Light Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Volume 4 Epilog

Light Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Volume 4 Epilog

Baca Light Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Volume 4 Epilog 


PERBEDAAN SETIAP ORANG

Hari terakhir ujian dimulai dan tidak seperti saat di pulau tak berpenghuni, waktu berlalu dengan cepat di kapal mewah. Selanjutnya, setiap hari selama dua jam waktu diskusi berlalu tanpa banyak pembahasan yang sebenarnya sedang dibahas.

Sementara itu, baik itu rencana melawan Ryuuen dan rencana benteng Katsuragi berjalan seperti biasanya, Ichinose Honami dari Kelas B menghabiskan waktunya tanpa bisa menghadapi serangan balasan melawan strategi tersebut.

"Waah, aku menariknya lagi, apa mungkin aku payah di old maid?"

Ichinose mengatakan hal itu sambil mengeluarkan kartu di tangannya di hadapanku.

Meskipun saat ini adalah waktu diskusi kelima yang kami miliki, Ichinose sekali lagi menyarankan untuk bermain kartu. Aku akan mempertanyakan pendekatan ini, tetapi sepertinya tidak ada seorang pun di Kelas A yang bersedia muncul untuk berdikusi sehingga hanya ada sekelompok kecil orang yang berpikir akan lebih baik jika bermain daripada menghabiskan waktu tanpa tujuan dan bergabung di dalam permainan kartu.

Hubungan Manabe dan yang lainnya dengan Karuizawa sedikit mengkhawatirkan, tetapi sepertinya efek dari pengiriman foto-fotonya berhasil dengan sangat baik dan sekarang, mereka mematuhi perintah untuk menjauhinya. Karuizawa juga percaya akan hal tersebut dan bersikap normal seperti biasanya.

Di sisi lain, jika melihat dari sudut pandang Manabe, orang misterius yang mengirim chat tersebut mungkin adalah aku atau Yukimura yang muncul di dalam insiden di tangga darurat. Aku menambahkan pada chat yang aku terima bahwa itu dari teman sekelasnya, tetapi sudah jelas bahwa salah satu dari dua orang yang ada di sana sudah pasti adalah orang yang memotretnya.
Entah hal itu atau  foto-foto mereka sudah dipastikan disebarkan oleh orang misterius yang memulai chat tersebut sebagai sesuatu yang menarik. Manabe pasti sudah mendapat pemikiran semacam ini dari semua kejadian itu.

Selama dia tidak bisa memastikan dengan pasti bahwa akulah yang bertanggung jawab atas semuanya, dia tidak bisa mengambil tindakan terhadapku karena tidak ada gunanya mencari tahu identitas seseorang yang memotret kejadian itu.

"Apa aku boleh berhenti di sini seperti ini? ..."

Yukimura berbicara sementara duduk di sampingku dengan ekspresi yang suram dan depresi.

"Kau terlihat murung, Yukimura-kun. ini adalah tempat dimana kau bisa memainkan hati mu dan mengeluarkan amarahmu. Pertandingan ulang. Pertandingan ulang!”
T/N: Tidak yakin ini hati (perasaan) atau kartu wajik hati? Tapi kayanya itu adalah kartu wajik heart.

"Aku akan melewatkannya, lagipula aku juga tidak bisa menikmatinya, yang lebih penting, apa ini baik-baik saja, Ichinose-san? Mengakhiri ujian seperti ini, aku pikir kau lah yang memegang kendali di kelompok ini dan membimbing kami semua selama diskusi" Yukimura bertanya kepada Ichinose.

Dan untuk menanggapi hal tersebut, Ichinose yang tangannya memegang kartu, berhenti untuk sementara.

"Bukankah itu terlalu cocok untuk dirimu sendiri, Yukimura-kun? Jika kau benar-benar ingin menang, jangan mengandalkan orang lain untuk melakukannya untukmu dan gunakan kekuatanmu sendiri untuk menang"

"... aku sangat mengerti itu, aku mengerti"

Fakta bahwa dia tidak mampu memiliki tanggung jawab itu di dalam dirinya, aku yakin Yukimura juga menyadari fakta tersebut, tetapi meski tahu, aku pikir dia masih ingin mengubah suasana pasrah ini.

Yukimura yang memegang nilai tinggi akan menjadi salah satu yang paling bisa diandalkan jika ujian itu murni mengukur kepintaran akademis kami. Tetapi hanya karena kau berbakat secara akademis, itu tidak selalu berarti membangkitkan semangat orang-orang. Bukan berarti mereka bisa menemukan ide yang baru begitu saja. Ada hal-hal di dunia yang tidak bisa dilakukan hanya dengan menghafal kata dan rumus.

Selama liburan musim panas, ada dua ujian khusus yang kami hadapi, bahkan Horikita terpaksa menghadapi ketidakberdayaannya dalam menghadapi hal tersebut.

Aku bertanya-tanya apakah di dalam kebuntuan situasi ini, Ichinose, Machida dan yang lainnya juga merasakan kejengkelan ini.

Bagaimana pun, bahkan dengan frustrasi itu, selama hal itu tidak berakhir dengan menghancurkan semangatmu, akhirnya itu bisa digunakan untuk kekuatanmu.

"Dan dengan pertemuan berikutnya, ujian ini akan selesai. Bagaimana dengan keadaan di sisimu, Ayanokouji-kun?"

Aku mengadakan pertemuan terakhir dengan Horikita. Dunia luar sudah terbungkus oleh kegelapan. Catatan pembicaraan kami tetap ada di dalam Chat. Untuk menghindarinya, saat ini kami bertemu secara langsung.

"Tidak ada perubahan yang spesial di sisiku, sepertinya target kami akan lolos dengan selamat. Bagaimana denganmu?"

Aku pikir aku tidak bisa berharap banyak kepada Horikita, namun...

"Aku akan menang"

Jawabnya singkat seperti itu.

"Jadi kau sudah menemukan ‘target’?"

"Aku tidak tahu siapa yang mendengarkan kita, jadi aku tidak bisa menceritakan rinciannya, tapi aku tidak keberatan jika kau percaya kepadaku, semuanya akan berjalan dengan lancar"

Dari Hirata, aku sudah pernah mendengar bahwa "target" kelompok Naga itu adalah Kushida. Tentu saja, aku yakin Ryuuen dan Kanzaki sudah melakukan segalanya dengan kekuatan mereka untuk menjebaknya. Tetapi sepertinya Horikita telah berhasil berlayar menuju keselamatan dan bertahan.

Jika dia bisa dipercayai, aku yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau hanya perlu menunggu 500.000 poin untuk digulirkan di kemudian hari. Hal ini bahkan bisa digambarkan sebagai kemenangan yang pasti bagi kami dalam masalah tersebut.

"Apa kau mungkin ingin berkonsultasi denganku?" dia bertanya.

"Tidak usah, kau bisa membuat pergerakan apapun yang kau suka"

Bahkan jika dia bercerita tentang kelompok (Naga), sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya.

"Jadi, kau bilang kau ingin berbicara denganku tentang sesuatu, apa itu? Aku ingin menghindari kontak yang ceroboh jika itu memungkinkan" kata Horikita kepadaku.

Mungkin dia mewaspadai keberadaan Ryuuen yang sudah menguntit Horikita... mungkin. Aku tidak bisa merasakan kebaikan apapun dari sikapnya, tapi itu akan merepotkanku bahkan jika Horikita tiba-tiba bersikap baik kepadaku.

"Kau tidak boleh takut dengan tatapan Ryuuen selamanya, kau tahu"

"Dilihat dari nada itu, bisakah aku menganggap bahwa kau memiliki rencana?"

Tetapi sepertinya dia tidak banyak berharap kepadaku karena dia terlihat terkejut saat aku mengangguk menanggapi hal itu.

"Aku sudah menarik Hirata ke pihakku, aku percaya aku bisa membangun hubungan kerja sama dengannya di masa depan"

"Aku benar-benar tidak menginginkan semua itu" jawabnya.

"Baiklah, aku tidak akan memintamu terlibat dengan Hirata secara pribadi, aku akan menangani pembicaraan dengan Hirata sehingga itu akan sesuai dengan langkahku"

"...Aku tidak suka ini, aku tidak suka kau seperti bergerak di belakang punggungku" kata Horikita

Aku sudah menduga dia akan mengatakan sesuatu seperti ini.

"Kalau begitu tunjukkan wajahmu saat kita membahasnya nanti. Bahkan jika kau tidak bisa memaksakan diri untuk mengatakan sesuatu, kau bisa mengikuti diskusi sehingga tidak ada masalah di sana, benarkan?" Tanyaku padanya

"Aku rasa begitu"

Dia merasa tidak puas, tetapi jika aku memberi Horikita pilihan untuk berpartisipasi atau tidak berpartisipasi, dia tidak bisa menolaknya. Lagipula, keberadaan Hirata adalah sebuah keuntungan bagi kelas dan setelah melihat kepemimpinannya di pulau tak berpenghuni, Horikita pasti akan memahaminya juga.

"Termasuk Hirata, ada seseorang yang ingin aku perkenalkan. Tolong luangkan waktumu sebelum ujian selesai" kataku.

"Aku masih tidak menyukainya, jangan ikut sertakan lebih banyak orang dari yang dibutuhkan"

"Tolong pertimbangkan jika itu adalah konsekuensimu yang berdiri di garis depan. Selain itu, orang tersebut pasti akan berguna bagi kita"

"Aku pikir kurang lebih aku mengerti apa yang sedang terjadi... tapi baiklah. Kita akan bertemu di sini tepat setelah ujian berakhir,"

Setelah menukar janji itu, aku melihat jam di ponselku. Diskusi terakhir akan berlangsung dalam 30 menit.

"Dalam ujian ini, aku bertanya-tanya, seberapa banyak kelompok yang akan diselesaikan oleh pengkhianat?"

"Aku juga ingin tau. Aku terkejut jika ujian kelompok Sapi tiba-tiba berakhir, tapi aku ragu hal seperti itu akan terulang. Aku pikir hasil yang paling mungkin adalah ‘target’ yang lolos saat ujian hampir selesai"

"Sudah kuduga, aku juga berpikir seperti itu"

Dan sebentar, Horikita mengalihkan pandangannya. Itu adalah gerakan tidak sadar yang manusia buat saat mereka mengkhawatirkan sesuatu.

"Ada apa?"

"Tidak ada, hanya saja, aku hanya merasakan sesuatu yang salah dengan cara ujian ini berkembang, tetapi seharusnya tidak ada kesalahan, aku pasti tidak akan kalah"

Sepertinya beberapa kecemasan yang dia simpan di dalam dirinya sedikit bocor. Bahkan jika aku menawarkan kalimat dukungan, aku yakin dia akan menganggapnya sebagai masalah yang tidak penting. Jadi aku memutuskan untuk diam saja.

Anggota kelompok (Kelinci), tanpa harus mendekat untuk mencari solusi di dalam ujian, ujian sudah memasuki diskusi yang keenam dan yang terakhir.

Karena aku ingin mempertimbangkan ideku dengan tenang dan rasional untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan Hirata dan yang lainnya dan mulai menuju ruang diskusi kelompok.

Karena masih tersisa sekitar 30 menit sampai dimulainya diskusi, jelas tidak ada yang akan datang ke sana.

Tetapi, harapan itu terabaikan oleh kehadiran seseorang yang tak terduga...

"... Seseorang yang sudah datang duluan, ya?"


Itu merupakan sosok seorang perempuan yang tidur di lantai di sebuah ruangan saat tidak ada seorang pun yang seharusnya berada di sana. Meski begitu, aku bertanya-tanya kenapa roknya sangat menggelitik hati seorang laki-laki?

Ini gawat, ini gawat.

Karena dia sedang berbaling, paha gemuk Ichinose bahkan terlihat lebih jelas dari biasanya dan ke arah rok yang tidak bisa kulihat di dalamnya, aku mendapati diriku tidak bisa mengalihkan tatapan dari mereka.

Jika ada laki-laki di sini yang tidak merasakan hal yang sama kepada Ichinose, maka dia adalah gay atau biseksual. Tidak terlepas dari kejadian itu, ini merupakan takdir dari seorang anak laki-laki yang sehat.

Meskipun kupikir itu tidak ada gunanya, aku tidak bisa berhenti melihat mulai dari paha ke kakinya, lalu ke wajahnya, lalu ke payudaranya, lalu kembali turun ke pahanya.

Tatapanku berkedip di antara mereka. 

Sementara merasa frustrasi kepada zaman ini, aku tiba-tiba terganggu oleh sesuatu yang lebih jauh di belakang kepala Ichinose, yaitu ponsel yang pasti pernah dia gunakan sebelum tertidur.

Di ponsel yang diberikan oleh sekolah, cukup sedikit informasi yang tertulis dan tidak hanya memainkan peran penting di dalam ujian ini, tapi juga memungkinkanmu unyuk menentukan poin masing-masing individu.

Tentu saja untuk mengonfirmasi hal ini, sesuatu seperti ID pribadi dan kata sandi diperlukan, namun untuk menghindari kerumitan haruslah log in setiap kali seseorang ingin memeriksanya, ada banyak kasus dimana murid yang menyimpan informasi semacam itu di terminal mobile.

Itu berarti, dengan kata lain, jika aku bisa mencuri ponsel Ichinose sekarang, aku bisa memastikan kekayaan Ichinose dan jumlah poin yang dia pegang. Beberapa waktu yang lalu, aku sudah memutuskan untuk mengabaikan ID dan kata sandinya, Ichinose juga menyimpan informasinya di terminal mobile.

Jika situasinya tidak berubah, aku akan bisa mendapatkan informasi.

Perlahan dan hati-hati, aku mendekatinya.
"... uuuuu”

"Wow"

Seiring jarak antara kami semakin dekat, mungkin suasananya akan berubah dan dia akan merasakan kehadiran orang lain, tetapi Ichinose hanya sedikit bergerak dan kemudian dia langsung tertidur lagi. Sepertinya aku berhasil melakukannya tanpa membangunkannya. Aku memperpendek jarak lagi.

"... nnn".

Aku ingin tahu apa yang sedang aku lakukan. Meskipun demi mengumpulkan informasi, jika ada yang melihat ini, mereka hanya akan melihatku sebagai orang yang mesum.

Bagaimana jika Ichinose terbangun saat aku memunggungi dia? aku merasa sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.

Karena diskusi dimulai dalam 30 menit, tidak masalah meski aku datang lebih awal, kalau begitu, bukankah sebaiknya aku menunggu di dalam ruangan dengan tenang? Jika tidak ada hal yang aku anggap salah, aku harus bertindak normal. Langkah demi langkah, aku menutup jarak dengan Ichinose.

"... nnnnn ... munyumunyu".

Ini tidak mungkin.

Setiap kali aku bergerak, Ichinose terus menunjukkan tanda-tanda terbangun. Untuk menguji dugaan ini, aku mencoba menggerakkan kakiku di tempat tanpa benar-benar bergerak. Jika Ichinose menanggapi hal ini, aku bisa menyimpulkan jika dia hanya tidur ringan. Dikatakan bahwa orang-orang yang tertidur ringan adalah orang sangat berhati-hati...

... ini menyedihkan

Kenapa aku menyelinap seperti ini? Tapi anehnya, dia sama sekali tidak berbicara di dalam tidurnya. Tapi jika ada yang melihatku sekarang yang mereka lihat hanyalah sebuah kata mesum.
Setelah memperhatikan tingkah lakuku sendiri sebagai usaha yang bodoh, aku menyerah mencuri ponselnya dan menjauh darinya lagi. Lalu aku duduk di tempat yang jauh dari Ichinose.

Dari sudut pandang ini, tidak ada risiko bahwa aku tanpa sengaja melihat rahasia tersembunyi di pahanya dan resiko bahwa aku juga tidak sengaja membuat kontak dengannya dari tempat ini.

Yang lebih penting lagi, sejak awal. Aku bertanya-tanya kapan tepatnya Ichinose sudah tiba di sini?

Kemudian, sekitar 20 menit sebelum diskusi dimulai, musik yang imut terdengar di ruangan. Itu berasal dari ponsel Ichinose.

"... nnnn"

Sambil tetap memejamkan matanya, dia meraih ponsel dan mengoperasikan layar ponselnya, dia menghentikan musik itu. Sepertinya musik itu berasal dari alarm yang dia atur. Sambil tetap merasa mengantuk, Ichinose mengangkat dirinya dari lantai dan memperhatikan kehadiran yang asing, yaitu keberadaanku di dalam ruangan.

Aku bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika dia membuat wajah jijik ke arahku, tetapi dia sama sekali tidak mengkhawatirkannya.

"Selamat pagi, Ayanokouji-kun Maaf, apa alarmku mengejutkanmu?"

"Tidak. Yang lebih penting, sepertinya kau tidur dengan nyenyak"

"Ahahahaha maaf maaf, aku baru saja tertidur, kau datang cepat, masih ada 20 menit lagi"

"Sama saja denganmu, sejak kapan kau di sini?"

"Sejak satu jam yang lalu. Aku hanya ingin meluangkan waktu dengan tenang, jika di kamarku, itu sangat ribut dengan teman-temanku yang keluar masuk"

Sepertinya ini adalah tempat terbaik baginya untuk beristirahat.

"Selain itu, aku juga ingin mengumpulkan pemikiranku"

Dari pada merasa segar setelah tidur, wajahnya terlihat lebih seperti dia memiliki sekilas pemahaman.

"Apa kau mendapatkan beberapa hasil?" aku bertanya.

"Kurang lebih"

Lalu berdiri, entah kenapa Ichinose berjalan menyeberangi ruangan ke arahku dan duduk di sampingku.

Sebuah ruangan dengan hanya dua orang yang hadir dan jarak yang terlalu dekat. Aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku di dalam situasi ini tetapi sepertinya Ichinose sama sekali tidak memperhatikannya.

"Masih ada waktu yang tersisa sebelum ujian, jadi bisakah kita ngobrol sedikit? Jika itu tidak menganggumu" dia bertanya.

"Tidak, itu sama tidak mengganggu. Jika kau tidak masalah dengan itu, aku akan mengobrol"

"Kalau begitu sudah diputuskan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Ayanokouji-kun, aku juga pernah menanyakan ke semua teman sekelasku, termasuk anak laki-laki seperti Kanzaki-kun juga. Tapi aku juga belum pernah mendengar pendapat dari kelas yang lain, jadi aku penasaran. Ayanokouji-kun, apa kau pernah menjadi sangat ingin naik ke kelas A?”

Aku penasaran pertanyaan apa yang akan dia pilih untuk diberikan kepadaku, tetapi itu adalah pertanyaan yang sangat umum untuk diajukan.

"Tentu saja, aku memikirkan sesuatu seperti itu. Tidak... Dari pada ingin naik ke Kelas A, itu lebih seperti karena aku ‘membidik’ Kelas A. Itu akan menjadi cara yang lebih tepat untuk menggambarkannya"

"Dengan kata lain... itu karena jaminan karier dan penempatan kerjanya yang bagus?"

Di sekolah ini, murid terbagi menjadi kelas A sampai D dan dibuat untuk saling berkompetisi. Namun, hak istimewa tertinggi adalah agar bisa pergi ke universitas manapun dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus hanya diberikan kepada Kelas A. Tulisan itu ditulis dengan ambigu di pamflet sekolah sehingga pada awalnya mungkin terlihat seperti sebuah tipuan.
T/N: Pamflet dapat juga disebut selebaran.

"Di hari ini dan waktu yang lama, setelah lulus kau tidak akan sanggup memegang hidup dan pekerjaanmu, terutama jika harus dipekerjakan"

"Aku pikir itu benar, aku juga berpikir begitu, tetapi terlalu percaya kepada sistem ini juga sangat berbahaya, bukankan begitu? Di dalam 99,9% kata-kata yang mereka katakan, ada perangkap yang tak kasat mata yang mata kita tidak bisa melihat" katanya.

Tentu saja perangkap yang Ichinose bicarakan kemungkinan ‘99, 9% menjamin tingkat lapangan kerja dan pendidikan yang berikutnya’ yang disebut-sebut oleh sekolah.

Misalnya, jika aku ingin menjadi pemain basket profesional namun tidak memiliki pengalaman yang dibutuhkan, sekolah tersebut akan berusaha menemukan cara untuk mendorongmu ke tingkat profesional. Selanjutnya, sekolah ini juga merupakan tempat berkembangbiakannya koneksi interpersonal. Tetapi hanya karena kau bermain basket secara teratur atau telah lulus dari universitas atau sekolah terkenal, tidak akan menjamin masa depanmu.

Orang-orang yang berhasil mengapai cita-cita mereka yang telah dijamin sejak awal, hanyalah sebagian kecil saja. Menurut statistik tertentu, hanya satu dari enam murid SD yang mewujudkan cita-cita mereka.

Sekilas, ini terlihat seperti kemungkinan yang tinggi, namun data itu adalah yang paling ambigu dan standar statistiknya terlihat kabur. 

Menjadi pemain basket profesional sukses tidak berarti kau akan menjadi pemain kelas satu. Pemain basket profesional misalnya, termasuk trainee, akan berjumlah sekitar 900 atau 1000 orang. Namun, hanya dengan bermain secara reguler, bertanding dan menang melawan sainganmu, seseorang dapat mengapai cita-cita mereka. Pada akhirnya, hanya ada 100 dari orang-orang tersebut yang berhasil mewujudkan cita-cita mereka.

Dengan kata lain, membidik cita-citamu dan  berhasil menyelesaikannya memiliki kemungkinan yang sangat rendah. Bagaimanapun, mewujudkan cita-cita itu sangat sulit dilakukan. Banyak murid hanya mengulangi kehidupan membosankan mereka berulang-ulang sambil berbicara dengan samar tentang impian mereka. Tetapi jika seseorang benar-benar ingin mewujudkan mimpinya, mereka akan membutuhkan banyak usaha dan keberuntungan.

"Begitulah sekolah ini... jika kau memikirkannya, hal itu memiliki pengaruh yang besar bukan? Dan banyak orang sudah berhasil di dalam kehidupan mereka karena bantuannya atau apa kau ingin mengatakan bahwa kau tidak tertarik dengan itu, Ichinose?"

"Tidak ada yang seperti itu, bahkan aku memiliki mimpi, lulus dari kelas A. Dan juga mimpi yang ingin aku penuhi"

Meskipun dia mengatakannya sambil tersenyum, aku bisa melihat perasaan kuat dan tegas di matanya.

"Sistem sekolah itu sendiri sudah bagus, tapi jika kau tidak bisa lulus dari Kelas A, kemungkinanmu tidak seberapa, karena sekolah beroperasi dengan realisme, jika kau tidak bisa menang dengan menggunakan bakatmu sendiri, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melakukannya. Dan yang terpenting, murid ditempatkan ke kelas berdasarkan kemampuan mereka saat ini, antara aku dan Ayanokouji-kun di sini, hanya satu dari kita yang bisa mencapai cita-cita mereka dengan pindah ke puncak. Aah, meskipun ada juga kasus dimana tidak satu pun dari cita-cita kita yang akan terwujud"

Dengan kata lain, meski kita duduk di sini dan berbicara seperti teman, pada akhirnya hanya ada satu kelas yang bisa menjadi pemenangnya. Tiga kelas yang tersisa tidak akan dibagi ke dalam penghargaan tersebut.

"Apa kau pernah mendengar? ada juga pengecualian terhadap peraturan tersebut"

"Hmm? Apa itu dimana individu mengumpulkan 20 juta poin?"

"Yup. Sepertinya tidak ada yang bisa mencapai sesuatu seperti itu di dalam sejarah sekolah, tetapi ada Ultra C yang seperti itu juga" jawab Ichinose.

"Ya, ya, jika kita memperhitungkannya juga, mungkin saja kita berdua bisa lulus dari kelas A" kata Ichinose.

"Masalahnya adalah apa kau bisa menghemat 20 juta poin atau tidak sejak awal, bahkan jika kau menghemat poin di dalam ujian, sistem sudah ditetapkan sehingga tidak akan mampu mencapai 20 juta" jawabku.

Jika kita hanya melihat ujian khusus ini, tergantung kepada tindakanmu selama itu. Sangat mungkin untuk menerima sejumlah besar poin dan hanya ada dua ujian yang sudah dilakukan sejauh ini. Dari titik ini dan seterusnya, mungkin saja jumlah poin yang bisa diterima diperkecil dan bagi mereka karena sudah dimakan oleh denda yang besar.

"Aku pikir itu benar. Jika kau mulai menabung poinmu, dengan hanya mencapai setengah dari jumlah itu, kau pasti sudah menimbulkan kecurigaan," kata Ichinose.

"Itu benar. Khususnya di situasi keuangan di Kelas D, sangat mengerikan, meski Horikita melakukan yang terbaik untuk kami, poin yang didapat dari pulau tak berpenghuni masih jauh. Tidak, mungkin saja kami kehilangan poin di Ujian ini, Ichinose, apa kau menyimpan poin? Menurutku, kau bukan tipe yang bekerja keras untuk mendapatkan poin”

"Ummm... Aku bertanya-tanya, aku tidak tahu dengan orang yang lainnya, Aku pikir terkadang aku menggunakan poin dan terkadang menyimpannya juga. Meski aku di Kelas B, aku masih belum memiliki banyak poin. Kau tahu”

Menanggapi pertanyaanku, Ichinose membalas dengan nada yang sangat alami tanpa indikasi bahwa dia menyembunyikan sesuatu yang bisa dinilai hanya dari perilakunya.

"Ayanokouji-kun"

"Hmm?"

Kemudia, Ichinose tiba-tiba menutup jarak denganku dan berbalik menghadapku sambil menatap wajahku.

"Sepertinya kau sudah melihatnya, saat itu"

Mata indah yang terlihat seperti mengisapku dengan melihatku tanpa melepaskannya. Sepertinya Ichinose jauh lebih pintar dari yang aku pikirkan, dia melihat rencanaku.

"... maaf, saat kau menggunakan ponselmu tadi, kebetulan aku melihat layarnya. Aku penasaran dan hanya ingin bertanya kepadamu" jawabku.

"Ahaha... bukan berarti aku menyalahkanmu karena itu. Tentu saja itu poin yang besar, bukan?"

Itu benar. Bahkan sebelum akhir semester satu, Ichinose sudah mengumpulkan sejumlah besar poin. Bahkan jika aku menyimpan setiap poin yang diberikan kepadaku setiap bulan tanpa menggunakan satu poin pun, aku tetap tidak bisa menghemat sebanyak itu.

"Jangan khawatir, aku belum memberitahu orang lain, ada kemungkinan aku salah, aku tidak akan menyelidikinya lebih lanjut," kataku padanya.

Bahkan jika aku menyelidiki, aku ragu aku akan bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.

"Apa kau bisa menemukan cara untuk menang?" Aku bertanya.

"Ummm ... kurasa seperti itu, kurasa aku sudah menemukan petunjuk"

Kupikir tidak mungkin dia menjawab dengan jujur, tapi apa itu karena kepercayaan dirinya, Ichinose menjawab dengan nada santai. Sepertinya Ichinose adalah tipe yang bertindak berdasarkan keyakinannya tanpa membuang waktu.

"Kalau begitu pertarungan ini... itu akan menjadi pertarungan untuk melihat apakah A akan menang atau B akan berakhir"

"Aku tidak akan tahu sampai tirai sudah dijatuhkan (berakhir). Kemenangan yang aku bidik adalah..."

Tetapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, seiring waktu diskusi kelompok mulai mendekat, anggota kelompok mulai muncul satu per satu. Murid Kelas A adalah orang pertama yang datang, bagaimanapun, tanpa banyak bertukar sapaan dengan kami, mereka hanya mengambil tempat duduk mereka.

"Apa? Kau sudah di sini, Ayanokouji?"

"Bersama dengan Ichinose-dono, kalian berdua saja. Pertemuan rahasia apa yang sedang kau rencanakan di sini?"

Baik Yukimura maupun Sotomura menyerangku secara sepihak dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut saat mereka memasuki ruangan bersama-sama. Aku tidak bisa menuliskan kecemasan dan depresi di wajah mereka, jadi mungkin mereka sudah menyerah kepada kemenangan pada saat ini. Di sisi lain, murid Kelas B terlihat hampir tenang.

"Ini yang terakhir, ya? Apa kau sudah menemukan petunjuk?"

Hamaguchi bertanya kepadaku setelah diam-diam menunggu diskusi kelompok dimulai dengan serius.

"Jujur saja, aku belum punya ide, kami sama sekali belum bisa membangun pembicaraan yang layak"

Aku memang mengatakannya, tapi aku sudah menjalankan strategi yang sudah aku rencanakan sejak awal ujian. Dengan menggunakan pesan yang dikirim sekolah ke ponsel kami, "target" tersebut berhasil disamarkan. "Target" kelompok (naga) adalah Kushida, tapi apa yang terjadi jika misalnya, Kushida dan Horikita menukar ponsel mereka. Saat melihat ponsel itu, siapa pun akan menduga Horikita sebagai "target"

Dan jika ada pengkhianat yang mengetahui fakta ini, dengan mengirimkan nama Horikita sebagai "target", mereka akan membuat kesalahan dan kemenangan akan tercapai seperti itu.

"Selamat malam, ayo kita jalani"

Setelah sempat mengatakannya, Ichinose kembali bersikap dan tersenyum seperti biasa. Tetapi masih terlalu cepat, karena masih belum ada yang tahu apa yang anggota lain sembunyikan dan rencanakan.

Selain itu, jika setiap orang fokus pada masalah yang ada, akan semakin sulit menyamarkan "target" itu sendiri. Aku sudah menunggu Ichinose untuk terus berbicara lebih cepat, tapi aku memutuskan untuk membiarkanya sekarang. 

"Jika semua orang tidak masalah dengan itu..."

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan"

Anehnya, aku dan Hamaguchi mengucapkan kata-kata itu pada saat bersamaan.

"Maaf, tolong teruskan Ayanokouji-kun"

"Tidak... Apapun itu, kau duluan, aku baik-baik saja”

Aku tidak pernah mengharapkan kebetulan ini saat ini. Sebuah kebetulan yang mengerikan. Rencanaku sendiri tidak memiliki kekurangan, tapi jika masalah tak terduga seperti ini terjadi, efek dari rencanaku mungkin menjadi tidak stabil.

Kurasa aku bisa mendengarkan apa yang Hamaguchi katakan sebelum waktunya aku berbicara dan mencoba lagi. Sebagai tanggapan terhadapku yang telah memikirkan hal tersebut, Hamaguchi menghancurkan harapanku dengan cara yang tidak terduga.

“Lalu, dengan seizinmu selama tiga hari terakhir, aku terus memikirkan cara terbaik untuk mencapai hasil yang pertama"

Hamaguchi kemudian mulai menceritakan rencananya kepada anggota kelompok kelinci yang lain. Anehnya, isi usulannya sangat mirip dengan strategi yang sudah aku rencanakan.

"Dan akhirnya aku hanya menemukan satu kesimpulan, bahwa memungkinkan untuk seluruh kelompok mencapai hasil pertama dan sebuah cara untuk membuatnya mungkin" Hamaguchi melanjutkan.

"Apa itu benar, Hamaguchi?"

Sambil menatap Yukimura dan yang lainnya yang telah melepaskan semua harapan mereka, secercah harapan sudah kembali.

"Tentu saja, ini ide yang aku dapatkan setelah mendengarkan semua orang di sini, termasuk Ichinose-san dan Machida-kun" kata Hamaguchi.

"Luar biasa. Tidak mungkin hasil pertama bisa dicapai melalui pembicaraan itu sendiri"

Seseorang yang keberatan dengan usulan naif dan mimpi seperti ini tentu saja adalah Machida.

"Lebih baik kita medengarkannya terlebih dulu. Hamaguchi-kun bukan tipe yang bisa berbicara sebelum berpikir"

Ichinose menindaklanjuti Hamaguchi dan membuat lingkungan yang tenang untuk berdiskusi.

"Sekarang aku akan melanjutkan dengan menunjukkan semua ponselku. Tentu saja, ada pesan yang dikirimkan kepadaku oleh sekolah. Aku yakin kalian pasti mengerti apa yang aku dapatkan karena dilarang memalsukan atau mengubah pesan dari sekolah dengan cara apapun, tidak ada risiko menipu dengan cara ini. Itulah kenapa ini adalah hal yang sederhana, hanya dengan saling menunjukkan kiriman kita, kita bisa menemukan siapa ‘target’ itu, itulah cara yang aku lakukan untuk menemukan kebenaran”

"Ini bodoh, siapa yang akan menunjukkan pesan mereka seperti ini? Kami masih belum tahu bahwa seseorang tidak akan mengkhianati kami saat kami menunjukkan pesan kami, tidak ada orang yang mau mengikuti rencana ini."

Menanggapi rencana ini, siapa pun bisa memikirkannya, tapi tidak ada yang mau setuju, tentu saja sang penonton, Machida ternganga keheranan.

"Tentu saja, karena mereka tahu ada kemungkinan pengkhianatan, ‘target’ tidak akan menunjukkan pesan di ponsel mereka. Tapi melihat dari sudut pandang orang-orang yang bukan ‘target’, ada sedikit risiko dalam menunjukkan pesan. Ujian akan segera berakhir, jika kita tidak melakukan langkah kita sekarang, kita tidak akan menang. Jika kelas bekerja sama untuk melindungi ‘target’, tidak satu pun dari mereka akan menunjukkan pesan mereka. Dengan cara ini, mengepung ‘target’ sangat mungkin”

"Bahkan jika kau tahu identitas ‘target’ atau kelas yang menjadi milik mereka, jika seseorang mengkhianati kita, masalahnya tidak akan terselesaikan. Apa kau berencana memainkan permainan di mana seseorang akan lebih cepat mengkhianati kemenangan?"

Dengan menggunakan strategi ini, memang mungkin untuk mengetahui identitas "target". Tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Pada akhirnya, bukan berarti semua orang akan bermain dengan adil satu sama lain dan menjawabnya dengan benar.

"Kalau begitu, tolong tutup mulutmu. Pada akhirnya semuanya menjadi lebih baik jika Machida-kun tidak ikut berpartisipasi"

Hamaguchi mengatakan hal tersebut sambil menolak untuk menyerah kepada sikap yang tidak mau membantu dari orang lain dan melanjutkan untuk menunjukan pesan diponselnya.

"Aku setuju dengan ide Hamaguchi-kun, aku akan menunjukkannya juga milikku"

Dan Beppu dari Kelas B yang sama juga mengikutinya.

Sepertinya ini bukan kejadian yang acak dan terpencil melainkan strategi Ichinose yang tidak beralasan. Perkembangannya sama dengan strategi yang sudah aku rencanakan. Tapi, aku tidak tahu sejauh mana mereka memikirkan hal ini. Tetapi jika mereka berpikir semua orang dengan patuh akan mempercayai kata-kata itu dan menunjukkan pesan di ponsel mereka, itu akan menjadi sebuah tindakan yang gegabah... 

"Aku pikir ini ide yang bagus. Aku tidak keberatan untuk menunjukkan ponselku juga"

Ichinose sekali lagi tersenyum seolah setuju untuk mengikuti rencana Hamaguchi. Mencocokkan dengan tindakan yang lain, Ichinose juga meraih saku kanan roknya untuk mengeluarkan ponselnya.

"Aku sudah lama merenungkan ini untuk waktu yang lama, tapi akhirnya aku mengerti sekarang setelah mendengar apa yang Hamaguchi-kun katakan. Maaf aku menyimpan ini sampai sekarang tapi ..."

dan dengan kata-kata yang penuh arti tersebut, Ichinose mengeluarkan ponselnya.

Sekarang aku memutuskan untuk menyerang sebelum Ichinose bisa menyelesaikan strateginya.


"Apa kau serius, Ichinose? Jika kau berani bertaruh, maka aku akan membawamu ke penawaran itu"


Sebelum Ichinose bisa mengungkapkan isi pesannya, aku menawari ponselku sendiri. Tetapi ini bukan ponsel miliku, melainkan yang aku tukar dengan orang tertentu.

"Ayanokouji-kun ... apa kau tidak masalah dengan itu?"

"Ya, setelah mendengarkan Hamaguchi, aku pikir tidak ada cara lain selain ini. Karena aku sangat payah dalam berkomunikasi, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menunjukkan kebenarannya, jadi itulah yang akan aku lakukan"

"Tunggu Ayanokouji, aku keberatan. Tidak mungkin strategi tumpul semacam ini bisa berjalan dengan lancar"

Yukimura dengan putus asa berusaha menghentikanku, tapi aku mengabaikan kata-katanya dan menunjukkan pesanku.
Dengan begitu, aku membuktikan bahwa aku bukanlah "target". Dan sejumlah besar air telah terkumpul di bendungan tak terlihat ini. Bahkan jika sebuah lubang berukuran 1 sentimeter harus dibuka, bendungan pasti akan runtuh dan berubah menjadi arus yang besar. Tindakan ini merupakan pemicu untuk membuka lubang tersebut.

"Hmm... sepertinya Ayanokouji-kun bukan ‘target’. Baiklah. Kalau begitu aku akan menunjukkan milikku juga"

Sekarang siapa yang akan menindaklanjutinya? Dari antara kerumunan yang besar, orang-orang yang masih menertawakan strategi Hamaguchi, seorang perempuan menyuarakan persetujuan dan menyetujuinya. Dia adalah orang yang paling tidak diharapkan. Ibuki Mio.

“Apa kau gila? Tidak ada keuntungan bagi kita dengan melakukan ini"

Dia adalah Manabe yang keberatan dengan tindakan berisiko Ibuki.

Tapi kata-kata yang Ibuki katakan adalah tanggapan yang benar, alasan yang bagus.

"Orang-orang yang bukan ‘target’ mereka sendiri maupun termasuk ke kelas yang sama dengan ‘target’, tidak ada keuntungan dalam mempertahankan status tersebut. Kelas B juga mengerti bahwa jika kita tidak melakukan apa-apa, kita tidak akan pernah mengejar ketinggalan dengan kelas di atas kita. Itulah sebabnya mereka menunjukkan ponsel mereka dan aku memikirkan hal yang sama seperti mereka, itu saja, "kata Ibuki.

"Tapi itu..."

"Atau mungkin, kau  adalah ‘target’ ?"

Ibuki mengatakan hal itu pada Manabe yang seharusnya menjadi sekutunya, dengan cara yang berlawanan seperti musuh.

"T-tidak t-itu ..."

"Kalau begitu kau juga bisa menunjukkannya, ponselmu itu"

Di satu sisi, kata-katanya bisa dianggap sebagai ancaman terhadap sekutunya sendiri, seolah mereka akhirnya mengerti, Manabe dan yang lainnya juga mengeluarkan ponsel mereka. Perburuan untuk "target" sedang berlangsung. Karuizawa juga mengeluarkan ponselnya dengan tali pengikat di atasnya dan menyerahkannya di depan semua orang.

"Karuizawa, kau juga ikut dengan Ayanokouji? Apa kau juga akan mengikuti strategi ini?" Yukimura bertanya.

"Aku hanya melakukan ini untuk diriku sendiri, karena aku ingin poin pribadi juga" jawab Karuizawa.

Pesan dari sekolah mengatakan bahwa dia juga bukan "target". Karuizawa juga dianggap aman.

"... ehhh apa yang harus kulakukan?" Sotomura bergumam.

"Pikirkan sendiri, Sotomura, ini bukan hal wajib tapi bersifat sukarela, kau tahu"

"Uuuu... aku pikir aku bisa mengatasinya”

Di dalam situasi dimana banyak murid telah bergabung, karena dinilai tidak ada pilihan yang lain, Sotomura juga bergerak untuk menunjukkan ponselnya. Namun, sebelum dia sempat melakukan itu, Yukimura dengan cepat menghentikannya.

"...apa kau benar-benar berpikir bahwa ini adalah tindakan yang benar?"

"Sejak beberapa waktu yang lalu, kenapa kau tidak ikut? Apa mungkin kau adalah ‘target’?"

Menanggapi Yukimura yang sangat menentang strategi tersebut, Ibuki membantahnya dengan pertanyaan itu.

Pada saat itu, semua orang bisa melihat ekspresi Yukimura mengeras.

"Uwa ... kau serius?"

“Yukimura bukan ‘target’, awalnya aku dengar seperti itu"

Aku cepat menindaklanjutinya. Tetapi tawa spontan datang dari beberapa murid.

"Apa kau benar-benar mengharapkan kami untuk mempercayai kata-katamu begitu saja? Kau mungkin sedang berbohong"

Manabe mengatakan bahwa sekilas meragukan Yukimura sebagai fakta sebenarnya.

Tentu saja, terus menyangkal bahwa dia adalah "target" di sini hanya akan mengundang kecurigaan lebih lanjut kepadanya. Dia harus tahu itu juga. Tapi aku belum bisa membuat langkah di sini. Karena Yukimura adalah ---

"Masih terlalu cepat untuk menarik kesimpulan, karena Yukimura-kun juga punya poin"

Ichinose yang telah menyaksikan serangkaian kejadian yang berkembang, mengatakan hal itu saat dia sekali lagi mengeluarkan ponsel dari saku kirinya.

"Aku sedikit terjebak di dalam arus, tapi aku juga ingin menunjukkan ponselku"

katanya saat dia sekali lagi membuktikan bahwa dia bukan "target" kelompok tersebut.

"Tunggu, Ichinose. Sebelumnya, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepada kami. Kau bilang, kau akan selalu diam tentang hal itu sepanjang waktu"

Karena dia tidak melupakan pernyataan itu, Machida menekan pertanyaan itu kepadanya.

"Itu hanyalah fakta bahwa aku juga selalu memiliki pemikiran yang sama juga, itu saja"

"... pemikiran yang sama?"

"Aku mengatakan gagasan yang sama, tapi sebagai pemimpin Kelas B, aku hanya menyesal karena sudah dikalahkan oleh Hamaguchi-kun"

Bagaimanapun, sepertinya semua orang selain Kelas A dan Yukimura sudah membuktikan diri mereka kepada kelompok bahwa mereka bukanlah "target"

"........."

Semua murid di sini tidak begitu sadar karena tidak mengerti makna di balik keheningan Yukimura. Machida dan murid-murid lain dari Kelas A juga, pada suatu titik telah mendekati Yukimura untuk menatapnya.

".....baiklah aku mengerti, akan kutunjukkan kepadamu. aku hanya harus menunjukkannya, kan?"

Tidak lagi mampu menahan tekanan teman-teman yang diarahkan padanya, Yukimura menyerah dan mengeluarkan ponselnya juga.

"Tapi sebelum aku melakukannya, aku ingin kalian berjanji satu hal" katanya.

"Janji? Apa maksudmu dengan itu, Yukimura-kun?"

"Tidak ada seorang pun di sini yang akan menjadi pengkhianat. Semua orang di sini, terutama Kelas A, aku ingin kalian mengambil ponselmu dan menempatkannya di tempat yang bisa aku lihat. Tidak, semua juga. Semua orang meletakkan ponsel kalian di tempat yang bisa aku lihat" kata Yukimura.

Dia sudah mengarahkan pernyataan itu kepada perwakilan kelompok di sini, Machida, tetapi Machida menjawabnya dengan nada yang tidak terpuji.

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Apa maksudmu?"

"Persis seperti apa yang aku katakan. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang"

"Baiklah, kalau itu hanya menempatkan mereka di sana"

Mendekati Yukimura, semua murid dari Kelas A mengeluarkan ponsel mereka dan meletakkannya di depan dia. Setelah memastikan fakta tersebut, tanpa ada keraguan di ekspresinya, Yukimura bergerak. Yukimura mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyalakan layarnya, lalu memasukkan kata sandi 6 digit yang dibutuhkan dan masuk ke ponselnya.

Kemudian dia membuka pesan yang dikirim kepadanya dari sekolah dan mengangkat layar secara langsung agar dilihat semua orang.

"... aku minta maaf karena berbohong kepadamu, Ayanokouji ..."

Yukimura meminta maaf saat membuka pesan yang dikirim dari sekolah.

Yang paling terkejut setelah melihat kalimat yang tertulis dalam surat, itu tentu saja adalah anggota Kelas D.

"Aku adalah targetnya ..." kata Yukimura.

Di layar ada pesan yang berbeda dari apa yang orang lain terima.

"A-apa Y-Yukimura-dono adalah ‘target’ selama ini?"

Sotomura menatapnya dengan tatapan heran. Ini juga berarti bahwa kami sudah begitu saja melepaskan 500.000 poin yang seharusnya diberikan kepada Kelas D. Namun, Yukimura adalah orang yang aku tukarkan ponselnya secara rahasia.

"Jika aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini, aku akan berbicara sejak awal" kata Yukimura.

Karuizawa juga terlihat terkejut dari lubuk hatinya dan ekspresinya menunjukkan kegelisahan. Melihat pemandangan dari kedua orang yang tidak akan pernah memikirkan Yukimura sebagai "target", itu hal masuk akal.

Machida kemudian berdiri dan mengintip pesan diponsel Yukimura sekali lagi.

"Sepertinya pesan itu sungguhan, semua pesan pribadi lainnya sepertinya juga milik Yukimura tanpa ada keraguan"

kata Machida setelah memeriksanya bahkan chat pribadi Yukimura tanpa izin.

Menuju Machida yang mendekati situasi dengan curiga, Ichinose mencoba menjelaskan situasinya dengan tenang.

"Tidak mungkin itu palsu, bagaimanapun juga, kau tahu peraturan yang ditetapkan sekolah. Mengenai pesan yang dikirim oleh sekolah tentang ujian, menyalin surat dan memindahkannya dengan sengaja itu dilarang. Pesan dikirim dari alamat sekolah, kemungkinan palsu itu nol, "kata Ichinose.

Tepatnya, dari awal, memalsukan informasi di dalam ujian ini dengan jelas dilarang. Karena hukuman yang dikenal sebagai pengusiran menanti orang-orang yang melanggar peraturan, segala sesuatu yang diletakkan di sini tidak lain hanyalah kebenaran.

Bahkan jika seseorang mengatasi rintangan ini dengan terbohong di sini, masalah masih akan menunggu mereka setelah ujian berakhir, maka hasilnya akan sama saja.

"Artinya itu adalah Yukimura-kun” Manabe mengangguk setuju.

Yang penting di sini adalah kondisi pesan Yukimura yang pada akhirnya akan ditunjukan. Apakah seseorang yang memegang ponsel tersebut memang pemiliknya atau bukan... tidak ada hubungannya. Dengan kata lain, membuat keputusan apakah orang yang dimaksud adalah pemilik ponsel atau bukan adalah tugas yang sangat sulit.

Khusus bagi murid yang berjaga-jaga selama ujian, memikirkan bahwa seseorang mungkin sudah menukarkan ponsel mereka dengan orang lain bukanlah dugaan yang tiba-tiba. Namun, dengan santai memasukkan password 6 digit dan membuka kunci ponsel di depannya membuat semuanya berbeda.

Tidak mungkin murid bisa mengetahui password murid yang lain. Mereka pasti akan menarik kesimpulan seperti itu hampir secara tidak sadar dengan mengasumsikan hal seperti itu jika itu adalah ponsel mereka. Ini tidak berakar kepada penalaran melainkan sebuah prasangka yang telah tertanam dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun.

"Maafkan aku Yukimura-kun... aku memikirkan ini sebagai upaya terakhir ..."

"Tidak, aku pikir ini hal yang benar untuk dilakukan, entah bagaimana aku mencoba menjauh dari ini, tapi itu salah, aku yakin Ayanokouji dan Sotomura, dan juga Karuizawa akan merasa ini adalah hal yang benar" jawab Yukimura.

Dengan berkata demikian, dia membuat dirinya terlihat seperti orang yang mencoba mengamankan poin dengan aman hanya untuk dirinya sendiri.

"... dengan ini semua orang harus tahu jika ‘targetnya’ adalah aku, Jadi kalian seharusnya sudah sampai pada sebuah jawaban" lanjutnya.

Itu benar, dengan menyelesaikan ujian bersama semua orang, seluruh kelompok bisa mendapatkan 500.000 poin. Hasil pertama yang sepertinya tak bisa diraih pada awalnya bisa didapat sekarang.

Ichinose menganggukkan kepala sekali lagi dengan kekuatan lebih dari sebelumnya, dia memohon kepada Kelas A.

"Tolong, jangan sia-siakan keberanian Yukimura-kun, tolong kerja sama dengan kami, jangan mengkhianati kami"

"Kami hanya mengikuti instruksi Katsuragi-san sejak awal, kami tidak akan melakukan apapun dengan sendirinya" jawab Machida kepada Ichinose.

Dia memang mengatakan itu, tapi sebelum ujian selesai, akan ada waktu dimana kami pasti harus dibubar sebagai sebuah kelompok. Sebelum ujian berakhir, untuk waktu yang kosong selama 30 menit, kami harus percaya tidak hanya kepada teman sekelas kami tapi juga kepada murid kelas lain.

"Aku ingin percaya ... tidak, aku percaya kepada semua orang ..."

Yukimura mengatakan seolah-olah itu adalah sebuah keinginan dan setiap kelas menerima hal yang sama. aku bertanya-tanya apakah murid yang sudah menghabiskan waktu bersama-sama selama beberapa hari terakhir mendapatkan sesuatu yang menyerupai persahabatan?

Aku ingin tahu apakah mereka akan menerima perasaan Yukimura, dan bisa bekerjasama untuk meraih kemenangan? Tidak, hal seperti itu tidak mungkin. Aku yakin dengan hal ini, seseorang pasti akan menjadi pengkhianat.

Dan jika demikian, kami dari Kelas D yang sudah mengganti ponsel kami satu sama lain pasti akan menang.

Yukimura pastinya yakin akan hal itu. Dia pasti sudah berusaha menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Namun, kesenangan yang pasti dirasakannya menguap, saat ponsel Yukimura dipegangnya tiba-tiba berdering dan bergema di dalam ruangan.

Yukimura adalah orang yang paling terkejut dibanding orang lain dengan panggilan masuk. Sambil terburu-buru menarik ponsel dari meja, dia tersandung dan melepaskan ponsel dari tangannya. Secara kebetulan, dengan layar di sisi kanan atas, terlempar tepat di depan kami. Karena dalam mode diam, getaran tersebut dikirim melalui meja karena terus bergetar.
T/N: Mungkin yang bergema dan berbunyi itu suara getarannya?

Nama pemanggilnya adalah --- 'Ichinose'.

Dia sambil memegang ponsel sampai ke telinganya, menatap Yukimura, lalu dengan mata serius,

"Apa yang kau lakukan, Ichinose? Tidak ada gunanya menelpon Yukimura pada saat seperti ini"

Machida berkata sambil menatap Ichinose dengan wajah tercengang. Setelah menciptakan situasi dimana hanya aku dan Yukimura yang bisa mengerti maknanya, Ichinose diam-diam mengakhiri panggilannya.

"Sekolah tersebut mengatakan bahwa 'mengubah atau menyalin pesan' dilarang, oleh karena itu kami percaya pesan di depan mata kami tidak diragukan lagi kebenarannya. Sudah pasti, tapi tidak ada peraturan yang mengatakan bahwa kau tidak bisa menipu seseorang dengan ponsel itu sendiri. kau mengerti maksudnya?"

Ichinose mengatakan sambil mengangkat ponsel yang jatuh dan mengembalikannya ke Yukimura, tapi bagiku.

"Orang yang memiliki ponsel dengan pesan ‘target’ yang tertulis di atasnya, bukan begitu, Ayanokouji-kun? Karena baru saja, aku tidak menelpon Yukimura-kun, tapi Ayanokouji-kun"

Aku menukar nomor kontakku dengan Ichinose beberapa waktu yang lalu. Itu sebabnya dia tahu nomorku. Tidak, kalaupun dia tidak tahu, dia pasti sudah melakukan penulusuran untuk mengetahui nomor teleponku.

"T-tapi bukankah aneh? Yukimura bisa membuka kata sandi ponsel di depan mata kita. Aku juga sudah memeriksa pesan dan history pribadinya di depan mata semua orang," kata Machida.

"Itu dipalsukan, dia bisa dengan mudah mengetahui kata sandinya hanya dengan menanyakannya kepada Ayanokouji-kun sebelumnya. terlebih, semua history panggilan, pesan dan bahkan aplikasi bisa dipalsukan meski membuat cukup banyak usaha yang harus dilakukan untuk itu" jawab Ichinose.

Setelah mendengarnya, Machida mengubah ekspresinya dan dengan cepat meraih ponsel yang sudah dikembalikan kepadaku.

"Seseorang tidak bisa berbohong begitu mudah, kau tahu, apalagi saat tujuannya sudah di depan mata, mereka pasti akan menjadi cemas dan pembukaan akan menampakkan diri mereka. Yukimura-kun berbohong dan karena itulah gerak-gerik dan sikapnya terlihat berbeda dari biasanya dan terlihat mencurigakan." Kata Ichinose, setelah benar-benar melihat melalui usahaku untuk berkamuflase.

Setelah mendengar kesimpulannya, wajah Yukimura menjadi pucat. Tidak, itu memang sangat meragukan bahkan ketika dia sudah mendengar semuanya.

"Kami juga sudah memikirkannya untuk beberapa saat, jika ‘target’ itu ada di kelas kami, selalu ada pilihan untuk mengganti ponsel dengan mereka. Dengan menggunakan kata sandi untuk melepaskan diri sebagai ‘target’ juga merupakan salah satu dari hal yang kami pikirkan "kata Ichinose.

Sepertinya, strategi yang aku hadapi sudah dipikirkan oleh Ichinose dan yang lainnya.

"Tapi kau tahu, ada kelemahan di dalam strategi itu, fakta bahwa ada nomor telepon, bahkan jika kau bisa dengan sempurna meniru history dan aplikasimu, kau tidak bisa melakukan apapun dengan nomormu. Sekali, aku dan Hamaguchi-kun pernah mencoba menukar kartu SIM kami, kartu SIM berikan kepada kami terkunci ke terminal khusus kami, jadi biarpun kami menukarnya, kami tidak bisa membuat kartu SIM kami tertukar. Itu berarti jika kau sudah menukar kartumu juga, aku tidak akan bisa menghubungimu. Tidak masalah siapa yang mengganti ponsel dengan siapa, segera setelah aku menghubungi nomor itu, aku bisa dengan mudah mencari tahu siapa pemilik sebenarnya. Jika aku tidak melakukan ini, Pada akhirnya aku tidak akan datang dengan rencana untuk mengungkapkan siapa pemilik ponsel ini”

Dengan kata lain, Ichinose dan yang lainnya hanya menggunakan taktik paksa semacam ini untuk melihat melalui kebohongan. Fakta bahwa Hamaguchi tiba-tiba memulai topik ini juga, secara alami merupakan bagian dari rencana mereka. Jadi inilah saat dimana Yukimura dan aku yang sudah menukar ponsel kami terungkap.

"Mudahnya bertukar ponsel dan memanipulasi history sudah berjalan dengan baik sejauh ini, tapi kau pasti tidak pernah berpikir akan menggunakan fakta bahwa kartu SIM terkunci pada terminal dan memeriksanya, bukan?" Ichinose mengatakannya.

Fuuuu ~ dia lalu menghembuskan napas. Pada saat itu, pengumuman bahwa waktu diskusi selama 1 jam berakhir dalam lima menit datang.

Kami diperintahkan untuk membubarkan kelompok tersebut dalam waktu lima menit dan segera kembali ke kamar masing-masing.

"Bangsat!"

Teriakan Yukimura itu datang dari dalam hatinya. Itu adalah jeritan jujur ​​dan tulus ​​tanpa ada kebohongan di baliknya.

"Sayang sekali, Yukimura, meski itu adalah percobaan yang bagus" Machida dan yang lainnya mengatakan sambil menyeringai dan tertawa.

Mereka mengatakan itu kepada Yukimura yang sepenuhnya ketahuan, memastikan untuk benar-benar dipermalukan.

Mereka juga melihatku, orang yang mereka yakini sebagai pemimpin strategi ini. Bahkan dengan Yukimura yang cemas dan Kelas D, dan kelas C dan A yang terkejut pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, namun peraturan tersebut saat ini melarang kami untuk mendiskusikannya lebih jauh.

"Bagaimanapun, kita sudah menentukan bahwa Ayanokouji-kun adalah ‘target’. Machida-kun, berjanjilah kepadaku bahwa kita akan membidik hasil pertama bersama-sama tanpa mengkhianati siapapun" Ichinose bertanya kepada Machida.

"Tentu saja, percayalah kepadaku, ayo pergi"

Setelah dipanggil oleh teman mereka, ketiga murid Kelas A adalah yang tercepat pergi dari ruangan.

"Seseorang yang percaya akan selamat, kau tahu. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu karena itulah aku juga inginkan dari Kelas C untuk melakukan hal yang sama. Kau hanya harus tahan selama 30 menit" Ichinose mengatakan kepada murid Kelas C.

Manabe dan yang lainnya hanya mengangguk setuju. Yukimura melirik ke ponsel yang kupegang di tanganku.

"Aku bodoh karena mengikuti rencanamu, ini yang terburuk," katanya.

Dan kemudian satu demi satu, semua orang meninggalkan ruangan, meninggalkanku dan Ichinose sendirian.

"Sekarang kita harus percaya kepada semua orang," katanya.

"Iya... aku pikir begitu"

"Ayanokouji-kun, kau cukup tenang, Apa kau tidak khawatir?"

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain percaya kepada yang lain pada akhirnya... Aku akan kembali ke kamarku"


Tidak ada lagi yang bisa didapatkan meski aku tinggal di sini lebih lama lagi.


"Hei, tunggu sebentar"

Ichinose menghentikanku dengan meletakkan tangannya di bahuku.

Pada saat itu aku merasakan bahwa ruang di antara kami akan segera menjadi tegang.

"Siapa yang membuat rencana untuk menukarkan ponsel?"

"Tentu saja, itu adalah Horikita" jawabku.

"Aku mengerti, tolong beritahu kepada Horikita-san, rencananya sukses besar”

"sukses besar? Apa yang kau maksud untuk mengatakan kegagalan besar? Itu adalah kekalahan yang dahsyat dan kehancuran. Pada akhirnya kau berhasil mengetahuinya"

"Ahahahaha, kau tidak berharap kita memikirkan rencana yang sama, benarkan?"

"Maaf, karena berbohong kepadamu seperti itu, bahkan setelah aku menyetujui sebuah aliansi denganmu. Apakah kau marah kepadaku?"

"Tentu saja tidak, kami juga memulai rencana kami sendiri tanpa sepengetahuanmu, jadi kita sama"

"Aku mengerti, aku yakin Horikita juga akan lega mendengarnya," kataku padanya.

Setelah mengatakan hal itu, aku meraih ponselku dan pergi untuk meninggalkan ruangan.

"Waa, tunggu, tunggu, bagian yang penting belum berakhir" dia menghentikanku lagi.

"Bagian yang penting?"

"Mou--- kau payah dalam berurusan dengan orang lain, Ayanokouji-kun. Kartu SIM yang kami berikan terkunci di terminal mereka, Tapi ada cara untuk melepaskan kunci itu... aku bertanya kepada Hoshinomiya-sensei untuk memeriksanya tapi, sepertinya dengan cukup banyak poin, kau bisa langsung membuka kunci terminalnya. Itulah yang dia katakan kepadaku "kata Ichinose.

Chiri.

Pada saat itu, aku merasakan arus listrik mengalir melalui bagian belakang kepalaku.

"Jawaban yang muncul setelah jawaban salah diperlihatkan, kebanyakan orang akan menganggapnya sebagai kebenaran. Setelah Yukimura-kun yang memecahkan kata kunci untuk membuka kunci ponsel, ternyata bukan ‘target’. terungkap, kebenaran bahwa Ayanokouji-kun adalah ‘target’ yang sudah membesarkan kepalanya. Dan dengan fakta bahwa kartu SIM disegel, Tidak ada yang akan mencurigai orang lain selain Ayanokouji-kun sekarang. Tapi itu sendiri adalah perangkap yang sebenarnya. Strategi menukar tidak sempurna, tapi itu adalah kebohongan karena strategi itu sangat efektif, tapi tentu saja kau harus membuat jebakan berlapis ganda untuknya. Jika perangkap ini disusun, kebenaran akan selamanya dikuburkan di dalam kegelapan. Tidak akan ada lagi cara untuk memastikan siapa "target" sebenarnya dengan kepastian 100% "Ichinose melanjutkan.

Ichinose, dia melihat rencana di balik rencana tersebut. Dia menyadari kebenaran yang telah aku sembunyikan bahkan dari Yukimura. Pertama, dasar pemikirannya adalah bahwa aku bukan "target". Tapi aku mendekati Yukimura dengan menyamar menjadi "target". Sebagai bukti, aku sudah menggunakan ponsel "target" yang sebenarnya untuk melakukan kontak dengannya. Tapi "target" sebenarnya dan pemilik ponsel itu adalah Karuizawa. Dia menyembunyikan fakta itu dengan sangat baik. 

Satu-satunya orang yang dia beritahukan fakta itu adalah Hirata. Hirata juga menyimpan kebenaran yang tersembunyi itu dariku dan Yukimura yang sudah menjadi anggota kelompok yang sama pada awalnya. Karena itulah dia pura-pura tidak tahu apa-apa saat kami membicarakan tentang "target".

Tapi setelah aku mengetahui tentang masa lalu Karuizawa dan Hirata, dia bercerita tentang identitas Karuizawa sebagai "target". Dan setelah aku menggunakan Manabe untuk menggertak Karuizawa, aku menggunakan situasi itu untuk menukarkan ponsel kami.

Tentu saja memanipulasi pesan dan riwayat yang sama seperti yang aku lakukan dengan Yukimura. Lalu aku melepas kunci kartu SIM menggunakan poin. Prosedur ini tidak ilegal dan bisa dilakukan dengan mudah di penjual ecer massal sebagai layanan gratis. Ini mungkin sebuah kapal, tapi selama ujian ini mengharuskan penggunaan ponsel, sebuah tempat sudah disiapkan di mana murid dapat memperbaiki atau mengganti ponsel mereka jika terjadi kerusakan. 

Itu sebabnya, saat menggunakan ponsel Karuizawa, aku juga bisa mentransfer nomornya. Selanjutnya, sejak saat itu dan seterusnya, aku sudah menukar ponsel itu dengan Yukimura. Tentu saja, aku hanya mengatakan kepadanya bahwa itu adalah 'ponselku' dan Yukimura sudah mempercayaiku. Jika kebenaran itu di keluarkan, dia pasti akan menjadi jengkel dan kesal kepadaku.

Jika dia adalah orang yang sederhana, mereka tidak akan pernah memperhatikan Yukimura dan aku sudah bertukar ponsel. Jika itu adalah orang yang cerdas, mereka akan memperhatikan pertukaran itu dan menuduhku sebagai "target" yang sebenarnya. Tapi mereka tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa Karuizawa adalah "target" sebenarnya. Itu adalah rencana penukaran ponsel yang pernah aku lakukan.

"Jika Kelas D tidak memiliki ‘target’ di dalamnya, apa yang akan kau lakukan?" Ichinose bertanya padaku.

"Sama sepertimu, aku sudah mencoba untuk mencari tahu siapa ‘target’ di antara kelas-kelas tersebut, mukar ponsel dengan mereka dan melewati diriku sebagai ‘target’ yang sebenarnya”

Jika "target" sebenarnya keluar setelah itu dan menunjukkan tipuan, pencarian akan berhasil dan jika misalnya mereka percaya bahwa Ichinose adalah "target" sebenarnya, pengkhianat tersebut pasti akan salah dan ujian akan berakhir. Di dalam situasi yang terakhir, tidak ada poin yang diberikan ke Kelas B dan mungkin saja untuk mengurangi kesenjangan poin antara beberapa kelas.

"Jadi itu sudah keluar, ya?"

Ichinose kemudian mulai menarik keluar ponsel dari kiri dan kanan kantungnya. Salah satunya adalah "target" dari Kelas B dari kelompok lain, salah satunya dari murid lain yang bukan "target" dari kelompok lain.

"Omong-omong, ini hanya prediksiku tapi jika kau beralih dari arus diskusi hari ini ---"

Ichinose kemudian dengan cepat menulis pesan di ponselnya.

"Identitas ‘target’ adalah Karuizawa Kei-san. Benarkan?"

Setelah menulis itu, dia menunjukkanku layar ponsel. Itulah pesan 'pengkhianat' yang akan dia kirim ke sekolah sekarang. Tapi sebelum sesuatu bisa terjadi, ponselku dan Ichinose, keduanya berdering pada saat bersamaan.

"Ujian untuk kelompok (kelinci) sekarang telah berakhir. Mohon tunggu pengumuman hasil"

"Aaah ... seseorang mengkhianati kita pada akhirnya, yah, entah itu Kelas A atau C, mungkin salah satunya" katanya.

"Kenapa kau mencurigai Karuizawa?" Tanyaku padanya.

"Alasan yang sama dengan Yukimura-kun, karena dia juga bertingkah berbeda dari biasanya. Dia biasanya tidak peduli dengan Ayanokouji-kun, tapi dia sudah sering melihatmu dan dia sudah melihat wajahmu lebih dari yang seharusnya. Tapi itu bukan bukti yang nyata bahwa Karuizawa-san adalah ‘target’, jadi bagaimanapun juga aku tidak akan mengirim pesan itu"

Sepertiya rencana yang telah aku bangun, sepenuhnya sudah dilihat oleh Ichinose.

"Kenapa kau tidak memberi tahu siapa pun tentang itu? Dengan begitu, kebohongan itu akan terungkap"

Ichinose hanya tertawa. Senyumnya saat ini benar-benar sungguhan dan mendalam yang paling dalam dan paling asli yang pernah aku lihat.

"Itu sudah jelas, bukan? A atau C, jika salah satu dari mereka salah, itu masih merupakan nilai tambah bagi kita. Sejak awal, aku tidak bermaksud menyelesaikannya bersama-sama dengan setiap orang melalui hasil 1 atau mengkhianati setiap orang melalui hasil 3. Saat ‘target’ tidak ada di Kelas B, aku selalu bermaksud membiarkan kelas lain mengkhianati kita dengan sengaja. Aku pikir pengkhianat kali ini berasal dari Kelas A "katanya.

"Machida, ya?"

"Tidak, tidak, itu adalah Morishige-kun, dia dari faksi Sakayanagi-san, mungkin dia tidak mau patuh mematuhi faksi Katsuragi. Mungkin dia berpikir bahwa lebih baik mengkhianati dan mengambil poin saja, apa itu mingkin?”

Sambil tertawa  dengan aneh, dia membelakangiku.

"Ayanokouji-kun, secara tidak terduga kau menakjubkan. Pembicaraan yang baru saja kau lakukan bersamaku, dibuat pada saat itu juga, bukan?"

"Jika kau ingin memuji, pujilah Horikita. Dia hanya memberiku beberapa situasi dugaan dan aku mematuhi perintahnya"

Sepertinya aku harus mengevaluasi kembali orang yang dikenal sebagai Ichinose Honami ini. Dia benar-benar berhasil menghindari pengambilan risiko dan pada saat bersamaan merancang strategi untuk keluar sebagai pemenang. Aku tidak punya hak untuk mengeluh.

"aku akan pergi, gawat jika kita akhirnya melanggar peraturan"

Tapi seperti yang dikatakan Ichinose, ponsel kami memainkan nada yang unik secara bersamaan dan bukan hanya sekali atau dua kali, tapi empat kali berturut-turut dalam waktu singkat.

"A-Apa artinya ini?"

Ichinose terlihat benar-benar terkejut dari lubuk hatinya, saat kami berdua menatap layar ponsel kami.

 Kapal yang berlayar di laut yang dalam, terlihat sedikit sepi.

Tetapi seiring waktu mendekati pukul 23.00, kehadiran orang-orang berangsur-angsur meningkat. Ketika aku perhatikan, kafe yang aku rencanakan untuk aku tinggalkan setelah menunjukkan kesuksesan dan tempat duduk dengan cepat dipenuhi satu per satu. Di depanku yang sudah mendapatkan empat kursi di depan, seorang perempuan mendekat.

"... maaf membuatmu menunggu"

Perempuan yang datang dengan gugup adalah Karuizawa Kei. Sesuatu tentang ekspresinya terlihat berbeda dari biasanya.

"Maaf sudah memanggilmu" kataku padanya.

"Tidak, tidak masalah ..."

Karena aku sama sekali tidak memiliki pembicaraan khusus kepadanya, aku hanya menatap pemandangan yang berwarna dengan diam. Tapi karena Karuizawa sepertinya menatapku, aku pun berbalik menatapnya juga.

"Ahh, umm ... aku penasaran apa semuanya beres?"

"Tidak masalah, aku yakin orang-orang dari Kelas A mengirim pesan ke sekolah dengan namaku di atasnya"

Aku bisa mengatakan ini sebagai jeminan, ada satu hal lagi yang aku miliki selain menukar ponsel Karuizawa dan Yukimura. Karena kami sudah bekerja sama dengan prediksi di dalam pikiran untuk memastikan bahwa kami bisa secara sinergis bekerja sama, tidak akan ada kekhawatiran yang terjadi.

"Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan pasti?"

"Bukankah kertas yang kau berikan kepadaku berarti sesuatu, Ayanokouji-kun?"

Keberadaan yang merayap dari belakangku, mengejutkan kami cukup membuat Karuizawa sedikit melompat. Mau bagaimana lagi, karena keberadaan itu adalah anak yang Karuizawa ingin putus dengannya, Hirata.

"Kerja bagus kalian berdua, Tidak keberatan jika aku duduk?" dia bertanya.

"Tentu saja"

Karuizawa bergeser dengan tidak nyaman dan berpaling dari Hirata, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda langsung menolaknya. Sekarang jam 22:55. Dalam 5 menit lagi, sebuah pesan akan dikirim ke semua murid.

"Sudah hampir waktunya, apa Horikita-san belum datang? Apa sebaiknya kita menghubungi dia?"

"Dia tipe yang selalu mematikannya, kita bisa menunggu empat menit lagi," jawabku.

"Ahh, sepertinya dia ada di sini"

Paling tidak dalam masalah ini, Horikita telah tiba lebih cepat dari perkiraanku.

"Haa ~ Jika aku melihat pertemuan kelompok ini di depan mataku seperti ini, aku tidak bisa tidak mendesah" kata Horikita.

"Kau akhirnya sampai. Omong-omong, apa itu di belakangmu?" Tanyaku padanya.

"Jika kau memperhatikannya, kau akan kalah. Anggap saja dia sebagai hantu yang menunggangiku dan mengabaikannya seperti itu" jawab Horikita.

"Jangan bilang begitu, Horikita, aku pikir kau akan cemas selama masa ujian dan aku khawatir denganmu, itu sebabnya aku mengikutimu"

Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini, tapi Sudou Ken berdiri di samping Horikita hampir seolah-olah dia menempel kepadanya.

"Kau menghalangi jalanku, menyingkirlah" kata Horikita padanya.

"J-Jangan bilang begitu, aku menantang ujian ini dengan usaha terbaikku, kau tahu" jawab Sudou.

"Kalau begitu, apa kau yakin bahwa kau akan meninggalkan hasil yang bagus?"

"... aku hanya tinggal selangkah lagi, tapi sepertinya seseorang yang lebih cepat dariku mengirim pesan terlebih dahulu"

Setelah mendengar alasan setengah hati darinya, sepertinya Horikita sudah berhenti memerhatikannya. Horikita kemudian duduk di kursi kosong terakhir. Sudou panik dan dengan cepat bergerak untuk menarik kursi dari meja di dekatnya.

"Kau masih di sini" Horikita memberitahu Sudou.

"Tidak masalah, kan? Aku hanya akan mendengarkanmu juga, jangan menghentikanku"

Meskipun ini adalah pertemuan anggota yang sedikit tidak biasa, sepertinya Sudou tidak tertarik untuk mendengarkan sisi kami.

"Yang lebih penting, kiriman beruntun yang kami dapatkan tadi ..."

"Ya, aku juga penasaran dengan itu"

Kira-kira 2 jam yang lalu, itu adalah kejadian yang terjadi saat aku berpisah dengan Ichinose. Empat kiriman dikirim ke ponsel kami satu per satu. Isi kiriman tersebut memberi tahu kami tentang akhir ujian untuk beberapa kelompok.

Kelompok (tikus), kelompok (Kuda), kelompok (Burung) dan kelompok (Babi). Semua kelompok tersebut mendapat ujian berakhir dengan alasan pengkhianat.

"Kelompok (Kuda) adalah kelompok yang ‘targetnya’ adalah Minami-kun, bukan?"

"Ya, dengan kata lain, ada kemungkinan identitasnya ditemukan oleh seseorang"

"Di kelompok lain, apa ada kemungkinan salah satu dari kita mengirim pesan?" Horikita dengan cemas bertanya.

Jika "target" membuat kesalahan, kerusakan yang akan mereka hadapi tidak perlu ditertawakan.

"Aku memiliki pertanyaan tentang hal itu dan bertanya ke beberapa kelompok sebelumnya. Dari sisi anak laki-laki, mereka mengatakan tidak satupun dari mereka adalah pengkhianat yang mengirim pesan" Hirata memberitahu Horikita.

Tentu saja, dengan asumsi mereka yang tidak memberi kami kebohongan. Tapi sampai tingkat tertentu, aku yakin kita bisa mempercayai mereka.

"Apa Yamauchi baik-baik saja?"

Aku bertanya tentang laki-laki yang siap melakukan hal ekstrem jika diperlukan.

"Ahh, um, orang itu baik-baik saja. Yamauchi-kun berada di kelompok (Burung), dan sepertinya dia memang berusaha mengirim pesan pengkhianatan tapi dia sangat ragu dan ujiannya berakhir sebelum dia bisa mengirim pesan" jawab hirata.

"Aku tidak tahu dia dari mana, tapi mengkhianati kita terlebih dahulu sebelum kita bisa bermain dengan baik"

Horikita meramalkan bahwa jika Yamauchi mengirim pesan pengkhianatan, dia pasti benar-benar mendapat jawaban yang salah. Aku yakin dia benar. Dia sudah kehilangan kesempatannya saat dia tidak cepat mengirim pesan dan ragu-ragu setelah ujian berakhir.

"Tapi kita tidak tahu sisi dari para perempuan” kata Horikita.

"Tidak masalah, aku sudah memeriksa sisi para perempuan itu. Tidak ada yang mengirimkan pesan"

Karuizawa menjawab Horikita terus terang tanpa ragu sedikit pun. Karena dia memerintah anak-anak Kelas D, kemampuan pengumpulan informasinya hampir sama cepatnya dengan Hirata.

"...Aku mengerti"

Tentu saja Horikita yang tidak memiliki kemampuan pengumpulan informasi semacam itu, tidak memiliki pilihan selain menerima jawabannya.

"Pada akhirnya, di ujian ini aku bertanya-tanya kenapa pengarahan dilakukan dengan sekelompok kecil anggota?"

Hirata membisikkan pertanyaan itu meskipun dia tidak bisa memahami maknanya di baliknya.

"Ujian ini adalah salah satu ujian 'berpikir'. Dengan kata lain, bagaimana kita berpikir. Bukan berarti setiap pertanyaan yang memiliki jawabannya... atau semacamnya" Horikita membalas Hirata.
Itu benar, bisa jadi hanya dengan melihat melalui tebing yang tak berarti itu, apa kita bisa menemukan jawaban yang tersembunyi di balik semua pertanyaan itu? Mungkin wajar untuk menganggapnya seperti itu.

"Yang lebih penting, yang aku khawatirkan adalah fakta bahwa keempat pesan tersebut masuk hampir bersamaan. Jeda pengkhianatan adalah 30 menit. Meski begitu, pengkhianatan terjadi dalam 1 dan 2 menit pertama. Apa itu normal? " Horikita bertanya.

"Bukanah itu... hanya sebuah kebetulan?"

Sepertinya dari sudut pandang Sudou yang baru saja mendengarkan pembicaraan kami, semua mungkin terasa seperti sebuah kebetulan.

"Ketika Kouenji-kun mengirim pesan pengkhianatan, tanggapan dari sekolah itu langsung begitu saja. kita bisa berasumsi bahwa mereka membalas secepat respons otomatis..."

"Kemungkinan kiriman dikirim secara bersamaan sangat tinggi. Dengan kata lain, mungkin satu kelas bertanggung jawab atas semua pengkhianatan tersebut"

Benar. Aku juga berpikir bahwa tidak ada kemungkinan lain selain itu untuk mengirimkan empat kiriman bersamaan dengan waktu yang sama.

"Mungkin mereka menghitung pesan pengkhianatan mereka untuk memberi tahu kita bahwa merekalah yang melakukannya"

"Ya, aku juga tidak bisa memikirkan alasan lain selain itu, dan hanya ada satu orang yang akan melakukan hal seperti itu ..." kata Horikita.

Horikita dan Hirata secara alami saling bertukar kalimat. Aku hanya bersyukur ini akan berakhir tanpa aku harus mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

Dan ada makna dari penggunaan kafe ini yang sudah kami pakai berkali-kali sebelumnya untuk bertemu di malam ini.

"Seperti yang diharapkan, kau ada di sini"

Hal itu agar aku bisa mengundang tamu ke 6, laki-laki itu ke tempat ini.

"Ryuuen ... !!!"

Setelah menyadari kehadiran Ryuuen, Sudou berdiri untuk mengintimidasinya tapi Ryuuen tidak memperhatikannya dan hanya meraih kursi kosong sebelum duduk di samping Horikita.

"Aku pikir aku akan datang dan menikmati hasilnya denganmu. Terima kasih sudah berada di tempat yang mudah dikenali seperti ini" kata Ryuuen.

"Ya, aku memilih tempat ini apalagi agar kau dengan kebodohanmu bisa menemukan tempat ini. Terima kasih," jawab Horikita kepadanya.

"Tapi meski begitu, Suzune, ini pertemuan yang sedikit besar untukmu, ada apa dengan perubahan hati ini?"

Ryuuen mengatakan ini saat melihat kami berempat berkumpul di meja (sambil mengabaikan Sudou sepenuhnya).

"Aku bosan karena kau yang mengomel terus menerus. Aku berkonsultasi dengan mereka tentang hal itu di sini"

"Jangan memberi Horikita masalah!" Sudou mengaum kepada Ryuuen.

"Sudou-kun, diamlah" kata Horikita.

"........ ou ........."

Setelah dihentikan oleh Horikita, Sudou dengan patuh kembali ke kursinya. Dia orang yang sangat jujur.

"Aku pikir kau tidak memiliki teman yang sebenarnya. Yah itu tidak masalah"

Ini sendiri merupakan rencana pembelaan lain yang telah aku siapkan melawan Ryuuen. Dengan meningkatkan jumlah orang yang berinteraksi dengan Horikita, aku telah menciptakan kepalsuan secara efektif. Tentu saja, jumlah orang yang harus diawasinya akan meningkat dan hal itu akan menjadi tidak berkelanjutan untuknya.

"Hasilnya akan segera diumumkan, apa kau mendapat hasil?"

"kurang lebih, kau terlihat sangat santai" Horikita membalas Ryuuen.

"Kukuku, aku tidak akan berada disini jika tidak seperti itu, sepertinya orang yang sama dari yang terakhir kali juga ada di sini"

"Oh, itu benar. Terakhir kali selama pengumuman hasil, setelah berakting dengan hebat dan kuat, kau kalah total"

Sudou menertawakan Ryuuen setelah mengingat sesuatu dan mengarahkan jarinya kepadanya dan seolah untuk mencocokkan tindakan Sudou, Horikita juga memandang Ryuuen dengan ekspresi jijik.

"Hentikan, Suzune, jika kau melakukan ini sekarang, kau hanya akan mempermalukan dirimu nanti, kau tahu? Aku sudah tahu ‘target’ dari kelompok kita"

Apa kata-kata itu benar atau sebuah kebohongan? Horikita tidak terguncang sedikit pun. Mungkin karena dia sudah memiliki keyakinan bahwa dia tidak akan kalah dengan Ryuuen.

"Aku senang dengan itu, aku menantikan hasilnya”

"Kita bahkan tidak perlu menunggu, aku bisa memberitahumu siapa ‘target’ untuk kelompok (naga) sekarang"

"Aku minta maaf tapi kau hanya terdengar seperti pecundang saat ini, ujian sudah berakhir dan tidak ada yang dari kelompok (naga) yang menjadi pengkhianat, hanya akan berarti satu hal," kata Horikita.

Itu hanya berarti bahwa Ryuuen telah menyelesaikan ujian tanpa menyadari bahwa Kushida adalah "target". Itu akan menjadi kebenaran yang tak terbantahkan.
"Jika kau datang untuk mengetahui kebaikanku, kau akan sangat bersyukur sehingga kau akan membasahi selangkanganmu"

Dan menggunakan bahasa vulgar semacam itu, Ryuuen tertawa seolah dia merasa geli.

"...katakan kepadaku, siapakah ‘target’ kelompok (Naga) itu?" Horikita bertanya padanya.

Dan seolah-olah dia menunggunya untuk mengatakan itu, Ryuuen mengangkat tangannya sambil tertawa. Dia mengintip melalui celah jarinya seperti binatang buas, seolah-olah sedang bersiap untuk melompat ke tenggorokan mangsanya.

"Kushida Kikyou". Ryuuen mengatakan nama itu.

"Ehh?"

Horikita yang belum bereaksi terhadap kata-kata Ryuuen sampai sekarang, membeku dengan suara kecil yang terkejut. Itu pasti karena dia yakin bahwa dia sama sekali tidak akan menemukan identitas hingga dia kewalahan sekarang. Dan juga, Hirata dari kelompok yang sama (Naga) juga terlihat kaget.

"Maaf, tapi dari hari kedua ujian, aku sudah tahu jika Kushida adalah ‘target’ kelompok tersebut"

"Ini adalah sebuah lelucon ... kan? Jika ya, kau bisa mengakhiri ujian dengan mengirim pesan pengkhianatan. Tapi ujian tidak berakhir seperti itu. Itu berarti kau baru menyadari setelah ujian berakhir, Apa aku salah?" Horikita bertanya padanya.

"Aku hanya merasa kasihan padamu setelah melihatmu berusaha sangat keras untuk melindungi identitas ‘target’, lalu melihatmu begitu percaya diri, sangat santai dan yakin tentang kemenanganmu sehingga kau memandang rendah orang lain. Itulah kenapa aku memimpinmu sampai akhir”

"Bagaimana kau mengetahuinya?"

Hirata meminta Ryuuen menanggapi kata-katanya dengan nada yang merupakan campuran rasa ingin tahu dan ketakutan.

Setelah mereka berusaha keras untuk melindungi identitas Kushida, dan fakta bahwa sepertinya tidak ada pengkhianat. Mereka pasti penasaran dengan hal itu.

"Sayangnya jawaban untuk itu... melibatkanmu, Suzune"

"Aku?"

Horikita, sekarang, pasti sangat merenungkan kejadian saat ujian di kepalanya, sambil pura-pura masih merasa tenang. Kapan, dimana dan bagaimana dia bisa melihatnya.

"Aku menyadarinya dari gerakan matamu, bernafas, gerakan mulutmu, nada suaramu dan hal lain tentang dirimu"

"Berhenti dengan lelucon"

"Lelucon? Lalu apa kau mengaku tahu bagaimana lagi aku bisa tahu yang sebenarnya?"

"Itu ... pasti kau dengar itu dari orang lain sekarang"

"Aku mengerti perasaanmu karena tidak ingin mengakuinya, karena semua orang dalam kelompok itu, kau adalah orang yang paling tidak berharga. Tapi jangan salahkan dirimu untuk itu, Suzune. Kau hanya memilih orang yang salah untuk ditantang. Ujiannya sangat kacau. Khususnya yang paling banyak diperhatikan adalah Kelas A. Jadi tenanglah”

"A-Apa yang baru saja kau katakan?”

"Kau akan tahu jawabannya segera,"

Sepertinya keempat pesan pengkhianatan itu adalah karya milik Ryuuen. Begitu pukul 11.00 tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel kami sekaligus. dan tanpa memerhatikan tatapan Ryuuen, kami semua melihat ke bawah untuk melihat hasilnya.

(Tikus) ---> Karena tebakan pengkhianat benar. Hasil 3.
(Sapi) ---> Karena tebakan pengkhianat salah. Hasil 4.
(Harimau) ---> Karena identitas target dilindungi. Hasil 2.
(Kelinci) ---> Karena tebakan pengkhianat salah. Hasil 4.
(Naga) ---> Karena tebakan seluruh kelompok benar setelah ujian berakhir. Hasil 1.
(Ular) ---> Karena identitas target dilindungi. Hasil 2.
(Kuda) ---> Karena tebakan pengkhianat benar. Hasil 3.
(Domba) ---> Karena identitas target dilindungi. Hasil 2.
(Monyet) ---> Karena tebakan pengkhianat benar. Hasil 3.
(Burung) ---> Karena tebakan pengkhianat benar. Hasil 3.
(Anjing) ---> Karena identitas target dilindungi. Hasil 2.
(Babi) ---> Karena tebakan pengkhianat benar. Hasil 3.

[T/N: Untuk mengingatkan kembali:
Hasil 1: Semua kelas selain kelas target mendapat poin.
Hasil 2: Hanya target mendapatkan 500.000 poin pribadi.
Hasil 3: Penghianat yang menjawab sebelum akhir ujian dengan benar mendapat pion pribadi 500.000 dan kelas 50 poin. Target yang ketahuan -50 poin.
Hasil 4: Penghianat yang salah diberi hukuman -50 poin dan target mendapat 500.000 pion.]

Dan berdasarkan hasil tersebut. Peningkatan dan penurunan poin kelas dan poin pribadi dalam ujian ini adalah sebagai berikut. Dalam kasus ini, cl dan pr masing-masing mewakili poin kelas dan poin pribadi.

Kelas A - Minus 200cl Plus 2 juta pr
Kelas B - Tidak ada perubahan pada cl Plus 2,5 juta pr
Kelas C - Plus 150 cl Plus 5,5 juta pr
Kelas D - Plus 50 cl Plus 3 juta pr

"Kelas C ... ada di tempat teratas"

Horikita dan yang lainnya terlihat terkejut dengan hasilnya.

"Bukankah itu hebat, Suzune? Berkat kemalanganmu, kelompok (Naga) sudah mendapatkan hasil yang tidak diharapkan yaitu 1. Sekarang, semua kelas harus sama-sama menerima sejumlah besar poin"

Ryuuen kemudian bertepuk tangan dan tertawa dengan puas.

"Jika kau menundukkan kepala di hadapanku dan mengemis, aku bisa memberitahumu jawabannya" kata Ryuuen pada Horikita.

"Siapa yang mau melakukan sesuatu seperti itu?"

Horikita sudah mulai mengatakannya, tapi dengan cepat dan dengan kuat menutup mulutnya.

"Astaga, ekspresimu itu sangat cantik dan seksi"

Ryuuen kemudian mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan meletakkannya di atas meja di depan kami agar bisa dilihat semua orang. Di layar, terlihat ada daftar yang berhasil disusun Ryuuen. Tikus, burung, babi. Dalam kelompok tersebut tertulis nama murid yang dicurigai sebagai "target" dari Kelas A.

"Aku menemukan akar dari ujian ini dan sampai pada saat itu. Kemudian aku berfokus pada penargetan hanya pada Kelas A dan ini adalah bukti dari hal itu"

Dengan kata lain, ini berarti Ryuuen berhasil menyelesaikan ujian ini tanpa menargetkan Kelas D atau Kelas B dan hanya menyerang Kelas A. Umumnya, tidak mungkin melakukan hal yang tidak menyenangkan tersebut. Tapi tidak ada yang menyangkal bahwa Ryuuen melakukannya, faktanya, menariknya keluar.

"Dan aku minta maaf karena memberitahumu ini. Tapi sayangnya, targetku berikutnya adalah kau, Suzune. Pada ujian berikutnya, aku akan memastikan untuk secara khusus menargetkanmu. Aku akan terus berjalan sampai aku benar-benar merobek pikiran dan hatimu menjadi potongan kecil”

Tidak ada lagi kata-kata untuk membalasnya, Horikita terus menatap hasilnya melalui pesan.

Ini berarti bahwa Kelas C sekarang memiliki keunggulan besar dari kelas lainnya, setelah mendapatkan sejumlah besar poin di sini di dalam ujian ini.

Melihat ke belakang, meskipun Kouenji sepertinya hanya bermain-main saat itu, permainannya sangat bagus untuk memastikannya beberapa kali lagi. Jika tidak, itu pasti merupakan kemenangan pasti Kelas C.

Tentu saja tindakan Kouenji akhirnya mengirim peluru liar terbang ke ‘target’ ke kelas yang lainnya juga.

"Tunggulah di semester kedua nanti"

Setelah berhasil membayar kembali hutangnya di uji pulau, Ryuuen terlihat puas saat ia berjalan pergi. Dan semua murid, terlepas dari kemenangan mereka, terlihat seperti tidak merayakannya melainkan terlihat sangat lelah.

"Aku masih bisa menerima bahwa Ryuuen-kun hanya mengumpulkan informasi tentang ‘target’ Kelas A. Aku dapat menulisnya dengan bakat yang tidak kita miliki, tapi bagaimana dia mendapatkan hasil kelompok naga?" Tanya Hirata.

Tapi tidak perlu berpikir keras tentang ini.

"Itu tidak terlalu sulit, jika kau memikirkannya, itu sangat sederhana"

"Apa maksudmu?"

"Terlepas dari cara Ryuuen menemukan identitas ‘target’. Yang harus dia lakukan hanyalah mengumumkan 'Kushida adalah target' sebelum ujian berakhir. Tentu saja, tidak ada yang akan percaya dengan kata-kata seseorang seperti Ryuuen. Terutama kepada sekelompok orang yang berbakat seperti kelompok itu. Tapi waktu penutupan itu sendiri berbeda, bahkan jika kau salah menjawab di jeda itu, tidak akan ada risiko. Dengan demikian, bahkan seseorang yang bermain pertahanan seperti Katsuragi akan tergoda untuk memilihnya. Bahkan jika ada 1% kemungkinan Kushida benar-benar adalah ‘target’, hasil pertama akan yang paling mudah bagi mereka semua" kataku.

Jika dia sudah menanam benih itu lebih awal, ini adalah tugas yang sangat sederhana. Tapi itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan normal. Ini adalah tugas yang tidak bisa dilakukan kecuali semua orang percaya bahwa itu memang Kushida. Apakah ini sangat mungkin? Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana hal ini bisa terjadi.

Ini tidak mungkin berhasil. Tapi bagaimana? menyampingkan kelas D, dia membimbing setiap orang untuk mendapatkan hasil 1 sambil mendapatkan kepercayaan mereka? Kecuali jika dia memiliki 'bukti kuat bahwa setiap orang akan percaya'... mungkin.

"Horikita. Hanya kemungkin saja, tapi mungkin ada beberapa rintangan di masa depan"

Dan tidak hanya satu atau dua kali, tergantung situasinya, mungkin juga melibatkan seluruh Kelas D.

"... rintangan dari Ryuuen-kun? Itu benar jika dia berhasil melakukannya dengan lancar di dalam ujian ini, itu benar, tapi tidak ada jaminan dia akan bisa mengulanginya lagi di masa depan. Sebenarnya, kelompokmu benar-benar menang, apa aku salah?" Horikita bertanya padaku.

"Itu benar, aku mungkin hanya berpikir berlebihan. Jangan khawatir tentang hal itu.”

Saat ini masih belum ada yang menjadi firasat. Tapi bagaimana jika firasat ini menjadi kenyataan? Aku tidak bisa tidak berpikir jika ini mungkin merupakan langkah awal menuju keputusasaan. Tapi pada saat bersamaan, aku juga mulai merasakan emosi 'kegembiraan' mulai tumbuh di dalam diriku.

Dari admin yang terlibat: Aghh... Akhirnya selesai juga. Bagaimana perasaan kalian membaca volume 4? Admin pribadi mulai tertarik di pertengahan chapter 3 apalagi waktu Ayanokouji sama Karuizawa.....  Terima kasih sudah mengikuti terjemahan kami. Selamat Hari Natal bagi yang merayakan dan Selamat Liburan bagi yang lainnya .

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter