Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5 Chapter 2

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5 Chapter 2

Baca Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 5 Chapter 2




PERENCARAAN STRATEGI KELAS D

Persiapan skala penuh sudah dimulai untuk mengantisipasi festival olahraga yang akan dimulai dalam waktu satu bulan. Wajar saja jika selama 2 jam yang diberikan kepada kami selama seminggu sekali, sudah dinyatakan sebagai jam kosong dimana kami bisa memanfaatkannya sesuai keinginan. Cara kami menghabiskan waktu tersebut diserahkan kepada pendapat kelas. 

Ada dua hal yang harus kami putuskan pada persiapan untuk acara yang sebenarnya.

Bagaimana cara memutuskan peserta partisipasi untuk acara ‘Partisipasi Universal’? Dan siapa yang akan berpartisipasi dalam acara ‘Partisipasi hanya untuk yang direkomendarikan’?

Sudah jelas bahwa kedua keputusan ini akan membawa pengaruh besar terhadap hasilnya. Di sini, di atas orang lain, keberadaan pemimpin kelas ini, Hirata, mengambil inisiatif.

Chabashira-sensei yang bergerak ke arah belakang kelas seolah-olah sedang mengosongkan panggung, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia cenderung ingin mengawasi situasi ini.

"Pada persiapan untuk festival olahraga, kita akan mulai mengambil tindakan, tapi sebelum memulai latihan, ada beberapa hal yang harus  kita putuskan. Aku percaya, hal yang paling penting adalah urutan keikutsertaan di partisipasi universal dan partisipasi hanya untuk yang direkomendarikan. Aku pikir sangat penting jika kita memutuskan bagaimana cara menangani hal itu”

"Walaupun kau bilang akan memutuskan, bagaimana kita akan melakukannya?"

Dari sudut pandang Sudou, diskusi yang sedikit tidak menarik  sudah dimulai.

"Ya, misalnya, masalah partisipasi hanya untuk yang direkomendasikan...."

Mungkin ini akan lebih mudah dipahami daripada dijelaskan secara langsung. Hirata menggenggam kapur tulis dan mulai menulisnya di papan tulis.

Sepertinya dia adalah orang yang mampu menangani hal semacam ini dengan mudah.

'Sukarela' dan 'Kemampuan' keduanya ditulis di sana.

Seperti yang dia jelaskan, Hirata menambahkan sebuah catatan.

"Masih berupa sketsa kasar, tapi pada dasarnya aku pikir semuanya bermula pada kedua hal ini. Ini adalah sistem 'Sukarela' dimana kita akan mengikuti keinginan peserta partisipasi sesuai yang kalian inginkan. Dan inilah sistem 'kemampuan' yang akan kita tentukan. Sistem 'Kemampuan', di mana kita akan menguji kemampuan kalian untuk meningkatkan keefisienannya. kita harus memilih salah satu dari kedua cara ini, kan? Keduanya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sistem 'sukarela' tentu saja, bahwa setiap orang akan mendapatkan kesempatan berpartisipasi seperti yang diinginkan dan dengan begitu, mereka bisa bersenang-senang. Konsenkuensinya adalah, urutan yang diinginkan akan menjadi tumpang tindih, tidak semua orang bisa mendapatkannya dan hasilnya akan menjadi tidak seimbang."

Jika kami memakai sistem di mana kami membiarkan setiap orang memilikinya sesuai dengan keinginannya, mau tidak mau itulah yang akan menjadi hasilnya. Cara seperti itu bisa memperlambat keegoisan emosial dengan baik.

"Berikutnya adalah sistem 'Kemampuan'. Sangat sederhana dan ini adalah cara yang optimal untuk memutuskan pemain dengan kemampuan tertinggi. Kosekuensinya bisa meningkatkan peluang menang di luar sistem 'Sukarela’ karena hanya bergantung kepada individu yang kuat. Hal itu bisa mengurangi peluang kemenangan orang lain dan sistem ini membuatku khawatir jika semuanya akan berakhir dengan mengabaikan apa yang masing-masing inginkan. Secara teori, aku pikir kita bisa mengatakan hal yang sama juga untuk yang ‘partisipasi hanya untuk yang direkomendaiskan’. Kurang lebih aku sudah memikirkannya, tapi jika kalian punya ide yang lain selain kedua cara ini, silahkan berikan pendapat kalian"

Hirata menyelesaikan penjelasan singkatnya. Bahkan para murid yang tidak bisa memahami penjelasan secara lisan, dari rincian yang tertulis di papan tulis, perlahan bisa memahami konsekuensi dari setiap sistem.

Pikiran sebagian besar murid pasti sudah jatuh kepada salah satu rencana yang diusulkan Hirata. Apalagi karena tidak ada rencana lain yang akan diajukan.

"Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, kita harus memutuskan berdasarkan kemampuan, bukan? Kalianlah yang paling mengenal diri sendiri kalian sendiri"

Sepertinya Sudou tidak berniat memilih yang lain selain itu saat dia mengucapkan kata-katanya.

"Jika aku menang, maka peluang kemenangan kelas juga akan meningkat. Itu sudah menjadi alasan yang cukup kuat."

Cara dia mengatakannya berantakan, tapi memang benar. Sudou yang memiliki kemampuan fisik tinggi untuk menggunakan kekuatan secara maksimal merupakan elemen yang sangat diperlukan dalam festival olahraga ini.

"Itu membuatku kesal tapi memang benar"

Menuju kata-kata Sudou yang sama sekali tidak masuk akal, gadis-gadis itu berbisik dengan persetujuan.

Setelah itu, dari anak laki-laki juga, kata-kata dukungan terhadap Sudou mulai bermunculan.

"Aku tidak mahir berolahraga, selain menyisihkan Partisipasi universal, jika Sudou bersedia mengambil alih acara partisipasi untuk yang direkomendasi, maka aku tidak keberatan menyetujuinya"

Bagi murid seperti Yukimura yang berspesialis pada bidang akademis, atletik adalah bidang yang lemah untuknya.

"Kalau begitu sudah diputuskan, kan? Aku akan berpartisipasi dalam semua acara untuk yang direkomendasi"

Sudou dengan keras mengatakan hal itu dan para murid mendukungnya. Persetujuan ini mencakup murid yang tidak atletis dan yang memprioritaskan kemenangan kelas.

"Jika semua orang tidak keberatan dengan strategi itu, maka untuk acara hanya yang direkomendasikan, kita bisa melakukannya dengan cara ini"

"Tunggu dulu"

Tepat sebelum usulan disetujui,

"Aku punya usulan pelengkap"

Horikita yang biasanya diam, mengatakan itu dan bergabung dalam pembicaraan.

Banyak murid terkejut dengan suara yang tidak terduga itu, memusatkan perhatian mereka kepadanya.

"Jika kita harus memilih di antara dua strategi ini, kita harus mengikuti sistem 'Kemampuan' seperti yang dikatakan Sudou-kun. Aku tidak keberatan sejauh ini, tapi dengan itu, tidak ada jaminan bahwa kita bisa menang melawan kelas yang lain"

"Tentu saja itu benar"

"Jika seperti itu, maka sudah jelas jika kita harus memprioritaskan dan membiarkan orang yang paling atletis berpartisipasi dalam acara 'hanya untuk yang direkomendasi' yang mereka pilih dan untuk acara partisipasi universal juga, jadi kita bisa membentuk kombinasi terbaik untuk meraih kemenangan dan berkompetisi dengan cara yang seperti ini. Hal ini akan memungkinkan kita untuk bisa menarik potensi maksimum mereka. Jika aku harus mengatakannya dengan sederhana, yang berbakat harus bekerja sama dengan yang biasa saja"

Pada dasarnya, itu berarti bagi Hirata dan Sudou yang keduanya berbakat, untuk menghindari perselisihan di antara mereka berdua, penyesuaian sangat dibutuhkan. 

Tentu saja, jika dengan itu bisa menang, itu juga bisa menjadi salah satu pilihan.

Tapi secara bersamaan, ini juga merupakan pilihan kejam yang memisahkan orang lemah.

"Tunggu sebentar. Strategi itu juga bisa berarti bahwa peluang kemenangan kita akan terjatuh, bukan?"

Dia adalah murid bernama Shinohara. 

Untuk mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, tidak peduli bagaimana, harus ada pemaksaan gabungan antara individu yang lebih lemah dan yang lebih kuat. Mau tidak mau karena lawan juga tangguh, kemungkinan murid yang lebih lemah akan menang menjadi sangat rendah.

"Aku tidak bisa menerimanya. Hanya karena kau tidak atletis, jika kau dipaksa bersaing dengan seseorang yang lebih kuat, sama sekali tidak ada yang bisa menang. Hak istimewa hanya diberikan kepada posisi pertama sampai ketiga, jadi aku tidak ingin membiarkan kesempatan itu begitu saja" 

"Mau bagimana lagi, karena itu demi kelas"

"Aku tahu ini demi kelas ..... tapi aku tidak mau kehilangan poin pribadiku”

"Jika kelas menang, akan ada imbalan yang sebanding. Apa itu belum cukup?"

"Kau bisa mendapatkan sejumlah besar nilai ujian jika kau memenangkan hadiah, bukankah itu cara menyerah yang tidak adil?"

"Aku mengerti keinginanmu untuk berpikir seperti itu, tapi itu juga aneh. Sejak awal, meski tanpa mengandalkan nilai istimewa dari nilai tersebut, tidak akan menjadi masalah jika kau belajar seperti biasanya. Selain itu, jika kemungkinannya tetap dibawah posisi ke-3, tidak akan ada masalah bahkan jika kau tidak memenangkan hadiahnya, bukan? Pertama, kontes ini tidak mudah bahkan jika kau bisa memenangkan hadiah dengan keatletismu, bukankah begitu?"

Keduanya bersikeras dan tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Secara khusus, Horikita memanfaatkannya demi keuntungan dan dengan keras kepala menyerang.

“Tidak semua orang pintar seperti Horikita-san, jangan pikir semua orang itu sama!”

"Belajarlah setiap hari. Aku tidak mau kau memberikan alasan itu di sini"

'Benar, itu benar'

pendapat seperti itu yang mendukung Horikita bergema di kelas dalam jumlah yang kecil.

Pendapat Horikita yang berfokus pada efesiensi disukai oleh murid atletik yang dimulai dri Sudou, serta murid yang ingin naik ke Kelas A dan murid yang memiliki masalah dengan olahraga.

Shinohara, saat masih terlihat frustrasi, sepertinya sudah kehilangan keinginannya untuk berdebat. Kemungkinan besar, ada murid seperti Shinohara yang berpikir bahwa mereka mungkin setidaknya masih bisa berdiri di posisi ke-3.

Disatukan dengan murid-murid yang kuat seperti Sudou, atau dipasangkan dengan murid-murid tidak atletis pada pertempuran kavaleri dan lomba kaki tiga, ini merupakan fakta bahwa kemenangan akan menjadi renggang.

"Cukup. sudahlah, Shinohara, jika kita kalah karenamu, apa kau mau bertanggung jawab? Hah?"

"Itu ...."

Dalam festival olahraga ini, didominasi oleh kemampuan atletik tinggi. Sudou, yang dipandang sebagai yang berada di bawah orang lain jika menyangkut kalangan berkemampuan akademisi, memancarkan cahaya yang kuat di sini dan memegang otoritas.

Kemampuan memprioritaskan rencana yang diusulkan Horikita dan Sudou adalah rencana yang kuat dan bukan hal mudah untuk dihancurkan. Shinohara tidak lagi memiliki kemampuan untuk keberatan. Sebuah kesimpulan dengan cepat mendekat.

"Jujur saja. Sangat merepotkan harus berbicara dengan orang bodoh...  Kau sendiri sepertinya tidak terlalu tertarik dengan situasi ini. Jika kau cukup bahagian bermain-main dengan ponselmu, kenapa tidak memikirkan cara kita bisa menang saja?”

"Tidak masalah jika aku menyerahkannya kepadamu dan Hirata, kan?"

Aku mematikan layar ponselku dan memasukannya ke dalam saku. Diskusi selesai - hanya saat aku memikirkannya.

"Ahh.... boleh aku mengambil sedikit waktu? Aku keberatan, seperti yang Shinohara bilang, kenapa harus membuat orang lain dalam masalah? Apa kau ingin bilang bahwa dengan melakukan itu, kau bisa membuat kelas bekerjasama?"

Orang yang mengatakan itu adalah Karuizawa. Seakan melindungi Shinohara, dia melotot kepada Horikita.

"Agar bisa bekerjasama, berarti persis seperti itu. Apa kau mengerti?"

"Tidak, aku tidak mengerti, Hei, bagaimana menurutmu Kushida-san?"

Karuizawa memanggil Kushida, yang 'tidak seperti biasanya' diam dan mengawasi situasi ini. Kushida terlihat sedikit terkejut tapi segera setelah memikirkannya dia membuat pernyataannya.

"Ini masalah yang sulit, aku pikir aku bisa mengerti perasaan keduanya, seperti Horikita-san, aku ingin menang sebagai kelas. Seperti yang Shinohara-san katakan, aku juga ingin meninggalkan kemungkinan kemenangan untuk setiap orang juga"

Mengatakan itu, dia terus berbicara.

"Jika ada rencana alternatif, maka menggabungkan kedua pendapat mereka akan menjadi bentuk yang ideal. Sebuah cara untuk kedua orang, yang bisa menempati posisi pertama dan orang yang berada di posisi terbawah akan meyakinkan"

Saat dia menjawab seperti itu, aku bisa mendengar banyak suara menyetujuinya dari dalam kelas. Pada arus itu, mungkin sebelumnya dia sudah menduga bahwa pernyataan serupa pasti akan dibuat, Horikita langsung menyela.

"Tentu saja aku sudah memikirkannya, sebuah cara yang bisa diterima oleh kedua belah pihak, yaitu bagi murid yang merasa bahwa mereka tidak butuh nilai ujian untuk mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, gunakan poin pribadi yang mereka dapatkan dari itu untuk mengimbangi poin yang hilang dari murid yang berada di peringkat terbawah. Seluruh kelas akan berbagi keuntungan dan kerugian. Jika seperti ini, tidak akan ada keluhan, bukan? "

Sebuah rencana, sebagai ganti bagi yang akan menurunkan kemungkinan peluang kemenangan, menimbangi risiko jika terjadi kekalahan. Jika seperti ini, akan membuat sedikit persetujuan kepada yang menentang. Tentu saja, itu masih akan menyisakan masalah 10 terbawah sepanjang angkatan.

"Oh, itu tidak masalah, kan? Tidak akan ada kerugian, tidak peduli berapa banyak kita memonopoli dengan cara ini”

Sudou mengatakan itu sambil mencemooh dan tertawa seolah mengatakan 'sangat menyedihkan'.

"Tapi itu hanya untuk poin, kan? Kemungkinan memenangkan hadiah turun. Apa yang dipikirkan semua orang?"

Bahkan dalam situasi itu, Karuizawa masih menyuarakan ketidaksepakatannya. Kemudian memanggil gadis-gadis di faksi Karuizawa.

"..... kalau itu adalah Karuizawa-san, aku rasa aku juga keberatan"

Satu demi satu, gadis-gadis yang mengikuti jejak Karuizawa mulai menunjukkan perlawanan mereka.

"Apa kalian semua bodoh? Berfokus hanya karena dia keberatan? Benar-benar tidak masuk akal. Ini adalah ujian, jadi jelas bahwa kita harus membangun sebuah strategi yang didasarkan pada kemenangan yang efisien. Kelas lainnya sama sekali tidak punya orang bodoh seperti kalian”

"Itu pasti sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh Horikita-san, bukan? Saat ini aku sedang keberatan, ada juga yang menentangnya, jadi pikirkan juga orang-orang itu, aku tidak akan menerimanya jika kompetisi ini diputuskan dengan cara yang tidak memihak"

Pengaruh Karuizawa yang sudah menyatukan anak perempuan itu kuat dan pendukung rencana yang memprioritaskan kemenangan kelas yang mendukung Horikita sudah tidak ada lagi.

"Tenanglah, kalian berdua. Jika kita tidak bisa menyetujui pendapat kita maka kita tidak punya pilihan lain selain mengambil suara terbanyak"

Tidak terelakkan jika akan berakhir seperti ini. Untuk memperbaiki situasi buntu, Hirata membantah seperti ini.

"Aku pikir kita harus secara adil menyelesaikan ini dengan cara mengambil suara"

"Kalau Yousuke-kun bilang begitu, aku setuju..."

"... itu benar, aku juga berpikir ini bukan waktunya bertengkar satu sama lain. Bagaimanapun, aku sudah memprotes, semoga kalian semua akan membuat keputusan yang tepat"

Horikita duduk dengan frustrasi dan melotot padaku.

"Ayanokouji-kun, bisakah kau membungkamnya?"

"Tidak mungkin aku bisa membungkamnya, kan?"

"Baru-baru ini, kau sudah berhubungan dengan Karuizawa-san, kan? Bukankah itu yang menyebabkan dia bertindak manja?”

"Tidak, bukankah Karuizawa adalah tipe orang yang seperti itu sejak awal, bukan?"

Mungkin Horikita berhasil diyakinkan pada saat itu, dia diam-diam mengucapkan 'tentu saja'

Namun, dia tidak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya terhadap Karuizawa yang tidak bisa memberikan dasarnya dan kepada gadis-gadis yang mengubah pendapat mereka berdasarkan perasaan mereka.

"Rencana yang berfokus kepada bakat yang Horikita-san ajukan dan rencana yang menekankan individu sama seperti pendapat Karuizawa-san. Mana yang lebih baik? haruskah kita memutuskannya dengan mengangkat tangan? Jika ada orang yang sulit memilih, aku menerima ketidakikutsertaan memilih"

Rencana Horikita yang memberi perlakuan istimewa kepada yang berpotensi. Rencana Karuizawa yang menghormati setiap individu dan peduli terhadap semua orang.

Sepertinya masa depan kelas dan dampaknya terhadap ujian akan bergantung pada topik mana yang akan diikuti oleh kelas tersebut. Tentu saja bukan berarti aku tertarik dengan itu.....

"Kalau begitu, pertama, yang mendukung rencana Horikita-san".

"Ya, tentu saja, sesuai dengan rencana Horikita, alasannya sederhana, untuk menang. Semakin banyak orang atletik, semakin banyak peluang menang, bukankah begitu?"

Sudou mengambil inisiatif dan mengangkat tangannya. Dan yang mengikutinya adalah murid-murid seperti Yukimura dan Sakura. Para murid yang tidak percaya diri dengan atletiktisme mereka memberikan persetujuan. Di sisi lain, para murid yang tidak bisa menang melawan yang berbakat, tapi masih mampu sampai batas tertentu, atau kelompok Karuizawa, tidak mengangkat tangan.

"Terima kasih, kalian bisa menurunkan tangan kalian sekarang"

Apakah jumlah ini besar atau kecil, adalah sesuatu yang akan diputuskan berdasarkan berapa banyak orang yang tidak mengangkat tangan.

"Tunggu dulu, Ayanokouji-kun. Jagan-jangan, kau setuju dengan rencana Karuizawa-san?"

Horikita, yang secara alami menyadari bahwa aku tidak mengangkat tangan, menanyakanku.

"Tenang, ini kebijakanku untuk menjadi orang yang tidak memilih"

"..... kalau begitu, apa kau tidak mau mengikuti rencanaku?"

"Bukan berarti rencanamu yang paling benar, kan?"

"Aku tidak mengerti. Memilih pilihan yang akan memberikan kelas kemungkinan terbaik untuk menang, pada akhirnya menghasilkan perolehan sejumlah besar poin pribadi. Poin kemenangan dari memenangkan pertandingan di sini dan cara Karuizawa itu sama sekali tidak berarti. Jika kau mengatakan itu salah, maka aku mau kau memberikanku alasan yang jelas, kenapa”

"Aku tidak bilang kalau kau salah, aku hanya mengatakan itu bukan satu-satunya jawaban"

‘Bidak yang bisa dibuang' dikirim untuk menabrak dan menghancurkan musuh yang hebat akan mengakhiri festival olahraga tanpa mendapatkan poin apapun. setidaknya Horikita sangat mengerti hal itu. Hanya saja dia menganggap itu sebagai pengorbanan yang diperlukan agar bisa bangkit.

"Hanya saja tidak semua murid melihat ke depan sepertimu"

"Lalu, selanjutnya adalah rencana gabungan dari Karuizawa-san. Dimana kita akan menang dan bersenang-senanglah dimana saja. Orang yang mendukung rencana ini silahkan angkat tangan kalian"

Selain kelompok Karuizawa, untuk sesaat tangan yang bertebaran mulai bangkit. Ada beberapa suara. Namun, hanya dengan Karuizawa yang mengangkat tangannya, satu demi satu anak perempuan mengikuti jejaknya.

tetapi…

“... hasil pemungutan suara terbanyak adalah ..... 16 suara untuk rencana Horikita-san dan 13 suara untuk rencana Karuizawa-san, bisakah aku menganggap sisanya tidak memilih apapun?"

Perhitungan total selesai tanpa ada yang keberatan. Bisa dikatakan bahwa suara yang Karuizawa kumpulkan bukan karena isi rencananya melainkan karena mereka diinstruksikan untuk melakukannya.

Hal ini karena kepercayaan kepada Karuizawa rendah dan rencananya sedikit sederhana. Karena rencana Horikita itu realistis demi meraih kemenangan dan efisien, itulah yang semua orang harus sadari. Strategi Kelas D adalah bertindak untuk menang bukan untuk individual, tapi sebagai kelas, inilah yang sudah diputuskan.

"......."

Karena disetujui oleh suara terbanyak, Karuizawa tidak akan membiarkan ketidakpuasan apapun terjadi di sini.

"Inilah kesimpulannya, Karuizawa-san. Sekarang, Hirata-kun, aku akan menyerahkan sisanya kepadamu"

Mengubah pikirannya, Karuizawa juga harus memilih konsep ini sekarang supaya  bisa menang. Tentu saja, aku tidak berpikir bahwa pilihan yang buruk sudah dipilih. Pertama, orang-orang yang tidak atletis tidak akan mengambil inisiatif untuk mengatakan bahwa mereka ingin berpartisipasi di ini dan itu sekarang.

Mau tidak mau, peran yang direkomendasikan akan jatuh kepada yang atletis seperti Sudou dan Hirata.

"Lalu, tentang jumlah peserta acara hanya untuk yang direkomendasikan…”

"Aku akan bersaing  di semua kontes, jika ada yang keberatan dengan itu maka aku akan berhadapan langsung dengan mereka"

Dengan tegas menyatakan hal itu, Sudou membicarakan strategi yang tidak berubah sejak awal. Apalagi dia terlihat berniat memaksa siapa saja yang mengeluh dan membuat mereka menyerah. Ini adalah pernyataan yang terlalu percaya diri, namun pengaruhnya sangat tinggi karena tidak ada ketidakpuasan atau pertengkaran dari siapapun. Karena murid berbakat akan dirakit mulai sekarang, Sudou yang menjadi kandidat pertama dalam daftar adalah sesuatu yang bisa dipastikan.

"Aku juga akan berpartisipasi di kompetisi ini sebanyak mungkin"

Seperti yang diharapkan, orang yang merekomendasikan dirinya adalah Horikita. Karuizawa sedikit mengeraskan ekspresinya. Gadis-gadis di sekitar mereka saling berbisik. Aku bertanya-tanya apa mereka sedang menghina?

Kemudian, pemberitahuan dan rekomendasi diri terjadi. Satu demi satu peserta yang direkomendasikan sudah diputuskan. Tapi tidak semua kompetisi terisi dengan mudah dan hanya sekitar 1/3 dari acara Partisipasi Universal yang sudah terisi. 

Seperti yang dia katakan, Sudou akan berpartisipasi di semua kompetisi dan selain dia, di sebagian besar kompetisi, Horikita dan Hirata dan yang paling pasti, Kushida dan Onodera dan murid atletik lainnya akan berkompetisi. Dan sisanya masih kosong.

"Oi, Kouenji, apa kau tidak akan bekerjasama?"

Sudou berbicara seperti itu sambil melotot kepada laki-laki yang belum mengucapkan sepatah kata pun sejak diskusi dimulai. Itu karena Sudou sendiri mengakui bahwa pria ini memiliki potensi yang sama dengannya, walaupun tidak lebih besar.

Jika Kouenji berpartisipasi secara serius, paling tidak di kompetisi individu, posisi teratas sudah dipastikan untuknya.

"Sebelumnya, kau juga tidak mengangkat tanganmu"

"Aku tidak tertarik, kalian bisa melakukan apa yang kalian inginkan".

"Jangan bercanda, dasar bajingan"

"Aku tidak bercanda. Tidak ada alasan kenapa aku harus dipaksa olehmu... Sejak awal, bahkan jika kau punya hak untuk memaksaku, aku tidak berniat untuk mendengarkanmu"

Dengan kata lain, itu artinya, tidak peduli apa yang terjadi,  Kouenji tidak berniat mengubah pendiriannya.

"Aku tidak berpikir ada keharusan untuk memutuskan semuanya saat ini juga, Sudou-kun. Kouenji-kun juga punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, dan dengan tidak masuk akal mengajaknya bukanlah sesuatu yang benar untuk dilakukan"

Menindaklanjuti Kouenji dan mendesak Sudou untuk tenang adalah Hirata.

"Paling tidak, apa yang sudah diputuskan dari diskusi hari ini adalah strategi dan keinginan kelas dari mereka yang ingin berpartisipasi dalam kompetisi individual. Aku pikir kita bisa memutuskan yang lainnya dengan hati-hati nanti"

Dan dengan ucapan itu, diskusi sudah sampai pada penyelesaiannya.

Namun, sebagian murid, mungkin merasa tidak puas dengan diskusi ini.

Kenapa Karuizawa terus menentang rencana Horikita? Dalam kemampuaan atletiknya, dia tidak lolos ataupun gagal. Baginya, rencana Horikita yang melibatkan sesuatu seperti saling berbagi kegembiraan dan rasa sakit satu sama lain, seharusnya bukan hal yang buruk.

Aku tidak yakin berapa banyak orang yang merasakannya.

***

Sepulang sekolah, setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk mengirimkan pesan yang sudah aku kirim kepada seseorang dan setelah itu, saat aku sudah selesai melakukannya, aku melakukan kontak mata dengan Karuizawa.

Tidak, kontak mata bukanlah hal yang baik.

Hanya saja, aku mencari celah dan melirik sekilas ke arahnya tapi secara kebetulan, dia melihat tatapanku. Tapi, tentu saja niatku pasti tidak sampai kepadanya saat Karuizawa meninggalkan kelas bersama dua teman di belakangnya.

Seperti yang aku pikirkan, kecuali jika aku menghubungi dia secara langsung, tidak mungkin dia bisa mengerti.

Dengan membawa tasku di tangan, aku pergi kembali ke kamarku, meninggalkan kelas semenit setelah Karuizawa.

"Hei"

Menuruni tangga, saat menuju pintu masuk utama, aku dihentikan oleh Karuizawa yang sendirian karena suatu alasan.

" kau tidak pulang?"

"Aku memang mau pulang, tapi aku pikir kau mau bilang sesuatu kepadaku jadi aku menunggu. Apa aku salah?"

Aku tidak bisa tidak terkejut dengan pernyataannya.

"Sedikit"

"Baiklah, aku juga punya sesuatu untuk aku katakan kepadamu. Apa kau keberatan mendengarkanku sebentar?"

'Mendekatinya' aku mendesak Karuizawa untuk berbicara.

"Pesan yang kau kirim kepadaku. Aku ingin mendengar tentang niatmu yang sebenarnya"

Mengatakan itu, dia membuka ponselnya dan menunjukkan pesan itu kepadaku. Di sana, itu tertulis,

Bagaimanapun caranya, keberatanlah dengan pendapat Horikita. Kemudian setelah itu, tanyakan pendapat Kushida.

Itulah yang aku instruksikan untuk Karuizawa lakukan di tengah kelas.

"Sejauh hal itu berjalan, kau punya cara untuk memainkan alur yang bagus. Dalam situasi itu, kau memang sangat keberatan" kataku

"Benarkah? Jika aku harus mengatakannya, aku setuju dengan pendapat Horikita-san, aku juga tidak mengerti bagaimana cara memanggil Kushida-san, jadi apa makna di balik perintah itu?"

"Tidak akan ada akhirnya jika kau khawatir kepada makna di balik masing-masing dan setiap tindakanku. Dan bahkan jika kau menginginkannya, tidak ada jaminan bahwa aku akan menjawab.  Apa kau mengerti apa yang aku maksudkan? "

"Kau menyuruhku mematuhi perintahmu tanpa menanyakan alasan di baliknya. Aku mengerti”

"Itulah maksudku"

Karuizawa yang patuh tidak bertanya lagi.

"Kalau begitu, selain itu, katakan kepadaku, kau tidak mengangkat tanganmu, tapi mana yang menurutmu yang benar?"

"Aku harus mengatakan jika keduanya benar, di mana kita akan menempatkan penekanannya tergantung kepada individu itu sendiri"

"Itu bukan jawaban, pada akhirnya kau tidak menjawab apa yang sebenarnya kau pikirkan"

"Sayangnya, aku punya kebijakan yang pada dasarnya tidak berpikir kepada yang mana"

"..... apa  itu? aku tidak mengerti. Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau bermaksud untuk menyingkirkan kelas-kelas lain ke dalam kekacauan? Atau apa kau benar-benar berpikir untuk membawa Kelas D ke Kelas A?"

"Paling tidak, Horikita mempercayai hal itu"

'Bukan itu yang aku maksud', seolah mengatakan itu, Karuizawa menghela napas dan memelototiku.

"Yang aku tanyakan bukan menurut Horikita-san, aku mau kau memberi tahuku apa yang kau lihat dan apa yang kau inginkan"

"Jika aku harus mengatakannya, aku tidak tertarik untuk naik ke kelas A. Hanya saja, aku mulai merasa perlu mempersiapkan kelas ini untuk bisa naik ke Kelas A. bukan hal yang buruk”

"Apa maksudnya itu? aku tidak begitu mengerti perbedaannya, seberapa rendahkannya keinginanmu?"

Lebih baik mengawasi Chabashira-sensei mulai sekarang.

"Bahkan jika aku memasukkannya ke dalam kata-kata sekarang, kau tidak akan percaya kepadaku dan aku tidak punya cara untuk membuktikannya. Itulah kenapa aku akan menempelkan garis pelindung sehingga kau akan mempercayaiku berkali-kali. Dalam festival olahraga ini, Pengkhianat akan muncul dari dalam Kelas D. Kemudian, orang tersebut akan membocorkan informasi internal dari Kelas D ke luar "

"Tunggu, huh? Apa kau serius mengatakan itu !?"

"Jika saatnya tiba, kau akan mempercayaiku, apa yang aku lihat, apa yang sudah aku lihat. Itu saja"

"Apa maksudmu, katakan padaku rinciannya"

"Saat ini, aku tidak bisa, tapi, saat waktunya tiba, aku akan menceritakan semuanya kepadamu. saat ini, kita masih berdiri terlalu jauh"

"Aku akan melakukannya bahkan jika kau tidak memberi tahuku.  Jika aku terlihat bersama dengan seseorang yang suram sepertimu, citraku akan menurun. Tapi .... bahkan jika kebetulan pengkhianat muncul, itu tidak masalah, kan? "

"Ya, aku sudah siap untuk kesempatan itu"

Mengatakan itu, aku menunjukkan kepadanya ponselku. Tentu saja, Karuizawa mungkin tidak tahu persis apa ini. Bagaimanapun juga, bahkan saat dia membuat wajah yang tidak puas, Karuizawa menuruni tangga.

Aku melihatnya pergi dan menarik napas. Strategi Kelas D kurang lebih sudah  banyak diperkuat. Dan juga strategi yang sudah aku buat.

Sekarang, aku penasaran seperti apa bayangan pertarungan sekutu kita, kelas A? Mengingat kepribadian Katsuragi, mereka mungkin akan menjalankan rencana yang kuat, tapi.... keberadaan Sakayanagi, tentu saja bagi Tim Putih, dan untuk Kelas D juga merupakan hal positif.

Misalnya, anggap saja ada perangkat melarikan diri yang hanya bisa menyelamatkan satu orang, dan orang-orang yang sedang berada di dalam keadaan sulit adalah individu yang sehat dan orang cacat. 

Dalam situasi itu, yang aku maksud adalah bahwa individu yang sehat tidak berkewajiban menyerahkan perangkat ini kepada orang cacat hanya karena kecacatan fisik mereka. Karena orang itu adalah orang cacat yang tidak bisa menolaknya, tidak masalah jika harus mencuri perangkat melarikan diri dari mereka yang sehat, bahkan jika memukul secara fisik itu diperlukan. 

Lahir sebagai individu, kau tentu memiliki hak untuk hidup sebagai individu juga.

Dalam skenario darurat, ilegalitas itu akan disingkirkan. Tidak ada yang adil atau tidak adil tentang itu. Hanya karena Sakayanagi tidak bisa berolahraga tidak berarti ada kebutuhan agar mudah melakukannya.

"Tapi meski begitu ......"

Karena memiliki masa lalu yang mendalam, kempuan Karuizawa dalam membaca pikiran dan emosi orang-orang lebih baik daripada yang aku bayangkan. Lebih dari itu, kenyataan bahwa dia berhasil membuat sekitarnya 'tidak' melihatnya seperti itu, membuatnya mendapatkan poin tinggi.

Sekali lagi, setelah menyelesaikan urusan tidak terduga ini, aku merasa puas dan memutuskan untuk pulang.


***


Hingga festival olahraga, selain menentukan peserta kontes, ada banyak beban lain yang harus dilakukan. Persiapan yang harus dilakukan untuk memastikan festival olahraga berjalan lancar bagi sebagian besar dari mereka. Baris berbaris serta berlatih dari awal masuk ke kompetisi hingga akhir. Sebagian besar kelas penjaskes dinyatakan sebagai jam kosong dan setiap murid diberi izin untuk menangani segala jenis praktik yang mereka inginkan.

"Aku sudah meminjamnya"

Pada jam olahraga keesokan harinya, Hirata mengajukan permohonan ke sekolah dan memperoleh alat mengukur kekuatan pegangan. 

Rencana Horikita yang dipakai, berdasarkan prioritas kepada keunggulan atletik, adalah sebuah rencana yang hanya akan menyatukan mereka yang percaya diri dengan kekuatan mereka. Sederhana saja tapi fungsinya cukup bagus sebagai tolak ukur.

Secara khusus, ada lebih dari beberapa kompetisi di mana anak laki-laki akan bersaing murni dengan menggunakan kekuatan.

"Kita akan melakukannya sesuai urutan. Kita akan mengukur kekuatan pegangan dari lengan dominan kita. Jika kau memberi tahu hasilnya maka aku akan mencatatnya. Aku sudah meminjam dua jadi kita bisa melakukannya dengan lebih efisien dan menghemat waktu"

Mengatakan itu, dia membagikan masing-masing satu ke Sudou dan Yukimura yang berada di sampingnya. Mungkin dia memutuskan untuk mengukur secara searah dengan jarum jam dan berlawanan arah dengan jarum jam. Tapi Sudou, yang tidak menyadarinya, malah secara paksa meraih alat itu dan mencurinya.

"Kita akan mulai dari aku, Hirata. Karena dengan memulainya dariku, Itu akan menjadi penenatapan stantar tertingginya"

Itu bukan logika yang bisa aku pahami dengan baik tapi aku mengerti bahwa dia ingin membanggakan kekuatannya sendiri.

"Umm ..... jadi,  kita mulai dari Sotomura-kun di samping Sudou-kun"

Setelah permintaan diubah secara paksa, titik tolaknya harus disesuaikan lagi.

"Perhatikanlah, Ayanokouji. Ini adalah kekuatan seseorang yang akan membawa kelas ini"

Sudou dengan bangga tertawa dan menunjukkan kemampuannya sebagai orang yang secara paksa menjadi yang pertama.

"Uraaa!"

Dipenuhi oleh semangat juang, bahu Sudou bergetar saat ia mencengkeram alat di tangan kanannya.

Nilai numerik digital meningkat dengan cepat. Dalam sekejap ia naik di atas 50 dan mencapai 60 dan terus meningkat hingga 70. Kemudian, nilai yang ditampilkan secara digital pada akhirnya adalah 82,4 kg. Sekitaran secara cepat menjadi ricuh.

"Kau terlalu kuat!"

"Heh, itu karena aku selalu latihan, ini wajar, Hei, kau juga harus melakukannya, Kouenji"

Hampir seolah-olah itu adalah sebuah provokasi, dia menunjukkan nilainya kepada Kouenji sambil menyerahkan alat itu.

"Aku tidak tertarik, kau mungkin bisa mengabaikanku"

Memoles kuku jarinya, Kouenji lalu meniup ujung jarinya.

"Apa kau takut kalah denganku? yah, setelah melihat nilai seperti ini, tentu saja bisa dimengerti"

Dia membuat provokasi yang murahan, tapi sepertinya Kouenji tidak berniat meresponnya karena dia tidak berpaling untuk melihatnya.

"Tch ... hei, Ayanokouji"

Karena aku berada di samping Sudou, aku secara paksa diserahkan alat pengukur kekuatan pegangan.

"Tidak, aku bisa melakukannya nanti"

"Hah? Kau juga? Jangan bercanda. Lakukan yang diperintahkan!"

Aku lebih suka tidak diberi tahu hal itu oleh Sudou yang secara paksa mencuri giliran untuk dirinya sendiri, tapi pasti jika kita melakukan perintah ini maka berikutnya adalah aku. Namun, berpikir bahwa orang kedua yang akan diukur adalah aku ..... Aku tahu Sudou yang mendapatkan 82,4 kg adalah nilai yang jauh lebih tinggi tapi aku penasaran berapa nilai rata-rata untuk murid SMA tahun pertama?

Aku sudah mencengkeram ratusan ribu alat pengukur seperti itu di masa lalu, tapi aku belum pernah mendengar nilai rata-rata dari generasiku. Karena tidak ada apapun kecuali catatan pribadiku yang tersimpan.

"Hei, Sudou, berapa nilai rata-rata murid SMA?"

"Hah, aku tidak tahu, seharusnya tidak sekitar 60?"

"60, ya....?"

Aku mencengkeram alat pengukur kekuatan cengkeraman yang aku terima sehingga monitor terlihat olehku. Kekuatan peganganku bukanlah sesuatu yang sebanding dengan lebar lenganmu.

Tentu saja bukan berarti mereka tidak ada hubungannya tapi yang terpenting adalah otot brachioradialis yang terletak di lengan bawah dan kumpulan otot yang dikenal sebagai otot fleksor karpi radialis.

Mekanismenya adalah, sebagai otot lengan bawah, ia menarik tendon dan menyebabkan jari membungkuk. Dengan demikian, seseorang bisa meningkatkan kekuatan pegangan mereka dengan melatih kumpulan otot ini. Dengan kata lain, selama kau memiliki sejumlah massa otot tertentu, maka tergantung bagaimana kau melatihnya, mungkin bisa melebihi 100 kg.

Tentu saja, untuk mencapai hal ini, tidak ada, tapi latihan yang melibatkan pencengkeraman itu diperlukan.

Perlahan menambahkan kekuatan ke tuasnya, aku mencengkeramnya. Lalu, begitu aku lewat 44, aku mulai menyesuaikannya. Begitu aku berhasil melewati 55, aku melakukan penyesuaian lebih lanjut dan setelah mencapai sedikit di atas 60, aku berhenti menambahkannya.

"..... Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya lebih dari ini"

Mengatakan itu, aku melepaskan peganganku pada alat ukur dan menyerahkannya kepada Ike di sampingku. Lalu, aku melangkah maju, melapor kepada Hirata.

"Punyaku 60,6"

Aku tidak berminat melaporkannya seperti itu.

"Heh ... kau cukup kuat, Ayanokouji-kun"

Seolah terkesan, Hirata berbalik ke arahku dan tersenyum.

"Ehh, tidak, itu rata-rata, kan? Apa itu nilai yang luar biasa?"

"Menurutku nilai rata-rata lebih rendah dari itu? Nilai rata-rata berada di sekitar 45 atau sekitar 50?"

"Hirata...  punyaku 42,6. Berikan aku sedikit bonus dan buatlah menjadi 50"

Ike datang untuk melapor. Itu adalah permintaan bonus yang tidak kecil. Bahkan saat dia tersenyum gemetar, Hirata menuliskan 42,6 di buku catatan.

Sotomura meraih 41, dan Miyamoto yang datang kemudian mendapatkan 48 dan tentu saja, ada banyak hasil di bawah 50.

"Aku mengerti ..... jadi 60 itu tinggi ...."

Rupanya aku salah karena bertanya kepada seseorang seperti Sudou tentang rata-rata nasional. Tidak mungkin dia tahu semua itu. Aku berpikir untuk tidak berpartisipasi dalam kontes dengan tetap berada di posisi tengah, tapi itu adalah kesalahan perhitungan yang fatal. Pada tingkat ini, mungkin aku harus berpartisipasi dalam beberapa acara Partisipasi khusus hanya untuk yang Disarankan.

Akibatnya, mengesampingkan Kouenji, akhirnya aku menempati posisi kedua di kelas. Aku sudah membuat kesalahan.

Selanjutnya, posisi ketiga adalah Hirata dengan 57,9.

Seperti yang aku duga, seorang laki-laki yang bisa melakukan apapun seperti dia mampu menghasilkan hasil yang tak tergoyahkan bahkan di sini.

Di sisi lain, Sudou yang berniat membawa seluruh kelas pada festival olahraga, tidak menyembunyikan kekecewaannya atas hasil teman sekelasnya.

"Benar-benar tidak bisa diandalkan, kelasku ini..... kecuali aku, semua orang terlihat seperti sampah. Saat ini mungkin juga akan berakhir setelah Ayanokouji"

Bahkan jika itu adalah fakta, bahwa dia bisa mengatakan itu kepada orang-orang yang dimaksud di sampingnya adalah salah satu hal yang menakjubkan dari Sudou.

Setelah semua anak laki-laki selesai mengukur, kali ini mereka menyerahkan alat ukur kepada anak-anak perempuan. Aku pikir itu sudah jelas karena ada kompetisi campuran dimana kekuatan akan dibutuhkan dari mereka seperti halnya anak laki-laki.

Saat ini, Hirata mengisi keseluruhan hasil yang sudah diukur ke dalam kerangka acara partisipasi hanya untuk yang direkomendasikan dan menulisnya di buku catatan.

"Tarik tambang dan tarikan tambang segala arah hanya bisa sesuai dengan kekuatan pegangan. Sudou-kun, Ayanokouji-kun, Miyake-kun dan aku"

"Hei, aku penasaran dengan sesuatu,  aku belum pernah mendengar tentang tarik tambang segala arah. Aku belum pernah mendengarnya.”

"Aku juga belum pernah mendengarnya, jadi aku mencari tau. Persis seperti yang terlihat, sepertinya adalah sebuah kontes di mana kau menarik tali ke empat arah. Dari 4 kelas, masing-masing dipilih empat orang dengan total 16 orang yang menarik tali sekaligus, sepertinya semacam kontes yang seperti itu”

Tidak seperti tarik tambang yang normal dimana bisa menggunakan kekuatan, sepertinya sebuah taktik akan penting di sini.

Hirata menulis para peserta tarik tambang segala arah.

"Hei, Hirata, bukankah kami mendapat beberapa kesempatan?"

"Bukan seperti itu, misalnya, dalam scavenger hunt, bukan atletisan, aku pikir keberuntungan adalah apa yang sedang diuji"

"Keberuntungan, ya? Lalu bagaimana kita akan memutuskannya?"

"Sederhana. Bagaimana kalau kita melakukan gunting-batu-kertas?"

Aku pikir bukan berarti Hirata serius, tapi anehnya ini mungkin sebuah usulan yang masuk akal.

Dalam kehidupan individu, keberuntungan tiba-tiba merupakan faktor yang sangat besar. Ini tidak pasti, tapi karena ketidaktetapan keberuntungan, mungkin saja kehidupan seseorang bisa melakukan perubahan sebanyak 180 derajat.

Ada orang-orang, meski berbakat, tetap menjadi pegawai perusahaan sementara mereka, meski tidak kompeten, berhasil naik ke posisi presiden.

Itu memang bukti bahwa unsur keberuntungan juga terlibat. 

Tentu saja, umumnya faktor selain itu adalah penyebab sebagian besarnya oleh waktu. scavenger hunt di festival olahraga, jika kita akan memutuskan peserta untuk itu maka gunting-batu-kertas sudah cukup.

Membagi mereka menjadi beberapa kelompok dari beberapa orang, kami mempersempit posisi yang akan bersaing. Tentu saja, aku tidak berniat ikut serta.

Berdoa hanya untuk kalah, aku mengambil putaran pertama dan itu sendiri menjadi sebuah kemenangan. Kemudian, berdoa dengan semangat yang lebih besar lagi untuk kalah, aku menang di babak kedua (sebenarnya babak final). Namun, aku dengan ajaib akhirnya menang.

Tiga anak laki-laki dan dua perempuan. Partisipasi dari lima orang yang menang dalam gunting-batu-kertas sudah diputuskan.

"Ayanokouji-kun, Yukimura-kun, Sotomura-kun, Mori-san dan Maezono-san. Kelima dari kalian, kalau begitu."

Kemudian menambahkan juga si Sudou, kami berenam akan berpartisipasi dalam scavenger hunt.

"Kopou! Aku sudah dipilih untuk scavenger hunt! Kopoi!"

Profesor putus asa dengan kekuatan yang menggelegak.

"Kenapa aku memilih batu? Kopou"

"Yah, kita sudah sepakat ..."

Pada saat seperti ini, aku bertanya-tanya, apakah itu bisa disebut sebagai keberuntungan atau kesialan. Ini benar-benar kesialan.....

"Aku iri...."

Ike mengungkapkan rasa iri kepada para pemenang.

Sangat menarik, bahwa tergantung orangnya, sudut pandang keberuntungan juga berubah. Tidak, sungguh... aku ingin mengatakan bahwa aku akan menyerahkan posisiku, tapi satu kalimat itu saja bisa memicu diskusi sehingga aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku juga bisa melihat ketidakpuasan dari murid seperti Profesor yang tidak mau berpartisipasi.

Kemudian, meski berbagai harapan berubah menjadi rumit, tabel kontes semuanya terisi dengan benar.

"Selesai"

Hirata membalik buku catatannya setelah selesai memutuskan partisipasi masing-masing murid dalam semua kontes.

Melihat itu, kelas sudah kembali tenang, Hirata mendesah lega. Namun, ini hanya masalah sementara, dan tergantung pada praktik dan informasi masa depan yang didapat dari kelas lain, kemungkinan akan ada bagian yang akan mengalami perubahan besar.

"Informasi yang baru kita putuskan sangat penting dan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan dari kelas lain untuk mengetahui tentang giliranmu sendiri dan pasanganmu. Aku  ingin kau mengingat itu. Untuk memastikan tidak ada dokumen tertinggal "

Hirata memperhitungkan semuanya. Pemikiran itu tepat. Jika sebuah ponsel digunakan untuk merekam daftar di buku catatan, maka tidak ada yang tahu di mana ia akan menyebar.

Notebook itu diedarkan dari orang ke orang. Horikita mengatakan ini padaku saat aku memperhatikan situasi kelas.

"Ada apa, Ayanokouji-kun? Kau memiliki pandangan yang sedikit diam di wajahmu"

"Beberapa partisipasi yang tidak mau ikut sudah diputuskan, aku akan merasa melankolis"
T/N: Melankolis adalah seseorang yang serius dan juga tertutup,

"Mau bagaimana lagi. Di kelas ini, ada kesenjangan yang luar biasa antara murid yang atletis dan mereka yang tidak atletis"

"Tentu saja itu benar"

Rasio partisipasi dalam acara partisipasi hanya untuk yang direkomendasikann yang diperjuangkan sekarang sudah diputuskan. Seperti yang diharapkan, salah satu orang dengan jumlah partisipasi yang luar biasa adalah Sudou. Dia akan mengikuti semua kontes sampai-sampai kau akan khawatir dengan staminanya.

Sedangkan untuk anak perempuan, dimulai dengan Horikita, banyak murid akan berpartisipasi dalam 3 acara. Di sisi lain, kesialan datang untukku dan aku harus berpartisipasi dalam 2 acara.

Tentu saja, bukan berarti itu adalah sebuah keputusan akhir, tapi hanya merupakan pengganti sementara dan jika, sebelum acara yang sebenarnya, individu yang cocok muncul, mungkin saja aku akan diganti dengan mereka. Pada saat seperti itu, aku berniat untuk menyerahkannya. Tidak, dengan segala cara aku ingin menyerahkannya. 

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter