Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 1 Part 2

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 1 Part 2

Baca Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Volume 4.5  Chapter 1 Part 2 


"Selanjutnya"

Hari sudah sore ketika aku mendengar suara kecil itu datang dari dalam fasilitas sementara.

"Aku sudah membuatmu menunggu"

Pada akhirnya masing-masing kelompok membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan aku harus mengantri di dalam antrian cukup lama. 

Itu terjadi ketika aku sudah mulai tidak peduli lagi dengan peramal yang ada di dalam dimana suara dari ruangan di balik tirai tempat peramal itu berada.

Dan saat aku masuk, di dalamnya ada pemandangan yang sering aku lihat di televisi. Pencahayaannya redup di dalam sana, hanya sekitar 30 lux. Ditambah dengan adanya buku tebal, palu dan bola kristal yang juga bisa digunakan untuk sebuah tujuan yang tidak aku ketahui.

Peramal wanita tua itu mengunakan tudung pada dirinya dan karena itu, aku tidak bisa melihat ekspresinya.

Suasana tempat ini sendiri adalah suasananya tahun pertama. 

Bola kristal itu sedang bersinar, bahkan sekarang benda ini seolah-olah sedang mencerminkan tentang Ibuki dan masa depanku. Di depan peramal, ada dua kursi bundar tanpa sandaran. Kurasa di situlah kami seharusnya duduk. Ketika kami berdua duduk, si peramal hanya tertawa sesaat dan tangan kanannya bergerak.

"Pertama-tama, bayar" kata peramal itu kepada kami.

Dan setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan card reader dari bawah meja dan meletakkannya di atas meja di depan kami. 
T/N: Card Reader sejenis kaya Mesin EDC sebagai alat pembayaran menggunakan kartu.

Dari atmosfir yang menyesakan ini, hampir memberikan kesan seperti museum peramal. Artefak peradaban modern muncul seperti itu dan melepaskan perasaan yang tidak masuk akal.

Tentu saja, aku tidak berpikir bahwa itu akan gratis, tapi tiba-tiba aku seperti ditarik kembali ke dalam kenyataan. 

"Apa yang akan kau ramalkan untuk kami?"

Sebelum mengeluarkan kartu tanda pengenal muridnya, Pertama-tama Ibuki mengajukan pertanyaan tersebut.

"Pendidikmu, pekerjaan, urusan cinta dan apapun yang kau suka" jawab peramal saat dia tertawa terbahak-bahak. 

Tentu saja ini akan membuat perasaan yang kuat ke daerah sekitarnya, tapi daripada hanya sekadar seorang peramal, Menurutku dia terlihat seperti penyihir.


Tetapi daftar harga yang diletakkan di atas meja sangat tidak sesuai.

Sepertinya harga yang diberikan terbagi menjadi beberapa kategori. Sesuatu yang dikatakan oleh peramal sepertinya termasuk ke dalam "rencana dasar" dan di sana, hal itu terbagi lagi menjadi jauh lebih banyak bagian dan salah satunya termasuk ke dalam Tenchuusatsu.

Di antara yang lainnya, ada bimbingan yang akan membiarkanmu melihat sampai ke akhir kehidupanmu dan karena peramal memiliki persyaratan untuk berpasangan, ada banyak bimbingan yang berfokus kepada asmara.

Ini hanya pemikiran spontanku, tapi jika peramal meramalkan kecocokan yang buruk diantara pasangan, aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh pasangan tersebut? Hanya saja dalam masalah ini, lebih dari 5000 poin dibutuhkan. Ini sedikit mahal.

"Meski begitu ... harganya sangat mahal"

Bagi murid Kelas D yang berjuang dengan masalah poin setiap hari, ini merupakan biaya yang sangat mahal. 

Bahkan jika aku mengatakan hal itu, akan sia-sia saja untuk kembali tanpa kesempatan untuk menyelidiki Tenchuusatsu. Selalu ada pilihan untuk hanya mendengarkan hasil ramalan Ibuki dan kemudian kembali, tapi jika aku melakukan itu, aku tidak akan bisa memastikan kebenarannya.

Kupikir untuk berjaga-jaga, aku memeriksa saldo poin di ponselku. Di layar, poin pribadiku ditampilkan. Sisa pion yang aku miliki saat ini sekitar 6000 poin sehingga aku hampir tidak mampu membayarnya.

"Aku akan memilih rencana dasar," kata Ibuki tiba-tiba.

Meskipun dia mengakuinya sebagai peramal, dia terlihat tidak berniat untuk mengikuti bimbingan penuh.

"Apa yang akan kau lakukan?" dia bertanya kepadaku

"Aku akan memilih rencana yang sama seperti Ibuki"

Pada titik ini, aku merasa seperti sedang memesan makan di restoran, tapi aku menjawab seperti itu dan mengangkat kartu tanda pengenal muridku. Suara dari kartu yang digunakan terdengar dari card reader dan beberapa saldo dikurangkan dari kartuku.

"Kalau begitu, kita mulai dari perempuan ini, siapa namamu?" peramal bertanya.

"Ibuki... Ibuki Mio"

"Kemampuan meremalku mengharuskanku untuk melihat wajah, tangan dan hati pelangganku Dan dipertengahan, aku mungkin melihat sesuatu, sebaiknya kau tetap berhati-hati. Apa kau tidak masalah dengan itu?”

"Lakukan apa pun yang kau inginkan" 

Ibuki menjawab bahwa dia tidak akan kecewa dengan hal itu, apakah dia juga yakin akan hal itu? Dari balik tudungnya, aku tidak hanya bisa melihat kulit keriput sang peramal tapi juga tatapannya yang tajam. Kemudian, dia menginstruksikan Ibuki untuk meletakkan kedua tangannya, dia mulai berbicara tentang hasil ramalannya perlahan-lahan.

"Mulai dengan membaca telapak tangan, kau memiliki umur yang panjang. Aku tidak melihatmu menderita sebuah penyakit berat seperti sekarang..." dia berbicara.

Sebuah cerita yang sering di dengar itu adalah sebuah pembukaan. Aku pribadi tidak mengerti bagaimana seseorang bisa meramal dari garis di telapak tangan seseorang. Merasa tidak ada gunanya, Aku meresa kecurigaanku ingin menolak ramalan.

Mungkin peramal menggunakan statistik pengalaman mereka sendiri untuk mengatasinya? Jika itu adalah aku, aku hanya akan menggunakan kesehatan yang bagus untuk banyak pelanggan Dari warna wajah mereka dan semacamnya, itu akan memberikan jawaban untuk ku.

Dan masih terus berlanjut, peramal berbicara tentang pendidikan, keberuntungan ekonomi dan urusan cinta dengan jawaban yang tidak diharapkan.

Sementara orang-orang biasanya akan marah kepada kata-kata yang terlihat palsu dari peramal, Ibuki terus mendengarkan mereka dengan perasaan puas. Tidak banyak prediksi yanng buruk, kebanyakan prediksi tentang masa depan yang cerah untuknya.

Terkadang peringatan diberikan kepadanya, tapi sepertinya tidak ada risiko khusus untuk kehidupan dan kesejahteraannya.

"Terima kasih banyak," kata Ibuki.

Setelah menyelesaikan sesi ramalan, Ibuki menunduk. Sepertinya giliranku, di mana aku bisa mengerti tentang peramal dengan lebih baik, akan segera dilakukan sekarang.

Peramal tersebut mengikuti prosedur yang sama dengan yang dia gunakan selama sesi dengan Ibuki.

Jawaban untuk sesiku sebagian besar sama dengan apa yang terjadi selama sesi Ibuki. Meskipun situasinya mungkin berbeda, intinya adalah kebanyakan prediksi merupakan sesuatu yang baik yang akan datang. Namun aku diperingatkan untuk berhati-hati terhadap malapetaka suatu hari nanti. Pengetahuan semacam itu diberitahukan kepadaku.

"... Aku mengerti, sepertinya kau memiliki masa kecil yang sulit" kata peramal itu kepadaku.

Bahkan jika kau mengatakan hal seperti itu, kebanyakan anak memang mengalami sesuatu yang mereka anggap seperti itu setidaknya sekali atau dua kali di masa kecil mereka. Apalagi jika anak itu adalah laki-laki. Jika memungkinkan, aku akan menyukainya untuk menjawab jawaban yang lebih pasti.

Yang lebih penting lagi, ini adalah misteri yang lebih besar. Kenapa peramal yang seharusnya berbicara tentang masa depan malah berbicara tentang masa lalu? Tapi Ibuki di sampingku, tanpa menyela atau menguap, mendengarkan peramal tersebut dengan saksama. Mungkin peramalan seharusnya memang seperti ini atau mungkin sebagai ritual yang diperlukan, kami akan kembali ke masa lalu. 

Ahh, jadi peramal memang benar-benar seperti ini. Pada saat ini, aku berpikir begitu.

Karena manusia adalah makhluk yang mudah, sesekali 'nasib baik' yang telah diprediksikan untuk mereka, mereka akan menguncinya di dalam ingatan mereka dan bahkan jika keberuntungan yang tidak ada hubungannya dengan ramalan terjadi, mereka akan mengingat kenangan itu kembali  dan mengartikannya sebagai " Ahh, jadi peramal yang waktu itu sedang membicarakan hal yang ini "

Tetapi kenyataannya akan berbeda, karena di dalam kehidupan, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang akan mengalami nasib yang baik dan malapetaka sekaligus kebahagiaan dan kesengsaraan.

"Ini..."

Sekali lagi, peramal yang sepertinya berada di tengah ritual, menghentikan tangannya.

"Kau adalah pemilik 'penentuan Tenchuusatsu' "

"Uwa ... serius?”

Yang terkejut dengan hasil itu bukan aku melainkan Ibuki dan peramal itu sendiri. Tenchuusatsu adalah sebuah kata yang bahkan aku tidak sadari sejak kemarin, jadi meski ada kata lain yang ditambahkan di atas semua itu, itu hanya akan membuatku kebingungan lagi.

"Sederhananya, sejak aku lahir, kau sudah menjalani kehidupan yang sial" Ibuki menjelaskan kepadaku.

"Itu hal yang menakjubkan ..."

Apakah ini murni kebetulan atau tidak, sekali lagi memang akurat. Hanya saja, peramal masih ambigu di dalam masalah ini.

Karena, jika seseorang melihat diri mereka dengan pesimis, tidak ada kegagalan dari orang-orang yang akan melihat ke masa lalu mereka dan menganggap kehidupan mereka sebagai ketidakberuntungan. Tapi jika itu adalah Tenchuusatsu yang tidak biasa, akan menjadi risiko bagi peramal untuk mengatakannya juga.

"Ngomong-ngomong, apakah Penentuan tenchuusatsu itu akan terus berlanjut ketika keluar dari sini?" Aku bertanya.

"Beberapa waktu yang lalu, perempuan itu mengatakan bahwa itu berarti menjalani kehidupan yang sial, tapi itu salah"

"Perempuan itu..."

"Penentuan tenchuusatsu memang jarang, tapi bukan berarti itu akan mengutuk seluruh hidupmu menjadi kesialan. Tentu saja aliran itu sendiri memang jelek, kau tidak akan bisa menerima berkat dari keluarga atau orang tua. Tapi itu sesuai dengan kepribadianmu. Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang adalah sesuatu yang harus kau putuskan " Kata peramal itu kepadaku.

Dari ekspresi tajam yang dimilikinya sebelumnya, sekarang di mata peramal aku bisa melihat kebajaksanaan.

"Tidak perlu merasa pesimistis dan tidak perlu bertindak seperti protagonis comedy juga"
T/N: Pesimistis, (sikap) ragu akan kemampuan atau keberhasilan suatu usaha.

Aku sudah mendengar banyak cerita yang menarik hari ini, tapi bagaimanapun juga itu hanya ramalan. Ini bukanlah sesuatu yang menyebabkanmu melihat dengan mata yang memerah atau memiringkan telinga agar bisa mendengar dengan lebih baik. 

Ketika aku mencoba bangkit dari tempat duduk, aku kembali dipanggil oleh peramal.

"Satu lagi prediksi untukmu. Kembali ke jalan yang lurus, jangan mengambil jalan memutar. Jika kau mengambil jalan memutar yang tidak penting, kau mungkin akan terjebak dalam waktu yang lama. Tapi bahkan jika kau terjebak, jangan panik. Tetap tenang dan jika kau bekerja sama, kau harus bisa mengatasinya"

Dia meninggalkan kalimat ramalan seperti itu.

"Bagaimana pengalaman ramalan pertamamu?"

"Bagaimana denganmu?"

"Sangat puas, peramal itu cukup terkenal di seluruh dunia. Dikatakan bahwa keakuratannya cukup tinggi" Ibuki memberitahuku.

"Kurasa begitu ... itu seperti profesi sederhana, tapi sangat sulit"

"Apa maksudnya?"

Lebih dari setengahnya hanya berdasarkan pola dari gambaran dan kata-kata yang bisa di dengar dari sebuah ramalan. Tapi di dalamnya, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga fakta yang akurat. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia prediksikan hanya dengan kata kunci yang aku berikan kepadanya.

Aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa didapatkan dari menjalani hidup yang panjang atau memiliki pengalaman meramal.

"Mulai sekarang, aku tidak akan menganggapnya hanya sekedar ramalan lagi. Begitulah perasaanku" kataku pada Ibuki.

"Ahh, aku mengerti"

Itu adalah jawaban yang sedikit tidak penting meskipun dia yang menanyakannya. Dan bersama-sama, kami sampai di lift terdekat.

"Geh ... sudah rame lagi"

Jika aku melanjutkan, ini adalah neraka dan jika aku kembali, ini masih merupakan neraka. Murid-murid membanjiri ruang di depan lift.

"Maaf, tapi aku akan mengambil jalan memutar untuk kembali" kataku pada Ibuki.

"Aku juga" dia segera menjawab.

Sepertinya Ibuki juga sedang memikirkan jalur pemikiran yang sama sepertiku dan saat kami berdua menuju lift yang jauh, kata-kata peramal kembali ke kepalaku.

"Omong-omong, sebelumnya..."

"Peramal itu mengatakan kepada kita, jangan mengambil jalan memutar"

Untuk beberapa waktu, mataku bertemu dengan Ibuki. Entah itu hanya sebuah kebetulan atau kesengajaan, kami akan mengambil jalan memutar pada saat ini juga.

"Aku pikir itu mungkin menarik. Ayo cari tahu seberapa akuratnya prediksi itu"

Jika tidak, aku akan kembali tanpa apapun yang terjadi dan pada akhirnya aku akan berpikir jika itu hanyalah sekedar ramalan. Tapi pada akhirnya, tanpa apapun yang terjadi, kami sampai di lift yang jauh. Dan saat itu, tidak ada seorang pun di sekitar kami. Kami bisa memakai lift di waktu senggang kami.

"Apa kau tidak masalah dengan lantai 1?"

"Aku akan kembali ke sana" jawab Ibuki.

Sepertinya kami tidak akan memiliki jalur yang sama untuk kembali sehingga aku menekan tombol ke lantai 1 dan menutup pintu lift.

Lift mulai bergerak perlahan. Karena kami tidak lagi memiliki sesuatu untuk dibicarakan satu sama lain, kami menghabiskan waktu di dalam lift dengan diam. Tapi saat aku mengatakan 'bergerak', itu hanya sesaat. 

Semenjak lampu "lantai 3" menyala, lift berhenti dengan suara yang berat. Sepertinya tidak ada seorang pun yang mencoba masuk ke lift di lantai 3, tapi lift, dalam usahanya untuk turun lebih jauh dari lantai 3, berhenti di tengah jalan. 


Saat aku merenungkannya, untuk sesaat, lampu mati dan warna menjadi hitam pekat.

Namun, pada saat itu, lampu darurat kembali menyala dan kami bisa menghindari situasi gelap gulita.

"Apa mungkin, pemadaman listrik?" Ibuki bertanya.

"Hampir mirip"

Tidak banyak orang-orang yang akan mengalami kerusakan lift seperti ini. Jika ini adalah kesialan tak terduga yang diprediksi oleh peramal, dalam arti tertentu, ini tepat sasaran.

"Untuk sekarang, seharusnya telepon darurat masih belum cukup?"

Tidak perlu panik disini. Lift sudah disiapkan untuk situasi rusak seperti ini. Disini juga ada kamera pengintai dan tombol darurat (interkom yang menghubungkan lift ke pusat pencegahan bencana) yang terpasang.
T/N: Interkom adalah alat komunikasi tanpa kabel yang tidak menggunakan pulsa.

Dan setelah memberitahukannya hal tersebut, tanpa keberatan, Ibuki bersandar di dinding lift... Kurasa aku akan menekan tombolnya dan meminta bantuan.

Aku melakukannya, tapi...

"Tidak ada jawaban"

Aku tidak tahu apakah telepon yang dituju itu berdering atau tidak, aku merasa aku tidak bisa masuk ke pusat pencegahan bencana.

"Bukankah pemadaman listrik juga mematikan telepon?" Ibuki bertanya kepadaku.

"Tidak. Lift biasanya memiliki baterai cadangan yang bisa berjalan selama beberapa jam. Sebagai bukti, lampu darurat menyala sekarang. Itu berarti pasti ada kesalahan internal lainnya di lift."

Aku mencoba menekan tombol yang tuna rugu gunakan, tapi itu juga tidak merespons. Dengan kata lain, tombol panel yang terpasang pada dirinya sendiri sudah rusak.

Baterai masih berjalan dan AC juga masih bekerja. Itu saja sudah merupakan berkah, tapi apa yang harus dilakukan sekarang?

"Apa kau bisa menghubungi sekolah dengan ponselmu? Itu masih berhubungan" aku bertanya pada Ibuki.

"Maaf, tapi tolong lakukanlah sendiri"

"Aku bisa mengerti perasaanmu karena tidak ingin berbicara dengan orang lain, tapi bukankah ini akan baik-baik saja?"

"...yang benar saja" gumam Ibuki sambil mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi tidak senang.

Tapi saat melihat layarnya, ekspresinya berubah menjadi buruk. Dia kemudian memutar layar untuk menunjukkannya kepadaku. Di layar ada pemberitahuan yang memberi sinyal baterai lemah, dan tidak lama kemudian ponselnya mati.

"Karena aku tidak memiliki kontak di ponselku, aku bahkan tidak menyadarinya sampai baterai ini habis. Jadi, sebagai gantinya kau yang menelpon"

"Mau bagaimana lagi"

Mengambil ponselku sendiri. Ketika aku melihat ke layar dan aku segera membeku.

"Telpon sekarang, cepatlah"

"Sepertinya situasi ini jauh lebih serius dari yang aku pikirkan"

Sama seperti yang dilakukan Ibuki tadi, kali ini, aku menunjukkan kepada Ibuki layar ponselku.

Persentase baterai yang ditampilkan di ponselku hanyalah 4%. Rasanya seperti api di puncak mercusuar yang akan hilang kapan pun oleh angin.

"Kau benar-benar mengacauku”

"Ini sangat mirip denganmu, karena aku tidak memiliki banyak orang yang bisa aku ajak bicara, aku tidak peduli apakah aku memiliki daya baterai atau tidak," jawabku.

"Tidak, tidak, kita benar-benar dalam masalah sekarang. kau adalah orang yang tidak berguna"

"Kau sangat kasar meski kita berdua ini sama... masalahnya adalah kemana harus menelepon sekarang, huh?" Aku bertanya pada Ibuki.

Aku bisa menghubungi polisi atau layanan darurat, tapi ada sesuatu yang sepertinya aku hadapi. Jika masih di dalam halaman sekolah, pasti ada tempat lain yang bisa aku telepon dan berpikir seperti itu, aku mulai mencari tahu apakah aku bisa menemukan kontak untuk layanan darurat di lift.

Seperti yang aku lakukan, di dekat papan operasi lift, ada 10 digit nomor.

Tapi... itu pasti adalah ide dari seseorang yang menyebabkan kerusakan, tapi 4 digit terakhir sudah dicoret.

"Lelucon ini terlalu berlebihan..."

"Kenapa kau tidak menelepon salah satu temanmu dan meminta bantuan?" Ibuki lalu bertanya kepadaku.

"Teman, ya?"

Sepertinya tidak ada pilihan yang lain, tapi masalahnya adalah siapa yang harus aku hubungi.

"Jika semuanya berjalan dengan baik, maka itu adalah Horikita"

"Ditolak" Ibuki langsung menjawab.

"... aku pikir kau akan mengatakan hal itu"

"Jika kau meneleponnya, itu berarti dia akan datang dan menyelamatkanku. Jangan bercanda"

Aku tidak berpikir bahwa siapapun yang melakukan penyelamatan di dalam skenario ini penting. Dan bukan berarti ini adalah kesalahan Ibuki juga. Ini hanyalah lift yang macet sehingga sejak awal tidak perlu khawatir juga.

"kau tidak ingin hal ini menjadi heboh, jika kita melakukannya" Ibuki mengangguk sedikit sebagai jawaban.

Jadi dengan kata lain, seseorang yang akan membantu kami tanpa menimbulkan keributan saat melakukannya adalah yang terbaik. Itu berarti ketiga orang idiot itu sudah dicoret dari solusi. Dalam sebuah kejadian seperti ini, tidak mengherankan jika mereka menyebarkan hal ini ke sana ke mari.

Tapi kalaupun aku mengandalkan seseorang yang tidak akan menyebarkannya seperti Sakura, menyelesaikan situasi seperti ini akan sulit untuknya. Akan sangat merepotkan baginya untuk menghubungi orang dewasa dan akhirnya aku akan menyebabkan masalahnya untuknya.

Dalam arti yang sama, Kushida dan Karuizawa juga tidak cocok dengan sesuatu yang seperti ini. Seseorang yang akan datang dan membantu kami tanpa kehebohan. Dan di dalam masalah ini, yang bisa aku andalkan adalah...

"Di saat seperti ini"

Di dalam daftar kontakku, satu-satunya orang yang bisa aku andalkan saat ini tidak lain adalah orang itu.

"Aku menghormati keinginanmu, tapi kau harus menyerahkan sisanya kepadaku sekarang" kataku kepada Ibuki.

"Selama itu bukan Horikita aku tidak keberatan dengan itu"

Kemudian aku mulai menelpon orang tertentu dan beberapa detik setelah telepon mulai berdering, laki-laki pendiam itu menjawab dengan tenang panggilan ini. Aku menceritakan situasiku dan memintanya untuk membantu kami. Tapi tak lama setelah aku memulai pembicaraan, ponselku tiba-tiba mati.

"Baterainya sudah habis" kataku pada Ibuki.

"Apa kau sudah mengatakannya dengan benar?"

"Mungkin"

Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah duduk dan menunggu. Tidak perlu terburu-buru. Cepat atau lambat, seseorang juga pasti akan menyadari situasinya. Bahkan jika kami mencoba membebaskan diri dari lift seperti yang terjadi di bioskop-bioskop, itu hanya akan menimbulkan bahaya yang lebih banyak.

Tapi sepertinya situasi ini berjalan dengan cara yang tidak terduga dan seperti yang sudah aku pikirkan, aku mendengar suara dari dalam yang dibuat oleh mesin bergema di dalam lift, pendingin yang memberikan angin  sejuk ke dalam ruangan berhenti.

"Tidak mungkin ini nyata..."

Ibuki yang tenang sampai sekarang, mulai menjadi panik. Kami berada di tempat yang tertutup rapat di pertengahan musim panas, ini bukan waktunya untuk membayangkan jika suhu akan mulai meningkat di sini.

Saat ini udara di dalam lift menjadi sedikit hangat dari waktu ke waktu, apakah kami menyukainya atau tidak, kami pasti akan mulai berkeringat.

"Apa ada cara untuk keluar dari sini sendirian?" Ibuki bertanya padaku.

"Sepertinya, tempat pembobolan darurat itu ada, tapi..."

Saat ini, sepertinya akan menjadi semakin panas, tapi ada pintu keluar yang dibangun di langit-langit lift. Itu merupakan sesuatu yang biasanya terlihat di dalam film, tapi meloloskan diri dengan itu kenyataannya adalah---

"Bagaimana kita bisa membukanya?"

Ibuki yang melihat ke atas, mau tidak mau mengajukan pertanyaan tersebut. Umumnya, pembobolan darurat tidak bisa dibuka dari dalam. Sehingga di dalam skenario di mana tim penyelamat tidak bisa membuka lift yang tertutup, mereka bisa menggunakannya sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalamnya.

"Aku pikir lebih baik tidak melakukan apapun dan menunggu saja, ini adalah peraturan yang harus dilakukan dalam masalah yang darurat di dalam lift"

Itu adalah cara teraman dan yang paling pasti.

"itu jika kau bisa menangani sauna ini dengan yakin" Ibuki balas menembaki.

Dan sementara kami saling memberikan tanggapan yang tidak berguna bolak-balik, suhu sudah meningkat. Aku bisa mengerti bagaimana keinginan untuk keluar dari sini, tapi aku ingin menghindari keputusan yang salah. Aku melepaskan lapisan kemejaku saat aku duduk di lantai.

Di dalam situasi seperti ini, sesuatu yang harus dilakukan adalah tidak menaikkan suhu tubuh itu sendiri.

"Bagaimana kalau kau ikut duduk juga? Jika terlalu panas, kau juga bisa melepaskan lapisan bajumu" kataku padanya.

".... huh? Apa kau mungkin sedang memikirkan sesuatu yang cabul di dalam situasi seperti ini?”

Sepertinya Ibuki mengartikan kata-kataku seperti itu dan kewaspadaannya meningkat.

"Aku dengar kau mampu bertarung dengan Horikita. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan seseorang sepertimu"

"Itu benar, tapi ..."

"Tentu saja, jika kau akan melepaskannya, aku akan membelakangimu dengan santai"

"Aku tidak akan melepaskannya"

Setelah mengatakan bahwa dia tidak akan melakukannya, Ibuki kemudian duduk di tempat.

Setelah itu, kami menunggu sekitar 30 menit dengan sabar tapi tidak ada kontak dari luar.

"Ini buruk..." Gumamku setelah mendengar nafas Ibuki yang keluar dengan kasar di sampingku. 

Kami mulai berkeringat di dahi kami dan keringat yang keluar dari kepala kami, membasahi rambut kami dan mulai menetes.

Pakaian yang aku gunakan sudah terlihat seperti aku yang sedang berada di bawah air terjun. Sepertinya situasi ini jauh lebih berbahaya daripada yang aku bayangkan.

Memikirkannya kembali, lift ini dipasang di dinding Keyaki Mall. Berkat AC yang selalu menyala, aku menjadi tidak menyadarinya, tapi lokasi ini akan sangat sensitif terhadap panas di dalam kondisi yang seperti ini.

Ada insiden dimana anak-anak meninggal di tengah musim panas setelah terkunci di dalam mobil, tapi hal yang sama juga berlaku untuk orang dewasa. Dan seolah-olah, sengatan panas itu mulai menyerang kami.

"Ahh, aku sudah berada dibatasanku, bergeraklah!”

Merasa frustrasi, Ibuki berdiri dan dengan segenap kekuatannya dan dia menendang ke keluar lift, meninggalkan bekas penyok di tempat dia menendangnya. Dia menendang di tempat yang sama lagi. Lift sedikit bergoyang namun tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.

"Kau hanya menyia-nyiakan tenagamu... tapi sekali lagi, aku benar-benar tidak bisa mengatakan bahwa hanya duduk diam adalah pilihan yang aman lagi" kataku kepada Ibuki.

Bahkan jika seseorang menyadari kemacetan lift dalam waktu 5 menit, hal itu masih akan membawa para penyelamat datang dalam waktu kira-kira 30 menit untuk sampai ke lokasi kami. Jika mereka sudah datang, seharusnya ini adalah saatnya penyelamatan tiba.

Jika kami tetap berada di sini setelah waktu itu berlalu, kami tidak akan bisa menghindari sengatan panas dan dalam beberapa kasus, ini juga akan menjadi risiko yang mengancam jiwa kami. Semenjak sampai kepada pemikiran ini, aku tidak bisa lagi mengatakan bahwa terus duduk diam adalah keputusan yang benar lagi.

"Tidak ada pilihan lain ..."

Aku menolak untuk mati di sauna lift ini.

"Haruskah kita menendangnya dari sini? Hei, haruskah kita menendang?" 

Ibuki bertanya kepadaku karena sudah kehilangan kesejukan dari udara yang panas dan sepertinya hal ini sangat menekankan keinginan hatinya untuk mengamuk.

"Terlepas dari bisa keluar atau tidaknya, untuk saat ini, ayo kita coba membuka penutup di bagian atas" kataku padanya.

Saat ini yang terpenting adalah meloloskan diri dari skenario tertutup ini. Bahkan jika kami tidak bisa keluar, asalkan tempat itu terbuka, itu sudah cukup.

"Tingginya.... kurang lebih 2 meter, sekitar 2,2 atau 2,3 ​​meter"

Bahkan jika aku mengulurkan tanganku tinggi-tinggi, tentu saja aku tidak akan bisa mencapainya.

"Minggir"

Ibuki mengancam dan melotot kepadaku saat aku sedang mengukur ketinggian pintu pembobolan darurat. Lalu dia melompat dari kanan di bawah pintu pembobolan darurat. Lompatan vertikal yang luar biasa. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke langit-langit, dan mengeluarkan semua kekuatannya.

Tapi tempat itu sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka dan dari benturan Ibuki yang mendarat kembali ke lantai, lift bergoyang dengan kuat.

"... sepertinya itu macet"

"Aku rasa begitu"

Jika itu hanya ditutup seperti biasanya, sekarang, seharusnya sudah terbuka.

“Kau pikir itu terkunci, kalau begitu, bagaimana mekanisme pengunciannya?" Ibuki bertanya padaku.

"Entahlah, aku pikir itu dikunci menggunakan gembok tapi... ada apa?"

berhubungan dengan hal itu, aku juga tidak yakin.

"Aku akan menendangnya"

"Tidak, tunggu. Tentu saja itu tidak mungkin"

Aku tidak yakin apakah dia sangat percaya diri dengan teknik menendangnya, tapi itu bukan sesuatu yang bisa ditendang dengan mudah.

"Pintu itu adalah pintu darurat, bukan? Itu berarti benda itu terhubung ke luar. Itu sebabnya tim penyelamat bisa membukanya dari luar, itu artinya pintu yang terbuka itu adalah jalan keluar dari sini sejauh yang aku ketahui. Kekuatan yang dibutuhkan untuk itu juga seharusnya lebih kecil"

Bukan berarti aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi situasi adalah situasi. Pertama, karena pembobolan darurat terletak di langit-langit, lupakan, Menendang akan sulit dengan kakinya atau bahkan memukulnya.

"Aku tidak akan tahu dengan pasti kecuali aku mencobanya" kata Ibuki kemudian.

Sepertinya Ibuki ingin melarikan diri dari panas ini secepat mungkin saat dia mulai melihat ke dinding di kiri dan kanan. Jangan bilang jika dia ingin melakukan lompatan segitiga dengan menendang dinding. Jika itu adalah dia, aku yakin dia akan memikirkan sesuatu seperti itu, tapi aku tidak bisa membayangkan bahwa dia sedang melakukan hal itu.

"... aku bisa mengatakan bahwa ini persis seperti yang diramalkan. Sepertinya ramalan sang peramal sudah menjadi kenyataan, huh?”

"Hah? Apa lagi itu?"

"Wanita tua itu mengatakannya, bukan? Bahkan jika kita mendapatkan kesialan, jangan panik dan saling bekerjasama."

Aku melirik ke lokasi di mana tombol-tombol lift itu berada.

"Tombol darurat tidak merespon. Aku penasaran tentang tombol yang lainnya"

Karena lampu di tombol untuk lantai 1 masih menyala, memikirkannya, setidaknya sebagian baterai masih bekerja. Aku mencoba menekan tombol lantai 2 sebagai percobaan dan ketika aku melakukannya, lampu untuk lantai 2 juga menyala.

Mungkin hanya untuk lampu yang masih aktif tapi patut dicoba. Kemudian aku mulai menekan tombol secara acak.

"Itu tidak ada gunanya, sepertinya."

Setelah menekan semua tombolnya, Ibuki berkata lagi seolah mengingatkanku.

"Tidak ada pilihan selain menendangnya"

"Tidak. Masih ada cara lain. Lift memiliki perintah seperti meng-cancel perintah di dalamnya, bukan?"

Bukan berarti aku adalah ahlinya lift, tapi itu hanya hal sepele yang aku ketahui dari sesuatu.

Itu adalah cara untuk meng-cancel perintah saat aku salah menekan tombol lantai bawah karena kesalahan. Aku pikir perintahnya bergantung pada pabrikan, tapi berulang kali aku terus menekan tombol batal, atau memang seperti itu.

Tapi setelah membiarkan tombol lantai 2 seperti itu, lampu kuning yang menyala tiba-tiba berkedip.

"Pasti ada beberapa perintah yang tersedia dalam mode pemberhentian ..."

"Pemberhentian ...?".

"Misalnya, anggap saja ini adalah lantai 3. Jika ada seseorang yang ingin turun di lantai 2 mereka akan menekan tombol tersebut dan itu akan berhenti di lantai 2. Tapi jika kau menggunakan perintah pemberhentian, perintah yang sebelumnya akan diabaikan dan langsung turun ke lantai 1 "kataku

Tapi aku tidak tahu apakah perintah pemberhentian ini dipasangkan di lift ini atau tidak.

"Masalahnya adalah menemukan sebuah cara..."

"Apa itu harus dicoba?" Ibuki bertanya.

"Ini lebih baik daripada melakukan tugas yang sulit seperti menendang langit-langit" jawabku padanya.

Tapi, kurasa lift tidak akan bergerak begitu saja. Aku hanya menyebutnya sebagai; untuk membuang waktu dan mengubah topik pembicaraan dengan memberikan harapan kepada Ibuki yang hampir kehilangan akal sehatnya.

"Pinjamkan aku otakmu juga, perintah seperti ini juga bisa diberikan oleh pemikiran individu yang berbeda. Jika kau memberikanku idemu juga, ini mungkin secara tidak terduga akan berhasil" kataku kepada Ibuki.

Kemudian aku menekan tombol untuk lantai 1 berulang kali dan kemudian setelah itu aku mencoba menekan semua tombol untuk semua lantai.

Tapi tidak satu pun dari mereka yang menyebabkan lift bereaksi.

"gantian"

"... baiklah"

Kemudian Ibuki bergabung dan mulai bekerja di depan tombolnya. Sepertinya memang harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa bantuan benar-benar tidak akan datang. Bukan berarti aku ingin menggunakan ide Ibuki, tapi aku harus mempertimbangkan bahwa menendang ke pintu keluar mungkin memang diperlukan. Bahkan jika membukanya itu tidak mungkin, aku mungkin bisa membuka celah kecil agar manusia bisa merangkak melewatinya.

Aku bukan ahli lift, tapi selama melarikan diri ke luar itu masih mungkin, apa pun akan terjadi.

Hanya saja, jika memungkinkan, aku ingin keluar tanpa harus menggunakan kekuatan yang seperti itu.

"Aku tidak bisa meng-cancel-nya, tapi aku pikir kau tidak bisa mendapatkan perintah pemberhentian hanya melalui kombinasi tombol yang digunakan setiap hari" kata Ibuki.

Tentu saja, dengan menggunakan logika, itu sudah jelas. Anak-anak terkadang suka bermain-main dengan menekan-nekan tombolnya. Dan jika lift masuk ke dalam mode pemberhentian setiap saat, maka hal itu akan membuat para penumpang merasa tidak nyaman. Dengan kata lain, kemungkinan kami tidak akan menemukan mode tersebut dengan kombinasi seperti itu cukup tinggi, atau setidaknya itulah penalaran Ibuki.

"Itu mungkin ide yang bagus... mungkin lebih baik menggunakan kombinasi kompleks juga," kataku padanya.

Misalnya, setelah menekan urutan seperti 1, 6, 5, 5, 4, 2, 4 (T/N: Kode Pemberhentian) kemudian aku bisa menekan tombol lantai yang ingin aku tuju. Tapi akan sulit bagi orang-orang untuk menghafalnya dan itu akan memberlakukan persyaratan ketinggian yang ketat minimal 6 lantai. Aneh rasanya kalau tidak bisa menggunakannya dengan lift yang hanya bisa naik sampai 3 lantai.

"Kita juga harus mencoba menggunakan tombol darurat"

Jika hanya bereaksi dengan ditekan, akan sulit untuk menggunakannya sebagai perintah.

"Jadi dengan kata lain ... 1 atau 2 atau 3. Tertutup dan terbuka di 5?"

"Kita harus menganggap bahwa hal itu dibuat dari kombinasi seperti itu"

Tapi, jika ada kombinasi yang lebih dari itu akan menjadi sangat sulit untuk menguji mereka semua. Jadi Ibuki terus menguji pola yang sudah ditetapkan. Dan saat aku melihatnya melakukannya, aku mengecualikan kombinasi yang gagal.

"Ahh... ini sudah mulai panas"

Gan! Ibuki meninju dinding dengan tinjunya seolah-olah hal itu bisa menghilangkan rasa frustrasi yang disebabkan oleh panas. Normalnya, aku akan memberinya peringatan lain untuk menentang hal ini, tapi karena dia puas dengan itu, aku memutuskan untuk membiarkanya.

"... ini tidak terbuka, apa kau belum mencoba semuanya?"

"kurang lebih, kalaupun ada yang tersisa ..."

Karena masih ada kemungkinan, aku memutuskan untuk mencoba perintah yang belum aku uji.

"Kenapa kau tidak mencoba menekan lantai tujuan dan tombol tutup pada saat bersamaan?"

 "Tombol tutup? ... aku mengerti"

Sambil berpikir bahwa itu tidak mungkin, Ibuki mencoba kombinasi yang belum pernah diuji. Dan saat dia menekannya, meski kupikir itu tidak akan berhasil, pada saat itu lift mulai bergerak perlahan lagi. Kami berdua langsung saling memandang.

Dan dalam beberapa detik lift sudah mencapai lantai 1 dan pintunya perlahan terbuka. Angin segar mengalir ke dalam lift, dua orang dewasa yang mengubah ekspresi mereka berpaling untuk melihat kami.

"Apa kalian berdua baik-baik saja? Apa kalian terluka?"

"Ahh, tidak, kami tidak terluka, hanya merasa panas di sana saja"

Hanya dengan melihat betapa berkeringatnya kami, mudah untuk menebak betapa panasnya tempat itu. Mungkin orang dewasa juga menyadarinya, tapi dengan cepat kami diberikan minuman olahraga.
T/N: Minuman olah raga itu kek Pocari Sweat.

Dan kemudian, untuk berjaga-jaga, kami dibawa pergi ke UKS.

"Umm.... Bisakah kami bertanya sesuatu? Bagaimana lift itu bergerak...”

"Ya, kami mengoperasikannya dari sini"

Ternyata ada remote control khusus yang bisa dioperasikan mulai dari lantai 1, sepertinya hal itu berkat penggunaan mode pemberhentian dari sini. Dan kami kebetulan menggunakan kombinasi itu dengan timing yang sama.

"... Kalian pasti sudah mengalami masa-masa yang sulit"

"banar-benar sebuah malapetaka. Aku merasa sudah cukup dengan peramal untuk beberapa waktu ke depan”

Bukan berarti aku tidak mengerti perasaan Ibuki karena mengatakan hal itu. Kemudian aku mengungkapkan rasa terima kasihku kepada orang dewasa, dan orang yang melihat dari jauh kemudian mendekati kami.

"Apa kau baik-baik saja, Ayanokouji?" dia bertanya padaku.

Pria besar yang mendekat memiliki aura yang familiar dan bertanya kepadaku dengan suara yang khawatir.

"Kau menyelamatkan kami, kau berhasil mengeluarkan kami"

Lift yang berhenti menyebabkan beberapa masalah. Tapi sepertinya itu tidak menimbulkan kehebohan yang mencolok. Pria ini, Katsuragi, mungkin berhasil melakukan hal itu untuk kami.

"Informasi yang kau ceritakan kepadaku melalui telepon sudah cukup. Ini cukup bagus, bukan?" dia bertanya padaku.

"Aku harus pergi ke UKS sekarang, tolong biarkan aku membalasnya lain kali" kataku pada Katsuragi.

"Kau tidak perlu melakukannya, aku sendiri sudah banyak dibantu olehmu dan juga Sudou. Karena kita berasal dari kelas yang berbeda, ada garis yang sama sekali tidak bisa kita lewati, tetapi jika kita bisa menyesuaikan diri, itu akan saling menguntungkan” Katsuragi menjawabku.

"Sepertinya itu berjalan dengan lancar"

"Ya, Sudou menjawab harapanku dengan cemerlang, tolong beritahu dia sekali lagi bahwa aku sangat menghargainya" kata Katsuragi.

"Aku mengerti"

"Dan juga, Ayanokouji, aku juga harus berterima kasih, meskipun bukti sebelumnya sudah disiapkan, seharusnya ada sedikit perlawanan sebelum menyetujui permohonan yang telah aku buat" lanjutnya.

Dia menundukkan kepalanya seolah meminta maaf kepadaku. Tapi aku merasa sangat bersyukur saat ini. Jika aku terjebak lagi di lift itu, pasti aku akan kehilangan ketenanganku.

"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan lagi, tolong hubungi aku. Jika aku bisa membantu, aku akan bekerja sama selain di dalam ujian" Katsuragi tertawa untuk beberapa saat dan pergi sambil meninggalkan lelucon seperti itu untukku.

Dan sebelum aku menyadarinya, aku sudah menjadi akrab dengan Katsuragi. Hampir seakrab dengan 3 idiot itu, mungkin bahkan lebih dari itu. Kenapa aku mengetahui alamat kontak Katsuragi Kelas A, dan kenapa aku begitu akrab dengannya?

Itu adalah cerita dari beberapa waktu yang lalu.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter