Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 1 Part 1

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 1 Part 1

Baca Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Volume 4.5 Chapter 1 Part 1 


IBUKI MIO MENGEJUTKAN BANYAK ORANG DENGAN SIKAP NORMALNYA

Ujian khusus.

Hal pertama yang terlintas di dalam pikiran saat mendengar kata tersebut umumnya adalah menuliskan jawaban ujian atau tes sederhana yang berhubungan dengan olahraga atau sesuatu yang berkaitan dengannya. Namun, di sekolah yang aku masuki, SMA Kōdo Ikusei, ujian khusus bukanlah hal yang sederhana seperti itu.

Ujian khusus dimana kelas menyerang kelas yang lain di sebuah pulau tak berpenghuni atau permainan yang menuntut kemampuan berpikir dengan si pembohong yang menyerang si pembohong di kapal pesiar. Ujian semacam itu yang melampaui logika terus berlanjut satu demi satu selama liburan musim panas.

Untuk tahun pertama sepertiku, waktu istirahat yang singkat, termasuk hari ini, hanya sampai ke nomor 7 (Satu minggu). Setelah waktu tersebut habis, semester kedua akan dilanjutkan.

Dan omong-omong, caraku menghabiskan liburan itu cukup sederhana. Aku hanya menghabiskan hari demi hari tanpa menelpon siapa pun atau berbicara kepada siapapun. Dengan kata lain, menyendiri.

"Aku juga tidak keberatan"

Aku sudah puas hanya dengan kebebasanku, aku tidak menginginkan adanya kebahagiaan yang lebih. Bukan berarti aku menginginkan teman milikku sendiri. Tapi baru-baru ini, aku mulai memikirkan hal seperti itu.

Semakin banyak koneksi yang aku lakukan dengan orang-orang, semakin banyak orang-orang yang bisa aku ajak bersenang-senang. Tapi itu sendiri adalah sebuah probelatika. Jika salah satu temanku mengajakku keluar, ada kemungkinan aku akan sangat senang dengan itu. Tapi meski dalam kesendirian, ada hal yang masih bisa aku lakukan.

Sebenarnya aku sedang melakukan salah satu dari hal itu sekarang, menggunakan ponselku untuk mengakses sisa poinku. Aku melihat di layar bahwa saat ini aku memiliki 106.219 poin. Dari mereka, aku mentransfer 100.000 poin ke salah satu teman sekelasku, Sudou Ken. Dan tak lama kemudian, orang yang menerima transferan itu, Sudou, menelponku.

"Yo, Ayanokouji, apa yang kau lakukan sekarang?" dia bertanya.

"Tidak ada yang spesial. Aku hanya ingin tahu apa yang harus aku makan ketika makan malam"

"Aku mengerti. Aku makan beberapa Sasami sekarang. Rasanya sederhana dan akan sangat mudah merasa bosan, tapi untuk itu, aku bisa sedikit mengakalinya. Aku bisa memanggangnya atau merebusnya... Tapi, apa-apaan itu? Itu tidak penting. Yang ingin aku tanyakan adalah tentang peramal”

Peramal? yah, itu sebuah kata yang tidak bisa aku tebak dari apa yang akan Sudou katakan.

Normalya, Sudou yang berpikir di dalam hitam dan putih, lebih menyukai hal-hal yang sederhana seperti Sasami yang baru saja dia makan. Aku tidak pernah menduga Sudou bisa membicarakan hal-hal yang abstrak seperti peramal.

"Intinya, Sepertinya ada peramal yang benar-benar akurat di sini, di Keyaki Mall yang hanya ada di liburan musim panas, sepertinya itu sedang nge-tren di antara senior, bahkan di klubku, semua orang membicarakan peramal tersebut. Begitu aku mendapatkan 'poin tambahan', aku juga merasa seperti ingin bermain di sana. Itulah sebabnya kita akan pergi bersama-sama. Tentu saja aku yang akan mentraktirmu”

Itu adalah undangan untuk bersenang-senang bersama dengan teman sekelasku, Sudou. Berbicara tentang Keyaki Mall, sepertinya itu adalah fasilitas yang sering digunakan oleh murid. Karena murid diwajibkan untuk tinggal di sekolah, maka perlu disiapkan fasilitas yang dibutuhkan bagi murid.

Tapi sesuatu seperti itu tidak beragam dan terbatas, tidak seperti di dunia luar. Misalnya, tidak ada konser idol, tidak ada taman hiburan dan tidak ada kebun binatang. Karena daerahnya terbatas, fasilitasnya tentu saja juga terbatas.

Sederhananya, ini murupakan dunia kecil dan Sekolah termasuk yang seperti itu, kapan pun sesuatu yang baru muncul, itu selalu terjadi tren di kalangan murid, tapi aku tidak pernah menduga bahwa peramal yang akan menjadi tren. Itu hal yang tidak terduga. Tapi meski begitu, aku membalas dengan nada yang positif.

Karena tidak ada yang pernah mengajakku untuk bersenang-senang bersama mereka sebelumnya, aku merasa sangat bahagia sampai-sampai aku tidak bisa menghentikan perasaan ini dan dengan cepat menanyakannya kembali.

"Kapan kau akan pergi?"

"Besok pagi, sepertinya di jam 10, tapi jika kau tidak pergi ke sana lebih cepat sepertinya kau akan terjebak di dalam antrian, kita harus sampai di sana jam 9:30"

Sepertinya, Sudou sudah memiliki jadwal yang dia rencanakan di kepalanya, itu artinya, ini akan menghemat waktu kami.

"Aku tidak keberatan, tapi bagaimana dengan klubmu?" Aku bertanya kepadanya.

"Ya, turnamen yang aku ceritakan beberapa waktu yang lalu sudah berakhir saat ini, jadi tidak masalah. Kami berlatih setiap hari sampai kami tumbang, kau tahu. jika mereka tidak membiarkan kami beristirahat sesekali, tubuh kami tidak akan bertahan”

Sudou berada di turnamen bola basket hari ini. Meskipun diam-diam dia sudah berlatih sendirian setiap hari, aku khawatir dengan hasil turnamen  dan hal yang lainnya.

"Apa kau memiliki 'masalah'?"

Aku memastikan untuk menekankan kata 'masalah' sehingga Sudou bisa mengerti maksudnya dengan cepat.

"Ya, itu cukup sulit. Direktur dan pelatih, semuanya ada di sana,  level pengawasannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan hari-hari di SMP. Kami bahkan tidak diperbolehkan chattingan dengan murid dari sekolah lain kecuali berbicara secara langsung selama pertandingan. Dibatasi dengan hanya pergi sejauh ke toilet saat kami istirahat. Kupikir ini mustahil”

Meskipun kegiatan klub secara teknis berada di luar sekolah, sepertinya sekolah tersebut masih melakukan pengawasan yang luar biasa.

"Tapi biar bagaimanapun, Aku sudah berhasil entah bagaimana, aku berhasil melewatinya dengan tekat" katanya.

"Aku mengerti, bagaimana dengan Yamauchi?"

"Aku sudah memastikan untuk menghapus datanya, jadi jangan khawatir, Setidaknya aku sangat mengerti."

Bahkan kehidupan sekolah Sudou pun sudah berkembang, sehingga dia tidak akan melakukan sesuatu yang berbau busuk. Tapi untuk berjaga-jaga, aku harus segera bertemu dengan Yamauchi untuk memastikan bahwa data sudah terhapus, hanya untuk berada di posisi yang aman.
"Omong-omong, apa kau berhasil bermain di dalam pertandingan yang penting ini?"

"Ya, dan di antara angkatan yang baru, hanya aku yang bisa bermain, aku bahkan mendapat pujian spesial untuk itu, tapi aku kalah di dalam pertandingan jadi tidak banyak yang bisa dibanggakan"

Aku tidak tahu banyak tentang ini, tetapi bisa debut di dalam sebuah pertandingan sebagai tahun pertama itu sendiri adalah hal yang membanggakan. Dan dari kata-kata Sudou, aku merasakan lebih banyak kesabaran daripada perasaan frustrasi.

Sebaliknya, dia harus terus mendapatkan hasil di klub bola basket. Dia mungkin berlatih dengan keras untuk turnamen ini. Apalagi karena tahun pertama sibuk bersekolah demi ujian khusus, jadi untuk menebusnya, dia pasti sudah berlatih lebih keras dari murid yang lainnya.

"Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau akan pergi atau tidak?" Sudou bertanya padaku

"Tidak ada yang aku rencanakan, jadi aku pikir aku akan pergi"

Setelah aku setuju untuk ikut, Sudou mengubah pembicaraan dan berbicara kepadaku,

"Pastikan untuk mengajak Suzune juga, benar-benar mengajaknya. mengerti?"

"...Aku mengerti"

Sepertinya Sudou tidak pernah ingin memintaku pergi menemui peramal tapi lebih ingin pergi bersama Horikita. Dia pasti merasa; bahkan jika dia mengundangnya, kemungkinan dia akan menerima penghinaan, karena itu dia menjadi bergantung kepadaku.

"Asal kau tahu saja... Aku rasa dia tidak tertarik dengan peramal" kataku padanya.

"Meski begitu, pastikan untuk mengajaknya. Inilah satu-satunya keahlian spesial yang kau miliki, bukan?"

Keahlian apa? Aku ingin dia berhenti menggunakanku sebagai mesin undangan untuk Horikita.

"Aku akan coba bertanya kepadanya, tapi jangan berharap terlalu banyak"

"Mencoba itu masih belum cukup"

"Belum cukup?....."

Aku merasa bahwa kata-kata Sudou sedikit mengandung kemarahan. Dia berencana pergi esok hari dengan asumsi bahwa Horikita pasti ada di sana.

"Kau harus benar-benar melakukannya. Jika kau tidak mengajak Horikita, tidak ada artinya semua ini"

"Bahkan jika kau mengatakan itu, aku juga tidak tahu rencana untuk besok. Dan masih belum pasti apakah dia tertarik dengan peramal atau tidak. Bisakah mengajaknya pergi untuk berbelanja atau menonton film?"

"Jangan khawatir, setiap perempuan menyukai peramal" kata Sudou.

Aku pikir itu hanya teori ...

Tapi bagaimanapun, anak perempuan memang memiliki citra yang menyukai peramal. Tapi ketika sampai kepada Horikita, aku tidak bisa membayangkan jika dia bertingkah seperti perempuan normal dan menikmati ramalan.

"Kau mengerti? Apa kau akan mengajaknya atau tidak? pastikan untuk memberi tahuku. Kau mengerti?”

Dan setelah mengatakan itu, Sudou menghentikan pembicaraan dengan paksa. Kupikir aneh jika Sudou mengajakku pergi untuk bersenang-senang, sepertinya inilah yang sebenarnya dia inginkan.

Sementara aku merasa sedikit kecewa, dengan cepat aku mengubah perasaanku. Sebaiknya aku cepat menghubungi Horikita. Jika Sudou tahu bahwa aku mengabaikan permintaannya, itu akan merepotkan untukku juga. Sebelum aku lupa, aku langsung menelpon Horikita disini. Dan segera, Horikita menerima telepon itu.

"Hei Horikita, apa kau suka peramal?"

Semua perempuan menyukai peramal. Jika ada perempuan yang mampu menghancurkan anggapanku tentang perempuan pada umumnya, tidak diragukan lagi jika itu adalah perempuan ini.

"Kau mengatakan hal yang paling aneh sebagai pembukaan" kata Horikita.

Itu benar. Tapi bagiku, aku tidak punya kesempatan lain untuk membuka pembicaraan, jadi tidak ada pilihan lain.

"Akan sangat membantu jika kau menjawabku"

"Jadi, itu berarti jika aku tidak menjawabnya sama sekali, ada kemungkinan kau tidak akan selamat?"

Aku tidak berharap dia akan membalas seperti itu, tapi memang ada kemungkinan bahwa aku tidak akan selamat jika dia tidak menjawab. Bayangan Sudou yang menempatkanku di kuncian tangan muncul dalam pikiranku.

"Jadi, maukah kau menyelamatkanku?"

"Jika kau tidak keberatan denganku"

Jadi, aku akan dianggap bahwa aku hanya menuntut untuk menjawab ‘apakah dia menyukai peramal?’, huh?

Aku menahan keinginan untuk menggerakkan jariku dan dengan cepat mengakhiri panggilan sekarang, tapi aku harus menahannya, wajah marah Sudou muncul di dalam pikiranku.

"Tolong, pertimbangkanlah" kataku padanya.

Setelah menyadari bahwa jawabannya adalah sesuatu yang berharga, Horikita mengangkat suaranya sedikit dan menjawab.

"Mari kita lihat... Aku tidak terlalu antusias dengan hal seperti itu tapi akan menjadi kebohongan jika mengatakan bahwa aku tidak menyukainya"

Mengejutkan, itu mengejutkan. Horikita sudah menjawabku seakan dia mangiakan peramal.

"Apa kau pernah mendapatkan keberuntungan yang diberitahu oleh peramal sebelumnya?" Tanyaku padanya.

"Tentu saja tidak ada yang seperti itu. Hanya saja aku pernah melihat ramalan muncul di dalam berita setiap pagi,"

Mungkin dia sedang membicarakan adalah ramalan bulan ulang tahun yang muncul di dalam berita.

Aku tidak bisa membayangkan Horikita yang mengganti pakaiannya atau membeli asesoris setelah mendengar bahwa warna keberuntungannya adalah berwarna merah dari layar televisi.

"Apa kau mungkin kecanduan ramalan?" dia bertanya.

"Tidak, tidak seperti itu. Ada rumor yang beredar baru-baru ini, apa kau pernah mendengar tentang peramal itu?"

"Peramal?..."

Diam seolah dia telah mengingat sesuatu yang pasti. Mmungkin dia mengingat sesuatu, tapi kemudian Horikita segera menjawab dengan nada yakin.

"Aku mengakui bahwa sepertinya ada keributan tentang itu, aku pernah mendengarnya," katanya.

"Aku sedikit penasaran dengan hal itu. Mereka terus mengatakan jika itu akurat, aku ingin melihat seberapa akuratnya, tapi aku tidak bisa benar-benar percaya bahwa peramal bisa sangat akurat mengenai sesuatu"

Aku sudah menduga jika dia akan setuju denganku tapi pendapat yang berbeda datang dari sisi lain telepon.

"Apa itu benar? Aku pikir seseorang dengan kekuatan yang sebenarnya bisa saja akurat” kata Horikita.

"Tidak, tidak, hanya esper atau apapun itu yang bisa akurat"

Sepertinya Horikita percaya kepada sesuatu yang kebetulan. Sesuatu seperti memprediksi masa depan seseorang dari wajah, tangan, atau tanggal lahir mereka.  Aku tidak percaya kepada sesuatu yang tidak realistis.

"Bukan berarti Peramal tidak memiliki kekuatan untuk melihat masa depan. Bukankah itu sudah jelas? Itu tidak sekonyol seperti percaya kepada hantu, tetapi tidak untuk paranormal. Peramal memiliki akses ke sejumlah besar informasi masa lalumu, dengan kata lain, mereka mendasarkan prediksi mereka berdasarkan pola manusia. Jadi keterampilan seorang peramal yang mampu menebak hal-hal seperti itu dari pelanggan mereka memang tinggi" Kata Horikita.

Jadi dia bukan hanya seorang perempuan yang berhayal tapi sebenarnya punya jawaban berdasarkan teori.

"Dengan kata lain, kekuatan yang berasal dari cold reading, huh?"
T/N: Cold reading (Menafsirkan ulang pernyataan samar dengan cara apa pun yang akan membantu untuk membuat prediksi). 

"Kau sangat tau beberpa hal yang 'bermuka tebal' " Horikita menjawab dengan nada jijik.

"Kita tidak bisa melihat diri kita secara obyektif tapi peramal sangat ahli. Dalam waktu singkat, dapat mengekstrak informasi tentangmu dan mengetahui sesuatu yang orang lain tidak sadari. Dan itulah yang tersisa sebagai hasil ramalan. Apa kita bisa memikirkannya seperti itu?" Kata Horikita.

Cold reading. Secara umum berarti membaca pikiran seseorang tanpa persiapan sebelumnya. Ini adalah teknik yang menarik informasi dari seseorang melalui pembicaraan santai untuk membuat mereka berpikir bahwa kau tahu lebih banyak tentang mereka daripada yang sebenarnya kau lakukan.

Menggunakan keterampilan 'pengamatan' dan 'wawasan' untuk mendapatkan informasi mengenai targetmu dan membuat mereka percaya bahwa kau bisa melihat masa depan dan masa lalu dengan menggunakan kata-kata yang benar.

Mudah untuk dikatakan, tapi sebenarnya melakukannya sambil menghindari ketidakpercayaan dari target dan membuat mereka percaya memerlukan level keterampilan yang tinggi.

"Aku menjadi sedikit tertarik" ucapku

"Aku senang, aku pikir akan lebih baik jika kau pergi"

"Kalau begitu kenapa kau tidak ikut?"

"Apa kau bercanda?"

"Aku cukup serius"

"Aku menolak"

Aku mencoba menyelipkan kata-kata undangan ke dalam pembicaraan singkat kami tapi dia dengan berilian menolak semuanya. Tapi aku masih punya alasan sendiri untuk tidak bisa menerima penolakannya dengan sederhana.

"Aku adalah seorang yang amatir di dalam hal ramalan, jadi aku pikir lebih baik aku memiliki seseorang seperti Horikita bersamaku"

"Aku minta maaf, tapi aku akan melewatkannya, aku tipe yang payah dalam berurusan dengan orang banyak, kau tahu itu juga"

Itu memang benar. Tentu saja akan ada banyak murid berkerumun di sekitar peramal yang kebetulan menjadi topik hangat saat ini. Bahkan ada kemungkinan bahwa itu tidak hanya ada murid saja tapi juga orang dewasa yang akan pergi. Aku pasti tidak akan bisa membayangkan Horikita ada di keramaian seperti itu.

Aku mencoba untuk menegaskannya kembali tanpa menyerah, tapi meskipun aku mengubah caranya, aku akan segera membangkitkan kecurigaan Horikita. Bagiku, jika aku benar-benar mengerti kalimat Horikita, tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Aku yakin Sudou juga tidak akan membuat sebuah masalah yang besar. Mungkin.

Begitu aku menyerah untuk mengajaknya, aku mematikan teleponnya. Lalu beberapa saat aku mengirim pesan kepada Sudou di chat. Tentu saja, dengan cepat berubah menjadi tanda 'baca' dan kata-kata yang tidak puas kembali kepadaku.

Sudou telah menjawab “Kalau begitu tidak jadi" kepadaku melalui pesan.

Seperti yang aku duga, keberadaanku hanya dibutuhkan olehnya untuk mengajak Horikita dan karena aku sudah gagal, aku tidak lagi berguna untuknya. Tapi aku harus mengakui bahwa akan aneh bagi dua laki-laki pergi bersama ke peramal.

"Meski begitu ... Peramal, ya?" Gumamku

Awalnya aku tidak tertarik, tapi setelah pembicaraanku dengan Horikita, aku menjadi sedikit tertarik.

Kurasa aku akan memeriksanya besok.

Siapa sebenarnya yang berpikir bahwa menemui peramal itu adalah ide yang bagus?

"Mungkin aku sudah gila..."

Aku tahu itu, tetapi pagi hari di akhir Agustus sudah diserang oleh gelombang panas membuatnya terasa seperti neraka yang terbakar. Aku bahkan bisa melihat fatamorgana yang terbentuk dan dengan lembut berguncangan di  beton yang terbentang di depan pohon pinggir jalan. Tentu saja fasilitas sekolah semuanya ber-AC sehingga kita tidak merasakan panasnya di sana. Di koridor, di lobi atau di kamar kami. Namun, saat terkena sinar matahari langsung, seseorang akan langsung berkeringat.

Jadi begitulah cara manusia mati. Sambil memikirkan hal seperti itu, aku dengan putus asa berusaha menemukan beberapa tempat naungan. Beruntung untukku, sekolah menawarkan lahan yang besar memiliki sedikit pohon yang ditanam. Berkat itu, tidak akan ada yang namanya kekurangan bayangan untuk menghalangi sinar matahari.

Saat ini adalah pukul 9:30 sebelum murid memulai berbagai aktivitas mereka, aku menuju lokasi peramal yang dikabarkan. Sepertinya mereka mulai meramal pada pukul 10.00, tapi aku tidak berencana untuk bertahan lebih lama. Aku akan melakukan peramalan keberuntunganku dengan cepat dan segera pergi. Itulah tujuanku. Tapi saat sudah mendekati tujuanku, aku menyadari bahwa harapanku telah dikhianati.

Di Keyaki Mall yang kuharapkan kebanyakan masih kosong, kerumunan murid yang mengenakan pakaian musim panas sudah ada di sana. Sementara aku berharap tidak semua dari mereka akan berada di sini untuk alasan yang sama denganku, hal itu tidak mungkin terjadi.

Untuk saat ini, untuk menghindari neraka yang terbakar di luar sana, aku memutuskan untuk berlindung di Keyaki. Karena kegiatan tersebut sepertinya dilakukan di lantai 5, aku mencari lift terdekat.

"Geeh ..."

Suara seperti itu tiba-tiba bocor keluar dari tubuhku. Hampir sepuluh murid sudah membentuk kerumunan di depan lift. Aku bertanya-tanya apakah orang-orang yang tidak pintar berkomunikasi yang sama sepertiku juga bisa mengerti?

Setiap kali aku menaiki lift sendirian, aku adalah tipe orang yang berulang kali menekan tombol 'Close' segera setelah aku masuk. Tapi aku tidak ahli menaiki lift dengan sekelompok besar orang yang seumuran denganku. Aku membutuhkan sedikit keberanian untuk masuk bersama orang banyak.

Mungkin sedikit merepotkan, tapi untuk sekarang, kita akan jalan memutar dan memilih lift lain di tempat lain. Ada lift lain yang berlawanan arah dimana saat ini sedang tidak terpakai oleh murid dan disimpan sebagai cadangan.

"Ini menenangkan ..." gumamku.

Hal ini memang membutuhkan usaha tambahan dari pihakku, tapi aku bersyukur untuk ketenangan pikiran yang diberikan kepadaku. Sangat menyedihkan. Setelah sampai di lantai 5, dengan cepat aku mencari lokasi peramal dan di sana aku mengalami situasi yang lebih membingungkan daripada yang sebelumnya.

"Hanya ada orang-orang yang berpasangan di sini"

Anak laki-laki dan anak perempuan. Dua dalam satu kelompok. Dengan kata lain, kerumunan ini terdiri dari sebagian besar murid dengan status sebagai sepasang kekasih. Tentu saja ada kelompok dengan hanya ada anak laki-laki dan kelompok dengan hanya ada perempuan juga di sini, tapi mereka hanya sebagian kecil.

Peramal pada dasarnya dimaksudkan untuk hal semacam ini.

Meramalkan kecocokan antara laki-laki dan perempuan bukan hal yang spesial, hanya saja aku sadar tempat ini jauh lebih tidak nyaman dibanding yang aku pikirkan.

Tidak banyak orang yang datang ke peramal sendirian. Apalagi jika hanya dengan anak laki-laki sepertiku. Bagaimanapun, karena sudah ada antrian yang terbentuk, aku memutuskan untuk berbaris bersama mereka dan ketika aku melakukannya, seorang perempuan yang sepertinya adalah orang yang membuat antrian tersebut memanggilku.

"Selamat pagi, Apakah pasanganmu akan datang nanti?" dia bertanya kepadaku.

"Pasangan? Tidak, aku sendirian" jawabku padanya.

Tentu saja, mengingat orang-orang di sekitar kami kebanyakan adalah pasangan, wajar saja jika mengajukan pertanyaan seperti itu, tapi aku ingin dia memikirkan lebih banyak tentang kami yang sendirian.

"Ummm ..." 

Mungkin dia masih harus mengatakan sesuatu, tapi wajah perempuan itu terus meminta maaf.

"Aku takut jika peramal-sensei ini hanya untuk pasangan saja ..."

"Jadi tidak mungkin jika aku sendirian?"

Dia mengangguk sedikit dan menunjuk ke depan. Aku tidak bisa melihatnya dengan baik melalui kerumunan bayak orang, tetapi ada beberapa catatan yang memperingatkan tentang persyaratan tersebut.

"Kami akan membimbingmu sebagai pasangan. Syarat ini harus diketahui”

Itu masuk akal. Seharusnya memang tidak ada satu orang sepertiku di sini. Karena aku belum dihadapkan pada situasi canggung seperti ini sebelumnya, hal itu tidak terelakan. Sepertinya saat ini, aku dalam posisi yang sangat sulit.

Lagipula, aku mengerti sekarang alasan kenapa Sudou ingin mengajak Horikita ke sini. Dalam format peramal ini, dia dan Horikita akan memiliki waktu yang lama untuk saling berbicara sambil mengantri untuk meramal dan mereka bisa menghabiskan waktu yang lama bersama sampai ramalan berakhir.

"Itu juga berarti, sejak awal harusnya aku tidak peduli" gumamku.

Setelah menyadari semuanya sekarang, kata-kata dan perilaku Sudou mulai mengambil makna yang baru bahwa sebenarnya aku tidak pernah diundang sejak awal. Dan kalaupun memang seperti itu, aku bertanya-tanya apakah dia akan menemukan cara untuk menyingkirkanku? Cerita yang sangat menyedihkan.

"Omong-omong, antrian di sampingmu sama saja, bukan?" Aku bertanya.

"... Ya Ukon-sensei hanya memberitau keberuntungan untuk pasangan ..."

"Aku mengerti"

Aku menundukkan kepalaku ke arah petugas dan meninggalkan antrean. Dan murid-murid yang sudah megantri di belakangku, Langsung melangkah maju. Aku tidak pernah berpikir trik semacam ini akan terlibat. Bagiku, bayanganku tentang peramal adalah tentang seorang wanita tua di pinggir jalan yang sedang menghitung koin sambil melakukan pekerjaannya, sesuatu seperti itu. Tapi baru-baru ini, sepertinya rekomendasi ramalan pasangan seperti ini juga ada.

Aku pikir setidaknya tidak akan terlalu buruk jika memiliki pengalaman ramalan sekali, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada banyak keuntungan jika mengajak Horikita pergi lagi, jadi sebaiknya aku mundur dari sini dengan tenang.

"Hah? Jadi kau bilang aku tidak bisa masuk sendirian?"

Sepertinya di dalam antrian di sampingku, ada satu korban lainnya yang datang sendirian karena suara yang terdengar marah bisa terdengar dari sana. Dan saat aku mengirimkan tatapan simpati dengan cara mereka itu, sayangnya mataku bertemu dengan orang tersebut.


"Ah"

Jawaban singkat itu berasal dari seseorang yang kebetulan adalah kenalanku. Ketika aku berpura-pura tidak melihatnya dan berusaha untuk pergi, entah kenapa, dengan waktu yang sama, dia berjalan ke arah yang sama denganku.

Aku mempercepat langkahku.

"Tunggu"

Mungkin dia pikir jika aku sedang berusaha melarikan diri (aku memang sedang berusaha melarikan diri), tapi dia mengejarku.

"Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku padanya.

"Dimana Horikita?"

Setelah mengajukan pertanyaan singkat tersebut, perempuan itu dengan cepat melihat ke sekelilingnya.

Dia adalah Ibuki Mio, murid Kelas C. Dia juga seperti Sudou, sepertinya berusaha mendekati Horikita melaluiku. Namun, tidak seperti Sudou, tindakan Ibuki dalam hal ini masuk akal. Hanya saja, akan sangat membantu jika dia bisa sampai ke Horikita tanpa perlu melewatiku.

"Bukan berarti aku selalu pergi bersamanya, aku sendirian hari ini"

"Ahh, aku mengerti"

Di dalam ujian di pulau tak berpenghuni sebelumnya, Ibuki dikirim ke Kelas D sebagai mata-mata dan mencoba melemparkan kelas ke dalam kekacauan. Dan kemudian dia bertengkar dengan Horikita dan sejak saat itu, Ibuki bersikap antagonis terhadap Horikita. Persaingan akan lebih besar di dalam hubungan mereka.

Meski sikap tsun-nya yang seperti biasa tidak berubah, dia memang memiliki selera mode yang bagus dan pastinya akan meninggalkan kesan yang bagus. Jika dia bertingkah sedikit lebih dewasa, aku tidak akan terkejut jika dia akan menjadi populer.

"Biasanya ramalan ini dilakukan satu lawan satu bukan? Aku sama sekali tidak mengharapkan ini, bukankah begitu?" Ibuki bertanya padaku.

"Kurasa begitu, aku memang punya gambaran seperti itu"

"Jadi, Kau tidak memita Horikita untuk menemanimu ke sini?"

Pertama, Sudou dan sekarang Ibuki. Topik pembicaraan selalu tentang Horikita, seseorang yang tidak ada di sini.

"Tidak, jika kau ingin berbicara dengan Horikita sebanyak itu, kenapa kau tidak pergi dan melihatnya sendiri? Katakan kepadanya jika kau ingin pergi menemui peramal bersama dia"

"Hah? Tentu saja tidak. Lagi pula bukan berarti aku punya sesuatu untuk dibicarakan dengannya"

Kalau begitu, aku ingin kau tidak membicarakan Horikita lagi dan lagi.

"Aku tidak pernah benar-benar tertarik dengan ramalan sejak awal, jadi aku tidak menyesal berada disini. Bagaimana denganmu?" Tanyaku padanya.

Aku pasti sedang berbohong jika aku bilang aku tidak menyesal ..."

Sepertinya persyaratan berpasangan ini menghadirkan sebuah masalah yang sulit untuknya dari apa yang dia sadari saat dia menggelengkan kepalanya sambil mengatakan penyesalannya.

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah sekarang, Aku juga payah dalam berbicara," kata Ibuki.

Itu adalah jawaban yang sebenarnya sama sekali bukan sebuah jawaban. Dia mengatakan bahwa dia tidak pintar berbicara, tapi tidak seperti Sakura, dia tidak terlihat seperti tipe yang akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembicaraan normal. Sebenarnya dia sangat mampu berbicara kepadaku dengan bahasa yang sama ... atau bahkan berbicara santai denganku.

"Kenapa kau tidak mengajak Ryuuen?"

Aku mengatakan itu sebagai lelucon tambahan, tapi dia membuat wajah jijik sama seperti atau bahkan lebih besar dari pada Horikita.

"Aku sangat benci melihat wajahnya bahkan selama liburan. Kau pasti bercanda"

"Tapi kau bersama dia saat di kapal, bukan? Bukankah itu normal menganggap kalian berdua sangat akrab?"

"...itu hanya karena aku merasa bertanggung jawab karena tidak mencari tahu pemimpin Kelas D"

Dia menjawab dengan lemah seperti itu. Jika apa yang dia katakan itu benar, itu berarti Ibuki bertindak bersama dengan Ryuuen sebagai tempat untuk mempertanggungjawabkan kegagalannya. Itu saja tidak memberiku gambaran keseluruhannya, tapi itu pasti sesuatu yang hanya Kelas C yang bisa mengerti.

Meski begitu, pada bagian pertama ujian khusus, ujian di pulau tak berpenghuni, Ibuki berhasil mengidentifikasi Horikita sebagai pemimpin kelas D dan dia tidak salah dalam penilaiannya. Jika aku tidak ikut campur, dia pasti akan memberikan kontribusi besar kepada Kelas C.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, tapi selama ujian di pulau, siapa pemimpin Kelas D?"

"Entahlah"

"Entahlah? Bukan berarti kau tidak tahu"

"Bahkan jika aku tahu, aku tidak akan serius memberitahumu, tapi aku benar-benar tidak tahu... Aku pikir sebagian besar Kelas D juga berada di dalam kegelapan, bukan? Horikita bergerak di dalam bayang-bayang dan dia pasti sudah memanfaatkannya entah bagaimana dan hanya itu yang bisa aku katakan"

Ibuki menatapku seolah melihat ke dalam diriku. Tapi, aku tidak terlalu bodoh untuk dilihat melalui pengamatan sederhana semacam itu.

"... yah, jika itu mudah, aku tidak perlu melewati banyak masalah seperti ini"

Ibuki mengangkat bahunya seolah dia sudah menyerah.

"Jika Ryuuen adalah ide yang buruk, kenapa kau tidak mengajak perempuan dari kelasmu?"

"Jika aku memiliki orang-orang yang seperti itu, aku tidak akan berada di dalam masalah ini, aku sama sekali tidak menyukai semua perempuan di kelasku"

Bahkan teman sekelasnya termasuk di dalam kategori orang yang sama sekali tidak dia sukai.

Ibuki sama seperti Horikita... atau bahkan sifat antisosialnya lebih dalam. Dalam masalah ini, mereka adalah karakter yang sama. Dan dengan sebuah pemicu, sepertinya mereka akan akrap dengan sempurna.

"Tapi saat ini kau begitu saja berbicara denganku, Ibuki. Kau harus bisa berbicara dengan orang lain dengan normal. Aku tidak merasa bahwa kau sangat payah bebicara dengan orang lain"

"Itu tidak benar, saat kau berbicara denganku, kau merasakan perasaan itu, bukan? perasaan yang menusuk"

“Aku pikir itu benar"

Kapan pun aku ingin berbicara dengan Ibuki, aku merasa bahwa aku telah tertusuk oleh gergaji tajam. Mungkin hal itu karena ekspresi Ibuki yang terlihat seperti menjaga jarak dengan orang lain. Aku yakin perasaan ini juga akan disampaikan kepada murid yang lainnya.

"Apa pun yang aku lakukan, suasana hati selalu berakhir dengan buruk seperti ini, kau mengerti?" Kata Ibuki.

Dengan kata lain, karena dia tidak bersosialisasi, dia tidak bisa mengajak teman sekelasnya. Masih bisa diragukan apakah 'payah dalam bersosialisasi' itu benar atau tidak, Tapi sudah dipastikan bahwa Ibuki terlihat seperti seseorang yang bahkan melihat teman sekelasnya di dalam cahaya antagonis.

Aku bahkan bisa membayangkan jika dia akan meragukan si peramal dengan sikap keras kepala miliknya.

"Meskipun kau payah dalam berurusan dengan orang lain, itu aneh jika kau akan mencoba ramalan keberuntunganmu"

"Itu adalah salah satu masalahku. Lebih seperti sedang menyukai kucing, tapi disisi lain juga alergi terhadap kucing. Sesuatu seperti itu”

Itu pasti akan membuatmu sangat frustrasi. Meskipun seseorang menyukai sesuatu, mereka tetap merasa sulit untuk menerima atau melakukannya, atau sesuatu seperti itu.

"Luar biasa. Kau menjadi mata-mata di Kelas D meskipun kau seperti itu," kataku padanya.

Meskipun dia selalu memiliki sikap tsun, dia tidak pernah menunjukkan tanda ketidaknyamanan selama kegiatan mata-matanya, sama sekali tidak. Bahkan murid kelas D, tanpa mencurigai Ibuki, mengajaknya bergabung.

"Hal itu dan ini berbeda, bagaimanapun, berbicara dengan orang lain membuatku cemas dan karena aku cemas, aku menjadi gugup. Aku tidak suka itu, karena tidak bisa berbuat apapun. Bukan berarti aku menjadi seperti ini karena aku suka. Kenapa aku berbicara denganmu tentang hal ini? Bagaimana jika kita menjadi salah paham?"

Ibuki menghentikan pembicaraan saat dia berpaling.

Tapi itu juga adalah batasanku. Sebelum aku menyadarinya, orang-orang di sekitar kami sudah meningkatkan antrian dan hanya kami berdua yang tertinggal sendirian.

Murid lain mungkin salah paham dengan kami. Tapi tetap saja, gugup setelah cemas, huh? Jadi disitulah letak kelemahannya. Jika itu benar, Cara untuk mengalahkannya mungkin secara tidak terduga akan menjadi lebih mudah.

Ada rencana yang bisa melawan kelemahan ini tanpa harus mengetahui akar dari apa yang sudah membuatnya cemas di masa lalu.

"Sebelumnya, kau bilang itu adalah masalah yang berbeda saat kau memata-matai, bukan?" Aku bertanya pada Ibuki.

"Aku mengakui karena itu adalah fakta"

"Lalu apa perbedaan dari antara waktu itu dan biasanya?"

Setelah mendengar pertanyaan itu, Ibuki merenungkan jawabannya dan terdiam beberapa saat dan dijawab dengan cara yang sangat mirip dengannya.

"Aku tidak tahu, hal yang berbeda adalah berbeda, itu saja"

Lebih dari sekadar sebuah jawaban, sepertinya dia sudah menyerah untuk mencoba membedakannya dengan serius.

"Sepertinya kau belum pernah memikirkan itu"

"Tentu saja, aku tidak akan memperhatikan perbedaan kecil seperti itu. Pada akhirnya aku langsung bertindak.”

"Tidak, aku pikir ini sangat sederhana. Perbedaan antara berbicara dengan orang lain dan tindakanmu saat itu, hanyalah masalah 'penghargaan' yang aku percayai"

"'Penghargaan'?"

Menanggapi kata yang tidak diharapkannya untuk didengar, minat Ibuki pasti sudah terganggu semenjak dia berbalik untuk menatapku.

"Siapa pun akan merasa cemas jika mereka membayangkan bahwa mereka sedang berbicara dengan seseorang secara langsung. Tapi, kegugupan itu hanya karena kau sadar akan hal tersebut. Apakah tindakan yang terlibat atau tidak itu saling berkaitan?"

Misalnya, seseorang yang tidak pintar dalam berurusan dengan anggota lawan jenis, bahkan jika mereka meyakinkan diri mereka sendiri 'Aku akan menjadi normal' dan pergi bergabung dan semacamnya. Tidak ada jaminan bahwa kecemasan mereka tidak akan menghalangi mereka untuk berbicara dengan baik. Akibatnya, mereka tidak akan bisa menggunakan kekuatan yang lebih dari biasanya. Jika mereka masih bisa berbicara dengan sangat baik meskipun seperti itu, itu artinya sejak awal, mereka selalu memiliki kemampuan itu di dalamnya.

Yang dibutuhkan hanyalah mempertimbangkan keterampilan komunikasi dan atletis sebagai hal yang sama. Bakat dan kemampuanmu yang sudah kau  kembangkan di dalam ujian bertujuan untuk hal yang seperti itu.

Dengan kata lain, Ibuki memiliki 'kemampuan untuk berbicara dengan orang lain' tapi sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk 'melakukannya dengan benar'

"Sampai saat ini, kau telah menonjokan khayalanmu ke berbagai orang yang kau temui, dan saat kau berhadapan langsung dengan mereka, kau akan merasa tertekan dan akibatnya kau tidak bisa berbicara dengan baik dengan mereka, bukankah begitu? " Aku memberi tahu Ibuki.

"Apa maksudnya? Jika seseorang memiliki kemampuan komunikasi yang tinggi yang bahkan tidak mereka sadari, tapi normalnya saat kau bertatap muka dengan seseorang, siapa pun akan merasa cemas, bukan?"

"Tentu saja, aku juga seperti itu, tapi bahkan cemas kepada para pedagang, hal itu telihat terlalu berlebihan. Misalnya, apa kau masih merasa cemas meskipun kau berbicara dengan petugas toko?"

"Hah?"

"Misalnya, bertemu petugas penjual secara langsung di toko yang biasanya kau kunjungi. Apa kau memiliki kartu poin? Apa kau suka yang hangat? Apa kau merasa cemas saat petugas mengatakan kata-kata itu? tentu saja tidak bukan?"

"Itu.... yah” gumam Ibuki.

Pada akhirnya, kau sadar akan hal yang sedang kau ajak bicara dan akhirnya menjadi cemas. 

Aku ingin tahu apa yang akan mereka pikirkan tentangku, aku ingin memikirkannya berkali-kali, aku ingin mereka menjadi orang yang baik.


Itu karena orang-orang berpikir hal seperti itu dan mereka mulai menjadi cemas.

Tapi Ibuki yang menyusup ke Kelas D pasti tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Dia pasti sibuk memainkan peran sebagai korban sehingga dia tidak punya waktu untuk sadar akan kenyataan bahwa dia ingin berbicara dengan orang lain.

Itu sebabnya bahkan tanpa perlu berpikir, dia bisa melakukannya. Itu dikarenakan dengan melepaskan perasaannya dan membiarkannya meluap seperti biasanya, dia akan mampu mengencamkan perbedaan pendapatnya kepada Kelas C.

"Karena kau mengatakannya sekarang, itu benar..." gumam Ibuki.

"Tidak bisa dipungkiri jika kau akan merasa cemas karena itu wajar jika mendapatkan kasan bahwa kau akan bertatap wajah satu lawan satu dengan peramal, tapi jangan terlalu memikirkanya. Itu akan membantu meringankan ketegangan, bukankah begitu?"

"... Aku mengerti, Hei, kenapa aku harus dinasehati olehmu tentang hal ini?"

Begitu Ibuki melihat bantuannya sendiri, dia memelototiku seolah dia akan melompat ke arahku.

"Setelah kau menjadi antisosial cukup lama, kau memperhatikan detail kecil seperti itu. Itu dimulai ketika kau mulai bertanya-tanya, kenapa kau tidak bisa berteman? dan seperti yang aku katakan sebelumnya, kau memikirkan perbedaan antara orang-orang yang akan membuatmu gugup dan orang-orang yang membuatmu tidak gugup Dan akhirnya kau berpikir darimana asal mereka dan kemana mereka akan pergi” kataku pada Ibuki.

"Menyeramkan... Kau  adalah tipe yang akan menjadi pembunuh massal di masa depan... apakah kau selalu seperti ini?"

"... yah, kadang-kadang seperti itu" jawabku.

Aku berpikir untuk menyampaikan ini sebagai cerminan di dalamku, tapi sepertinya sudah berubah drastis. Aku mungkin sudah memberinya kesan bahwa aku adalah orang yang gila.

"Aku akan kembali sekarang, bagaimana denganmu?" Aku bertanya pada Ibuki.

"Aku pikir aku akan kembali juga, sepertinya aku tidak bisa mendapatkan ramalan keberuntunganku sendiri. Meskipun aku cukup tertarik kepada Tenchuusatsu..."

"Tenchuusatsu?"

Aku menjawab tanpa memikirkan kata-kata yang tidak akan terdengar normal.

"Kau datang ke sini tanpa mengetahui hal seperti itu?" Ibuki menghela nafas.

Bahkan jika kau mengatakan itu, aku benar-benar seorang amatir tentang peramal. Aku baru saja datang ke sini dengan pikiran samar tentang ramalan keberuntunganku.

"Jika aku harus menjelaskannya dengan sederhana, ini adalah ramalan yang memberitahumu tentang; hari apa yang sial untukmu" kata Ibuki kepadaku.

Aku sudah mendengar bahwa dunia peramal itu sangat dalam, tapi aku tidak tahu jika tidak mustahil memberi tahukan nasib target tertentu. Dari sudut pandang pemula sepertiku, sesuatu seperti 'memakai warna merah' atau 'hati-hatilah kehilangan barang-barangmu bulan ini' adalah murni ramalan keberuntungan. Tapi dari apa yang Ibuki katakan padaku, sepertinya tidak terbatas hanya pada hal tersebut.

"Aku sangat berharap untuk itu. yang benar saja, Aku tidak pernah berpikir jika itu hanya untuk urusan percintaan" kata Ibuki sambil melihat antrian panjang dengan ekspresi cemas.

"Tapi melihat dari sudut pandang semua murid, menggunakan peramal untuk urusan cinta seperti itu bukan hal yang aneh, bukan? Tenchuusatsu ini? Pasti juga ada orang-orang yang tertarik sehingga datang ke sini"

"Meski begitu, mustahil dengan sekilas mereka menempatkan larangan untuk pasangan itu" kata Ibuki.

Dan dengan itu, tanpa menyisakan begitu banyak kata perpisahan, Ibuki pergi.


Setelah kembali ke kamarku, aku sedikit memeriksa Tenchuusatsu kembali. Dan ketika aku melakukannya, ternyata itu adalah sebuah subjek yang sangat dalam. Sepertinya sebelum tahun 1980, dengan publik yang menjadi lebih sadar akan keberadaannya, Tenchuusatsu bermandikan perhatian. Namun, seiring kepopulerannya, kebenarannya juga dipertanyakan.

Bahkan ada kasus di dalam berita bahwa peramal terkenal terpaksa pensiun setelah dia mengungkapkan cara kerja Tenchuusatsu. Aku tidak akan mengatakan bahwa peramal itu sendiri tidak ada gunanya, tapi terobsesi dengan hal itu, atau percaya terlalu banyak di dalamnya bisa menjadi masalah.


Tapi di sisi lain, orang-orang juga bisa mengatakan bahwa ramalan itu menarik karena mampu menarik perhatian banyak orang. Ini adalah topik yang mendominasi, dan bahkan saat ini, jika kau mendekatinya dari sudut pandang orang yang memiliki kepercayaan, itu tetap memiliki akurasi yang cukup banyak.


Mengetahui hal ini sekarang, aku merasakan bahwa rasa penasaran mulai membasahiku. Seperti yang diharapkan, aku tidak bisa hanya percaya sampai sejauh mana artikel-artikel yang aku temukan di internet ini menjelaskan kebenarannya.


Tidak mungkin melihat masa depan atau kebenaran seseorang melalui remalan. Itulah kenapa aku ingin mencoba ramalan keberuntunganku sekali lagi untuk melihat kebenarannya sehingga aku bisa menyimpulkan bahwa itu hanyalah perpanjangan dari cold reading.

"Aku bertanya-tanya apakah ini terbatas hanya untuk bulan ini" gumamku.

Ketika aku memeriksanya, sepertinya ketika liburan musim panas berakhir, peramal akan meninggalkan tempat ini dan masih belum diketahui kapan atau apakah dia akan kembali. Bergantung pada situasinya, mungkin saja tidak ada orang-orang yang berkepentingan dengan peramal akan mengunjungi sekolah ini lagi.

"Tapi, meskipun aku bilang begitu..."

Aku tidak punya seorang pun untuk diajak. Aku menyerah saat ini. Kemungkinan besar Horikita akan menolakku lagi dan sejak awal aku tidak memiliki keberanian untuk mengajak Kushida.

Aku yakin Sakura akan bersedia menemaniku, tapi jika aku membawanya ke tempat yang penuh pasangan, aku mungkin akan membuatnya merasa tidak nyaman. Selain itu Sudou atau Ike atau Yamauchi. Kelompok anak laki-laki itu. Tapi mereka mungkin tidak ingin menghabiskan sisa liburan musim panas yang berharga itu ke peramal bersama laki-laki lain.

"... sekakmat, huh?" Gumamku pada diriku sendiri.

Jawaban yang sederhana muncul. Dalam hubungan interpersonalku yang terbatas, tidak peduli sebetapa kerasnya aku berpikir, itu tidak mungkin. 
T/N: Interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih.

Sejak awal, aku tidak menyukai bahwa hanya pasangan yang bisa diramal. Kau hampir bisa mengatakan bahwa itu adalah jenis pemikiran yang sama dengan Ibuki. Bagi mereka yang benar-benar tertarik dengan peramal, itu akan menjadi penghalang yang besar. Dan begitu saja aku menghentikan penelusuran onlineku.


Keesokan harinya setelah aku menyerah, sangat aneh jika kakiku tertarik ke arah peramal. Mungkin itu karena aku ngangur setiap hari. Tidak ada alasan lain selain itu.

"Ahh"

Pertemuan lain yang aneh. Pada saat bersamaan dan di tempat yang sama, aku bertemu kembali dengan Ibuki.

"Kenapa kau datang lagi? ... dan juga sendirian" Ibuki bertanya.

Ibuki memeluk dirinya sendiri sambil menatapku dengan ekspresi jijik.

"Itu adalah batasanku juga. Aku akan mengembalikan pertanyaan itu kepadamu seperti apa yang terlihat”

"Kau bilang kau menyukai peramal, bukan? aku hanya berpikir mungkin kau akan mencoba keberuntunganmu bahkan jika kau sendirian. Itu saja"

Ini semacam negoisasi ulang, atau mungkin dia mengharapkan situasinya berubah. Atau semacam itu. Aku bertanya-tanya apakah Ibuki menyukai ramalan sebegitu banyaknya. Aku mulai merasa ingin tahu bagian mana dari peramal yang disukainya secara khusus.

"Ini adalah pertanyaan yang blak-blakan, tapi Ibuki, apa kau tipe orang yang percaya pada ramalan?"

"Apakah salah jika aku mempercayainya?"

"Tidak, aku tidak mengatakan itu ... tapi itu bukan sesuatu yang secara tiba-tiba bisa dipercaya, bukan?”

Bukan berarti semua orang mengerti bahwa ramalan itu adalah penerapan dari cold reading sama seperti yang Horikita katakan. Dengan kata lain, ada banyak orang yang percaya akan kekuatan misterius itu.

"Ini adalah sesuatu dimana orang-orang menjadi penasaran pada peramal setiap kali dipikirkan, tapi jika kau tidak bisa menyingkirkan pemikiran itu, lebih baik kau tidak tertarik sama sekali” Kata Ibuki

"Apa kau ingin mengatakan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan tidak punya hak untuk mendatangi peramal?" 

"Itu tidak benar ... izinkan aku mengatakan ini, bukan berarti aku percaya tanpa syarat kepada peramal. Hanya saja orang-orang yang ragu sejak awal tidak tahan dengan menerima apa saja dari sini"

"Orang-orang yang mengejek peramal penuh dengan penyangkalan. Banyak orang umumnya tidak percaya akan keberadaan tuhan ... Tapi ketika mereka dalam masalah, seringkali mereka berdoa kepada Tuhan” Ibuki melanjutkan.

Sebuah analogi yang bagus. Tuhan itu tidak ada, hantu itu tidak ada. Orang-orang yang sering membuat pernyataan seperti itu, berdoa kepada Tuhan. Mereka akan mengunjungi tempat suci pada Hari Tahun Baru dan berdoa untuk hidup sehat, bisnis dan pengabulan cinta. Bahkan jika kau membandingkan hal itu dengan ramalan, itu masih hal sama. Apa yang benar-benar kau percayai dan apa yang kau inginkan adalah hal yang berbeda. Tidak ada yang bisa menyangkalnya

Tapi, benar, jika aku memikirkan hal seperti itu, Aku memang bisa mengerti dari mana pemikiran Ibuki berasal. Tetapi ramalan dan percaya kepada tuhan umumnya masih berbeda. Itu karena peramalan dilakukan oleh manusia yang hidup sama sepertimu. Wajar jika bersikap ragu terhadap hal seperti itu.

"Apa kau mengerti?" dia bertanya padaku

"Ya, mudah dimengerti."

Tentu saja aku masih memiliki keraguanku, tapi aku mengerti maksud yang ingin dikatakan Ibuki. Dan dari situlah aku mengajukan saran kepadanya.

"Hei, ramalan ini membutuhkan pasangan tapi bukan berarti satu-satunya yang mereka kejar adalah urusan percintaan, bukan?" Tanyaku padanya

"Tentu saja iya"

"Kalau begitu, kenapa kita tidak mengabaikan siapa pasangan kita dan pergi ke peramal? Pada akhirnya kau dan aku benar-benar tertarik kepada ramalan. Bagaimanapun, jika ini adalah hubungan yang tidak akan bertahan lama, aku rasa tidak akan ada masalah”

Aku sendiri tidak merasakan apa pun selain emosi datar terhadap Ibuki. Aku tidak merasakan sesuatu yang sangat baik atau buruk terhadapnya, hampir seperti kesan pertama.

"Aku tidak keberatan ... Aku ingin keberuntunganku diramal juga, tapi apa kau tidak keberatan dengan itu?" Ibuki bertanya padaku.

"Horikita hanyalah temanku"

"Bukan itu yang aku maksud. Dari ujian di pulau, masih ada murid yang menyimpan dendam" katanya.

Sepertinya, dengan caranya sendiri, Ibuki menmperhatikanku. Jika aku terlihat bersama dengannya, teman sekelasku juga akan marah kepadaku dan sepertinya ibuki mengkhawatirkanku.

"Kurasa kau sama sekali tidak perlu khawatir tentang itu"

Dan saat aku menjawabnya seperti itu, Ibuki memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

"Aku tidak mengerti kenapa kau menjawab seperti itu"

"Jika ini adalah sekolah di mana semua orang bisa bersahabat, tindakanmu akan menjadi pelanggaran moral. Tapi sekolah ini hanya peduli tentang 'kemampuan' dan itu adalah segalanya, selain itu, ini adalah ujian di mana kelas saling bersaing satu sama lain. Tergantung situasinya, mungkin saja melakukan tindakan mata-mata atau sabotase. Apa aku salah? "

"Ada orang-orang yang tidak puas hanya dengan logika seperti itu, tidak seperti orang lain yang fleksibel seperti ini"

"Aku tidak berpikir seseorang yang seperti itu akan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk mendaftar di sekolah ini sejak awal"

Setelah memberikan pendapat jujurku, Ibuki menyilangkan tangannya dan terlihat memikirkannya.

"Tiba-tiba kau menjadi sombong"

"Aku hanya seorang murid yang gagal, aku tidak tertarik untuk bangkit atau jatuh, aku hanya menumpangi coattails seorang murid seperti Horikita dan menganggapnya sebagai keberuntungan"
T/N: Intinya sangat ketergantungan kepada orang lain. Coattails? Jas yang belakangnya lebih panjang dari yang di depan.

Dari sudut pandang seseorang yang hanya mencoba mengandalkan diri mereka sendiri seperti Ibuki, yang baru saja aku katakan akan menjadi cerita yang menggelikan. Tapi Ibuki tidak menertawakanku dan juga tidak mengejekku.

"Ini tidak biasa, sejak awal, setiap orang yang mendaftar di sekolah ini hanya mengincar hak istimewa saat mereka lulus, tidak ada yang mengira akan berakhir dengan kompetisi seperti ini. Jadi kebanyakan orang akan menganggap ini sulit"

Sepertinya murid Kelas C tidak begitu berbeda dengan Kelas D. Jika memang begitu, Ibuki yang menarik perhatian Ryuuen dan ditugaskan untuk melakukan mata-mata sejak awal pasti memiliki posisi yang cukup tinggi didalam tingkatan Kelas C.

Karena dia dibayar dengan mendapatkan perhatian dari lingkungannya, itu juga tidak biasa baginya untuk bertindak dipihak Ryuuen. Dia  mengatakan bahwa dia bersama Ryuuen karena kegagalannya, tapi sepertinya, dia yang bersamanya  juga karena Ryuuen mempercayainya. Dan dengan keyakinan kami berdua, kami berbaris di antrian.

Dan petugas perempuan yang pernah berbicara denganku kemarin datang lagi untuk memastikan bahwa kami memang pasangan dan menyerahkan kami sesuatu yang mungkin adalah tiket. Sepertinya ada 8 pasangan di depan kami yang harus kami tunggu.

"Sepertinya kita akan menunggu"

Jika hanya satu peramal yang tersedia per antrean, Bahkan jika ada sepuluh pasangan yang akan memaksa kami menunggu lebih dari satu jam, itu akan mejadi waktu yang lama untuk menunggu. Satu-satunya pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kami berdua akan bertahan lebih dari satu jam? Sepertinya aku tidak akan bisa melakukan pembicaraan selama itu.

"Ahh, jangan khawatir dengan keheningan, hubungan kita hanya demi ramalan sehingga kau tidak perlu berbicara tanpa tujuan denganku, benarkan?" Kata Ibuki

"Aku pikir begitu..."

Sepertinya dia sudah melihat ke dalam pikiranku. Itu menyelamatkanku dari masalah.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter