Light Novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu chapter 58 Bahasa indonesia Arc 4

Light Novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu chapter 58 Bahasa indonesia Arc 4



Nenek


Keluar dari kediaman terpencil itu bersama dengan Lewes dan Pico, Subaru melihat cahaya fajar mulai terbit di ufuk timur dan merasa mengantuk untuk pertama kalinya malam ini.

“Woah, matahari sudah mau terbit.... banyak ya yang terjadi malam ini.”

Memang tidak terasa, tapi malam ini sangatlah panjang, dimulai dengan Ujian pertama Emilia, diikuti Ujian Subaru, Return by Death, rapat seusai Ujian, perdebatan dengan Garfiel, dan menemukan bangunan rahasia sebelum menghabiskan sisa malam dengan mempelajari rahasia Sanctuary dari Lewes.
Penggunaan waktu yang padat dan perkembangan yang sangat cepat ini benar-benar membuat Subaru kepayahan.
Dan, tidak seperti otaknya, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kelelahan pada tubuhnya yang terus bekerja tanpa henti. Ketidakseimbangan antara kelelahan mental dan fisik ini bisa disebut adalah salah satu kerugian Return by Death.

“Jujur saja, aku ingin kembali ke Katedral dan tidur sampai siang......”

“Takkan ada yang keberatan jika kau melakukannya. Aku juga berencana beristirahat panjang setelah serah terima dengan Lewes berikutnya.”

“Meski aku agak iri dengan rotasi yang kalian miliki, aku sudah kehabisan waktu, jadi yah mau bagaimana lagi....”

Enam hari... atau lebih tepatnya, 5 hari, karena satu hari telah berlalu. Dan mengingat dia harus menghabiskan waktu seharian penuh untuk satu kali perjalanan ke Mansion, bisa dibilang hanya ada waktu 3 hari yang bisa dia gunakan.
Menghabiskan setengah hari yang berharga dengan tidur adalah sesuatu yang tidak boleh dia lakukan, tapi, di saat Echidona sudah tahu kalau Subaru bisa melihat masa depan, dia masih ragu apakah dia harus memberitahu Lewes atau tidak.

“Itu mungkin akan membuat Penyihir Kecemburuan muncul kembali, jadi sebaiknya jangan.....”

Keringat muncul di dahi Subaru saat momen sang Penyihir menelan Sanctuary ke dalam bayangan terlintas dalam kepalanya.
Entah bagaimana dia bisa tahu kalau bencana itu adalah akibat karena dia terlalu banyak bicara saat berada di dalam mimpi Echidona. Membeberkan informasi terlarang yang berada di luar toleransi sang Penyihir, Subaru berhasil mengundang kemarahannya sekaligus segala sesuatu yang mengikutinya.
Dia pikir, pasti akan sangat beruntung jika sang Penyihir hanya memberikan hukuman yang biasa padanya di dunia nyata, di mana sang Penyihir melayangkan tangannya langsung pada Subaru....

“Aku benar-benar ingin mencobanya, tapi karena ini bisa juga melibatkan nyawa orang lain...... sebaiknya jangan deh.”

Memutuskan hal tersebut dengan pelan, Subaru menatap ke arah Pico yang berdiri memegang tangan kirinya. Menerima tatapan Subaru, seolah bersiap melaksanakan perintah berikutnya, mata bulat gadis itu terlihat menjadi semakin bulat.
Sepertinya perintah pertama Subaru membuatnya sadar akan perpindahan otoritas komando. Dan sekarang, Pico sudah seperti bayi burung yang menatap induknya.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Su-bo?”

“Mungkin kembali ke Mansion. Ada seseorang di sana yang ingin kuajak bicara.... dan aku juga ingin bertemu dengan Frederica. Ada banyak hal yang ingin kumintai penjelasan darinya.”

“Frederica, ya.....”

Menyebut nama maid yang terlintas di pikirannya, Subaru melihat kerutan di dahi Lewes, seolah ada suatu makna lain ketika ia mendengar Subaru menyebutkan nama itu. Bereaksi seperti ini benar-benar tidak seperti Lewes.

“Apa hal itu membuatmu ingat sesuatu? Soal Frederica?”

“.... Tidak, bukan sesuatu yang penting.”

“Lewes-san, kalau bisa, aku tidak ingin menggunakan otoritas komandoku.... aku benar-benar tidak ingin jika sampai harus memerintahkanmu untuk bicara.”

Subaru mengangkat bahunya, memohon kepada Lewes untuk bicara. Tapi di balik kata-kata itu, matanya menajam seolah bilang 'aku akan menggunakannya jika memang dperlukan'. Melihat hal tersebut, Lewes pun menghela napas,

“Bukan apa-apa, hanya saja, semenjak Frederica pergi, sedikit demi sedikit rasanya roda gerigi Sanctuary mulai tergelincir.”

“Tergelincir?”

“Meski aku tidak yakin apa kau bisa menyebutnya sehat..... dulu, entah itu penduduknya, para klon Lewes ataupun Gar-bo, tak ada satupun dari mereka yang merasa setegang seperti sekarang.”

“.....”

“Kau tahu, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadapmu, Su-bo.”

Subaru hanya terdiam, Lewes menatapnya dan mengatakan hal tersebut.
“Ekspektasi”. Dia merasakan gejolak di dadanya saat mendengar kata itu. Karena, kata tersebut mengingatkannya pada......

“Untuk waktu yang sangat lama, Sanctuary terus memenuhi tujuan yang telah lama hilang. Konsistensi itu kini membuat lubang di mana-mana. Itulah kenapa aku punya ekspektasi yang tinggi terhadapmu, Su-bo.”

“Apa, aku bisa......”

“Obsesi sang Penyihir, alasan keberadaan Sanctuary, dan keinginan Lewes Meyer. Aku sangat tidak sabar melihatmu membawa hasil yang bisa memenuhi harapan semua orang.”

Sebuah beban yang begitu berat berada di pundaknya.
Subaru sebenarnya ingin langsung mengatakan “Aku tidak bisa melakukannya”. Tapi, setelah melihat tatapan sepenuh hati Lewes,

“.....”

Kata-kata itu tercekat di tenggorokannya.

“Tak apa. Untuk saat ini.... semuanya sudah cukup bagus.”

Melihat keraguan dan keengganan Subaru, seolah memahami semuanya, Lewes pun mengangguk.
Penampilannya memang tidak lebih tua dari seorang anak kecil, tapi di saat seperti inilah Subaru benar-benar mengerti kalau dia memiliki kualitas yang sesuai dengan usianya.

“Sepertinya waktuku sudah hampir habis.”

Ucap Lewes dengan penuh sesal, tubuhnya kini mulai memancarkan cahaya redup.
Hal itu mengingatkannya pada roh yang akan segera menghilang, pikir Subaru sambil mengulurkan tangannya ke arah Lewes, tapi,

“Jangan khawatir. Aku belum akan menghilang menjadi mana. Aku hanya akan tidur sampai manaku terkumpul kembali. Secepatnya akan ada Lewes lain yang menggantikanku.”

“Tapi..... meskipun wajah dan suara kalian sama, kalian bukan orang yang sama, kan?”

“Kurasa kau ada benarnya. Penampilan, suara, dan kepribadian kami memang sama..... tapi kami tetaplah orang yang berbeda. Jadi hanya orang tua yang sekarang berbicara denganmu inilah yang benar-benar aku. Apa itu membuatmu kesepian?”

“Ini bukan masalah aku kesepian atau tidak. Lewes-san... apa kau tidak merasa sedih? Apa kau tidak marah karena ada 4 orang yang bergantian menjadi Lewes Meyer? Tidak pernahkah kau berangan-angan di mana kehidapanmu........”

Berhenti di tengah kalimat, Subaru sadar betapa kejam pertanyaannya.
Bahkan jika Lewes berpikir demikian, dan bahkan jika gadis ini benar-benar menderita dan sedih karena keadaannya, Subaru tahu betul kalau tak ada yang bisa dia lakukan.

Subaru tidak paham soal prinsip sihir, tidak tahu detail soal mana, dan bahkan tidak mengerti hal paling sepele mengenai algoritma sihir. Jadi apa gunanya menyampaikan penyesalan itu?
Lewes nampaknya memahami konflik yang ada di pikiran Subaru. Dia tersenyum kecil saat rambut pink-nya melambai tertiup angin dan dihias oleh warna fajar.

“Bagaimana menurutmu, Su-bo?”

“..... Huh?”

“Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.... juga merupakan hal lain yang kuharapkan darimu.”

Mengucapkan hal tersebut, layaknya kabut tipis, tubuh Lewes menghilang di antara cahaya pagi.
Tak jauh beda dengan kabut, meski sulit untuk mempercayainya, adegan ini benar-benar seperti adegan yang berasal dari dunia mimpi. Seseorang menghilang begitu saja di antara cahaya fajar.
Meskipun Lewes sudah memberitahu Subaru kalau dia tidak akan benar-benar menghilang, rasanya sulit untuk menerima kata-katanya.
Tapi, di saat yang sama, sosok lain segera muncul di tempat di mana Lewes menghilang.
Entah penampilan ataupun posturnya, semuanya sama seperti Lewes yang barusan menghilang.
Dia menggelengkan kepalanya sekali dan menatap ke arah Subaru,

“Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi, Su-bo. 'Aku' yang sebelumnya sudah mengisiku dengan semua tentang dirimu.”

Seolah ingin menghilangkan keraguan Subaru, Lewes yang baru pun memperbaharui pemahaman mereka.
Dan pada akhirnya, gadis itu memiringkan kepalanya,

“Jadi Su-bo.... apa yang akan kau lakukan lebih dulu?”

“Ah, benar......”

Subaru mengangkat kepalanya.
Menyaksikan cahaya fajar mengikis langit malam, pemikirannya terselip di antara waktu yang telah berlalu dan waktu yang masih tersisa untuknya.
Kemudian, matanya beralih ke arah Lewes dan Pico, lalu,

“Hal pertama yang akan kulakukan adalah keluar dari Sanctuary. Dan untuk itu, aku butuh bantuan kalian, Lewes-san.”

Dan begitulah, Subaru menyampaikan permintaannya.


Nenek.

Keluar dari kediaman terpencil itu bersama dengan Lewes dan Pico, Subaru melihat cahaya fajar mulai terbit di ufuk timur dan merasa mengantuk untuk pertama kalinya malam ini.

“Woah, matahari sudah mau terbit.... banyak ya yang terjadi malam ini.”

Memang tidak terasa, tapi malam ini sangatlah panjang, dimulai dengan Ujian pertama Emilia, diikuti Ujian Subaru, Return by Death, rapat seusai Ujian, perdebatan dengan Garfiel, dan menemukan bangunan rahasia sebelum menghabiskan sisa malam dengan mempelajari rahasia Sanctuary dari Lewes.
Penggunaan waktu yang padat dan perkembangan yang sangat cepat ini benar-benar membuat Subaru kepayahan.
Dan, tidak seperti otaknya, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kelelahan pada tubuhnya yang terus bekerja tanpa henti. Ketidakseimbangan antara kelelahan mental dan fisik ini bisa disebut adalah salah satu kerugian Return by Death.

“Jujur saja, aku ingin kembali ke Katedral dan tidur sampai siang......”

“Takkan ada yang keberatan jika kau melakukannya. Aku juga berencana beristirahat panjang setelah serah terima dengan Lewes berikutnya.”

“Meski aku agak iri dengan rotasi yang kalian miliki, aku sudah kehabisan waktu, jadi yah mau bagaimana lagi....”

Enam hari... atau lebih tepatnya, 5 hari, karena satu hari telah berlalu. Dan mengingat dia harus menghabiskan waktu seharian penuh untuk satu kali perjalanan ke Mansion, bisa dibilang hanya ada waktu 3 hari yang bisa dia gunakan.
Menghabiskan setengah hari yang berharga dengan tidur adalah sesuatu yang tidak boleh dia lakukan, tapi, di saat Echidona sudah tahu kalau Subaru bisa melihat masa depan, dia masih ragu apakah dia harus memberitahu Lewes atau tidak.

“Itu mungkin akan membuat Penyihir Kecemburuan muncul kembali, jadi sebaiknya jangan.....”

Keringat muncul di dahi Subaru saat momen sang Penyihir menelan Sanctuary ke dalam bayangan terlintas dalam kepalanya.
Entah bagaimana dia bisa tahu kalau bencana itu adalah akibat karena dia terlalu banyak bicara saat berada di dalam mimpi Echidona. Membeberkan informasi terlarang yang berada di luar toleransi sang Penyihir, Subaru berhasil mengundang kemarahannya sekaligus segala sesuatu yang mengikutinya.
Dia pikir, pasti akan sangat beruntung jika sang Penyihir hanya memberikan hukuman yang biasa padanya di dunia nyata, di mana sang Penyihir melayangkan tangannya langsung pada Subaru....

“Aku benar-benar ingin mencobanya, tapi karena ini bisa juga melibatkan nyawa orang lain...... sebaiknya jangan deh.”

Memutuskan hal tersebut dengan pelan, Subaru menatap ke arah Pico yang berdiri memegang tangan kirinya. Menerima tatapan Subaru, seolah bersiap melaksanakan perintah berikutnya, mata bulat gadis itu terlihat menjadi semakin bulat.
Sepertinya perintah pertama Subaru membuatnya sadar akan perpindahan otoritas komando. Dan sekarang, Pico sudah seperti bayi burung yang menatap induknya.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Su-bo?”

“Mungkin kembali ke Mansion. Ada seseorang di sana yang ingin kuajak bicara.... dan aku juga ingin bertemu dengan Frederica. Ada banyak hal yang ingin kumintai penjelasan darinya.”

“Frederica, ya.....”

Menyebut nama maid yang terlintas di pikirannya, Subaru melihat kerutan di dahi Lewes, seolah ada suatu makna lain ketika ia mendengar Subaru menyebutkan nama itu. Bereaksi seperti ini benar-benar tidak seperti Lewes.

“Apa hal itu membuatmu ingat sesuatu? Soal Frederica?”

“.... Tidak, bukan sesuatu yang penting.”

“Lewes-san, kalau bisa, aku tidak ingin menggunakan otoritas komandoku.... aku benar-benar tidak ingin jika sampai harus memerintahkanmu untuk bicara.”

Subaru mengangkat bahunya, memohon kepada Lewes untuk bicara. Tapi di balik kata-kata itu, matanya menajam seolah bilang 'aku akan menggunakannya jika memang dperlukan'. Melihat hal tersebut, Lewes pun menghela napas,

“Bukan apa-apa, hanya saja, semenjak Frederica pergi, sedikit demi sedikit rasanya roda gerigi Sanctuary mulai tergelincir.”

“Tergelincir?”

“Meski aku tidak yakin apa kau bisa menyebutnya sehat..... dulu, entah itu penduduknya, para klon Lewes ataupun Gar-bo, tak ada satupun dari mereka yang merasa setegang seperti sekarang.”

“.....”

“Kau tahu, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadapmu, Su-bo.”

Subaru hanya terdiam, Lewes menatapnya dan mengatakan hal tersebut.
“Ekspektasi”. Dia merasakan gejolak di dadanya saat mendengar kata itu. Karena, kata tersebut mengingatkannya pada......

“Untuk waktu yang sangat lama, Sanctuary terus memenuhi tujuan yang telah lama hilang. Konsistensi itu kini membuat lubang di mana-mana. Itulah kenapa aku punya ekspektasi yang tinggi terhadapmu, Su-bo.”

“Apa, aku bisa......”

“Obsesi sang Penyihir, alasan keberadaan Sanctuary, dan keinginan Lewes Meyer. Aku sangat tidak sabar melihatmu membawa hasil yang bisa memenuhi harapan semua orang.”

Sebuah beban yang begitu berat berada di pundaknya.
Subaru sebenarnya ingin langsung mengatakan “Aku tidak bisa melakukannya”. Tapi, setelah melihat tatapan sepenuh hati Lewes,

“.....”

Kata-kata itu tercekat di tenggorokannya.

“Tak apa. Untuk saat ini.... semuanya sudah cukup bagus.”

Melihat keraguan dan keengganan Subaru, seolah memahami semuanya, Lewes pun mengangguk.
Penampilannya memang tidak lebih tua dari seorang anak kecil, tapi di saat seperti inilah Subaru benar-benar mengerti kalau dia memiliki kualitas yang sesuai dengan usianya.

“Sepertinya waktuku sudah hampir habis.”

Ucap Lewes dengan penuh sesal, tubuhnya kini mulai memancarkan cahaya redup.
Hal itu mengingatkannya pada roh yang akan segera menghilang, pikir Subaru sambil mengulurkan tangannya ke arah Lewes, tapi,

“Jangan khawatir. Aku belum akan menghilang menjadi mana. Aku hanya akan tidur sampai manaku terkumpul kembali. Secepatnya akan ada Lewes lain yang menggantikanku.”

“Tapi..... meskipun wajah dan suara kalian sama, kalian bukan orang yang sama, kan?”

“Kurasa kau ada benarnya. Penampilan, suara, dan kepribadian kami memang sama..... tapi kami tetaplah orang yang berbeda. Jadi hanya orang tua yang sekarang berbicara denganmu inilah yang benar-benar aku. Apa itu membuatmu kesepian?”

“Ini bukan masalah aku kesepian atau tidak. Lewes-san... apa kau tidak merasa sedih? Apa kau tidak marah karena ada 4 orang yang bergantian menjadi Lewes Meyer? Tidak pernahkah kau berangan-angan di mana kehidapanmu........”

Berhenti di tengah kalimat, Subaru sadar betapa kejam pertanyaannya.
Bahkan jika Lewes berpikir demikian, dan bahkan jika gadis ini benar-benar menderita dan sedih karena keadaannya, Subaru tahu betul kalau tak ada yang bisa dia lakukan.

Subaru tidak paham soal prinsip sihir, tidak tahu detail soal mana, dan bahkan tidak mengerti hal paling sepele mengenai algoritma sihir. Jadi apa gunanya menyampaikan penyesalan itu?
Lewes nampaknya memahami konflik yang ada di pikiran Subaru. Dia tersenyum kecil saat rambut pink-nya melambai tertiup angin dan dihias oleh warna fajar.

“Bagaimana menurutmu, Su-bo?”

“..... Huh?”

“Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.... juga merupakan hal lain yang kuharapkan darimu.”

Mengucapkan hal tersebut, layaknya kabut tipis, tubuh Lewes menghilang di antara cahaya pagi.
Tak jauh beda dengan kabut, meski sulit untuk mempercayainya, adegan ini benar-benar seperti adegan yang berasal dari dunia mimpi. Seseorang menghilang begitu saja di antara cahaya fajar.
Meskipun Lewes sudah memberitahu Subaru kalau dia tidak akan benar-benar menghilang, rasanya sulit untuk menerima kata-katanya.
Tapi, di saat yang sama, sosok lain segera muncul di tempat di mana Lewes menghilang.
Entah penampilan ataupun posturnya, semuanya sama seperti Lewes yang barusan menghilang.
Dia menggelengkan kepalanya sekali dan menatap ke arah Subaru,

“Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi, Su-bo. 'Aku' yang sebelumnya sudah mengisiku dengan semua tentang dirimu.”

Seolah ingin menghilangkan keraguan Subaru, Lewes yang baru pun memperbaharui pemahaman mereka.
Dan pada akhirnya, gadis itu memiringkan kepalanya,

“Jadi Su-bo.... apa yang akan kau lakukan lebih dulu?”

“Ah, benar......”

Subaru mengangkat kepalanya.
Menyaksikan cahaya fajar mengikis langit malam, pemikirannya terselip di antara waktu yang telah berlalu dan waktu yang masih tersisa untuknya.
Kemudian, matanya beralih ke arah Lewes dan Pico, lalu,

“Hal pertama yang akan kulakukan adalah keluar dari Sanctuary. Dan untuk itu, aku butuh bantuan kalian, Lewes-san.”

Dan begitulah, Subaru menyampaikan permintaannya.




Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter