Di dekat Sudou, Shibata sedang menunggu di sekitarnya sambil melakukan latihan pemanasan. Lawan tangguh sudah maju.

"Haaaaah !? Ken, dia melawan Nomura dan Suzuki lagi. Itu tidak adil!"

Namun, pada saat yang sama, Ike merasa kesal setelah melihat lawan-lawan Sudou dalam pertandingan selain Shibata dan jajaran keberuntungan itu.

Tentu saja, beruntung jika secara berurutan bertemu dengan mereka berdua dari Kelas C yang bisa dikatakan tidak stabil. Selain orang-orang itu, para murid dari Kelas A tidak pandai atau tidak payah dan dengan ini, kemenangan Sudou terjamin.

Aku mengerti kenapa dia meratapi itu tetapi Shibata adalah sesuatu yang lain.

Jika itu Shibata, yang katanya pelari tercepat di Kelas B, dia pasti juga bertarung demi posisi pertama. Dalam dua perlombaan yang mengarah ke sini, dia mengambil posisi pertama di keduanya.

"Mana yang menurutmu akan menang?"

Aku meminta pendapat Hirata, karena dia tahu Shibata dengan baik.

"Aku tidak yakin. Aku tau bahwa Shibata-kun cepat jadi aku tidak berpikir dia akan kalah dengan mudah. ​​Jika itu pertandingan sungguhan maka aku punya perasaan itu mungkin saja Shibata-kun tapi... Sudou-kun mampu mengatasi rintangan tanpa banyak kesulitan selama latihan. Ini membentuk pertandingan yang sangat bagus "

Dari sudut pandang Hirata, dia tidak bisa mengatakan yang mana yang akan menang karena dia mengenal mereka berdua dengan baik.

Sudou sendiri percaya bahwa dia tidak mungkin kalah. Akan lebih baik jika harga dirinya tidak mempengaruhi larinya. Tetapi mengesampingkan kekhawatiranku, orang itu sendiri menunggu sinyal awal.

Setelah pelari di depan selesai dengan pertandingan mereka, tirai naik pada balapan terakhir.

Baik Sudou atau Shibata memiliki awalan yang bagus dan mereka menuju ke arah rintangan pertama: balok keseimbangan. Sudou, meskipun tinggi dan memiliki tubuh yang besar, tetap mampu melewati balok keseimbangan sempit lebih cepat daripada yang bisa dilakukan orang lain. Gerakannya memamerkan keseimbangan yang luar biasa. Shibata masuk di posisi kedua.

Meskipun sedikit terlambat, dia juga dengan aman melewati balok keseimbangan.
tidak lama setelah itu, mereka merangkak melewati jaring yang diletakkan di tanah. Sudou, yang maju seperti binatang buas, hanya melihat ke depan. Dan Shibata, yang sepertinya bersenang-senang mengejarnya. 

Kendala terakhir adalah karung, atau dengan cara yang lebih trendi, menempatkan kedua kakimu di karung dan lompat. Di sini, Sudou menguasainya sekali lagi dengan kegesitan yang tidak memuaskan fisiknya tetapi Shibata, di belakang, mendekatkan jarak di antara mereka.

"Ini pertandingan terketat hari ini"

Keduanya terlihat imbang dan keduanya mencoba untuk meningkatkan taktik mereka. Shibata mengikutinya sejauh ini tanpa terhenti atau terguncang. Sudou, yang menyadari keberadaan itu, mulai terburu-buru untuk pertama kalinya.

Dia mungkin mendengar suara melompat di belakangnya.

Namun, keunggulan yang dia ciptakan di awal masih sama dan dengan perbedaan sekitar satu meter, dia memotong pita itu dan mengambil posisi pertama. Menurutku, semuanya itu berpengaruh kepadanya, karena dari kejauhan, aku bisa tahu bahwa Sudou terengah-engah.

Sudou dan Shibata sama-sama cocok dalam hal kecepatan. Tidak, sama seperti yang Hirata katakan, jika menyerang dengan mempercepat sendiri maka Shibata mungkin adalah yang paling unggul. Tergantung pada pertandingan dan waktunya, kurasa Sudou juga tidak terkalahkan.

Dalam kasus apapun, Sudou secara menakjubkan mengamankan posissi pertama tiga kali berturut-turut. Dia salah satu dari tahun pertama terbaik sekolah kami.

Sudou, yang kembali dengan mempesona, mulai bertindak seperti banteng terhadap Ike yang melangkah mundur ke belakang.

"Aku sudah menonton. Kanji, kau diposisi ke-6 kan !?"

"K-Kau hampir tidak mendapatkan posisi pertama juga, kan? Kita itu sama saja!"

Mereka sama sekali tidak sama. Dengan mengatakan sesuatu yang tidak perlu seperti itu, Ike tercekik.

"Aku menempati posisi pertama. Shibata juga cukup cepat. Aku mengalahkannya"

Menjatuhkan Shibata ke posisi kedua setelah mengamankan posisi pertama dua kali berturut-turut itu pertanda baik bagi Sudou, yang bertujuan menjadi yang terbaik di antara tahun sekolah kami.

***

Kami bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat karena kami harus mempersiapkan lomba tiga kaki. Di sisi lain, lomba rintangan untuk para perempuan sudah berubah drastis dari ronde pertama.

Horikita sudah berusaha sebelumnya demi hasil saat ia memisahkan diri dari kelas C dari awal.

"Aku pernah melihat ini sebelumnya"

"Sepertinya dia ada di grup yang sama dengan Yajima-san dan Kinoshita-san lagi"

Horikita punya potensi tinggi, bukan hanya olahraga tetapi juga dalam studinya dan berbagai macam hal. Namun, bukan tugas yang mudah untuk mengalahkan seseorang yang berspesialisasi di bidang tertentu.

Saat pertandingan dimulai, Kinoshita melesat maju. Dia berhasil mencapai balok keseimbangan sebelum orang lain dan secara paksa menciptakan jarak antara dirinya dan mereka yang mengikuti di belakang.

Yajima ada di poisi kedua. Dan Horikita yang mengikuti mereka adalah bagaimana pertandingan dimulai. Tidak seperti lari 100 meter atau perlombaan lari yang murni menguji hanya kecepatan dan stamina seseorang, ada berbagai hal yang tidak diketahui yang terlibat dalam bentuk rintangan dan oleh karena itu jaraknya tidak melebar seperti yang dipikirkan.

Setelah melewati balok keseimbangan, celah itu menyusut ke titik dimana mereka hampir berbaris di samping satu sama lain.

"Sepertinya ada kesempatan untuknya, kali ini"

Di samping, Sudou juga menyemangati Horikita dan dia menggenggam tinjunya erat-erat saat dia memperhatikannya. Pada saat mereka menyeberangi jaring, Horikita akhirnya memimpin.

Namun, Kinoshita juga pelari yang cepat. Mengambil keuntungan dari jarak antara rintangan yang dia dekati dan memperpendek jarak. Kemudian dia mengambil posisi kedua lagi untuk dirinya sendiri.

Posisi Yajima sebagai posisi pertama mungkin tidak akan terancam. Horikita berlari sebaik-baiknya untuk mencoba dan mencuri posisi kedua. Horikita mendekati Kinoshita saat dia kehilangan sedikit keseimbangannya saat mencapai karung.

Kemudian, begitu dia melewatinya, dia mulai berlari dengan sekuat tenaga dan mengguncangnya.

Perbedaan antara mereka adalah 1 atau 2 detik sepertinya. Horikita berlari dengan kecepatan penuh untuk 50 meter yang tersisa. Ngomong-ngomong, mungkin dia khawatir tentang Kinoshita yang mendekatinya dari belakang, saat dia mengalihkan tatapannya berulang kali.

Itu mungkin menyebabkan dia terhenti sekali lagi, Horikita dan Kinoshita berbaris di samping satu sama lain. Pada saat berikutnya, Horikita, yang telah berusaha berlari lebih cepat dari Kinoshita, dan Kinoshita yang sedang mengejar, saling bertabrakan dan saling menjatuhkan.

"Woah !? Hei, sesuatu yang besar terjadi!"

Aku tidak bisa mengatakannya dari jauh mana yang menambrak yang lain tetapi kelihatannya itu terjadi sebagai akibat dari perjuangan mereka.

Sementara mereka berdua bangkit kembali, yang lain melewati mereka satu demi satu dan dalam sekejap, mereka terjatuh hingga ke dasar. Mungkin mereka tidak bisa segera mundur, karena mereka berdua dengan putus asa mencoba untuk kembali berdiri dibalik awan debu. Meskipun mereka entah bagaimana bisa melanjutkan pertandingan, insiden itu memiliki efek kuat sampai akhir dan Horikita datang di posisi ke-7 yang mengejutkan. Yang lain yang jatuh, Kinoshita, berakhir dengan posisi terakhir karena rasa sakit di kakinya mencegahnya melanjutkan pertandingan.

Dia pasti menyesal karena dia berakhir seperti ini setelah masuk ke posisi pertama.

Dan dengan ini, posisi ke-1, posisi ke-3 dan posisi ke-7, ya? Sejauh pertandingan ini, tidak ada pilihan lain selain menganggapnya sebagai insiden kesialan tapi....

"........."

"Ada apa, Ayanokouji-kun?"

"Jika 'kebetulan' ini terjadi lagi, aku mungkin tidak bisa lagi menganggapnya sebagai 'kebetulan' belaka."

Aku mengangkat topik yang tidak aku bicarakan sebelumnya dengan Hirata.

"Seperti yang aku pikirkan, kau juga berpikir begitu? Menurutku murid lain juga mulai secara bertahap menyadarinya juga. Tapi itu berarti... bahwa sesuatu mulai bergerak ke arah yang buruk, kan?"

Sayangnya, penilaiannya sangat benar.

"Jika ada murid yang sudah mengetahui hal ini, Apa aku bisa memintamu merawat mereka?"

"Tentu saja. Itulah peranku. Tapi bukannya ada sesuatu yang bisa kita lakukan....?"

"Akan lebih bagus lagi jika ada"

Aku merasa lega melihat Hirata menerima tugas tanpa ada ketidakpuasan, jadi aku menuju ke para perempuan yang sepertinya tidak puas.

Horikita memiliki ekspresi suram di wajahnya yang kembali setelah lomba rintangannya. Situasinya jelas seperti siang jika kau melihatnya berjalan dan posturnya yang menimbulkan rasa tidak nyaman.

"Apa itu menyakitkan?"

"..... hanya sedikit. Tapi tidak sampai mempengaruhi pertandingan. Jika aku beristirahat sebentar, aku akan baik-baik saja"

Dia melakukan tindakan yang keras kepala seperti itu tetapi hanya dari duduknya, sepertinya dia mengalami masa yang sulit. Menempa diri ku sendiri dengan melawan kemarahannya, aku mencoba menyentuh bagian di mana aku percaya luka itu ada.

"!?"

"Tidak akan ada efek apa pun katamu?"

"Jangan sentuh aku. Dan juga, jangan hiraukan aku. Aku harus menanggungnya"

Berada di posisi di mana menang adalah tugas yang bisa menyakitkan pada saat-saat seperti ini. Terlebih lagi bagi orang-orang seperti Horikita, yang membanggakan diri karena mampu menghasilkan hasil.

"Aku pikir jika kau absen, kau bahkan tidak akan mendapatkan poin apa pun, jadi aku mengerti keinginanmu untuk tetap bertahan di sana"

Aku pikir dia akan memelototiku karena menyebabkan rasa sakit, tetapi Horikita mulai berbicara tentang sesuatu yang sama sekali berbeda.

"Yang lebih penting, yang menarik perhatianku adalah perempuan itu. Hampir seperti kontak yang dilakukan karena dendam"

"..... dan artinya?"

"Ketika dia berlari di belakangku, dia memanggil namaku berkali-kali."

Jadi itulah sebabnya dia berbalik untuk melihat sesekali selama pertandingan.

"Tentu saja aku pikir itu aneh. Tapi segera setelah aku melihatnya lagi, kami bertabrakan satu sama lain dan beristirahat persis seperti yang kau lihat. Aku akan keberatan, tapi jika ini tabrakan biasa,  seharusnya tidak memanggil namaku"

Tentu saja, ada kemungkinan besar bahwa ini adalah serangan mendadak.

"Jujur, aku tidak bisa mengimbanginya... berpikir jika kami masih di tengah-tengah semua ini ...."

Menurut seluruh laporan sekolah, Horikita akan menjadi orang ketiga yang terluka.

Ada tahun ke-2 yang jatuh saat balapan dan harus mundur karena cedera kaki tetapi dalam kasus mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena itu adalah insiden tunggal.

"Daripada khawatir tentang aku, kau harusnya lebih khawatir tentang dirimu sendiri. Hasilmu lebih buruk dari aku, kan?"

Horikita, yang mengambil posisi pertama, posisi ketiga dan kemudian posisi ke-7 karena tabrakan, saat ini berdiri di 30 poin. Aku berdiri di 27 poin. Sedekat mungkin, tidak ada perubahan fakta bahwa aku masih kalah.

"Aku akan melakukan yang terbaik. Tapi, jangan memaksakan diri juga, dengar?"

"Aku berniat berpartisipasi di pertandingan bahkan jika aku harus merangkak untuk melakukannya"

Meninggalkan Horikita, yang mengatakan kata-kata seperti itu, aku bergerak untuk mempersiapkan kontes berikutnya: lomba tiga kaki.

"Bagaimana kabar Horikita-san?"

Hirata, setelah memastikan situasi dari kejauhan, dengan cemas memanggilku.

"Cukup serius. Sepertinya akan mempengaruhi pertandingan berikutnya"

"Peristiwa yang parah"

Sementara kami mengikat tali, kami saling bertukar interaksi kecil.

Tidak lama setelah itu, perlombaan tiga kaki dimulai untuk anak-anak tahun pertama. Mereka mulai satu demi satu. Festival olahraga ini benar-benar diatur oleh sekolah dan pertandingan berlangsung tanpa sia-sia. Itu adalah kinerja yang cemerlang hampir setara dengan rencana yang terjadwal.

Karena perlombaan tiga kaki tidak terelakkan menjadi dua orang, akhirnya membentuk satu tim, jumlah tim yang berlari sekaligus adalah empat orang. Sudou, yang ada di kelompok yang mulai di depan kami, memendam kemarahannya dan memulai.

Rekan Sudou adalah Ike.
T/N: Waduh :v

Biasanya, itu akan dianggap konyol dan sangat beresiko tetapi melalui metode tertentu, kombinasi itu mengiring putaran menuju kemenangan.

"Uwaaa!"

Jeritan mengalir keluar dari Ike di tengah pertandingan. Rupanya sejak langkah pertama, teknik Sudou meledak. Dalam artian, ini adalah perlombaan tiga kaki utama, cara yang pasti untuk menang. Sudou, terjebak di tengah jalan dengan harus mengedong Ike, meraung sekuat tenaga. Di satu sisi, mirip dengan permainan curang, tapi hanya sekilas, itu masih berjalan sebagai perlombaan tiga kaki. Dia berhasil mengamankan tempat pertama sementara dengan paksa menopang Ike agar tidak membiarkannya jatuh.

"Seberapa sulit situasinya, Sudou-kun pasti sangat bisa diandalkan"

Aku merasa kasihan pada ike karena dialah yang dipilih sebagai pasangannya tetapi dia pasti merasa puas karena sudah menempati posisi pertama.

"Tentu saja dia bisa diandalkan. Tapi jika kita berbicara tentang kemenangan, maka Sudou saja tidak cukup."

Jika aku tidak bisa mengendalikannya, dia mungkin juga akan menjadi pisau bermata dua yang bisa menyakiti kami.

"Ayo ikuti Sudou-kun"

Seiring dengan kata-kata itu, Hirata memulai. Untungnya, tidak ada orang-orang lihai yang berada di kelompok yang sama dengan kami.

Karena kami cocok sebagai pasangan, sama dengan Sudou, kami berakhir dengan hasil akhir dari posisi pertama. Sekarang tidak ada yang harus mengeluh.

"Kyaa! Hirata-kun sangat keren!"

Namun, sorak-sorai dari para gadis yang diarahkan kepada Hirata menyakitkan untuk didengar...

Kemudian lomba tiga kaki perempuan dimulai dan di babak kedua, pasangan Horikita / Kushida mulai bersiap. Pasangan yang terdiri dari Horikita, yang belajar sedikit menerima dan Kushida, yang terlalu mau menerima. Hubungan di antara mereka sangat buruk tetapi karena kepentingan mereka selaras dengan kemenangan, seharusnya tidak ada masalah.

Sekarang saatnya untuk mempraktekan hasil latihan mereka.

Mereka terlihat membuat persiapan tanpa banyak memulai pembicaraan satu sama lain. Dari sudut pandangku, mengetahui urusan pribadi mereka, itu merupakan pasangan aneh, tapi dari sudut pandang Kelas D, mereka adalah pasangan yang melegakan, aman, dan berkemampuan.

Mereka memiliki awal yang menjanjikan sebagai posisi kedua. Bukan awal yang buruk dan sorak-sorai mulai bangkit.

"Berjuanglah, Suzune!"

Sudou, yang mengamankan posisi pertama, seenaknya dan melanggar janji mereka, memanggilnya dengan nama depannya tapi suaranya tidak selalu mencapai Horikita, Sudou mungkin akan baik-baik saja.

Namun, sorakan segera terhenti setelahnya dan peringkat mereka pun jatuh.

Sebelum aku menyadari, yang berlari di posisi pertama adalah gadis-gadis dari Kelas A. Itu adalah sepasang yang dipimpin oleh seorang gadis yang samar-samar memiliki aura yang sama dengan Horikita. Pada saat itu, pasangan Kelas C dengan Yajima di dalamnya yang berada di posisi kedua, mulai mengejar mereka.

"Ada yang aneh"

"Ahh? Apa?"

Sudou, yang sibuk bersorak-sorai, tidak begitu melihatku sebelum memotongnya seperti itu.

"Tidak ... aku pikir gerakan Horikita kaku"

"... karena kau mengatakannya, itu benar"

Horikita selalu menarik pasangannya dengan kekerasan selama latihan tetapi dalam acara yang sebenarnya, terlihat seolah-olah Kushida yang memimpin. Seperti yang aku duga, rasa sakit di kakinya mempengaruhi dirinya.

Aku sudah mempertimbangkan bahwa itu karena dia dipasangkan dengan Kushida tetapi sepertinya dia menerima banyak kerugian  dari kejatuhannya selama lomba rintangan.

Dia terlihat seolah-olah dia mendorong dirinya ke atas langkahnya sendiri tetapi tubuhnya tidak bisa berdiri, itulah kesanku. Daripada menyusut, kesenjangan antara posisi pertama dan posisi kedua mulai melebar secara bertahap dan Kelas B yang berlari di posisi terakhir mulai merayap pada mereka. Mereka berdua terlihat sudah memutuskan untuk berlari lebih cepat dari yang lain dengan berpindah rute. Tujuan mereka adalah untuk mengambil posisi di depan Kelas B dengan menghalangi jalan mereka ke depan.

Kelas B juga menyelip mereka tanpa goyah, tetapi karena kecepatan mereka hampir sama satu sama lain, itu tidak berjalan dengan baik.

Sorak-sorai juga bangkit saat perjuangan ketat atas posisi ketiga terjadi. Terlalu fokus dengan menghalangi jalan mereka, Horikita dan Kushida memberikan jalan sesaat yang memungkinkan Kelas B untuk membalikkan keadaan.

"Uwoooooo, mengecewakan!"

Mereka melakukan yang terbaik yang mereka bisa tetapi mereka datang di posisi terakhir. Kemenangan yang kami harapkan kini berkembang jauh.

***

10 menit istirahat terjadi, dan orang-orang menuju toilet atau minum seorang diri. Menuju ke UKS demi kompres, Horikita pergi ke gedung sekolah.

Bahkan jika itu hanya akan menuangkan air ke atas batu panas, masih lebih baik daripada tidak melakukan apa pun. 

Aku tidak pergi kemana-mana, dan malah tetap diam di tenda sambil mengamati kelas-kelas lain. Menurut kelompok, mungkin saja mengambil berbagai macam informasi hanya dengan mengamati mereka dari jarak jauh. Dan itu Kelas A, seperti yang aku duga, yang membuktikannya.

Hubungan bengkok di antara Katsuragi dan Sakayanagi menjadi pusat perhatian. Siapa pun bisa melihat dengan mata telanjang bahwa mereka jelas terbagi di antara dua faksi. Mungkin tidak ada pihak yang berniat berteman dengan yang lain, karena hampir tidak ada kontak di antara mereka. Tidak aneh bagi sebuah kelas jika memiliki dua pemimpin yang ditunjuk. Bahkan di kelas kami, selain memiliki Hirata sebagai yang utama, masih ada Karuizawa dan Kushida dan dalam hal ini, bahkan Sudou memimpin kelas. Tentu saja kami mengubahnya setiap saat, tetapi meskipun demikian, kelas kami masih bersatu. Kami tidak retak sampai ke titik dimana kami akan memiliki perselisihan pribadi.

Namun, aku bisa mengatakan bahwa ada antagonisme mencolok antara Kelas A. Ini adalah sesuatu yang tidak kami lihat di ujian sebelumnya dan sesuatu yang tidak bisa kami katakan hanya karena kelabian poin saja.

"Sangat mengesankan jika mereka mampu menjaga perselisihan internal mereka sampai sekarang"

Setelah semuanya, faksi Sakayanagi memiliki jumlah yang lebih besar.

Tidak lama setelah itu, ketika Hirata datang kepadaku setelah kembali dari toilet, aku memutuskan untuk menegurnya.

"Hei, murid macam apa Sakayanagi itu?”

"Aku mangerti jika kau juga ingin mau tau tentang dia, Ayanokouji-kun"

"Orang-orang akan penasaran jika mereka mendengar bahwa dia adalah pemimpin yang melebihi Katsuragi"

Apa yang tidak aku mengerti adalah pola pikir dari gadis bernama Sakayanagi. Selama festival olahraga ini, dia tidak mengeluarkan satu perintah pun dan terus diam, namun dia bersekongkol untuk mengambil tindakan yang mengganggu Katsuragi. Bukan konflik dengan kelas-kelas yang lain melainkan konflik dalam Kelas A. Sepertinya dia rela kehilangan poin selama itu memungkinkannya untuk mengeluarkan Katsuragi. Tentu saja, ada kemungkinan bahwa dia menghasut konflik ini untuk mendominasi kelas.

Tapi mengingat bahwa musuhmu akan menjadi temanmu. Pertama-tama, hal yang harus dilakukan adalah membangun kerja sama agar tidak kalah dari kelas lain.

"Dia sangat sopan, baik kepada orang-orang dan juga dewasa. Itu sebabnya aku tidak terlalu menganggap itu aneh. Murid dari kelas lain mungkin merasakan hal yang sama juga. Tapi, sepertinya itu berbeda dengan Kelas A. Aku sudah mendengar rumor bahwa dia agresif dan kejam "

Mungkin ada sisi yang tidak kami sadari, tetapi kami tidak bisa hanya mendengarkan kalimat dari orang-orang yang diserang dengan nilai nominalnya saja. Dan juga karena kami bahkan belum pernah berbicara dengannya. Selain itu, ini juga fakta bahwa bermain-main tidak akan mungkin di festival olahraga ini, terutama untuknya. Karena tubuhnya melarang dia latihan, dia mungkin tidak punya niat mengambil tindakan yang terang-terangan.

"Aku tidak berpikir ada yang perlu diwaspadai dari Kelas A saat ini karena kita adalah sekutu"

"Aku rasa begitu"

Tidak ada yang bisa didapatkan dari berkhianat. Paling tidak, mungkin tidak akan ada tindakan mengganggu yang diambil terhadap Kelas D dan aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa tidak akan ada tindakan seperti itu.

Di sisi lain, bagaimana dengan Kelas C? Tidak akan aneh jika mereka mengambil tindakan yang mengganggu kami. Aku melihat ke arah tenda lawan. Di sana, seolah-olah mereka melayani seorang raja, murid laki-laki berkumpul di sekitar Ryuuen, yang berada di tengah mereka. Sampai sekarang, dia adalah orang yang bertarung dengan strategi yang paling asing.

Bahkan di festival olahraga ini, dia bertarung dengan tujuan untuk mendekati dan menyakiti kelas-kelas lain secara mental dan merusak mereka seperti itu.

Secara khusus, Sudou jelas merupakan orang yang menerima pengaruh semacam itu. Selain itu, ada berbagai macam tipuan.

Lalu akhirnya aku bertanya-tanya, bagaimana dengan Kelas B yang harus berjuang melawan musuh yang tangguh seperti Kelas A sementara harus bekerja sama dengan Kelas C, yang pengkhianatan itu mungkin akan terjadi.

Ichinose dan kelompoknya, yang selalu ceria, optimis dan berusaha bertarung dengan adil. Pada pandangan pertama, aku merasa tidak ada yang penyimpang dari sikap mereka. Dari senyuman dan gerak-gerik yang terus menerus dari berbagai murid, aku bisa melihat bahwa mereka menikmati festival olahraga ini dari lubuk hati mereka.



Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter