Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 4

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 4

Baca Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Volume 4.5  Chapter 4 


HARI TERBURUK DAN GADIS BERMASALAH, SENYUMAN IBLIS SEPERTI MALAIKAT

"Hari ini aku akan membuatmu bekerja sama denganku, Ayanokouji !!!"

"...Ada apa pagi-pagi seperti ini... kau cukup bersemangat, Yamauchi ...”

Setelah terbangun karena bel kamarku, aku menghela nafas saat melihat seorang tamu, Yamauchi.

"Aku akan mengganggumu!"

Dia menjadi cukup bersemangat. Sebuah keberuntungan dimana Ike dan Sudou juga tidak datang bersamanya, tapi apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?

"Apa, kau masih tidur? kau terlalu santai meskipun liburan musim panas akan berakhiri dalam beberapa hari lagi," kata Yamauchi.

Aku sedang bermalas-malasan karena tidak ada lagi hari yang tersisa.

"Aku sudah memutuskan bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa untukku dan karena itu, kumohon biarkan aku masuk."

Meski belum bisa memahami ceritanya dan masih mengantuk, aku mempersilahkan Yamauchi masuk. Lalu aku menyiapkan secangkir teh jelai untuknya.
(T/N: Jelai itu mirip kek gandum, tapi beda)

"Jadi... apa hubungannya antara aku dengan apa yang akan kau lakukan di hari istimewa ini?"

"Aku tidak akan membiarkanmu mengatakan bahwa kau sudah lupa, Ayanokouji! Aku punya hak mengetahui nomor kontak Sakura!"

Dia menangis sangat keras kepadaku. Matanya sedikit merah, mencerminkan keseriusannya.

"Aku mengerti.....”


Berkaitan dengan itu, karena aku yang salah, aku tidak bisa begitu saja menolak mendengarkan hanya karena hal itu menggangguku. Beberapa waktu yang lalu, dengan syarat bahwa aku akan memberitahunya nomor kontak Sakura, aku menyuruh Yamauchi bertingkah tidak berbeda dengan seorang badut. 

Sebagai hasilnya, penilaian Yamauchi dari Horikita secara khusus sudah menurun. Tentu saja, seharusnya aku memberitahu nomor kontak Sakura, namun karena itu adalah sesuatu yang aku lakukan tanpa persetujuannya, aku memprioritaskan untuk melindunginya dan bahkan sampai sekarang, aku masih belum memberi tahu Yamauchi tentang nomor kontak Sakura.

Pastinya aku harus membayar kembali bantuan itu.

"Aku pikir ini akan sedikit sulit jika kau datang untuk meminta nomor kontaknya..."

"Bukan, Aku sudah menyerah dengan itu."

Mengatakan itu, Yamauchi menunjukan sebuah surat putih yang dia pegang di tangannya.

"Aku sudah mencurahkan semua perasaanku untuk Sakura dalam satu lembar ini!" dia berkata.

"Mencurahkan ..... maksudmu ini surat cinta?"

"Itu benar! Di dalam ini aku sudah menulis tentang betapa aku mencintai Sakura! Bacalah."

Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan surat  yang sebelumnya ditutup dengan segel dan menunjukkannya kepadaku.

Untuk Sakura Airi-sama, aku sudah tertarik kepadamu sejak lama, kumohon jadilah pacarku!

"Ini surat cinta yang sedikit sederhana dan terlalu formal dari awal..."

Ke arahku yang ditunjukan, Yamauchi membuat ekspresi sombong di wajahnya.

"Biar aku kasih tau. Hanya menuliskan kalimat yang panjang secara otomatis akan sangat jelek."

Mungkin memang begitu, tapi hanya dengan sesedikit ini, tidak ada alur di penulisannya, Bukankah begitu? aku juga bisa membayangkan orang-orang akan menganggap ini tidak menyenangkan. Apalagi jika orang yang menerimanya adalah Sakura.

"Kenapa diprin bukannya tulis tangan?"

"Yah, aku tidak terlalu percaya diri dengan hal ini, tapi tulisan tanganku jelek. Aku mengeprinnya supaya lebih mudah dibaca. Aku sedikit khawatir jika dia mungkin akan salah membaca kalimatnya."

Dia kemudian menggaruk bagian bawah hidung menggunakan jari telunjuknya dengan ekspresi bangga, tapi menurutku itu tidak penting.

"Lagupula, Bukankah hari ini mereka juga menggunakan printer untuk resumanmu?"

"Jika kau sangat ingin menyampaikan perasaanmu kepada orang lain, aku pikir sebuah surat dengan tulisan tangan itu lebih baik dan kenapa kau menggunakan font ngerikan di tulisanmu?"

Iblis yang aneh! Rasanya seperti font itu bisa dipakai ke dalam judul yang akan digunakan untuk mengutuk seseorang.

"Bagaimana aku mengatakannya, bukankah itu ampuh? Seperti 'Aku akan selalu memikirkanmu selamanya' semacam sebuah perasaan"

"Aku pikir aku akan menyerah dengan ketidaksukaan saat ini... masalahnya ada di bagian terakhir ini"

Bagian yang ditulis darinya untuk menunjukkan sebuah daya tarik.

Jika kau mau pacaran denganku, aku siap untuk menyerahkan semua poinku kepadamu setiap bulan. Sebagai penghormatan!

"Tidak peduli bagaimana, Ini terlalu berlebihan."

"Apa maksudmu? Mereka bilang para perempuan yang imut suka ketika diberikan upeti, kau tahu? Selain itu, aku ingin pacaran dengan Sakura meski aku harus memberikan semua poinku. Aku sangat menyukainya, aku rasa gairah itu akan tersampaikan kepadanya" kata Yamauchi.

Aku tidak bisa menyangkal bahwa ini juga merupakan ekspresi dari cinta, tapi cara ini bisa dianggap bahwa dia akan membayarnya untuk menjadi pacarnya.

"Jangan khawatir. Aku tidak peduli bahkan jika dia hanya menginginkan uangku, aku hanya ingin menjadi kekasihnya.... apa itu salah?" Tanya Yamauchi.

Saat aku mengangguk sebagai tanggapan, Yamauchi, sambil menunjukkan ekspresi seolah dia tidak bisa memahaminya, terlihat menunjukkan sedikit pemahaman.

"... Aku hanya ingin memastikan satu hal, tapi apa kau serius ingin menembaknya?"

"Ya, mulai dari semester kedua aku akan memulai kehidupan sekolah impianku, aku akan bertaruh untuk semua ini. Aku sudah berkerja sama dengan Kikyo-chan untuk mengajak Sakura ketemuan"

Di matanya, tidak ada yang bisa diejek dan yang ada hanyalah sosok Yamauchi yang telah membulatkan tekadnya.  Setelah menyaksikan sesuatu seperti itu, aku bahkan tidak bisa meremehkannya.

Jika aku menghargai Sakura, aku harus menghentikannya, tapi rencana Yamauchi itu jujur, malahan aku harus memberinya bantuan.

"Jadi.... apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memastikan isi suratnya?"

"Itu benar, tapi ada satu lagi peran penting untukmu. Intinya, aku ingin kau mengantarkan surat ini kepada Sakura"

"Apa? Apa kau bilang?"

Untuk sesaat aku berpikir jika aku sudah salah dengar, jadi aku bertanya lagi.

"Seperti yang aku katakan, aku ingin kau memberikan surat itu menggantikanku. Aku merasa gugup dari pagi hari. Terakhir kali aku merasa gugup adalah saat aku berlomba di pertandingan terakhir di Stadion Sumo Nasional dan menang. Itu sebabnya aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk menyerahkannya dengan benar dan berbicara dengannya”

Aku ingin bertanya persis seperti apa pertandingan terakhir di Stadion Sumo Nasional yang sudah dia ikuti. Rincian kebohongannya yang seperti biasanya, tapi itu adalah pernyataan lemah yang tidak wajar dari Yamauchi yang selalu bersikap jujur ​​dalam hal percintaan karena dia terlihat sedang berada dalam ketegangan yang tinggi.

"Jika menurutmu isi surat itu jelek, aku akan menulis ulang dengan benar. Karena itulah... kumohon!"

Sambil mengangkat kedua tangannya, Yamauchi menurunkan kepalanya dan memohon kepadaku.

"Lalu, aku akan menganggap masa lalu hanyalah masa lalu, tidak, bahkan jika Ayanokouji mendapat masalah, aku akan bekerja sama denganmu!"

"... jika kau bersikeras, maka aku tidak keberatan menerimanya"

"Benarkah?"

"Tapi tidak ada yang tahu apa ini akan berhasil atau gagal, itu semua tergantung pada perasaan Sakura, apa kau mengerti itu?"

"Ya. Aku juga bukan orang yang idiot. Aku tahu peluangku tidak besar"

Dia mungkin sedang membawa kegelisahan yang besar di dalam dirinya, tapi sepertinya dia mengerti bahwa peluangnya untuk berhasil bahkan tidak sampai 50%.

Sebenarnya, ada bagian dari Sakura yang selalu menarik diri dari laki-laki. Mempertimbangkannya, kesempatan miliknya hampir bisa dikatakan sebagai keputusasaan. Tapi meski begitu, laki-laki ini datang dengan tekad bertarung sampai sekarang hingga mencapai tempat ini.

"... aku mengerti, aku akan menyampaikan perasaanmu. Apa itu sudah cukup?"

Jika seperti itu, tidak ada yang tidak adil atau curang.

"Ayanokouji ..... kau menyelamatkanku!"

Sambil menggenggam tanganku yang terulur, Yamauchi menunduk seperti sedang menyembah Tuhan.

Jika sudah sepakat, pertama-tama aku harus mengulas isi surat tersebut. Jika orang yang menerimanya adalah Sakura, pertama, harus lebih lembut dan ditulis dengan cara yang benar untuk menyampaikan perasaan. Jika tidak, tidak akan berpengaruh untuknya.

Yamauchi mempersiapkan tekadnya. Tapi serius, Sebenarnya ini masih terlalu cepat. Bagi mereka berdua yang bahkan belum saling bertukar nomor kontak mereka masing-masing, pengakuan hanyalah sebuah risiko. Jika dia ingin meningkatkan peluangnya untuk berhasil, dia harus benar-benar menyerang Sakura. Tapi, di rencana Yamauchi, asmara selalu menjadi sesuatu yang dimulai secara spontan dan ada banyak kasus di dunia percintaan yang dimulai dari nol.

"Langkah pertama...."

Seperti Yamauchi, pengalaman percintaanku juga nol, tapi paling tidak biarkan aku memikirkan sebuah kata-kata yang sesuai dengan itu.

"Oh, itu benar.  Biarkan aku menambahkan satu hal lagi. Jawaban atas pengakuanku, aku ingin dijawab di belakang gedung sekolah"

"Di belakang gedung sekolah? Ke arah gedung olah raga kedua?"

"Benar, benar. Ada sebuah rumor, kau tau. Jika kau mengaku di sana, semuanya akan berjalan dengan lancar"

Ini mungkin mirip dengan pengakuan yang melegenda di bawah pohon. Sepertinya rumor sudah beredar dari mana saja.

"Aku mengerti, jadi ini salah satu bagiannya, ya?"

"Tentu saja itu bukan sekedar rumor, jika itu pengakuan dari murid, sudah pasti akan terjadi di belakang gedung sekolah. Mereka menyebutnya sebagai peraturan"


Aku tidak bisa menemukan hubungan antara pengakuan dan belakang gedung sekolah, tapi aku bisa membayangkan situasi seperti apa yang dia sedang pikirkan.


Butuh sekitar 30 menit bagiku untuk melakukan kontak dengan targetku, Sakura. Perasaan apa yang akan dia reaksikan kepada ajakan Kushida? Itu adalah sesuatu yang hanya orang tersebut yang akan tahu, tapi yang pasti, dia tidak mungkin berada dalam keadaan yang tenang. Di sisi lain, aku sedang dalam mode siap di lokasi yang dijanjikan sebelumnya, menunggu kedatangan Sakura.

Seperti kata Yamauchi, aku tidak tega membuat Sakura tetap menunggu, tapi dia malah membuatku menunggu 30 menit lebih cepat. Ponsel yang sudah aku ubah ke mode diam di sakuku bergetar.

"Halo?"

"B-bagaimana? Apa kau sudah melihat Sakura?"

"Sama sekali tidak. Mungkin dia tidak akan berada di sini setidaknya sampai sekitar 10 menit sebelum waktunya, kan?"

"Aku mengerti, Kuu.... aku mulai gugup!"

Dari jarak yang sedikit jauh sambil melihat ke arahku, Yamauchi melambaikan tangannya. Meski dia tidak mau terlihat, sudah pasti dia menjadi penasaran dengan apa yang akan terjadi dan datang untuk menyaksikannya sendiri.

"Hei Yamauchi, apa kau tidak keberatan jika kau memberikanku peran untuk menyerahkannya? Aku benar-benar berpikir akan lebih baik jika kau sendiri yang memberikan ini kepadanya"

"Aku-tidak mungkin. Asal kau tau saja,  aku mengalami trauma sejak aku masih kecil dan setiap kali aku berada di bawah tekanan ekstrim, tanganku gemetaran"

Aku pikir sebagian besar orang mungkin akan gemetaran jika ditempatkan di bawah tekanan yang ekstrim....

"Aku mengerti keinginanmu untuk tidak mengacaukan ini, tapi kenapa kau tidak memikirkannya sekali lagi? Apa surat cinta yang disampaikan secara tidak langsung benar-benar memiliki sebuah arti?"

"Tidak, tapi bukankah ini cukup sering terjadi? Seorang gadis imut diminta ketemuan sepulang sekolah, tapi berbeda dengan ekspektasinya, dia akhirnya ditembak oleh laki-laki yang jelek. Pola semacam itu. Dalam kejadian ini, ini merupakan kebalikannya. Aku meminta Kushida untuk merahasiakan bahwa akulah yang memanggilnya ke sini. Dengan kata lain, jika dia menyadari bahwa Ayanokouji sedang menunggunya, dia akan kecewa. Tetapi jika dia menyadari bahwa sebenarnya aku yang sedang melakukan pengakuan, dengan membandingkan kita berdua, penilaianku darinya pasti akan menjadi lebih baik, sesuatu semacam itu. Karena itulah Ayanokouji, ketika kau menyerahkan surat itu kepadanya, jangan menyebutkan namaku. Lebih baik membiarkan dia berpikir bahwa dia sedang tembak oleh seseorang sepertimu sebagai gantinya." Yamauchi memberitahuku.

Dia berbicara tentang strategi dengan cerewetnya, tapi bukan berarti aku tidak keberatan karena dia sudah menjelek-jelekanku sepanjang waktu. Aku tidak berencana mengkritik tujuannya, tapi ini adalah fakta yang jelas bahwa jauh lebih baik jika mempertimbangkan perasaan Sakura juga.

"Tidak peduli seberapa besar perasaanmu disampaikan melalui surat ini. Sebuah pengakuan dari seseorang yang bahkan tidak bisa dia lihat mungkin akan menakutkan untuknya"

"I-itu ..."

Masih ada waktu. Aku mungkin bisa membuat dia mempertimbangkannya kembali. Sebuah pengakuan, pada dasarnya, adalah kejadian satu kali. Bahkan Yamauchi pun tidak mau melakukan dengan cara yang akan meninggalkan rasa penyesalan.

"Masih ada waktu, Aku pikir kau harus mempertimbangkannya kembali. Itulah kenapa kau membuat sebuah surat, bukan?"

"Itu benar tapi ... uuuu --- aku bertanya-tannya, apa aku harus mengaku secara pribadi ....."

Akhirnya, bahkan di dalam diri Yamauchi, satu kesimpulan sepertinya sudah terbentuk.

"... Ayanokouji-kun?"

Untuk sesaat, aku pikir aku sudah mendengar langkah kaki samar dari belakangku dan sebuah suara sepertinya sedang memanggilku.

"Sakura di sini! Aku akan menyerahkan sisanya kepadamu!"

Sepertinya Yamauchi sudah mencoba membangkitkan keberanian, tapi sejak Sakura tiba lebih cepat dari yang diperkirakan, dia menjadi panik dan menutup teleponnya. Sedangkan aku, karena aku sudah melakukan kontak dengan Sakura, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Yang tersisa hanyalah menyerahkan surat yang dipercayakan Yamauchi kepadaku.

"Ini sebuah kebetulan, bukan?"

"Ahh, tidak, kau diminta ke sini oleh Kushida, kan?"

"Y-Ya, dia bilang dia ingin berbicara denganku tentang sesuatu ... dia bilang itu sesuatu yang penting"

Aku melihat ke sekeliling, tapi jelas, tidak ada orang yang lain kecuali aku.

"Sebenarnya, aku meminta bantuan Kushida dan meminta dia menyuruhmu ke sini".

Sebenarnya, itu bukan aku, tapi mau bagaimana lagi. Meski itu membingungkannya di sini.

"Ayanokouji-kun yang melakukannya? A-aku mengerti. Itu melegakan, biasanya aku tidak banyak berbicara dengan Kushida-san jadi aku takut melakukan sesuatu untuk membuatnya marah"


Dia menepuk dadanya lega. Sepertinya Sakura yang janjian Kushida tidak lagi merasa tidak nyaman. Melihat Sakura, aku memutuskan untuk menghadapinya dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"Meski begitu, kau datang terlalu cepat, masih ada sekitar 30 menit sampai waktu yang dijanjikan"

"Itu ... aku merasa cemas, jadi aku hari ke sini lebih cepat"

Masih bingung, dia menjelaskan hal itu kepadaku.

"Tapi aku mengerti, itu adalah Ayanokouji-kun, orang yang ingin menemuiku, aku sangat lega"

Saat dia menepuk dadanya setelah merasa lega dari lubuk hatinya, kegugupan yang dirasakan sebelumnya terurai dan ekspresinya kembali tenang seperti biasanya.

"Tapi kenapa? Jika kau membutuhkanku, kau bisa saja memintaku menemuimu langsung"

"Ahh, tidak, itu sedikit, ada sedikit situasi rumit yang terjadi"

"Situasi yang rumit?"

Bagaimana aku menjelaskan hal ini? Dalam masalah ini, aku juga merasa sedikit bingung. Secara biologis, aku sudah banyak mempelajari perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara akademis, namun ketika menerapkan pengetahuan itu dalam kenyataan seperti ini, aku belum pernah mempelajari strategi apa pun. Dan di sini masalahnya bukan hanya perbedaan antara jenis kelamin kita tapi aku juga membutuhkan faktor dari kepribadian dan perasaan individu milik Sakura juga.

Ini adalah kerumitan dan keanehan dari masyarakat yang dibangun oleh kecerdasan manusia.

Waktu telah berlalu saat aku mempertimbangkannya. Semakin lama keheningan terjadi, semakin kehati-hatian dia bangkit.

"Masalahnya adalah ... aku menyuruh Kushida memanggilmu karena aku ingin menyerahkan ini kepadamu"

Surat yang Yamauchi percayakan kepadaku, aku memberikannya kepada Sakura.

"Ini...?"

"Aku ingin kau menerimanya tanpa banyak bertanya. Jika kau membaca isinya, aku yakin kau akan mengerti" kataku pada Sakura.

Jika si pengirim sendiri yang menjelaskannya, makna dibalik surat tersebut akan berkurang. Aku menyerahkannya seperti itu.

"B-baiklah"

Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah dan karenanya aku mengalihkan pandanganku.

Di sisi lain Sakura terus melihat bolak-balik antara aku dan surat untuk mencoba memahami situasinya.

"S... urat .... di belakang gedung sekolah .... laki-laki ......"

Sakura yang menerima surat itu, sambil menatap ke suatu tempat yang jauh, dengan lemah membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri. Woah, tapi seperti yang baru saja aku katakan, itu bisa berarti bahwa akulah yang menulis surat itu.

Ini gawat.

"Surat ini dipercayakan kepadaku dari seorang laki-laki yang sedang bersembunyi. Pengirim mengatakan bahwa kau akan mengerti jika kau membacanya. Mungkin tulisannya jelek, tapi sepertinya dia memberikan semuanya untuk menulis surat ini"

Aku langsung meluruskan untuk memastikan bahwa tidak akan ada sebuah kesalahpahaman.

"A, Awawa ..... ini ... awawawa !?"

Mungkin ini adalah surat pengakuan dari seorang anak laki-laki, prediksi seperti itu sudah tumbuh di dalam Sakura. Dia sudah kehilangan ketenangannya dan tatapannya terlihat mulai membayangkan ke hari lusa nanti. Bahkan jika dia membuka surat itu dan membacanya di sini, reaksinya akan menjadi masalah untukku jadi lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan lokasi ini.

"Dan dengan begitu aku sudah menyerahkannya. Yang tersisa adalah agar kau bisa mengambil keputusan dengan benar. Jika kau merasa sulit untuk memberikan jawaban secara langsung, Kau bisa mengirimkannya melalui chat atau melalui telepon. Itu tidak masalah. "Kataku padanya.

Dalam masalah Sakura, ada kemungkinan dia tidak bisa mengatakan 'Ya' atau 'Tidak'. Seharusnya aku akan membantunya.

"Ko, kokoko, kokoko"

"Apa kau ini ayam?"

"T-tidak, bukan begitu. I-ini adalah orang yang menyu....."

"Benar, ini adalah surat cinta," kataku.

"Kyuuuu !?"


"Woah"

Dengan cepat aku bergerak untuk menopang perempuan yang dengan cepat terjatuh ke belakang.

"Apa kau baik-baik saja?"

Hanya dengan menyentuh punggungnya dengan tanganku, aku bisa memastikan tubuhnya sedang terbakar. Ini pasti sangat mengejutkan. lagipula, dia mungkin mencoba untuk mencari tahu siapa pengirim surat itu di kepalanya.

"Umm, umm umm!"

Tiba-tiba membuka matanya, dia menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Setelah aku memastikan bahwa dia sekarang berdiri di atas kakinya sendiri, aku melepaskan tanganku dari punggungnya.

"Horikita .....-san, apa menurutmu dia akan marah !?" Tanya Sakura.

"Hmm? Horikita?"

Tidak ada alasan kenapa dia harus marah. Jika dia kebetulan melihatku mengantarkan surat itu ke tempat Yamauchi, dia mungkin akan dengan putus asa mengeluh saat mengatakan sesuatu seperti, "Kau membuat dirimu terlibat dalam sesuatu yang tidak berguna lagi. Haa~"

Paling tidak itu bukan sesuatu yang akan membuatnya marah.

Aku berpikir bahwa dia salah mengira jika akulah yang mengaku, tapi ketika aku menyerahkan surat itu, aku benar-benar mengatakan "Aku dipercayakan oleh seorang laki-laki yang sedang bersembunyi". Dia seharusnya tidak salah paham denganku.

"U, uwa ..... uwa ....."

Tapi wajah Sakura menjadi lebih merah dan merah dan dari kegugupan, sepertinya dia akan pingsan. Hanya saja, aku tidak berpikir jika ini adalah reaksi ketika sudah menerima surat itu.

Ini terasa seperti situasi dimana laki-laki yang menyerahkan surat pengakuan itu ada tepat di depan matanya.....

Jika memang seperti itu, terlepas dari pengakuannya, tidak akan aneh jika Sakura menjadi panik. Bahkan aku bisa menimbulkan kepanikan jika berada di situasi seperti itu. Kalau memang begitu, sekarang aku juga bisa mengerti alasan kenapa nama Horikita disebutkan.

"Sakura, aku akan menjelaskan tentang diriku..... surat itu dipercayakan kepadaku oleh orang lain, apa kau bisa mengerti?"

Setelah aku mengatakannya sekali lagi, bahu Sakura bergetar.

"Ehh --- ahh, ini bukan dari Ayanokouji-kun ....?"

"Aku sudah bilang seperti itu tadi, kan? Aku baru saja disuruh untuk mengirimkannya"

"..... Aku mengerti. Tentu saja seperti itu. Tidak mungkin ada yang seperti itu, mungkin.... tt-tapi, apa yang harus aku lakukan dengan ini !?"


"Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali membacanya dan memberikan jawabanmu"

Aku mencoba untuk pergi karena aku hanyalah sebuah perantara, tapi aku ditarik oleh belenggu di pakaianku.

"Ehh ---! Tidak mungkin! Tidak mungkin! aku tidak bisa melakukannya ..."

"Apa kau pernah mengaku sebelumnya?"

"Tidak pernah!"

Sakura menjawabku dengan cepat seperti itu. Sepertinya dia akan ditembak berkali-kai mengingat bahwa dia ini imut, tapi itu hanya karena aku berpendapat seperti itu kepada Sakura saat ini. Ceritanya mungkin akan berbeda dengan Sakura yang sebelumnya.

"Surat ini ..... apa kau ingin membacanya, bersama denganku .....?"

Bersama-sama... Sejak awal isinya ditulis sesuai dengan pengarahanku. Jika Sakura tidak memiliki keberanian yang dibutuhkan untuk membacanya seorang diri, bukan berarti aku tidak bisa bekerja sama dengan dia tapi....

Pemandangan seperti ini, Yamauchi mungkin tidak menginginkan hal seperti itu.

"Untuk saat ini, Bukankah setidaknya kau langsung membaca suratnya saja? Itu juga adalah tanggung jawabaku yang suratnya dipercayakan. Itu mungkin akan menjadi beban untukmu, tapi tolong mengertilah"

"Baiklah....."

Karena Sakura sama sekali tidak senang dengan ini, aku memutuskan untuk menindaklanjutinya sedikit.

"Ada juga kemungkinan jika itu berasal dari seseorang yang kau sukai" kataku kepadanya.

"Kemungkinan itu sudah tidak ada lagi ......"

"Hmm?"

"Ahh, um, itu karena aku tidak punya seseorang yang aku suka. Aku-aku akan coba membacanya!"

Mengangguk, Sakura sedikit menyesuaikan pandangannya, menurunkan kepalanya, dan kembali ke asrama. Dia mungkin akan kembali ke kamarnya untuk membaca surat yang ditulis Yamauchi.

"B-bagaimana hasilnya!? Bagaimana perasaannya! Apa dia terlihat bahagia !?"

Setelah dipastikan dari kejauhan bahwa Sakura sudah kembali ke asrama dengan surat di tangan, Yamauchi bergegas dan bertanya hal itu kepadaku dengan gugup. Aku mengerti keinginannya untuk menanyakan berbagai hal, tapi kalau memang seperti itu, seharusnya dia yang menyerahkannya sendiri sejak awal.

"Dia belum membaca suratnya, keputusannya akan datang dimulai dari sekarang, aku pikir"

"K-keputusan? jangan memakai kata-kata yang menakutkan. Aku percaya itu akan baik-baik saja!"

"Aku akan bertanya untuk berjaga-jaga, tapi apa dasar dari alasanmu itu?"

"Itu, dilihat dari sikapnya saat dia berbicara denganku, kurasa"

"Sikapnya?"

"Bagaimana aku mengatakannya, dia yang malu-malu kucing mengalihkan pandangannya, bukankah itu karena dia sadar bahwa dia tidak mampu melihat langsung ke arahku?"

Tidak ..... aku pikir itu karena Sakura payah jika berurusan dengan orang-orang secara langsung.

“Bukan hanya itu. Kapanpun dia berbicara denganku, setelah itu dia selalu sedikit mendesah, bukankah itu yang kau sebut dengan desahan cinta? Bukankah itu yang terjadi? Memikirkan seseorang yang kau cintai dan melakukann ‘Haa ~’ desahan. Aku bisa merasakan pertanda yang seperti itu" kata Yamauchi.

Aku pikir itu mungkin saja, karena dia menjadi lelah setelah berurusan dengan seseorang seperti Yamauchi yang berbicara dengannya menggunakan ketegangan tinggi .....

Tapi yang jelas, ketika menyangkut seseorang yang kau sukai, mereka akan buta terhadap sesuatu yang seperti itu.


---


Tengah malam, sementara sedang sedikit khawatir dengan tanggapan Sakura besok, aku membuat persiapan untuk tidur. Ponselku bergetar satu kali.

"Apa kau masih bangun?"

Kalimat singkat dan sederhana. Itu dari Sakura. Aku menatap layar ponselku untuk beberapa saat tanpa menyentuhnya, tapi kelanjutan kalimat itu sepertinya tidak akan datang. Dia mungkin mengira jika aku sudah tertidur dan sedang mempertimbangkannya. Aku membuka layar obrolan dan menandainya sebagai pesan yang sudah dibaca. Dan ketika aku melakukannya, pesan singkat lainnya dikirim.

"Apa aku membangunkanmu .....?"

"Maaf, Aku mencuci pakaianku. Jangan khawatir"

Aku menjawab dengan kebohongan kecil seperti itu. Seperti yang aku lakukan, mungkin dia merasa lega, karena kalimat berikutnya sedikit lebih panjang.

"Besok jam 5 pagi aku harus bertemu dengan Yamauchi-kun... apa aku bisa menemuimu sebelum itu .....?"

Pesan seperti itu masuk. Aku bisa saja menolak, tapi untuk Sakura, tidak ada orang lain yang bisa diandalkannya.

"Di mana kau akan bertemu dengannya?"

"Di tempat yang sama di belakang gedung sekolah seperti kemarin"

Aku memang sudah tahu, tapi pada dasarnya aku sedang mengkonfirmasikan hal itu sekali lagi ketika aku berjanji untuk bertemu dengan Sakura. Karena aku tidak ingin merepotkan Sakura, aku memutuskan untuk menemuinya di tempat yang sama di belakang gedung sekolah itu.

Sekarang, waktunya tidur. Dengan cepat menyelesaikan tugas-tugas yang tersisa, aku mematikan daya dan meletakkannya.

Dan, ponselku bergetar lagi.

"Umm ... maaf sudah mengganggumu berkali-kali, apa tidak masalah kalau aku meneleponmu?"

Kecemasan yang disalurkan untukku melalui pesan. Lebih baik kalau aku tidak pergi tidur dan membiarkan Sakura begitu saja. Dan saat aku meneleponnya, Sakura menjawab dengan suara rendah.

"Kau tidak bisa tidur?"

"Iya ..... memikirkan hari esok, Aku baru saja merasa gugup ..... haaaaa"

Itu adalah desahan yang menyedihkan. Kecemasannya juga ditularkan melalui telepon. Dia mungkin sedang memikirkan jawaban atas pengakuan itu.

"Aku - aku tidak tahu apa-apa tentang Yamauchi-kun ..... dan itu sedikit menakutkan ....."

"Aku mengerti....."

"Menyukai seseorang atau membenci seseorang, aku baru sadar jika itu datang membawa tanggung jawab yang besar"

Bagi Sakura yang belum terlalu memperhatikan jarak di antara dia dan sekitarnya sampai sekarang, kejadian ini pasti merupakan stimulus yang terlalu banyak. Tapi sejauh mana orang luar bisa ikut campur dan membantu itu sendiri terbatas.
T/N: Stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu.

Orang yang memutuskan segalanya adalah Sakura dan yang menerimanya adalah Yamauchi. Pola seperti ini saja tidak bisa dibantah. Itu adalah sesuatu yang bahkan seorang pemula dalam percintaan seperti aku mampu mengerti. Aku tidak punya hak menyuruh Sakura untuk menolaknya atau menerima dia. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam mendengarkan apa yang dia katakan.

"Yamauchi-kun tidak melakukan sebuah kesalahan, tapi aku hanya... berpikir aku tidak menginginkannya. Tapi aku juga merasa tidak enak dengannya yang menyukai seseorang sepertiku ....."

Aku sangat menyadari bahwa cinta itu sudah pasti adalah sesuatu yang rumit.

"..... ketika Aku terus berpikir, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ....."

Itu bisa dimaklumi, meski melalui telepon aku bisa mengerti bagaimana dia yang selalu merasa bingung.

"Kenapa aku..... aku berpikir kenapa aku harus menderita seperti ini, aku akhirnya memikirkannya"

Daripada merasa bahagia, sebaliknya, sepertinya dia tidak menyukai atau setidaknya terganggu olehnya.

"Ayanokouji-kun, kau, umm ..... ahh, kau mungkin mendengar sesuatu yang tidak penting tapi ...."

"Tanyakan aku apa saja. kalau itu adalah sesuatu yang bisa aku jawab, aku akan menjawabnya" Kataku

"Umm ..... sekarang, apa kau sedang pacaran dengan seseorang ..... seperti itu?"

Untuk beberapa alasan dia bertanya kepadaku hal itu dengan nada formal.

"Tidak, sama sekali tidak. Saat ini dan tentu saja, sampai sekarang juga"

"B-Benarkah!?"

"Jika kau terdengar sangat bahagia, itu membuatku merasa jika kau ini Blak-blakan”

Hal itu sangat menyakitkan saat dia merasa sangat senang dengan orang yang jones.

"Waahh .... tidak, aku tidak bermaksud mengejekmu! Aku hanya senang, karena kau sama sepertiku"

"Aku cuma bercanda" kataku padanya.

"Mou .....!"

Itu hanya lawakan ringan, tapi sepertinya itu sudah mengacaukan hati Sakura yang mengeras.

"Kalau begitu umm, apa kau pernah ditembak oleh seseorang, atau mengaku kepada seseorang, sesuatu seperti itu?"

Dia terlihat akan sedikit mengatasinya. Tapi aku tidak punya apa pun untuk disembunyikan jadi tidak masalah.

"Sama sepertimu. Pengalaman ditembakku 0"

Tapi dalam kasus Sakura, ini akan menjadi pertama kalinya.

"Jadi seperti itu!"

Dia terdengar senang lagi. Dan begitulah, Sakura dan aku berbicara tanpa tujuan tentang topik acak dengan penuh semangat untuk sementara waktu. Setelah beberapa saat, aku merasa Sakura mengantuk dan mengakhiri teleponnya. Kuharap dia perlahan tertidur begitu saja. Berpikir seperti itu, aku juga memutuskan untuk tidur.

----

Waktu yang dijanjikan adalah jam 4 sore, tapi 10 menit sebelum itu Sakura sudah menunggu dengan ekspresi rumit di wajahnya. Dia mungkin sedang memikirkan banyak hal di kepalanya, ekspresinya berubah setiap detiknya. Wajah yang pucat, wajah yang gugup, wajah yang cemas. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan jauh di dalam hatinya.

"Apa aku membuatmu menunggu?"

"Ahh"

Saat aku memanggilnya, Sakura perlahan mengangkat kepalanya dan dengan ragu mendekatiku.

Akan lebih baik lagi jika dengan memanggilnya, aku bisa mengurangi beban Sakura sedikit.

"Terima kasih, Ayanokouji-kun ... kerena sudah datang ke sini"

"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Jadi, apa masalahnya?"

"Yah ..... itu, tentang surat yang kau serahkan kepadaku kemarin ....."

"Apa ada sesuatu terjadi?"

Menemuiku oleh seseorang yang akan bertemu dengan Yamauchi, itu artinya ada sesuatu yang dipikirkannya. Tapi mungkin masih ada beberapa perlawanan yang tersisa dalam dirinya untuk membicarakan hal tersebut karena kata-katanya terlihat terbata-bata.

"Jangan diam---"

Aku mencoba untuk menyela dengan mengatakan hal itu, tapi seperti yang aku lakukan, aku bisa melihat beberapa sosok yang datang ke lorong. Dilihat dari penampilannya yang memakai jersey, bisa dikaitkan dengan aktivitas klub.

"Maaf tapi bisakah kita berjalan-jalan sedikit?"

"Ehh? Ahh, baiklah"

Tidak ada gunanya sekarang jika dilihat oleh seseorang. Kami berjalan menuju bagian belakang gedung sekolah tempat pohon tumbuh untuk menghindari tatapan orang lain. Tempat seperti itu yang biasanya tidak dikunjungi orang-orang hanya akan menimbulkan sedikit risiko dilihat oleh mata, tapi tempat ini sepertinya dirawat dengan hati-hati.

Akan merepotkan jika kami bertemu dengan Yamauchi jika dia kebetulan datang di tempat pertemuan lebih awal, sebaiknya aku menyelesaikan ini dengan cepat. Seperti yang aku pikirkan, Sakura yang cukup misterius ketika membungkukan lehernya, membentangkan tangan kanannya saat ia melihat ke arah langit.

"Apa yang salah---?"

Ketika aku hampir mengajukan pertanyaan itu, aku menyadari alasan di balik tindakan misterius Sakura.

"Hujan, ini hujan"

Kupikir langit masih cerah, tapi tiba-tiba hujan mulai turun dengan lebat.

Tentu saja hal itu hanya sementara, tapi hujan ini jauh lebih hebat dari yang aku pikirkan dan membasahi pakaian kami.

"Sial, cepat kembali ke lorong sekarang!"

Meraih tangan Sakura yang mengangguk, aku kembali menyusuri jalan kecil yang kami tempuh. Kami terpapar hujan kurang dari satu menit tapi karena hujan turun sangat deras, sepertinya pakaian Sakura menyadi basah kuyup. Aku bahkan bisa melihat rambutnya yang sangat basah.

"Sial ... apa kau baik-baik saja, Sakura?"

"Aku-aku baik-baik saja, bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun?"

"Aku juga baik-baik saja"

Aku mendesah sedikit sambil mengamati hujan yang menjadi lebih deras. Waktu yang salah untuk hujan turun.

"Silakan gunakan ini kalau kau mau"

Dengan ragu, Sakura menyerahkan sebuah saputangan kepadaku. Aku ingat tentang saputangan itu. Itu sama seperti yang dipinjamkan ketika di pulau tak berpenghuni.

"Aku baik-baik saja. Gunakan itu untukmu sendiri. Kau akan terserang flu" kataku padanya.

Aku tidak bisa menjadi yang pertama mengeringkan diriku, Tidak pada saat seorang gadis basah kuyup ada di depanku. Tapi meski begitu, Sakura berjinjit dan menggunakan saputangan itu untuk menyeka tetesan air hujan dari rambutku yang basah kuyup. Dibawa oleh bau hujan, aku bisa mencium aroma Sakura yang menggelitik hidungku.

"Aku ini kuat” katanya sambil menghapus tetesan air hujan dari rambutku, lalu ke leherku.

".........."

Aku melirik Sakura sekilas yang berdiri di sampingku diam-diam. Entah bagaimana aku bisa mengerti apa yang sedang diincar oleh Yamauchi sekarang. Aku bisa merasakannya. Saat ini, di tengah liburan musim panas dan kami berdua mengenakan pakaian santai kami, tapi jika seandainya ini adalah seragam sekolah, mungkin ini  akan menjadi situasi yang sangat bagus. Kejadian turunnya hujan memang sedang terjadi, tapi ini juga bisa dianggap sebagai pengalaman.

Tiba-tiba hujan turun. Kami berdua panik dan berlari menuju atap untuk berteduh. Dan tanpa henti ... kami akan bicara pelan-pelan, tapi kami pasti akan kehabisan topik. Garis pandang kami saling terikat dan kami bisa saling mendengar menghembuskan nafas masing-masing. (T/N: Intinya mau ciuman :v) Ini semacam adegan laki-laki yang sedang berkhayal.

Tapi untuk beberapa alasan, di dalam kepalaku, untuk sesaat aku bisa membayangkannya. Apa yang Yamauchi inginkan. Ini mungkin perasaan yang serupa dengan itu.

"Aku penasaran, apa hujannya akan segera berhenti ...?"

"Aku sedang mencari tau di ponselku sekarang, tapi sepertinya ini cuma hujan yang lewat. Jika kita menunggu sebentar lagi, sepertinya akan berhenti"

"Aku mengerti..."

"Ahh, maaf, walaupun ada hal penting yang harus dilakukan setelah ini, pada akhirnya aku membiarkanmu basah"

"Tidak, jangan khawatir. Itu sama sekali tidak penting" jawab Sakura.

Sakura bilang bahwa itu tidak penting. Dengan kata lain itu berarti ---

"Aku ... tidak tau apa yang harus aku lakukan ....."

"Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menjawab sesuai dengan apa yang kau rasakan. Terima, tolak, atau berteman dulu"

Langkah yang tepat tergantung kepada individu. Aku tidak akan mengatakan apapun yang tidak perlu.

"Tentu saja kau selalu bisa menunda jawabanmu dan jika terlalu memalukan, aku bisa menyampaikannya kepada Yamauchi sebagai gantinya"

Yamauchi pasti tidak akan menginginkan sesuatu yang seperti itu, tapi jika Sakura menginginkannya, aku tidak punya pilihan selain memenuhi keinginan tersebut.

"..... tidak, aku akan mengatakannya sendiri.... aku mungkin harus memberitahunya"

"Aku pikir kau benar, ini juga demi Yamauchi."

"Ya, aku mengerti ..... aku akan menolaknya".

Sebelum memberikan Yamauchi jawabannya, dia membiarkanku mendengar jawaban itu duluan.

"Aku mengerti"

Aku memang mengerti bahwa hampir 100% kemungkinan akan menjadi seperti itu dilihat dari arus pembicaraan sampai saat ini. Tapi sangat penting jika Sakura harus mengatakan itu dari mulutnya sendiri.

"Ahh ---, uuu ---, umm, aku tidak berpikir bahwa aku punya hak untuk menolak perasaan orang lain. Aku pikir itu mungkin terlalu lancang dariku ... tapi ...."

Untuk beberapa alasan, untuk memberikan penolakan, Sakura terlihat sudah diserang oleh rasa bersalah yang kuat.

"Tidak perlu meminta maaf. Pada dasarnya, ini hanyalah perasaan sepihak dari sisi si pengaku. Menerima itu hanya karena kau juga menyukai mereka. Jika tidak, bukan hal yang aneh bila ditolak. Mereka tidak memiliki hak seperti itu "kataku padanya.

Merasa seperti aku tidak ingin dia salah paham, aku dengan tegas mengatakan itu kepadanya. Aku pikir hujan seharusnya akan berhenti, tapi tidak ada yang tahu kapan Yamauchi akan muncul.

"Sebaiknya aku pergi, bukan? Aku akan pergi sekarang"

Hujan masih sedikit deras, tapi aku membuat langkah pergi.

"T-Tidak! Jika Ayanokouji-kun tidak lagi di sini, aku tidak akan bisa berbicara lagi, itu sebabnya ... ku mohon ..."

Dia meraih lengan bajuku. Dan mencengkeramnya erat-erat.

"Ku mohon ... jangan tinggalkan aku sendirian"

"Jika itu yang kau inginkan"

Menjawab dengan cepat seperti itu, aku memutuskan untuk tetap berada di bawah atap sekali lagi. Lagipula, Sakura sudah membantuku dengan berbagai cara. Sekitar 15 menit kemudian, Yamauchi datang. Tapi meski begitu, itu sedikit lebih cepat. Ekspresinya lebih kaku sehingga aku merasa pernah melihat itu sebelumnya.

"K-kenapa kau di sini, Ayanokouji?".

"Maaf, Sakura bilang dia tidak punya keberanian untuk bertemu hanya dengan kalian berdua jadi aku diminta untuk berada di sini, tolong jangan pedulikan aku"

Mengatakan hal seperti itu sudah pasti tidak akan membuatnya merasa nyaman, tapi Yamauchi tidak punya pilihan lain selain menerimanya.

Sejenak aku berpikir ada yang mencurigakan, tapi Yamauchi dengan putus asa berusaha memusatkan perhatian kepada Sakura di depan matanya.

"Maaf karena membuatmu menunggu. Kau membaca suratku?"

"Ya ..... umm ...... Tolong beritahu aku satu hal."

"Kau bisa bertanya apa saja ....."

Sakura mengencangkan cengkeraman di roknya dan meremas suara dari dalam tenggorokannya.

"K-kenapa kau menyukai ... ku? Ada banyak orang yang lebih cantik dariku ......".

"Aku lebih menyukai Sakura!"

Begitu saja, dia berteriak. Bahu Sakura naik saat ia tersentak.

"M-maaf. Aku tidak bermaksud menggunakan suara yang keras ..... j-jadi apa jawabanmu?"

Sebuah jawaban canggung atas pengakuan yang canggung.

Karena kebetulan aku mendengarkan masalah orang lain, aku akhirnya berpikir bahwa mereka harus mengatakan ini dan itu untuk membuat Sakura menjadi lebih baik. Tapi untuk pria itu sendiri, dia cukup gugup membuat hatinya akan melompat keluar dari mulutnya sehingga dia tidak berada dalam posisi yang tepat untuk berpikir dengan benar. Tidak peduli bagaimana, dia tidak bisa memilih pilihan yang terbaik.

"Aku..... aku minta maaf!"

Sambil berdiri di depan Yamauchi dengan sedikit memerah, Sakura membungkuk dalam-dalam sambil mengatakan itu.

Pada saat itu, cahaya harapan terakhir yang membara di dalam tubuh Yamauchi hancur dan berjauhan.

"Aku-aku, untuk perasaanmu, umm, tidak bisa menbalasnya"

Seberapa banyak keberanian yang dibutuhkan oleh Sakura agar bisa mengungkapkan kata itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat di depanku, menyaksikan dengan aneh dari dekat, sebuah bentuk 'asmara'. Tentu saja Yamauchi juga tidak ingin dicampakan di tempat dengan hadiah sebuah pihak ketiga. Meski tidak ada yang bisa dilakukan, tidak salah lagi jika aku sudah membuatnya merasakan emosi yang rumit.

"Aku mengerti....."

Setelah mengerti, Yamauchi terlihat putus asa berusaha menelan situasi bulat-bulat. Sama seperti Sakura, suaranya sedikit gemetaran, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk menertawakan sosok itu.

"Terima kasih, Sakura, karena sudah datang jauh-jauh ke sini"

"S-selamat tinggal ......!"

Tidak lagi mampu menahan suasana yang berat dari tempat ini, Sakura menundukkan kepala sangat dalam di hadapan Yamauchi dan bergegas pergi.

"Ahh ......."


Lengan Yamauchi yang tak berdaya tidak sampai kepada Sakura. Aku tidak bisa berbuat apa pun  selain berdiam diri seolah pertama kalinya melihat romantisa. Yamauchi mencoba menahan kekecewaannya untuk sementara waktu, tapi akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku.

Aku ingin tahu apa dia akan memberikan cacian ke arahku yang sudah mengganggu pengakuannya seperti serangga pengganggu atau mungkin dia akan mengeluarkan sangat banyak kemarahan? Bagaimanapun, dia terlihat bersiap untuk melepaskan ketidakpuasan dan ketidakbahagiaannya. Tapi---

"Hah, ini memalukan, dicampakkan di depan seorang teman, wajahku baru saja akan terbakar"

Dan tanpa menyalahkanku sama sekali, dia mengatakan itu. Di wajahnya, syok karena sudah dicampakan terlihat, tapi ternyata belum semuanya.

"Ya, bagaimana caraku mengatakannya, umm ..... aku merasa lega, kupikir"

Yamauchi yang dicampakan sekarang terlihat cerah entah bagaimana, mengatakan hal itu sambil menatap lurus ke arahku.

"Bagaimana, ya., aku adalah orang yang bodoh. Aku sudah menimbulkan masalah kepada Sakura. Aku akhirnya menyadari hal itu. Agar tidak menyakitiku yang bahkan tidak dia sukai, dia mencoba untuk memilih kata-kata yang tepat. Aku dipenuhi oleh rasa bersalah. Aku bebas menyukai dia, tapi aku sudah belajar bahwa menyampaikan perasaan, kau juga akan menerima dampaknya." kata Yamauchi.

Saat aku melirik bahu Yamauchi, aku melihat bajunya yang juga basah. Dengan kata lain, dia sudah ada di dalam perjalanan sebelum waktu yang dijanjikan. Mungkin dia terlalu khawatir sepanjang waktu sambil memikirkan pengakuan itu.

"Kau tidak sesetress yang aku bayangkan" kataku.

"Aku, syok tetaplah syok, tapi aku tidak selemah itu. Sakura itu imut dan aku memang menginginkan dia sebagai pacarku. Aku memang memikirkan itu tapi jalan pikiranku juga berbeda. Hanya menilai wajahnya atau tubuhnya, itu hanyalah tindakanku yang tidak serius. Tindakan yang aku ambil… Bagaimana aku mengatakannya, aku tidak serius menyukainya dari lubuk hatiku. Mungkin, jika aku sangat menyukainya, jika aku ditolak pada saat itu, aku akan merasa lebih syok, lebih menderita, lebih sedih dan  lebih frustrasi lagi, aku pikir" katanya.

Aku berani mengatakan bahwa tidak ada yang bisa ditanggapi. Dalam diam aku mendengarkan semua kata yang  dilontarkan Yamauchi.

"Karena itulah --- hari ini aku sudah lulus dari cinta asal-asalan ini, aku akan menemukan perempuan yang bisa aku sukai, aku akan mulai dengan itu" kata Yamauchi.

Sepertinya dari penolakan ini, Yamauchi sudah menjadi orang yang lebih baik.

"Aku bersyukur kepadamu, Ayanokouji. Aku minta maaf karena membuatmu terlibat dalam sesuatu yang aneh seperti ini".

"Jangan khawatir, karena kita ini..... teman"

"Ini. Aku akan meminjamkan ini kepadamu, kau bilang ingin meminjam ponsel, kan?"

"Apa kau yakin? Kalau tidak salah kau bilang jika ini tergantung kepada keberhasilan pengakuan itu?" Aku bertanya.

"Ini spesial, tapi sebaiknya kau cepat mengembalikannya."

Mengatakan itu, Yamauchi melangkah maju ke arah yang sama dengan Sakura. Dan ketika aku menyadarinya,  sinar matahari mulai menembus celah awan hujan.

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter