Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5.Chapter 5 part 3

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5.Chapter 5 part 3

Light Novel Classroom elite Bahasa Indonesia Vol 5. Chapter 5 part 3



Pertandingan berikutnya adalah 'menangkap bendera'. Ini adalah persaingan tim yang sederhana, tetapi kasar dan sedikit berbahaya.

"Kita menang, semuanya. Karena si idiot Kouenji itu tidak ada di sini, kita harus lebih bersemangat!" Sudou berteriak.

Dia mendorong semua anak laki-laki dari Kelas D dan Kelas A berkumpul di depannya.

Di sisi lain, orang-orang yang akan dihadapi oleh kelompok Sudou, yaitu anak-anak Kelas B yang dipimpin oleh Kanzaki dan Shibata serta anak-anak Kelas C yang dipimpin oleh Ryuuen. Secara khusus, ada murid di Kelas C, meski tidak dikenal, terlihat kuat.

Ada Sakazaki dan Komiya, yang sama-sama terlibat dalam perkelahian dengan Sudou beberapa waktu yang lalu, dan ada juga murid setengah jepang setengah berkulit hitam berotot yang bernama Yamada.

Aku pernah melihatnya sesekali di sekolah, tapi aku penasaran seberapa kuat dia. Apakah ada banyak atau tidak cukup banyak murid di setiap kelas, tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan selain berjuang setelah memperhitungkan kekuatan kami saat ini.

Aturan pertandingan menentukan bahwa kelompok yang mendapatkan dua tangkapan akan menang. Selama diskusi mereka sebelumnya, Katsuragi dan Hirata sudah memutuskan bahwa kelas mereka akan bergantian di antara penyerang dan pertahanan.

Mereka pasti sudah memutuskan bahwa berpisah, membuat serangan dan pertahanan di sini adalah langkah yang sangat berisiko. Cara ini lebih mudah dipahami dan lebih bekerja sama. 

Kelas D akan melakukan penyerangan terlebih dahulu sementara Kelas A memiliki peran melindungi bendera. Jika formasi ini memungkinkan kami berhasil mendapatkan keuntungan di awal, maka rencananya adalah untuk tidak mengubah peran apapun.

"Jangan khawatir tentang itu. Bahkan jika aku sendirian, aku akan mengalahkan musuh-musuh kita"

"Bukan orang-orang, bukankah kita mengincar bendera .....?"

Aku mengatakan itu kepadanya karena aku sedikit khawatir.

"Aku tidak bisa menjamin hal itu. Aku kesal karena Kouenji. Grr"

Mungkin dia bermaksud menyerang mereka karena dia mengakui permusuhannya. Sudou memberikan jari tengah ke lawan kami.

"Lebih baik aku menjaga jarak....."

Takut terlibat, Ike dan yang lainnya perlahan mundur dari Sudou. Hal bijaksana untuk mereka.

Tim penyerang (terutama Sudou) menunggu peluit yang menandai dimulainya pertanding dengan ketidaksabaran di depan. Di sisi lain, tim bertahan yang terdiri dari Katsuragi dan yang lainnya berulang kali memastikan formasi mereka dan membangun pertahanan yang kuat.

Tentu saja, tindakan kekerasan yang mencolok seperti meninju dan menendang dilarang, tetapi tingkat keterjeratan tertentu mungkin akan diabaikan oleh sekolah.

Kebanyak meraih dan mendorong akan diantisipasi.

"Uuu... entah kenapa aku mulai gugup. Menangkap bendera adalah yang pertama bagiku ....."

"Bukankah kau pernah memainkan itu sebelumnya di festival olahraga SMP-mu?"

"Aku tidak diberitahu kalau itu akan menjadi pertandingan yang berbahaya. Apa kau pernah memainkannya, Ayanokouji?"

"Tidak .... ini juga yang pertama kalinya”

"Apa-apaan ini? Jadi ini juga yang pertama untukmu"

Di tengah basa basi ini, sinyal yang menandakan mulainya pertandingan berbunyi. Dan Sudou menyerang di depan yang lainnya.

Anggota yang lebih aktif mengikuti setelahnya.

"Gawat, ayo Ayanokouji! lebih baik jika aku tidak terbunuh oleh Sudou karena malas-malasan!"

Ike, Yamauchi dan aku, yang tidak cocok dengan konflik, mengikuti perlahan di belakang kelompok yang lebih aktif. Sama seperti kami, perkumpulan B dan C juga membagi kelasnya dengan rapi di antara penyerang dan pertahanan.

Mungkin hal yang jelas ini harus dilakukan mengingat kerjasama di antara mereka akan lebih sulit daripada kumpulan D dan A. Di babak pertama, sepertinya Kelas B lah yang mempertahankan bendera di pihak mereka.

Orang-orang dari Kelas B menunggu di depan.

Ngomong-ngomong, kami dilarang menyerang tim demi berinteraksi dengan tim penyerang yang lainnya.

Paling tidak aturannya adalah bahwa tim penyerang harus selalu menyerang tim bertahan.

"Siapa pun yang ingin mati, kemarilah!"

Mengatakan sesuatu yang sangat berbahaya seperti itu, Sudou merobek tim bertahan lawan. Kemudian, dengan ketinggian dan kekuatan yang membuatnya sulit untuk percaya bahwa dia adalah murid tahun pertama sekolah SMA, dia menangis kepada murid di sekitar bendera satu per satu.

"Berhentiii...! Hentikan Sudou...!"

Sebagian dari tim bertahan mengelilingi Sudou, ditemani oleh teriakan dari Kelas B.

"Hei kalian, cepat ikuti! Aku akan membukakan jalan untuk kalian!"

Sudou berteriak kepada kelompok yang maju mengikuti dari belakangnya tanpa menoleh ke belakang. Namun, segalanya tidak sesederhana itu. Situasi tersebut berangsur-angsur menjadi kacau, hampir seperti medan perang, dan banyak debu.

Aku mengandalkan murid Kelas B mengatasi situasi itu tanpa perlu menjadi berguna atau menghambat.

"Sial, berapa banyak yang akan diberikan kepadaku!"

Tiga atau empat murid laki-laki mendorong kembali Sudou dengan tubuh mereka dan bahkan dengan kekuatannya yang dilampaui.

Di sisi lain, kelompok yang maju juga, di ambang yang hampir menerobos, tiba-tiba terputus. Masalah Kelas D adalah meskipun memiliki kekuatan penyerang dari Sudou, hampir tidak ada orang lain dengan kekuatan semacam itu. Sebaliknya, Kelas B punya banyak murid yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Terutama yang tidak agresif sepertiku dan Profesor, tanpa berkontribusi kepada penyerangan, akhirnya bertanggung jawab untuk itu sebagai gantinya.

"Ini gawat, Ken! Kelas A! Setengah itu, Yamada atau siapa pun namanya, akan mengamuk!"

"Hah!?"

Saat dia berbalik ke arah suara itu, bendera Tim Merah yang Kelas A lindungi sekarang sedikit miring. Karena Kelas C penuh dengan orang-orang kasar seperti Sudou ... tidak, murid yang hampir seperti petarung, merupakan tugas yang mudah bagi mereka untuk menembus pertahanan kami.

Jika kami melakukan perkelahian satu sama lain, jelas siapa yang untung dan siapa yang dirugikan.

Selain itu, jika Ryuuen memerintahkan mereka untuk menyerang kami, itu mungkin akan menjadi perjuangan yang sia-sia. Kami harus melakukan sesuatu tetapi Sudou, yang rentan, juga dihalangi oleh empat dari lima orang dan tidak bisa melakukan apapun. Kami benar-benar terkunci. Tentu saja, sudah cukup mengesankan jika kami melawan banyak orang seperti itu. Sudou dengan putus asa mencoba bergerak ke arah bendera, tetapi dengan cukup kejam, peluit berbunyi.

Tim Putih dengan mudah akhirnya menyelesaikan satu pengambilan.

"Ahh, sial! Apa yang kalian lakukan !? Gunakan kekuatan fisik kalian!"

Sambil memelototi bendera yang tergeletak dengan kejam, Sudou memberikan kemarahannya kepada Kelas D yang tidak bisa melancarkan serangan.

"Bahkan jika kau mengatakan itu.... orang-orang itu cukup kuat. Oww.... Aku tergores"

"Hanya luka luar, kan? Bertahanlah, kau sudah membentur dan menendang mereka, dasar tidak berguna!"

Aku mengerti perasaan itu, tetapi keduanya adalah langkah yang jauh dari permainan kotor dan diskualifikasi.

"Mau bagaimana lagi, mereka memenangkan satu putaran. Selanjutnya, ayo lindungi dengan lebih baik diri kita sendiri"

Dengan lembut menepuk bahu Sudou dan begitu dia tenang, Hirata mengembalikan bendera yang jatuh.

"Tch ... kita pasti akan melindunginya, kalian mengerti !?"

"K-Kami mengerti... Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa..."

"Tidak hanya apa yang kalian bisa, kita  pasti akan melindunginya. Tidak masalah jika selama satu jam atau dua jam!"

Jika ada hal lain yang tidak dimiliki Kelas D, itu pasti adalah kerjasama dan motivasi. Mereka berdua, termasuk aku juga, tapi selain dari beberapa murid, sisanya tidak punya ambisi apapun.

Sehubungan dengan itu, Kelas B dari sebelumnya yang berada di pertahanan memiliki kerja sama dan motivasi tinggi dan dengan begitu, adalah musuh yang tangguh.

"Ayanokouji, jangan biarkan bendera itu jatuh bahkan jika kau mati! Karena kau adalah yang kedua di kelas!"

Sebagai catatan, karena aku di penyerang berada di setelah Sudou, aku harus melindungi bendera di sampingnya.

Aku tidak bisa sembarangan sekarang karena aku diawasi oleh Sudou, yang dengan sendirinya menjaga bendera itu.

"Jangan main-main denganku, aku tidak akan membiarkan mereka menang beruntun. Aku akan mengalahkan bajingan Ryuuen itu"

Omong-omong, selama putaran pertama sebelumnya, Ryuuen yang menjadi bagian dari tim penyerang, hanya memainkan peran sebagai pengamat. Itu karena mereka sudah mendominasi tanpa membutuhkannya ikut bergabung. Sudou mungkin tidak tahan dengan fakta itu.

"Keluarlah, C. Keluarlah, C".

Sudou terus-menerus membisikkan itu tapi jujur, akan sulit jika kelas C yang berkuasa berkumpul dan mengejar kami. Kurasa akan lebih mudah bagi kami jika Kelas B yang menyerang kami.

Ketika kedua belah pihak menyelesaikan persiapan mereka, awal putaran kedua sudah dekat. Sekarang...!

"Ini dia, ini dia. Mereka datang!"

Rupanya segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kuharapkan dan itu berakhir dengan cara Sudou. Membangun serangan, murid-murid kuat dari Kelas C memelototi kami. Kemudian pemimpin yang membawa kelas itu bekerjasama, Ryuuen, juga tertawa dengan berani dari belakang.

Hampir seolah dia adalah seorang ahli taktik yang memimpin medan perang dan bersama dengan sinyal untuk memulai pertandingan, dia memberi mereka perintah untuk menyerang.

Itu kemungkinan hanyalah instruksi yang sederhana.

Di bawah kata-kata 'menjatuhkannya' adalah para tentara yang ketakutan oleh tirani. Murid-murid dengan tubuh besar mirip dengan Sudou, terlihat seperti mereka adalah tipe dari klub olahraga, datang mengisi.

Mereka menyerang kami seperti tembok yang maju tanpa terburu-buru.

Jeritan bangkit dari murid Kelas D di semua tempat. Murid-murid bertahan yang menyusun dinding luar perlahan berkurang jumlahnya.

"Berdiri! Pegang kaki mereka dan tarik ke bawah!"

Kata-kata dorongan Sudou yang tidak masuk akal ditenggelamkan oleh lengkingan marah lawan kami.

Kelas C berulang kali menggunakan serangan siku yang hampir masuk ke wilayah permain kotor dan dalam waktu singkat, mereka menerobos ke dinding bagian dalam. Katsuragi dan yang lainnya dari Kelas A juga sudah maju ke titik bahwa mereka hampir bisa menyentuh bendera tapi aku ingin tahu apa mereka akan berhasil tepat waktu.

"Guah !?"

Aku bisa mendengar suara kesakitan dari Sudou, yang mendukung bendera di depanku. Seseorang bernama Yamada sudah berjalan mendekati Sudou. 

Fisiknya jauh melampaui Sudou.

Bendera yang kami lindungi sekarang sedikit miring.

"Siapa yang memukul perutku !?"

Rupanya, selama kekacauan itu, seseorang sudah menyerang Sudou secara langsung. Selain itu, tidak hanya sekali atau dua kali suara-suara sakit dan kemarahan bercampur. Tapi bagi Sudou, yang harus memegang bendera dengan kedua tangannya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyemangati dan menanggungnya.

"Rasanya sakit, aku bilang itu sakit, dasar bajingan!"

Hanya dengan bertarung dengan suaranya sendiri, Kelas C tidak menunjukkan tanda-tanda menghentikan tindakan mereka. Sudou berlutut kesakitan. Namun demikian, aku ingin memuji semangat juangnya yang masih mencoba melindungi bendera.

Seseorang lalu melangkah tanpa alas kaki ke punggung Sudou. Kemudian, seolah-olah menegaskan keunggulannya, dia menjatuhkan punggung Sudou dengan kekuatannya.

"Gah!?"

Bahkan di tengah-tengah semua ini, berdesak-desakan selama pertandingan, itu adalah pukulan kejam yang memanfaatkan titik vital. Tak perlu dikatakan lagi bahwa yang bertanggung jawab adalah Ryuuen.

"Dasar. Bajingan! Guh!"

Dia sekali lagi melangkah tanpa ragu-ragu sampai pada titik yang kupikir tulang punggungnya sudah patah.

Ketika Sudou tumbang karena pukulan itu, sekarang kehilangan penjaganya, bendera itu roboh setelah menendang awan pasir.

Dalam sekejap mata, hasilnya diputuskan.

Sambil tertidur di tanah, Sudou memelototi laki-laki yang menginjaknya, Ryuuen.

"Hah, hah. Dasar brengsek ... itu perbuatan licik!"

"Hmm? Jadi kau ada di sana? Aku tidak menyadarinya"

Mengatakan itu tanpa jejak rasa takut, dia menarik bendera itu. Sudou mencoba mengejarnya tetapi sepertinya punggungnya masih sakit karena dia tidak bisa berdiri kembali.

Perkumpulan D dan A mendapatkan kekalahan besar.

"Apa punggungmu baik-baik saja?"

"Kuh ... entah kenapa .... sial, sial!".

Yang lebih besar dari rasa sakitnya adalah kemarahan karena sudah menjadi korban serangan main curang yang tidak masuk akal yang tidak bisa ditahannya.

"Bajingan sombong itu, jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan memukulnya...!"
.
"Kau akan menimbulkan keributan lagi. Apa kau mau melakukannya lagi?".

Dengan itu, maksudku insiden dimana Sudou berkelahi dengan Kelas C dan hampir dikeluarkan. Lebih jauh lagi, jika Sudou yang menginisiasinya maka kali ini dia akan menerima hukuman untuk itu.

"Jadi tidak masalah jika dia melakukannya dan tidak jika aku yang melakukannya? Lihatlah bekas-bekas di punggungku!"

"Aku mengerti apa yang coba kau katakan, tapi itu hanya akan dilihat sebagai tindakan yang secara alami terjadi selama pertandingan"

Ryuuen dan Sudou, mereka berdua mencoba melakukan hal yang sama tetapi ada perbedaan besar dalam teknik mereka.

Kali ini, itu adalah aksi yang terjadi ketika semua murid tercampur selama pertandingan dan awan pasir tertendang ke mana-mana. lagipula, dia memilih waktu yang bagus dan cara tepat untuk menyerang.

"Ahh ini membuatku kesal! berpikir bahwa aku berencana memenangkan setiap pertandingan!"

Dari kekesalan yang dia rasakan terhadap Ryuuen, dia berbalik ke Kelas D dan Kelas A yang mengecewakan dan secara terang-terangan menyuarakan ketidaksenangannya.

Karena Kelas A juga mendengarnya, beberapa dari mereka membalas dengan tatapan tajam.

Beberapa dari mereka mencoba untuk membalas tetapi Katsuragi mencegah mereka dan sesuatu yang tidak sampai pada hal itu.

"Maaf karena tidak berguna ....."

"Aku juga. Itu juga karena kita tidak bisa melindunginya dengan benar. Ayo kita coba lagi lain kali"

Hanya Katsuragi dan Hirata yang dengan tenang menerima hasilnya dan untuk saat ini kami memutuskan untuk bubar dan kembali ke tenda kami sendiri.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter