Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 2 Part 2

Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Vol 4.5 Chapter 2 Part 2

Baca Light Novel Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e Bahasa Indonesia Volume 4.5 Chapter 2 Part 2 


"Ini panas ... ini sangat panas. Aku bisa mati disini...."

Keesokan harinya, untuk memata-matai kegiatan Katsuragi, aku menemukan diriku berada di jalan yang ditanami pepohonan. Ini adalah jalan bercabang menuju ke asrama masing-masing angkatan dan untuk bertemu dengan seorang senior, seseorang pasti harus melewati tempat ini.

Selain itu, jalan ini juga mengarah ke Keyaki Mall dimana terdapat banyak toko sekaligus menuju ke sekolah itu sendiri. Karena itu, dimanapun Katsuragi memutuskan untuk pergi, aku tidak akan kehilangan jejaknya.

Normalnya aku akan menunggu di lobi dimana udara yang disana dingin, namun sayangnya sekelompok perempuan dari kelas lain yang tidak aku ketahui telah memutuskan untuk mengadakan pesta minum teh di sana dan pilihan itu mengejutkan.

Ada sebuah toko yang bisa aku masuki, tapi sepertinya tidak ada kursi yang tersisa, sehingga aku meninggalkan dia yang masuk dengan ragu-ragu, sesuatu semacam itu.

Hatiku tidak cukup berani untuk datang ke tempat terbuka yang bisa kutemukan dan bersantai di sana. Kadang-kadang, murid laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian santai mereka lewat dengan tenang, sangat bersenang-senang dihari itu. 


Tentu saja semua murid akan mengenakan pakaian santai mereka. Karena itulah aku mengingat kembali Katsuragi yang mengenakan seragamnya kemarin dan bertanya kepada diriku sendiri. 


Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa seseorang tidak boleh mengenakan seragam mereka selama liburan musim panas. Namun, karena seragam itu sendiri menyerap panas dan membuat panas dengan cepat, bahkan jika sangat tidak peduli dengan fashion, tetap saja tidak cukup meyakinkan bagi mereka untuk jalan-jalan dengan mengenakan seragam mereka.

Tapi jika dia memperlakukan seragamnya sebagai pakaian musim panasnya, itu akan sedikit lebih meyakinkan. Daripada memakai pakaian musim panas, Katsuragi memakai jas lengkap dengan lengan panjang. Itu adalah sesuatu yang baru saja aku perhatikan, tapi sepertinya ada banyak variasi dari seragam kami.

Tentu saja, aku yang selalu kekurangan poin tidak menyadari hal ini, tapi sepertinya pakaian musim panas dijual dengan harga yang sedikit mahal seperti yang baru saja aku pelajari. 

Semua perempuan di kelas kami, meski menginginkan pakaian itu suatu hari nanti, saat ini mereka dipaksa masuk ke tingkat kedudukan, dimana mereka harus menanggungnya. Ini adalah bagian dari teori bahwa seseorang akan memakai pakaian santai mereka saat pacaran, tapi alasan karena berani mengenakan seragam....

Saat memikirkan hal seperti itu, pikiranku segera beralih ke tipe orang yang serupa. Katsuragi yang kemarin, dan bukan hanya dia, sepertinya ada beberapa orang yang lebih memilih seragam mereka. Dan dari asrama tempat tinggal para senior, murid laki-laki dan perempuan keluar. Ketika mereka melihatku, mereka mengubah arah jalan mereka dan mendekatiku.

"Sudah lama sekali"

"Aku penasaran siapa yang akan memakai seragam mereka di cuaca panas yang menyebalkan ini, jadi ini adalah kakaknya Horikita ya ..."

Tidak seperti Katsuragi, mereka mengenakan seragam jenis musim panas, namun melihat mereka memakai seragam mereka di hari libur membuatku mengingat kembali kepada kesan ketidakcocokan.

"Uwa, Presiden, anak ini-" Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang merepotkan "dihiraukan"

Meskipun aku hanya membuat ekspresi yang begitu mudah dimengerti, perempuan yang berdiri di samping Horikita yang lebih tua, sekretaris tahun ke 3 Tachibana, berbicara dengan nada yang berlebihan.

Tapi meski begitu, tidak seperti seragam laki-laki, seragam yang dikenakan anak-anak perempuan sepertinya tidak menimbulkan hawa panas. jika aku bisa merasakan kesejukan seperti itu, aku tidak akan membuat keluhan seperti ini.

"Meskipun liburan musim panas, sepertinya dewan murid sedikit sibuk" tanyaku pada mereka.

Sekretaris Tachibana sepertinya sedang memegang sesuatu yang menyerupai buku catatan. Aku hampir berpikir bahwa semester kedua sudah dimulai.

"Kami hanya menggunakan liburan musim panas untuk merenovasi ruang dewan murid dan seperti itulah perkembangan hubungan ini" Sekretaris Tachibana menjelaskan hal itu kepadaku tanpa perlu mengganggu presiden.

"Begitu, sampai jumpa," kataku padanya.

"Uwaaa, untuk seseorang yang baru saja mendengar reaksi seperti itu dengan sangat santai, yang lebih penting lagi, kau harus menjaga mulutmu. Apa kau tahu siapa orang ini? Dia adalah presiden dewan murid yang menakutkan di sekolah, kau tahu?" Tachibana memberitahuku.

Aku tahu itu. Aku juga tahu bahwa dia juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Awalnya aku memang berpikir untuk menunjukkan rasa hormat dan sopan santun kepadanya, dan bahkan akan berbicara secara formal, tapi aku telah berhenti memikirkannya selama ini.

Horikita yang lebih tua, sepertinya tidak ingin aku berbicara secara formal dan aku memilih untuk tidak menahan diri.

Tapi meski begitu, Sekretaris Tachibana juga terlihat berbeda dari apa yang aku bayangkan dulu. Kupikir dia orang yang lebih serius dari ini, tapi sepertinya dia juga orang yang mudah tersinggung.

"Apa kau ingin menjatuhkan hukuman padaku sesuai dengan sekolah ini? Maaf tapi aku benar-benar tidak memiliki poin" kataku padanya seolah-olah ingin mengabaikan kata-katanya.

Horikita yang lebih tua juga, pikirku, dia tidak ingin menjalin hubungannya dengan seseorang sepertiku, tapi seharusnya dia membiarkannya saja. Dia menyipitkan matanya dan mengatakan ini kepadaku.

"Ayanokouji, jika kau tidak sibuk saat ini, aku ingin kau menemaniku untuk sementara waktu"

"P-Presiden?"

Sepertinya Sekretaris Tachibana terkejut dengan presiden yang baru saja mengundangku. Aku juga terkejut. Tapi---

"Maaf tapi jadwalku sudah penuh"

"Eh, kau menolak?"

Dan sekarang Sekretaris Tachibana terlihat terbebani oleh penolakanku atas undangan presiden dewan murid tersebut.

"Kalau begitu, kapan kau tidak sibuk, aku tidak keberatan mengubah jadwalku untukmu, aku tidak keberatan bahkan jika setelah sekolah dimulai"

Sepertinya Horikita yang lebih tua tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Aku pikir, seberanya tidak baik menunda sebuah masalah. Dan selain itu, jika kami melakukan ini suatu hari nanti, kemungkinan aku akan menghabiskan lebih banyak waktu. Jika seperti itu, akan lebih mudah melakukan hal ini sekarang.

"Kalau begitu kita akan bicarakan sekarang, aku masih punya waktu sampai tugasku yang selanjutnya" kataku padanya.

"Tapi kau bilang jadwalmu sudah penuh sekarang?"

Aku membungkam semua Interjeksi Sekretaris Tachibana saat dia mengatakannya. 

"Kemana kau akan pergi mulai dari sini? Aku tidak keberatan mengubah jadwalku untuk menyesuaikannya denganmu"

"Ahh --- aku menunggu seseorang, kalau kalian tidak keberatan, aku tidak mau pindah dari sini" jawabku padanya.

"Tapi di sini panas, kau tahu? Ini bukan tempat yang cocok untuk pertemuan"

"Aku sangat tau"

Meskipun disini panas, aku menganggap diriku sebagai orang terhormat yang melakukan skenario permainan hukuman dengan terhormat. Itu adalah pujian untuk diri sendiri.

"Aku pikir kadang-kadang berbicara sambil berdiri juga tidak terlalu buruk. Jika kau merasa tidak nyaman di sini, aku tidak keberatan jika kau kembali ke asrama"

"Tidak. Antenaku mengatakan bahwa aku tidak bisa meninggalkan presiden sendirian dengan anak laki-laki ini di sini" jawab Tachibana kepadanya.

Dan setelah menghormat kepada presiden dewan murid seperti itu, Sekretaris Tachibana menempel kepadanya hampir seperti pengawal.

"Laporan telah sampai ke dewan murid, tes pulau tak berpenghuni dan ujian khusus di kapal, apakah ujian itu sulit?" dia bertanya padaku.

"Dewan murid benar-benar memiliki banyak pengaruh, huh? Bisa mengetahui semua ini dan bahkan mengetahui laporannya"

"Meskipun aku mengatakan laporan, kami tidak tahu semua detailnya. Tindakan individu dan levelnya tidak diketahui oleh kami"

"Aku senang dengan itu"

"Apa kau tidak senang? Presiden tidak tahu tentang kegagalanmu" kata Tachibana kepadaku.

Sepertinya Sekretaris Tachibana tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meludahkan racun kepadaku. Sepertinya, pada titik tertentu, dia membidikku sebagai musuhnya. Kurasa hal itu tidak terelakkan mengingat aku dengan santai berbicara kembali dengan presiden.

"Tapi informasi adalah sesuatu yang selalu berakhir dengan kebocoran. Fakta bahwa kau mengakali kelas lainnya selama ujian pulau tak berpenghuni, dan fakta bahwa kau memegang ‘target’ di kapal pesiar saat kau ditugaskan ke kelompok (Kelinci) adalah sesuatu yang kami ketahui" katanya padaku.

Meski mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak diketahui, Sepertinya sudah banyak yang bocor. Ini akan membuatku meragukan kejujuran mereka.
"Selain itu, nama Horikita Suzune muncul setelah ujian pulau tak berpenghuni, sehingga dia menjadi pusat perhatian di kelasnya dan mengakali kelas yang lainnya, namun sehubungan dengan itu, aku pikir yang sangat bertanggung jawab untuk itu adalah kau"

Dia memberitahuku dan sepertinya Horikita yang lebih tua memiliki keyakinan mutlak akan hal itu. Dengan lembut aku menggumamkan hal itu kepada diriku sendiri.

"Apa kau sangat memikirkanku?"

"Nama pemimpin akhirnya berubah dengan kau? Bagaimana kau menjelaskannya?"

"... kau bahkan tahu tentang hal seperti itu, ya?"

"Satu-satunya yang mengetahui fakta ini adalah aku dan Panitia Khusus saja. Dan sekarang Sekretaris Tachibana sudah mendengarkan kita. Ini adalah sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh wali kelas, jadi tenanglah" katanya.

Ini bukan situasi dimana aku bisa tenang. Seberapa besar pengaruh laki-laki ini? Normalnya, dewan murid hanyalah dekorasi tanpa kekuatan yang nyata. Bagi mereka yang bahkan dapat melampaui para guru, apa sebenarnya ini?

"Sebenarnya dewan marid ini apa?" Aku bertanya kepadanya.

"Dewan murid dengan sendirinya tidak memiliki kekuatan, terserah kepada bakat dari orang yang memimpinnya"

"Itu sebuah pernyataan yang mengesankan lagi. Aku pernah mendengar itu lebih awal, tapi kau benar-benar Kelas A, bukan?"

Aku tidak pernah merasa sangat perlu untuk mengkonfirmasinya, tapi karena aku sudah ada di sini, aku bertanya lagi.

"Bukankah itu sudah jelas? Itu wajar !!!" Jawab Tachibana.

"Tapi dalam hal ini aku masih belum mengerti, seberapa besar perbedaan antara aku dan Horikita? Sebenarnya, jika hanya melihat data kami, Horikita jauh lebih unggul dariku. Aku tidak mengerti alasanmu mengganggu dirimu sendiri dengan kelas D seperti aku" kataku padanya.

"Kau sudah salah paham akan satu hal, menurutku orang-orang Kelas D itu bodoh. Bukan berarti sekolah ini sedang memilah orang luar biasa agar mulai dari Kelas A atau sejenisnya"

"Presiden Umm ... aku pikir kau mengatakan terlalu banyak hal yang tidak perlu,  aku pikir kau mungkin sudah terlalu banyak berbicara?"

"Tidak perlu khawatir, laki-laki ini tentu saja sudah mengerti"

Seberapa jauh dia berniat untuk memuji-mujiku? Sejak pertemuan pertama kami yang aneh, ketua dewan murid-sama ini sepertinya memusatkan perhatian kepadaku pada tingkatan yang sulit.

"Lalu kenapa kau menolak Horikita? Apa karena karena dia kelas D?"

"Terlepas dari lingkungannya, selama dia adalah saudara perempuanku, aku mengerti segala hal tentang kemampuannya, dia adalah orang yang ditempatkan di Kelas D karena dia pantas mendapatkannya. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang dari itu" jawabnya.

Orang ini pasti melihat adiknya dengan sangat tajam.

"Semua itu direncanakan oleh Horikita. Adikmu tidak punya teman selain aku  seperti yang kau lihat, jadi aku hanya diberi peran yang penting," kataku padanya.

"Itu salah, ini bukan ide yang dia pikirkan"

Mungkin karena mereka menghabiskan waktu yang lama bersama sebagai saudara kandung, sepertinya dia memiliki pemahaman yang lengkap tentang cara berpikirnya. Tapi meski begitu, aku sudah mencapai ke titik pemahaman.

Salah satu alasan kenapa laki-laki ini memperhatikanku kemungkinan besar adalah alasan yang sama dengan Chabashira-sensei. Jika dia melihat skor tes 50% ku yang menyenangkan di ujian masuk, tidak aneh jika dia juga memperhatikan perbedaan antara raport murid dan ringkasanku.

"Tolong berhenti memancing informasi pribadiku seperti penguntit. Aku ingin menjalani kehidupan sekolah yang tenang"

Aku memintanya seperti itu tapi dia menyentuh kacamatanya begitu dia kembali mengatakan pernyataan gila ini.

"Aku memang pernah menawarimu ini beberapa waktu yang lalu tapi, maukah kau bergabung dengan dewan murid?"

Sekretaris Tachibana kemudian menjadi panik dengan mata terbelalak lebar. Sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan baru saja dibuat.

"Cukup menempatkan kembali dewan murid yang kau miliki disana.  apakah masih ada kursi belum terisi?" Aku bertanya

"P-Presiden- Beberapa hari yang lalu, dewan murid sudah menerima seorang perempuan tahun pertama, bukankah begitu? Bukankah itu sudah bisa menyelesaikannya? Kita juga mengambil beberapa tahun kedua dan semua kursi seharusnya sudah terisi. "

Dan ternyata memang seperti itu. Aku mengatakan hal itu kepada seseorang yang memiliki kontak mata denganku tapi dia terus mengatakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Masih ada satu kursi kosong yang tersisa"

"Satu ... tidak mungkin !?".

"Ayanokouji, jika kau mau, aku akan menggunakan pengaruhku untuk menjadikanmu wakil presiden"

“T-tunggu"

Sekretaris Tachibana sepertinya kembali ke dirinya yang energik. Kupikir dia orang yang menarik untuk bersamanya.

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya! Dia adalah tahun pertama dan juga dari Kelas D. Tidak mungkin anak laki-laki kasar ini tiba-tiba menjadi wakil presiden!"

"Aku sudah mengatakan ini berkali-kali tapi aku menolak" kataku padanya.

"Dan selain itu, aku akan menolak tanpa pertanyaan lagi" tambahku.

Tapi meski begitu, ini aneh. Sepertinya dia tidak sedang  bercanda, tapi evaluasi dan cara dia memperlakukanku tidak normal. Tentu saja, sampai batas tertentu, Horikita yang lebih tua memiliki akses terhadap informasi.

Dibandingkan dengan Ike dan Yamauchi, aku bisa mengerti kenapa dia memilihku. Tapi jika kami bergerak dengan potensi sendiri, dimulai dengan Katsuragi dan Ichinose, termasuk Hirata dan bahkan Kouenji. Harus ada banyak murid yang seperti itu. Seharusnya tidak ada alasan bahwa dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memilihku. Itu berarti ada alasan kenapa harus aku, dengan kata lain.

"Mungkin tidak pantas jika aku mengatakannya sebagai presiden dewan murid, tapi mulai dari tahun depan, sekolah ini akan mengalami perubahan besar, dan ini tidak akan menjadi perubahan yang diinginkan pada saat itu. Dan pada saat itu, untuk melindungi peraturan sekolah ini, aku harus menciptakan kekuatan yang mampu melawannya mulai dari sekarang, mungkin sudah terlambat, aku merasa kebutuhan untuk itu semakin kuat setiap hari" katanya kepadaku

"Presiden, kau sedang membicarakan hal itu di dalam skenario dimana Nagumo-kun akan menjadi presiden dewan murid, bukan? Aku tidak yakin dia akan menciptakan sekolah yang buruk ..."

Aku belum pernah mendengar nama Nagumo dari antara tahun pertama. Berubah mulai dari tahun depan berarti dia berasal dari tahun kedua.

"Normalnya, bisa ada dua wakil presiden sekaligus di dewan murid. Mulai tahun depan sepertinya ini hanya akan menjadi satu, tapi jika kau berubah pikiran, itu masih bukan hal yang mustahil untuk dilakukan," katanya kepadaku.

"Tidak, tidak, tidak Presiden. Tentu saja itu tidak mungkin ... tidak mungkin Nagumo-kun akan memberikan izin untuk sesuatu seperti itu"

"Aku tidak tahu apa-apa tentang wakil presiden atau Nagumo, tapi aku tidak akan melakukannya. Kau akan lulus dan meninggalkan sekolah ini, itu saja bukan? Kau tidak perlu khawatir dengan murid-murid yang ditinggalkan atau mungkin..."

Aku sedikit terdiam sehingga memberikan bobot lebih pada kata-kataku selanjutnya.

"Jika itu karena kau khawatir dengan saudara perempuanmu dan meminta pertolonganku, mungkin ada tempat bagimu untuk berkonsultasi denganku mengenai masalah ini" kataku padanya.

"...Aku mengerti"

Jika aku mengatakan itu, maka pria ini juga tidak akan bisa terlalu bergantung kepadaku. Sebenarnya, dia sepertinya sudah menyerah sepenuhnya, karena setelah itu dia berhenti menyentuh pokok pembicaraan tentang dewan murid.

"Maaf telah menghabiskan waktumu, hanya itu urusan yang aku miliki denganmu, tapi kau bebas untuk mampir ke dewan murid kapanpun, dengan senang hati aku akan memberimu teh" katanya padaku.

Jadi, bahkan laki-laki yang membangun pondasi yang kuat untuk sekolah ini juga memiliki kecemasannya sendiri, huh? Sambil merasakan hal yang tak terduga, aku memutuskan untuk kembali - tapi aku tidak bisa kembali. Ini adalah waktu yang tepat untuk kembali, tapi sayang sekali aku harus menunggu Katsuragi.

Situasi mulai berputar menjadi lebih baik sekitar 30 menit setelah pembicaraanku bersama Horikita yang lebih tua. Mengenakan pakaian yang sama persis seperti kemarin, Katsuragi perlahan menuju ke arahku. Sementara aku mengamati dia dari jarak yang sedikit jauh dari jalurnya, aku melihat dia memegang sesuatu di tangannya yang terlihat seperti kantong berisi apa yang dia beli dari toko itu kemarin.

"Apa maksudnya?"

Masih ada waktu yang tersisa sampai tanggal 29. Normalnya seseorang akan menyimpan sesuatu seperti itu di kamar mereka sampai saatnya tiba. Tapi kenyataan bahwa dia membawanya berkeliling saat ini, mungkin dia ingin menyerahkannya sekarang?

Meski begitu, aku penasaran dengan penampilannya yang berseragam. Mungkin dia bermaksud untuk bertindak dengan pakaian formalnya, tapi sejujurnya aku lebih suka tidak melihatnya menyerahkan aktivitas ini dalam panas dengan memakai pakaian itu.

Aku menahan napasku saat aku mencoba memastikannya ke arah Katsuragi. Dan ketika aku melakukannya, kami segera sampai di persimpangan sebuah jalan. Katsuragi tidak melanjutkan perjalanan yang menuju ke asrama para senior. Dia malah melanjutkannya ke sebuah jalan yang berada di luar dugaanku dengan mengejutkan. Apa yang ada di ujung jalan itu adalah sekolah di tengah liburan musim panas. Aku membayanginya tanpa mewaspadainya

"Jadi karena itulah dia memakai seragamnya ---"

Bukan karena dia suka memakainya tapi justru karena dia berniat masuk ke sekolah. Akhirnya aku mengerti tentang Katsuragi dan kemudian masuk sekolah dari pintu masuk utama. Tapi karena ini terjadi, aku tidak bisa mengikuti Katsuragi begitu saja. Selama dilarang memasuki gedung sekolah dengan pakaian santai, aku tidak bisa masuk.

“Apa kau bertemu dengan Katsuragi ?!".

Saat ponselku bergetar, layarku sepertinya akan memproyeksikan chat yang sepertinya dikirim kepadaku. Kemudian, tanpa membaca pesannya, aku menutup ponsel dan memutuskan untuk mengubah arah seranganku. Aku menuju ke toko tempat kami memilih hadiah kami kemarin di Keyaki Mall. Dan sekali di sana, aku secara acak memasuki sebuah toko yang terlihat populer dengan perempuan. Aku penasaran dengan hadiah macam apa yang akan dijual di toko lain.

Hanya saja, meski dibandingkan dengan toko lain, aku tidak tahu perbedaanya. Pada akhirnya, aku kembali ke toko kemarin dimana Katsuragi membeli hadiah ulang tahunnya.

Akhirnya aku sampai di tempat cokelat yang dimasukkan ke dalam kotak kecil dan tipis yang ditumpuk. Aku mempertimbangkan kemungkinan bahwa itu mungkin bukan hanya untuk senior tapi juga bisa untuk laki-laki, tapi melihatnya lagi, kemungkinan itu tidak terlalu tinggi. Cokelat itu dihiasi dengan hiasan hati dan hiasan lainnya yang disukai perempuan.

"Kyahaha, aku tahu, bukan?"

Beberapa perempuan yang mulai berisik di dalam toko, melewatiku. Pada saat itu, aku menerima sedikit senggolan di punggungku.

"Wow"

Barang-barang yang aku tabrak dengan sikuku bergetar ringan, dan tumpukan cokelat roboh seperti longsoran salju. Gadis-gadis yang diliputi pembicaraabn mereka, bahkan tanpa memperhatikan kejadian yang telah terjadi di sini, langsung meninggalkan toko sambil tetap berbicara.

"Astaga"

Aku tahu bahwa aku tidak memiliki banyak aura kehadiran, tapi aku ingin mereka setidaknya memperhatikanku sedikit.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Ketika aku mencoba mengembalikan barang-barang yang jatuh dengan putus asa, seorang pria raksasa memanggilku dari belakang. Katsuragi yang seharusnya pergi ke sekolah.

Dia menatapku dengan wajah bingung.

"Aku di sini untuk ... membeli hadiah ulang tahun"

Setelah tiba-tiba bertemu dengannya, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menjawabnya. Setelah melirik kotak kado yang tersebar, dia membungkuk dengan tubuh besarnya untuk mengambil mereka.

"Ahh, aku bisa mengambilnya sendiri"

"Jangan pedulikan ini, tidak baik membiarkan pelanggan lain melihat ini, lebih baik membersihkannya dengan cepat, dua lebih baik dari pada satu”

Karena mengatakan hal itu, dan bahkan tanpa ada tanda-tanda tidak menyukainya, dia terus mengulurkan tangannya untukku. Sudah sekitar 30 menit aku habiskan dengan mengunjungi toko-toko lain, aku bertanya-tanya apakah dia sudah menyelesaikan urusannya di sekolah selama waktu itu.

Tapi di tangan Katsuragi, dia memegang sekantong barang dari toko ini. Aku menyelinap mengintip ke dalamnya dan ketika aku melakukannya, sepertinya berisi sebuah kotak kecil yang dikemas sebagai hadiah. Sepertinya dia belum memberikannya.

"Seharusnya ini tidak masalah"

Ketika kami berdua melakukannya bersama-sama, kami membersihkan toko ini dalam waktu singkat. Untungnya, baik petugas maupun pelanggan tidak melihat ini.

"Terima kasih"

Kurasa Katsuragi pada dasarnya adalah orang yang baik. Selama waktu di pulau tak berpenghuni juga, Katsuragi menunjukkan niat baik yang aneh kepada kami seperti ketika dia yang terus mengawasi jagung yang kami temukan. Tentu saja, dia tidak akan menunjukkan belas kasihan apapun jika menyangkut kompetisi di antara kelas, tapi sepertinya kepribadiannya bukanlah orang jahat.

"Apa kau membeli hadiah untuk pacarmu?" Tanya Katsuragi padaku.

"Ehh, tidak, tidak seperti itu, dia hanya teman sekelas, aku rasa aku akan membelinya lain kali"

Bukan berarti aku pernah berniat untuk membelinya sejak awal, tapi aku mengatakan itu selagi aku mengambil jarakku dari sudut ini.

Dan seolah-olah untuk mencocokkan tindakanku, Katsuragi juga mengambil jarak, jadi aku memutuskan untuk mengobrol sedikit untuk melihat apakah aku bisa mengambil beberapa informasi darinya.

"Apa kau juga membeli hadiah ulang tahun?"

"Hmm kenapa kau berpikir begitu?"

"Kau memegang kantung dari toko ini di tanganmu, aku juga berada di situasi yang sama"

"Aku mengerti, memang benar, aku pikir aku seharusnya tidak perlu berpikir seperti itu"

Mungkin dia memang yakin, Katsuragi mengangguk dan membalas tatapanku.

"Aku mengalami sedikit masalah karena aku tidak bisa menemukan barang yang aku inginkan, apa yang kau beli?"

"Ini bukan masalah besar, aku baru saja membeli salah satu cokelat yang baru saja kau jatuhkan sekarang, aku pikir kumpulan barang di toko ini tidak buruk sama sekali, tapi aku pikir itu terserah kepada masing-masing individu dengan penilaiannya sendiri. Kunjungi juga toko lain untuk melihat-lihat" Katsuragi menjawabku.

Kemudian, tanpa memberi tahu siapa yang akan dia berikan dan tanpa aku bisa mendengar namanya, kami berdua pergi dari toko.

"Kenapa kau memakai seragammu?"

Tentu saja aku tidak akan menyebutkan kata “kemarin”, tapi selama dua hari berturut-turut Katsuragi datang ke sini mengenakan seragamnya. Ini adalah hal yang jelas harus ditanyakan kepadanya.
"Kau harus memakai seragam jika kau ingin masuk gedung sekolah, karena itu sama sekali tidak bisa membantu" katanya.

"Itu berarti kau akan pergi ke sekolah?"

Tentu saja, karena aku sedang mengikutinya, aku sudah tahu bahwa dia sudah pergi ke sekolah lebih awal. Sekarang yang tersisa hanyalah bertanya kepadanya 'siapa' yang ingin dia berikan. Di tangannya, Katsuragi masih mencengkeram kantungnya.

Aku sudah berpikir akan mungkin untuk mendapatkan beberapa informasi darinya, tapi sayangnya sepertinya tidak seperti itu.

"Ahh, ada juga berbagai hal yang ingin aku tangani"

Dia tidak banyak bicara dalam masalah ini, tapi sepertinya Katsuragi memiliki sesuatu dalam pikirannya sejak dia melirik ke arah sekolah.

"Apa kau pernah memikirkan hal ini? Kelemahan saat masuk ke sekolah ini?"

"Kelemahan?"

"Itu benar, tidak ada hubungannya dengan kelas, tapi semua murid dibagi rata"

Aku harus mengajukan beberapa pertanyaan misterius yang aku tanyakan. Jika ini ada kaitannya dengan perbedaan kelas, maka masalah akan timbul berdasarkan kasus per kasus.

Ada kasus seperti Kelas D yang dilanda kekurangan poin, tapi sulit membayangkan Kelas A akan mengalami masalah seperti itu. Tapi dari pernyataan bahwa ini berlaku sama untuk semua murid, hal semacam itu bisa dikesampingkan. Jika benar, apa itu? Meski aku serius berusaha menemukan jawabannya, aku tidak bisa mencapai sebuah kesimpulan.

“Kau tidak tahu? Tentu saja itu bervariasi dari orang ke orang tapi kau tidak bisa menghubungi ‘pihak luar’ adalah kekurangannya"

"Ahh, aku mengerti"

Tapi, itu bukan hal yang merugikan untukku, melainkan keuntungan, aku sama sekali tidak mempertimbangkannya. Tentu saja, jika kau melihatnya secara normal, itu mungkin dianggap sebagai kerugian.

"Kau tidak ingin menghubungi orang tua atau saudara kandungmu?" Tanya Katsuragi padaku.

"Entahlah, tapi mengecualikan aku, aku pikir cukup banyak murid yang mengatakan hal yang sama"

Khususnya, anak perempuan sering mengeluh bahwa mereka kesepian. Namun, dalam hal kebocoran informasi ke luar, sekolah ini melarang semua bentuk kontak dengan ketat. Jika seseorang dengan sembarangan melanggar peraturan ini, maka dia tidak akan berakhir dengan hanya sebuah peringatan.

"Tapi manfaat yang kau terima sebagai imbalannya sangat besar dan aku tidak merasa bahwa ini menjadi alasan yang cukup untuk merasa kecewa?"

"Itu benar. Baik sistem poin maupun kelengkapan fasilitas adalah sesuatu yang biasa dinikmati oleh murid biasa dan tentunya merupakan keuntungan"

Selanjutnya, ia juga mendapat keuntungan karena telah lulus dari Kelas A.

Tunggu, kenapa aku bisa berbicara normal dengan Katsuragi? Selain itu, selama liburan musim panas.

"Kau adalah murid yang dekat dengan Horikita, bukan?"

"Apa ada rumor palsu seperti itu sudah menyebar?"

"Rumor paslu? aku sangat ingat ketika kau berakting bersama dengannya saat kau bertemu denganku"

"Ini seperti hubungan takdir yang biasa terjadi, atau lebih seperti arus yang dimulai saat kami diberikan kursi di samping satu sama lain, kebetulan kami saling berbicara dan dari sana semuanya dimulai"

Selama pembicaraan tentang sekolah, tidak ada yang aneh sama sekali, pikirku. Sepertinya Katsuragi juga punya gambar seperti itu sejak dia mengangguk.

"Jadi begitulah rupanya. Aku tidak tahu banyak tentang kelas lain meski aku sudah berpikir, jika aku membuatmu merasa tidak nyaman, maafkan aku, aku tidak memiliki maksud tersembunyi dalam hal ini"

"Ini adalah sesuatu yang sering aku dengar baru-baru ini, jadi baguslah, sepertinya Horikita sedang melakukan pekerjaan dengan baik"

"Benar"

Katsuragi sesaat setuju denganku, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda terus melanjutkan.

"Sejujurnya, ini adalah ketiga kalinya aku datang ke toko ini, aku ada tipe yang terus memikirkan sesuatu yang aku khawatirkan, kau tahu? meski hanya hadiah, saat aku memikirkannya, perasaan seseorang yang menerimanya, aku tidak bisa memutuskannya begitu saja"

Seseorang yang dia khawatirkan untuk diberikan hadiah, aku bertanya-tanya, siapa dia? Haruskah aku mencoba menggalinya sedikit lagi?

"Mungkin aneh untuk mengatakan sesuatu seperti ini, tapi kau orang yang tegas. Untuk membeli seseorang hadiah ulang tahun seperti ini..."

"Apa menurutmu aneh merayakan hari kelahiran?"

Paling tidak melihat raksasa botak yang melakukannya, aku merasa sangat tidak cocok. Tapi itu hanya pandangan yang berprasangka. Di dunia ini bahkan ada anak nakal yang akan menyelamatkan seekor kucing di tengah guyuran hujan.

"Aku akan jujur, kau akan memberikannya kepada siapa?"

Aku memotong pembicaraan untuk menuntutnya. Aku tidak akan membuat kemajuan bahkan jika aku hanya memukul-mukul semak belukar.

"Untuk siapa, huh?"

Mungkin pertanyaan itu membingungkan bahkan  untuk orang yang bersangkutan, karena ia menunjukkan sedikit keraguan.

"Ini sesuatu yang bersifat pribadi. Bukan sesuatu yang bisa kau dengar”

Aku pikir itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan dan dia akhirnya menghindari pertanyaan itu. Jika dia menjawab, aku tidak lagi berada dalam posisi untuk menanyakannya lebih lanjut. Jika itu merupakan teman baik, itu akan menjadi masalah yang berbeda.

"Permisi"

Dan tanpa meninggalkan satu kata pun, Katsuragi pergi menuju asrama.

Aku berhasil memecahkan masalah kenapa dia mengenakan seragam, tapi misteri selanjutnya muncul dari situ. Kenapa dia pergi ke sekolah? Kenapa dia muncul di toko itu lagi? Aku tidak bisa dengan jelas melihat jawaban mereka.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter